WHO AM I?

I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA POLTEKKES KEMENKES DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

Saturday, September 15, 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DERMATITIS KONTAK DAN MEDIKAMENTOSA

Juniartha Semara Putra

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
DERMATITIS KONTAK DAN MEDIKAMENTOSA

A.   KONSEP DASAR PENYAKIT
1.      Definisi
Dermatitis adalah peradangan kulit yang superficial yang disebabkan oleh bahan-bahan eksogen dan endogen.
Dermatitis merupakan epidermo-dermitis dengan gejala subjektif pruritus. Objektif tampak inflamasi , vesikulasi, eksudasi dan pembentukan sisik. Tanda-tanda polimorfi tersebut tidak selalu timbul pada saat yang sama. Penyakit bertendensi residif dan menjadi kronis.

2.      Histopatologi
Semua jenis dermatitis memberikan gambaran histopatologi yang sama. Pada dermatitis akut kelainan di epidermis berupa vesikel atau bula, spongiosis, edema intrasel dan eksositosis terutama sel mononuclear.
Kelainan pada stadium subakut hampir seperti pada stadium akut; jumlah vesikel sedikit dan lebih kecil, spongiosis masih jelas, kelainan didermis menyerupai stadium akut.
Pada stadium kronis perubahan yang terlihat terutama akantosis, parakeratosis dan hyperkeratosis. Spongiosis ringan kadang-kadang terlihat sedangkan vesikel tidak lagi ditemukan. Perubahan dalam dermis berupa penebalan jaringan kolagen, fibroblast bertambah banyak serta pembuluh darah kapiler bertambah dan dindingnya menebal. Sebukan sel radang menahun ditemukan disekitar pembuluh darah dermis bagian atas.  
3.      Gejala klinis
Tanda – tanda dermatitis berdasarkan evolusinya adalah sebagai berikut :
a.       Eritema dan odema kulit
b.      Vesikulasi dan eksudasi
c.       Krusta dan skuama
d.      Penebalan kulit dan ekskoriasi
e.       Hiperpigmentasi
f.       Pembentukan scrath papula
Factor sekunder yang sering terdapat pada dermatitis adalah :
a.       Gatal
Pada dermatitis terdapat rasa gatal, ringan sampai berat sehingga dapat timbul ekskoriasi akibat garukan.
b.      Retensi keringat
Pada dermatitis terjadi penyumbatan sementara muara kalenjar keringat. Bila cuaca panas akan terjadi retensi keringat sehingga rasa gatal bertambah hebat.
c.       Infeksi bakteri
Pada kulit yang mengalami dermatitis terjadi perubahan flora bakteri, flora normal diganti oleh bakteri pathogen.
d.      Dermatitis kontak sekunder
Timbul oleh karena obat topical yang dipakai.  Pada dermatitis akut kulit sangat sensitive. Adanya kerusakan stratum korneum mengakibatkan lebih mudah terjadi sensitisasi. 
4.      Klasifikasi
Berdasarkan kriteria dibuat klasifikasi dermatitis sebagai berikut:
a.       Dermatitis kontak
b.      Dermatitis atopic
c.       Dermatitis sereboik
d.      Dermatitis numularis
e.       Liken kronikus vidal
f.       Dermatitis atasia
g.      Dermatitis eksematous kronis
h.      Eksema infantum
i.        Dermatitis pada tangan dan kaki
5.      Penatalaksanaan
Proteksi terhadap zat penyebab dan penghindaran kontaktan merupakan tindakan penting. Antihistamin sistemik tidak di indikasikan pada stadium permulaan, sebab tidak ada pembebasan histamin. Pada stadium selanjutnya terjadi pembebasan histamin secara pasif. Kortikosteroid sistemik hanya diberikan bila penyakit berat, misalnya prednisone 20 mg sehari. Terapi topical digunakan sesuai dengan petunjuk umum pengobatan dermatitis. 


