Juniartha Semara Putra
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
DERMATITIS
KONTAK DAN MEDIKAMENTOSA
A.
KONSEP
DASAR PENYAKIT
1.
Definisi
Dermatitis adalah peradangan
kulit yang superficial yang disebabkan oleh bahan-bahan eksogen dan endogen.
Dermatitis merupakan
epidermo-dermitis dengan gejala subjektif pruritus. Objektif tampak inflamasi ,
vesikulasi, eksudasi dan pembentukan sisik. Tanda-tanda polimorfi tersebut
tidak selalu timbul pada saat yang sama. Penyakit bertendensi residif dan
menjadi kronis.
2. Histopatologi
Semua
jenis dermatitis memberikan gambaran histopatologi yang sama. Pada dermatitis
akut kelainan di epidermis berupa vesikel atau bula, spongiosis, edema intrasel
dan eksositosis terutama sel mononuclear.
Kelainan
pada stadium subakut hampir seperti pada stadium akut; jumlah vesikel sedikit
dan lebih kecil, spongiosis masih jelas, kelainan didermis menyerupai stadium
akut.
Pada
stadium kronis perubahan yang terlihat terutama akantosis, parakeratosis dan
hyperkeratosis. Spongiosis ringan kadang-kadang terlihat sedangkan vesikel
tidak lagi ditemukan. Perubahan dalam dermis berupa penebalan jaringan kolagen,
fibroblast bertambah banyak serta pembuluh darah kapiler bertambah dan
dindingnya menebal. Sebukan sel radang menahun ditemukan disekitar pembuluh
darah dermis bagian atas.
3.
Gejala
klinis
Tanda – tanda
dermatitis berdasarkan evolusinya adalah sebagai berikut :
a. Eritema
dan odema kulit
b. Vesikulasi
dan eksudasi
c. Krusta
dan skuama
d. Penebalan
kulit dan ekskoriasi
e. Hiperpigmentasi
f. Pembentukan
scrath papula
Factor
sekunder yang sering terdapat pada dermatitis adalah :
a. Gatal
Pada dermatitis
terdapat rasa gatal, ringan sampai berat sehingga dapat timbul ekskoriasi
akibat garukan.
b. Retensi
keringat
Pada dermatitis terjadi
penyumbatan sementara muara kalenjar keringat. Bila cuaca panas akan terjadi
retensi keringat sehingga rasa gatal bertambah hebat.
c. Infeksi
bakteri
Pada kulit yang
mengalami dermatitis terjadi perubahan flora bakteri, flora normal diganti oleh
bakteri pathogen.
d. Dermatitis
kontak sekunder
Timbul oleh karena obat
topical yang dipakai. Pada dermatitis
akut kulit sangat sensitive. Adanya kerusakan stratum korneum mengakibatkan
lebih mudah terjadi sensitisasi.
4.
Klasifikasi
Berdasarkan kriteria
dibuat klasifikasi dermatitis sebagai berikut:
a. Dermatitis
kontak
b. Dermatitis
atopic
c. Dermatitis
sereboik
d. Dermatitis
numularis
e. Liken
kronikus vidal
f. Dermatitis
atasia
g. Dermatitis
eksematous kronis
h. Eksema
infantum
i.
Dermatitis pada tangan dan kaki
5. Penatalaksanaan
Proteksi
terhadap zat penyebab dan penghindaran kontaktan merupakan tindakan penting.
Antihistamin sistemik tidak di indikasikan pada stadium permulaan, sebab tidak
ada pembebasan histamin. Pada stadium selanjutnya terjadi pembebasan histamin
secara pasif. Kortikosteroid sistemik hanya diberikan bila penyakit berat,
misalnya prednisone 20 mg sehari. Terapi topical digunakan sesuai dengan
petunjuk umum pengobatan dermatitis.
DERMATITIS
KONTAK
v Definisi
-
Dermatitis kontak adalah dermatitis yang
timbul akibat kontak bahan-bahan dari luar kulit.
-
Dermatitis kontak ( dermatitis venenata)
merupakan respon reaksi hipersensitivitas lambat tipe IV. Penyakit ini adalah
kelainan inflamasi yang sering bersifat eksematosa dan disebabkan oleh reaksi
kulit terhadap sejumlah badan yang iritatif atau alergenik.
( Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Sudarth vol 3)
-
Dermatitis kontak adalah dermatitis
karena kontaktan eksternal, yang menimbulkan fenomen sensitisasi ( alergik)
atau toksik (iritan).
(
Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2)
v Manifestasi klinis
Gejala dermatitis
kontak mencakup :
- Keluhan
gatal-gatal
- Rasa
terbakar
- Eritema
- Lesi
kulit ( vesikel)
- Edema
yang diikuti oleh pengeluaran secret
- Pembentukan
krusta serta akhirnya pengeringan dan pengelupasan kulit
- Respon
yang berat dapat terbentuk bullae hemoragik.
- Reaksi
yang berulang dapat disertai penebalan kulit dan perubahan pigmentasi
v Ada 4 bentuk dasar tipe dermatitis
kontak yaitu :
1. Alergik
2. Iritan
3. Fototoksik
4. Fotoalergik
Penjelasan
…..
1.
Alergik
Etiologi
:
Reaksi
hipersensitivitas tipe IV yang terjadi akibat kontak kulit dengan bahan
alergenik. Tipe ini memiliki periode sensitisasi 10-14 hari.
Gambaran
klinis :
- Vasodilatasi
dan infiltrate perivaskuler pada dermis
- Edema
intrasel
- Biasanya
terlihat pada permukaan dorsal tangan
Pemeriksaan
diagnostic :
Tes patch (
kontraindikasi untuk dermatitis yang akut dan menyebar luas)
Terapi
:
a. Hindari
bahan penyebab
b. Larutan
burrowi atau kompres dingin
c. Kortikosteroid
sistemik ( prednisone ) selama 7-10 hari
d. Kortikosteroid
topical untuk kasus-kasus yang ringan
e. Antihistamin
oral untuk mengurangi pruritus
2.
Iritan
Etiologi
:
Terjadi akibat kontak
dengan bahan yang secara kimiawi atau fisik merusak kulit tanpa dasar
imunologik. Terjadi sesudah kontak pertama dengan iritan atau kontak ulang
dengan iritan ringan selama waktu yang lama.
Gambaran
klinis :
-Kekeringan
kulit yang berlangsung beberapa hari hingga bulan vesikulasi, fisura dan
pecah-pecah.
-Tangan
dan lengan bawah merupakan bagian yang paling sering terkena
Pemeriksaan
diagnostic :
Gambaran klinis hasil
tes patch negative yang sesuai
Terapi
:
-Identifikasi dan penghilangan
sumber iritasi
-Pemberian
krim hidrofilik atau vaselin untuk mendinginkan kulit dan mengurangi iritasi
-Kortikosteroid
topical dan obat kompres untuk mengatasi lesi yang berair.
-Antibotik
untuk infeksi dan antihistamin oral untuk pruritus
3.
Fototoksik
Etiologi
:
Menyerupai tipe iritan
tetapi memerlukan kombinasi sinar matahari dan bahan kimia untuk merusak epidermis
Gambaran
klinis :
Serupa dengan dermatitis
iritan
Pemeriksaan
diagnostic :
Tes photopatch
Terapi
:
Sama seperti dermatitis
alergik dan iritan
4.
Fotoalergik
Etiologi
:
Menyerupai dermatitis
alergik tetapi memerlukan pajanan cahaya di samping kontak allergen untuk
menimbulkan reaktivitas imunologik.
Gambaran
klinik :
Serupa dengan
dermatitis iritan
Pemeriksaan
diagnostic :
Tes photopatch
Terapi
:
Sama seperti dermatitis
alergik dan iritan
Penjelasan Patofisiologi
Dari etiologi dermatitis kontak yaitu kontak dengan bahan
kimia secara nonimunologik, iritan dan cahaya, allergen dan cahaya serta
alergi. Dimana alergi mempengaruhi sel langerhans kulit yang akan menyajikan
allergen bagi sel T yang merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV yang akan
melepaskan mediator kimia (serotonin, bradikinin dan histamine). Pelepasan
mediator ini menyebabkan vasodilatasi dan infiltrate perivaskular dermis
sehingga muncul kemerahan, papula, bula dapat muncul masalah gangguan body
image. Selain itu odema intrasel dapat timbul rasa gatal sehingga mengakibatkan
timbul fisura, krusta muncul masalah gangguan body image, risiko terhadap
infeksi, kerusakan integritas kulit. Dapat juga mengakibatkan kekeringan kulit
yang nantinya dapat memudahkan pertumbuhan kuman sehingga muncul masalah risiko
terhadap infeksi.
Dari etiologi dermatitis medikamentosa yaitu obat-obatan
masuk sirkulasi, adanya reaksi antibody Ig E terikat dengan sel-sel tertentu
yang nantinya akan menyebabkan pelepasan mediator kimia (reaksi
hipersensitivitas tipe I). Dapat terjadi vasodilatasi dan infiltrate perivaskuler
dermis timbul kemerahan. Akan dapat
muncul masalah kerusakan integritas kulit.
v Diagnosis
Diagnosis dapat dibuat
berdasarkan lokasi erupsi dan hasil anamnesis riwayat kontak. Kendati
demikian pada kasus-kasus yang iritannya
tidak jelas atau pada pasien yang tidak mengamati, diagnosis mungkin sangat
sulit ditegakkan dan banyak prosedur penanganan yang bersifat “coba-coba” harus
dilakukan sebelum penyebabnya dapat diterapkan dengan benar. Patch test pada
kulit dengan preparat yang diperkirakan menjadi penyebabnya dapat memperjelas
diagnosis.
DERMATITIS
MEDIKAMENTOSA
v Dermatitis
medikamentosa yaitu kelainan hipersensitifitas tipe I, merupakan istilah yang
digunakan untuk ruam kulit karena pemakaian internal obat-obat atau medikasi
tertentu.
v Medikasi
tertentu cenderung menimbulkan erupsi dengan tipe yang sama kendati
masing-masing orang akan memperlihatkan reaksi yang berbeda terhadap setiap
medikasi.
v Pada
umumnya reaksi obat timbul mendadak, memiliki warna yang cerah, memperlihatkan
karakteristik yang lebih dramatis dibandingkan erupsi akibat infeksi yang agak
serupa.
v Ruam
dapat disertai dengan gejala sistemik atau gejala menyeluruh. Jika ditemukan
alergi akibat pengobatan, pasien harus diingatkan bahwa mereka memiliki
hipersensitivitas terhadap obat tertentu dan dinasehati agar tidak
menggunakannya kembali.
B.
KONSEP
DASAR ASKEP
a.
Pengkajian
Data subjektif :
- Ada
peningkatan suhu tubuh
- Kemerahan
- Rasa terbakar
- Edema / pembengkakan
- Adanya keluhan gatal-gatal
Data
objektif : - Terdapat lesi polimorf
-
Timbul eritema
-
Timbul odema
pada kulit yang longgar misalnya : muka (terutama palpebra dan bibir )
-
Infiltrasi
biasanya terdiri atas papul
-
Disertai bula /
pustule
-
Terlihat erosi /
ekskoriasi dengan krusta
-
Ada pengelupasan
kulit, fisura
b.
Rencana keperawatan
Dari data diatas didapatkan masalah
keperawatan yaitu :
1.
Risiko terhadap
infeksi
2.
Kerusakan
integritas kulit
3.
Gangguan body
image
Diagnosa keperawatan yang muncul
berdasarkan atas prioritas adalah :
1.
Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan bahan iritan dari lingkungan ditandai
dengan adanya fisura, krusta, disertai bula / pustule, ada pengelupasan kulit,
ada edema, kemerahan, rasa terbakar.
2.
Gangguan body
image berhubungan dengan perubahan penampilan ditandai dengan timbul odema pada
kulit yang longgar misalnya : muka ( terutama palpebra dan bibir ), infiltrasi
biasanya terdiri atas papul, disertai bula, ada pengelupasan kulit, ada krusta.
3.
Risiko terhadap
infeksi berhubungan dengan kontak dengan agen yang berbahaya.
Perencanaan
1.
Kerusakan integritas
kulit berhubungan dengan bahan iritan dari lingkungan ditandai dengan adanya
fisura, krusta, disertai bula / pustule, ada pengelupasan kulit, ada edema,
kemerahan, rasa terbakar.
Tujuan : Diharapkan
integritas kulit dapat dipertahankan
Kriteria hasil :
Urtikaria tidak terjadi
|
Rencana
tindakan
|
Rasional
|
|
1. Indentifikasi
faktor penyebab
2. Kaji
integritas kulit (gangguan warna, hangat lokal, eritema)
3. Pertahankan
linen kering, bebas keriput
4. Gunanya
krim kulit / zalf sesuai indikasi
|
1.Agar dapat ditentukan intervensi
selanjutnya
2.Kondisi kulit dipengaruhi oleh
sirkulasi, nutrisi, jaringan dapat menjadi rapuh dan cenderung untuk infeksi
dan rusak
3.Untuk menurunkan iritasi dan resiko kerusakan
kulit lebih lanjut
4.Untuk melicinkan kulit dan menurunkan rasa gatal
|
5.
Gangguan body
image berhubungan dengan perubahan penampilan ditandai dengan timbul odema pada
kulit yang longgar misalnya : muka ( terutama palpebra dan bibir ), infiltrasi
biasanya terdiri atas papul, disertai bula, ada pengelupasan kulit, ada krusta.
Tujuan : Menyatakan
penerimaan diri sesuai indikasi
Kriteria hasil
-
Menerima
perubahan ke dalam konsep diri tanpa harga diri yang negative
-
Menunjukan
penerimaan dengan melihat dan berpartisipasi dalam perawatan diri
-
Mulai menerima
situasi secara konstruktif
|
Rencana
tindakan
|
Rasional
|
|
1. Pastikan
apakah konseling dilakukan bila mungkin
2. Dorong
pasien atau orang terdekat untuk menyatakan perasaannya
3. Catat
perilaku menarik diri. Peningkatan ketergantungan, manipulasi atau tidak terlibat
pada perawatan
4. Pertahankan
pendekatan positif selama aktivitas perawatan
|
1. Memberikan
informasi tentang tingkat pengetahuan pasien atau orang terdekat terhadap
pengetahuan tentang situasi pasien dan proses peneriman
2. Membantu
pasien untuk menyadari perasaannya tidak biasa, perasaan bersalah
3. Dengan
masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih
ketat
4. Dapat
membantu pasien atau orang terdekat untuk menerima perubahan tubuh, merasakan
baik tentang diri sendiri
|
6.
Risiko terhadap
infeksi berhubungan dengan kontak dengan agen yang berbahaya.
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil :
-
tanda vital
dalam batas normal
-
kemerahan tidak
terjadi
|
Rencana
tindakan
|
Rasional
|
|
1. Pantau
tanda vital, khususnya selama awal terapi
2. Observasi
adanya inflamasi
3. Catat
warna kulit, suhu, dan kelembaban
4. Berikan
obat-obatan sesuai indikasi : anti biotik
|
1. Selama
periode waktu ini potensial komplikasi dapat terjadi maka perlu dilakukan
pemantauan terhadap tanda-tanda infeksi
2. Perkembangan
infeksi dapat memperlambat pemulihan
3. Hangat,
kemerahan, kulit kering adalah tanda dini septicemia selanjutnya manifestasi
termasuk dingin, kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok
4. Mungkin
diberikan secara profilaktik atau menurunkan jumlah organisme sehingga tidak
terjadi penyebaran kuman
|
c.
Evaluasi
1.
Integritas kulit
dapat dipertahankan
2.
Menyatakan
penerimaan diri sesuai indikasi
3.
Infeksi tidak
terjadi
DAFTAR PUSTAKA
-
Brunner &
Suddart. (1996), Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah, EGC, Jakarta .
-
Carpenito, L.J.
(2001) Handbook of Nursing Diagnosis (Buku
terjemahan), Edisi.8. EGC, Jakarta.
-
Doenges. ( 2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3,
EGC, Jakarta.
-
Mansjoer, A. (2001), Kapita
Selekta Kedokteran, Jilid 1, Edisi.3, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.
No comments:
Post a Comment