Juniartha Semara Putra
ASUHAN
KEPERAWATAN SISTEMIK LUPUS ERYTHEMATUS
SLE (Sistemisc lupus erythematosus) adalah
penyakti radang multisistem yang sebabnya belum diketahui, dengan perjalanan
penyakit yang mungkin akut dan fulminan atau kronik remisi dan eksaserbasi
disertai oleh terdapatnya berbagai macam autoantibodi dalam tubuh.
1. Anamnesis riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan
fisik difokuskan pada gejala sekarang dan gejala yang pernah dialami seperti
keluhan mudah lelah, lemah, nyeri, kaku, demam/panas, anoreksia dan efek gejala
tersebut terhadap
2. Kulit
3. Kardiovaskuler
4. Sistem Muskuloskeletal
5. Sistem integumen
6. Sistem pernafasan
7. Sistem vaskuler
8. Sistem Renal
9. Sistem saraf
1. Nyeri
2. Keletihan
3. Gangguan integritas kulit
4. Kerusakan mobilitas fisik
5. Gangguan citra tubuh
a.
Laksanakan
sejumlah tindakan yang memberikan kenyamanan (kompres panas /dingin; masase,
perubahan posisi, istirahat; kasur busa, bantal penyangga, bidai; teknik
relaksasi, aktivitas yang mengalihkan perhatian)
b.
Berikan
preparat antiinflamasi, analgesik seperti yang dianjurkan.
c.
Sesuaikan
jadwal pengobatan untuk memenuhi kebutuhan pasien terhadap penatalaksanaan
nyeri.
d. Dorong pasien untuk mengutarakan perasaannya tentang
rasa nyeri serta sifat kronik penyakitnya.
e.
Jelaskan
patofisiologik nyeri dan membantu pasien untuk menyadari bahwa rasa nyeri
sering membawanya kepada metode terapi yang belum terbukti manfaatnya.
f.
Bantu dalam
mengenali nyeri kehidupan seseorang yang membawa pasien untuk memakai metode
terapi yang belum terbukti manfaatnya.
g.
Lakukan
penilaian terhadap perubahan subjektif pada rasa nyeri.
a.
Beri penjelasan
tentang keletihan :
·
hubungan antara
aktivitas penyakit dan keletihan
·
menjelaskan
tindakan untuk memberikan kenyamanan sementara melaksanakannya
·
mengembangkan
dan mempertahankan tindakan rutin unutk tidur (mandi air hangat dan teknik
relaksasi yang memudahkan tidur)
·
menjelaskan
pentingnya istirahat untuk mengurangi stres sistemik, artikuler dan emosional
·
menjelaskan
cara mengggunakan teknik-teknik untuk menghemat tenaga
·
kenali
faktor-faktor fisik dan emosional yang menyebabkan kelelahan.
b.
Fasilitasi
pengembangan jadwal aktivitas/istirahat yang tepat.
c.
Dorong
kepatuhan pasien terhadap program terapinya.
d.
Rujuk dan
dorong program kondisioning.
e.
Dorong nutrisi
adekuat termasuk sumber zat besi dari makanan dan suplemen.
a.
Dorong
verbalisasi yang berkenaan dengan keterbatasan dalam mobilitas.
b.
Kaji kebutuhan
akan konsultasi terapi okupasi/fisioterapi :
c.
Bantu pasien
mengenali rintangan dalam lingkungannya.
d.
Dorong
kemandirian dalam mobilitas dan membantu jika diperlukan.
ASUHAN
KEPERAWATAN SISTEMIK LUPUS ERYTHEMATUS
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
SLE (Sistemisc lupus erythematosus) adalah
penyakti radang multisistem yang sebabnya belum diketahui, dengan perjalanan
penyakit yang mungkin akut dan fulminan atau kronik remisi dan eksaserbasi
disertai oleh terdapatnya berbagai macam autoantibodi dalam tubuh.
B. Patofisiologi
Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang
menyebabkan peningkatan autoantibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi
ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal (
sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi selama usia
reproduktif) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal). Obat-obat
tertentu seperti hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan beberapa
preparat antikonvulsan di samping makanan seperti kecambah alfalfa turut
terlibat dalam penyakit SLE- akibat senyawa kimia atau obat-obatan.
Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi
diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-supresor yang abnormal sehingga timbul
penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi
antigen yang selanjutnya serangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut
berulang kembali.
C. Manifestasi Klinis
1.
Sistem Muskuloskeletal
Artralgia, artritis (sinovitis), pembengkakan
sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika bergerak, rasa kaku pada pagi hari.
2.
Sistem integumen
Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam
berbentuk kupu-kupu yang melintang pangkal hidung serta pipi.
Ulkus oral dapat mengenai mukosa pipi atau palatum durum.
3.
Sistem kardiak
Perikarditis merupakan manifestasi kardiak.
4.
Sistem pernafasan
Pleuritis atau efusi pleura.
5.
Sistem vaskuler
Inflamasi pada arteriole terminalis yang
menimbulkan lesi papuler, eritematous dan purpura di ujung jari kaki, tangan,
siku serta permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan dan
berlanjut nekrosis.
6.
Sistem perkemihan
Glomerulus renal yang biasanya terkena.
7.
Sistem saraf
Spektrum gangguan sistem saraf pusat sangat luas
dan mencakup seluruh bentuk penyakit neurologik, sering terjadi depresi dan
psikosis.
D. Evaluasi Diagnostik
Diagnosis SLE dibuat berdasarkan pada riwayat sakit
yang lengkap dan hasil pemeriksaan darah. Gejala yang klasik mencakup demam,
keletihan serta penurunan berat badan dan kemungkinan pula artritis, peuritis
dan perikarditis.
Pemeriksaan serum : anemia sedang hingga berat,
trombositopenia, leukositosis atau leukopenia dan antibodi antinukleus yang
positif. Tes imunologi diagnostik lainnya mendukung tapi tidak memastikan
diagnosis.
E. Penatalaksanaan Medis
1.
Preparat NSAID untuk mengatasi manifestasi klinis minor
dan dipakai bersama kortikosteroid, secara topikal untuk kutaneus.
2.
Obat antimalaria untuk gejal kutaneus, muskuloskeletal
dan sistemik ringan SLE
3.
Preparat imunosupresan (pengkelat dan analog purion)
untuk fungsi imun.
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Anamnesis riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan
fisik difokuskan pada gejala sekarang dan gejala yang pernah dialami seperti
keluhan mudah lelah, lemah, nyeri, kaku, demam/panas, anoreksia dan efek gejala
tersebut terhadap gaya
hidup serta citra diri pasien.
2. Kulit
Ruam eritematous,
plak eritematous pada kulit kepala, muka atau leher.
3. Kardiovaskuler
Friction rub
perikardium yang menyertai miokarditis dan efusi pleura.
Lesi
eritematous papuler dan purpura yang menjadi nekrosis menunjukkan gangguan
vaskuler terjadi di ujung jari tangan, siku, jari kaki dan permukaan ekstensor
lengan bawah atau sisi lateral tanga.
4. Sistem Muskuloskeletal
Pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri
ketika bergerak, rasa kaku pada pagi hari.
5. Sistem integumen
Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam
berbentuk kupu-kupu yang melintang pangkal hidung serta pipi.
Ulkus oral dapat mengenai mukosa pipi atau palatum durum.
6. Sistem pernafasan
Pleuritis atau efusi pleura.
7. Sistem vaskuler
Inflamasi pada arteriole terminalis yang
menimbulkan lesi papuler, eritematous dan purpura di ujung jari kaki, tangan,
siku serta permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan dan
berlanjut nekrosis.
8. Sistem Renal
Edema dan hematuria.
9. Sistem saraf
Sering terjadi
depresi dan psikosis, juga serangan kejang-kejang, korea ataupun manifestasi SSP
lainnya.
B. Masalah Keperawatan
1. Nyeri
2. Keletihan
3. Gangguan integritas kulit
4. Kerusakan mobilitas fisik
5. Gangguan citra tubuh
C. Intervensi
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan kerusakan jaringan.
Tujuan :
perbaikan dalam tingkat kennyamanan
Intervensi :
a.
Laksanakan
sejumlah tindakan yang memberikan kenyamanan (kompres panas /dingin; masase,
perubahan posisi, istirahat; kasur busa, bantal penyangga, bidai; teknik
relaksasi, aktivitas yang mengalihkan perhatian)
b.
Berikan
preparat antiinflamasi, analgesik seperti yang dianjurkan.
c.
Sesuaikan
jadwal pengobatan untuk memenuhi kebutuhan pasien terhadap penatalaksanaan
nyeri.
d. Dorong pasien untuk mengutarakan perasaannya tentang
rasa nyeri serta sifat kronik penyakitnya.
e.
Jelaskan
patofisiologik nyeri dan membantu pasien untuk menyadari bahwa rasa nyeri
sering membawanya kepada metode terapi yang belum terbukti manfaatnya.
f.
Bantu dalam
mengenali nyeri kehidupan seseorang yang membawa pasien untuk memakai metode
terapi yang belum terbukti manfaatnya.
g.
Lakukan
penilaian terhadap perubahan subjektif pada rasa nyeri.
2. Keletihan berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit, rasa nyeri, depresi.
Tujuan
: mengikutsertakan tindakan sebagai bagian dari aktivitas hidup sehari-hari
yang diperlukan untuk mengubah.
Intervensi :
a.
Beri penjelasan
tentang keletihan :
·
hubungan antara
aktivitas penyakit dan keletihan
·
menjelaskan
tindakan untuk memberikan kenyamanan sementara melaksanakannya
·
mengembangkan
dan mempertahankan tindakan rutin unutk tidur (mandi air hangat dan teknik
relaksasi yang memudahkan tidur)
·
menjelaskan
pentingnya istirahat untuk mengurangi stres sistemik, artikuler dan emosional
·
menjelaskan
cara mengggunakan teknik-teknik untuk menghemat tenaga
·
kenali
faktor-faktor fisik dan emosional yang menyebabkan kelelahan.
b.
Fasilitasi
pengembangan jadwal aktivitas/istirahat yang tepat.
c.
Dorong
kepatuhan pasien terhadap program terapinya.
d.
Rujuk dan
dorong program kondisioning.
e.
Dorong nutrisi
adekuat termasuk sumber zat besi dari makanan dan suplemen.
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kelemahan otot, rasa nyeri pada saat bergerak, keterbatasan daya tahan fisik.
Tujuan : mendapatkan dan mempertahankan
mobilitas fungsional yang optimal.
Intervensi :
a.
Dorong
verbalisasi yang berkenaan dengan keterbatasan dalam mobilitas.
b.
Kaji kebutuhan
akan konsultasi terapi okupasi/fisioterapi :
·
Menekankan kisaran gherak pada sendi yang sakit
·
Meningkatkan pemakaian alat bantu
·
Menjelaskan pemakaian alas kaki yang aman.
·
Menggunakan postur/pengaturan posisi tubuh yang
tepat.
c.
Bantu pasien
mengenali rintangan dalam lingkungannya.
d.
Dorong
kemandirian dalam mobilitas dan membantu jika diperlukan.
·
Memberikan waktu yang cukup untuk melakukan
aktivitas
·
Memberikan kesempatan istirahat sesudah melakukan
aktivitas.
·
Menguatkan kembali prinsip perlindungan sendi
4. Gangguan citra tubuh berhubungqan dengan perubahan dan ketergantungan fisaik serta psikologis yang diakibatkan penyakit kronik.
Tujuan : mencapai rekonsiliasi antara konsep diri dan erubahan fisik
serta psikologik yang ditimbulkan enyakit.
Intervensi :
a.
Bantu pasien untuk mengenali unsur-unsur pengendalian
gejala penyakit dan penanganannya.
b.
Dorong verbalisasi perasaan, persepsi dan rasa takut
·
Membantu menilai situasi sekarang dan menganli
masahnya.
·
Membantu menganli mekanisme koping pada masa
lalu.
·
Membantu mengenali mekanisme koping yang
efektif.
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit, penumpukan kompleks imun.
Tujuan : pemeliharaan integritas kulit.
Intervensi :
a.
Lindungi kulit yang sehat terhadap kemungkinan maserasi
b.
Hilangkan kelembaban dari kulit
c.
Jaga dengan cermat terhadap resiko terjadinya sedera
termal akibat penggunaan kompres hangat yang terlalu panas.
d.
Nasehati pasien untuk menggunakan kosmetik dan preparat
tabir surya.
e.
Kolaborasi pemberian NSAID dan kortikosteroid.
No comments:
Post a Comment