Juniartha Semara Putra
ASUHAN
KEPERAWATAN SEPSIS PADA ANAK
Ada teori yang menghitung berapa jam
sebelum in partu, misalnya 2 atau 4 atau 6 jam sebelum in partu.
Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan serviks pada kala I, misalnya ketuban yang pecah sebelum pembukaan serviks 3 cm atau 5 cm, dan sebagainya.
ASUHAN
KEPERAWATAN SEPSIS PADA ANAK
ASKEP SEPSIS PADA ANAK
A. Definisi
Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki.
Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalamw aktu 72 jam setelah lahir.
Sepsis yang baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit).
Pembagian Sepsis:
1. Sepsis dini –> terjadi 7 hari pertama kehidupan. Karakteristik : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion, biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi.
2. Sepsis lanjutan/nosokomial –> terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi, sering mengalami komplikasi.
B. Etiologi
Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri.
Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sepsis pada neonatus antara lain :
• Perdarahan
• Demam yang terjadi pada ibu
• Infeksi pada uterus atau plasenta
• Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan)
• Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan)
• Proses kelahiran yang lama dan sulit
C. Patofisiologi
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara yaitu :
a. Pada masa antenatal atau sebelum lahir pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilicus masuk kedalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta, antara lain virus rubella, herpes, sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini antara lain malaria, sifilis dan toksoplasma.
b. Pada masa intranatal atau saat persalinan infeksi saat persalinan terjadi karena kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai kiroin dan amnion akibatnya, terjadi amnionitis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilkus masuk ke tubuh bayi. Cara lain, yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi dapat terinhalasi oleh bayi dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius, kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain melalui cara tersebut diatas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau “port de entre” lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman (mis. Herpes genitalis, candida albican dan gonorrea).
c. Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan diluar rahim (mis, melalui alat-alat; pengisap lendir, selang endotrakea, infus, selang nasagastrik, botol minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nasokomial, infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus.
D. Tanda dan Gejala
Gejala infeksi sepsis pada neonatus ditandai dengan:
• Bayi tampak lesu
• tidak kuat menghisap
• denyut jantung lambat dan suhu tubuhnya turun-naik
• gangguan pernafasan
• kejang
• jaundice (sakit kuning)
• muntah
• diare
• perut kembung
E. Faktor Risiko
1. Sepsis Dini
• Kolonisasi maternal dalam GBS, infeksi fekal
• Malnutrisi pada ibu
• Prematuritas, BBLR
2. Sepsis Nosokomial
• BBLR–>berhubungan dengan pertahanan imun
• Nutrisi Parenteral total, pemberian makanan melalui selang
• Pemberian antibiotik (superinfeksi dan infeksi organisme resisten)
F. Pencegahan
• Pada masa Antenatal –> Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu, asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin. Rujuk ke pusat kesehatan bila diperlukan.
• Pada masa Persalinan –> Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik.
• Pada masa pasca Persalinan –> Rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, jaga lingkungan dan peralatan tetap bersih, perawatan luka umbilikus secara steril.
G. Prognosis
25% bayi meninggal walaupun telah diberikan antibiotik dan perawatan intensif.
A. Definisi
Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki.
Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalamw aktu 72 jam setelah lahir.
Sepsis yang baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit).
Pembagian Sepsis:
1. Sepsis dini –> terjadi 7 hari pertama kehidupan. Karakteristik : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion, biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi.
2. Sepsis lanjutan/nosokomial –> terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir. Karakteristik : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi, sering mengalami komplikasi.
B. Etiologi
Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri.
Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sepsis pada neonatus antara lain :
• Perdarahan
• Demam yang terjadi pada ibu
• Infeksi pada uterus atau plasenta
• Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan)
• Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan)
• Proses kelahiran yang lama dan sulit
C. Patofisiologi
Mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai neonatus melalui beberapa cara yaitu :
a. Pada masa antenatal atau sebelum lahir pada masa antenatal kuman dari ibu setelah melewati plasenta dan umbilicus masuk kedalam tubuh bayi melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang dapat menembus plasenta, antara lain virus rubella, herpes, sitomegalo, koksaki, hepatitis, influenza, parotitis. Bakteri yang dapat melalui jalur ini antara lain malaria, sifilis dan toksoplasma.
b. Pada masa intranatal atau saat persalinan infeksi saat persalinan terjadi karena kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai kiroin dan amnion akibatnya, terjadi amnionitis dan korionitis, selanjutnya kuman melalui umbilkus masuk ke tubuh bayi. Cara lain, yaitu saat persalinan, cairan amnion yang sudah terinfeksi dapat terinhalasi oleh bayi dan masuk ke traktus digestivus dan traktus respiratorius, kemudian menyebabkan infeksi pada lokasi tersebut. Selain melalui cara tersebut diatas infeksi pada janin dapat terjadi melalui kulit bayi atau “port de entre” lain saat bayi melewati jalan lahir yang terkontaminasi oleh kuman (mis. Herpes genitalis, candida albican dan gonorrea).
c. Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi yang terjadi sesudah kelahiran umumnya terjadi akibat infeksi nosokomial dari lingkungan diluar rahim (mis, melalui alat-alat; pengisap lendir, selang endotrakea, infus, selang nasagastrik, botol minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi dapat menyebabkan terjadinya infeksi nasokomial, infeksi juga dapat terjadi melalui luka umbilikus.
D. Tanda dan Gejala
Gejala infeksi sepsis pada neonatus ditandai dengan:
• Bayi tampak lesu
• tidak kuat menghisap
• denyut jantung lambat dan suhu tubuhnya turun-naik
• gangguan pernafasan
• kejang
• jaundice (sakit kuning)
• muntah
• diare
• perut kembung
E. Faktor Risiko
1. Sepsis Dini
• Kolonisasi maternal dalam GBS, infeksi fekal
• Malnutrisi pada ibu
• Prematuritas, BBLR
2. Sepsis Nosokomial
• BBLR–>berhubungan dengan pertahanan imun
• Nutrisi Parenteral total, pemberian makanan melalui selang
• Pemberian antibiotik (superinfeksi dan infeksi organisme resisten)
F. Pencegahan
• Pada masa Antenatal –> Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu, asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin. Rujuk ke pusat kesehatan bila diperlukan.
• Pada masa Persalinan –> Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik.
• Pada masa pasca Persalinan –> Rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, jaga lingkungan dan peralatan tetap bersih, perawatan luka umbilikus secara steril.
G. Prognosis
25% bayi meninggal walaupun telah diberikan antibiotik dan perawatan intensif.
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Sepsis
neonatorum adalah suatu infeksi bakteri berat yang menyebar ke seluruh tubuh
bayi baru lahir. Prevalensi kejadian ini adalah < 1% dari bayi baru lahir.
Penyebab dari 30% kematian bayi adalah sepsis neonatorum. Prevalensi sepsis
neonatorum di RSU Kabupaten Madiun cukup tinggi (11%). Penyebab utama kematian
bayi tersebut antara lain; asfiksia, prematur, dan sepsis neonatorum. Ketiga
faktor ini diperberat jika ibu hamil mengalami KPD sebelum masa inpartu.
Seberapa besar sepsis neonatorum disebabkan oleh efek KPD di Madiun belum
pernah dilaporkan.
Ketuban
Pecah Dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum tanda-tanda
persalinan, dan ditunggu satu jam belum ada tanda-tanda awal persalinan
(Manuaba, 2007). Efek KPD pada bayi disebabkan oleh infeksi dalam rahim
(Mochtar, 1998). Upaya untuk mengurangi angka kesakitan ini adalah dengan
pemberian antibiotika segera, observasi vital signs, observasi detak
jantung janin dan pembatasan pemeriksaan dalam (vaginal toucher).
Menurut
Elva (2002), ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban yang terjadi sebelum
terjadinya persalinan. Ketuban Pecah Dini (KPD) terjadi sekitar 2,7-17%
kehamilan dan pada kebanyakan kasus terjadi secara spontan. Istilah KPD
digunakan untuk menyatakan peristiwa pecahnya ketuban pada sembarang waktu
sebelum terjadi persalinan, tanpa memperdulikan waktu kehamilan.
Ketuban
pecah dini ada dua macam kemungkinan yaitu premature rupture of membrane
dan preterm rupture of membrane. Keduanya memiliki gejala yang sama,
yaitu keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. Tanda-tanda khasnya KPD
adalah keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. Aliran cairan tidak
terlalu deras, tidak disertai perasaan mulas atau sakit perut. Ibu akan
merasakan sakit bila janin bergerak-gerak. Menurut Saifuddin (2002), ketuban
dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.
Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum usia
kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm.
Menurut
Ratih Rochmat (2007), dampak ketuban pecah dini dapat berakibat pada faktor ibu
dan faktor janin. Pengaruh pada ibu berupa infeksi intra partum, infeksi nifas,
perdarahan post partum, dari akibat ini maka angka kesakitan dan angka kematian
ibu meningkat. Pengaruh pada janin berupa prematuritas, infeksi intra uterin,
prolapsus funikuli, asfiksia neonatorum, angka kesakitan dan kematian bayi
meningkat.
Infeksi
selama kehamilan akibat TORCH, ibu hamil dengan eklamsia, ibu hamil dengan
diabetus mellitus dan penyakit bawaan diduga merupakan faktor resiko sepsis
neonatorum. Proses persalinan lama, persalinan dengan tindakan, ketuban pecah
dini, air ketuban keruh juga diduga sebagai faktor resiko sepsis neonatorum.
Faktor lain yang menyebabkan sepsis neonatorum adalah; bayi lahir dengan
trauma, bayi lahir kurang bulan, bayi kurang kalori protein, bayi dengan
hipitermia. Vagina toucher yang dilakukan petugas dengan frekuensi
sering juga mengakibatkan sepsis neonatorum.
Tujuan
Penelitian
Penelitian
ini bertujuan: 1) mengidentifikasi prevalensi kejadian sepsis neonatorum, 2)
mengidentifikasi prevalensi kejadian KPD, 3) menganalisis hubungan antara
kejadian KPD dengan kejadian sepsis neonatorum
BAHAN
DAN METODE PENELITIAN PENELITIAN
Penelitian
analitik observasional dengan rancangan kasus kontrol (retrospektif) ini
berlokasi di Rumah Sakit Daerah Kabupaten Madiun. Populasi penelitian adalah
semua bayi lahir hidup di RSUD Kabupaten Madiun selama tahun 2004-2007,
sejumlah 1100 bayi. Variabel bebas penelitian adalah kejadian KPD, sedangkan
variabel terikat adalah kejadian sepsis neonatorum. Teknik pengumpulan data
menggunakan data sekunder. Data dikelompokkan dalam data resiko (KPD) dan data
efek (sepsis neonatorum). Teknik analisis data menggunakan pendekatan statistik
Chi-Square dengan a £ 0,05.
Analisis pengaruh paparan terhadap efek menggunakan odds ratio.
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dari
1100 persalinan hidup didapatkan; 366 (33,3%) persalinan didahului KPD, dan 734
(66,7%) persalinan normal (Tabel 1). Dari seluruh bayi baru lahir tersebut, ada
121 (11%) mengalami sepsis neonatorum, selebihnya 979 (89%) tidak mengalami
sepsis neonatorum (Tabel 2). Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 121 bayi yang
sepsis, 92 di antaranya (76%) berasal dari ibu hamil dengan KPD, selebihnya 29
(24%) berasal dari ibu hamil tidak dengan KPD. Sedangkan Tabel 4 menggambarkan
bahwa dari 1100 persalinan hidup, didapatkan; 676 (95,9%) persalinan tanpa KPD
dan bayi tidak mengalami sepsis neonatorum, 29 (4,1%) persalinan tanpa KPD dan
bayi mengalami sepsis neonatorum.
Tabel
1. Distribusi Frekuensi Kejadian KPD
|
No
|
Riwayat
Persalinan
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
KPD
(+)
|
366
|
33,3
|
|
2
|
KPD
(-)
|
734
|
66,7
|
|
Jumlah
|
1100
|
100
|
|
Tabel
2. Distribusi Frekuensi Kejadian Sepsis Neonatorum
|
No
|
Riwayat
Bayi
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
Sepsis
Neonatorum (+)
|
121
|
11
|
|
2
|
Sepsis
Neonatorum (-)
|
979
|
89
|
|
Jumlah
|
1100
|
100
|
|
Tabel
3. Distribusi Frekuensi Kejadian KPD pada Sepsis Neonatorum
|
No
|
Riwayat
Bayi dan Persalinan
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
Bayi
Sepsis neonatorum dengan KPD (+)
|
92
|
76
|
|
2
|
Bayi
Sepsis Neonatorum tanpa KPD (-)
|
29
|
24
|
|
Jumlah
|
121
|
100
|
|
Tabel
4. Distribusi Frekuensi Kejadian Sepsis Neonatorum pada Persalinan Tanpa KPD
|
No
|
Riwayat
Persalinan
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
KPD
(-) dan Sepsis Neonatorum (+)
|
29
|
4,1
|
|
2
|
KPD
(-) dan sepsis neonatorum (-)
|
676
|
95,9
|
|
Jumlah
|
705
|
100
|
|
Hubungan
antara kejadian KPD dengan kejadian sepsis neonatorum disajikan pada Tabel 5.
Tabel
5. Distribusi Frekuensi Kejadian Sepsis Neonatorum Menurut Kejadian KPD
|
KPD
|
|
Sepsis
Neonatorum
|
Total
|
|
|
+
|
-
|
|||
|
+
|
92
|
274
|
366
|
|
|
-
|
29
|
705
|
734
|
|
|
Total
|
121
|
979
|
1100
|
|
Uji
Chi-Square menunjukkan nilai p=0,003, dan OR = 8,16. Artinya bila ibu
bersalin didahului KPD, bayi yang dilahirkan akan mengalami sepsis neonatorum
8,16 kali lebih besar daripada yang tidak didahului KPD. Diketahui bahwa 40%
ibu bersalin yang didahului KPD akan melahirkan bayi beresiko sepsis
neonatorum. Sebaliknya 6,53% ibu bersalin yang tidak didahului KPD akan
melahirkan bayi beresiko sepsis neonatorum.
Ketuban
pecah dini terjadi karena beberapa faktor resiko yaitu; infeksi kehamilan,
pecahnya membran karena koitus, serviks inkompeten, dan kelainan presentasi
janin. Upaya untuk mengurangi resiko antara lain; antenatal care yang
rutin minimal 4 kali selama kehamilan, pendidikan kesehatan pada PUS, dan
sistem rujukan yang memadai. Upaya lain dari petugas kesehatan (bidan) adalah
melakukan tindakan sesuai standar operasional prosedur, patuh melakukan tidakan
pencegahan infeksi (UPI) pada setiap melakukan perawatan, dan pengobatan yang
tepat. Upaya-upaya tersebut tidak berhasil mengurangi prevalensi KPD bila
petugas kesehatan enggan melakukan pendidikan dan pelatihan yang kontinu. Oleh
karenanya diduga ada hubungan antara tingkat pendidikan petugas dengan kejadian
KPD, dan hal ini perlu diteliti lebih lanjut.
Prosedur
tetap penanganan KPD adalah ibu inpartu didahului KPD kurang dari 24 jam harus
sudah mendapatkan perawatan di RS. Bidan diharuskan mampu mengambil keputusan
klinik dengan baik. Kemampuan bidan dalam membuat keputusan klinik sangat
tergantung dari intelectual skill, technical skill dan interpersonal
skill yang dimiliki. Ketiga kemampuan ini merupakan konsep profesional
seorang bidan. Bidan harus mampu menguasai ilmu epidemiologi; perihal faktor
resiko kejadian sepsis neonatorum. Bidan juga dituntut mampu menguasai ilmu
fisiologi manusia, ilmu kebutuhan dasar manusia, dan ilmu kedokteran klinik.
Resiko
sepsis neonatorum menjadi 8,16 kali jika terpapar faktor KPD. Hasil penelitian
ini sesuai dengan penelitian Hamdah (2006), bahwa gangguan hasil kehamilan disebabkan
oleh ibu hamil yang mengalami anemia, besarnya odd ratio 8,81 kali. Ada hubungan antara
ketuban pecah dini dengan keadaan anemia (Mochtar, R, 1998). Perdarahan ante
partum dan post partum juga lebih sering dijumpai pada wanita yang anemia
(Notobroto,2003). Penelitian Florentina, S (2003) menyebutkan bahwa proporsi
terbesar dari hasil kehamilan terganggu akibat kelainan pada kehamilan. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi hasil kehamilan antara lain; 1) faktor ibu;
demografi, penyakit, status gizi, kelainan persalinan, 2) faktor kehamilan;
toksemia gravidarum, kelainan plasenta, kehamilan ganda, perdarahan antepartum,
ketuban pecah dini, dan 3) faktor janin; kelainan pertumbuhan konsepsi, infeksi
janin, kelainan letak janin, 4) faktor lain yang belum diketahui.
Infeksi
postnatal adalah infeksi yang diperoleh setelah bayi lahir (aquired
infection). Infeksi ini terjadi akibat dari penggunaan alat kesehatan yang
tidak steril, perawatan oleh petugas yang tidak berdasarkan prinsip universal
precaution, atau karena infeksi silang. Angka kesakitan infeksi postnatal
ini cukup tinggi (Wiknjosastro, H, 2005). Beberapa faktor penyebab antara lain;
1) riwayat obstetrik ibu yang jelek, 2) KPD, 3) keadaan bayi prematur, dan 4)
standar pelayanan di unit perawatan intensif khusus anak jelek.
Faktor
sosial ekonomi masyarakat secara tidak langsung juga menjadi penyebab sepsis
neonatorum (Manuaba,1998). Keadaan sosial ekonomi dan stress diduga memudahkan
terjadinya infeksi saat kehamilan, nifas dan efeknya adalah infeksi pada anak.
Berbagai
kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur dapat menyebabkan infeksi
berat yang mengarah ke terjadinya sepsis. Sepsis pada bayi hampir selalu
disebabkan oleh bakteri. Kuman Streptococcus grup B merupakan penyebab sepsis
paling sering pada neonatus.
Pada
berbagai kasus sepsis neonatorum, organisme memasuki tubuh bayi melalui ibu
selama kehamilan atau proses persalinan. Beberapa komplikasi kehamilan yang
dapat meningkatkan resiko terjadinya sepsis pada nenonatus antara lain; perdarahan,
demam yang terjadi pada ibu, infeksi pada uterus atau plasenta, KPD sebelum 37
minggu kehamilan, proses kelahiran yang lama dan sulit.
KPD
yang tidak segera diikuti dengan adanya tanda persalinan, memberikan peluang
pada mikroorganisme (bakteri) masuk ke tubuh janin melalui vagina. Lama ketuban
pecah berhubungan dengan infeksi neonatal; hal ini dihubungkan dengan
peningkatan koloni kuman, ascending infection dan jumlah vaginal
toucher. Para ahli kebidanan telah
menyepakati bahwa lama ketuban pecah lebih dari 18 jam dianggap sebagai resiko
terjadinya infeksi neonatus.
Angka
paparan KPD terhadap sepsis neonatorum pada kelompok kasus sebesar 40%. Artinya
bahwa ibu hamil yang didahului KPD sebelum persalinan, 40% bayi yang dilahirkan
akan mengalami sepsis neonatorum. Untuk itu diperlukan pendidikan kesehatan
pada ibu hamil untuk mampu menjaga agar kejadian KPD bisa ditekan. Kedua, bila
ditemukan kasus KPD, maka dalam waktu kurang dari 24 jam harus segera diberikan
pengobatan yang adekuat. Ketiga, bila ditemukan kasus di tempat terpencil, maka
diupayakan adanya sistem rujukan yang baik sebelum 24 jam. Upaya-upaya ini
hanya bisa dilakukan bila masing-masing petugas dan masyarakat memiliki
komitmen yang sama untuk mengurangi kejadian infeksi pada bayi setelah dilahirkan.
Angka
paparan KPD terhadap sepsis neonatorum pada kelompok kontrol sebesar 6,53%.
Fakta ini memberikan peringatan pada petugas, meskipun perawatan kehamilan
sudah dilakukan dengan baik, adanya faktor resiko tersebut, resiko sepsis pada
neonatorum tetap ada. Untuk itu diperlukan kewaspadaan bidan setiap menolong
persalinan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
penelitian ini adalah: 1) persalinan yang didahului oleh KPD adalah 33,3%, 2)
25,13% dari persalinan yang didahului oleh KPD menimbulkan dampak sepsis
neonatorum pada bayi yang dilahirkan, 3) Ada hubungan bermakna antara kejadian
KPD dengan kejadian sepsis neonatorum, 4) ibu bersalin yang didahului oleh KPD
memberikan resiko 8,16 kali lebih besar melahirkan bayi dengan sepsis
neonatorum.
Saran
yang diajukan adalah diperlukan teknik keputusan klinik yang tepat saat
perawatan kehamilan sesuai standar operasional prosedur ANC, guna menekan angka
kejadian sepsis neonatorum akibat resiko KPD.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Sepsis Neonatorum.
www.medicastore.com Ditulis,September
2007, Diakses 12 Pebruari 2008, jam 09.15 wib.
Manuaba, 1998. Ilmu
Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. EGC, Jakarta .
Mochtar Rustam, 1998. Sinopsis
Obstetri. EGC, Jakarta .
Nailor, C Scott, 2005. Obstetri
Ginekologi. EGC, Jakarta .
RSD Kabupaten Madiun, 2007. Prosedur
Tetap Perawatan Ketuban Pecah Dini. Madiun.
Saifuddin, 2002. Panduan
Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. YBPSP, Jakarta .
Siregar, 2002. Statistik Terapan.
Grasindo, Jakarta .
Wiknjosastro, Saifuddin, Rachim
Hadhi, 2005. Ilmu Kebidanan. YB-SP, Jakarta
Ketuban Pecah Dini (KPD)
Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan serviks pada kala I, misalnya ketuban yang pecah sebelum pembukaan serviks 3 cm atau 5 cm, dan sebagainya.
Prinsipnya
adalah ketuban yang pecah “sebelum waktunya”.
Masalahnya : Kapan selaput ketuban pecah (spontan) pada
persalinan normal ?
Normal selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala II persalinan. Bisa juga belum pecah sampai saat mengedan, sehingga kadang perlu dipecahkan (amniotomi).
Normal selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala II persalinan. Bisa juga belum pecah sampai saat mengedan, sehingga kadang perlu dipecahkan (amniotomi).
KETUBAN PECAH DINI BERHUBUNGAN ERAT DENGAN
PERSALINAN PRETERM DAN INFEKSI INTRAPARTUM
PERSALINAN PRETERM DAN INFEKSI INTRAPARTUM
Patofisiologi
Banyak teori, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi.
Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%).
High virulence : bacteroides. Low virulence : lactobacillus.
Banyak teori, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi.
Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%).
High virulence : bacteroides. Low virulence : lactobacillus.
Kolagen
terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler korion dan
trofoblas.
Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.
Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.
Faktor risiko / predisposisi ketuban pecah dini /
persalinan preterm
1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%)
2. riwayat persalinan preterm sebelumnya : risiko 2 - 4x
3. tindakan sanggama : TIDAK berpengaruh kepada risiko, KECUALI jika higiene buruk, predisposisi terhadap infeksi
4. perdarahan pervaginam : trimester pertama (risiko 2x), trimester kedua/ketiga (20x)
5. bakteriuria : risiko 2x (prevalensi 7%)
6. pH vagina di atas 4.5 : risiko 32% (vs. 16%)
7. servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25% (vs. 7%)
8. flora vagina abnormal : risiko 2-3x
9. fibronectin > 50 ng/ml : risiko 83% (vs. 19%)
10. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm
1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%)
2. riwayat persalinan preterm sebelumnya : risiko 2 - 4x
3. tindakan sanggama : TIDAK berpengaruh kepada risiko, KECUALI jika higiene buruk, predisposisi terhadap infeksi
4. perdarahan pervaginam : trimester pertama (risiko 2x), trimester kedua/ketiga (20x)
5. bakteriuria : risiko 2x (prevalensi 7%)
6. pH vagina di atas 4.5 : risiko 32% (vs. 16%)
7. servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25% (vs. 7%)
8. flora vagina abnormal : risiko 2-3x
9. fibronectin > 50 ng/ml : risiko 83% (vs. 19%)
10. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm
Strategi pada perawatan antenatal
- deteksi faktor risiko
- deteksi infeksi secara dini
- USG : biometri dan funelisasi
Trimester pertama : deteksi faktor risiko, aktifitas seksual, pH vagina, USG, pemeriksaan Gram, darah rutin, urine.
Trimester kedua dan ketiga : hati-hati bila ada keluhan nyeri abdomen, punggung, kram di daerah pelvis seperti sedang haid, perdarahan per vaginam, lendir merah muda, discharge vagina, poliuria, diare, rasa menekan di pelvis.
- deteksi faktor risiko
- deteksi infeksi secara dini
- USG : biometri dan funelisasi
Trimester pertama : deteksi faktor risiko, aktifitas seksual, pH vagina, USG, pemeriksaan Gram, darah rutin, urine.
Trimester kedua dan ketiga : hati-hati bila ada keluhan nyeri abdomen, punggung, kram di daerah pelvis seperti sedang haid, perdarahan per vaginam, lendir merah muda, discharge vagina, poliuria, diare, rasa menekan di pelvis.
Jika ketuban pecah :
jangan sering periksa dalam !! Awasi tanda-tanda komplikasi.
Komplikasi ketuban pecah dini
1. infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin.
2. persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.
3. prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang).
4. oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.
1. infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin.
2. persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.
3. prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang).
4. oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.
Keadaan / faktor-faktor yang dihubungkan dengan partus
preterm
1. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatik
2. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau pelvis, pre-eklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2 terlarang, infeksi intraamnion subklinik, korioamnionitis klinik, inkompetensia serviks, servisitis/vaginitis akut, KETUBAN PECAH pada usia kehamilan preterm.
3. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, kematian janin.
4. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh, ketuban pecah pada preterm, infeksi intraamnion, korioamnionitis klinik.
5. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau lebih), sinus maginalis, chorioangioma, vasa praevia.
6. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar, desiduositis, aktifitas uterus idiopatik.
1. iatrogenik : hygiene kurang (terutama), tindakan traumatik
2. maternal : penyakit sistemik, patologi organ reproduksi atau pelvis, pre-eklampsia, trauma, konsumsi alkohol atau obat2 terlarang, infeksi intraamnion subklinik, korioamnionitis klinik, inkompetensia serviks, servisitis/vaginitis akut, KETUBAN PECAH pada usia kehamilan preterm.
3. fetal : malformasi janin, kehamilan multipel, hidrops fetalis, pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, kematian janin.
4. cairan amnion : oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh, ketuban pecah pada preterm, infeksi intraamnion, korioamnionitis klinik.
5. placenta : solutio placenta, placenta praevia (kehamilan 35 minggu atau lebih), sinus maginalis, chorioangioma, vasa praevia.
6. uterus : malformasi uterus, overdistensi akut, mioma besar, desiduositis, aktifitas uterus idiopatik.
Persalinan preterm (partus prematurus) : persalinan yang
terjadi pada usia kehamilan antara 20-37 minggu.Tanda : kontraksi dengan interval
kurang dari 5-8’, disertai dengan perubahan serviks progresif, dilatasi serviks
nyata 2 cm atau lebih, serta penipisan serviks berlanjut sampai lebih dari 80%.
Insidens rata-rata di rumahsakit2 besar diIndonesia : 13.3% (10-15%)
Insidens rata-rata di rumahsakit2 besar di
(persalinan preterm - ada
kuliahnya sendiri)
INFEKSI INTRAPARTUM
Infeksi intrapartum adalah infeksi yang terjadi dalam masa persalinan / in partu.
Infeksi intrapartum adalah infeksi yang terjadi dalam masa persalinan / in partu.
Disebut
juga korioamnionitis,
karena infeksi ini melibatkan selaput janin.
Pada
ketuban pecah 6 jam, risiko infeksi meningkat 1 kali. Ketuban pecah 24 jam,
risiko infeksi meningkat sampai 2 kali lipat.
Protokol : paling lama 2 x 24 jam setelah ketuban pecah,
harus sudah partus.
Patofisiologi
1. ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan langsung antara ruang intraamnion dengan dunia luar.
2. infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke ruang intraamnion.
3. mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi intrauterin menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal).
4. tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan dalam yang terlalu sering, dan sebagainya, predisposisi infeksi.
1. ascending infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan langsung antara ruang intraamnion dengan dunia luar.
2. infeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan penjalaran infeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke ruang intraamnion.
3. mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi intrauterin menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal).
4. tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan dalam yang terlalu sering, dan sebagainya, predisposisi infeksi.
Kuman
yang sering ditemukan : Streptococcus, Staphylococcus (gram positif), E.coli
(gram negatif), Bacteroides, Peptococcus (anaerob).
Diagnosis infeksi intrapartum
1. febris di atas 38oC (kepustakaan lain 37.8oC)
2. ibu takikardia (>100 denyut per menit)
3. fetal takikardia (>160 denyut per menit)
4. nyeri abdomen, nyeri tekan uterus
5. cairan amnion berwarna keruh atau hijau dan berbau
6. leukositosis pada pemeriksaan darah tepi (>15000-20000/mm3)
7. pemeriksaan penunjang lain : leukosit esterase (+) (hasil degradasi leukosit, normal negatif), pemeriksaan Gram, kultur darah.
1. febris di atas 38oC (kepustakaan lain 37.8oC)
2. ibu takikardia (>100 denyut per menit)
3. fetal takikardia (>160 denyut per menit)
4. nyeri abdomen, nyeri tekan uterus
5. cairan amnion berwarna keruh atau hijau dan berbau
6. leukositosis pada pemeriksaan darah tepi (>15000-20000/mm3)
7. pemeriksaan penunjang lain : leukosit esterase (+) (hasil degradasi leukosit, normal negatif), pemeriksaan Gram, kultur darah.
Komplikasi infeksi intrapartum
1. komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia, atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu.
2. komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.
1. komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia, atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu.
2. komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian janin.
Prinsip
penatalaksanaan
1. pada ketuban pecah, terminasi kehamilan, batas waktu 2 x 24 jam
2. jika ada tanda infeksi intrapartum, terminasi kehamilan / persalinan batas waktu 2 jam.
3. JANGAN TERLALU SERING PERIKSA DALAM
4. bila perlu, induksi persalinan
5. observasi dan optimalisasi keadaan ibu : oksigen !!
6. antibiotika spektrum luas : gentamicin iv 2 x 80 mg, ampicillin iv 4 x 1 mg, amoxicillin iv 3 x 1 mg, penicillin iv 3 x 1.2 juta IU, metronidazol drip.
7. uterotonika : methergin 3 x 1 ampul drip
8. pemberian kortikosteroid : kontroversi. Di satu pihak dapat memperburuk keadaan ibu karena menurunkan imunitas, di lain pihak dapat menstimulasi pematangan paru janin (surfaktan). Di RSCM diberikan, bersama dengan antibiotika spektrum luas. Hasil cukup baik.
Baca Selengkapnya di Materi Kesehatan: Ketuban Pecah Dini (KPD) | askep askeb unik menarik tips trik
donasi seikhlasnya pulsa 3 ke 089660413123
1. pada ketuban pecah, terminasi kehamilan, batas waktu 2 x 24 jam
2. jika ada tanda infeksi intrapartum, terminasi kehamilan / persalinan batas waktu 2 jam.
3. JANGAN TERLALU SERING PERIKSA DALAM
4. bila perlu, induksi persalinan
5. observasi dan optimalisasi keadaan ibu : oksigen !!
6. antibiotika spektrum luas : gentamicin iv 2 x 80 mg, ampicillin iv 4 x 1 mg, amoxicillin iv 3 x 1 mg, penicillin iv 3 x 1.2 juta IU, metronidazol drip.
7. uterotonika : methergin 3 x 1 ampul drip
8. pemberian kortikosteroid : kontroversi. Di satu pihak dapat memperburuk keadaan ibu karena menurunkan imunitas, di lain pihak dapat menstimulasi pematangan paru janin (surfaktan). Di RSCM diberikan, bersama dengan antibiotika spektrum luas. Hasil cukup baik.
Baca Selengkapnya di Materi Kesehatan: Ketuban Pecah Dini (KPD) | askep askeb unik menarik tips trik
donasi seikhlasnya pulsa 3 ke 089660413123
LAPORAN PENDAHULUAN
INFEKSI NEONATAL/SEPSIS
KONSEP DASAR
A. DEFINISI
Sepsis adalah infeksi bakteri
umum generalisata yang biasanya terjadi pada bulan
pertama kehidupan. (Muscari,
Mary E. 2005. hal 186).
Sepsis neonatorum adalah
infeksi bakteri pada aliran darah bayi selama empat minggu
pertama kehidupan.(Bobak,
2005)
Sepsis adalah infeksi berat
dengan gejala sistemik dan terdapat bakteri dalam darah.
(Surasmi, Asrining. 2003, hal
92).
Sepsis Neonatorum adalah
suatu infeksi bakteri berat yang menyebar ke seluruh tubuh
bayi baru
lahir.(http://www.indonesiaindonesia.com/f/12912-sepsis-neonatorum)
Sepsis adalah sindrom yang dikarakteristikan oleh
tanda-tanda klinis dan gejala-gejala
infeksi yang parah yang dapat berkembang ke arah septisemia dan
syok septik. (Doenges, Marylyn E. 2000, hal 871).
Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada
darah yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat dan zat-zat racunnya yang
dapat mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar.
Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang
menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir
tetapi merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi
baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih
sering menyerang bayi laki-laki
Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam
waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalam waktu 72 jam setelah lahir.Sepsis yang
baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan
disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang didapat
di rumah sakit).
Pembagian Sepsis:
1. Sepsis dini
terjadi 7 hari pertama
kehidupan.
Karakteristik
: sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion,
biasanya fulminan dengan
angka mortalitas tinggi.
2.Sepsis
lanjutan/nosokomial
yaitu terjadi setelah minggu
pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir.
Karakteristik
: Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang
ditemukan dari lingkungan
tempat perawatan bayi, sering mengalami komplikasi
– Amati edema dependen/perifer pada sacrum, skurutum, punggung
kaki
– Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan IV
– Pantau nilai laboratorium
– Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan IV
– Pantau nilai laboratorium
DAFTAR
PUSTAKA
Doengoes, Marylin. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
Hasan, Rusepno. 1986. Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah 3. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan
Anak. FKUI.
Mansjoer Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius.Jakarta :
FKUI.
Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian 2.Jakarta : EGC.
Pusdiknakes. Asuhan Keperawatan Anak Dalam Konteks Keluarga.Jakarta : Depkes
RI .
Mansjoer Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius.
Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian 2.
Pusdiknakes. Asuhan Keperawatan Anak Dalam Konteks Keluarga.
No comments:
Post a Comment