Juniartha Semara Putra
Artritis Reumatoid
Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos,
yang berarti mukus; suatu cairan yang dianggap jahat, mengalir dari otak ke
sendi dan struktur lain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri. Beberapa
penelitian menunjukkan memang ada perubahan struktur mucine sendi
(mukopolisakarida, asam hialuronat) pada beberapa jenis penyakit reumatik,
sehingga istilah yang telah agak lama dipakai itu agaknya masih sesuai sampai
saat ini.
Setiap kondisi yang disertai nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik, termasuk penyakit jaringan ikat (penyakit kolagen). Sedangkan istilah artritis, umumnya dipakai bila sendi merupakan tempat utama penyakit reumatik.
Reumatologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit sendi, termasuk penyakit artritis, fibrositis, bursitis, neuralgia dan kondisi lainnya yang menimbulkan nyeri somatik dan kekakuan.
Hingga kini dikenal lebih dari 100 macam penyakit sendi yang seringkali memberikan gejala yang hampir sama. Oleh karena itu pendekatan diagnostik sangat diperlukan agar didapatkan diagnosis yang tepat, sehingga pasien akhirnya memperolah penatalaksanaan yang adekuat. Perlu diingat pula bahwa gangguan reumatik dapat merupakan manifestasi artikular berbagai penyakit dan sebaliknya beberapa penyakit reumatik mempunyai manifestasi ekstra-artikular pada berbagai organ. (1)
Artritis Reumatoid
Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos,
yang berarti mukus; suatu cairan yang dianggap jahat, mengalir dari otak ke
sendi dan struktur lain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri. Beberapa
penelitian menunjukkan memang ada perubahan struktur mucine sendi
(mukopolisakarida, asam hialuronat) pada beberapa jenis penyakit reumatik,
sehingga istilah yang telah agak lama dipakai itu agaknya masih sesuai sampai
saat ini. Setiap kondisi yang disertai nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik, termasuk penyakit jaringan ikat (penyakit kolagen). Sedangkan istilah artritis, umumnya dipakai bila sendi merupakan tempat utama penyakit reumatik.
Reumatologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit sendi, termasuk penyakit artritis, fibrositis, bursitis, neuralgia dan kondisi lainnya yang menimbulkan nyeri somatik dan kekakuan.
Hingga kini dikenal lebih dari 100 macam penyakit sendi yang seringkali memberikan gejala yang hampir sama. Oleh karena itu pendekatan diagnostik sangat diperlukan agar didapatkan diagnosis yang tepat, sehingga pasien akhirnya memperolah penatalaksanaan yang adekuat. Perlu diingat pula bahwa gangguan reumatik dapat merupakan manifestasi artikular berbagai penyakit dan sebaliknya beberapa penyakit reumatik mempunyai manifestasi ekstra-artikular pada berbagai organ. (1)
2.1. Definisi
Artritis Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi
sistemik kronik yang walaupun manifestasi utamanya adalah poliartritis yang
progesif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh.7
Terlibatnya sendi pada pasien artritis reumatoid terjadi setelah penyakit ini
berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progesifitasnya.3 Pada
umumnya selain gejala artikular, AR dapat pula menunjukkan gejala
konstitusional berupa kelemahan umum, cepat lelah atau gangguan organ non
artikular lainnya.7
Artritis Reumatoid ditandai dengan adanya peradangan dari
lapisan selaput sendi (sinovium) yang mana menyebabkan sakit, kekakuan, hangat,
bengkak dan merah. Peradangan sinovium dapat menyerang dan merusak tulang dan
kartilago. Sel penyebab radang melepaskan enzim yang dapat mencerna tulang dan
kartilago. Sehingga dapat terjadi kehilangan bentuk dan kelurusan pada sendi,
yang menghasilkan rasa sakit dan pengurangan kemampuan bergerak.2
Artritis adalah inflamasi dengan nyeri, panas, pembengkakan,
kekakuan dan kemerahan pada sendi. Akibat artritis, timbul inflamasi umum yang
dikenal sebagai artritis reumatoid yang merupakan penyakit autoimun.14
Manifestasi tersering penyakit ini adalah terserangnya sendi
yang umumnya menetap dan progresif. Mula-mula yang terserang adalah sendi kecil
tangan dan kaki. Seringkali keadaan ini mengakibatkan deformitas sendi dan
gangguan fungsi disertai rasa nyeri.16
2.2. Epidemiologi
Artritis Reumatoid merupakan suatu penyakit yang telah lama
dikenal dan tersebar luas di seluruh dunia serta melibatkan semua ras dan
kelompok etnik.
Prevalensi Artritis Reumatoid adalah sekitar 1 persen
populasi (berkisar antara 0,3 sampai 2,1 persen).15 Artritis
Reumatoid lebih sering dijumpai pada wanita, dengan perbandingan wanita dan pria
sebesar 3:1.7 Perbandingan ini mencapai 5:1 pada wanita dalam usia
subur.8
Artritis Reumatoid menyerang 2,1 juta orang Amerika, yang
kebanyakan wanita. Serangan pada umumnya terjadi di usia pertengahan, nampak
lebih sering pada orang lanjut usia. 1,5 juta wanita mempunyai artritis
reumatoid yang dibandingkan dengan 600.000 pria.2
2.3. Etiologi
Penyebab Artritis Reumatoid masih belum diketahui. Faktor
genetik dan beberapa faktor lingkungan telah lama diduga berperan dalam
timbulnya penyakit ini. Hal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antara
produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II, khususnya HLA-DR4
dengan AR seropositif. Pengemban HLA-DR4 memiliki resiko relatif 4:1
untuk menderita penyakit ini.8
Kecenderungan wanita untuk menderita AR dan sering
dijumpainya remisi pada wanita yang sedang hamil menimbulkan dugaan terdapatnya
faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang berpengaruh pada
penyakit ini. Walaupun demikian karena pemberian hormon estrogen eksternal
tidak pernah menghasilkan perbaikan sebagaimana yang diharapkan, sehingga kini
belum berhasil dipastikan bahwa faktor hormonal memang merupakan penyebab
penyakit ini.8
Sejak tahun 1930, infeksi telah diduga merupakan penyebab AR.
