WHO AM I?

I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA POLTEKKES KEMENKES DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

Thursday, September 6, 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ARTRITIS REUMATOID

Juniartha Semara Putra

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
ARTRITIS REUMATOID


           
            KONSEP DASAR PENYAKIT
            1.DEFINISI
                        Artritis rematoid adalah penyakit inflamasi nonbacterial yg bersifat sistemik,progresif,cenderung kronis yg menyerang berbagai system organ(Arif Muttaqin,2002:322).
                        Artritis rematoid merupakan inflamasi kronis yg paling sering ditemukan pada sendi.Insiden puncak antara usia 40-60 tahun,lebih banyak pada wanita daripada pria dgn perbandingan 3:1.
            2.ETIOLOGI
                        Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui.Beberapa teori yg dikemukakan mengenai penyebab arthritis rematoid adalah infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus nonhemolitikus,endokrin,autoimun,metabolic,factor genetic,atau factor lingkungan.
            3.PATOFISIOLOGI
                        Pada arthritis rematoid reaksi autoimun terutama terjadi dalam jaringan synovial.Proses fagositosis menghasilkan enzyme-enzym dalam sendi.Enzym-enzym tersebut akan memecah kolagen sehangga terjadi oedema,proliferasi membrane synovial dan akhirnya pembentukan pannus.Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang.Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi.Otot akan turut terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot.
            4.MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis arthritis rematoid sangat bervariasi dan biasanya mencerminkan stadium serta beratnya penyakit.Rasa nyeri,pembengkakan,panas,eritema,dan gangguan fungsi pada sendi merupakan gambaran klinis yang klasik untuk arthritis rematoid.Artritis rematoid dapat dibagi menjadi 3 stadium:
A.Stadium I(stadium sinovitis).Pada tahap awal terjadi kongesti vascular,proliferasi synovial disertai infiltrasi dilapisan subsinovial oleh sel-sel polimorfi limfosit dan sel plasma.Selanjutnya terjadipenebalan struktur kapsul sendi disertai pembentukan vili pada sinovium dan efusi pada sendi/pembungkus tendo.
B.Stadium II(stadium destruksi).Pada stadium ini inflamasi berlanjut menjadi kronis serta terjadi destruksi sendi dan tendo.Kerusakan pada tulang rawan sendi disebabkan oleh enzyme proteolitik dan jaringan vaskuler pada lipatan sinovia serta jaringan granulasi yang terbentuk pada permukaan sendi(pannus).Erosi tulang terjadi pada bagian tepi sendi akibat invasi jaringan granulasi dan resorpsi osteoklas.Pada tendo terjadi tenosinovitis disertai invasi kolagen yang dapat menyebabkan rupture tendo,baik parsial ataupun local.
C.Stadium III(stadium deformitas).Pada stadium ini kombinasi antara destruksi sendi,ketegangan selaput sendi,dan rupture tendo akan enyebabkan instabilitas dan deformitas sendi.
5.PENATALAKSANAAN MEDIS
            Untuk arthritis rematoid yang dini,terapi dimulai dengan pendidikan pasien,keseimbangan antara istirahat dan latihan,dan rujukan kekembaga kemasyarakatan yang dapat memberikan dukungan.Penanganan medik dimulai dengan pemberian salisilat atau NSAID dalam dosis terapuetik.Kalau diberikan dalam dosis terapuetik yang penuh,obat-obat ini akan memberikan efek antiinflamasi maupun analgesic.Kepada pasien perlu diberitahukan untuk menggunakan obat menurut resep dokter agar kadar obat yang konsisten dalam darah bias dipertahankan sehingga keefektifan obat anti inflamasi tersebut dapat mencapai tingkat yang optimal.
            Untuk arthritis rematoid erosife,moderat,suatu program formal dengan terapi okupasi dan fisioterapi harus diresepkan untuk mendidik pasien tentang prinsip-prinsip perlindungan sendi,pengaturan kecepatan dalam pelaksanaan aktivitas,penyederhanaan kerja,latihan gerak,dan latihan untuk menguatkan otot-otot.Pasien didorong untuk turut berpartisipasi aktif dalam program penatalaksanaan tersebut.Program medikasi dievaluasi ulang secara periodic,dan perubahan yang sesuai dapat dilakukan jika diperlukan.
            Bagi arthritis rematoid erosife,persisten,bedah rekonstruksi dan terapi kortikosteroid kerapkali diresepkan.Bedah rekonstruksi merupakan indikasi kalau rasa nyeri tidak dapat diredakan oleh tindakan konservatif.Prosedur bedah mencakup tindakan sinovektomi(eksisi membrane synovial),tenorafi(penjahitan tendon),atrodesis(operasi untuk menyatukan sendi) dan artroplasti(operasi untuk memperbaiki sendi).Namun demikian operasi tidak dilakukan pada saat penyakit msih berada dalam stadium akut.Pemberian kortikosteroid sistemik dilakukan jika pasien menderita inflamasi serta rasa nyeri yang tidak pernah sembuh/pasien membutuhkan obat-obat”yang menjembatani”pada saat ia menantikan hasil kerja obat anti rematik yang kerjanya lambat.Terapi kortikosteroid dengan dosis rendah dapat direkomendasikan dalam waktu terpendek yang diperlukan.
            Bagi arthritis rematoid yang lanjut dan tidak pernah sembuh,obat-obat imunosupresi diresepkan mengingat kemampuannya untuk mempengaruhi produksi antibody pada tingkat seluler.Obat-obat ini mencakup preparat metotreksat dosis tinggi,siklofosfamid dan azatioprin.Namun obat-obat ini sangat toksis dan dapat menimbulkan depresi sumsum tulang,anemia,gangguan gastrointestinal serta ruam.Plasmaferesis,limfoferesis dan iradiasi total limfoid merupakan prosedur eksprimental yang dikenalkan dalam tahun 1970-an dan kini dianggap tidak atau hanya sedikit peranannya dalam penanganan penyakit rematik,kecuali pada kasus-kasus akut yang mengancam penderitanya dan tidak menunjukkan respons terhadap terapi konvensional yang agresif.
KRITERIA ARTRITIS REUMATOID (ARA).
1 .Kekakuan sendi jari yangan pada pagi hari(morning stiffness)
2 .Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya pada satu sendi.
3 .Pembengkakan pada salah satu sendi secara terus-menerus sekurang-kurangnya 6 minggu.
4 .Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain.
5 .Pembengkakan sendi yang bersifat simetris.
6 .Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor.
7 .Gambaran fotorontgen yang khas pada arthritis rheumatoid.
8 .Uji aglutinasi factor rheumatoid.
9 .Perubahan karakteristik histologis lapisan sinovia.
10.Gambaran histologis yang khas pada nodul.
11.Pengendapan cairan caousin yang jelek.

HASIL PENILAIAN
@ Bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu.(KLASIK)
@ Bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.(DEFINITIF)
@ Bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 4 minggu(KEMUNGKINAN REUMATOID)







KONSEP DASAR ASKEP
           
            1.PENGKAJIAN KEPERAWATAN
                        Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan.
               A.Anamnesis.Anamnesis dilakukan untuk mengetahui:
                        @ Identitas meliputi nama,jenis kelamin,usia,alamat,agama,bahasa yang digunakan,status perkawinan,pendidikan,pekerjaan,asuransi,
               golongan darah ,nomor register,tanggal masuk rumah sakit,dan diagnosis medis.
                        @ Riwayat penyakit sekarang.Pengumpulan data dilakukan sejak keluhan muncul.Pada klien arthritis rheumatoid,stadium awal biasanya ditandai dengan gangguan keadaan umum berupa malaise,penurunan berat badan,rasa capek, sedikit panas,dan nemia.Gejala local yang terjadi berupa pembengkakan,nyeri,dan gangguan gerak pada sendi metakarpofalangeal.
                        @ Riwayat penyakit dahulu.Pada pengkajian ini, kemungkinan penyebab pendukung terjadinya arthritis rheumatoid.Penyakit tertentu seperti penyakit DM menghambat proses penyembuhan arthritis rheumatoid.
                        @ Riwayat penyakit keluarga.Kaji tentang adakah keluarga dari generasi terdahulu yang mengalami keluhan yang sama dengan klien.
                        @ Riwayat psikososial.Kaji respon emosi klien terhadap penyakit dan perannya dalam keluarga dan masyarakat.Klien dapat mengalami ketakutan akan kecacatan karena perubahan bentuk sendi dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra diri).Kebutuhan tidur dan istirahat juga harus dikaji,selain kingkungan,lama tidur,kebiasaan, kesulitan,dan penggunaan obat tidur.
               B.Pemeriksaan Fisik.Setelah melakukan anamnesis,pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data anamnesis.Pemeriksaan fisik dilakukan persistem(B1-B6) dengan focus pemeriksaan B6(bone) yang dikaitkan dengan keluhan pasien.
                        @ B1(Breathing).Klien arthritis rheumatoid tidak menunjukkan kelainan system pernafasan pada saat inspeksi.Palpasi thoraks menunjukkan taktil fremitus seimbang kanan dan kiri.Pada auskultasi,tidak ada suara nafas tambahan.
                        @ B2(Blood).Tidak ada iktus jantung pada palpasi.Nadi mungkin meningkat,iktus tidak teraba.Pada auskultasi,ada suara S1 dan S2 tunggal dan tidak ada murmur.
                        @ B3(Brain).Kesadaran biasanya CM.Pada kasus yang lebih parah,klien dapat mengeluh pusing dan gelisah.
                        > Kepala dan wajah            : ada sianosis
                        > Mata                                : sclera biasanya tidak ikterik
                        > Leher                              : biasanya JVP dalam batas normal
                        > Telinga                           : tes bisik atau Weber masih dalam  
keadaan normal.Tidak ada lesi atau nyeri tekan
> Hidung                           : tidak ada deformitas,tidak ada
                                            pernafasan cuping hidung
> Mulut dan faring            : tidak ada pembesaran tonsil,gusi tidak
                                            terjadi perdarahan,mukosa mulut tidak
                                            pucat
Ø  Status mental:penampilan dan tingkah laku klien biasanya tidak mengalami perubahan.
Ø  Pemeriksaan saraf cranial:
# Saraf I.Biasanya pada klien arthritis rheumatoid tidak ada kelainan dan fungsi penciuman tidak ada kelainan.
# Saraf II.Tes ketajaman penglihatan normal.
# Saraf III,IV,dan VI.Biasanya tidak ada gangguan mengangkat kelopak mata,pupil isokor.
# Saraf V.Klien arthritis rheumatoid umumnya tidak mengalami paralysis pada otot wajah dan reflek kornea biasanya tidak ada kelainan.
# Saraf VII.Persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah simetris.
# Saraf VIII.Tidak ditemukan tuli konduktif tau tuli persepsi.
# Saraf IXdanX.Kemampuan menelan baik.
# Saraf XI.Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trpezius.
# Saraf XII.Lidah simetris,tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi.Indra pengecapan normal.
@ B4(Bladder).Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada system perkemihan.
@ B5(Bowel).Umumnya klien arthritis rheumatoid tidak mengalami gangguan eleminasi.Meski demikian perlu dikaji frekwensi,konsistensi,warna serta bau feses.Frekwensi berkemih,kepekatan urine,warna,bau,jumlah urine juga harus dikaji.Gangguan gastrointestinal yang sering adalah mual,nyeri lambung,yang menyebabkan klien tidak nafsu makan,terutama klien yang menggunakan obat reumatik dan NSAID.Peristaltik yng menurun menyebabkan klien jarang defekasi.
@ B6(Bone).
> Look   :didapatkan adanya pembengkakan yang tidak biasa, deformitas pada daerah sendi kecil tangan,pergelangan kaki,dan sendi besar lutut,panggul,dan pergelangan tangan.Adanya degenerasi serabut otot memungkinkan terjadinya pengecilan,atrofi otot yang disebabkan oleh tidak digunakannya otot akibat inflamasi sendi.Sering ditemukan nodul subcutan miltipel.
> Feel    :nyeri tekan pada sendi yang sakit.
> Move :ada gangguan mekanis dan fungsional pada sendi dengan manifestasi nyeri bila menggerakkan nyeri sendi yang sakit.Klien sering mengalami kelemahan fisik sehingga mengganggu aktivitas hidup sehari-hari.
            C.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
         @ Pemeriksaan radiologi.Pada tahap awal,foto rontgen tidak menunjukkan kelainan yang mencolok.Pada tahap lanjut,terlihat rarefaksi korteks sendi yang difus dan disertai trabekulasi tulang,obliterasi ruang sendi yang memberi perubahan degeneratif berupa densitas,iregularitas permukaan sendi,serta spurring marginal.Selanjutnya bila terjadi destruksi tulang rawan,akan terlihat penyempitan ruang sendi dengan erosi pada beberapa tempat.
D.PEMERIKSAAN LABORATORIUM
         Ditemukan peningkatan laju endap darah,anemia normostik hipokrom,reaksi protein-C positif dan mukoprotein meningkat,factor rheumatoid positif 80%(uji Rose-Waaler) dan factor antinuclear positif 80%,tetapi kedua uji ini tidak spesifik.
@ DATA SUBYEKTIF
         -mengeluh nyeri sendi
         -mengeluh badan panas
         -mengatakan kurang mengerti tentang penyakitnya
@ DATA OBYEKTIF
         -bengkak pada sendi
         -menggigil
         -suhu meningkat akibat peradangan
         -kekuatan otot menurun
         -kekakuan sendi
         -terbatasnya gerakan sendi
         -deformitas
         -fenomena Raynaud
         -nodul rheumatoid
-gejala ekstra artikuler(neuropati,perikarditis,splenomegali,dan sindrom sjogren)
            2.DIAGNOSA KEPERAWATAN
            a.Nyeri b/d adanya reaksi peradangan
b.Kerusakan mobilitas fisik b/d adanya kekakuan sendi,deformitas,penurunan kekuatan otot
c.Gangguan bodi image b/d perubahan kemampuan untuk melakukan ADL(akibat dari deformitas,kekakuan sendi,penurunan kekuatan otot.)
d.Defisit perawatan diri b/d penurunan kekuatan,daya tahan,kekakuan sendi saat beraktivitas
e.Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi tentang penyakitnya,kesalahan interpretasi informasi
f.Resiko cedera b/d penurunan kekuatan otot




















3.RENCANA KEPERAWATAN
            Dengan munculnya beberapa diagnosa keperawatan seperti diaras,maka dapat dibuat rencana tindakan pada diagnose yang paling umum terjadi pada pasien arthritis rheumatoid.
No
DX
Intervensi
Rasional
1
2
3
4

a












































b











































c






























































d































e
































f

kaji status nyeri,catat                              lokasi&intensitas nyeri    
   

-berikan kasur keras,bantal                 kecil.Tinggikan tempat                          tidur ssi kebutuhan




-beri posisi nyaman saat                    tidur&duduk dikursi   
         

anjurkan px untuk mandi                         air hangat              


berikan masase yg lembut              

 libatkan dlm aktivitas               hiburan yg ssi untuk                                      situasi individu
beri obat sblm aktivitas yg                            direncanakan ssi petunjuk                
                                                                                                                                                           

-pantau tngkat sakit pd sendi        
                                                                                    -pertahankan istirahat tirah baring/duduk   

-ubah posisi dgn sering dgn jmlh personel cukup

-gunakan bantal kecil/tipis dibawah leher

-dorong px m”pertahankan         postur tegak&duduk tinggi                    berdiri,berjalan       

-berikan lingk.yg aman seperti p”gunaan alat bantu mobilitas kursi roda penyelamat

-konsul dgn ahli terapi fisik        




-dorong p”ngungkapan mengenai mslh ttng proses penyakit    
&harapan masa depan                 
                              
                                               
 -diskusikan arti dari kehilangan/perubahan pada px                  



                                                                                                                                                  -diskusikan persepsi px mengenai bgmn org terdekat menerima keterbatasan          
                      
                               
-akui&terima perasaan berduka,b’musuhan,
ketergantungan

 -bantu dgn kebutuhan pera watan yg diperlukan                 
                     

                                                     
  -berikan bantuan positif bila perlu                                           
                                
                                          
 -rujuk pd konseling psikiatri      
                          


                                                                                      
 -beri obat ssi petunjuk spti:  obat-obat antiansietas    

-diskusikan tingkat fungsi umum      


                                                                                 
 -p’tahankan mobilitas, kontrol thdp nyeri & program latihan

 -kaji hambatan thdp partisipasi dlm perawatan diri              
 
 -konsul dgn ahli terapi             
  okupasi        

                                                                      -atur konsul dgn lembaga lain,spti:pel. perawatan             rumah,ahli nutrisi                                      

-tinjau proses penyakit,prognosis & harapan masa depan       
                                                                              
-bantu dlm m’rencanakan jadwal aktivitas terintegrasi        
yg realistis                 
                                                              
 -tekankan pntngnya melan        
jutkan managemen farmako terapuetik      
                            
-diskusikan tanda & gejala  kemajuan penyakit                   
                                                                               
 -beri dukungan psikologis agar px m’jalankan apa yg       
sudah disepakati                        

-ciptakan lingk.yg bebas dari bahaya (licin,peneranga ckup)                                                              
 -beri dukungan ambulasi ssi        kemampuan                                
                                                                                 
 -ajarkan pd px u/tidak naik tangga, & mengangkat beban        
 berat                      
                        
  -bantu px melakukan aktivitas hidup sehari-hari dgn hati-hati   

                                                                           
membantu dalam menentukan
kebutuhan manajemen nyeri

-tjd pemeliharaan kesejajaran                       tubuh yg tepat.Peninggian tmpt tidur m”nurunkan tkanan pada                                                                sendi yg terinflamasi

-tirah baring diperlukan untuk  membatasi nyeri sendi

-panas m”ningkatkan relaksasi                            otot,menurunkan rasa nyeri

 -m”ningkatkan relaksasi otot


-m”ningkatkan rasa percaya                diri&perasaan sehat
                     

-m”ningkatkan relaksasi,me      ngurangi tegangan otot,me                                                 mudahkan ikut serta dalam                                                      terapi


  -tingkat latihan trgntung dri
    tingkat rasa nyeri

  -mencegah kelelahan,mem
    pertahankan kekuatan

   -m”hilangkan tek.pd jar.&
    m”ningkatkan sirkulasi

   -mencegah fleksi leher


   -memaksimalkan fungsi
     sendi,m”pertahankan
      mobilitas



   -menghindari cedera
akibat kecelakaan /jatuh



 -berguna dlm m”formulasikan prog.latihan yg berda
sarkan kebut.individual
  
                                                                  
 -berikan kesempatan u/ m”identifikasi rasa takut/kesalahan konsep&m”hadapinya scra langsung

-m”identifikasi bgmn
 penyakit m’pngaruhi per
 sepsi diri&interaksi dgn
   org lain akan m’nentukan kbthan trhdp intervensi

 -isyarat verbal/nonverbal org terdekat dpt m’punyai pe ngaruh mayor pd bgmn px m’mandang dirinya sendiri

-perasaam marah dan bermusuhan umum terjadi
                    
  
-m’pertahankan penampilan yg dpt m’ningkatkan citra                  
diri
                    
-m’mungkinkan px untuk
  merasa senang thdp dirinya sendiri

 -px mungkin m’butuhkan
   dukungan slma berhdpan
    dgn proses jangka 
     panjang/
    ketidakmampuan
                     
 -mkn dbtuhkan saat munculnya depresi hebat


-dpt melanjutkan aktivitas
  umum dgn m’lakukan
  adaptasi yg diperlukan
  pd keterbatasan saat ini

  -mendukung kemandirian
    fisik/emosional


  -m’nyiapkan u/meningkat
   kan kemandirian
                         

 -berguna u/m’nentukan
   alat bantu u/memenuhi
    kebutuhan individual
                         
 -mkn m’butuhkan berbgai
  bantuan tambahan untuk
  persiapan situasi dirumah   


-m’berikan penget.dimana
  px dpt membuat pilihan
  b’dasarkan informasi

  -m’berikan struktur&me
    ngurani ansietas pd wkt m’nangani proses penya
kit kronis kompleks
                    
     -keuntungan dari terapi
obat-obatan tergntung
 pd ketepatan dosis 
                        
 -m’bantu px&klrga dalam
   penatalaksanaan prwtan
   px arthritis rheumatoid
                       
 -m’ningkatkan kemauan
  px&klrga ttg pntngnya
  prwtan dirumah

    
-m’ciptakan lingk.                    aman&mengurangi
 resiko tjd kecelakaa
 -ambulasi tdk ssi kemam
   puan dpt beresiko trjdi
    cedera(jatuh)

  -p’gerakan yg cepat me
    nudahkan tjdnya frak
    tur
                    

   -m’minimalkan resiko
     trjdnya cedera
                                                     
             
                                     
                         
                      
                        
                               
                                            
                   
                        
                                                    
                                                                           








4.EVALUASI
            Evaluasi yang dilakukan pada diagnose keperawatan pasien arthritis rematoid adalah berdasarkan kriteria evaluasi dari diagnose keperawatan tersebut.Adapun evaluasinya adalah sebagai berikut:
a.nyeri berkurang
b.kerusakan mobilisasi dapat diminimalisasi
c.gangguan bodi image dapat diatasi
d.mampu melakukan perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan
e.mengetahui proses perjalanan penyakit,gejala,tanda,komplikasi pada penyakit arthritis rheumatoid
f.resiko cedera tidak terjadi




















DAFTAR PUSTAKA


Muttaqin, A.(2002), Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal, Jakarta : EGC.

Carpenito, L. J. (2004), Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Edisi 10, Jakarta : EGC.

Doenges, M. E. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, Jakarta : EGC.

Smeltzer, S. C. (2001), Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, Edisi 8, Jakarta : EGC
 
 


                       
              

No comments: