Juniartha Semara Putra
DAFTAR PUSTAKA
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
ARTRITIS REUMATOID
KONSEP DASAR PENYAKIT
1.DEFINISI
Artritis rematoid adalah
penyakit inflamasi nonbacterial yg bersifat sistemik,progresif,cenderung kronis
yg menyerang berbagai system organ(Arif Muttaqin,2002:322).
Artritis rematoid
merupakan inflamasi kronis yg paling sering ditemukan pada sendi.Insiden puncak
antara usia 40-60 tahun,lebih banyak pada wanita daripada pria dgn perbandingan
3:1.
2.ETIOLOGI
Penyebab utama kelainan
ini tidak diketahui.Beberapa teori yg dikemukakan mengenai penyebab arthritis
rematoid adalah infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus
nonhemolitikus,endokrin,autoimun,metabolic,factor genetic,atau factor
lingkungan.
3.PATOFISIOLOGI
Pada arthritis rematoid
reaksi autoimun terutama terjadi dalam jaringan synovial.Proses fagositosis
menghasilkan enzyme-enzym dalam sendi.Enzym-enzym tersebut akan memecah kolagen
sehangga terjadi oedema,proliferasi membrane synovial dan akhirnya pembentukan
pannus.Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi
tulang.Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu
gerak sendi.Otot akan turut terkena karena serabut otot akan mengalami
perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi
otot.
4.MANIFESTASI
KLINIS
Manifestasi
klinis arthritis rematoid sangat bervariasi dan biasanya mencerminkan stadium
serta beratnya penyakit.Rasa nyeri,pembengkakan,panas,eritema,dan gangguan
fungsi pada sendi merupakan gambaran klinis yang klasik untuk arthritis
rematoid.Artritis rematoid dapat dibagi menjadi 3 stadium:
A.Stadium I(stadium sinovitis).Pada
tahap awal terjadi kongesti vascular,proliferasi synovial disertai infiltrasi
dilapisan subsinovial oleh sel-sel polimorfi limfosit dan sel plasma.Selanjutnya
terjadipenebalan struktur kapsul sendi disertai pembentukan vili pada sinovium
dan efusi pada sendi/pembungkus tendo.
B.Stadium II(stadium destruksi).Pada
stadium ini inflamasi berlanjut menjadi kronis serta terjadi destruksi sendi
dan tendo.Kerusakan pada tulang rawan sendi disebabkan oleh enzyme proteolitik
dan jaringan vaskuler pada lipatan sinovia serta jaringan granulasi yang
terbentuk pada permukaan sendi(pannus).Erosi tulang terjadi pada bagian tepi
sendi akibat invasi jaringan granulasi dan resorpsi osteoklas.Pada tendo
terjadi tenosinovitis disertai invasi kolagen yang dapat menyebabkan rupture
tendo,baik parsial ataupun local.
C.Stadium III(stadium deformitas).Pada
stadium ini kombinasi antara destruksi sendi,ketegangan selaput sendi,dan
rupture tendo akan enyebabkan instabilitas dan deformitas sendi.
5.PENATALAKSANAAN MEDIS
Untuk
arthritis rematoid yang dini,terapi dimulai dengan pendidikan
pasien,keseimbangan antara istirahat dan latihan,dan rujukan kekembaga
kemasyarakatan yang dapat memberikan dukungan.Penanganan medik dimulai dengan
pemberian salisilat atau NSAID dalam dosis terapuetik.Kalau diberikan dalam
dosis terapuetik yang penuh,obat-obat ini akan memberikan efek antiinflamasi
maupun analgesic.Kepada pasien perlu diberitahukan untuk menggunakan obat
menurut resep dokter agar kadar obat yang konsisten dalam darah bias
dipertahankan sehingga keefektifan obat anti inflamasi tersebut dapat mencapai
tingkat yang optimal.
Untuk
arthritis rematoid erosife,moderat,suatu program formal dengan terapi
okupasi dan fisioterapi harus diresepkan untuk mendidik pasien tentang
prinsip-prinsip perlindungan sendi,pengaturan kecepatan dalam pelaksanaan
aktivitas,penyederhanaan kerja,latihan gerak,dan latihan untuk menguatkan
otot-otot.Pasien didorong untuk turut berpartisipasi aktif dalam program
penatalaksanaan tersebut.Program medikasi dievaluasi ulang secara periodic,dan
perubahan yang sesuai dapat dilakukan jika diperlukan.