Dugaan faktor infeksi sebagai penyebab AR juga timbul karena umumnya onset
penyakit ini terjadi secara mendadak dan timbul dengan disertai oleh gambaran
inflamasi yang mencolok. Walaupun hingga kini belum berhasil dilakukan isolasi
suatu mikroorganisme dari jaringan sinovial, hal ini tidak menyingkirkan
kemungkinan bahwa terdapat suatu komponen peptidoglikan atau endotoksin
mikroorganisme yang dapat mencetuskan terjadinya AR. Agen infeksius yang diduga
merupakan penyebab AR antara lain adalah bakteri, mikoplasma atau virus.8,10
Heat shock protein (HSP) adalah sekelompok
protein berukuran sedang (60 sampai 90 kDa) yang dibentuk oleh sel seluruh
spesies sebagai respons terhadap stress. Walaupun telah diketahui terdapat
hubungan antara HSP dan sel T pada pasien AR, mekanisme ini belum diketahui
dengan jelas.10
2.4. Patogenesis
Dari penelitian mutakhir diketahui bahwa patogenesis AR
terjadi akibat rantai peristiwa imunologis sebagai berikut :
Suatu antigen penyebab AR yang berada pada membran sinovial,
akan diproses oleh antigen presenting cells (APC) yang terdiri dari
berbagai jenis sel seperti sel sinoviosit A, sel dendritik atau makrofag yang
semuanya mengekspresi determinan HLA-DR pada membran selnya. Antigen yang telah
diproses akan dikenali dan diikat oleh sel CD4+ bersama dengan
determinan HLA-DR yang terdapat pada permukaan membran APC tersebut membentuk
suatu kompleks trimolekular. Kompleks trimolekular ini dengan bantuan
interleukin-1 (IL-1) yang dibebaskan oleh monosit atau makrofag selanjutnya
akan menyebabkan terjadinya aktivasi sel CD4+.
Pada tahap selanjutnya kompleks antigen trimolekular tersebut
akan mengekspresi reseptor interleukin-2 (IL-2) Pada permukaan CD4+.
IL-2 yang diekskresi oleh sel CD4+ akan mengikatkan diri pada
reseptor spesifik pada permukaannya sendiri dan akan menyebabkan terjadinya
mitosis dan proliferasi sel tersebut. Proliferasi sel CD4+ ini akan
berlangsung terus selama antigen tetap berada dalam lingkunan tersebut. Selain
IL-2, CD4+ yang telah teraktivasi juga mensekresi berbagai limfokin
lain seperti gamma-interferon, tumor necrosis factor b (TNF-b),
interleukin-3 (IL-3), interleukin-4 (IL-4), granulocyte-macrophage colony
stimulating factor (GM-CSF) serta beberapa mediator lain yang bekerja
merangsang makrofag untuk meningkatkan aktivitas fagositosisnya dan merangsang
proliferasi dan aktivasi sel B untuk memproduksi antibodi. Produksi antibodi
oleh sel B ini dibantu oleh IL-1, IL-2, dan IL-4.
Setelah berikatan dengan antigen yang sesuai, antibodi yang
dihasilkan akan membentuk kompleks imun yang akan berdifusi secara bebas ke
dalam ruang sendi. Pengendapan kompleks imun akan mengaktivasi sistem komplemen
yang akan membebaskan komponen-komplemen C5a. Komponen-komplemen C5a
merupakan faktor kemotaktik yang selain meningkatkan permeabilitas
vaskular juga dapat menarik lebih banyak sel polimorfonuklear (PMN) dan monosit
ke arah lokasi tersebut. Pemeriksaan histopatologis membran sinovial
menunjukkan bahwa lesi yang paling dini dijumpai pada AR adalah peningkatan
permeabilitas mikrovaskular membran sinovial, infiltrasi sel PMN dan
pengendapan fibrin pada membran sinovial.
Fagositosis kompleks imun oleh sel radang akan disertai oleh
pembentukan dan pembebasan radikal oksigen bebas, leukotrien, prostaglandin dan
protease neutral (collagenase dan stromelysin) yang akan
menyebabkan erosi rawan sendi dan tulang.8,10 Radikal oksigen bebas
dapat menyebabkan terjadinya depolimerisasi hialuronat sehingga mengakibatkan
terjadinya penurunan viskositas cairan sendi. Selain itu radikal oksigen bebas
juga merusak kolagen dan proteoglikan rawan sendi.
Prostaglandin E2 (PGE2) memiliki efek
vasodilator yang kuat dan dapat merangsang terjadinya resorpsi tulang
osteoklastik dengan bantuan IL-1 dan TNF-b.
Rantai peristiwa imunologis ini sebenarnya akan terhenti bila
antigen penyebab dapat dihilangkan dari lingkungan tersebut. Akan tetapi pada
AR, antigen atau komponen antigen umumnya akan menetap pada struktur
persendian, sehingga proses destruksi sendi akan berlangsung terus.10
Tidak terhentinya destruksi persendian pada AR kemungkinan juga disebabkan oleh
terdapatnya faktor reumatoid. Faktor reumatoid adalah suatu autoantibodi
terhadap epitop fraksi Fc IgG yang dijumpai pada 70-90 % pasien AR. Faktor
reumatoid akan berikatan dengan komplemen atau mengalami agregasi sendiri,
sehingga proses peradangan akan berlanjut terus. Pengendapan kompleks imun juga
menyebabkan terjadinya degranulasi mast cell yang menyebabkan terjadinya
pembebasan histamin dan berbagai enzim proteolitik serta aktivasi jalur asam
arakidonat.
Masuknya sel radang ke dalam membran sinovial akibat
pengendapan kompleks imun menyebabkan terbentuknya pannus yang merupakan elemen
yang paling destruktif dalam patogenesis AR. Pannus merupakan jaringan
granulasi yang terdiri dari sel fibroblas yang berproliferasi, mikrovaskular
dan berbagai jenis sel radang. Secara histopatologis pada daerah perbatasan
rawan sendi dan pannus terdapatnya sel mononukleus, umumnya banyak dijumpai
kerusakan jaringan kolagen dan proteoglikan.7
2.5. Gambaran Klinis
Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada
penderita artritis reumatoid. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus
pada saat yang bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang
sangat bervariasi.
1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia,
berat badan menurun dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya.
2. Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer,
termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi
interfalangs distal. Hampir semua sendi diartrodial dapat terserang.
3. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam: dapat
bersifat generalisata tatapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini
berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis, yang biasanya hanya
berlangsung selama beberapa menit dan selalu kurang dari 1 jam.
Gambar 1. Rheumatoid Arthritis Versus Osteoarthritis. 4
4. Artritis erosif merupakan ciri khas penyakit ini pada
gambaran radiologik. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tepi
tulang dan ini dapat dilihat pada radiogram.
5. Deformitas: kerusakan dari struktur-struktur penunjang
sendi dengan perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari,
subluksasi sendi metakarpofalangeal, deformitas boutonniere dan leher
angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. Pada
kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metatarsal yang timbul sekunder dari
subluksasi metatarsal. Sendi-sendi besar juga dapat terserang dan mengalami
pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerak ekstensi.
6. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang
ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita arthritis rheumatoid.
Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi
siku ) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan; walaupun demikian
nodula-nodula ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya
nodula-nodula ini biasanya merupakan suatu petunjuk suatu penyakit yang aktif
dan lebih berat.
7. Manifestasi ekstra-artikular: artritis reumatoid juga
dapat menyerang organ-organ lain di luar sendi. Jantung (perikarditis),
paru-paru (pleuritis), mata, dan pembuluh darah dapat rusak.13
Tabel 2. Kriteria American Rheumatism Association untuk
Artritis Reumatoid, Revisi 1987. 5
|
Kriteria
|
Definisi
|
|
1. Kaku pagi hari
|
Kekakuan pada pagi hari pada persendian dan
disekitarnya, sekurangnya selama 1 jam sebelum perbaikan maksimal
|
|
2. Artritis pada 3 daerah
|
Pembengkakan jaringan lunak atau persendian atau
lebih efusi (bukan pertumbuhan tulang) pada sekurang-kurangnya 3 sendi secara
bersamaan yang diobservasi oleh seorang dokter. Dalam kriteria ini terdapat
14 persendian yang memenuhi kriteria yaitu PIP, MCP, pergelangan tangan, siku
pergelangan kaki dan MTP kiri dan kanan.
|
|
3. Artritis
pada persendian tangan
|
Sekurang-kurangnya terjadi pembengkakan satu
persendian tangan seperti yang tertera diatas.
|
|
4. Artritis simetris
|
Keterlibatan sendi yang sama (seperti yang
tertera pada kriteria 2 pada kedua belah sisi, keterlibatan PIP, MCP atau MTP
bilateral dapat diterima walaupun tidak mutlak bersifat simetris.
|
|
5. Nodul rheumatoid
|
Nodul subkutan pada penonjolan tulang atau
permukaan ekstensor atau daerah juksta-artrikular yang diobservasi oleh
seorang dokter.
|
|
6. Faktor rheumatoid serum
|
Terdapatnya titer abnormal faktor reumatoid
serum yang diperiksa dengan cara yang memberikan hasil positif kurang dari 5%
kelompok kontrol yang diperiksa.
|
|
7. Perubahan gambaran
|
Perubahan gambaran radiologis yang radiologis
khas bagi arthritis reumotoid pada periksaan sinar X tangan posteroanterior
atau pergelangan tangan yang harus menunjukkan adanya erosi atau
dekalsifikasi tulang yang berlokalisasi pada sendi atau daerah yang
berdekatan dengan sendi (perubahan akibat osteoartritis saja tidak memenuhi
persyaratan).
|
|
Untuk keperluan klasifikasi, seseorang dikatakan
menderita artritis reumatoid jika ia sekurang-kurangnya memenuhi 4 dari 7
kriteria di atas. Kriteria 1 sampai 4 harus terdapat minimal selama 6 minggu.
Pasien dengan dua diagnosis tidak dieksklusikan. Pembagian diagnosis sebagai
artritis reumatoid klasik, definit, probable atau possible tidak perlu
dibuat.
|
|
* PIP : Proximal Interphalangeal, MCP : Metacarpophalangeal,
MTP: Metatarsophalangeal
2.1. Manivestasi Klinis Artritis Reumatoid
Walaupun gejala AR dapat timbul berupa serangan poliartritis
akut yang berkembang cepat dalam beberapa hari, pada umumnya gejala penyakit
berkembang secara perlahan dalam masa beberapa minggu. Dalam keadaan dini, AR
dapat bermanifestasi sebagai palindromic rheumatism, yaitu timbulnya
gejala monoartritis yang hilang timbul yang berlangsung antara 3 sampai 5 hari
dan diselingi dengan masa remisi sempurna sebelum bermanifestasi sebagai AR
yang khas. Dalam keadaan ini AR juga dapat bermanifestasi sebagai paurciarticular
rheumatism, yaitu gejala poliartritis yang melibatkan 4 persendian atau
kurang. Kedua gambaran klinis seperti ini seringkali menyebabkan kesukaran
dalam menegakkan diagnosis AR dalam masa dini.1
2.2. Manivestasi Neurologis
Manivestasi neurologis sering terjadi pada penderita artritis
reumatoid kronis dengan faktor reumatoid positif. Sering terjadi neuropati.
Neuropati kompresi atau jepitan terjadi akibat pembengkakan jaringan ikat yang
menekan saraf tepi. Paling sering terjadi kompresi saraf medianus pada
pergelangan tangan yang dikenal sebagai sindroma terowongan karpal (CTS); carpal
tunnel syndrome). Neuropati sensoris bagian distal dengan disestesia atau
rasa terbakar pada tangan atau kaki yang terjadi kadang sukar dibedakan dengan
gejala artritisnya. Jarang terjadi neuropati sensorimotor, tetapi bila terjadi
bersifat progresif dan dapat menyebabkan suatu penurunan kemampuan penderita
dalam melakukan aktivitas. Mielopati dapat terjadi pada penderita AR karena
sering terlibatnya vertebra servikalis dan menimbulkan penyempitan kanalis
spinalis pada fleksi leher setelah terjadi subluksasi atlantoaksial. Gejala
akibat gangguan sirkulasi posterior berupa vertigo dan kelemahan akibat
kompresi atau trombosis arteria vertebralis. Penderita artritis reumatoid
lanjut harus mengenakan bidai leher bila mengendarai mobil atau motor dan harus
dilakukan foto leher posisi fleksi sebelum menjalani anestesi umum. Artritis
reumatoid juga dapat mengakibatkan miopati.11
2.3. Manivestasi Artikular
Manifestasi artikular ini dapat dibagi menjadi 2 kategori :
1. Gejala inflamasi akibat aktivitas sinovitis yang bersifat
reversibel.
2. Gejala akibat kerusakan struktur persendian yang bersifat
ireversibel.
Adalah sangat penting untuk membedakan kedua hal ini karena
penatalaksanaan kedua kelainan tersebut sangat berbeda. Sinovitis merupakan
kelainan yang umumnya bersifat reversibel dan dapat diatasi dengan pengobatan
medikamentosa atau pengobatan non-surgikal lainnya. Pada fihak lain kerusakan
struktur persendian akibat kerusakan rawan sendi atau erosi tulang
periartikular merupakan proses yang tidak dapat diperbaiki lagi dan memerlukan
modifikasi mekanik atau pembedahan rekonstruktif.
Gejala klinis yang berhubungan dengan aktivitas sinovitis
adalah kaku pagi hari. Kekakuan pada pagi hari merupakan gejala yang selalu
dijumpai pada AR aktif. Berbeda dengan rasa kaku yang dapat dialami oleh pasien
osteoartritis atau kadang-kadang oleh orang normal, kaku pagi hari pada AR
berlangsung lebih lama, yang pada umumnya lebih dari 1 jam. Lamanya kaku pagi
hari pada AR agaknya berhubungan dengan lamanya imobilisasi pada saat pasien
sedang tidur serta beratnya inflamasi. Gejala kaku pagi hari akan menghilang
jika remisi dapat tercapai. Faktor lain penyebab kaku pagi hari adalah
inflamasi akibat sinovitis. Inflamasi akan menyebabkan terjadinya imobilisasi
persendian yang jika berlangsung lama akan mengurang pergerakan sendi baik
secara aktif maupun secara pasif.1
Otot dan tendon yang berdekatan dengan persendian yang
mengalami peradangan cenderung untuk mengalami spasme dan pemendekan. Fenomen
ini terutama jelas terlihat pada otot intrinsik tangan yang berjalan sepanjang
persendian metacarpophalangeal, (MCP) dan otot peroneus anterior yang berjalan
sepanjang persendian talonavikularis pada arkus pedis.
Deformitas persendian pada AR dapat terjadi akibat beberapa
mekanisme yang berhubungan dengan terjadinya sinovitis dan pembentukan pannus.
Sinovitis akan menyebabkan kerusakan rawan sendi dan erosi tulang periartikular
sehingga menyebabkan terbentuknya permukaan sendi yang tidak rata. Jika
kerusakan rawan sendi terjadi pada daerah yang luas dan imobilisasi berlangsung
lama, akan terjadi fusi tulang-tulang yang membentuk persendian. Lebih jauh
pannus yang menginvasi jaringan kolagen serta proteoglikan rawan sendi dan
tulang dapat menghancurkan struktur persendian sehingga terjadi ankilosis.
Ligamen yang dalam keadaan normal berfungsi untuk
mempertahankan kedudukan persendian yang stabil dapat pula menjadi lemah akibat
sinovitis yang menetap atau pembentukan pannus yang memiliki kemampuan
melarutkan kolagen tendon, ligamen atau rawan sendi. Gangguan stabilitas dapat
jelas terlihat pada subluksasio persendian MCP akibat terjadinya perubahan arah
gaya tarik tendon sepanjang aksis rotasi sehingga menyebabkan terbentuknya
deviasi ulnar yang khas dan AR.1
Walaupun peran sinovitis dalam menyebabkan deformitas
persendian berlaku bagi semua persendian, terdapat beberapa aspek khusus yang
berhubungan dengan sendi tertentu.
Vertebra Servikalis
Walaupun AR jarang melibatkan segmen vertebralis lainnya,
vertebra servikalis merupakan segmen yang sering terlibat pada AR. Proses
inflamasi ini melibatkan persendian diartrodial yang tidak tampak atau teraba
oleh pemeriksaan. Gejala dini AR pada Vertebra servikalis umumnya
bermanifestasi sebagai kekakuan pada seluruh segmen leher disertai dengan
berkurangnya lingkup gerak sendi secara menyeluruh.1 Tenosinovitis
ligamen transversum C1 yang mempertahankan kedudukan prosesus
odontoid C2 dapat menyebabkan timbulnya gangguan stabilitas C1-
C2. Mielopati dapat timbul akibat terjadinya erosi prosesus odontoin
yang menyebabkan pengenduran dan ruptura ligamen sehingga menimbulkan penekanan
pada medulla spinalis. Gangguan stabilitas sendi akibat peradangan dan
kerusakan pada permukaan sendi apofiseal dan pengenduran ligamen juga dapat
menyebabkan terjadinya subluksasio yang sering dijumpai pada C4-C5
atau C5 -C6.
Gelang Bahu
Peradangan pada gelang bahu akan mengurangi lingkup gerak
sendi gelang bahu. Karena dalam aktivitas sehari-hari gerakan bahu tidak
memerlukan lingkup gerak yang luas, umumnya pada keadaan dini pasien tidak
merasa terganggu dengan keterbatasan tersebu. Walaupun demikian, tanpa latihan
pencegahan akan mudah terjadi kekakuan gelang bahu yang berat yang disebut
sebagai frozen shoulder syndrome.
Siku
Karena terletak superfisial, sinovitis artikulasio kubiti
dapat dengan mudah teraba oleh pemeriksa. Sinovitis dapat menimbulkan penekanan
pada nervus ulnaris sehingga menimbulkan gejala neuropati tekanan. Gejala ini
bermanifestasi sebagai parestesia jari 4 dan 5 akan kelemahan otot fleksor jari
5
Gambar 2. Arthritis, Rheumatoid. Rheumatoid nodules at the
elbow.
Photograph by David Effron MD, FACEP.17
Tangan
Berlainan dengan persendian distal interphalangeal (DIP) yang
relatif jarang dijumpai, keterlibatan persendian pergelangan tangan, MCP dan
PIP hampir selalu dijumpai pada AR. Gambaran swan neck deformities
akibat fleksi kontraktur MCP, heperekstensi PIP dan fleksi DIP serta boutonniere
akibat fleksi PIP dan hiperekstensi DIP dapat terjadi akibat kontraktur otot
serta tendon fleksor dan interoseus merupakan deformitas patognomonik yang
banyak dijumpai pada AR
Selain gejala yang berhubungan dengan sinovitis, pada AR juga
dapat dijumpai nyeri atau disfungsi persendian akibat penekana nervus medianus
yang terperangkap dalam rongga karpalis yang mengalami sinovitis sehingga
menyebabkan gejala carpal tunnel syndrome. Walaupun jarang, nervus
ulnaris yang berjalan dalam kanal Guyon dapat pula mengalami penekanan dengan
mekanisme yang sama.
AR dapat pula menyebabkan terjadinya tenosinovitis akibat
pembentukan nodul reumatoid sepanjang sarung tendon yang dapat menghambat
gerakan tendon dalam sarungnya. Tenosinovitis pada AR dapat menyebabkan
terjadinya erosi tendon dan mengakibatkan terjadinya ruptur tendon yang
terlibat.
Gambar 3. Arthritis, Rheumatoid. Rheumatoid changes in the
hand.
Photograph by David Effron MD, FACEP. 17
Panggul
Karena sendi panggul terletak jauh di dalam pelvis, kelainan
sendi panggul akibat AR umumnya sulit dideteksi dalam keadaan dini. Pada
keadaan dini keterlibatan sendi panggul mungkin hanya dapat terlihat sebagai
keterbatasan gerak yang tidak jelas atau gangguan ringan pada kegiatan tertentu
seperti saat mengenakan sepatu. Walaupun demikian, jika destruksi rawan sendi
telah terjadi, gejala gangguan sendi panggul akan berkembang lebih cepat dibandingkan
gangguan pada persendian lainnya.
Lutut
Penebalan sinovial dan efusi lutut umumnya mudah dideteksi
pada pemeriksaan. Herniasi kapsul sendi kearah posterior dapat menyebabkan
terbentuknya kista Baker.
Kaki dan Pergelangan Kaki
Keterlibatan persendian MTP, talonavikularis dan pergelangan
kaki merupakan gambaran yang khas AR. Karena persendian kaki dan pergelangan
kaki merupakan struktur yang menyangga berat badan, keterlibatan ini akan
menimbulkan disfungsi dan rasa nyeri yang lebih berat dibandingkan dengan
keterlibatan ekstremitas atas. Peradangan pada sendi talonavikularis akan
menyebabkan spasme otot yang berdekatan sehingga menimbulkan deformitas berupa
pronasio dan eversio kaki yang khas pada AR. Walaupun jarang, nervue tibialis
posterior dapat pula mengalami penekanan akibat sinovitis pada rongga tarsalis
(tarsal tunnel) yang dapat menimbulkan gejala parestesia pada telapak kaki.
2.4. Komplikasi
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah
gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat
antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit (disease
modifying antirheumatoid drugs, DMARD) yang menjadi faktor penyebab
morbiditas dan mortalitas utama pada artritis reumatoid.
Komplikasi saraf yang terjadi tidak memberikan gambaran
jelas, sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikular dan lesi
neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan
vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.
2.5. Pemeriksaan Penunjang
Tidak banyak berperan dalam diagnosis artritis reumatoid,
namun dapat menyokong bila terdapat keraguan atau untuk melihat prognosis
pasien. Pada pemeriksaan laboraturium terdapat:
1. Tes faktor reuma biasanya positif pada lebih dari 75%
pasien artritis reumatoid terutama bila masih aktif. Sisanya dapat dijumpai
pada pasien lepra, tuberkulosis paru, sirosis hepatis, hepatitis infeksiosa,
lues, endokarditis bakterialis, penyakit kolagen, dan sarkoidosis.
2. Protein C-reaktif biasanya positif.
3. LED meningkat.
4. Leukosit normal atau meningkat sedikit.
5. Anemia normositik hipokrom akibat adanya inflamasi yang
kronik.
6. Trombosit meningkat.
7. Kadar albumin serum turun dan globulin naik.
Pada periksaan rontgen, semua sendi dapat terkena, tapi yang
tersering adalah sendi metatarsofalang dan biasanya simetris. Sendi sakroiliaka
juga sering terkena. Pada awalnya terjadi pembengkakan jaringan lunak dan
demineralisasi juksta artikular. Kemudian terjadi penyempitan sendi dan erosi.
2.6. Penatalaksanaan
Setelah diagnosis AR dapat ditegakkan, pendekatan pertama
yang harus dilakukan adalah segera berusaha untuk membina hubungan yang baik
antara pasien dengan keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang
merawatnya. Tanpa hubungan yang baik ini agaknya akan sukar untuk dapat
memelihara ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam suatu jangka waktu yang
cukup lama.6
1. Pendidikan pada pasien mengenai penyakitnya dan
penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik dan
terjamin ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam jangka waktu yang lama.
2. OAINS diberikan sejak dini untuk mengatasi nyeri sendi
akibat inflamasi yang sering dijumpai. OAINS yang dapat diberikan:
a. Aspirin
Pasien dibawah 50 tahun dapat mulai dengan dosis 3-4 x 1
g/hari, kemudian dinaikkan 0,3-0,6 g per minggu sampai terjadi perbaikan atau
gejala toksik. Dosis terapi 20-30 mg/dl.
b. Ibuprofen, naproksen, piroksikam, diklofenak, dan
sebagainya.
3. DMARD digunakan untuk melindungi rawan sendi dan tulang
dari proses destruksi akibat artritis reumatoid. Mula khasiatnya baru terlihat
setelah 3-12 bulan kemudian. Setelah 2-5 tahun, maka efektivitasnya dalam
menekan proses reumatoid akan berkurang. Keputusan penggunaannya bergantung
pada pertimbangan risiko manfaat oleh dokter. Umumnya segera diberikan setelah
diagnosis artritis reumatoid ditegakkan, atau bila respon OAINS tidak baik,
meski masih dalam status tersangka.
Jenis-jenis yang digunakan adalah:
a. Klorokuin, paling banyak digunakan karena harganya
terjangkau, namun efektivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang lain.
Dosis anjuran klorokuin fosfat 250 mg/hari hidrosiklorokuin 400 mg/hari. Efek
samping bergantung pada dosis harian, berupa penurunan ketajaman penglihatan,
dermatitis makulopapular, nausea, diare, dan anemia hemolitik.
b. Sulfasalazin dalam bentuk tablet bersalut enteric
digunakan dalam dosis 1 x 500 mg/hari, ditingkatkan 500 mg per minggu, sampai
mencapai dosis 4 x 500 mg. Setelah remisi tercapai, dosis dapat diturunkan
hingga 1 g/hari untuk dipakai dalam jangka panjang sampai tercapai remisi
sempurna. Jika dalam waktu 3 bulan tidak terlihat khasiatnya, obat ini
dihentikan dan diganti dengan yang lain, atau dikombinasi. Efek sampingnya
nausea, muntah, dan dyspepsia.
c. D-penisilamin, kurang disukai karena bekerja sangat
lambat. Digunakan dalam dosis 250-300 mg/hari, kemudian dosis ditingkatkan
setiap 2-4 minggu sebesar 250-300 mg/hari untuk mencapai dosis total 4x 250-300
mg/hari. Efek samping antara lain ruam kulit urtikaria atau mobiliformis,
stomatitis, dan pemfigus.
d. Garam emas adalah gold standard bagi DMARD.
Khasiatnya tidak diragukan lagi meski sering timbul efek samping. Auro sodium
tiomalat (AST) diberikan intramuskular, dimulai dengan dosis percobaan pertama
sebesar 10 mg, seminggu kemudian disusul dosis kedua sebesar 20 mg. Seminggu
kemudian diberikan dosis penuh 50 mg/minggu selama 20 minggu. Dapat dilanjutkan
dengan dosis tambahan sebesar 50 mg tiap 2 minggu sampai 3 bulan. Jika
diperlukan, dapat diberikan dosis 50 mg setiap 3 minggu sampai keadaan remisi
tercapai. Efek samping berupa pruritis, stomatitis, proteinuria,
trombositopenia, dan aplasia sumsum tulang. Jenis yang lain adalah auranofin
yang diberikan dalam dosis 2 x 3 mg. Efek samping lebih jarang dijumpai, pada
awal sering ditemukan diare yang dapat diatasi dengan penurunan dosis.
e. Obat imunosupresif atau imunoregulator.
Metotreksat sangat mudah digunakan dan waktu mula kerjanya
relatif pendek dibandingkan dengan yang lain. Dosis dimulai 5-7,5 mg setiap
minggu. Bila dalam 4 bulan tidak menunjukkan perbaikan, dosis harus
ditingkatkan. Dosis jarang melebihi 20 mg/minggu. Efek samping jarang
ditemukan. Penggunaan siklosporin untuk artritis reumatoid masih dalam
penelitian.
f. Kortikosteroid hanya dipakai untuk pengobatan artritis
reumatoid dengan komplikasi berat dan mengancam jiwa, seperti vaskulitis,
karena obat ini memiliki efek samping yang sangat berat. Dalam dosis rendah
(seperti prednison 5-7,5 mg satu kali sehari) sangat bermanfaat sebagai bridging
therapy dalam mengatasi sinovitis sebelum DMARD mulai bekerja, yang
kemudian dihentikan secara bertahap. Dapat diberikan suntikan kortikosteroid
intraartikular jika terdapat peradangan yang berat. Sebelumnya, infeksi harus
disingkirkan terlebih dahulu.3
4. Riwayat Penyakit alamiah
Riwayat penyakit alamiah AR sangat bervariasi. Pada umumnya
25% pasien akan mengalami manifestasi penyakit yang bersifat monosiklik (hanya
mengalami satu episode AR dan selanjutnya akan mengalami remisi sempurna). Pada
pihak lain sebagian besar pasien akan menderita penyakit ini sepanjang hidupnya
dengan hanya diselingi oleh beberapa masa remisi yang singkat (jenis
polisiklik). Sebagian kecil lainnya akan menderita AR yang progresif yang
disertai dengan penurunan kapasitas fungsional yang menetap pada setiap
eksaserbasi.12
Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa dengan pengobatan
yang digunakan saat ini, sebagian besar pasien AR umumnya akan dapat mencapai
remisi dan dapat mempertahankannya dengan baik pada 5 atau 10 tahun pertamanya.
Setelah kurun waktu tersebut, umumnya pasien akan mulai merasakan bahwa remisi
mulai sukar dipertahankan dengan pengobatan yang biasa digunakan selama itu.
Hal ini mungkin disebabkan karena pasien sukar mempertahankan ketaatannya untuk
terus berobat dalam jangka waktu yang lama, timbulnya efek samping jangka
panjang kortikosteroid. Khasiat DMARD yang menurun dengan berjalannya waktu
atau karena timbulnya penyakit lain yang merupakan komplikasi AR atau
pengobatannya. Hal ini masih merupakan persoalan yang banyak diteliti saat ini,
karena saat ini belum berhasil dijumpai obat yang bersifat sebagai disease
controlling antirheumatic therapy (DC-ART).9
5. Rehabilitasi pasien AR
Rehabilitasi merupakan tindakan untuk mengembalikan tingkat
kemampuan pasien AR dengan cara:1
· Mengurangi rasa nyeri
· Mencegah terjadinya kekakuan dan keterbatasan gerak sendi
· Mencegah terjadinya atrofi dan kelemahan otot
· Mencegah terjadinya deformitas
· Meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri
· Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung kepada
orang lain.
Rehabilitasi dilaksanakan dengan berbagai cara antara lain
dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat, latihan serta dengan menggunakan
modalitas terapi fisis seperti pemanasan, pendinginan, peningkatan ambang rasa
nyeri dengan arus listrik. Manfaat terapi fisis dalam pengobatan AR telah
ternyata terbukti dan saat ini merupakan salah satu bagian yang tidak
terpisahkan dalam penatalaksanaan AR.7
6. Pembedahan
Jika berbagai cara pengobatan telah dilakukan dan tidak
berhasil serta terdapat alasan yang cukup kuat, dapat dilakukan pengobatan
pembedahan. Jenis pengobatan ini pada pasien AR umumnya bersifat ortopedik,
misalnya sinovektoni, artrodesis, total hip replacement, memperbaiki
deviasi ulnar, dan sebagainya.
2.7. Artritis Reumatoid Juvenilis
Anak-anak dapat terkena AR seperti orang dewasa. Di Amerika
Serikat 13,9/ 100.000. Terdapat tiga subtipe AR juvenilis bila dipandang dari
awitan gejalanya.
Awitan sistemik (penyakit still) mengenai sekitar 20% dari
semua kasus. Anak laki-laki dan perempuan terserang dalam jumlah yang
sebanding. Bentuk ini dapat terjadi pada setiap usia. Sesuai dengan namanya
penyakit ini melibatkan berbagai sistem organ, namun disamping itu juga
mengakibatklan poliartritis klinik. Subtipe ini memiliki prognosis terburuk
dari antara ketiga tipe dan dapat menyebabkan keterlambatan dalam pertumbuhan.
Awitan poliartikular bertanggung jawab atas sekitar 40% dari
semua kasus. Anak perempuan diserang dengan rasio 2:1 bila dibandingkan dengan
anak laki-laki, dan bentuk ini juga dapat terjadi pada semua umur. Lima atau
lebih sendi terserang pada saat yang bersamaan tetapi biasanya hanya
mengkibatkan kelainan ekstra artikular yang tidak berat. Bentuk ini memiliki
prognosis yang lebih baik daripada awitan sistemik, tetapi dapat juga menyebabkan
keterlambatan pertumbuhan.
Awitan pausiartikular bertanggung jawab atas kira-kira 40
dari semua kasus. Anak perempuan yang diserang dengan rasio 6:1 bila
dibandingkan dengan laki-laki. Bentuk ini biasanya terjadi sebelum usia 6
tahun. Tidak lebih dari 4 sendi akan diserang, dan biasanya tidak ada atau
jarang terjadi kelainan ekstra-artikular. Bentuk ini memiliki prognosis yang
paling baik dari ketiga bentuk.
Penatalaksanaan artritis reumatoid juvenilis serupa dengan
penatalaksanaan penyakit ini pada orang dewasa, tetapi ada beberapa perbedaan
penting. Beberapa obat yang dipakai untuk orang dewasa tidak boleh diberikan
pada anak-anak. Kortikosteroid sistemik dapat menyebabkan keterlambatan
pertumbuhan, osteoporosis dan katarik. Beberapa obat imunosupresif dapat
menekan fungsi sumsum tulang, sterilitas, dan keganasan pada anak-anak.13
Kesimpulan
1. Artritis Reumatoid merupakan suatu penyakit autoimun
sistemik menahun yang proses patologi utamanya terjadi di cairan sinovial.
2. Penderita Artritis Reumatoid seringkali datang dengan
keluhan artritis yang nyata dan tanda-tanda keradangan sistemik. Baisanya
gejala timbul perlahan-lahan seperti lelah, demam, hilangnya nafsu makan,
turunnya berat badan, nyeri, dan kaku sendi.
3. Meskipun penderita artritis reumatoid jarang yang sampai
menimbulkan kematian, namun apabila tidak segera ditangani dapat menimbulkan
gejala deformitas/cacat yang menetap. Selain itu karena penyakit ini bersifat
kronis dan sering kambuh, maka penderita akan mengalami penurunan produktivitas
pekerjaan karena gejala dan keluhan yang timbul menyebabkan gangguan aktivitas
fisik, psikologis, dan kualitas hidup menderita.
4. Meskipun prognose untuk kehidupan penderita tidak
membahayakan, akan tetapi kesembuhan penyakit sukar tercapai.
5. Tujuan pengobatan adalah menghasilkan dan mempertahankan
remisi atau sedapat mungkin berusaha menekan aktivitas penyakit tersebut.
Tujuan utama dari program terapi adalah meringankan rasa nyeri dan peradangan,
mempertahankan fungsi sendi dan mencegah dan/atau memeperbaiki deformaitas.
DAFTAR PUSTAKA
- Anderson RJ., 1993, Rheumatoid Arthritis. Clinical features and laboratory. Dalam : Schumacher Jr. HR, Klippel JH. Koopman WJ, eds. Primer on the Rheumatic Diseases. The Arthritis Foundation, Atlanta: 90-95.
- Anonim, 2004, Arthritis, http://www.arthritis.org.
- Anonim, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Ed.III, hal. 536-539. Jakarta: Media Aeculapius.
- Anonim, 2004, Rheumatoid Arthritis, http://mayoclinic.com.
- Arnett FC, Edworthy SM, Bloch DA, et al., 1988, The American Rheumatism Association 1987, Revised Criteria for the Classification of Rheumatoid of Rheumatoid Arthritis. Arthritis Rheum; 31 (3):315-24.
- Daud R., 1994, Pengobatan Artritis Reumatoid. Bul Reum Ind; 1 (3):1-6.
- Daud. R. dan Adnan H.M., 1996, Artritis Reumatoid Dalam: Noer S. (Editor) Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid I, ed. III. Hal. 62-70. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
- Dessureault M, Carette S.,1989, Etiology and Pathogenesis of Rheumatoid Arthritis. Triangle; 28: 5-14.
- Edmonds JP, Scoot DL, Furst DE, et al., 1993, Antirheumatic drugs: a proposed new classification. Editorial. Arthritis Rheum; 36 (3): 336-39.
- Harris ED Jr., 1993, Etiology and Pathogenesis of Rheumatoid Arthritis. Dalam: Kelley WN, Harris ED, Ruddy S, Sledge CB. Eds. Textbook of Rheumatology. 4th Ed. W.B. Saunders Co., Philadelpia; 833-873.
- Howard L. Weiner, Lawrence P. Levitt, 2001, Buku Saku Neurologi, Edisi V, hal. 232, Jakarta: EGC.
- Kraag GR., 1989, Clinical Aspects in Rheumatoid Arthritis. Triangle; 29: 15-24.
- Michael A. Carter, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku 2, Edisi IV, hal. 1223-1229, Jakarta: EGC.
- Nasution, Artritis Reumatoid, 1996, Aspek Genetik Penyakit Reumatik dalam Noer S (Editor) Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid I, ed. III, hal 29-36. Jakarta: Balai penerbit FKUI.
- Peter E. L., 2000,Arthritis Rheumatoid, Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, ed XIII, vol.4, hal 1840-1847, Jakarta:EGC.
- Price, SA. Dan Wilson LM., 1993, Patofisiologi: Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit bag 2. Ed. II. Hal 410-441. Jakarta: EGC.
- Randall King, MD., 2003, Rheumatoid Arthritis, http://www.emedicine.com



No comments:
Post a Comment