Juniartha Semara Putra
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke seljugularis. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Danapabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkanretensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanandarah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ organ seperti jantung.
Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :
Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000
Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001
Sobel, Barry J, et all. Hipertensi : Pedoman Klinis Diagnosis dan Terapi, Jakarta, Penerbit Hipokrates, 1999
Kodim Nasrin. Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan, @ tempointeraktif.com, 2003
Smith Tom. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi, Bagaimana mengatasinya ?, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995
Semple Peter. Tekanan Darah Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta, Penerbit Arcan, 1996
Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC, 2002
Chung, Edward.K. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Edisi III, diterjemahkan oleh Petrus Andryanto, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1995
Marvyn, Leonard. Hipertensi : Pengendalian lewat vitamin, gizi dan diet, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995
Tucker, S.M, et all . Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, diagnosis dan evaluasi , Edisi V, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1998
PENDAHULUAN
I.
LATAR
BELAKANG
Hipertensi atau Darah Tinggi adalah keadaan dimana seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang
lama). Hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh kita
sendiri. Satu-satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan mengukur
tekanan darah kita secara teratur.
Diketahui 9 dari 10 orang yang menderita hipertensi tidak dapat
diidentifikasi penyebab penyakitnya. Itulah sebabnya hipertensi dijuluki
pembunuh diam-diam atau silent killer. Seseorang baru merasakan dampak gawatnya
hipertensi ketika telah terjadi komplikasi. Jadi baru disadari ketika telah
menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung, koroner, fungsi
ginjal, gangguan fungsi kognitif atau stroke .Hipertensi pada dasarnya
mengurangi harapan hidup para penderitanya.
Hipertensi selain mengakibatkan angka kematian yang tinggi (high
case fatality rate) juga berdampak kepada mahalnya pengobatan dan perawatan
yang harus ditanggung para penderita. Perlu pula diingat hipertensi berdampak
pula bagi penurunan kualitas hidup.
Hipertensi sebenarnya dapat diturunkan dari orang tua kepada
anaknya. Jika salah satu orang tua terkena Hipertensi, maka kecenderungan anak
untuk menderita Hipertensi adalah lebih besar dibandingkan dengan mereka yang
tidak memiliki orang tua penderita Hipertensi.
II.
Rumusan Masalah
1.
Apakah definisi dari hipertensi?
2.
Apa saja klasifikasi dari hipertensi?
3.
Apa penyebab / etiologi hipertensi?
4.
Bagaimana manifestasi klinis dari hipertensi?
5.
Bagaimana asuhan keperawatan tentang hipertensi?
III.
Tujuan
1.
Mengetahui definisi dari hipertensi.
2.
Mengetahui klasifikasi dari hipertensi.
3.
Mengetahui penyebab dari hipertensi.
4.
Mengetahui manifestasi klinis dari hipertensi.
5.
Mengetahui asuhan keperawatan tentang hipertensi.
BAB II
PEMBAHASAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ARITMIA
A.
KONSEP DASAR PENYAKIT
1.
Definisi
Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg
atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).
Hipertensi
adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG dan tekanan darah
diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan
tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg
ataulebih. (Barbara Hearrison 1997)
2.
Klasifikasi jenis hipertensi
·
Primary (hipertensi primer)
Ø
Tidak diketahui
·
Hipertensi sekunder
Ø
Coarctation of aorta
Ø
Pheochormocyyoma
Ø
Primary aldosteronism
Ø
Renovascular disease
·
Karena penyebabnya
Ø
Chusing syndrome
Ø
Tumor pituctary
Ø
Toxemia Kehamilan
Ø
Stress jangka panjang
Ø
Cidera kepala
Ø
Tumor kepala
Ø
Penggunaan obat seperti: (amphetamines,
dan obat pil kontrasepsi)
3. Etiologi
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang
spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau
peningkatan tekanan perifer.
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi:
-
Genetik: Respon nerologi terhadap
stress atau kelainan eksresi atautransport Na.
-
Obesitas: terkait dengan level
insulin yang tinggi yang mengakibatkantekanan darah meningkat.
-
Stress Lingkungan.
-
Hilangnya Elastisitas jaringan and
arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran pembuluh darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
1.
Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, systemrennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, systemrennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
2.
Hipertensi SekunderDapat diakibatkan
karena penyakit parenkim renal/vakuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.
1. Patofisiologi
Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis yang diterukan ke seljugularis. Dari sel jugalaris ini bias meningkatkan tekanan darah. Danapabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang menyebabkanretensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanandarah. Dengan Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ organ seperti jantung.
- Manifestasi
Klinis
Manifestasi Klinis pada klien dengan hipertensi adalah :
o
Peningkatan tekanan darah >
140/90 mmHg
o
Sakit kepala
o
Epistaksis
o
Pusing / migrain
o
Rasa berat ditengkuk
o
Sukar tidur
o
Mata berkunang kunang
o
Lemah dan lelah
o
Muka pucat
o
Suhu tubuh rendah
3. Pemeriksaan Penunjang
·
Pemeriksaan
Laborat
·
Hb/Ht
: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) dan
dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
·
BUN
/ kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
·
Glucosa
: Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh
pengeluaran kadar ketokolamin.
·
Urinalisa
: darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM.
·
CT
Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
·
EKG
: Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah
salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
·
IUP
: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,perbaikan
ginjal.
·
Photo
dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,pembesaran jantung.
- Penatalaksanaan
Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan
pengobatan hipertensi, karena olah raga isotonik (spt bersepeda, jogging,
aerobic) yang teratur dapat memperlancar peredaran darah sehingga dapat
menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dapat digunakan untuk mengurangi/
mencegah obesitas dan mengurangi asupan garam ke dalam tubuh (tubuh yang
berkeringat akan mengeluarkan garam lewat kulit).
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis
yaitu:
1.
Pengobatan non obat (non farmakologis)
2.
Pengobatan dengan obat-obatan
(farmakologis)
·
Pengobatan non obat (non farmakologis)
Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat
mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak
diperlukan atau sekurang-kurangnya ditunda. Sedangkan pada keadaan dimana obat
anti hipertensi diperlukan, pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai
pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik.
Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :
1.
Diet rendah garam/kolesterol/lemak
jenuh
2.
Mengurangi asupan garam
ke dalam tubuh.
Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan
kebiasaan makan penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit
dilaksanakan. Cara pengobatan ini hendaknya tidak dipakai sebagai pengobatan
tunggal, tetapi lebih baik digunakan sebagai pelengkap pada pengobatan
farmakologis.
3.
Ciptakan keadaan rileks
Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga
atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan
tekanan darah.
4.
Melakukan olah raga
seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali
seminggu.
5.
Berhenti merokok dan
mengurangi konsumsi alkohol
·
Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)
Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi
yang beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan
menghubungi dokter.
·
Diuretik
Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara
mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh
berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan.
Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid.
·
Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas
saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas ).
Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin dan
Reserpin.
Ø
Betabloker
Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah
melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada
penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma
bronkial.
Contoh obatnya adalah : Metoprolol, Propranolol
dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus harus hati-hati, karena dapat
menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam darah turun
menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang
tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga
pemberian obat harus hati-hati.
Ø
Vasodilator
Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh
darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam
golongan ini adalah : Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan
terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing.
Ø Penghambat ensim
konversi Angiotensin
Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat
pembentukan zat Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan
darah).
Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah
Kaptopril. Efek samping yang mungkin timbul adalah : batuk kering, pusing,
sakit kepala dan lemas.
Ø Antagonis kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung
dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk
golongan obat ini adalah : Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping
yang mungkin timbul adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.
Ø Penghambat Reseptor
Angiotensin II
Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi
penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya
daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah
Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah : sakit kepala,
pusing, lemas dan mual.
Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor
resiko terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa
ditekan.
§ Pengkajian
o
Aktivitas/ Istirahat
§ Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
§ Tanda :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,
takipnea.
o
Sirkulasi
§ Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung
koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.
§ Tanda :Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis,
jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena
jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer)
pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda.
o
Integritas Ego
§ Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor
stress multiple(hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.
§ Tanda :Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue
perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan
pola bicara.
o
Eliminasi
§ Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi
atau riwayatpenyakit ginjal pada masa yang lalu).
o
Makanan/cairan
§ Gejala: Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi
garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir
ini(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic
§ Tanda: Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema,
glikosuria.
o
Neurosensori
§ Genjala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit
kepala,subojksipital (terjadi saat bangun dan menghilangkan secara
spontansetelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan
kabur,epistakis).
§ Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi,
pola/isi bicara,efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan.
o
Nyeri/ ketidaknyaman
§ Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan
jantung),sakitkepala.
o
Pernafasan
§ Gejala: Dispnea yang berkaitan dari kativitas/kerja
takipnea,ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat
merokok.
§ Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori
pernafasan bunyinafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.
o
Keamanan
§ Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi
postural.
§ Diagnosa Keperawatan yang Muncul
o
Resiko tinggi terhadap penurunan
curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia
miokard, hipertropi ventricular.
o
Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
o
Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit
kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
o
Potensial perubahan perfusi
jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.
§ Intervensi
Ø Diagnosa Keperawatan 1. :
Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard.
Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / bebankerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapatditerima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien.
Intervensi :
Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard.
Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah / bebankerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapatditerima, memperlihatkan norma dan frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien.
Intervensi :
o
Pantau TD, ukur pada kedua tangan,
gunakan manset dan tehnik yang tepat.
o
Catat keberadaan, kualitas denyutan
sentral dan perifer.
o
Auskultasi tonus jantung dan bunyi
napas.
o
Amati warna kulit, kelembaban, suhu
dan masa pengisian kapiler.
o
Catat edema umum.
o
Berikan lingkungan tenang, nyaman,
kurangi aktivitas.
o
Pertahankan pembatasan aktivitas
seperti istirahat ditemapt tidur/kursi
o
Bantu melakukan aktivitas perawatan
diri sesuai kebutuhan
o
Lakukan tindakan yang nyaman spt
pijatan punggung dan leher
o
Anjurkan tehnik relaksasi, panduan
imajinasi, aktivitas pengalihan
o
Pantau respon terhadap obat untuk
mengontrol tekanan darah
o
Berikan pembatasan cairan dan diit
natrium sesuai indikasi
o
Kolaborasi untuk pemberian
obat-obatan sesuai indikasi.
Ø Diagnosa Keperawatan 2. :
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil :Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan,melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
Intervensi :
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi.
Kriteria Hasil :Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan / diperlukan,melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
Intervensi :
o
Kaji toleransi pasien terhadap
aktivitas dengan menggunkan parameter :frekwensi nadi 20 per menit diatas
frekwensi istirahat, catat peningkatanTD, dipsnea, atau nyeridada, kelelahan
berat dan kelemahan, berkeringat,pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan
respon fisiologis pasienterhadap stress, aktivitas dan indicator derajat
pengaruh kelebihan kerja/ jantung).
o
Kaji kesiapan untuk meningkatkan
aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi,
peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri.
(Stabilitas fisiologis pada istirahatpenting untuk memajukan tingkat aktivitas
individual).
o
Dorong memajukan aktivitas /
toleransi perawatan diri. (Konsumsioksigen miokardia selama berbagai aktivitas
dapat meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap
mencegah peningkatantiba-tiba pada kerja jantung).
o
Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan
anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi / rambut dengan duduk dan
sebagainya. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan
sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen).
o
Dorong pasien untuk partisifasi
dalam memilih periode aktivitas.(Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap
kemajuan aktivitas danmencegah kelemahan).
Ø
Diagnosa
Keperawatan 3. :
Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat.
Kriteria Hasil :Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman.
Intervensi :
Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tujuan : Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat.
Kriteria Hasil :Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak nyaman.
Intervensi :
o
Pertahankan tirah baring, lingkungan
yang tenang, sedikit penerangan
o
Minimalkan gangguan lingkungan dan
rangsangan.
o
Batasi aktivitas.
o
Hindari merokok atau menggunkan
penggunaan nikotin.
o
Beri obat analgesia dan sedasi
sesuai pesanan.
o
Beri tindakan yang menyenangkan
sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan
imajinasi, hindari konstipasi.
Ø
Diagnosa
keperawatan 4. :
Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.
Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak terganggu.
Kriteria Hasil :Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
Intervensi :
Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.
Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak terganggu.
Kriteria Hasil :Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
Intervensi :
o
Pertahankan tirah baring; tinggikan
kepala tempat tidur.
o
Kaji tekanan darah saat masuk pada
kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia.
o
Pertahankan cairan dan obat-obatan
sesuai pesanan.
o
Amati adanya hipotensi mendadak.
o
Ukur masukan dan pengeluaran.
o
Pantau elektrolit, BUN, kreatinin
sesuai pesanan.
o
Ambulasi sesuai kemampuan; hindari
kelelahan
.
§
Evaluasi
Evaluasi adalah komponen yang terus menerus dari proses
keperawatan dan membantu perawat dan pasien hipertensi memastikan keefektifan
tujuan individu. Hasil yang diharapkan adalah pasien dan keluarga dapat:
1.
Mengidentifikasi hipertensi
2.
Memelihara tekanan darah dalam batas normal dengan jalan:
v Tercapai istirahat fisik dan mental
v Merencanakan diet berikutnya
(pembatasan sodium dan kalori)
v Berikutnya peraturan pemakaian obat
– obatan (obat diuretik dan obat antihipertensi)
3.
Mengidentifikasi faktor
hipertensi dan adanya perencanaan untuk mencegah atau mengelola risiko-risiko
yang dapat dirubah.
4.
Menghendaki adanya perawatan kesehatan sesuai indikasinya
5.
Menguraikan rencana untuk perawatan selanjutnya dan adanya
sumber masyarakat yang tersedia untuk perawatan kesehatan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit darah tinggi atau
Hipertensiadalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan
darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan
angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur
tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat
digital lainnya.
Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan, tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. Dalam aktivitas sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga.
Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa si penderita kedalam kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja extra keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Penyakit hypertensi ini merupakan penyebab umum terjadinya stroke dan serangan jantung.
Nilai normal tekanan darah seseorang dengan ukuran tinggi badan, berat badan, tingkat aktifitas normal dan kesehatan secara umum adalah 120/80 mmHG. Dalam aktivitas sehari-hari, tekanan darah normalnya adalah dengan nilai angka kisaran stabil. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat diwaktu beraktifitas atau berolahraga.
Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa si penderita kedalam kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja extra keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Penyakit hypertensi ini merupakan penyebab umum terjadinya stroke dan serangan jantung.
B. Saran
1.
Untuk mengetahui definisi dari hipertensi
para pembuat makalah harus mengerti dahulu tentang pembahasan materi tersebut
agar para pembuat makalah memperoleh pengetahuan tentang pembahasan makalah
ini.
2.
Makalah ini masih banyak sekali
kekurangannya, untuk itu diharapkan kepada para pembuat makalah untuk lebih
meningkatkan kemampuannya dalam penguasaan materi sehingga nantinya dapat
mengaplikasikan materi ini di masa yang akan datang khususnya dalam bidang
asuhan keperawatan.
3.
Bagi para pembaca sangat diperlukan kritik
dan sarannya agar makalah ini dapat lebih baik dari sebelumnya dan kami dapat
membuat makalah yang lebih sempurna lagi dari yang sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000
Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001
Sobel, Barry J, et all. Hipertensi : Pedoman Klinis Diagnosis dan Terapi, Jakarta, Penerbit Hipokrates, 1999
Kodim Nasrin. Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan, @ tempointeraktif.com, 2003
Smith Tom. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi, Bagaimana mengatasinya ?, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995
Semple Peter. Tekanan Darah Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta, Penerbit Arcan, 1996
Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC, 2002
Chung, Edward.K. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Edisi III, diterjemahkan oleh Petrus Andryanto, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1995
Marvyn, Leonard. Hipertensi : Pengendalian lewat vitamin, gizi dan diet, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995
Tucker, S.M, et all . Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, diagnosis dan evaluasi , Edisi V, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1998
No comments:
Post a Comment