WHO AM I?

I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA POLTEKKES KEMENKES DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

Saturday, September 15, 2012

TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN FRAKTUR KOMPRESIF L1 & L5

Juniartha Semara Putra

TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN FRAKTUR KOMPRESIF L1 & L5

A. Pengkajian
            Pengkajian dilakukan pada tanggal 3 September 2007 pukul 11:00 wita di ruang Kamboja RSUD Kabupaten Buleleng. Data diperoleh melalui hasil wawancara dengan pasien dan keluarga, observasi,  pemeriksaan fisik serta catatan medik pasien. Adapun hasil pengumpulan data yang sudah dilakukan adalah sebagai berikut :
1.      Identitas
                                                  Pasien                                    Penanggung
Nama                                 : “ NS “                                   : “WM”
Umur                                 : 18 tahun                                : 58 tahun
Jenis kelamin                     : Laki – laki                             : Laki - laki
Agama                               : Hindu                                    : Hindu
Pendidikan                                    : SMP                                      : SD
Status perkawinan             : Belum kawin                         : Kawin
Pekerjaan                           : Buruh                                    : Buruh tani
Suku / Bangsa                   : Bali / Indonesia                     : Bali / Indonesia
Alamat                              : Bontihing                              : Bontihing
Hubungan dgn pasien       : Ayah
Diagnosa medis                 : Fraktur Kompresif L1 & L5
2.      Riwayat kesehatan
a.       Keluhan utama
1)      Saat masuk rumah sakit : nyeri pinggang
2)      Saat pengkajian : nyeri pinggang
b.      Riwayat penyakit sekarang
Pada tanggal 1 September 2007 pasien mengeluh nyeri pinggang akibat jatuh dari pohon cengkeh dengan pasisi duduk yang tingginya kira – kira 8 meter. Kemudian pada saat itu juga sekitar pukul 15 : 00 wita pasien dibawa oleh keluarganya ke IRD RSUD Kabupaten Buleleng. Pasien tiba pukul 16 : 00 wita, setelah dilakukan pemeriksaan dan rontegen pasien dirawat di ruang Kamboja. Terapi yang diberikan :
1)      IVFD RL              : 20 tetes / menit.
2)      Metil Prednisolon  : 3 x 125 mg   IV
3)      Ketorolac              : 3 x 1 ampul  IV
4)      Cefotaxime           : 3 x 1 gr IV
5)      Bed rest
Dx Medis : Fraktur Kompresif L1 & L5
Tiba di ruang Kamboja, keluhan pasien adalah nyeri pinggang, kaki kiri tidak bisa diangkat hanya bisa digerakkan kearah pantat atau ditarik, kaki kanan bisa diangkat dan digerakkan, pada pemeriksaan didapatkan kekuatan otot  555     555
                         333    333
Terapi tetap.
Pada tanggal 2 September 2007 keluhan pasien adalah nyeri pinggang, kaki kiri tidak bisa diangkat hanya bisa digerakkan ke arah pantat / ditarik, sedangkan kaki kanan bisa diangkat dan digerakkan.
Pada pemeriksaan kekuatan ototnya adalah   555  555
                                                                       333   333
Terapi yang didapatkan tetap.
c.       Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengatakan sebelumnya tidak pernah dirawat di RS.
d.      Riwayat Penyakit dalam Keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang menderita penyakit keturunan seperti DM, hipertensi, dan jantung.
3.      Data Bio – Psiko – Sosial – Spiritual
a.       Bernafas
Baik saat sebelum masuk rumah sakit maupun saat pengkajian pasien tidak mengalami keluhan dalam bernafas.
b.      Makan dan minum
Pasien mengatakan sebelum dan selama sakit biasa makan 3 x sehari habis 1 porsi. Jenis makanan nasi, lauk, sayur, buah. Pasien biasa minum 6 – 8 gelas / hari ( 1200 – 1600 cc / hari ). Sekarang pasien minum 4 – 6 gelas / hari ( 800 – 1200 cc / hari ) jenis air putih. Makan dan minum dibantu.
c.       Eleminasi
1)      BAB
      Sebelum sakit pasien mengatakan tidak mengalami kesulitan dalam hal
      BAB, frekwensi 1 x sehari. Pada saat pengkajian pasien mengatakan belum dapat BAB sejak tanggal 2 September 2007.
2)      BAK
Sebelum dan selama sakit pasien tidak mengalami kesulitan dalam berkemih. Sebelum sakit biasa BAK 4 – 6 x sehari ( 800 – 1200 cc / hari ), pada saat pengkajian pasien mengatakan BAK 5 – 6 x sehari ( 1000 – 1500 cc ).
d.      Gerak dan aktivitas
Sebelum sakit pasien mengatakan bisa melakukan aktivitas secara mandiri. Pada saat pengkajian :
1)      Kemampuan untuk makan dan minum
Pasien tidak mampu makan sendiri, dibantu oleh keluarga.
2)      Kemampuan untuk mandi
Pasien mandi menggunakan waslap dan dilakukan oleh keluarga.
3)      Kemampuan toileting
Pasien  bab dan bak dibantu oleh keluarga.
4)      Kemampuan berpakaian
Pasien manggunakan berpakaian dibantu oleh keluarga.
5)      Kemampuan mobilisasi
Pasien mengatakan kaki kirinya tidak bisa diangkat hanya bisa digerakkan ke arah pantat / ditarik, sedangkan kaki kanan bisa diangkat dan digerakkan.