DERMATITIS KONTAK

v Definisi
-          Dermatitis kontak adalah dermatitis yang timbul akibat kontak bahan-bahan dari luar kulit.
-          Dermatitis kontak ( dermatitis venenata) merupakan respon reaksi hipersensitivitas lambat tipe IV. Penyakit ini adalah kelainan inflamasi yang sering bersifat eksematosa dan disebabkan oleh reaksi kulit terhadap sejumlah badan yang iritatif atau alergenik.
                     ( Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Sudarth vol 3)
-          Dermatitis kontak adalah dermatitis karena kontaktan eksternal, yang menimbulkan fenomen sensitisasi ( alergik) atau toksik (iritan).
                               ( Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2)

v Manifestasi klinis
Gejala dermatitis kontak mencakup :
-    Keluhan gatal-gatal
-    Rasa terbakar
-    Eritema
-    Lesi kulit ( vesikel)
-    Edema yang diikuti oleh pengeluaran secret
-    Pembentukan krusta serta akhirnya pengeringan dan pengelupasan kulit
-    Respon yang berat dapat terbentuk bullae hemoragik.
-    Reaksi yang berulang dapat disertai penebalan kulit dan perubahan pigmentasi
v Ada 4 bentuk dasar tipe dermatitis kontak yaitu :
1.      Alergik
2.      Iritan
3.      Fototoksik
4.      Fotoalergik

Penjelasan …..
1.      Alergik
Etiologi :
Reaksi hipersensitivitas tipe IV yang terjadi akibat kontak kulit dengan bahan alergenik. Tipe ini memiliki periode sensitisasi 10-14 hari.
Gambaran klinis :
-    Vasodilatasi dan infiltrate perivaskuler pada dermis
-    Edema intrasel
-    Biasanya terlihat pada permukaan dorsal tangan
Pemeriksaan diagnostic :
Tes patch ( kontraindikasi untuk dermatitis yang akut dan menyebar luas)
Terapi :
a.       Hindari bahan penyebab
b.      Larutan burrowi atau kompres dingin
c.       Kortikosteroid sistemik ( prednisone ) selama 7-10 hari
d.      Kortikosteroid topical untuk kasus-kasus yang ringan
e.       Antihistamin oral untuk mengurangi pruritus

2.      Iritan
Etiologi :
Terjadi akibat kontak dengan bahan yang secara kimiawi atau fisik merusak kulit tanpa dasar imunologik. Terjadi sesudah kontak pertama dengan iritan atau kontak ulang dengan iritan ringan selama waktu yang lama.
Gambaran klinis :
-Kekeringan kulit yang berlangsung beberapa hari hingga bulan vesikulasi, fisura dan pecah-pecah.
-Tangan dan lengan bawah merupakan bagian yang paling sering terkena
Pemeriksaan diagnostic :
Gambaran klinis hasil tes patch negative yang sesuai
Terapi :
-Identifikasi dan penghilangan sumber iritasi
-Pemberian krim hidrofilik atau vaselin untuk mendinginkan kulit dan mengurangi iritasi
-Kortikosteroid topical dan obat kompres untuk mengatasi lesi yang berair.
-Antibotik untuk infeksi dan antihistamin oral untuk pruritus

3.      Fototoksik
Etiologi :
Menyerupai tipe iritan tetapi memerlukan kombinasi sinar matahari dan bahan kimia untuk merusak epidermis
Gambaran klinis :
Serupa dengan dermatitis iritan
Pemeriksaan diagnostic :
Tes photopatch
Terapi :
Sama seperti dermatitis alergik dan iritan

4.      Fotoalergik
Etiologi :
Menyerupai dermatitis alergik tetapi memerlukan pajanan cahaya di samping kontak allergen untuk menimbulkan reaktivitas imunologik.
Gambaran klinik :
Serupa dengan dermatitis iritan
Pemeriksaan diagnostic :
Tes photopatch
Terapi :
Sama seperti dermatitis alergik dan iritan

Penjelasan Patofisiologi
           Dari etiologi dermatitis kontak yaitu kontak dengan bahan kimia secara nonimunologik, iritan dan cahaya, allergen dan cahaya serta alergi. Dimana alergi mempengaruhi sel langerhans kulit yang akan menyajikan allergen bagi sel T yang merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV yang akan melepaskan mediator kimia (serotonin, bradikinin dan histamine). Pelepasan mediator ini menyebabkan vasodilatasi dan infiltrate perivaskular dermis sehingga muncul kemerahan, papula, bula dapat muncul masalah gangguan body image. Selain itu odema intrasel dapat timbul rasa gatal sehingga mengakibatkan timbul fisura, krusta muncul masalah gangguan body image, risiko terhadap infeksi, kerusakan integritas kulit. Dapat juga mengakibatkan kekeringan kulit yang nantinya dapat memudahkan pertumbuhan kuman sehingga muncul masalah risiko terhadap infeksi.
           Dari etiologi dermatitis medikamentosa yaitu obat-obatan masuk sirkulasi, adanya reaksi antibody Ig E terikat dengan sel-sel tertentu yang nantinya akan menyebabkan pelepasan mediator kimia (reaksi hipersensitivitas tipe I). Dapat terjadi vasodilatasi dan infiltrate perivaskuler dermis timbul kemerahan.  Akan dapat muncul masalah kerusakan integritas kulit.

v Diagnosis
Diagnosis dapat dibuat berdasarkan lokasi erupsi dan hasil anamnesis riwayat kontak. Kendati demikian  pada kasus-kasus yang iritannya tidak jelas atau pada pasien yang tidak mengamati, diagnosis mungkin sangat sulit ditegakkan dan banyak prosedur penanganan yang bersifat “coba-coba” harus dilakukan sebelum penyebabnya dapat diterapkan dengan benar. Patch test pada kulit dengan preparat yang diperkirakan menjadi penyebabnya dapat memperjelas diagnosis.
DERMATITIS MEDIKAMENTOSA
v Dermatitis medikamentosa yaitu kelainan hipersensitifitas tipe I, merupakan istilah yang digunakan untuk ruam kulit karena pemakaian internal obat-obat atau medikasi tertentu.
v Medikasi tertentu cenderung menimbulkan erupsi dengan tipe yang sama kendati masing-masing orang akan memperlihatkan reaksi yang berbeda terhadap setiap medikasi.
v Pada umumnya reaksi obat timbul mendadak, memiliki warna yang cerah, memperlihatkan karakteristik yang lebih dramatis dibandingkan erupsi akibat infeksi yang agak serupa.
v Ruam dapat disertai dengan gejala sistemik atau gejala menyeluruh. Jika ditemukan alergi akibat pengobatan, pasien harus diingatkan bahwa mereka memiliki hipersensitivitas terhadap obat tertentu dan dinasehati agar tidak menggunakannya kembali.


B.   KONSEP DASAR ASKEP
a.      Pengkajian
Data subjektif :
-  Ada peningkatan suhu tubuh
- Kemerahan
- Rasa terbakar
- Edema / pembengkakan
- Adanya keluhan gatal-gatal

Data objektif : - Terdapat lesi polimorf
-    Timbul eritema
-    Timbul odema pada kulit yang longgar misalnya : muka (terutama palpebra dan bibir )
-    Infiltrasi biasanya terdiri atas papul
-    Disertai bula / pustule
-    Terlihat erosi / ekskoriasi dengan krusta
-    Ada pengelupasan kulit,  fisura

b.      Rencana keperawatan
Dari data diatas didapatkan masalah keperawatan yaitu :
1.      Risiko terhadap infeksi
2.      Kerusakan integritas kulit
3.      Gangguan body image
Diagnosa keperawatan yang muncul berdasarkan atas prioritas adalah :
1.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bahan iritan dari lingkungan ditandai dengan adanya fisura, krusta, disertai bula / pustule, ada pengelupasan kulit, ada edema, kemerahan, rasa terbakar.
2.      Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan ditandai dengan timbul odema pada kulit yang longgar misalnya : muka ( terutama palpebra dan bibir ), infiltrasi biasanya terdiri atas papul, disertai bula, ada pengelupasan kulit, ada krusta.
3.      Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan kontak dengan agen yang berbahaya.  

Perencanaan

1.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bahan iritan dari lingkungan ditandai dengan adanya fisura, krusta, disertai bula / pustule, ada pengelupasan kulit, ada edema, kemerahan, rasa terbakar.

Tujuan : Diharapkan integritas kulit dapat dipertahankan 
Kriteria hasil : Urtikaria tidak terjadi

Rencana tindakan
Rasional
1.   Indentifikasi faktor penyebab


2.   Kaji integritas kulit (gangguan warna, hangat lokal, eritema)



3.   Pertahankan linen kering, bebas keriput

4.   Gunanya krim kulit / zalf sesuai indikasi

1.Agar dapat ditentukan intervensi selanjutnya

2.Kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi, jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi dan rusak

3.Untuk menurunkan iritasi dan resiko kerusakan kulit lebih lanjut

4.Untuk melicinkan kulit dan  menurunkan rasa gatal

5.      Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan ditandai dengan timbul odema pada kulit yang longgar misalnya : muka ( terutama palpebra dan bibir ), infiltrasi biasanya terdiri atas papul, disertai bula, ada pengelupasan kulit, ada krusta.

Tujuan : Menyatakan penerimaan diri sesuai indikasi



Kriteria hasil
-          Menerima perubahan ke dalam konsep diri tanpa harga diri yang negative
-          Menunjukan penerimaan dengan melihat dan berpartisipasi dalam perawatan diri
-          Mulai menerima situasi secara konstruktif

Rencana tindakan
Rasional
1.   Pastikan apakah konseling dilakukan bila mungkin




2.   Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan perasaannya


3.   Catat perilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan, manipulasi atau tidak terlibat pada perawatan

4.   Pertahankan pendekatan positif selama aktivitas perawatan
1.   Memberikan informasi tentang tingkat pengetahuan pasien atau orang terdekat terhadap pengetahuan tentang situasi pasien dan proses peneriman

2.   Membantu pasien untuk menyadari perasaannya tidak biasa, perasaan bersalah

3.   Dengan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih ketat


4.   Dapat membantu pasien atau orang terdekat untuk menerima perubahan tubuh, merasakan baik tentang diri sendiri


6.      Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan kontak dengan agen yang berbahaya. 
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil :
-          tanda vital dalam batas normal
-          kemerahan tidak terjadi

Rencana tindakan
Rasional
1.   Pantau tanda vital, khususnya selama awal terapi



2.   Observasi adanya inflamasi



3.   Catat warna kulit, suhu, dan kelembaban




4.   Berikan obat-obatan sesuai indikasi : anti biotik
1.   Selama periode waktu ini potensial komplikasi dapat terjadi maka perlu dilakukan pemantauan terhadap tanda-tanda infeksi

2.   Perkembangan infeksi dapat memperlambat pemulihan


3.   Hangat, kemerahan, kulit kering adalah tanda dini septicemia selanjutnya manifestasi termasuk dingin, kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok

4.   Mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organisme sehingga tidak terjadi penyebaran kuman

c.       Evaluasi
1.      Integritas kulit dapat dipertahankan
2.      Menyatakan penerimaan diri sesuai indikasi
3.      Infeksi tidak terjadi
DAFTAR PUSTAKA
-          Brunner & Suddart. (1996), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
-          Carpenito, L.J. (2001) Handbook of Nursing Diagnosis (Buku terjemahan), Edisi.8. EGC, Jakarta.
-          Doenges. ( 2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta.
-          Mansjoer, A. (2001), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1, Edisi.3, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.

No comments: