Juniartha Semara Putra
ASUHAN
KEPERAWATAN GERONTOLOGI
GANGGUAN
FUNGSI NEUROLOGI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Gangguan Neurologi merupakan
suatu kemunduran Biologis yang terjadi secara umum dalam proses menua. Gangguan
semacam ini tidak dapat pungkiri karena semakin bertambahnya usia maka akan
terjadi penurunan pada kemamuan fisik maupun secara kognitif. Gangguan
neurologi menempati angka kematian tertinggi terutama pada Lansia. Misalnya
stroke di Amerika Serikat menempati tempat ke tiga sebagai penyebab kematian
setelah penyakit jantung koroner dan penyakit kanker tercatat setiap tahun
tercapai 500.000 Stroke baru dan 200.000 dari pada yang meninggal dunia.
Stroke merupakan penyakit yang dapat
menyerang siapapun secara mendadak sehingga dapat mengakibatkan kehilangan
kemampuan. Secara umum stroke akan meningkatkan berbagai macam gangguan fungsi
organ-organ tubuh baik langsung maupun tidak langsung.
Parkinson merupakan gangguan
neurologi progresif yang mengenai pusat otak yang bertanggung jawab untuk
mengontrol dan mengatur gerakan, selain penyakit stroke penyakit parkinson juga
terjadi di seluruh dunia pada semua ras dan kelompok etnis. Dari populasi yang
diteliti mengindikasikan insiden sekitar 130/100.000 standar populasi. Gangguan
ini sangat jarang pada individu usia dibawah 40 tahun dan usia rata-rata adalah
60 tahun. Prevalensi dari penyakit Parkinson meningkat sesuai dengan usia dan
statistic membuktikan bahwa penyakit ini mengarah penyebab penyakit
neurologispada individu yang berusia lebih dari 60 tahun. Sekitar 10% - 15%
dari penyakit Parkinson berkembang menjadi amnesia.
Pencegahan dan gangguan neurology
ini merupakan salah satu tujuan dari Program Kesehatan. Pengenalan faktor
resiko serta tindakan untuk menghilangkan atau menurunkan berbagai akibat yang
ditimbulkannya merupakan upaya untuk menurunkan tingkat kesakitan dan kematian
akibat gangguan neurology.
Peran perawat secara umum untuk
melakukan tindakan keperawatan professional harus melakukan proses Asuhan
Keperawatan yang meliputi pengkajian yang terjadi dari anamnese-observasi,
pemeriksaan fisik status neurology dari data penunjang untuk menentukan rencana
tindakan yang akan diberikan kepada klien.
1.2. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
-
Memperoleh
gambaran pelaksanaan tentang Asuhan Keperawatan dengan klien gangguan neurologi
Tujuan Khusus
-
Mampu
melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan neurology.
-
Mampu
menentukan masalah keperawatan pada klien dengan gangguan neurologi.
-
Mampu
merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan gangguan neurologi.
-
Mampu
melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan gangguan neurologi.
-
Mampu
mengevaluasi tindakan keperawatan pada klien dengan gangguan neurologi.
1.3. Metode Penulisan
Metode
penulisan yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode deskritif.
Metode ini menggunakan cara pengumpulan data, menganalisa data dan menarik
kesimpulan dan kemudian disesuaikan dalam bentuk narasi. Adapun langkah yang
digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah studi kepustakaan.
1.4.
Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini
berisi tentang latar belakang, tujuan khusus dan tujuan umum, metode penulisan
dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Teori
Pada bab ini
berisi tentang anatomi dan fisiologi serta pemeriksaan neurology.
BAB III KONSEP DASAR PENYAKIT
Pada bab ini
berisi konsep dasar penyakit yaitu stroke dan Parkinson’s.
BAB IV PENUTUP
Pada bab ini
berisi kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1.
ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM SYARAF
Sistem
persarafan terdiri dari otak medula spinalis dan saraf perifer
struktur-struktur ini bertanggung jawab untuk control dan koordinasi aktivitasi
sel tubuh melalui inpuls-inpuls elektrik.
OTAK
Otak dibagi menjadi tiga bagian besar :
serebrum, batang otak dan serebelum. Semua berada dalam satu bagian struktur
tulang yang disebut tengkorak, yang juga melindungi otak dari cedera. Otak
manusia mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh, mengkonsumsi 25% oksigen, dan
menerima 1,5% curah jantung. Empat tulang yang berhubungan membentuk tulang
tengkorak : tulang frontal, parietal, temporal dan oksipital. Pada dasar
tengkorak terdiri dari 3 bagian fossa-fossa. Bagian fossa anterior berisi lobus
frontal serebral bagian hemisfer. Bagian tengah fossa berisi lobus parietal,
temporal dan oksipital dan bagian fossa posterior berisi batang otak dan
medulla.
MENINGEN
Meningen
atau lapisan pelindung otak terdiri dari plameter, lapisan arahmoid dan dura
meter.
a. Pia Meter adalah lapisan terdalam yang
halus dan tipis, serta melekat erat pada otak lapisan ini mengandung banyak
pembuluh darah untuk mensuplai jaringan otak.
b. Lapisan araknoid (tengah) terletak
dibagian eksternal pia meter dan mengandung sedikit pembuluh darah.
·
Ruang
subaraktoid memisahkan laposan araknoid dari piameter dan mengandung cairan
serebrospinal. Pembuluh darah, serta jaringan penghubung seperti selaput yang
mempertahankan posisi araknoid, serta jaringan penghubung seperti selaput yang
mempertahankan posisi araknoid terhadap piamater di bawahnya.
·
Berkas
kecil jaringan araknoid, viliaraknoid, menonjol ke dalam sinus vena (dural)
durameter.
c.
Duramater lapisan terluar, adalah lapisan yang tebal
dan terdiri dari dua lapisan
·
Lapisan
periosteal luas pada dura mater melekat di permukaan dalam kranium dan berperan
sebagai periosteum dalam pada tulang tengkorak.
·
Lapisan
meningeal dalam pada dura mater tertanam sampai ke dalam fisura otak dan
terlipat kembali ke arahnya untuk membentuk bagian falks serebrum, falks
serebrum, tentorium serebrum dan sela diafragma.
·
Ruang subdural memisahkan dura mater dari
araknoid pada regia krarial dan medula spinalis.
·
Ruangepidural adalah ruang potensial antara
periorteal luar dan lapisan meningeal dalam pada dura mater di regia
medula spinalis.
SEREBRUM
Serebrum terdiri dari 2 hemisfer
dan 4 lobus subtansia grisea terdapat pada bagian luar dinding serebrum dan
substansia alba menutupi dinding serebrum bagian dalam. Sebagian besar hemisfer serebri berisi jaringan
sistem saraf pusat (SSP) Keempat Lobus serebrum adalah :
* Frontal –
Lobus terbesar : terletak pada fossa
anterior. Area ini mengontrol perilaku individu, membuat keputusan, kepribadian
dan menahan diri.
* Parietal
- Lobus sensori. Area ini
menginterprestasikan sensasi. Sensasi rasa yang tidak berpengaruh adalah bau.
Lobus parietal mengatur individu mampu mengetahui posisi dan letak bagian
tubuhnya.
* Temporal
- Berfungsi menginterprestasikan
sensasi kecap, bau dan pendengaran, ingatan jangka pendek sangat berhubungan
dengan daerah ini.
* Oksipital
- Terletak pada lobus posterior
hemisfer serebri. Bagian ini
bertanggung jawab menginterprestasikan penglihatan.
DIENSEFALON
o Talamus
terdapat pada sisi inferior thalamus dan membentuk dasar serta bagian bawah
sisi dinding ventrikel ketiga. Hipotalamus berfungsi dalam :
-
Pengendali aktifitas SSO seperti pengetahuan frekuensi
jantung, TD, suhu tubuh.
-
Pusat
otak untuk emosi seperti kesenangan, nyeri, gembira, marah
-
Memproduksi hormone.
o Kelenjar hipofisis dianggap sebagai master
kelenjar karena sejulah hormone-normon dan funbgsinya diatur oleh kelenjar ini.
Dengan hormone ini dapat mengontrol fungsi ginjal,pancreas dan
organ-organ reproduksi, tiroid, korteks adrenal dan organ lain.
BATANG
OTAK
Terletak pada fossa anterior dan
terdiri dari otak tengah, pons dan medulla oblongata. Otak tengah menghubungkan
pons dan serebelum dengan hemisfer serebrum. Bagian ini berisi jalur dan
motorik dan sebagai pusat refleks pendegaran dan penglihatan. Pons terletak di
depan serebelum antara otak tengah dan medulla dan meerupakan jembatan antara
dua bagian serebelum, dan juga antara medulla dan serebrum. Pons berisi jaras
sensorik dan motorik. Medulla oblongata meneruskan serabut-serabut motorik dari
otak ke medulla spinalis dan serabut-serabut motorik dari otak ke medulla
spinalis dan serabut sensorik tersebut menyilang pada daerah ini.
SEREBELUM
Terletak di sisi inferior pons
dan merupakan bagian terbesar kedua dari otak terdiri dari bagian sentral
terkonstriksi, vermis, dan dua massa lateral, hemisfer serebelar. Serebelum bertanggung jawab untuk
mengkoordinasi dan mengendalikan ketepatan gerakan otot dengan baik. Bagian ini
memastikan bahwa gerakan yang diletuskan di suatu tempat di SSP berlangsung
dengan halus bukannya mendadak dan tidak terkoordinasi. Serebelum juga
berfungsi untuk mempertahankan postur. Bagian ini membantu mempertahankan
ekuilibrium tubuh. Informasi sensorik dari telinga dalam dibawa ke lobus
serebelum.
MEDULA SPINALIS
Korda
jaringan otak yang terbungkus dalam kolumna vertebrata yang memanjang dari
medulla batang otak sampai ke area vertebrata lumbal pertama disebut medulla
spinalis. Berfungsi mengendalikan berbagai aktifitas refleks dalam tubuh. Dan
menstransmisi impuls ke dan dari otak melalui traktus asenden dan desenden.
Saraf-saraf
spinal. Medulla spinalis tersusun dari 33 segmen yaitu 7 segmen servikal, 12
torakal, 5 lumbal, 5 sakral dan 5 segmen koksigius. Medulla spinalis mempunyai
31 pasang saraf spinal.
Traktur spinalis
adalah substansi putih korda yang terdiri dari akson termielinisasi, dibagi
menjadi funikulus anterior, posterior dan leteral. Dalam funikulus, atau
traktus.
1.
Traktus sensorik atau asenden membawa informasi dari
tubuh ke otak.
- Fasikulus grasilis dan fasikulus kuneatus.
Fungsi : menyampaikan informasi mengenai
sentuhan, tekanan,
vibrasi, posisi tubuh, dan gerakan sendi dari kulit,
persendian, dan tendon otot.
- Traktus spinoserebelar ventral (anterior)
Fungsi : membawa
informasi mengenai propriosepsi bawah sadar (kesadaran akan posisi tubuh,
keseimbangan, dan arah gerakan).
- Traktus spinoserebelar dossal (posterior)
Fungsi : membawa
informasi mengenai propriosepsi bawah sadar (kesadaran akan posisi tubuh, keseimbangan,
dan arah gerakan).
- Traktus spinotalamik ventral (anterior)
Fungsi : membawa
informasi mengenai sentuhan, suhu dan nyeri.
2. Traktus Motorik (desenden), membawa impuls
motorik dari otak ke medulla spinalis dan saraf spinal menuju tubuh.
- Traktus kortikospinal lateral (piromidal)
Fungsi : menghantar
impuls untuk koordinasi dan ketepatan gerakan volunteer.
- Traktus kortikospinal (piromidal) ventral (anterior)
Fungsi : menghantar impuls untuk koordinasi dam ketepatan
gerakan volunteer.
- Traktus ekstrapiramidal. Serabut
dalam sistem ini berasal dari pusat lain; misalnya nuclei motorik dalam
korteks serebral dan area subkortikal di otak.
SISTEM
SARAF PERIFER
A.
Saraf Kranial
1.
Saraf Olfaktori ( CN I )
2.
Saraf Optik ( CN II )
3.
Saraf Okulomotor ( CN III)
4.
Saraf Troklear € CN IV )
5.
Saraf Trigeminal ( CN V)
6.
Saraf Abdusen ( CN VI )
7.
Saraf Fasial ( CN VII )
8.
Saraf Vestikbulokoklear ( CN VIII )
9.
Saraf Glosafaringeal ( CN IX)
10. Saraf
Vagus ( CN X)
11. Saraf
Aksesori Spinal ( CN XI )
12. Saraf
Hipoglosal ( CN XII )
B.
Saraf Spinal
a. Saraf Servikal (8 pasang), C1 sampai C8
b. Saraf Toraks (12 pasang), T1 sampai T12
c.
Saraf Lumbal (5 pasang), L1 sampai L5
d.
Saraf Sacral (5 pasang), S1 sampai S5
e.
Saraf Koksiks (satu pasang).
2.2. PEMERIKSAAN NEUROLOGIK
Pemeriksaan neurologik dibagi menjadi 5 komponen, yaitu :
fungsi serebral, saraf-saraf kronial, sistem motorik, sistem sensorik dan
status refleks.
A.
FUNGSI SEREBRAL
Serebral yang tidak normal dapat
menyebabkan ganguan pada komunikasi, fungsi intelektual, dan dalam pola tingkah
laku emosional.
§
Status Mental
Dengan melakukan pengkajian terhadap penampilan pasien
dan tingkah lakunya, dengan melihat tata berpakaian pasien, kerapihan,
kebersihan diri, postur, sikap, gerakan tubuh, ekspresi wajah, aktifitas
motorik, gaya bicara dan tingkat kesadaran.
§
Fungsi Intelektual
Pengkaji
menentukan apakah pasien diorientasikan pada waktu, tempat dan orang. Apakah
pasien mengetahui hari apa hari ini? Apakah pasien mengetahui siapa yang
mengkaji dan apa tujuan ia berada di ruangan ?
Orang yang
mempunyai IQ rata-rata mampu mengulang tujuh angka tanpa terputus-putus dan
mampu untuk mengatakan kembali 5 angka ke belakang.
§
Daya Pikir
Mengkaji
kemampuan berpikir klien sangat penting selama melaksanakan kegiatan wawancara.
Apakah pikiran klien bersifat spontan, alamiah, jernih, relevan dan masuk akal
? Apakah klien mempunyai kesulitan berpikir.
§
Status Emosional
Apakah
tingkah laku klien datar, pemarah, cemas, apatis ? Apakah alam perasaannya
berubah-ubah secara normal atau iramanya tidak dapat diduga dari gembira sedih
selama wawancara ?
§
Persepsi
Agnosia adalah ketidakmampuan menginteprestasikan atau
mengenal benda yang dilihat dengan menggunakan perasaan yang special.
§
Kemampuan Motorik
Pengkajian
terhadap integrasi motor kortikal dapat terlihat jelas dengan memerintahkan
klien untuk melakukan aktifitas yang berhubungan dengan keterampilan.
B.
GLASGOW COMA SCALE
Eye : Spontan 4
Dengan perintah 3
Dengan
nyeri 2
Tidak
berespon 1
Motorik: Dengan
perintah 6
Melokalisasikan
nyeri 5
Menarik
area yang nyeri 4
Fleksi
abnormal 3
Ekstensi
2
Tidak
berespon 1
Verbal: Berorientasi 5
Bicara
membingungkan 4
Kata-kata
yang tidak tepat 3
Suara
tidak dapat dimengerti 2
Tidak
ada respon 1
C. PEMERIKSAAN REFLEKS
Derajat Refleks
Hiperaktif
dengan klonus terus-menerus = + 4
Hiperaktif =
+ 3
Normal = + 2
Hipoaktif = + 1
Tidak ada refleks = 0
Refleks Patologis
a.
Refleks Bisep
-
Refleks bisep di dapat melalui peregangan tendon bisep
pada saat siku dalam keadaan fleksi.orang yang menguji menyokong lengan bawah
dengan 1 tangan sambil menempatkan jari telunjuk dengan menggunakan palu
refleks.
b.
Refleks Triseps
-
Untuk menimbulkan refleks triseps, lengan K
difleksikan pada siku dan diposisikan di depan dada. Pemeriksaan menyokong
lengan K dan mengidentifikasikan tendon triseps dengan mempalpasi 215-5cm di
atas siku. Pemukulan langsung pada
tendon normalnya menyebabkan konstraksi otot triseps dan ekstensi siku.
c.
Refleks Brakhioradialis
-
Pada saat pengkajian refleks Brakhioradialis,
penguji meletakkan lengan K di atas meja lab atau disilangkan di atas perut. Ketukan palu dengan lembut 2.5-5 cm di
atas siku. Pengkajian dilakukan dengan lengan dalam keadaan fleksi dan
supinasi.
d.
Refleks Patella
-
Refleks
patella di timbulkan dengan cara mengetok tendon patella tepat di bawah
partela. K dalam keadaan duduk atau tidur terlentang. Jika K terlentang,
pengkaji menyokong kaki untuk memudahkan relaksasi otot. Konstraksi
guadrisep dan ekstensi lutut adalah respon normal.
e.
Refleks Ankle
-
Buat pergelangan kaki dalam keadaan rileks, kaki
dalam keadaan dorsi fleksi pada pergelangan kaki dan palu di ketok pada bagian
tendon achiles refleks normal yang muncul adalah fleksi pada bagian plantar.
Jika penguji tidak dapat menimbulkan refleks pergelangan kaki dan kemungkinan
tidak dapat rileks, K diinstruksikan untuk berlutut pada sebuah kursi atau
tinggi sama dengan penguji. Tempatkan
pergelangan kaki dengan posisi dorso fleksi dan kurangi tegangan otot
gastroknemius. Tendon achiles digores menurun dan terjadi fleksi plantar. Bila
terjadi refleks yang sangat hiperaktif maka keadaan ini disebut klonus. Klonus
yang terus-menerus indikasi adanya penyakit SSP dan membutuhkan evaluasi
dokter.
f.
Refleks Kontraksi Abdominal
-
Refleks superficial yang ada ditimbulkan oleh goresan
pada kulit dinding abdomen atau pada sisi paha untuk pria. Hasil yang didapat
adalah konstraksi yang tidak disadari otot abdomen dan selanjutnya menyebabkan
skotrum tertarik.
Refleks Non – patologis
a.
Refleks Babinsky
-
Refleks yang diketahui jelas, sebagai indikasi adanya
penyakit SSP yang mempengaruhi traktus kortikospinal, disebut respon Babinsky. Bila bagian lateral telapak kaki seseorang
dengan SSP utuh digores, maka terjadi kontraksi jari kaki dan menarik
bersama-sama. Pada K yang mengalami penyakit SSP pada sistem motorik, jari-jari
kaki menyebar dan menjauhi. Keadaan ini normal pada bayi tetapi bila ada
pada orang dewasa keadaan ini abnormal.
b.
Kaku kuduk
c.
Refleks kernik ; flexi lutut 90O
d.
Refleks brudzinski I
e.
Refleks brudzinski II : flexi lutut 135O
f. Refleks Laseque II : flexi lutut 60-70O
D.
PEMERIKSAAN TONUS OTAK
a.
Nervus I (olfaktorius)
-
Fungsi : sensasi terhadap bau-bauan
-
Pemeriksaan klinis :
·
Dengan mata tertutup diperintahkan
mengidentifikasi bau yang sudah di kenal (kopi, tembakau). Masing-masing lubang
hidung diuji secara terpisah.
b.
Nervus II (optikus)
-
Fungsi : ketajaman penglihatan
-
Pemeriksaan Klinis:
·
Pemeriksaan
dengan kartu Sneilen, lapang pandang, pemeriksaan oftal maskopi
c. Nervus III (okulomotorius), Nervus IV
(thoklear), Nervus V, Nervus VI (abdusen)
-
Fungsi
: fungsi saraf cranial IV dan VI dalam pengaturan gerakan-gerakan mata. N III
tarut dalam pengaturan gerakan kelopak mata, konstriksi otot pada pupil dan
otot siliaris dengan mengontrol akomodasi pupil.
-
Pemeriksaan klinis :
·
Kaji
rotasi ocular, menkonjugasikan gerakan nistagmus. Kaji refleks pupil dan
periksa kelopak mata terhadap adanya ptosis.
d.
Nervus V (trigeminus)
-
Fungsi
: sensasi pada wajah, refleks kornea, mengunyah.
-
Pemeriksaan klinis :
·
Anjurkan
K menutup kedua mata. Sentuhkan kapas pada dahi,pipi dan dagu. Bandingkan kedua
sisi yang berlawanan. Sensitivitas terhadap nyeri daerah permukaan dahi yang
menggunakan benda runcing dan diakhiri dengan spatel lidah yang tumpul secara
bergantian. Catat masing-masing gerakan dari tusukan benda tajam dan tumpul.
Jika responnya tidak sesuai uji, sensahi suhu dengan tabung kecil yang berisi
air panas atau dingin dan gunakan saling bergantian.
·
Pada
saat pasien melihat ke atas, lakukan sentuhan ringan dengan sebuah gumpalan
kapas kecil di daerah temporal masing-masing kornea. Bila terjadi kedipan mata
keluarnya air mata adalah merupakan respon yang normal.
·
Pegang
daerah rahang dan rasakan gerakan dari sisi ke sisi palpasi otot maseter dan
temporal, apakah kekuatannya sama atau tidak ada.
e.
Nervus VII (fasial)
-
Fungsi : gerakan otot wajah, ekspresi wajah, sekresi
air mata dan ludah, rasa kecap 2/3 anterior lidah.
-
Pemeriksaan klinis :
·
Observasi simetris gerakan wajah saa tersenyum,
bersiul, mengangkat alis, mengerutkan dahi saat menutup mata rapat-rapat (juga
saat membuka mata). Observasi apakah wajah paralysis flaksid (lipatan dangkal
nasolabial).
·
K
mengekstensikan lidah, kemampuan lidah membedakan rasa gula dan garam.
f.
Nervus VIII (vestiboluklear)
-
Fungsi : keseimbangan dan pendengaran
-
Pemeriksaan klinis :
·
Uji
bisikan suara dan bunyi detak jam. Uji untuk lateralisasi (weber). Uji untuk
konduksi udara dan tulang (rinne)
g.
Nervus IX (glosofaringeus)
-
Fungsi
: rasa kecap 1/3 lidah bagian posterior
-
Pemeriksaan klinis :
·
Kaji
kemampuan K untuk membedakan rasa gula dan garam 1/3 lidah posterior.
h.
Nervus X (vagus)
-
Fungsi
: kontraksi faring, gerakan simetris dari pita suara, gerakan simetris palatum
mole, gerakan dan sekresi visera torakal daan abdominal.
-
Pemeriksaan klinis :
·
Tekan spatel lidah pada lidah posterior, atau
menstimulasi faring posterior untuk menimbulkan refleks menelan.
·
Adanya suara serak.
·
Minta pasien mengatakan “ah”. Observasi terhadap
peninggian ovula simetris dan palatum mole.
i.
Nervus XI (aksesoris spinal)
-
Fungsi
: gerakan otot stemokleidomastoid dan trapezius
-
Pemeriksaan klinis :
·
Palpasi dan catat kekuatan otot trapezius pada K
saat mengangkat bahu sambil dilakukan penekanan. Palpasi dan catat kekuatan
otot sternokleidomastoid K saat memutar kepala sambil dilakukan penanganan
dengan tangan penguji ke arah yang berlawanan.
j.
Nervus XII (hipoglosus)
-
Fungsi : gerakan lidah
-
Pemeriksaan klinis :
·
Bila
K menjulurkan lidah keluar, terhadap deviasi atau tremor. Kekuatan lidah
menguji dengan cara K menjulurkan lidah dan menggerakkan ke kiri atau kanan
sambil di beri tahanan.
E.
PEMERIKSAAN SENSORIK
-
Sensasi Taktil
-
Sensasi nyeri dan Suhu
-
Vibrasi dan propriosepsi
-
Merasakan Posisi
-
Integrasi Sensasi
2.3. PERTIMBANGAN GERONTOLOGIK
Sistem saraf pada lansia mengalami banyak perubahan
dari normal menuju proses penuaan dan lebih ekstreem lagi lebih rentan terhadap
penyakit sistemik umum.
·
Perubahan
Struktural. Lansia sering mengalami bentuk tubuh menjadi fleksi dan
memperlihatkan kekuatan otot, tresmon dan lambat dalam bergerak.
·
Perubahan Sensori. Isolasi sensori karena
berkurangnya penglihatan dan pendengaran menyebabkan konfusi, cemas,
disorientasi, salah inteprestasi dan perasaan yang tidak adekuat.
·
Regulasi
suhu dan persepsi nyeri. Manifestasi lain pada perubahan nerologik
dihubungkan dengan pengaturan suhu dan kemampuan untuk merasa nyeri.
·
Perubahan penghidu dan pengecap. Ketajaman
sensasi rasa pada pucuk pengecap menurun dengan pertambahan usia bersamaan
dengan perubahan sensasi olfaktorius yang menyebabkan penurunan nafsu makan.
·
Perubahan
visual dan taktil. Pernurunan sensasi raba pada benda yang tumpul.
·
Status mental. Meliputi dementia, delirium dan
depresi.
2.4.
PENUAAN SISTEM NEUROLOGIS
A.
Perubahan structural
·
lansia
sering mengalami bentuk tubuh fleksi dan memperlihatkan kekakuan otot,tremor
dan lambt dalam brgerak. Perubahan struktur yang terjadi diantarnya adalah
penurunan jumlah otak dan sinaps. Hilangnya neuron terjadi pada lapisan
tertentu dan bagian otak ,tetapi tidak selalu menyeluruh mengenai SSP.
Hilangnya memori,terutama kejadian baru dan reaksi berulang yang lambat dapat
mengganggu individu lansia dan mereka juga mengalami kesulitan memilih beberapa
respon padam satu situasikecuali diberi waktu yang cukup untuk mencapai
keputusan.
·
Struktur
dan fungsi system syaraf berubah dengan bertambahnya usia yang tidak bias
diganti. Terjadi penurunan sintesis dan metabolisme neurotransmitter utama.
Impuls saraf dihantarkan lebih lambat sehingga lansia memerlukan waktu yang
lebih lama untuk merespon dan bereaksi. Kinirja Sistem Saraf autonm berkurang
efisiensinya dan hipotensi postural yang menyebabkan seseorang merasa pusing.
tekanan darah sistolik meningkat disebabkan karena kelenturan dandang pembuluh
darah yang berkurang seirang dengan bertambahnya usia.
·
Selain itu perubahan structural meliputi
dilatasi ventrikel,atrofi otak dan meningkatnya variailitas ukuran otak:
- penurunan berat otak 10-20 %
- reduksi dari jumlah fungsi neuron
- peningkatan jumlah flak senile dan penyusutan neurofibril
- akumulasi dari limfofusin
B.
Perubahan synaptic
·
Perubahan synaptic meliputi kehilagan dendrite
dan dendritik pada beberapa sel dan peningkatan jumlah dendrite didalam sel
lainnya. Perubahan ini dapat mempengaruhi dalam pembebasan neurotransmitter
kimia sehingga mempengaruhi dalam pembentukan dopamine dan menyebabkan
perubahan transmisi antara sel syaraf dan otot berkurang.
·
Perubahan yang terjadi pada system saraf autonom
berpengaruh terhadap kontraksi otot-otot yang tidak dibawah control kesadaran.
Saraf simpatis yang bagiannya terdiri dari norepinefrin dan asetilkoli
dipercaya sebagai pemicu dalam penekanan alam perasaan dan mempengaruhimdalam
kekaauan pergerakan seperti pada penyakit Parkinson.
PENGARUH
TERHADAP LANSIA:
a.
Fisik :
Ø lansia akan mengalami kesulitan dalam
memulai suatu pergerakan dan terjadi kekakuan otot
Ø sikap tubuhnya menjadi bungkuk dan sulit
mempertahankan keseimbangan sehingga cenderung mudah jatuh kedepan atau
kebelakang
Ø wajah penderita menjadi kurang ekspresif
karena otot-otot wajah untuk membentuk ekspresi tidak bergerak
b.
Fungsi tubuh;
Ø
kekakuan dan imobilitas bias menyebabkan sakit
otot dan kelelahan
Ø
lansia sering ersedak karena kekakuan pada otot
wajahbdan tenggorokan menyebabkan kesulitan menelan
Ø
hilannnya pengendalian terhada kandung kemih
Ø
penglihatan ganda
Ø
terjadi edema atau pembengkakan otak
c.
Persepsi-sensori
Ø
hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran
Ø
penglihatan ganda
Ø hilangnya rasa atau adanya ensasi abnormal
pada salah satu sisi wajah
d.
Psikososial
Ø
stress emosional atau kelelahan
Ø
depresi atau ketidakmampuan untuk mengendalikan
emosi
e.
Bahasa dan bicara
Ø sulit memikirkan atau mengucpkan kata-kata
yang tepat
Ø lansia berbicara sangat pelan tanpa aksen
dan menjadi gagap karena mengalami kesulitan dalam mengartikulasikan
pikirannya.
f.
Memori
Ø
Masalah umum pada lansia meliouti meluoakan nama
benda dan lemah dalam percakapan atau peristiwa baru. Memotri jangka pendek mungkin menurun seirang
dengan usia tetapi daya ingat jangka panjang sering dipertahankan. Kerusakan
memori seperti gejala pelupa mungkin disebabkan sindrom amnesia.
g.
Kognitif
Ø Penurunan kognitif sangat rendah dalam
proses penuaan yang normal. Ketrampilan kognitif dapat dikategorikan sebagai
ketrampilan intelektual dan dasar ketrampilan psikomotor.
2.5.
MASALAH-MASALAH PADA LANSIA
A.
EPILEPSI
Adalah suatu penyakit yang ditandai dengan
kecenderungan untuk mengalami kejan berulang.
Gejala
:
-
Kejang parsial simplex dimulai dengan muatan listrik di
bagian otak tertentu dan muatan ini tetap terbatas di daerah tersebut.
-
Penderita
mengalami sensasi. Gerakan atau kelainan psikis yang abnormal, tergatung kepada
daerah otak yang terkena. Jika terjadi di bagian otak yang mengendalikan
gerakan otot lengan kanan akan bergoyang dan mengalami sentakan : jika terjadi
pada lobus temporalis anterior sebelah dalam, maka penderita akan mencium bau
yang sangat menyenangkan atau sangat tidak menyenangkan.
-
Pada
penderita yang mengalami kelainan psikis bisa mengalami déjà vu (merasa pernah
mengalami keadaan sekarang di masa lalu).
Penyebab
:
-
Tumor,
infeksi atau kadar gula maupun natrium yang abmormal.
Pencegahan
-
Jika penyebabnya adalah tumor, infeksi atau
kadar gula maupun natrium yang abnormal, maka keadaan tersebut harus diobati
terlebih dahulu. Jika keadaan
tersebut sudah teratasi, maka kejangnya sendiri tidak memerlukan pengobatan.
-
Jika
penyebabnya tidak dapat disembuhkan atau dikendalikan secara total, maka
diperlukan obat anti kejang untuk mencegah terjadinya kejang lanjutan.
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati
kejang.
|
Obat
|
Jenis
Epilepsi
|
Efek samping yang mungkin terjadi
|
|
Karbamazepin
Etoksimid
Gabofentin
Lamotrigin
Fenobarbital
Fenitoin
Primidon
Valproat
|
Generalisata pansial
Petit mal
Parsial
Generalisata, parsial
Generalisata,
parsial
Generalisata,
parsial
Generalisata,
parsial
Kejang
infantile, petit mal
|
Jumlah sel darah putih dan sel darah berkurang.
Jumlah sel darah putih dan darah merah
berkurang.
Terang
Ruam kulit
Terang
Pembengkakan gusi
Terang
Penambahan berat badan, rambut rontok.
|
B.
TREMOR
Adalah suatu gerakan gemetar yang berirama
dan tidak terkendali, yang terjadi otot berkontraksi dan bereleksasi secara
berulang-ulang.
Penyebab:
-
Tremor
terjadi karena adanya gangguan pada persarafan yang menuju ke otot yang
terkena.
Gejala:
Tremor bisa timbul sekali-sekali, untuk
sementara waktu atau hilang timbul: dengan kecepatan sekitar 6-10 tremor /
detik. Tremor bisa terjadi pada otot kepala, tangan, lengan, kelopak mata dan
otot lainnya; tetapi jarang mengenai bagian bawah tubuh. Bisa juga terjadi pada salah satu maupun kedua
sisi tubuh.
Pengobatan:
Jika sifatnya ringan dan tidak menganggu
sehari-hari, biasanya tidak diperlukan pengobatan.
Obat-obat yang bisa mengurangi tremor
adalah propanolol, misolin, dan anti kejang lainnya, seperti obat penenang yang
ringan.
C.
DELIRIUM
Adalah
keadaan yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana
penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan
menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berpikir secara
jernih.
Penyebab
:
-
Alkohol, obat-obatan dan bahan beracun.
-
Efek toksik dari pengobatan
-
Kadar
elektrolit, garam dan mineral (misalnya kalsium, natrium atau magnesium) yang
tidak normal akibat pengobatan, dehidrasi atau penyakit tertentu.
-
Infeksi akut disertai demam.
-
Hidrosefalus bertekanan normal: yaitu suatu keadaan
dimana cairan yang membantali otak tidak diserap sebagaimana mestinya.
-
Hematoma subdural
-
Meningtis, ensefalitis, sifilis
-
Kekurangan vitamin B 12
-
Hipotiroidisme
-
Tumor otak
-
Stroke
Gejala:
Penderita tidak mampu memusatkan
perhatian, tidak dapat berkonsentrasi, tidak dapat mengingat peristiwa yang
baru saja terjadi. Mengalami disorientasi waktu, dan bingung dengan tempat
dimana ia berada. Pikiran kacau, mengigau dan terjadi inkoherensia.
Pengobatan:
Pengobatan
tergantung pada penyebabnya:
-
Infeksi diatasi dengan antibiotic
-
Demam diatasi dengan obat penurun panas.
-
Kelainan
kadar garam dan mineral dalam darah diatasi dengan pengaturan kadar cairan dan
garam dalam darah.
Untuk meringankan agitasi diberikan
obat-obat benzodiazepine (misalnya diazepam, triazolam, dan temazepam). Obat
anti-psikosa (misalnya haloperidol, trioridazin danklorpromazin) biasanya
diberikan hanya kepada penderita yang mengalami paranoid atau sangat ketakutan
atau penderita yang tidak dapat ditenangkan denagn benzodiazepine. Jika
penyebabnya adalah alcohol, diberikan benzodiazepine sampai masa agitasi
penderita hilang.
D.
DIMENSIA
Adalah
penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembanmg secara perlahan, dimana
terjadi gangguan ingatan, pikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian,
dan bisa terjadi kemunduran kepribadian.
Penyebab:
-
Penyakit Alzheiner
-
Serangan stroke yang berturut-turut
-
Penyakit Parkinson
-
AIDS
Gejala
:
-
Terjadi
penurunan dalam ingatan, kemampuan untuk mengingat waktu untuk mengenali orang,
tempat dan benda.
-
Penderita
memiliki kesulitan dalam menemukan dan menggunakan kata yang tepat dan dalam
pemikiran abstrak.
-
Sering terjadi perubahan kepribadian.
-
Dimensia karena penyakit Alzheimer, gejala awalnya:
lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi, depresi, ketakutan,
kekecewaan,penurunan emosi.
Pengobatan:
-
Obat
takrin membantu penderita dengan penyakit Alzheirmer
-
Jika
hilangnya ingatan disebabkan oleh depresi, diberikan obat anti – depresi.
-
Obat
anti – psikotik efektif diberikan kepada penderita yang mengalami halusinasi
atau paranoia.
E. DISTONIA
Adalah kelainan gerakan dimana konstraksi
otot yang terus-menerus menyebabkan gerakan berputar dan berulang atau
menyebabkan sikap tubuh yang abnormal.
Penyebab:
Adanya kelainan di beberapa daerah di otak
(ganglia basalis, thalamus, korteks serebri).
Diduga terdapat kerusakan pada kemampuan
tubuh untuk mengolah sekumpulan bahan kimia yang disebut neurotransmitter, yang
membantu sel-sel di dalam otak untuk berkomunikasi satu sama lain.
Gejala distonik bisa disebabkan oleh :
-
Cedera
ketika lahir (terutama karena kekurangan oksigen)
-
Infeksi tertentu
-
Reaksi
terhadap obat tertentu, logam berat atau keracunan monoksida.
-
Trauma
-
Stroke
Gejala:
-
Gejala awal adalah kemunduran dalam menulis, keram
kaki, dan kecenderungan tertariknya satu kaki ke atas atau kecenderungan
menyeret kaki setelah berjalan atau berlari pada jarak tertentu.
-
Leher
berputar atau tertarik di luar kesadaran penderita, terutama ketika penderita
merasa lelah.
-
Tremor dan kesulitan berbicara atau mengeluarkan suara.
Klasifikasi
Distonia:
1. Distonia Generalisata, mengenai sebagian
besar atau seluruh tubuh.
2.
Distonia fokal, terbatas pada bagian tubuh tertentu.
3. Distonia Multifokal, mengenai 2 atau lebih
bagian tubuh yang tidak berhubungan.
4. Distonia Segmental, mengenai 2 atau lebih
bagian tubuh yang berdekatan.
5. Hemidistonia, melibatkan lengan dan
tungkai pada sisi tubuh yang sama, seringkali merupakan akibat dari stroke.
Pengobatan:
2.
Obat-obatan
-
Obat yang diberikan merupakan sekumpulan obat yang
mengurangi kadar neurotransmitter asetilkolin, yaitu triheksifenidil,
beenztropin, dan prosiklin HCL.
-
Obat yang mengatur neurotransmitter GABA bisa digunakan
bersama dengan obat di atas atau diberikan tersendiri, yaitu: diazepam,
lorazepam, klorazepam dan baklofen.
-
Dopamine
-
Untuk
mengendalikan epilepsy diberikan obat anti kejang karbamazepin.
3.
Racun Botulinum
Sejumlah kecil racun ini bisa disuntikkan ke dalam otot yang terkena
untuk mengurangi distonia fokal.
4.
Pembedahan dan pengobatan lainnya.
F.
ALZHEIMER
Merupakan salah satu bentuk demensia yang
paling sering ditentukan di klinik.
Penyebab:
Terjadi kehilangan sel saraf di otak di
area yang berkaitan dengan fungsi daya ingat, kemampuan berpikir serta
kemampuan mental lainnya. Keadaan ini diperburuk dengan penurunan zat
neurotransmitter, yang berfungsi untuk menyampaikan sinyal antara satu sel otak
ke sel otak yang lain.
Gejala:
1. Mengajukan pertanyaan yang sama pada suatu
saat berulang-ulang atau mengulangi cerita yang sama, dan kata-kata yang sama
terus-menerus.
2. Lupa
cara untuk melakukan kegiatan rutin. Misalnya lupa cara memasak dan sebagainya.
3.
Gangguan berbahasa.
4.
Disorientasi
5.
Gangguan berpikir secara abstrak.
6.
Gangguan kepribadian
7.
Gangguan untuk membuat keputusan sehingga menjadi
tergantung pada pasangannya.
Pengobatan:
Sampai
saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer.
Obat-obatan yang ada bersifat memperlambat progresivitas penyakit.
Pencegahan:
Dengan
mengetahui faktor resiko di atas dan hasil penelitian yang lain, dianjurkan
beberapa cara untuk mencegah penyakit Alzheimer,diantaranya:
1.
Bergaya hidup sehat
2.
Mengkonsumsi sayur dan buah segar
3. Menjaga kebugaran mental (mental fitness)
G.
ATAKSIA
Merupakan suatu penyakit dimana bagian
dari sistem saraf yang mengendalikan gerakan mengalami kerusakan.
Penyebab:
Sebagian besar gangguan yang menghasilkan
ataksia disebut serebellum (otak kecil) memburuk atau atrofi. Kadang urat saraf
tulang belakang (spinal cord) juga terpengaruh. Degenerali serebral dan spino
serebral digunakan untuk mendeskripsikan perubahan yang terjadi pada sistem
saraf manusia, namun bukan diagnosa yang spesifik. Degenerali serebral
dan spino serebral memiliki banyak penyebab.
Gejala:
-
Kelainan reresif umumnya menyebabkan gejala yang
dimulai sejak masa kanak-kanak dibandingkan dewasa.
-
Tidak adanya koordinasi tangan, lengan dan kaki dan
kemampuan berbicara adalah gejala umum lainnya.
-
Gerakan mata yang lambat
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS PADA PENYAKIT STROKE DAN
PARKINSON’S
3.1.
DEFINISI STROKE
-
Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan
oleh berhentinya suplai darah ke otak.
(Brunner 2 Sudarth, Vol 3, 2001)
-
Stroke dapat didefinisikan sebagai deficit neurology
yang mempunyai awitan mendadak dan berlangsung 24 jam sebagai akibat dari CVD.
(Corolyn M. Hudak, 1996)
-
Stroke adalah sindrom klinis awal, timbulnya mendadak,
progresi cepat, berupa deficit neurologist fokal / global, yang berlangsung 24
jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata disebabkan
oleh gangguan peredaran darah otak non traumatic.
(Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
-
Cedera serebrovasculer (CVD) atau stroke diakibatkan
dari penghentian suplai darah tiba-tiba pada otak, yang mencetuskan disfungsi
neurologist yang berakhir lebih dari 24 jam.
(Sandra M. Netirra, 2001)
- Stroke(penyakit serebrovasculer) adala
kematian jaringan otak yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan
oksigen ke otak (www.google.com)
JENIS STROKE
1.
Menurut atiologi
a.
Stroke Hemoragik
-
Stroke yang terjadi karena perdarahan subarachnoid,
disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah tertentu. Biasanya
kejadian saat melakukan aktifitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat
istirahat (Perdarahan Intraserebral, pecahnya aneurisme dan tumor otak yang
mengalami perdarahan)
b.
Stroke Non – Hemoragik
-
Dapat berupa iskemia, emboli dan trombosis
serebral. Biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur
atau di pagi hari. Tidak terjadi
iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder.
2.
Stroke menurut perjalanan penyakitnya.
a.
TIA (Transient Ischemia Attack)
-
Merupakan gangguan neucrologis fokal yang timbul secara
tiba-tiba dan menghilang dalam beberapa detik sampai beberapa jam. Gejala
hilang kurang dari 24 jam. RIND (Reversible Ischemic Neurologis Disease)
-
Terjadi
lebih lama dari TIA, gejala hilang lebih dari 24 jam tapi tidak lebih dari 1
minggu).
b.
Progressif Stroke inevaluation
-
Perkembangan
stroke perlahan-lahan sampai akut. Munculnya gejala makin lama makin bertambah
buruk. Proses progressif beberapa jam sampai beberapa hari.
c. Stroke
Lengkap
-
Gangguan
Neurologist maksimal sejak awal serangan dan sedikit memperlihatkan perbaikan. Didahului
dengan TIA yang berulang dan stroke inevaluation. Bentuk kelainan neurologist
sudah menetap.
3.2.
ETIOLOGI
1.
Trombosis
·
Trombosis
merupakan utama dari stroke. Thrombus yang merupakan penyebab tersebut sering
terjadi pada pembuluh darah yang mengalami arterosklerosis. Terbentuknya
thrombus biasanya di bifurkasia (percabangan arteri) dan umumnya pada pertemuan
antara arteri karotis interna dan arteri vertebra atau antara arteri vertebra
dan arteri basiler. Thrombus sering terjadi pada penyakit jantung
arterosklerosis. Stroke karena thrombus akan lebih berat bila di dahului TIA
atau bersama TIA.
2.
Emboli Serebral
·
Emolus yang terjadi berupa bekuan darah, lemak,
bakteri, tumor dan cdara sehingga menmyebabkan seumbatan. Tempat tersangkutnya
embolus umumnya di pembuluh darah kecil di daerah biforkasio. Embolus berasal dari jantung kiri atau plaque dari
arteri karotis yang mengalami arterosklerosis. Daerah yang mengalami stroke
adalah daerah yang dialiri oleh arteri serebral medialis.
3.
Iskemia / TIA
·
Iskemia yang terjadi karena thrombus atau plaque
arterosklerosis yang terlepas sehingga menganggu aliran darah atau menyumbat. TIA merupakan keadaan awal atau serangan
sebelum stroke atau sering disebut Angina Serebral. Stroke yang terkena iskemia
dapat terjadi 6 idn setelah menderita TIA atau mengalami TIA secara berulang.
4.
Perdarahan Serebral
·
Perdarahan serebral merupakan penyebab stroke
yang paling fatal. Pembuluh darah yang pecah menyebabkan perdarahan di dalam
jaringan otak atau area sekitarnya.
·
Perdarahan ekstrodural (perdarahan epidural)
-
terjadi
karena fraktur tengkorak dan sobekan arteri serebral medial
·
Perdarahan
Subdural (antara durameter 2 arachnoid)
-
pada
dasarnya sama dengan perdarahan epidural, tetapi pembuluh darah yang pecah
adalah vena, terjadi dalam periode yang lama sehingga terjadi hematom yang
menyebabkan tekanan di dalam otak meningkat.
·
Perdarahan Subarachnoid
-
terjadi terutama karena hipertensi atau trauma
terbanyak disebakan oleh aneurisme yaitu kebocoran pada area lingkaran willisi
dan malformasi tongenital arteriverods.
·
Perdarahan Intraserebral
-
terjadi
karena adanya hipertensi atau arteriosclerosis serebral. Terjadi juga karena
perubahan degeneratif penyakit yang biasanya menyebabkan rupture pembuluh
darah.
3.4.
MANIFESTASI KLINIS
1.
Nyeri kepala yang sangat hebat ke leher dan wajah
2.
Mual muntah
3.
Fotopobia, terjadi karena perdarahan subarachnoid
akibat pecahnya aneurisme intracranial.
4.
Kaku kuduk
5.
Penurunan kesadaran
6.
Kerusakan motorik
7.
Kerusakan komunikasi terdiri dari :
-
Aprasia yaitu ketidakmampuan untuk melakukan tindakan
yang dipelajari sebelumnya.
-
Disatria yaitu Kesulitan bicara
-
Disfasia / Afasia yaitu Kehilangan bicara
8.
Gangguan persepsi
9.
Gangguan
fungsi kognitif dan efek psikologis
10.
Disfungsi kandung kemih
11.
Pre hospital stroke terdiri dari:
3.5. KOMPLIKASI
1.
Hipoksia serebral
2.
Aliran darah serebral
3.
Embolisme serebral
4. Kompliklasi lanjutan yang sering terjadi:
-
Imobilitas
-
Hemiparese atau deficit neurology
-
Infeksi saluran kemih
-
Nyeri karena tekanan
-
Kontraktor
-
Tromboflebitis
-
Abrasi kornea
3.6.
PEMERIKSAAN FISIK
1.
Untuk mempermudah mengenai gejala stroke, dapat
digunakan “Prehospital Stroke Scale” yaitu :
a.
Mulut mengok (fasial drop)
-
Abnormal
bila satu sisi wajah tidak bergerak ketika disuruh tersenyum atau
memperlihatkan gigi.
b.
Arm Drift
-
Abnormal bila satu lengan tidak bergerak atua turun ke
bawah apalagi bila disertakan promosi (ketika disuruh menutup mata dan
menangkat kedua lengan selama 10 detik).
c.
Bicara abnormal
-
Abnormal bila tidak dapat bicara atau bicara pelo.
2.
Pemeriksaan Tonus Otot
3.
Pemeriksaan Refleks
4.
Pengukuran GCS
3.7. Pencegahan
a.
Pencegahan Primer
-
Memasyarakatkan gaya hidup sehat bebas stroke:
·
Menghindari
: rokok, stress mental, alcohol, kegemukan
·
Mengurangi
: kolesterol dan lemak dalam makanan.
·
Mengendalikan
: hipertensi, DM, infark miokard akut
·
Menganjurkan
: konsumsi gizi seimbang dan olah raga teratur.
b.
Pencegahan Sekunder
-
Modifikasi
gaya hidup beresiko stroke dan faktor resiko, misalnya:
·
Hipertensi
: diet, obat antihipertensi yang sesuai
·
DM :
diet, obat hipoglikemik oral / insulin
·
Disiplidemia : diet rendah lemak dan obat
antidisiplidemia
·
Polisitemia
-
Melibatkan peran serta keluarga seoptimal mungkin
-
Obat-obatan yang digunakan :
·
Asetosal
·
Antikoagulan oral (warfarin / dikumarol)
·
Px
yang tidak tahan asetoral, dapat diberikan tiklopidin
-
Tindakan Invasif
·
Flebotomi untuk polisitemia
·
Enarterekitomi karotis
·
Tindakan bedah lainnya.
3.8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.
Tomografi Komputer
-
Untuk
mengetahui penyebab dan lokasi stroke
2.
Angiografi Serebral
-
Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik,
seperti perdarahan atau obstruksi arteri, adanya titik okulasi atau rupture
3.
CT Scan
-
Memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan
adanya infark.
4.
Fungsi Lambal
-
Menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada
trombosis,emboli serebral dan TIA. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung
darah menunjukkan adanya hemoragic subarachnoid atau perdarahan intracranial.
Kadar protein total meningkat pada kasus trombosis sehubungan dengan adanya
proses inflamasi.
5.
MRI
-
Menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragic,
malinformasi arterio vena ( MAV)
6.
Ultrasonografi Doppier
-
Mengidentifikasi poenyakit arterio vena
7.
EEG
-
Mengidentifikasi masalah di dasarkan pada gelombang
otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
8.
Sinar – X tengkorak
-
Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah
yang berlawanan dari massa yang meluas: klasifikasi karotis interna terdapat
pada trombosis serebral: klasifikasi persial dinding aneurisma pada perdarahan
subarachnoid.
3.9. Rehabilitasi stroke
Rehabilitasi
intensif bisa membantu penderita untuk belajar mengatasi kelumpuhan atau
kecacatan karena kelainan fungsi sebagian jaringan otak. Bagian otak lainnya
kadang bias menggantikan fungsi yang sebelumnny dijalankan oleh bagian otak
yang mengalami kerusakan. Rehabilitasi
segera dilakukan setelah tekanan darah,denyut nadi dan pernafaan penderita
stabil. Dilakukan latihan untuk mempertahankan kekuatan otot,mencegah kontraksi
otot dan luka karena penekanan(akibat berbaraing terlalu lama) dan latihan
berjalan serta berbicara.
3.10.
ASKEP TEORITIS
A.
PENGKAJIAN
1.
Data Biografis
-
Identitas,
umur, jenis kelamin, riwayat pekerjaan.
2.
Riwayat kesehatan saat ini
-
Keluhan nyeri, gangguan motoris dan sensoris
3.
Riwayat kesehatan masa lalu
-
Riwayat trauma kepala, infeksi, gangguan
kardiovasculer, gangguan pernapasan, gangguan tiroid, penggunaan obat-obatan.
4.
Riwayat kesehatan keluarga
-
Genogram, hypertensi, stroke, epilepsy.
5.
Riwayat psikososial
- Lingkungan rumah, pekerjaan, perasaan
putus asa, tidak mampu mengekspresikan perasaan.
6.
Aktifitas sehai-hari dan istirahat
- Keterbatasan dan kelemahan, paralysis,
mudah lelah, hemiplegia, perubahan tonus otot / gangguan istirahat.
7.
Pola nutrisi
8.
Pola eliminasi
9.
Gaya hidup
B.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Perubahan perfusi jaringan otak b/d terhambatnya aliran
darah,adanya oklusi.
2.
Bersihkan jalan nafas tidak efektif b/d kehilangan
refleks menelan, gangguan batuk dan penurunan kesadaran.
3. Gangguan mobilitas b/d kelemahan dan
paralise
4. Gangguan komunikasi verbal atau tulisan
b/d kerusakan sirkulasi otak, gangguan neuromoskular.
5. Perubahan persepsi sensasi b.d deficit
neurologist, stress psikologis.
6. Kurang perawatan diri b.d kerusakan
neuromoskular, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan control /
koordinasi otot
C.
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
1. Pasien dapat mempertahankan tingkat
kesadaran dengan KH:
-
Tidak
terdapat perubahan dalam respon motorik : gelisah
-
Emosi pasien dalam keadaan stabil
-
Tanda-tanda
vital dalam batas normal.
TD = RR =
Nadl = Suhu =
- Tidak ada peningkatan TIK:
Muntah, nyeri kepala nedema papil.
2. Jalan nafas pasien kembali efektif, dengan
KH:
-
Bunyi nafas kembali normal (vosculer)
-
Dapat mengeluarkan secret
-
Batuk tidak ada
3. Pasien dapat memperlihatkan mobilitas
maksimum dalam batasan penyakit, dengan KH:
- Menggunakan tindakan pengamanan untuk
meminimalkan kemungkinan cedera
-
Adanya peningkatan mobilitas
- Mempertahankan mobilitas optimal yang
ditandai dengan adanya konstraktur
4. Kerusakan komunikasi verbal dapat
dikurangi, dengan KH:
- K memperlihatkan kemempauan untuk
mengekspresikan diri
- K mampuu mengungkapkan penurunan frustasi
yang ditunjukkan dengan adanya komunikasi.
5. Tidak terjadi perubahan persepsi-sensori,
dengan KH :
-
K mampu mempertahankan tingkat kesadaran
- K mampu menyebutkan posisi / bagian tubuh
- K mampu mengenal tempat , waktu, orang.
6. Klien mampu melakukan perawatan diri,
dengan KH:
- K dapat mendemonstrasikan teknik untuk
memenuhi kebutuhan perawatan diri
- K mampu melakukan aktivitas perawatan diri
dalam tingkat kemampuan sendiri.
D.
INTERVENSI
·
DX 1. Perubahan perfusi jaringan otak b.d
terhambatnya aliran darah, adanya oklusi.
1.
Kaji status neurologist
R/ : mengetahui kecenderungan tingkat kesadaran dan potensial penurunan
TIK dan mengetahui lokasi luas dan resolusi kerusakan SSP.
2. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan
dengan penyebab khusus selama penurunan
perfusi.
R/ : Mempengaruhi penetapan
intervensi, kerusakanan / kemunduran tanda / gejala neurologist pada fase awal
memerlukan tindakan pembedahan.
3.
Monitor TTV
R/ : Mengetahui keadaan umum K dan memantau adanya perubahan yang
mencolok.
4. Posisikan K dengan posisi kepala agak
ditinggikan dan dalam posisi anatomis.
R/ : Menover valvasa dapat
menaikkan TIK dan memperbesar resiko perdarahan G. kolaborasi dalam pemberian
therapy, seperti pelunak feses.
R/ : Mencegah proses mengejar
selama defekasi yang b/d peningkatan TIK.
·
DX 2.
Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d kehilangan refleks menelan, gangguan
batuk dan penurunan kesadaran.
1.
Kaji tanda obstruksi trakeobronkhial
R/ : Mempengaruhi penetapan
intervensi yang tepat.
2. Lakukan suction dengan teknik yang tepat
R/ : Membersihkan jalan nafas
dan mencegah terjadinya hypoxia.
3.
Letakkan K pada posisi tegak selama dan setelah makan.
R/ : Menggunakan gravitasi untuk memudahkan proses menelan dan menurunkan
resiko terjadinya aspirasi.
4.
Catat pola dan irama dari pernafasan, seperti adanya
periode apnea setelah pernafasan, hiperventilasi, pernafasan chieyne – strokes
R/ : Ketidakteraturan
pernafasan dapat memberikan gambaran lokasi kerusakan serebral / penaikan TIK
5. Sentuh bagian pipi dalam dengan spatel lidah
untuk mengetahui adanya kelemahan lidah.
R/ : Untuk mengontrol gerakan
lidah dan mencegah lidah jatuh ke belakang.
·
DX.
3. Gangguan mobilitas b.d. kelemahan dan paralise.
1. Kaji kemampuan secara fngsional dengan
teratur, klasifikasikan melalui skala 0-4.
R/ :Mengidentifikasi kekuatan
/ kelemahan dan dapat memberikan informasi mengenai pemulihan.
2. Ubah posisi minimal setiap 2 jam
(terlentang, miring) dan jika memungkinkan bias lebih sering jika diletakkan
dalam posisi bagian yang terganggu.
R/ : Menurunkan terjadinya
trauma jaringan dan mencegah terjadinya dekabitus.
3.
Lakukan rentang gerak aktif dan pasif pada semua
ekstremitas.
R/ : meminimalkan atrofi otot,
meningkatkan sirkulasi dan membantu mencegah kontraktur.
4. Gunakan penyangga lengan ketika K berada
pada posisi tegak sesuai indikasi.
R/ : Selama paralysis flasid,
penggunaan penyangga dapat menurunkan resiko terjadinya subluksasio lengan dan
sindrom bahu – lengan.
5. Posisikan lutut dan panggul dalam posisi
ekstensi.
R/ : Mempertahankan posisi fungsional.
E.
EVALUASI
1.
Perfusi jaringan terpenuhi
-
Tingkat kesadaran K baik
-
TTV dalam batas normal
|
2. Jalan nafas kembali efektif ditandai
dengan :
- Tidak terdapat hambatan jalan nafas.
- Pola dan irama pernafasan vasikuler.
- K mampu bernafas seperti bias.
3.
Mobilisasi terpenuhi, ditandai dengan :
-
K dapat beraktifitas seperti biasa
-
Tidak terdapat kontraktus
-
Tidak terjadi atrofi otot
3.1.1
DEFINISI PENYAKIT PARKINSON’S
- Merupakan
gangguan neurology progresif yang mengenai pusat otak yang bertanggung jawab
untuk mengontrol dan mengatur gerakan. Karakteristik yang muncul berupa brodikinesia (perlambatan gerakan), tremor
dan kekauan otot (Brunner dan Suddarth, Vol 3)
- Parkinson’s adalah nama yang diberikan
untuk gangguan fungsi motorik yang ditandai oleh hilangnya ekspresi wajah,
postur tubuh yang bungkuk, gerakan volunteer yang lambat, gaya salah yang
cepat, langkah yang cepat namun pendek dan progresif, kekakuan dan
kadang-kadang tremor yang khas (Buku Ajar Patologi II, Robins dan Kumar)
- Parkinson’s merupakan gangguan gerakan dan
penyebab yang tidak diketahui. Penyakit ini menyerang neuron-neuron berpigmen
yang mengandung popamin dari pars korpakta substansia nisra (Kapita Selekta II)
- Penyakit
Parkinson adalah suatu penyakit degeneratif pada system saraf yang ditaanda
dengan adanya tremor pada saat beristirahat,kesulitan dalam memulai
pergerakandan kekakuan otot (www.google.com)
3.1.2.
EPIDEMOLOGI
Penyakit parkinson’s terjadi di seluruh dunia pada semua ras
dan kelompok etnis. Dari populasi yang diteliti mengindikasikan insiden sekitar
130 / 100.000 standar populasi. Gangguan ini sangat jarang pada individu usia
dibawah 40 tahun, dan usia rata-rata adalah 60 tahun. Prevalansi dari penyakit
Parkinson meningkat sesuai dengan usia dan statistic membuktikan bahwa penyakit
ini mengarah penyebab penyakit neurologist pada individu yang berusia di bawah
60 tahun. Sekitar 10% - 15% dari penyakit Parkinson berkembang menjadi
demensia.
3.1.2.
ETIOLOGI
Etiologi secara pasti belum diketahui, namun diduga
penyebabnya adalah infeksi oleh virus yang non-konvensional (belum diketahui),
reaksi abnormal terhadap virus yang sudah umum, pemaparan zat toksik yang belum
diketahui, dan terjadinya penuaan yang premature atau dipercepat.
3.1.3.
PATOFISIOLOGI
Penyebab pasti
dari penyakit Parkinson tidak diketahui. Pada sebagian besar kasus masih
bersifat idiopatik. Namun pada penyakit Parkinson sekunder atau simptomatik
dihubungkan dengan berbagai system saraf, seperti: keracunan agen toxic, tumor
otak pada regional basalis, trauma serebral, arteriosclerosis serebral dan
proses infeksi.
Penyakit Parkinson
akibat dari kerusakan neuron dopaminergik pada substansia nigra bagian dari
ganglia basalis yang menghasilkan dan menyimpan neuro transmitter dopamine.
Substansia nigra memegang peranan penting dalam system motorik ekstrapiramidal,
yang bertanggung jawab untuk mengontrol postur dan koordinasi serta gerakan
volunteer motorik halus. Secara normal, stimulus pada ganglia basalis
mengakibatkan aktivitas volunteer motorik halus, keseimbangan relative antara
neurotransmitter asetilkolin dan dopamine.
Dopamine yang
dihasilkan di substansia nigra ditransmisikan ke nulekus putamen dan kaudatus,
memiliki di substansia nigra memiliki efek meningkatkan pergerakan. Kerusakan pada
substansia nigra berakibat pada ketidakseimbangan sekresi asetilkolin yang
meningkatkan inhibisi dopamine. Penurunan dopamine relative berakibat
pada aktifitas kolinergik predominan dan menghasilkan gejala-gejala rigiditas,
tremor dan bradikinesia.
3.1.4.
KLASIFIKASI
1.
Primer atau Idiopatik
-
Bentuk
Parkinson kronis yan paling sering dijumpai, disebut juga sebagai paralysis
agitans. Kira-kira 7 dari 8 kasus Parkinson termasuk jenis ini.
2.
Sekunder atau simtomatik
-
Berbagai kelainan yang menyebabkan sindrom Parkinson,
termasuk arterio sclerosis, anoksia atau iskemia serebral, obat-obatan zat
toksik, penyakit (ensefalitis viral, sifilis meningo vascular, pasca
ensefalitis).
3.
Para Parkinson (Parkinson Plus)
-
Pada kelompok ini, gejal Parkinson hanya merupakan
sebagian dari gambaran penyakit keseluruhan. Dari segi terapi dan prognosis
perlu di deteksi jenis ini, yang misalnya di dapat pada penyakit Wilson,
syndrome Shy dragger, Hidrosefalus normotensif.
Derajat Penyakit Parkinson berdasarkan
klasifikasi “Hoehn dan Yahr”
-
Stadium I :
Unilateral
-
Stadium II :
Bilateral
-
Stadium III :
Bilateral + refleks postural
-
Stadium IV :
Bilateral bantuan
-
Stadium
V : Diam di tempat tidur.
MANIFESTASI KLINIS
1.
TREMOR
-
Tremor biasanya bermula dari satu ekstremitas
atas dan kemudian melibatkan ekstremitas bawah pada sisi yang sama, beberapa
waktu kemudian sisi lainnya juga terlibat dengan urutan yang serupa. Kepala – bibir – lidah sering tidak
terlibat pada stadium penyakit yang lanjut. Frekuensi tremor Parkinson berkisar
antara 4-7 gerakan / menit. Tremor terutama timbul bila ekstremitas digerakkan.
Sering dapat dihentikan sebentar bila diusahakan. Tremor menjadi bertambah
berat dalam keadaan emosi dan menghilang bila tidur.
2.
RIGIDITAS
-
Merupakan peningkatan terhadap regangan otot pada otot
antagonis dan agonis. Salah satu gejala dini dari rigiditas adalah hilangnya
gerak asosiasi lengan bila berjalan.
3.
BRADIKINESIA (GERAKAN MENJADI LAMBAN).
-
Merupakan
hasil akhir dari gangguan integrasi pada impuls optic, labirin, proprioseptik
dan impuls sensorik lainnya di ganglia basat. Ini mengakibatkan berubahnya aktifitas refleks
yang mempengaruhi neuron motorik gamma dan alfa. Gerakan volunteer lambat dan
memulai gerakan menjadi sulit, seperti: sulit untuk bangun,memulai berjalan,
lamban dalam berpakaian, dan mimic muka berkurang (seolah muka topeng).
4.
WAJAH PARKINSON
-
Muka menjadi seperti topeng (kurang ekspresi), kedipan
mata berkurang, kulit muka menjadi seperti berminyak dan ludah suka keluar dari
mulut karena berkurangnya gerak menelan ludah.
5.
MIKROGRAFIA
-
Bila tangan
yang dominant terlihat, maka tulisan tangan secara grandual menjadi kecil dan
rapat. Pada beberapa kasus, hal ini merupakan gejala dini.
3.1.7.
KOMPLIKASI
1.
Demensia
-
Merupakan
perubahan status mental selama perjalanan penyakit. Disfungsi visuo – spasial
merupakan deficit yang sering terjadi. Degenerasi jalur dopaminergik termasuk
nigrostriatal, mesokortikal dan mesolimbik berpengaruh terhadap gangguan
intelektual. Degenerasi system neurotrasnmiter juga berperan pada
kemunduran intelektual. Gangguan mental dapat disertai halusinasi visual dan
auditor.
2.
Disfungsi Autonom
-
Keluhan
dapat bermacam-macam tergantung pada saraf autonom mana yang terkena. Penderita
dapat mengeluh diare yang bergantian dengan konstipasi, dilatasi lambung atau
disfagia. Gangguan pengosongan vesika urinaria disebabkan karena mukosanya
kurang peka. Impotensi pada pria dapat terjadi mulai dari gangguan ereksi
sampai gangguan ejakulasi. Gangguan berkeringat dapat dalam bentuk
hipertridosis, berkeringat hanya pada wajah, leher dan dada bagian atas,
terutama sesudah makan. Gangguan lain dapat berbentuk hipotensi
ortostatik dan bahkan sinkop.
3.
Drepesi
-
Depresi lebih banyak terdapat pada kerusakan otak
sebelah kiri. Tanda-tanda depresi
dapat dilihat dari lamban dan tidak konsistennya proses pemulihan. Reaksi
depresi harus diatasi segera dengan medikamentosa dan dukungan psikologis,
berupa:
a. Sikap yang tegas tetapi tampak penuh kasih
sayang terhadap penderita
b.
Peran fisiotherapi agar K merasa ada perlakuan khusus.
c. Kunjungan dari orang-orang terdekat pasien
agar penderita merasa hidup normal dan tidak merasa terlalu invalid.
3.1.8. PEMERIKSAAN FISIK
1.
Observasi
-
Kekakuan anggota gerak: lengan kehilangan sifat daya
ayun tetap pada sisi tubuh.
-
Tremor
·
Diperberat oleh stress dan ansietas
·
Lebih
hebat bila anggota gerak di istirahatkan, menghilang selama tidur.
·
Jari-jari : gerakan pill roling
·
Kepala : tremor to dan fro
-
Gerakan
·
Gerakan volunteer tubuh lambat (bradikinesia)
·
Memulai aktifitas menjadi sulit (akinesia)
-
Postur
·
Bungkuk ke depan
·
Berjalan lambat, singkat, langkah kaku
·
Akan berlari bila terdorong
-
Aktifitas otot hilang / tak terkoordinasi : gangguan
menulis (mikrofogia)
-
Kegelisahan (kegelisahan motorik, akatisia)
-
Kekakuan dan nyeri penyebab pada tungkai dan bahu
-
Ekspresi
wajah kosong (seperti: topeng)
·
Mata melebar
·
Mata berkedip tak teratur
-
Bicara
·
Lambat, perlahan renoton
·
Disartik
·
Kacau
·
Bicara lembut, penurunan volume
-
Disfagia
-
Saliva
-
Perubahan emosional
·
Depresi
·
Nervosa
·
Alam perasaan berubah-ubah
·
Halusinasi
·
Paranoid
·
Demensia
- Efek
samping obat-obatan
3.1.9.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pengukuran tekanan darah dalam keadaan
berbaring dan berdiri untuk mendeteksi hipotensi ortostatik
2. Foto thorax menunjukkan gambaran skdiosis.
3.
EGG
-
Dapat menunjukkan perlambatan yang progresif dan atau
disorganisasi (demensia, bradikinesia, disorganisasi difus).
4.
CT Scan
-
Otak menunjukkan atrafi kortikal difus dengan
melebarnya sulsi dan hidrosefalus eks vakuo pada kasus lanjut.
5. Pemeriksaan smeradiografik pada saat
menelan : menunjukkan pola abnormal, dan perlambatan relaksasi dari otot-otot
erikofaringeal.
3.2.0.
PENATALAKSANAAN MEDIS
Tujuan tindakan adalah untuk meningkatkan
transmisi dopamine.
Terapi
obat-obatan mencakup:
1.
Anti histamine
-
Mempunyai
efek sedative dan anti kolimergik pusat ringan, dapat membantu dalam
menghilangkan tremor.
2.
Anti Kolinergik
-
Agen-agen
kolinergik efektif untuk mengontrol tremor dan kekakuan Parkinson. Obat-obatan
ini dapat digunakan dalam kombinasi dengan tevodopa. Agen ini meniadakan reaksi
asetilkolin pada SSP. Efek samping mencakup penglihatan kabur, wajah merah,
ruam pada wajah, konstipasi, retensi urine dan kondisi akut.
3.
Amantadin hidrokhlorida
-
Merupakan agen-agen anti virus yang digunakan pada awal
pengobatan penyakit Parkinson, untuk menurunkan kekakuan, tremor dan
iodikinisia. Reaksi efek samping: perubahan perasaan hati, konfusi, halusinasi,
muntah, adanya tekanan pada epigastrium, pusing dan gangguan penglihatan.
4.
Diskinesia (gerakan involuntes abnormal)
-
Efek samping yang paling umum dan meliputi wajah
meringis, gerakan tangan menjejak, berirama, gerakan kepala singkat, gerakan
mengunyah dan memeluk, gerakan involunter batang tubuh dan ekstremitas.
5.
Derivat ergoet – Argonis Dopamin.
-
Agen-agen ini (bromokiptin dan pergolid) dianggap
menjadi agonis reseptor dopamine. Agen ini bermanfaat bila ditambahkan pada
levodopa dan pada pasien yang mengalami reaksi on – off terhadap klinis ringan.
6.
Pergolid (permax)
-
Agen
ini 10 kali lebih penting dari promokriptin
7.
Inhibitas MAD : Eldepril / Deprenyl / selegitene
-
Obat ini menghambat pemecahan dopamine, sehingga
penaikkan jumlah dopamine tercapai.
8.
Antidrepesan
-
Antidepresan
trisiklik dapat diberikan untuk mengurangi depresi yang juga bisa terjadi pada
penyakit Parkinson.
9. Levodopa
(L-dopa)
10. Levodopa diberikan bila benar-benar
dibutuhkan bila gejala masih awal / ringan. Sebaliknya, terapi levodopa jangan
diberikan. Hal ini mengingat bahwa efektifitas levodopa berkaitan dengan lama
waktu pemakaian. Bila sudah beberapa bulan atau tahun digunakan sering
timbul komplikasi on – off, mendadak
penderita menjadi immobility (gerakan seolah-olah membeku – jadi berhenti).
11.
Efek samping :
Naiisea, muntah, diskes abdominal, hipotensi postural, aritmia jantung,
diskinensia.
3.2.1.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
PENYAKIT
PAKINSON’S
A. PENGKAJIAN
1.
Riwayat kesehatan dan pengkajian berfokus pada
bagaimana penyakit mempengaruhi aktivitas pasien dan kemampuan berfungsi.
Pasien diobservasi mengenai apakah mereka dapay melakukan dan apakah terjadi
perubahan dala fungsi. Respon-respon
setelah pemberian medikasi juga diperhatiokan. Pasien dapat ditanyakan apakah
mereka melihat ada perbaikan. Pertanyaan berikut dapat membantu:
·
Apakah
klien mengalami kekakuan tangan atau kaki?
·
Apakah
klien mengalami sentakan tidk teratur pada tangan atu kaki?
·
Apakah
klien mengalami “beku’ atau terpaku dan tidak mampu bergerak?
·
Apakah
air liur klien berlebihan?
·
Pernahkah
klien melihat diri klien meringis atau membuat gerakan wajah atau mengunyah?
·
Aktivitas
fisik apa yang susah klien lakukan?
Selama
pengkajian pasien diobservasi pada saat berjalan,bergerak atau minum
2.
Gejala awal: kelemahan,cenderung untuk menetap,gerakan
lambat atau kekakuan pada eksremitas yang terserang, kehilangan beberapa
ekspresi wajah, kualitas bicara tenang,lengan cenderung fleksi pada siku.
·
Tremor: bibir,rahang,lidah,otot-otot wajah,dan
otot ekstremitas,biasanya tremor saat isirahat,saat menulis,dengan tulisan yang
semakin kecil(mikrografia)
·
Postur
dan rigiditas: gaya berjalan menghindar tanpa ayunan tangan,hipertonicitas
·
Keseimbangan:
festination (tubuh semakin miring seiring langkah kaki), propulsion( langkah
kedepan dan tubuh miring), lateropulsion( langkah kesamping dan tubuh miring)
·
Wajah:
seperti topeng,mata kurang berkedip
·
Bicara: pengulangan kalimat secara tidak
sadar,penurunan amplitude,irama cepat tapi lembut
·
Gradual demensia
12. awal:
pelupa,episode bingung minor,depresi
13. lanjut: irritable, paranoid dan
halusinasi,delirium
·
disfungsi
autonom: peningkatan sekresi sebum,menyebabakn kulit bersisik,erupsi
eritematous pada kulit (kususnya pada telinga,alis,kulit kepala dan lipatan
hidung),keringat berlebihan,intermiten;konstipasi kronis,sering kencing dan
hesistansi,hipotensi ortostatik dan disfagia
·
nutrisi:
kegagalan delusion,kehilangan BB,kegagalan otot krikofaringeal untuk relaksasi.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Kerusakan aktifitas fisik b.d tremor, bradikinesia,
rigiditas dan kerusakan berjalan.
2.
Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d.
tremor, rigiditas otot-otot pencernaan, disfagia, kehilangan nafsu makan, serta
kesulitan mengunyah dan menelan.
3. Konstipasi b.d. keterbatasan fungsi
motorik dan imobilitas.
4. Kerusakan komunikasi verbal b.d. penurunan
volume bicara, kesulitan menggerakkan otot wajah dan disartria.
5.
Inefektif koping individu b.d. kurangnya control
mengatasi proses penyakit dan perubahan body image.
6.
Resiko tinggi cedera b.d. tremor dan rigiditas otot,
kerusakan kognitif dan hipotensi ortostatik.
C.
TUJUAN dan KRITERIA HASIL
1. Pasien dapat memperlihatkan mobilitas
maksimum dalam batasan penyakit, dengan
KH:
-
Menggunakan
tindakan pengamatan untuk menimalkan kemungkinan cedera.
-
Adanya peningkatan mobilitas.
-
Mempertahankan
mobilitas optimal yang ditandai dengan tidak adanya konstraktus.
2.
Kebutuhan nutrisi sesuai dengan usia dan keperluan
tubuh terpenuhi, dengan KH:
-
Tidak ada kesulitan mengunyah dan menelan.
-
Mual tidak ada.
-
Nafsu makan meningkat.
-
Muntah tidak ada.
-
Berat
badan menigkat (1/2 kg / mg)
3. Konstipasi tidak ada, dengan KH:
-
Pola
fungsi usus kembali normal (Bising usus 6 – 12x / menit)
-
Pola
defekasi kembali normal setiap 1-3 hari
-
Tidak
menggunakan laksatif untuk membantu BAB
4. Kerusakan komunikasi verbal dapat
dikurangi, dengan KH:
-
K
memperlihatkan kemampuan untuk mengekspresikan diri.
-
K
mampu mengungkapkan penurunan frustasi yang ditunjukkan dengan adanya
komunikasi.
5. Pasien dapat terhindar dari cedera b.d.
ketidakmampuannya, dengan KH:
-
K
dapat mengidentifikasi factor-faktor yang meningkatkan kemungkinan cedera.
-
K
mampu melakukan tindakan pengamanan untuk mencegah cedera.
D.
PERENCANAAN
·
DX. 1. Kerusakan aktifitas fisik b/d tremor,
bradikinesia, rigiditas dan kerusakan berjalan.
1.
Monitor tanda-tanda vital.
R/ : Untuk mengtahui kondisi umum K dan mencegah adanya komplikasi.
2. Kaji rigiditas / tremor otot,
bradikinesia, dan mencegah adanya komplikasi.
R/ : Defisiensi dopamine menyebabkan gejala-gejala penyakit Parkinson.
3. Berikan latihan ROM aktif dan pasif.
R/ : Mencegah kontraktus sendi
dan kekakuan.
4. Anjurkan K untuk mandi dengan air hangat
dan berikan massage.
R/ : Untuk membantu
merelaksasikan otot.
5. Anjurkan K untuk beristirahat yang cukup.
R/ : Untuk mencegah kelelahan dan frustasi.
6.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat secara
tepat waktu, dosis serta catat respon K terhadap pengobatan.
R/ : Obat harus diberikan
tepat waktu untuk menghindari agravasi gejala dan dosis yang diberikan
tergantung pada respon K.
·
DX.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d tremor, rigiditas otot
pencernaan, disfagia, kehilangan nafsu makan serta kesulitan mengunyah dan
menelan.
1.
Monitor berat badan
R/ : Untuk mengetahui tingkat
kekurangan nutrisi pasien.
2. Kaji kebiasaan makan K, tingkat rigiditas,
tremor pada otot-otot saat mengunyah dan kaji adanya disfagia.
R/ : Otot-otot yang berperan
untuk mengunyah dan makan dapat dipengaruhi oleh proses penyakit Parkinson.
3. Ciptakan lingkungan yang nyaman dengan menghindari
hal-hal yang menganggu selera makan.
R/ : K dapat berkonsentrasi
pada mekanisme makan, tanpa adanya distraksi dari lingkungan.
4. Lakukan prekuasi untuk mencegah aspirasi
dan batuk : angkat kepala tempat tidur, pertahankan kepala agak fleksi.
R/ : Resiko aspirasi dan batuk
meningkat sesuai dengan perkembangan penyakit.
5. Berikan K makanan semi lunak jika memiliki
kesulitan menelan.
R/ : Makanan semi lunak mudah ditelan dan mencega aspirasi.
6. Berikan pasien makanan berkalori tinggi.
R/ : Untuk mempertahankan
intake nutrisi yang adekuat.
7. Berikan makan dalam porsi kecil tapi
sering.
R/ : Makanan kecil lebih mudah
dicerna dan mengurangi depresi
8. Kolaborasi untuk pemberian obat sebelum
makan.
R/ : Untuk mengurangi
rigiditas dan tremor pada otot-otot mengunyah dan menelan.
·
DX.
3. Konstipasi b.d. Keterbatasan fungsi motorik dan imobilitas.
1.
Kaji pola frekuensi dan konsistensi feres saat BAB
R/ : Untuk mengetahui tingkat
kesulitan saat BAB
2. Berikan makanan dengan serat seimbang.
R/ : Untuk mempermudah defekasi
3. Tingkatkan intake cairan sedikitnya 2000
ml / hari.
R/ : Intake cairan yang cukup dapat melunakkan feses dan memfasilitasi
eliminasi.
4. Berikan privasi dan posisi fowler dengan
jadwal waktu teratur.
R/ : Meningkatkan usaha
evakuasi feses.
5. Auskultasi bising usus, catat ada tidaknya
perubahan biang usus
R/ : Penurunan atau hilangnya
bising usus mengindikasikan adanya ileus paralitik yang berarti hilangnya
motilitas usus dan ketidakseimbangan elektrolit.
6.
Catat adanya distensi abdomen.
R/ : Distensi abdomen
mencerminkan perkembangan ileus paralitik.
7. Anjurkan minum 1 gelas air hangat 30 menit
sebelum sarapan.
R/ : Air hangat dapat
bertindak sebagai stimulus untuk evakuasi usus.
8. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
obat pelunak feses.
R/ : Mencegah konstipasi,
menurunkan distensi abdomen dan menbantu keteraturan defekasi.
·
DX.
4. Kerusakan komunikasi verbal b.d. penurunan volume bicara, kesulitan menggerakkan otot wajah dan disartria.
1.
Kaji tipe atau derajat disfungsi bicara.
R/ : Membantu menentukan daerah dan derajat kerusakan pada pusat wicara.
2. Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan
berikan umpan balik.
R/ : Umpan balik memberi kesempatan
untuk mengkalrifikasikan isi makna ucapan K.
3. Tunjukkan objek dan minta K menyebutkan
nama benda tersebut.
R/ : Melakukan penilaian
terhadap kerusakan motorik.
4. Berikan metode komunikasi alternative, seperti
: menulis dan menggambar.
R/ : Memberikan komunikasi
tentang kebutuhan berdasarkan keadaan / deficit yang mendasari.
5.
Hargai kemampuan pasien.
R/ : Memberikan reward dapat
meningkatkan harga diri K.
6. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara.
R/ : Pengkajian secara
individual kemampuan bicara dan sensori, motorik serta kognitif berfungsi untuk
mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan terapi.
·
DX.
5. Resiko tinggi cedera b/d tremor, rigiditas, kerusakan kognitif dan hipotensi
ontostatik.
1.
Kaji tanda-tanda vital.
R/ : Untuk mengetahui kondisi umum K, hipotensi static mengkalrifikasikan
perfusi darah dan O2 ke jaringan otak yang menurun.
2.
Kaji tingkat kesadaran K.
R/ : Penurunan tingkat kesadaran mengidentifikasi penurunan perfusi
jaringan otak yang dapat memicu terjadinya kerusakan kognitif.
3. Orientasikan K terhadap lingkungan di
sekitarnya.
R/ : Mempertahankan keamanan K dan mengurangi resiko cedera.
4.
Kaji tingkat ketidakmampuan K : Kaji hipotensi
ortostatik dan berbagai kerusakan kognitif.
R/ : Derajat ketidakmampuan b/d hipotensi ortostatik adalah efek samping
di pengobatan yang diberikan.
5.
Ajarkan teknik untuk menurunkan hipotensi ontostatik
dengan mengubah posisi secara perlahan, bergerak dari posisi berbaring ke
posisi berdiri secara perlahan dan menghindari berdiri terlalu lama.
R/ : Mengurangi resiko jatuh.
6. Pertahankan tempat tidur serendah mungkin
dan pasang pengaman pada sisi tempat tidur.
R/ : Untuk menjamin keamanan K
dari resiko jatuh.
E. EVALUASI
1. Masalah kerusakan aktifitas fisik dan
terapi fisik dapat teratasi sepenuhnya. Ditandai dengan :
-
K
memahami regimen latihan dan terapi fisik.
-
K
memperlihatkan mobilitas fisik optimum sesuai dengan status fisiologisnya.
-
Tidak terjadi kontraktur.
-
Tremor,
rigiditas dan bradikinesia sepenuhnya.
2.
Masalah kekurangan nutrisi teratasi sepenuhnya,
ditandai dengan:
-
Berat
badan K sesuai dengan tinggi badan dan usia.
-
Tidak
ada kesulitan dalam mengunyah dan menelan.
-
Nafsu
makan meningkat.
3.
Masalah konstipasi teratasi sepenuhnya, ditandai
dengan:
-
Pola
fungsi usus normal (bising usus 6-12 x / menit)
-
Pola
defekasi setiap 1-3 hari.
-
Distensi
abdomen tidak ada.
4. Masalah kerusakan komunikasi verbal dapat
teratasi sepenuhnya, ditandai dengan:
-
K mampu
mengekspresikan perasaan secara verbal.
-
K
mampu mengucapkan kata dan berkomunikasi dengan tenang.
-
K mampu meningkatkan kemampuan bicara
secara progresif.
5. Resiko tinggi cedera tidak terjadi,
ditandai dengan :
-
K tidak
mangalami cedera.
-
K
mampu mengidentifikasi factor-faktor yang meningkatkan resiko cedera.
-
K
mampu melakukan tindakan pengamanan untuk mencegah cedera.
BAB IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Stroke
adalah kehilangan fungsi otak yang disebabkan oleh berhentinya suplay darah ke
otak. Disamping itu selain stroke ada juga penyakit lainnya seperti Parkinson.
Adapun pengertian dari Parkinson adalah merupakan gangguan neurology progresif
yang mngenai pusat otak yang bertanggunga jawab untuk mengontrol dan mengatur
gerakan.
B.
SARAN
-
Mahasiswa
mampu melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan neurologist
-
Mahasiswa
mampu memahami konsep dasar penyakit pada klien gangguan neurologis.
-
Mahasiswa
mampu menegakkan asuhan keperawtan pada klien dengan gangguan neurologis
DAFTAR PUSTAKA
-
Annete g
Lueckenotte, MS, RN, CS.1996. Gerontologi Nursing. New York. Mosby.
-
Brunner
& Suddart. 2002. Keperawatan Medical Bedah Volume 3. Jakarata. EGC
-
Carpenito.
Lynda Jual.2000. Buku saku Diagnosa Keperawatan. Yakarta. EGC.
-
Doengoes,
Marylin.2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Yakarta. EGC.
-
Hudak,
Cardyn. M. 1996. Keperawatan Iritis Pendekatan Holistik. Yakarta.EGC.
-
Ilmu
Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi Ketiga. 2001. Jakarta : balai Penerbid. FKUI.
-
Kumar.
Robbins. 1997. Buku Ajar Patologi, II. Jakarta. EGC.
-
Leuckenotte.
1998. Pengkajian Gerontologi. Edisi 2. Jakarta. EGC
-
Nettina,
sandra. M. 2002. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta; EGC.
-
Potter,
Pery. 2005. Buku Ajar fundamental Keperawatan. Volume I. Edisi 4. Jakarta: EGC.
-
R
Boedhi-Darmojo.H Hadi Martono 2006. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Edisi
ke 3 Jakarta: FKUI
-
Steven,
PJM. 2000. Ilmu Keperawatan Jilid 1 edisi 2. Jakarta: EGC
-
Wahyudi
Nugroho,SKM.2000. Keperawatan gerontik,edisi 2. jakarta : EGC
-
Www.Goegle.com. Diakses tanggal 3 April 2007
-
Www.Medicastore.com. Diakses tanggal 19
April 2007
No comments:
Post a Comment