e.       Istirahat dan tidur
Sebelum sakit pasien tidak bisa tidur siang, tidur malam dari jam 22:00 wita sampai dengan jam 06:00 wita ( 8 jam ).
Pada saat pengkajian pasien mengatakan tidur siang tidak pernah, tidur malam dari jam 22 : 00 wita sampai dengan jam 06 : 00 wita ( 8 jam ).
f.       Pengaturan suhu tubuh
Sebelum dan selama sakit pasien tidak mengalami peningkatan suhu tubuh.
g.      Kebersihan diri
Sebelum sakit pasien tidak megalami hambatan dalam menjaga kebersihan diri, pasien biasa mandi 2 x sehari memakai sabun dan dikeringkan dengan handuk, sikat gigi 2 x sehari, keramas 2 hari sekali.
Saat sakit kebersihan pasien cukup, pasien mengatakan mandi dengan menggunakan waslap 2 x sehari dan gosok gigi 2 x sehari dibantu oleh keluarganya.
h.      Rasa nyaman
Pasien mengatakan nyeri pada pinggang dan akan bertambah bila kaki digerakkan, skala nyeri 3 ( 0 – 5 ).
i.        Rasa aman
1)      Psikis
a)      Kecemasan
Pasien tidak mengeluh cemas dan kawatir tentang kondisi yang dialaminya.
b)      Keputusasaan
Pasien tidak putus asa dalam menjalani perawatan
c)      Ketakutan
Pasien tidak takut menjalani perawatan di rumah sakit
d)     Makanisme koping
Pasien hanya bisa berdoa terhadap kondisi yang dialaminya
e)      Konsep diri
(1)         Citra tubuh
Pasien mengatakan menyukai semua bagian tubuhnya, karena dengan semua itu pasien dapat melakukan aktivitasnya.
(2)         Identitas diri
Pasien mengenali dirinya sebagai anak dari bapaknya  & pasien mengatakan puas sebagai seorang laki – laki.
(3)         Peran
Pasien mengatakan perannya sebelum sakit adalah sebagai seorang buruh membantu bapaknya mencari nafkah.
(4)         Ideal diri
Pasien berharap bisa cepat sembuh agar bisa segera melakukan aktivitasnya sebagai seorang buruh dan berkumpul dengan keluarganya.
(5)         Harga diri
Pasien mengatakan tidak merasa malu dengan keadaannya seperti sekarang.
j.        Komunikasi / sosial
Pasien biasa menggunakan bahasa Bali dalam berkomunikasi, pasien biasa berkomunikasi sesama pasien dan petugas kesehatan. Hubungan antara pasien, keluarga dan petugas kesehatan cukup baik.
k.      Belajar
Pada saat pengkajian pasien mengatakan sudah diberitahu oleh dokter kalau terjadi patah tulang pada tulang belakangnya, juga sudah diberitahu tentang perawatan, pengobatan dan penyembuhannya.
l.        Prestasi
Pasien mengatakan tidak memiliki prestasi khusus.
m.    Rekreasi
Pasien mengatakan biasa nonton TV saat duduk – duduk istirahat, walaupun sekarang tidak ada TV pasien merasa tidak masalah.
n.      Ibadah
Pasien dan keluarga yakin bahwa penyakit yang dialaminya merupakan penyakit medis.
4.      Pemeriksaan fisik
a.       Keadaan umum
Keadaan umum baik, Kesadaran compos mentis ( E4 , V5 , M6 ) bangun tubuh sedang, BB 55 kg ,  TB 160 cm, turgor kulit kembali dalam 1 detik, wajah meringis saat saki.
b.      Tanda – tanda vital
Suhu 365 ° C, Nadi 88 x / menit, RR 20 x / menit, TD 110 / 80 mmHg.
c.       Keadaan fisik
1)      Kepala
Rambut hitam pendek, ketombe tidak ada, kebersihan rambut dan kepala cukup, tidak terdapat benjolan.
2)      Mata
Pergerakan simetris, konjungtiva pucat, reflek pupil ( + / + ), bentuk pupil isokor, fungsi penglihatan baik, tidak ada edema palpebra.
3)      Hidung
Bentuk simetris, tidak ada sekret, penciuman baik.
4)      Mulut
Bentuk bibir simetris, bibir tidak pucat, gusi tidak berdarah, gigi tidak ada karies, kebersihan cukup.
5)      Telinga
Bentuk simetris, serumen tidak ada, fungsi pendengaran baik.
6)      Leher
Pembesaran kelenjar thyroid tidak ada, bendungan vena jugularis tidak ada.
7)      Dada
a)      Bentuk simetris, pergerakan dada teratur dan simetris saat inspirasi dan ekspirasi, tidak ada benjolan
b)      Perkusi resonan di seluruh area paru
c)      Suara pernafasan  vesikuler,  tidak terdapat whezing dan ronchi, bunyi jantung 1 dan 2 tunggal regular,tidak ada suara tambahan,
d)     Ictus cordis teraba di linea midclavicula kiri ICS V kiri.
8)      Abdomen
Bentuk datar, bising usus 12 x / menit, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri abdomen, tidak ada pembesaran hepar, kandung kemih tidak ada distensi.
9)      Ekstremitas
Atas dan bawah simetris, oedema tidak ada, akral hangat. Kaki kiri tidak bisa diangkat, hanya bisa digerakkan ke arah pantat / ditarik, kakikanan bisa diangkat dan digerakkan. Tidak ada kesemutan pada kaki, kekuatan otot  555      555
                                 333      333
10)        Genetalia dan anus : tidak dilakukan pemeriksaan.
5.      Data penunjang
a.       Laboratorium
Tanggal 1 – 9 2007
WBC               : 13,6               10/ mm3        ( N       :  3,5 – 10        )
RBC                : 5,47               106 / uL           ( N       : 4,7 – 10,8      )
HGB               : 15,1               gr  / dl              ( N       :  11 - 16,5       )
HCT                : 42,1               %                     ( N       :  36 – 46         )
PLT                 : 223                103 / uL            ( N       : 150 – 450      )
b.      Rontgen
Tanggal 1 – 9 – 2007
Foto tulang belakang : terdapat fraktur kompresif L1 dan L5.
6.      Therapi
Tanggal 22 – 5 – 2007
1)      IVFD RL                    : 20 tetes / menit.
2)      Metil Prednisolon        : 3 x 125 mg   IV
3)      Ketorolac                    : 3 x 1 ampul  IV
4)      Cefotaxime                 : 3 x 1 gr  IV
5)      Bed rest
6)      Konsul bagian Rehabilitasi Medik.















B. Diagnosa Keperawatan

NO
DATA
MASALAH
ETIOLOGI
DIAGNOSA
KEPERAWATAN

1

















2


















DS :
Pasien mengeluh nyeri pada pinggang,nyeri bertambah bila kaki digerakkan.
Skala nyeri 3             ( 0 – 5 ).
DO :
Pasien tampak meringis.







DS:
Pasien mengatakan kaki kirinya tidak bisa diangkat, hanya bisa digerakkan ke arah pantat / ditarik.
DO :
ADL dibantu, kekuatan otot
555        555
 

333      333




Nyeri ( akut )

















Kerusakan mobilitas fisik

Syok neurogenik
Nyeri ( akut )
 



Oedem jaringan dan spasme otot
 


Fraktur L1 & L5
 


Trauma  


Defisit perawatan diri
 



Kerusakan mobilitas fisik
 



Kekuatan dan tahanan ( - )
 



Gangguan muskuloskletal
 


Fraktur




Nyeri ( akut )
berhubungan dengan oedem jaringan dan spasme otot yang di tandai dengan
pasien mengeluh nyeri pada pinggang,nyeri bertambah bila kaki digerakkan,
skala nyeri 3              ( 0 – 5 ), pasien tampak meringis.





Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan tahanan sekunder akibat fraktur yang ditandai dengan pasien mengatakan kaki kirinya tidak bisa diangkat, hanya bisa digerakkan ke arah pantat / ditarik, ADL dibantu, kekuatan otot
555   555
 

333   333 






NO
DATA
MASALAH
ETIOLOGI
DIAGNOSA
KEPERAWATAN

3









































Faktor risiko :
Fraktur L1 & L5















Risiko terhadap disfungsi neurovaskuler perifer


















Terjadi disfungsi neurovaskuler
Risiko terhadap disfungsi neurovaskuler perifer
 



Cedera neurovaskuler
 



Fraktur

























Risiko terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan adanya cedera neurovaskuler.   



















C. Perencanaan
1.      Prioritas diagnosa keperawatan
Adapun prioritas diagnosa keperawatan yang dapat disusun adalah sebagai berikut :
a.       Nyeri ( akut )
berhubungan dengan oedem jaringan dan spasme otot yang di tandai dengan pasien mengeluh nyeri pada pinggang,nyeri bertambah bila kaki digerakkan, skala nyeri 3 ( 0 – 5 ), pasien tampak meringis.
b.      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan tahanan sekunder akibat fraktur yang ditandai dengan pasien mengatakan kaki kirinya tidak bisa diangkat, hanya bisa digerakkan ke arah pantat / ditarik, ADL dibantu, kekuatan otot  555      555
                                                            333      333
c.       Risiko terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan adanya cedera neurovaskuler.








2.      Rencana perawatan
NO
Hari / Tgl / Jam
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL

1.























2

Senin,
3 – 9
2007
11:30 wita




















Senin,
3 – 9
2007
11:30 wita



Nyeri ( akut )
berhubungan dengan oedem jaringan dan spasme otot yang di tandai dengan
pasien mengeluh nyeri pada pinggang,nyeri bertambah bila kaki digerakkan,
skala nyeri 3              ( 0 – 5 ), pasien tampak meringis.











Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuatan dan tahanan sekunder akibat fraktur yang ditandai dengan pasien mengatakan kaki kirinya tidak bisa diangkat, hanya bisa digerakkan ke arah pantat / ditarik, ADL dibantu, kekuatan otot
555     555
 

333     333

Setelah diberi askep 3 x 24 jam diharapkan nyeri hilang dengan kriteria :
-       Nyeri hilang
-       Skala nyeri 0   ( 0 – 5 )
-       Pasien tampak rileks














Setelah diberi askep 3 x 24 jam
Diharapkan pasien dapat mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggidengan kriteria :
-       Kaki kiri dapat diangkat
-       Kekuatan otot 555     555
 

555     555
-       Berpartisifasi dalam

1.    Pertahankan imobolitas bagian yang sakit dengan tirah baring bed plang.
2.    Ajarkan metode diatraksi dan relaksasi.

3.    Delegatif pemberian obat analgetik sesuai indikasi yaitu Ketorolac 3 x 1 ampul IV dan Metil Prednisolon 3 x 125 mg IV.
4.    Kaji nyeri setelah dilakukan tindakan perawatan dan pemberian analgetik.


1.    Pertahankan mobilitas dengan tirah baring bed plang.
2.    Ajarkan breathing exercise.
3.    Ajarkan statis exercise.
4.    Bantu rentang gerak aktif – pasif.


5.    Bantu ADL.





1.     Mengurangi cedera neurovaskuler.


2.      Mengalihkan perhatian untuk mengurangi rasa nyeri.
3.      Mengurangi nyeri dan mengurangi edema jaringan.





4.      Mengetahui efektifitas tindakan yang diberikan.



1.      Mencegah cedera neurovaskuler lebih lanjut.

2.      Melancarkan sirkulasi.
3.      Mencegah statis extremitas bawah.
4.      Meningkatkan mobilisasi dan meningkatkan kekuatan otot.
5.      Memenuhi kebutuhan perawatan diri / ADL pasien.

NO
Hari / Tgl / Jam
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL




3.























Senin,
3 – 9
2007
11:30 wita  



















Risiko terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan adanya cedera neurovaskuler.



















pemenuhan ADL.


Setelah diberi askep 3 x 24 jam diharapkan perfusi jaringan dapat dipertahankan  dengan kriteria :
-       Nadi teraba
-       Kulit hangat / kering
-       Sensasi normal ( tidak ada kesemutan ).
-       Tanda vital stabil ( TDS 100 – 140 mmHg, Nadi 60 – 100 x / menit ).



6.    Kolaborasi dengan ahli fisioterapi.


1.    Kaji kualitas nadi perifer distal, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan.






2.    Perhatikan perubahan fungsi motorik / sensasi.







3.    Observasi nyeri tekan, pembengkakan pada kaki.





4.    Ukur vital sign.








6.     Menentukan  
      program  
      rehabilitasi.

1.      Penurunan / tidak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskuler, warna kulit putih / pucat menunjukkan gangguan arterial, sianosis diduga ada gangguan vena.
2.      Gangguan perasaan kebas, kesemutan, peningkatan / penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak adekuat / saraf rusak.
3.      Terdapat peningkatan potensial untuk tromboplebitis dan emboli paru pada pasien imobilisasi selama 5 hari / lebih.
4.      ketidak adekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan.


D. Implementasi
Hari / Tgl / Jam
NO DX
TINDAKAN PERAWATAN
EVALUASI FORMATIF
PARAF

Senin,
 3 – 9 2007
12 : 00
wita








13 : 00 wita




















14 : 00
wita


1& 2



1




1



1



2



2





2



2



3






Mempertahankan imobolitas bagian yang sakit dengan tirah baring bed plang.

Mengajarkan metode diatraksi dan relaksasi.



Memberi obat analgetik yaitu Ketorolac 1 ampul IV dan Metil Prednisolon 125 mg IV.

Mengkaji nyeri.



Mengajarkan breathing exercise.



Mengajarkan statis exercise.





Membantu rentang gerak aktif – pasif.


Kolaborasi dengan ahli fisioterapi.



Mengkaji kualitas nadi perifer distal, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan.




Pasien tirah baring dengan bed plang.


Pasien melakukan apa yang diajarkan yaitu bernafas dengan teratur, perlahan dan nafas dalam.

Obat masuk, tidak ada reaksi alergi.


Pasien mengatakan nyeri pinggang masih, skala nyeri 3    ( 0 – 5 ).

Psien dapat melakukan apa yang diajarkan yaitu bernafas dalam.

Pasien dapat melakukan apa yang diajarkan yaitu menekankan dengan kekuatan ektremitas bawah / kaki ke bawah lalu dikendorkan lagi.

Pasien dapat melakukan pergerakan pergelangan kaki ektensi, pleksi dan memutar.

Rencana dipasang ekternal fixasi ( Teller Brace ) pada pasien.

Nadi kuat, CRT 1 detik, tidak ada sianosis, kulit hangat.





TGL / JAM
NO DX
TINDAKAN PERAWATAN
EVALUASI FORMATIF
PARAF

14 : 00
wita












16 : 00
wita



18 : 00
wita

20 : 00
Wita


Selasa,
4 – 9
2007
04 : 00
wita


06 : 00
wita

11 : 00
wita






3










3


3




2


1






1



2


1



3

Memperhatikan perubahan fungsi motorik / sensasi.









Mengobservasi nyeri tekan, pembengkakan pada kaki.

Mengukur vital sign.




Membantu memberi makan dan minum.

Memberi injeksi Ketorolac 1 ampul dan  Metil  Prednisolon  125  mg IV.




Memberi injeksi Ketorolac 1 ampul dan  Metil  Prednisolon  125  mg IV.

Membantu memberi makan dan minum.

Mengkaji nyeri.



Mengkaji kualitas nadi perifer distal, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan.

“Tidak ada kesemutan pada kaki “, kaki kiri tidak bisa diangkat, hanya bisa digerakkan dan ditarik ke arah pantat, kaki kanan bisa diangkat dan ditarik kearah pantat,
kekuatan otot 555      555
                          
                       333      333

Tidak ada nyeri tekan dan pembengkakan pada kaki.

TD    110 / 80 mmHg,
Nadi  88 x / menit,
S        368 ° C,
RR     20 x / menit.

Makan 1 porsi, minum 200 cc.


Obat masuk, reaksi alergi tidak ada.





Obat masuk, reaksi alergi tidak ada.


Makan 1 porsi, minum 200 cc.


Pasien mengatakan nyeri pinggang berkurang, skala nyeri 2 ( 0 – 5 ).

Nadi kuat, CRT 1 detik, tidak ada sianosis, kulit hangat.




















TIM


TIM






TIM



TIM


Hari / Tgl / Jam
NO DX
TINDAKAN PERAWATAN
EVALUASI FORMATIF
PARAF

11 : 00
wita












11 : 15
wita








12 : 00
wita







12 : 30


16 : 00
wita



18 : 00
wita

3










3


2









3




1



2


3




2


Memperhatikan perubahan fungsi motorik / sensasi.









Mengobservasi nyeri tekan, pembengkakan pada kaki.

Melakukan breathing exercise, statis exercise dan membantu rentang gerak aktif – pasif bersama ahli fisioterapi.






Mengukur vital sign.




Memberi injeksi Ketorolac 1 ampul dan  Metil  Prednisolon  125  mg IV.

Membantu memberi makan dan minum.

Mengukur vital sign.




Membantu memberi makan dan minum.

“Tidak ada kesemutan pada kaki “, kaki kiri tidak bisa diangkat, hanya bisa digerakkan dan ditarik ke arah pantat, kaki kanan bisa diangkat dan ditarik kearah pantat,
kekuatan otot 555      555
                          
                       333      333

Tidak ada nyeri tekan dan pembengkakan pada kaki.

Pasien melakukan nafas dalam, pasien melakukan statis axercise yaitu menekankan dengan kekuatan extremitas bawah / kaki kebawah lalu dikendorkan lagi, pasien melakukan pergerakan pergelangan kaki ektensi, flexi dan memutar.

TD    110 / 80 mmHg,
Nadi  84 x / menit,
S        364 ° C,
RR     20 x / menit

Obat masuk, reaksi alergi tidak ada.


Makan 1 porsi, minum 200 cc.


TD    110 / 80 mmHg,
Nadi  84 x / menit,
S        364 ° C,
RR     20 x / menit

Makan 1 porsi, minum 200 cc.










































TIM

Hari / Tgl / Jam
NO DX
TINDAKAN PERAWATAN
EVALUASI FORMATIF
PARAF

20 : 00
Wita

Rabu,
5 – 9
2007
04 : 00
wita


06 : 00 wita






11 : 00 wita



















11 : 15 wita



1





1



3




2


1



3



3












2


Memberi injeksi Kketorolac 1 ampul dan Metil Prednisolon 125 mg IV.



Memberi  injeksi Ketorolac 1 ampul dan  Metil  Prednisolon  125  mg IV.

Mengukur vital sign.




Membantu memberi makan dan minum.

Mengkaji nyeri.



Mengkaji kualitas nadi perifer distal, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan.

Memperhatikan perubahan fungsi motorik / sensasi.








Mengobservasi nyeri tekan, pembengkakan pada kaki.

Melakukan mobilisasi rentang gerak aktif dan pasif bersama ahli fisioterapi.

Obat masuk, reaksi alergi tidak ada.




Obat masuk, reaksi alergi tidak ada.


TD    110 / 80 mmHg,
Nadi  84 x / menit,
S        366 ° C,
RR     20 x / menit

Makan 1 porsi, minum 200 cc


Pasien mengatakan nyeri pinggang hilang, skala nyeri 0  ( 0 – 5 ).

Nadi kuat, CRT 1 detik, tidak ada sianosis, kulit hangat.


“Tidak ada kesemutan pada kaki “, kaki kiri sudah bisa diangkat, dan ditarik ke arah pantat, kaki kanan bisa diangkat dan ditarik kearah pantat,
kekuatan otot 555      555
                          
                       444      444

Tidak ada nyeri tekan dan pembengkakan pada kaki.

Pasien melakukan latihan gerak pada kaki kanan dan kiri bergantian yaitu : memutar, flexi, extensi pada pergelangan

TIM





TIM



TIM




TIM


Hari / Tgl / Jam
NO DX
TINDAKAN PERAWATAN
EVALUASI FORMATIF
PARAF











12 : 00 wita










16 : 00 wita



18 : 00 wita

20 : 00 wita

Kamis,
6 – 9
2007
04 : 00 wita












3




1



2


3




2


1





1











Mengukur vital sign.




Memberi injeksi Ketorolac 1 ampul dan  Metil  Prednisolon  125  mg IV.

Membantu memberi makan dan minum.

Mengukur vital sign.




Membantu memberi makan dan minum.

Memberi injeksi Ketorolac 1 ampul dan Metil Prednisolon 125 mg IV.




Memberi  injeksi Ketorolac 1 ampul dan  Metil  Prednisolon  125  mg IV.





kaki, pada lutut flexi dan extensi, kaki diangkat bergantian, kemudian dilanjutkan latihan duduk dari posisi tidur, duduk dipinggir tempat tidur, kaki diayun – ayun, kemudian dilanjutkan pasien berdiri di sebelah tempat tidur.

TD    110 / 80 mmHg,
Nadi  84 x / menit,
S        364 ° C,
RR     20 x / menit.

Obat masuk, reaksi alergi tidak ada.


Makan 1 porsi, minum 200 cc, dilakukan sendiri.

TD    110 / 80 mmHg,
Nadi  88 x / menit,
S        364 ° C,
RR     20 x / menit.

Makan 1 porsi, minum 200 cc, dilakukan sendiri.

Obat masuk, reaksi alergi tidak ada.




Obat masuk, reaksi alergi tidak ada.

































TIM


TIM





TIM

Hari / Tgl / Jam
NO DX
TINDAKAN PERAWATAN
EVALUASI FORMATIF
PARAF

06 : 00 wita






11 : 00 wita
















11 : 15 wita


3




2


1



3



3






3


2

Mengukur vital sign.




Membantu memberi makan dan minum.

Mengkaji nyeri.



Mengkaji kualitas nadi perifer distal, aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan.

Memperhatikan perubahan fungsi motorik / sensasi.





Mengobservasi nyeri tekan, pembengkakan pada kaki.

Melakukan mobilisasi rentang gerak aktif bersama ahli fisioterapi.

TD    110 / 80 mmHg,
Nadi  88 x / menit,
S        364 ° C,
RR     20 x / menit.

Makan 1 porsi, minum 200 cc, dilakukan sendiri.

Pasien mengatakan nyeri pinggang hilang, skala nyeri 0  ( 0 – 5 ).

Nadi kuat, CRT 1 detik, tidak ada sianosis, kulit hangat.


“Tidak ada kesemutan pada kaki “, kaki kiri dan kanan bisa diangkat dan digerakkan,
kekuatan otot 555      555
                          
                       555      555

Tidak ada nyeri tekan dan pembengkakan pada kaki.

Pasien melakukan latihan gerak dari posisi tidur ke posisi duduk kemudian berdiri dan dilanjutkan berjalan. Pasien bisa berjalan dengan baik.













TIM




TIM

E. Evaluasi

TGL / JAM
NO DX
EVALUASI
PARAF

Kamis,
6 – 9
2007
11 : 00 wita

1




2












3


















S  : “ nyeri pinggang hilang “, skala nyeri 0 ( 0 – 5 ).
O : Pasien  tampak rileks.
A : Tujuan tercapai
P  : Putuskan intervensi

S  : -  
O : Kaki kiri pasien bisa diangkat,
Pasien bisa duduk, berdiri, dan berjalan dengan baik,
Pasien bisa makan dan minum sendiri,
Toileting, mandi, berpakaian dibantu keluarga,
Kekuatan otot :
                          555     555
 

                          555     555

A :  Tujuan tercapai
P  :  Putuskan intervensi

S  :  -
O :
Nadi pada kaki teraba kuat,
Kulit hangat dan kering,
Tidak ada kesemutan,
TD 110 / 80 mmHg, Nadi 88 x / menit,
A : Tujuan tercapai
P  : Putuskan intervensi





No comments: