Juniartha Semara Putra
United States
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HERNIA
DISKUS INTERVERTEBRALIS
A. Konsep
dasar penyakit
1. Defenisi
Penonjolan nucleus pulposus atau annulus discus dari intervertebr yang
dapat menekan radik syaraf . ( Kamus Kedokteran Dorland ).
2. Epidemiologi
Herniasi discus
Intervertebralis dapat ditemukan dengan MRI pada Individu yang tidak mengalami
keluhan dengan umur kurang dari 40 tahun
dan 5% dari kelompok ini berumur lebih dari
50 tahun.penyakit yang disebabkan oleh factor degeneratif dapat ditemukan
dengan MRI pada kelompok individu yang tidak mengalami keluhan yang berumur
lebih dari 40 tahun dan 60 % dari kelompok ini berumur lebih dari 40 tahun.
Internasional
Penelitian di
Italia tahun 1996 menunjukan bahwa prevalensi spondilotic radiculopathy
adalah 3.5 kasus per 1000 penduduk
3. Penyebab
Disebabkan oleh stress berulang
pada cervical atau trauma talang servikal. Faktor resiko akan meningkat Karena adanya
stress yang bersifat vibrasional, mengangkat yang berat, posisi yang tetap
dalam waktu yang lama , whiplash accident
, dan akselerasi / deselerasi yang sering.
4. Pathofisiologi
Diskus
Intervertebralis berfungsi ganda pada persendian , membuat tulang belakang
menjadi flexibledan sebagai pereda, tekanan beban untuk mencegah kerusakan
tulang. herniasi atau rupture dioskus intervertebralis servikalis protusi
nuleus pulposus bersam dengan beberapa bagian annulus kedalam kanalis spinalis
atau foramen intervertebralis. Karena ligamentum longitudinalis posterior jauh
lebih kuat dari ligamentum longitudinalis posteror maka herniasi hamper selalu
kearah posterior.Herniasi tersebut biasanya menggelembung berupa masa padat dan
tetap menyatu dengan badan discus, walaupun fragmen – fragmennya kadang –
kadang dapat menekan keluar menembus ligamentum longitudinalis posterior dan
masuk dan berada bebas kedalam kanalis spinalis. Proses degeneratif yang
terjadi pada discus intervertebralis diantaranya ada perubahan pada annulus
fibrosus dan nucleus pulposus . Pada annulus fibrosus terjadi kerusakan dan
serat – serat fibro elastic teritus keudian diganti dengan jaringan
ikat.Perubahan ini akan menimbulkan rongga pada annulus.perubahan yang terjadi
pada nucleus pulposus adalah penurunan kemampuan pengikatan air sehingga volume
nucleus pulposus menurun. Perubahan teresbut menyebabkan tahanan interdiskus
akakn menurun.Jika terjadi peninggian tekanan pada discus secara tiba- tiba dan
berlangsung lama maka materi nucleus pulposus akan menonjol mengisi annulus
fibrosus yang rusak. Penonjolan nucleus kebelakang lateral dan menekan syaraf
pada radik dorsalis yang berjalan dalam kanalis vertebralis akan menimbulkan
nyeri..gerakan – hgerakan yang merubah posisi tuang belakang seperti membungkuk
,bersindan batuk akan menambah rasa nyeri
5. Gejala
klinis
Tanda – tanda Herniasi discus
servikal
·
C4 – C5 ( akar saraf C5 ) Dapat menyebabkan
kelemahan pada otot deltoidius pada lengan atas . biasanya tidak menyebabkan
perubahan sensasi. Dapat menyebabkan nyeri pada bahu.
·
C5- C6 ( akart saraf C6 ) kelemahan pada bicep
dan musculus ektensor pergelangan tangan . Perubahan sensasi disertai nyeri dapat
menyebar ke ibu jari tangan. Ini merupakan lokasi / keluhan yang paling sering
terjadi.
·
C6 – C7 ( akar syaraf C7 ) Kelemahan pada otot
tricep dan musculus ektensor jari . Mati rasa dan kesemutan dengan nyeri
menjalar kebawah pada tricep dank e jari tengah.
·
C7 –
T1 ( akar syaraf C8 ) Kelemahan saat
menggenggam. Mati rasa dan kesemutan menyebar kearah lengan dan kearah
kelingking.
Tanda – tanda Hernia Diskus lumbalis
L3 – L4 ( akar syaraf L4 )
·
Nyeri pinggang belakang, pingul ,paha, patelle, anteromedial kaki.
·
Mati
rasa antero
medial paha dan lutut
·
Kelemahan ektensim
lutut
·
Atrophy quadricep
·
Replex penurunan
sentakan kaki
L4- L5 ( L5 akar syaraf )
·
Nyeri sacro iliaka, pinggul , paha posterolateral,
anterolateral kaki
·
Mati
rasa lateral kaki,
·
Kelemahan Dorsofleksi ibu jari dan kaki
·
Atrophy betis bagian depan
·
Replex hilangnya reflex tendon tibia
L5 – S1 ( akar syaraf S1 )
·
Nyeri saro iliaka, pingul, paha
posterolateral.
·
Mati
rasa belakang betis , tumit samping, kaki dan ujung
jari
·
Kelemahan plantar
flexi kaki dan ujung jari
·
Atrophy gastroknemius dan soleus
·
Replex reflek
ankle hilang
6.
Pemeriksaan
fisik
·
Pemeriksaan
Range Of Motion ( ROM )
·
Pengkajian neurologist
·
Pemeriksan dengan beberapa maneuver ( laseque
clasic test , Laseque rebound sign , deyerle sign , dll ) yang pada prinsipnya
adalah ,mengangkat kaki lurus keata untuk mencari adanya nyeri yang menjalar
kearah bawah ( kekaki ) ,jika tanda ini positif kemungkinan pasien mengalami
ganguan pada discus lumbalis.
·
Spurling test [pada tulang servikal untuk
menetukan adanya stenosis foraminal. Pada kasus umbel dilkaukan Kemp test.
·
Pemeriksaan secara hati – hati pinggul, rectal,
dan organ genitourinary untuk membedakan adanya komplikasi pada organ dalam.
7.
Pemeriksaan
diagnostic
·
Foto polos tulang belakang ;
untuk menyinkirkan adany anomai atau deformitas kongenital, penyakit reumatik
tulang belakang , tumor metastasdik primer. Pada penyakit diskus foto ini
menunjukan normal atau memperlihatkan perubahan degeneratif dengan penyempitan
sela intervertebraldan pembentukan osteofit.
·
Kadar
serum kalsium ,fosfat , alakali dan asam fosfatase dan kadar gula harus
diperiksa pada setiap pasien dengan penyebab penyakit tulang metabolik , tumor
metastatik dan mononeuritis diabetik yang dapat menyerupai penyakit diskus
Intervertebra.
·
Fungsi lumbal : sedikit manfaatnya, hanya ada peningkatan
sedikit kadar protein.
·
Myelogram
untuk menentukan lokasi dan ukuran herniasi diskus.
·
EMG untuk
menentukan akar syaraf yang pasti terkena.
·
Test kecepatan konduksi syaraf.
·
MRI spinal atau CT
spinal untuk menunjukan kompresi pada oleh herniasi diskus.
8.
Prognosis
Kebanyakn pasien akan mengalami perbaikan dengan
theraphy koservatif. Namun pada beberapa pasien akn menimbulkan nyeri punggung
yang kronis.Mungkin membutuhkan waktu beberapa bulan bahkan tahun untuk kembali
beraktifitas tanpa nyeri.
9.
Komplikasi
·
Nyeri
tulang belakang kronis
·
Cedera
spinal cord yang permanent
·
Kehilangan
kemampuan motorik atau sensorik pada kaki
·
Penuruna
fungsi pencernaan atau kandung kemih
·
Gangguan
fungsi seksual.
10.
Penatalaksanaan.
1.
Penatalaksanaan
umum
§ Bedrest dengan tempat tidur datar dan alas
yang keras untuk mengurangi rasa nyeri dan kerusakan saraf
§ Fisiotheraphy : mengurangi resiko gangguan
imobilisasi, melancarkan peredaran darah.
§ Traksi : menstabilkan / memfiksasi lokasi
kerusakan diskus.
§ Perubahan posisi : mengurangi rasa nyeri
dan resiko dekubitus.
§
Kebutuhan
nutrisi
2.
Obat
– obatan
§
Non
–steroid anti Inflamatory medication ( NSAID )
§
Analgetik
narkotik
3.
Perubahan
gaya hidup
§
Pengelolaan
berat badan
§
Theraphy
fisik : cara mengangkat , berpakaian ,berjalan dan cara melekukan aktifitas
lain
4.
Operasi
§ Laminektomi : pengangkatan lamina vertebra
dan degeneratif diskus , untuk membebaskan tekanan pada akar saraf.
§ Lumbal / Cervikal mikrodisrektomi :
pengangkatan diskus yang mengalami degenerasi dengan menggunakan teknik
pembedahan mikro.
§ Spinal fusi : menempatkan tulang baru pada
kedua vertebra untuk mefixasi vertebra.
5.
Therapi
lain
§
Kemonukleolisis
; yaitu penyuntikan 2000- 4000 unit kemopain kedalam diskus hernia yang sakit.
B.
Konsep
dasar asuhan keperawatan
1.
Pengkajian
a. Riwayat kesehatan
§ Riwayat kejadian , tanda dan gejala.
§ Riwayat trauma , pembedahan , infeksi pada
tulang belakang.
§ Riwayat pekerjaan seperti sering
mengangkat beban berat.
b. Pemeriksaan Fisik
§ Perubahan postur tubuh dan cara berjalan.
§ Nyeri pada bagian belakang
§ Nyeri saat digerakkan , bersin , batuk.
§ Kelemahan otot , kekekuan otot , spasme
otot.
§ Hilangnya sensasi / sensorik.
§ Reflek tendon trisep , achiles berkurang .
§ Kehilangan fungsi seksual , eleminasi usus
dan urin.
§ Tanda kernig positif
§ Test lasegue terbatas ,kurang dari 70 derajat.
c. Psikososial
§ Ganguan pola tidur
§ Cepat tersinggung
2.
Diagnose
keperawatan
a.
Nyeri berhubungan dengan kompresi saraf
b.
Ganguan
mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri , theraphi pembatasan gerak.
c.
Resiko
terjadinya ganguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sensibilitas
dan bedrest
3. Rencana keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan kompresi saraf
Data pendukung:
§ Pasien
mengeluh nyeri pada pinggang , punggung tangan dan leher yang menjalar.
§ Pasien
mengatakan nyeri pada baghian belakang sat membungkuk, bersin atau batuk.
§ Ekpresi
wajah kesakitan
§ Spasme
otot
§ Gerakan
pasien lambat.
Kriteria hasil :
§ Pasien mengatakan nyeri hilang
atau terkontrol
§ Pasien dapat mendemontrasdikan
metode untk mengontrol atau menghilangkan nyeri.
§ Meningkatnya aktifitas fisik.
Rencana
Tindakan
|
Rasional
|
1.
Kaji
rasa nyeri lokasi , lamanya , atau fakor pencetus nyeri
2.
Pertahankan
tirah baring dengan matras keras di bawahnya.
3.
Pertahankan
traksi ,korset,dan collar brace.
4.
Ajarkan
teknik relaksasi dengan nafas dalam dan alih posisi yang tepat
5.
Lakukan
kompres hangat pada lokasi nyeri tekan.
6.
Berikan
obat narkotik analgetik.sesuai program.
7.
Kolaborasi
dengan fisiotherphi
|
§
menetukan
keefektifan theraphy mengatasi nyeri.
§
Mengurangi
rasa nyeri dengan mengurangi pergerakan
§
Menurunkan
rasa nyeri karena penekanan saraf.
§
Relaksasi
otot mengurangi ketegangan , menurunkan stres pada otot.
§
Relaksasi
otot meningkatkan sirkulasi darah.
§
Mengurangi
rasa nyeri
§
Menentukan
intervensi lebih lanjut.
|
b. Ganguan
mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri , theraphi pembatasan gerak.
Data pendukung:
§ Pasien
menyatakan kesuitan melakukan pergerakan
§ Menurunnya
aktifitas fisik
§ Terbatasnya
ROM
§ Kelemahan
otot ektremiotas
§ Hilangnyasensori
§ Spasme
otot
§ Reflek
tendon menurun
Kriteria hasil
§ Tidak
ada kelemahan otot
§ ROM
maksimal
§ Trophi
tidak terjadi
§ Meningkatnya
aktifitas fisik
Rencana tindakan
|
Rasional
|
|
§
Menentukan
tingkat kerusakan fisik dan efektifitas intervensi
§
Menurunnya
stress spinal
§
Mencegah
atropi dan kontraktur
§
Mengurangi
nyeri
§
Imobilisasi
yang lama menimbulkan komplikasi yang serius
§
Memperbaiki
kerusakan tulang belakang
|
c. Resiko
terjadinya ganguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan sensibilitas
dan bedrest
Data pendukung
§ Menyatakan
kesulitan pergerakan
§ Teraphi
bed rest
§ Kelemahan
otot ektremitas
§ Hilangnya
sernsori
§ Spasme
otot
§ Reflek
tendpon meurun
Kriteria hasil
§ Keadaan
kulit utuh
§ Dekubitus
tidak terjadi
Rencana
tindakan
|
Rasionalisasi
|
1. Kaji fungsi motorik dan sensorik
setiap 4 jam
2. Kaji derajat ketergantungan
pasien
3. Monitor daerah yang tertekan
4. Jaga kebersihan tempat tidur
5. Monitor intake dan output
6.
Lakukan
alih posisi setiap 2 jam
7.
Pertahankan
sikap tubuh yang therapeutik
8. Lakukan massage pada daerah yang
tertekan secara hati – hati
9.
Gunakan
alat bantu untuk mencegah penekanan
|
§
Paralisis
otot dapat terjadi dengan cepat dengan pola yang makin anik
§
Mengidentifikasi
kemampuanpasien dalam kebutuhan ADL
§
Mengidentifikasi
tanda dekubitus
§
Laken
yang kotor dan berkerut memudahakan terjadinya dekubitus
§
Nutrisi
yang adekuat mengurangi resiko dekuitus
§
Melanacarkan
aliran darah bagian yang tertekan
§
Bagian
yang tertekan memerlukan perhatian khususkrena beresikoterjadi dekubitus
§
Memperlancar
aliran darah
§
Mengurangi
resiko dekubitus
|
DAFTAR PUSTAKA
Doenges , E .
Marlin ,1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan Pasien dan
Pendokumentasian Keperawatan, Edisi 3, Alih bahasa : I Made Kariasa , Jakarta
,EGC
Padmosantjojo,
Keperawatan Bedah Saraf , Jakarta, Bagian Bedah Saraf ,FKUI
Price,Sylvia
anderson, 1995,Fisiologi Proses penyakit Edisi keempat ,Buku kedua ,Alih bahasa
: Peter Anugrah
Tuti Pahria,dkk,1996
asuhan Keperawatan pada gangguan persarafan,Jakarta EGC
No comments:
Post a Comment