WHO AM I?

I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA POLTEKKES KEMENKES DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

Tuesday, September 18, 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HERNIA DISKUS INTERVERTEBRALIS

Juniartha Semara Putra

ASUHAN KEPERAWATAN  PADA PASIEN DENGAN HERNIA DISKUS INTERVERTEBRALIS

A.    Konsep dasar penyakit
1.      Defenisi
Penonjolan nucleus pulposus atau annulus discus dari intervertebr yang dapat menekan radik syaraf . ( Kamus Kedokteran Dorland ).
2.      Epidemiologi
United States
Herniasi discus Intervertebralis dapat ditemukan dengan MRI pada Individu yang tidak mengalami keluhan dengan umur kurang dari  40 tahun dan 5% dari kelompok ini berumur lebih  dari 50 tahun.penyakit yang disebabkan oleh factor degeneratif dapat ditemukan dengan MRI pada kelompok individu yang tidak mengalami keluhan yang berumur lebih dari 40 tahun dan 60 % dari kelompok ini berumur lebih dari 40 tahun.
Internasional
Penelitian di Italia tahun 1996 menunjukan bahwa prevalensi  spondilotic radiculopathy adalah 3.5 kasus per 1000 penduduk
3.      Penyebab
Disebabkan oleh stress berulang pada cervical atau trauma talang servikal. Faktor resiko akan meningkat Karena adanya stress yang bersifat vibrasional, mengangkat yang berat, posisi yang tetap dalam waktu yang lama , whiplash accident , dan akselerasi / deselerasi yang sering.
4.      Pathofisiologi
Diskus Intervertebralis berfungsi ganda pada persendian , membuat tulang belakang menjadi flexibledan sebagai pereda, tekanan beban untuk mencegah kerusakan tulang. herniasi atau rupture dioskus intervertebralis servikalis protusi nuleus pulposus bersam dengan beberapa bagian annulus kedalam kanalis spinalis atau foramen intervertebralis. Karena ligamentum longitudinalis posterior jauh lebih kuat dari ligamentum longitudinalis posteror maka herniasi hamper selalu kearah posterior.Herniasi tersebut biasanya menggelembung berupa masa padat dan tetap menyatu dengan badan discus, walaupun fragmen – fragmennya kadang – kadang dapat menekan keluar menembus ligamentum longitudinalis posterior dan masuk dan berada bebas kedalam kanalis spinalis. Proses degeneratif yang terjadi pada discus intervertebralis diantaranya ada perubahan pada annulus fibrosus dan nucleus pulposus . Pada annulus fibrosus terjadi kerusakan dan serat – serat fibro elastic teritus keudian diganti dengan jaringan ikat.Perubahan ini akan menimbulkan rongga pada annulus.perubahan yang terjadi pada nucleus pulposus adalah penurunan kemampuan pengikatan air sehingga volume nucleus pulposus menurun. Perubahan teresbut menyebabkan tahanan interdiskus akakn menurun.Jika terjadi peninggian tekanan pada discus secara tiba- tiba dan berlangsung lama maka materi nucleus pulposus akan menonjol mengisi annulus fibrosus yang rusak. Penonjolan nucleus kebelakang lateral dan menekan syaraf pada radik dorsalis yang berjalan dalam kanalis vertebralis akan menimbulkan nyeri..gerakan – hgerakan yang merubah posisi tuang belakang seperti membungkuk ,bersindan batuk akan menambah rasa nyeri

5.      Gejala klinis
Tanda – tanda Herniasi discus servikal
·         C4 – C5 ( akar saraf C5 ) Dapat menyebabkan kelemahan pada otot deltoidius pada lengan atas . biasanya tidak menyebabkan perubahan sensasi. Dapat menyebabkan nyeri pada bahu.
·         C5- C6 ( akart saraf C6 ) kelemahan pada bicep dan musculus ektensor pergelangan tangan . Perubahan sensasi disertai nyeri dapat menyebar ke ibu jari tangan. Ini merupakan lokasi / keluhan yang paling sering terjadi.
·         C6 – C7 ( akar syaraf C7 ) Kelemahan pada otot tricep dan musculus ektensor jari . Mati rasa dan kesemutan dengan nyeri menjalar kebawah pada tricep dank e jari tengah.
·         C7 – T1 ( akar syaraf C8 )  Kelemahan saat menggenggam. Mati rasa dan kesemutan menyebar kearah lengan dan kearah kelingking.
Tanda – tanda Hernia Diskus lumbalis
L3 – L4 ( akar syaraf L4 )
·         Nyeri                              pinggang  belakang, pingul ,paha, patelle,        anteromedial kaki.
·         Mati rasa                        antero medial paha dan lutut
·         Kelemahan                     ektensim lutut
·         Atrophy                          quadricep
·         Replex                            penurunan sentakan kaki
L4- L5 ( L5 akar syaraf )
·         Nyeri                               sacro iliaka, pinggul , paha posterolateral, anterolateral kaki
·         Mati rasa                         lateral kaki,
·         Kelemahan                      Dorsofleksi ibu jari dan kaki
·         Atrophy                           betis bagian depan
·         Replex                             hilangnya reflex tendon tibia

L5 – S1 ( akar syaraf S1 )
·         Nyeri                              saro iliaka, pingul, paha posterolateral.
·         Mati rasa                         belakang betis , tumit samping, kaki dan ujung jari
·         Kelemahan                     plantar flexi kaki dan ujung jari
·         Atrophy                          gastroknemius dan soleus
·         Replex                            reflek ankle hilang

6.      Pemeriksaan fisik
·         Pemeriksaan Range Of Motion ( ROM )
·         Pengkajian neurologist
·         Pemeriksan dengan beberapa maneuver ( laseque clasic test , Laseque rebound sign , deyerle sign , dll ) yang pada prinsipnya adalah ,mengangkat kaki lurus keata untuk mencari adanya nyeri yang menjalar kearah bawah ( kekaki ) ,jika tanda ini positif kemungkinan pasien mengalami ganguan pada discus lumbalis.
·         Spurling test [pada tulang servikal untuk menetukan adanya stenosis foraminal. Pada kasus umbel dilkaukan Kemp test.
·         Pemeriksaan secara hati – hati pinggul, rectal, dan organ genitourinary untuk membedakan adanya komplikasi pada organ dalam.
7.      Pemeriksaan diagnostic
·         Foto polos tulang belakang  ; untuk menyinkirkan adany anomai atau deformitas kongenital, penyakit reumatik tulang belakang , tumor metastasdik primer. Pada penyakit diskus foto ini menunjukan normal atau memperlihatkan perubahan degeneratif dengan penyempitan sela intervertebraldan pembentukan osteofit.
·         Kadar serum kalsium ,fosfat , alakali dan asam fosfatase dan kadar gula harus diperiksa pada setiap pasien dengan penyebab penyakit tulang metabolik , tumor metastatik dan mononeuritis diabetik yang dapat menyerupai penyakit diskus Intervertebra.
·         Fungsi lumbal : sedikit manfaatnya, hanya ada peningkatan sedikit kadar protein.
·         Myelogram untuk menentukan lokasi dan ukuran herniasi diskus.
·         EMG  untuk menentukan akar syaraf yang pasti terkena.
·         Test kecepatan konduksi syaraf.
·         MRI spinal atau CT spinal untuk menunjukan kompresi pada oleh herniasi diskus.
8.      Prognosis
Kebanyakn pasien akan mengalami perbaikan dengan theraphy koservatif. Namun pada beberapa pasien akn menimbulkan nyeri punggung yang kronis.Mungkin membutuhkan waktu beberapa bulan bahkan tahun untuk kembali beraktifitas tanpa nyeri.
9.      Komplikasi
·         Nyeri tulang belakang kronis
·         Cedera spinal cord  yang permanent
·         Kehilangan kemampuan motorik atau sensorik pada kaki
·         Penuruna fungsi pencernaan atau kandung kemih
·         Gangguan fungsi seksual.
10.  Penatalaksanaan.
1.      Penatalaksanaan umum
§  Bedrest dengan tempat tidur datar dan alas yang keras untuk mengurangi rasa nyeri dan kerusakan saraf
§  Fisiotheraphy : mengurangi resiko gangguan imobilisasi, melancarkan peredaran darah.
§  Traksi : menstabilkan / memfiksasi lokasi kerusakan diskus.
§  Perubahan posisi : mengurangi rasa nyeri dan resiko dekubitus.
§  Kebutuhan nutrisi
2.      Obat – obatan
§  Non –steroid anti Inflamatory medication ( NSAID )
§  Analgetik narkotik
3.      Perubahan gaya hidup
§  Pengelolaan berat badan
§  Theraphy fisik : cara mengangkat , berpakaian ,berjalan dan cara melekukan aktifitas lain
4.      Operasi
§  Laminektomi : pengangkatan lamina vertebra dan degeneratif diskus , untuk membebaskan tekanan pada akar saraf.
§  Lumbal / Cervikal mikrodisrektomi : pengangkatan diskus yang mengalami degenerasi dengan menggunakan teknik pembedahan mikro.
§  Spinal fusi : menempatkan tulang baru pada kedua vertebra  untuk mefixasi vertebra.
5.      Therapi lain
§  Kemonukleolisis ; yaitu penyuntikan 2000- 4000 unit kemopain kedalam diskus hernia yang sakit.
B.     Konsep dasar asuhan keperawatan
1.      Pengkajian
a.       Riwayat kesehatan
§  Riwayat kejadian , tanda dan gejala.
§  Riwayat trauma , pembedahan , infeksi pada tulang belakang.
§  Riwayat pekerjaan seperti sering mengangkat beban berat.
b.      Pemeriksaan Fisik
§  Perubahan postur tubuh dan cara berjalan.
§  Nyeri pada bagian belakang
§  Nyeri saat digerakkan , bersin , batuk.
§  Kelemahan otot , kekekuan otot , spasme otot.
§   Hilangnya sensasi / sensorik.
§  Reflek tendon trisep , achiles berkurang .
§  Kehilangan fungsi seksual , eleminasi usus dan urin.
§   Tanda kernig positif
§   Test lasegue terbatas ,kurang dari 70 derajat.
c.       Psikososial
§  Ganguan pola tidur
§  Cepat tersinggung
2.      Diagnose keperawatan
a.       Nyeri  berhubungan dengan kompresi saraf
b.      Ganguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri , theraphi pembatasan gerak.
c.       Resiko terjadinya ganguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sensibilitas dan  bedrest
3.      Rencana keperawatan
a.       Nyeri  berhubungan dengan kompresi saraf
Data pendukung:
§  Pasien mengeluh nyeri pada pinggang , punggung tangan dan leher yang menjalar.
§  Pasien mengatakan nyeri pada baghian belakang sat membungkuk, bersin atau batuk.
§  Ekpresi wajah kesakitan
§  Spasme otot
§  Gerakan pasien lambat.
Kriteria hasil :
§  Pasien mengatakan nyeri hilang atau terkontrol
§  Pasien dapat mendemontrasdikan metode untk mengontrol atau menghilangkan nyeri.
§  Meningkatnya aktifitas fisik.
Rencana Tindakan
Rasional
1.      Kaji rasa nyeri lokasi , lamanya , atau fakor pencetus nyeri
2.      Pertahankan tirah baring dengan matras keras di bawahnya.
3.      Pertahankan traksi ,korset,dan collar brace.
4.      Ajarkan teknik relaksasi dengan nafas dalam dan alih posisi yang tepat

5.      Lakukan kompres hangat pada lokasi nyeri tekan.
6.      Berikan obat narkotik analgetik.sesuai program.
7.      Kolaborasi dengan fisiotherphi
§  menetukan keefektifan theraphy mengatasi nyeri.
§  Mengurangi rasa nyeri dengan mengurangi pergerakan
§  Menurunkan rasa nyeri karena penekanan saraf.
§  Relaksasi otot mengurangi ketegangan , menurunkan stres pada otot.
§  Relaksasi otot meningkatkan sirkulasi darah.
§  Mengurangi rasa nyeri

§  Menentukan intervensi lebih lanjut.

b.      Ganguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri , theraphi pembatasan gerak.
Data pendukung:
§  Pasien menyatakan kesuitan melakukan pergerakan
§  Menurunnya aktifitas fisik
§  Terbatasnya ROM
§  Kelemahan otot  ektremiotas
§  Hilangnyasensori
§  Spasme otot
§  Reflek tendon menurun
Kriteria hasil
§  Tidak ada kelemahan otot
§  ROM maksimal
§  Trophi tidak terjadi
§  Meningkatnya aktifitas fisik
Rencana tindakan
Rasional
  1. Kaji keadaan motorik sensorik reflek
  2. Pertahankan bedrest dan posisi yang tepat
  3. Lakukan ROM aktf dan pasif
  4. Hindari hal – hal yang dapat meningkatkan nyeri
  5. Monitor tanda dan gejala komplikasi melakukan mobilisasi
  6. Lakukan persiapan operasi sesuai program.
§  Menentukan tingkat kerusakan fisik dan efektifitas intervensi
§  Menurunnya stress spinal

§  Mencegah atropi dan kontraktur
§  Mengurangi nyeri

§  Imobilisasi yang lama menimbulkan komplikasi yang serius

§  Memperbaiki kerusakan tulang belakang

c.       Resiko terjadinya ganguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sensibilitas dan  bedrest
Data pendukung
§  Menyatakan kesulitan pergerakan
§  Teraphi bed rest
§  Kelemahan otot ektremitas
§  Hilangnya sernsori
§  Spasme otot
§  Reflek tendpon meurun
Kriteria hasil
§  Keadaan kulit utuh
§  Dekubitus tidak terjadi
Rencana tindakan
Rasionalisasi
1.      Kaji fungsi motorik dan sensorik setiap 4 jam
2.      Kaji derajat ketergantungan pasien

3.      Monitor daerah yang tertekan
4.      Jaga kebersihan tempat tidur

5.      Monitor intake dan output


6.      Lakukan alih posisi setiap 2 jam

7.      Pertahankan sikap tubuh yang therapeutik


8.      Lakukan massage pada daerah yang tertekan secara hati – hati
9.      Gunakan alat bantu untuk mencegah penekanan
§  Paralisis otot dapat terjadi dengan cepat dengan pola yang makin anik
§  Mengidentifikasi kemampuanpasien dalam kebutuhan ADL
§  Mengidentifikasi tanda dekubitus
§  Laken yang kotor dan berkerut memudahakan terjadinya dekubitus
§  Nutrisi yang adekuat mengurangi resiko dekuitus

§  Melanacarkan aliran darah bagian yang tertekan
§  Bagian yang tertekan memerlukan perhatian khususkrena beresikoterjadi dekubitus

§  Memperlancar aliran darah


§  Mengurangi resiko dekubitus




DAFTAR PUSTAKA

Doenges , E . Marlin ,1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan Pasien dan Pendokumentasian Keperawatan, Edisi 3, Alih bahasa : I Made Kariasa , Jakarta ,EGC

Padmosantjojo, Keperawatan Bedah Saraf , Jakarta, Bagian Bedah Saraf ,FKUI

Price,Sylvia anderson, 1995,Fisiologi Proses penyakit Edisi keempat ,Buku kedua ,Alih bahasa : Peter Anugrah
Tuti Pahria,dkk,1996 asuhan Keperawatan pada gangguan persarafan,Jakarta EGC

No comments: