Juniartha Semara Putra
Algoritma penanganan yang
dikeluarkan oleh Joint National on Detection, Evaluation and Treatment
of High Blood Pressure memungkinkan dokter
memilih kelompok obat yang mempunyai efektivitas tertinggi, efek samping paling
kecil, dan penerimaan serta kepatuhan pasien. Dua kelompok obat tersedia dalam
pilihan pertama; diuretic dan penyekat beta. Apabila pasien dengan hipertensi
ringan sudah terkontrol selama setahun, terapi dapat diturunkan. Agar pasien
mematuhi regimen terapi yang diresepkan, maka harus dicegah dengan pemberian
jadual terapi obat-obatan yang rumit.
Algoritma
Penanganan Hipertensi
I. PENGKAJIAN
c. PERENCANAAN KEPERAWATAN
ASKEP HIPERTENSI
BAB I
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Hipertensi merupakan resiko morbiditas dan mortalitas
premature, yang meningkat sesuai dengan peningkatan tekanan sistolik dan
diastolik. Kedaruratan hipertensi terjadi terjadi apabila peningkatan tekanan darah
harus diturunkan dalam 1 jam. Peningkatan tekanan darah akut yang mengancam
jiwa ini memerlukan penanganan segera dalam perawatan intensif karena dapat
menimbulkan kerusakan serius pada organ lain di tubuh.
Kedaruratan hipertensi terjadi
pada penderita dengan hipertensi yang tidak terkontrol atau mereka yang
tiba-tiba menghentikan pengobatan. Adanya gagal ventrikel kiri atau disfungsi
otak menunjukkan kebutuhan akan perlunya menurunkan tekanan darah segera. Hal
ini memerlukan kesigapan perawat dalam menangani perawatannya.
Mengingat peningkatan tekanan
darah yang dapat mengancam jiwa ini maka penyusun tertarik untuk menyusun
asuhan keperawatan dengan hipertensi ini.
2.
TUJUAN
A.
Tujuan Umum
Untuk
mendapatkan pemahaman tentang
pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada Hipertensi.
B.
Tujuan Khusus
1)
Dapat melaksanakan pengkajian pada klien dengan
hipertensi.
2)
Dapat menyusun perencanaan keperawatan pada klien
dengan hipertensi.
3)
Dapat melaksanakan tindakan keperawatan pada klien
dengan hipertensi.
4)
Dapat melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan pada
klien dengan hipertensi.
5)
Dapat mendokumentasikan hasil Asuhan Keperawatan dengan
baik dan benar.
3.
METODE PENULISAN
Adapun teknik yang digunakan untuk menyusunnya adalah
dengan observasi, wawancara, studi kepustakaan dan mengumpulkan beberapa sumber
yang dapat menunjang dalam penyelasaian makalah ini.
4.
SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini disusun dalam beberapa BAB, yaitu :
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN TEORI
BAB III TINJAUAN KASUS
DAFTAR PUSTAKA
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
- PENGERTIAN
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah
persisten dimana tekanan siastoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya
di atas 90 mmHg. Pada populasi manula hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 160 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 mmHg. Hipertensi merupakan
penyebab utama gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal..
- KLASIFIKASI
Klasifikasi
tekanan darah pada orang dewasa berusia 18 tahun keatas.
|
Kategori
|
Sistolik,
mmHg
|
Diastolik,
mmHg
|
|
Normal tinggi
Hipertensi
Stadium 1
(ringan)
Stadium 2
(sedang)
Stadium 3
(berat)
Stadium 4
(sangat berat)
|
<130
130-139
140-159
160-169
160-209
≥
210
|
<85
85-89
90-99
100-109
110-119
≥
120
|
- PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh
darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor
ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis
keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatisdi toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke
bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai ketakutan dan kecemasan dapat
mempengaruhi respons pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstroktor. Individu
dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak
diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstroksi. Medula adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal,
mengakibatkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang
kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada
gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua factor tersebut cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.
Pertimbangan Gerontologis. Perubahan
structural dan fungsional pada system pembuluh darah perifer bertangguangjawab
pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut
meliputi arterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan
dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan
kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan
arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang
dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung
dan peningkatan tahanan perifer.
- MANIFESTASI KLINIS
Pada pemeriksaan fisik, mungkin tidak dijumpai kelainan
apapunselain tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan
pada retina, seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan
pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil (edema pada diskus optikus).
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan
gejala sampai bertahun-tahun. Gejala, bila ada, biasanya menunjukkan adanya
kerusakan vaskuler, dengan manifestasi yang khas sesuai dengan system organ
yang divaskularisasi oleh pembuluh darah bersangkutan. Penyakit arteri koroner
dengan angina adalah gejala yang paling menyertai hipertensi. Hipertropi
ventrikel kiri terjadi sebagai respons peningkatan beban kerja ventrikel saat
dipaksa berkontraksi melawan tekanan sistemik yang meningkat. Apabila jantung
tidak mampu lagi menhan peningkatan beban kerja, maka dapat terjadi gagal
jantung kiri. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai nokturia
(peningkatan urinasi pada malam hari) dan azotemia (peningkatan nitrogen urea
darah (BUN) dan kretinin). Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan
stroke atau serangan iskemik transien yang termanifestasi sebagai paralysis
sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam penglihatan. Pada
penderita stroke, dan pada penderita hipertensi disertai serangan iskemia,
insiden infark otak mencapai 80%.
- EVALUASI DIAGOSTIK
Riwayat dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh sangat penting.
Retina harus diperiksa dan dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengkaji
kemungkinan adanya kerusakan organ, seperti ginjal atau jantung, yang dapat
disebabkan tingginya tekanan darah. Hipertropi ventrikel kiri dapat dikaji
dengan elektrokardiografi, protein dalam urine dapat dideteksi dengan
urinalisa. Dapat terjadi ketidakmampuan untuk mengkonsentrasi urin dan
peningkatan nitroden urea darah. Pemeriksaan khusus seperti renogram, pielogram
intravena, arteriogram retinal, pemeriksaan fungsi ginjal terpisah dan
penentuan kadar urin dapat juga dilakukan untuk mengidentifikasi pasien dengan
penyakit renovaskuler. Adanya factor resiko lainnya juga harus dikaji dan
dievaluasi.
- PENATALAKSANAAN
Tujuan tiap program penanganan bagi setiap pasien adalah
mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan
mempertahankan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. Efektivitas setiap program
ditentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan, dan kualitas
hidup sehubungan dengan terapi.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan
nonfarmakologis, termasuk penurunan berat badan, pembatasan alcohol, natrium
dan tembakau; latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus
dilakukan pada setiap terapi antihipertensi. Apabila penderita hipertensi
ringan berada dalam resiko tinggi (pris, perokok) atau bila tekanan darah
diastoliknya menetap, di atas 85 atau 95 mmHg dan sistoliknya di atas 130
sampai 139 mmHg, maka perlu dimulai terapi obat-obatan.
Algoritma penanganan yang
dikeluarkan oleh Joint National on Detection, Evaluation and Treatment
of High Blood Pressure memungkinkan dokter
memilih kelompok obat yang mempunyai efektivitas tertinggi, efek samping paling
kecil, dan penerimaan serta kepatuhan pasien. Dua kelompok obat tersedia dalam
pilihan pertama; diuretic dan penyekat beta. Apabila pasien dengan hipertensi
ringan sudah terkontrol selama setahun, terapi dapat diturunkan. Agar pasien
mematuhi regimen terapi yang diresepkan, maka harus dicegah dengan pemberian
jadual terapi obat-obatan yang rumit.
Algoritma
Penanganan Hipertensi
Respon tidak adekuat
Respon tidak adekuat
Respon tidak adekuat
BAB III
TINJAUAN KASUS
I. PENGKAJIAN
1.
Pengumpulan Data
1)
Identitas klien
Nama :
Ny. N
Umur :
80 tahun
Jenis kelamin :
Perempuan
Status pernikahan :
Menikah
Agama :
Islam
Pendidikan terakhir : SD
Pekerjaan :
Ibu rumah tangga
Suku/ Bangsa :
Sunda/ Indonesia
Tanggal masuk : 6 Januari 2005
Tanggal Pengkajian : 10
Januari 2005
Ruang :
10A/ penyakit dalam dewasa
No. Medrek :
05010109
Diagnosa Medis :
Hipertensi stadium 3
Alamat :
Citepus RT 01 RW 06 Pajajaran Bandung.
2)
Identitas Penanggung jawab
Nama :
Ny. R
Umur :
38 tahun
Jenis Kelamin :
Perempuan
Pendidikan terakhir : SD
Hubungan dengan klien : Keponakan
Alamat :
Citepus RT 01 RW 06 Pajajaran Bandung.
2.
Riwayat Kesehatan
a.
Riwayat Kesehatan Sekarang
(1)
Keluhan utama saat masuk rumah sakit
Sejak 5 jam sebelum masuk rumah sakit, penderita merasakan keluar darah
dari lubang hidung sebelah kiri dengan tiba-tiba dan berwarna merah segar
encer, sebanyak lebih dari setengah gelas belimbing. Darah keluar terus-menerus
sampai masuk ke rumah sakit. Sebelumnya, 15 jam sebelum masuk rumah sakit klien juga merasakan keluhan yang sama, tapi
darah yang keluar hanya sedikit dan berhenti sendiri.
(2)
Keluhan utama saat pengkajian
Pada saat dikaji klien mengatakan tubuhnya lemas dank lien terlihat
bedrest.
b.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Sejak 3 bulan klien
merasakan sering buang air kecil dan banyak, sering merasakan lapar, sering
haus dan banyak minum. Tidak ada riwayat panas badan dan mimisan sebelumnya.
Riwayat sakit tekanan darah tinggi sudah dirasakan sejak 10 tahun sebelum masuk
rumah sakit dan klien tidak berobat secara teratur. Tekanan darah tertinggi
200/- selama 2-3 tahun sebelum masuk rumah sakit. Penderita pernah merasakan
bengkak pada kedua tungkainya, lekas capai bila beraktivitas.
c.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga tidak ada yang
memiliki penyakit menular, hipertensi, diabetes melitus dan penyakit menurun
lainnya.
3.
Pola aktivitas sehari-hari
Tanggal
12 Januari 2005
|
No
|
Jenis
|
Sebelum
sakit
|
Sesudah
sakit
|
|
1
|
Nutrisi
a.
Makan
Frekuensi
Jenis
Kesulitan menelan
Pantangan/ alergi
b.
Minum
Frekuensi
Jenis
Pantangan
|
3
x/ sehari, habis 1 porsi
Nasi,
sayur, lauk- pauk
Tidak
ada
Tidak
ada
6-7
gelas
air
putih
tidak
ada
|
3
x/ sehari, habis 1 porsi
Nasi,
sayur, lauk-pauk
Tidak
ada
Asin, tinggi natrium
6-7
gelas
air
putih
tidak
ada
|
|
2
|
Eliminasi
a.
BAB
Frekuensi
Konsistensi
Warna
b.
BAK
Frekuensi
Warna
Kesulitan
|
1
x/ hari
lembek
kuning
khas feces
3
x/ hari
kuning
jernih
tidak
ada
|
1
x/ hari
lembek
kuning
khas feces
3
x/ hari
kuning
jernih
tidak
ada
|
|
3
|
Istirahat
tidur
a.
Tidur malam
b.
Tidur siang
|
6
jam/ hari dari pukul 09.00-03.00
2
jam/ hari
|
6
jam/ hari dari pukul 09.00-03.00
2
jam/ hari
|
|
4
|
Personal hygiene
Mandi
Sikat gigi
Cuci rambut
|
2
x/ hari, mandiri
2
x/ hari
2
hari sekali
|
2
x/ hari, diseka oleh keluarga dan perawat
2
x/ hari dibantu oleh keluarga dan perawat
2
hari sekali dibantu oleh keluarga dan perawat
|
|
5
|
Aktivitas
|
Klien
beraktivitas sebagai ibu rumah tangga yang selalu di rumah.
|
Klien bedrest
di tempat tidur, kebutuhan ADL seperti BAB dan BAK masih dapat dipenuhi
dengan bantuan perawat dan keluarga.
|
4.
Pemeriksaan Fisik
a. Kesadaran umum
Kesadaran : Composmentis
GCS : 15
Vital Sign : Suhu : 36,5 0C
Nadi :
67x/mnt
Tensi :
130/80 mmHg
Respirasi :
20 x/mnt
b. Sistem pernafasan
Bentuk hidung simetris nasal ditengah, tidak terdapat pernafasan cuping
hidung, fungsi penciuman dan kepatenan hidung baik. Leher ditengah, bentuk dada
simetris, pengembangan paru-paru simetris anterior-posterior, tidak terlihat
penggunaan otot-otot nafas tambahan, vibrasi kiri dan kanan anterior posterior
seimbang pada kedua paru. Pada perkusi terdengar resonan pada seluruh daerah
paru, suara nafas murni vesikuler dengan frekuensi nafas 20 x/ menit.
c.
Sistem kardiovaskuler
Tidak ada peningkatan JVP, CRT kurang dari 3 detik, iktus kordis teraba
pada ICS 6 kanan mid klavikula peranjakan 2 cm, bunyi jantung murni reguler
pada S1 dan S2, tidak ada bunyi jantung tambahan. Nadi radialis 67 x/ menit.
Pada perkusi jantung dullness.
d.
Sistem pencernaan
Mukosa bibir lembab, lidah dan gusi tidak ada stomatitis, pergerakan
lidah baik, jumlah gigi 32 lengkap, tidak ada caries, uvula simetris, reflek
menelan baik. Pada auskultasi bising usus 21 x/ menit, pada perkusi tympani
pada lambung, dullness pada hepar, tidak terdapat nyeri tekan dan nyari lepas
pada seluruh area abdomen dan tidak terdapat pembesaran hati dan lien.
e.
Sistem persarafan
1)
Tes serebral fungsi
Klien dapat berorientasi
dengan tempat, orang dan waktu, klien dapat berespon dengan baik, klien dapat
berkomunikasi dengan normal, GCS (E =4, M = 6, V = 5).
2)
Saraf cranial
Nervus I (Olfaktorius)
Klien dapat membedakan bau kayu putih dan kopi dengan mata tertutup.
Nervus II (Optikus)
Klien dapat membaca papan nama perawat dalam jarak ± 30
cm. Tidak terdapat penyempitan lapang pandang.
Nervus III (Okulomotorius)
Adanya kontraksi pupil 3 mm bentuk pupil bulat isokor pada kedua mata.
Nervus IV (trochlearis)
Pada kedua mata tidak terdapat nistagmus, diplopia dan deviasi mata.
Nervus V (Trigeminus)
Mata klien mengedip saat bulu mata disentuh dengan kapas, klien dapat
merasakan usapan pada mata, dahi dan dagu.
Nevus VI (Abducend)
Klien mampu menggerakkan mata ke kanan dan ke kiri.
Nervus VII (Facialis)
Klien dapat membedakan rasa asin dan manis dengan mata tertutup, bentuk
wajah simetris.
Nervus VIII (Akustikus)
Fungsi pendengaran baik
Nervus IX (Glosofaringeus)
Reflek menelan klien baik dan dapat membedakan rasa pahit.
Nervus X
Uvula klien simetris terlihat ketika klien membuka mulut dan berkata
“ah”.
Nervus XI
Klien dapat mengangkat bahu dengan melawan tahanan.
Nervus XII
Bentuk lidah simetris, klien mampu menjulurkan lidah dan menggerakkannya
ke segala arah.
f.
Sistem Perkemihan
Tidak terdapat keluhan nyeri pada genito urinaria tidak teraba pembesaran
ginjal, tidak terdengar suara bruits pada arteri renalis, tidak ada nyeri tekan
pada simpisis, tidak terdapat nyeri ketuk pada perkusi ginjal.
g.
Sistem Muskuloskeletal
Klien tampak berbaring
lemah di tempat tidur. Klien mengatakan jika ingin turun dari tempat tidur atau
ke kamar mandi harus dibantu oleh keluarga. Kedua lengan dan kaki klien
simetris. Tidak ditemukan oedema pada daerah ekstremitas atas dan bawah.
Terdapat penurunan fungsi motorik : klien merasa lemah pada ekstremitas sebelah
kiri. Tingkat kemampuan mobiliasasi klien yaitu perlu bantuan / bimbingan
sederhana / pengawasan.
|
5
|
4
|
|
5
|
4
|
Kekuatan otot
h.
Sistem integumen
Warna rambut sebagian besar putih dan hitam, penyebaran rambut merata,
keadaan kulit kepala bersih, lesi (-), tidak ditemukan adanya ketombe, rambut
bersih dan tertata rapi. Tidak ada nyeri tekan pada daerah kepala, dan rambut
tidak mudah rontok. Warna kulit sawo matang, kuku tampak bersih dan pendek,
kulit tampak bersih dan tidak lengket. Turgor kulit Kembali dalam 3 detik Suhu
klien 36,50C.
i.
Sistem endokrin
Tidak terdapat moonface, tidak ada pembesaran tiroid dan kelenjar
paratiroid, riwayat poliuri tidak ada, riwayat polipagia tidak ada, riwayat
polidipsi tidak ada.
5.
Data Psikologis
a.
Status emosi
Emosi klien stabil ekspresi wajah klien tenang dan terlihat cemas.
b.
Kecemasan
Klien terlihat cemas dari klien
selalu tersenyum apabila ditegur oleh perawat dan bicara dengan keluarganya.
c.
Pola koping
Menurut klien bila mendapat masalah ia sering membicarakannya dengan
keluarganya.
d.
Gaya
komunikasi
Klien dapat berkomunikasi verbal maupun nonverbal. Klien dapat
berkomunikasi dengan dokter, perawat, keluarga dan klien lainnya, bahasa yang
digunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.
e.
Konsep diri
1)
Gambaran diri
Klien menyukai semua bagian anggota tubuhnya karena semuanya ini adalah
anugrah dari Tuhan YME yang harus disyukurinya.
2)
Ideal diri
Klien mengatakan ingin segera sembuh dan beraktivitas seperti biasa.
3)
Identitas diri
Klien merasa bangga dilahirkan sebagai wanita.
4)
Harga diri
Klien merasa senang karena banyak yang menyayanginya walaupun jauh dari
rumah.
5)
Peran
Klien adalah sebagai seorang bibi
dari keponakannya
6.
Data sosial
Hubungan
klien dengan keluarga, dokter, perawat dan klien lainnya baik, terlihat dengan
klien sering berkomunikasi dengan keluarga, dokter, perawat dan klien lain.
7.
Data spiritual
Klien
menganut agam Islam selama dirawat klien beribadah ditempat tidur saja dan
slalu berdoa untuk kesembuhannya. Klien menganggap sakitnya sebagai cobaan.
8.
Data Penunjang
Hasil
laboratorium tanggal 6 Januari 2005
|
No
|
Jenis
|
Hasil
|
Nilai
Rujukan
|
Satuan
|
|
1
|
Hematologi
Hemoglobin (L)
Leukosit (L)
Hematokrit (L)
Trombosit
|
10,6
6.806
34
174.000
|
13-18
3,8-10,6rb
40-52
150-440rb
|
gr/dL
mm3
%
mm3
|
|
2
|
Kimia Klinik
Ureum
Kreatinin (LK)
Glukosa
sewaktu
Natrium
Kalium
|
43
0.69
166
137
3,3
|
15-50
0,6
<140
135-145
3,6-5,5
|
mg/dL
mg/dL
mg/dL
mEq/L
mEq/L
|
9.
Therapi Medis
·
Aspar K 3 x1 tab PO
·
Furomesid 1x 40 mg PO
·
Caltopril 3 x 12,5 mg PO
·
Diit rendah garam
II.
ANALISA DATA
|
No
|
DATA
|
INTERPRETASI
DATA DAN KEMUNGKINAN PENYEBAB
|
MASALAH
|
|
1.
|
DS:
Klien mengatakan
lemas
DO:
Klien bedrest
|
Kondisi
penyakit klien
↓
Klien
harus tirah baring
↓
Menimbulkan
kekakuan tonus otot
↓
Resiko
terjadinya kekakuan otot-otot
ekstremitas
|
Resiko
terjadinya kekakuan otot-otot
ekstremitas
|
|
2.
|
DS :
·
Klien mengatakan sering tidak melanjutkan
pengobatan.
·
Klien mengatakan jarang kontrol.
DO :
·
Klien tidak tahu apa itu hipertensi.
·
Klien tidak tahu mengapa perlu pengobatan
rutin.
|
Kurangnya
pengetahuan tentang pengertian, penyebab, dan pencegahan hipertensi
↓
Tidak
melanjutkan pengobatan
↓
Tekanan
darah tidak terkontrol
↓
Resiko
terjadinya kembali
|
Resiko
hipertensi berulang
|
|
3.
|
DS :
·
Klien mengatakan kurang mengetahui tentang
penyakitnya
·
Klien mngatakan ingin segera pulang
DO :
·
Klien menanyakan tentang keadaanya
|
Penyakit
Hipertensi
↓
membutuhkan
perawatan
dan
pengobatan yang lama
↓
kurangnya
informasi mengenai kondisi penyakitnya dan prosedur pengobatannya
↓
stressor
bagi klien
↓
Cemas
|
Gangguan Rasa
Aman : Cemas
|
III. DAFTAR
DIAGNOSA KEPERAWATAN / MASALAH KOLABOLASI
|
No.
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tanggal
Ditemukan
|
Nama/ TT
Perawat
|
Tanggal
Terpecahkan
|
Nama/ TT
Perawat
|
|
1.
|
Resiko
terjadinya kekakuan otot-otot ekstremitas sehubungan dengan tirah baring
lama.
|
|
Egi
|
|
|
|
2.
|
Resiko
terjadinya kembali hipertentensi sehubungan dengan kurangnya pengetahuan
klien tentang hipertensi.
|
|
Egi
|
|
|
|
3.
|
Gangguan Rasa
Aman : Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kondisi
penyakitnya
|
|
Egi
|
|
|
c. PERENCANAAN KEPERAWATAN
|
No
|
Diagnosa Keperawatan
|
Perencanaan
|
||
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1
|
Resiko
terjadinya kekakuan otot-otot ekstremitas sehubungan dengan tirah baring
lama.Ditindai dengan
DS:
Klien
mengatakan lemas
DO:
Klien bedrest
|
Tupan :
Tidak terjadi
kekakuan otot-otot ekstremitas.
Tupen :
Dalam 3 hari
klien mampu menggerakkan ekstremitas atas dan bawah dengan kriteria :
·
Klien tidak lemas lagi.
·
Klien tidak bedrest lagi.
|
1.
Lakukan mobilisasi secara bertahap.
2.
Lakukan ROM pasif.
3.
Libatkan keluarga dalam setiap tindakan
|
1.
Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas klien
sampai normal.
2.
Mencegah adanya kekakuan dan untuk memperlancar
peredaran darah.
3.
Klien merasa lebih nyaman bila dibantu oleh keluarga.
|
|
2.
|
Resiko
terjadinya kembali hipertensi sehubungan dengan kurangnya pengetahuan klien
tentang hipertensi. Ditindai dengan
DS :
·
Klien mengatakan sering tidak melanjutkan
pengobatan.
·
Klien mengatakan jarang kontrol.
DO :
·
Klien tidak tahu apa itu hipertensi.
Klien tidak
tahu mengapa perlu pengobatan rutin
|
Tupan :
Tidak terjadi
hipertensi berulang setelah klien kembali ke rumah.
Tupen :
Dalam 1x24 jam
setelah mendapat penyuluhan kesehatan tentang hipertensi klien paham dengan
kriteria :
·
Mengerti tentang penyakit dan penanganannya.
Patuh terhadap
program perawatan diri.
|
1.
Observasi TTV.
2.
Berikan pendidikan kesehatan mengenai hipertensi,
meliputi :
·
Pengertian hipertensi secara singkat dan
sederhana.
·
Penyebab hipertensi.
·
Diit hipertensi.
·
Program perawatan diri.
·
Komplikasi hipertensi secara singkat dan
sederhana.
3.
Anjurkan keluarga untuk memantau klien dalam makan
obat dan diit klien.
4.
Berikan diit rendah garam dengan sedikit tapi sering.
|
1.
Memantau perkembangan hipertensi.
2.
Dengan pendidikan kesehatan diharapkan pengetahuan
klien bertambah dan resiko hipertensi berulang dapat dicegah.
3.
Klien lebih termotivasi untuk makan obat dan
menjalani diitnya.
4.
Mengurangi mual.
|
|
3.
|
Gangguan Rasa
Aman : Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kondisi
penyakitnya. Ditandai dengan :
DS :
·
Klien dan keluarga mengatakan kurang
mengetahui tentang penyakitnya
·
Klien mngatakan ingin segera pulang
DO :
·
Klien menanyakan tentang keadaanya
|
Tupan
:
Gangguan rasa aman : cemas tidak terjadi.
Tupen:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 hari, diharapkan
pengetahuan klien dan keluarga tentang keadaannya meningkat, dengan kriteria:
- Klien dan keluarga tidak mengeluh merasa
khawatir tentang penyakitnya.
- Klien dan keluarga secara verbal
mengatakan mengerti tentang penjelasan dari perawat.
- Ekspresi wajah klien tenang
|
1. Bina hubungan saling percaya antara
perawat dengan klien dan keluarga.
2. Bantu klien untuk menyesuaikan dirinya
dengan kehidupan di RS.
3. Diskusikan bersama klien dan keluarga
mengenai kondisi penyakit, proses penyembuhan dan perawatan klien.
4. Beri penjelasan pada klien dan keluarga
tentang keadaan penyakit, prosedur pengobatan dan perawatan selama klien
dirawat di RS.
5. Kaji pemahaman klien dan keluarga
mengenai keadaan penyakit, prosedur pengobatan dan perawatan.
|
1. Dengan adanya hubungan saling percaya
klien mau mengungkapkan masalah dan perasaannya pada perawat.
2. Dengan penyesuaian kehidupan di RS
supaya klien terbiasa dengan keadaan lingkungan di RS demi kesembuhannya.
3. Meningkatkan pengetahuan, pemahaman
klien dan keluarga sehingga mengurangi kecemasan.
4. Diharapkan dapat menambah pengetahuan
klien dan keluarga tentang keadaannya dan dapat membantu mengurangi kecemasan
pada klien.
5. Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman
klien dan keluarga sehingga dapat menentukan intervensi selanjutnya.
|
IV. TINDAKAN
KEPERAWATAN
|
Tanggal
dan Waktu
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Implementasi
|
Nama
dan Paraf
|
|
07.30
|
Dx3
, Dx2 ,Dx1
|
-
Mengajarkan dan membantu Melakukan mobilisasi secara bertahap.
- Mengajarkan
dan membantu Melakukan ROM pasif
-
Melibatkan keluarga dalam setiap tindakan
Hasil :
Perawat
membantu klien dalam mengajarkan dan membimbing klien dalam melakukan
mobilisasi dan klien mau melakukan
-
Mengobservasi TTV
Hasil :
Tekanan darah =130/80 mmHg
Nadi = 67 x/menit
Respirasi = 21 x/mnt
Suhu = 36,50 C
|
|
|
08.00
|
Dx
3
|
·
Memberikan diit rendah garam
Respon : Porsi makan habis 1 porsi.
|
|
|
09.00
|
Dx3
|
·
Melakukan ROM pasif kepada klien dengan
mobilisasi secara bertahap
Respon : Klien dapat melakukan ROM pasif
·
Melibatkan keluarga dalam setiap tindakan.
Respon : keluarga mengerti dan ikut terlibat dalam membantu mobilisasi
klien.
|
|
|
10.00
|
Dx3
|
·
Memberikan terapi Aspar K 3 x1 tab
Respon : obat diberikan dan tidak ada reaksi alergi.
·
Memberikan therapy Furomesid 1x 40 mg PO dan
Caltopril 3 x 12,5 mg PO
Respon : obat diberikan dan tidak ada reaksi alergi.
·
Pantau dan catat respon terhadapan obat.
Respon : tidak ada reaksi alergi dan klien lebih tenang.
|
|
|
10.30
|
Dx2
, DX3
|
Memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga tentang
hipertensi
Respon : Klien dan keluarga mengatakan telah mengerti tentang penyakit
hipertensi yang dideritanya meliputi : pengertian, penyebab, diit, program
asuhan perawatan diri, dan komplikasi dari hipertensi.
|
|
|
12.15
|
Dx2
|
·
Memberikan diit rendah garam
Respon : Porsi makan habis 1 porsi
|
|
V.
EVALUASI
|
DX
No.
|
Tanggal
dan Waktu
|
Perkembangan
|
Nama
dan Paraf
|
|
1
|
|
S :
-
Klien mengatakan mulai bisa menggerakkan
ekstremitas atas maupun bawah.
O :
-
Klien dapat melakukan ROM pasif.
A :
-
Masalah teratasi sebagian.
P
:
-
Lanjutkan intrervensi
I :
-
Mengajarkan dan membantu Melakukan mobilisasi secara bertahap.
- Mengajarkan
dan membantu Melakukan ROM pasif
-
Melibatkan keluarga dalam setiap tindakan
E :
-
Klien dapat mengikuti latihan ROM secara pasif
dan dapat menggerakkan tangan dan kakinya secara aktif walaupun sedikit
R :
-
Kaji Cara klien dan keluarga melakukan ROM
|
|
|
2..
|
|
S :
-
Klien dan keluarga mengatakan telah mengerti
tentang penyakit hipertensi yang dideritanya meliputi : pengertian, penyebab,
diit, program asuhan perawatan diri, dan komplikasi dari hipertensi.
O :
-
Klien dan keluarga dapat menyebutkan
pengertian, penyebab, diit, program asuhan perawatan diri, dan komplikasi
dari hipertensi.
A :
-
Masalah
teratasi.
|
|
|
3
|
|
S :
-
Klien mengatakan kurang mengetahui tentang
penyakitnya
-
Klien mengatakan ingin segera pulang
O :
-
Klien menanyakan tentang keadaanya
A :
-
Masalah teratasi
|
|
DAFTAR PUSTAKA
Brunner
&Suddarth. 1996. Kepererawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta .
Doengoes , Marilin .2002.Rencana
Asuhan Keperawatan , Edisi : 3.Jakarta : EGC

No comments:
Post a Comment