Bagi
arthritis rematoid erosife,persisten,bedah rekonstruksi dan terapi
kortikosteroid kerapkali diresepkan.Bedah rekonstruksi merupakan indikasi kalau
rasa nyeri tidak dapat diredakan oleh tindakan konservatif.Prosedur bedah
mencakup tindakan sinovektomi(eksisi membrane synovial),tenorafi(penjahitan
tendon),atrodesis(operasi untuk menyatukan sendi) dan artroplasti(operasi untuk
memperbaiki sendi).Namun demikian operasi tidak dilakukan pada saat penyakit
msih berada dalam stadium akut.Pemberian kortikosteroid sistemik dilakukan jika
pasien menderita inflamasi serta rasa nyeri yang tidak pernah sembuh/pasien
membutuhkan obat-obat”yang menjembatani”pada saat ia menantikan hasil kerja
obat anti rematik yang kerjanya lambat.Terapi kortikosteroid dengan dosis
rendah dapat direkomendasikan dalam waktu terpendek yang diperlukan.
Bagi
arthritis rematoid yang lanjut dan tidak pernah sembuh,obat-obat
imunosupresi diresepkan mengingat kemampuannya untuk mempengaruhi produksi
antibody pada tingkat seluler.Obat-obat ini mencakup preparat metotreksat dosis
tinggi,siklofosfamid dan azatioprin.Namun obat-obat ini sangat toksis dan dapat
menimbulkan depresi sumsum tulang,anemia,gangguan gastrointestinal serta
ruam.Plasmaferesis,limfoferesis dan iradiasi total limfoid merupakan prosedur
eksprimental yang dikenalkan dalam tahun 1970-an dan kini dianggap tidak atau
hanya sedikit peranannya dalam penanganan penyakit rematik,kecuali pada
kasus-kasus akut yang mengancam penderitanya dan tidak menunjukkan respons
terhadap terapi konvensional yang agresif.
KRITERIA ARTRITIS REUMATOID (ARA).
1
.Kekakuan sendi jari yangan pada pagi hari(morning stiffness)
2 .Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya pada
satu sendi.
3 .Pembengkakan pada salah satu sendi secara terus-menerus
sekurang-kurangnya 6 minggu.
4 .Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain.
5 .Pembengkakan sendi yang bersifat simetris.
6 .Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor.
7 .Gambaran fotorontgen yang khas pada arthritis rheumatoid.
8 .Uji aglutinasi factor rheumatoid.
9 .Perubahan karakteristik histologis lapisan sinovia.
10.Gambaran histologis yang khas pada nodul.
11.Pengendapan cairan caousin yang jelek.
HASIL PENILAIAN
@ Bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6
minggu.(KLASIK)
@ Bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya 6
minggu.(DEFINITIF)
@ Bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 4
minggu(KEMUNGKINAN REUMATOID)
KONSEP DASAR ASKEP
1.PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian
merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan.
A.Anamnesis.Anamnesis dilakukan untuk mengetahui:
@ Identitas
meliputi nama,jenis kelamin,usia,alamat,agama,bahasa yang digunakan,status
perkawinan,pendidikan,pekerjaan,asuransi,
golongan darah ,nomor
register,tanggal masuk rumah sakit,dan diagnosis medis.
@ Riwayat
penyakit sekarang.Pengumpulan data dilakukan sejak keluhan muncul.Pada klien
arthritis rheumatoid,stadium awal biasanya ditandai dengan gangguan keadaan
umum berupa malaise,penurunan berat badan,rasa capek, sedikit panas,dan
nemia.Gejala local yang terjadi berupa pembengkakan,nyeri,dan gangguan gerak
pada sendi metakarpofalangeal.
@ Riwayat
penyakit dahulu.Pada pengkajian ini, kemungkinan penyebab pendukung terjadinya
arthritis rheumatoid.Penyakit tertentu seperti penyakit DM menghambat proses
penyembuhan arthritis rheumatoid.
@ Riwayat
penyakit keluarga.Kaji tentang adakah keluarga dari generasi terdahulu yang
mengalami keluhan yang sama dengan klien.
@ Riwayat
psikososial.Kaji respon emosi klien terhadap penyakit dan perannya dalam
keluarga dan masyarakat.Klien dapat mengalami ketakutan akan kecacatan karena
perubahan bentuk sendi dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan
citra diri).Kebutuhan tidur dan istirahat juga harus dikaji,selain kingkungan,lama
tidur,kebiasaan, kesulitan,dan penggunaan obat tidur.
B.Pemeriksaan Fisik.Setelah melakukan anamnesis,pemeriksaan fisik
sangat berguna untuk mendukung data anamnesis.Pemeriksaan fisik dilakukan
persistem(B1-B6) dengan focus pemeriksaan B6(bone) yang dikaitkan dengan
keluhan pasien.
@
B1(Breathing).Klien arthritis rheumatoid tidak menunjukkan kelainan system
pernafasan pada saat inspeksi.Palpasi thoraks menunjukkan taktil fremitus
seimbang kanan dan kiri.Pada auskultasi,tidak ada suara nafas tambahan.
@
B2(Blood).Tidak ada iktus jantung pada palpasi.Nadi mungkin meningkat,iktus
tidak teraba.Pada auskultasi,ada suara S1 dan S2 tunggal dan tidak ada murmur.
@
B3(Brain).Kesadaran biasanya CM.Pada kasus yang lebih parah,klien dapat
mengeluh pusing dan gelisah.
> Kepala
dan wajah : ada sianosis
>
Mata :
sclera biasanya tidak ikterik
>
Leher :
biasanya JVP dalam batas normal
>
Telinga : tes
bisik atau Weber masih dalam
keadaan
normal.Tidak ada lesi atau nyeri tekan
>
Hidung : tidak
ada deformitas,tidak ada
pernafasan cuping hidung
>
Mulut dan faring : tidak ada
pembesaran tonsil,gusi tidak
terjadi perdarahan,mukosa mulut tidak
pucat
Ø
Status mental:penampilan dan tingkah laku klien
biasanya tidak mengalami perubahan.
Ø
Pemeriksaan saraf cranial:
# Saraf
I.Biasanya pada klien arthritis rheumatoid tidak ada kelainan dan fungsi
penciuman tidak ada kelainan.
# Saraf II.Tes
ketajaman penglihatan normal.
# Saraf
III,IV,dan VI.Biasanya tidak ada gangguan mengangkat kelopak mata,pupil isokor.
# Saraf V.Klien
arthritis rheumatoid umumnya tidak mengalami paralysis pada otot wajah dan
reflek kornea biasanya tidak ada kelainan.
# Saraf
VII.Persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah simetris.
# Saraf
VIII.Tidak ditemukan tuli konduktif tau tuli persepsi.
# Saraf
IXdanX.Kemampuan menelan baik.
# Saraf XI.Tidak
ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trpezius.
# Saraf XII.Lidah
simetris,tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi.Indra
pengecapan normal.
@ B4(Bladder).Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada
keluhan pada system perkemihan.
@ B5(Bowel).Umumnya klien arthritis rheumatoid tidak mengalami gangguan
eleminasi.Meski demikian perlu dikaji frekwensi,konsistensi,warna serta bau
feses.Frekwensi berkemih,kepekatan urine,warna,bau,jumlah urine juga harus
dikaji.Gangguan gastrointestinal yang sering adalah mual,nyeri lambung,yang
menyebabkan klien tidak nafsu makan,terutama klien yang menggunakan obat
reumatik dan NSAID.Peristaltik yng menurun menyebabkan klien jarang defekasi.
@ B6(Bone).
> Look :didapatkan adanya
pembengkakan yang tidak biasa, deformitas pada daerah sendi kecil
tangan,pergelangan kaki,dan sendi besar lutut,panggul,dan pergelangan
tangan.Adanya degenerasi serabut otot memungkinkan terjadinya pengecilan,atrofi
otot yang disebabkan oleh tidak digunakannya otot akibat inflamasi sendi.Sering
ditemukan nodul subcutan miltipel.
> Feel :nyeri tekan pada
sendi yang sakit.
> Move :ada gangguan mekanis dan fungsional pada sendi dengan
manifestasi nyeri bila menggerakkan nyeri sendi yang sakit.Klien sering
mengalami kelemahan fisik sehingga mengganggu aktivitas hidup sehari-hari.
C.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
@ Pemeriksaan radiologi.Pada tahap
awal,foto rontgen tidak menunjukkan kelainan yang mencolok.Pada tahap
lanjut,terlihat rarefaksi korteks sendi yang difus dan disertai trabekulasi
tulang,obliterasi ruang sendi yang memberi perubahan degeneratif berupa
densitas,iregularitas permukaan sendi,serta spurring marginal.Selanjutnya bila
terjadi destruksi tulang rawan,akan terlihat penyempitan ruang sendi dengan
erosi pada beberapa tempat.
D.PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Ditemukan peningkatan laju endap
darah,anemia normostik hipokrom,reaksi protein-C positif dan mukoprotein
meningkat,factor rheumatoid positif 80%(uji Rose-Waaler) dan factor antinuclear
positif 80%,tetapi kedua uji ini tidak spesifik.
@ DATA SUBYEKTIF
-mengeluh nyeri sendi
-mengeluh badan panas
-mengatakan kurang mengerti tentang
penyakitnya
@ DATA OBYEKTIF
-bengkak pada sendi
-menggigil
-suhu meningkat akibat peradangan
-kekuatan otot menurun
-kekakuan sendi
-terbatasnya gerakan sendi
-deformitas
-fenomena Raynaud
-nodul rheumatoid
-gejala ekstra
artikuler(neuropati,perikarditis,splenomegali,dan sindrom sjogren)
2.DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.Nyeri
b/d adanya reaksi peradangan
b.Kerusakan
mobilitas fisik b/d adanya kekakuan sendi,deformitas,penurunan kekuatan otot
c.Gangguan bodi
image b/d perubahan kemampuan untuk melakukan ADL(akibat dari
deformitas,kekakuan sendi,penurunan kekuatan otot.)
d.Defisit
perawatan diri b/d penurunan kekuatan,daya tahan,kekakuan sendi saat
beraktivitas
e.Kurang
pengetahuan b/d kurangnya informasi tentang penyakitnya,kesalahan interpretasi
informasi
f.Resiko cedera
b/d penurunan kekuatan otot
3.RENCANA KEPERAWATAN
Dengan munculnya beberapa diagnosa
keperawatan seperti diaras,maka dapat dibuat rencana tindakan pada diagnose
yang paling umum terjadi pada pasien arthritis rheumatoid.
|
No
|
DX
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
a
b
c
d
e
f
|
kaji status
nyeri,catat
lokasi&intensitas nyeri
-berikan
kasur keras,bantal
kecil.Tinggikan tempat tidur ssi kebutuhan
-beri posisi
nyaman saat
tidur&duduk dikursi
anjurkan px
untuk mandi air hangat
berikan
masase yg lembut
libatkan dlm aktivitas hiburan yg ssi untuk situasi
individu
beri obat
sblm aktivitas yg
direncanakan ssi petunjuk
-pantau
tngkat sakit pd sendi
-pertahankan
istirahat tirah baring/duduk
-ubah posisi
dgn sering dgn jmlh personel cukup
-gunakan
bantal kecil/tipis dibawah leher
-dorong px
m”pertahankan postur
tegak&duduk tinggi
berdiri,berjalan
-berikan
lingk.yg aman seperti p”gunaan alat bantu mobilitas kursi roda penyelamat
-konsul dgn
ahli terapi fisik
-dorong
p”ngungkapan mengenai mslh ttng proses penyakit
&harapan
masa depan
-diskusikan arti dari kehilangan/perubahan
pada px
-diskusikan
persepsi px mengenai bgmn org terdekat menerima keterbatasan
-akui&terima
perasaan berduka,b’musuhan,
ketergantungan
-bantu dgn kebutuhan pera watan yg
diperlukan
-berikan bantuan positif bila perlu
-rujuk pd konseling psikiatri
-beri obat ssi petunjuk spti: obat-obat antiansietas
-diskusikan
tingkat fungsi umum
-p’tahankan mobilitas, kontrol thdp nyeri
& program latihan
-kaji hambatan thdp partisipasi dlm
perawatan diri
-konsul dgn ahli terapi
okupasi
-atur konsul dgn lembaga lain,spti:pel. perawatan rumah,ahli nutrisi
-tinjau
proses penyakit,prognosis & harapan masa depan
-bantu dlm
m’rencanakan jadwal aktivitas terintegrasi
yg
realistis
-tekankan pntngnya melan
jutkan
managemen farmako terapuetik
-diskusikan
tanda & gejala kemajuan
penyakit
-beri dukungan psikologis agar px m’jalankan
apa yg
sudah
disepakati
-ciptakan
lingk.yg bebas dari bahaya (licin,peneranga ckup)
-beri dukungan ambulasi ssi kemampuan
-ajarkan pd px u/tidak naik tangga, &
mengangkat beban
berat
-bantu px melakukan aktivitas hidup
sehari-hari dgn hati-hati
|
membantu
dalam menentukan
kebutuhan
manajemen nyeri
-tjd pemeliharaan
kesejajaran tubuh
yg tepat.Peninggian tmpt tidur m”nurunkan tkanan pada
sendi yg terinflamasi
-tirah baring
diperlukan untuk membatasi nyeri sendi
-panas
m”ningkatkan relaksasi otot,menurunkan
rasa nyeri
-m”ningkatkan relaksasi otot
-m”ningkatkan
rasa percaya
diri&perasaan sehat
-m”ningkatkan
relaksasi,me ngurangi tegangan
otot,me mudahkan
ikut serta dalam
terapi
-tingkat latihan trgntung dri
tingkat rasa nyeri
-mencegah kelelahan,mem
pertahankan kekuatan
-m”hilangkan tek.pd jar.&
m”ningkatkan sirkulasi
-mencegah fleksi leher
-memaksimalkan fungsi
sendi,m”pertahankan
mobilitas
-menghindari cedera
akibat
kecelakaan /jatuh
-berguna dlm m”formulasikan prog.latihan yg
berda
sarkan
kebut.individual
-berikan kesempatan u/ m”identifikasi rasa
takut/kesalahan konsep&m”hadapinya scra langsung
-m”identifikasi
bgmn
penyakit m’pngaruhi per
sepsi diri&interaksi dgn
org lain akan m’nentukan kbthan trhdp
intervensi
-isyarat verbal/nonverbal org terdekat dpt
m’punyai pe ngaruh mayor pd bgmn px m’mandang dirinya sendiri
-perasaam
marah dan bermusuhan umum terjadi
-m’pertahankan
penampilan yg dpt m’ningkatkan citra
diri
-m’mungkinkan
px untuk
merasa senang thdp dirinya sendiri
-px mungkin m’butuhkan
dukungan slma berhdpan
dgn proses jangka
panjang/
ketidakmampuan
-mkn dbtuhkan saat munculnya depresi hebat
-dpt
melanjutkan aktivitas
umum dgn m’lakukan
adaptasi yg diperlukan
pd keterbatasan saat ini
-mendukung kemandirian
fisik/emosional
-m’nyiapkan u/meningkat
-berguna u/m’nentukan
alat bantu u/memenuhi
kebutuhan individual
-mkn m’butuhkan berbgai
bantuan tambahan untuk
persiapan situasi dirumah
-m’berikan
penget.dimana
px dpt membuat pilihan
b’dasarkan informasi
-m’berikan struktur&me
ngurani ansietas pd wkt m’nangani proses
penya
kit kronis
kompleks
-keuntungan dari terapi
obat-obatan
tergntung
pd ketepatan dosis
-m’bantu px&klrga dalam
penatalaksanaan prwtan
px arthritis rheumatoid
-m’ningkatkan kemauan
px&klrga ttg pntngnya
prwtan dirumah
-m’ciptakan
lingk.
aman&mengurangi
resiko tjd kecelakaa
-ambulasi tdk ssi kemam
puan dpt beresiko trjdi
cedera(jatuh)
-p’gerakan yg cepat me
nudahkan tjdnya frak
tur
-m’minimalkan resiko
trjdnya cedera
|
4.EVALUASI
Evaluasi yang dilakukan pada
diagnose keperawatan pasien arthritis rematoid adalah berdasarkan kriteria
evaluasi dari diagnose keperawatan tersebut.Adapun evaluasinya adalah sebagai
berikut:
a.nyeri berkurang
b.kerusakan
mobilisasi dapat diminimalisasi
c.gangguan bodi
image dapat diatasi
d.mampu melakukan
perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan
e.mengetahui
proses perjalanan penyakit,gejala,tanda,komplikasi pada penyakit arthritis
rheumatoid
f.resiko cedera
tidak terjadi
DAFTAR PUSTAKA
Muttaqin,
A.(2002), Buku Ajar Asuhan Keperawatan
Klien Gangguan Sistem Muskuloskletal, Jakarta
: EGC.
Carpenito,
L. J. (2004), Buku Saku Diagnosis
Keperawatan, Edisi 10, Jakarta
: EGC.
Doenges,
M. E. (2000), Rencana Asuhan Keperawatan
: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3,
Jakarta : EGC.
Smeltzer,
S. C. (2001), Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, Edisi 8, Jakarta
: EGC
No comments:
Post a Comment