WHO AM I?

I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA POLTEKKES KEMENKES DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

Friday, April 20, 2012

Hubungan Antara Perawatan Dengan Depresi Lansia

Juniartha Semara Putra

KEPERAWATAN LINTAS BUDAYA
” Depresi Pada Lansia ”



OLEH:
KONTINGEN KARANGASEM :
1.      Putri Diantari                                              (P07120011012)
2.      Ni Kadek Pratiwi Narayani                       (P07120011013)
3.      I Pt Juniartha Semara Putra                     (P07120011014)
4.      I Putu Arnawa                                            (P07120011026)
5.      Desak Nyoman Mita Dewi                         (P07120011042)
6.      Komang Herdiani Sattvika                        (P07120011049)
7.      I Ketut Adiastra                                          (P07120011050)
8.      Luh Putu Wijayanti                                    (P07120011019)
9.      Ni Made Linda Elmiati                               (P07120011071)
10.  Ni Luh Sri Marliasti S.                               (P07120011083)
11.  Komang Sri Lestari                                                (P07120011102)
12.  Ni Putu Desy Ratna S.                                (P07120011104)


POLTEKKES KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2012
BAB I
PENDAHULUAN

            Depresi dan lanjut usia sebagai tahap akhir siklus perkembangan manusia. Masa dimana semua orang berharap akan menjalani hidup dengan tenang, damai, serta menikmati masa pensiun bersama anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih sayang. Pada kenyataanya tidak semua lanjut usia mendapatkan hal yang sama untuk mengecap kondisi hidup idaman ini. Berbagai persoalan hidup yang mendera lanjut usia sepanjang hayatnya, seperti: kemiskinan, kegagalan yang beruntun, stress yang berkepanjangan, ataupun konflik dengan keluarga atau anak, atau kondisi lain seperti tidak memiliki keturunan yang bisa merawatnya dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi hidup seperti ini dapat memicu terjadinya depresi. Perawatan dari keluarga yang sering menelantarkan atau membatasi segala tindakan mereka sehingga membuat mereka tertekan dan tidak adanya media bagi lanjut usia untuk mencurahkan segala perasaan dan kegundahannya merupakan kondisi yang akan mempertahankan depresinya, karena dia akannterus menekan segala bentuk perasaan negatifnya kealam bawah sadar.
            Cita-cita seseorang untuk dapat hidup bersama dan mendapatkan perawatan dari keluarga terutama anak/cucu pada saat lanjut usia bukanlah sebuah jaminan, sebab ada beberapa faktor, sehingga lanjut usia tidak mendapatkan perawatan dari keluarga, seperti: tidak memiliki keturunan, punya keturunan tapi telah lebih duluan meninggal, anak tidak mau direpotkan untuk mengurus orang tua, anak terlalu sibuk dan sebagainya. Maka panti merupakan salah satu alternatif kepada lanjut usia untuk mendapatkan perawatan dan pelayanan secara memadai, akan tetapi hal ini tidak seratus persen akan diterima oleh lanjut usia secara lapang, hidup di panti bukan merupakan pilihan terbaik, bahkan sebaliknya menjadi pilihan pahit yang kadang menyedihkan. Dalam konteks ke-Indonesian pada umumnya lanjut usia seringkali menghayati penempatan mereka di panti sebagai bentuk pengasingan dan pemisahan dari perasaan kehangatan yang terdapat dalam keluarga, apalagi lansia yang masih punya anak dengan kondisi hidup berkecukupan. Nilai-nilai seperti anak harus berbakti pada kedua orang tua yang masih kuat mengakar pada masyarakat, menjadi beban tersendiri bagi lanjut usia untuk melepaskan ketergantungan (baca: hidup bersama anak) dari anak-anaknya. perasaan-perasaan negatif akan muncul dalam benak lansia, perasaan kecewa, tidak dihargai, sedih, dendam, marah dan sebagainya. sikap bersabar dan mencoba menerima kondisi hidup apa adanya merupakan obat penawar yang cukup efektif untuk jangka pendek, akan tetapi sikap sabar tidak dengan sendirinya atau secara otomatis akan menghilangkan perasaan-perasaan tersebut, sikap sabar tidak lain merupakan mekanisme pertahanan ego yang dinamakan Represi. pada saat-saat tertentu perasaan-perasaan tersebut akan muncul dan menimbulkan depresi.
            Pada orang yang lanjut usia prevalensi terjadinya depresi sangat tinggi berkisar antara 30 –40%. Kejadian depresi pada lanjut usia di Indonesia pada wanita diperkirakan 10-25% dan laki-laki 5-12%. Menurut hasil SP 1990, jumlah lansia di Bali mencapai lebih dari 230.000 orang atau 8,3 persen dari total penduduk Bali. Tahun 2000 meningkat menjadi lebih dari 275.000 orang (7,2% dari jumlah penduduk) dan tahun 2005 bertambah lagi menjadi hampir 312.000 orang (9,2% dari jumlah penduduk). Kemudian, tahun 2015 jumlahnya diperkirakan meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 1990 sehingga menjadi lebih dari 432.000 orang (11,4 persen). Umumnya lansia mengalami penurunan kondisi fisik psikologis maupun social yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus kepada lansia.
           
DISTRIBUSI PERSENTASE LANSIA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MENURUT MEMERLUKAN BANTUAN ORANG LAIN DALAM BERKEGIATAN, BALI, SUPAS 2005

KABUPATEN
Tidak Memerlukan Bantuan
Memerlukan Bantuan Dalam
JUMLAH
Berpakaian
BAK/
BAB
Makan/Minum
Menyiapkan
Makanan
Mandi
JEMBRANA
69,8
3,0
2,7
4,0
16,9
3,5
100,0
TABANAN
79,0
2,3
2,3
3,0
10,8
2,6
100,0
BADUNG
82,2
2,3
2,3
2,4
7,5
3,3
100,0
GIANYAR
69,2
4,5
4,8
5,1
10,6
5,7
100,0
KLUNGKUNG
75,2
1,9
2,3
3,3
14,3
3,0
100,0
BANGLI
73,5
3,9
2,9
4,0
12,2
3,5
100,0
KARANGASEM
87,9
1,2
1,2
2,0
5,6
2,1
100,0
BULELENG
76,5
3,2
3,0
3,4
10,5
3,2
100,0
DENPASAR
86,2
1,7
1,1
3,5
6,4
1,1
100,0
BALI
77,6
2,8
2,7
3,4
10,2
3,2
100,0


DISTRIBUSI PERSENTASE LANSIA MENURUT KONDISI KESEHATAN PER KABUPATEN/KOTA,
BALI, SUPAS 2005
KABUPATEN
Laki - Laki
Jumlah
Perempuan
Jumlah
Baik
Cukup
Kurang
%
Orang
Baik
Cukup
Kurang
%
Orang
JEMBRANA
39,6
44,0
16,3
100,0
9.199
35,8
53,5
10,7
100,0
12.050
TABANAN
38,4
50,7
11,0
100,0
26.044
24,5
67,4
8,0
100,0
26.451
BADUNG
60,2
27,4
12,4
100,0
14.133
59,8
36,7
3,4
100,0
13.947
GIANYAR
46,9
28,5
24,5
100,0
20.400
30,6
48,2
21,2
100,0
21.991
KLUNGKUNG
42,4
43,0
14,6
100,0
7.957
33,5
49,2
17,2
100,0
9.783
BANGLI
47,8
34,5
17,6
100,0
11.156
34,7
46,6
18,7
100,0
10.567
KARANGASEM
45,1
41,4
22,7
100,0
18.786
51,0
35,6
13,4
100,0
17.572
BULELENG
33,2
47,8
18,9
100,0
32.026
35,0
37,1
27,9
100,0
32.601
DENPASAR
63,2
23,3
13,4
100,0
12.191
47,5
39,1
12,8
100,0
14.580
BALI
44,3
39,6
16,1
100,0
151.89
37,7
46,3
16,0
100,0
159.542

BAB II
ISI

2.1 Konsep transculture
            Bila ditinjau dari makna kata , transkultural berasal dari kata trans dan culture, Trans berarti aluar perpindahan , jalan lintas atau penghubung.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; trans berarti melintang , melintas , menembus , melalui.
Cultur berarti budaya . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur berarti :
-  Kebudayaan , cara pemeliharaan , pembudidayaan.
- Kepercayaan , nilai – nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok dan diteruskan pada generasi berikutnya , sedangkan cultural berarti : Sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan.
-  Budaya sendiri berarti : akal budi , hasil dan adat istiadat.
Kazier Barabara ( 1983 ) dalam bukuya yang berjudul Fundamentals of Nursing Concept and Procedures mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan yang merupakan konfigurasi dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan ilmu humanistic , philosopi perawatan, praktik klinis keperawatan , komunikasi dan ilmu sosial . Konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang menjadi target pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio – psycho – social – spiritual . Oleh karenanya , tindakan perawatan harus didasarkan pada tindakan yang komperhensif sekaligus holistik.
Budaya merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata sebagai manusia yang bersifat sosial. Budaya yang berupa norma , adat istiadat menjadi acuan perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain . Pola kehidupan yang berlangsung lama dalam suatu tempat , selalu diulangi , membuat manusia terikat dalam proses yang dijalaninya . Keberlangsungaan terus – menerus dan lama merupakan proses internalisasi dari suatu nilai – nilai yang mempengaruhi pembentukan karakter , pola pikir , pola interaksi perilaku yang kesemuanya itu akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan ( cultural nursing approach ).

            Ketika seseorang sudah mencapai usia tua dimana fungsi-fungsi tubuhnya tidak dapat lagi berfungsi dengan baik maka lansia membutuhkan banyak bantuan dalam menjalani aktivitas-aktivitas kehidupannya. Belum lagi berbagai penyakit degeneratif yang menyertai keadaan lansia membuat mereka memerlukan perhatian ekstra dari orang-orang disekelilingnya.
Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia berbeda dari orang dewasa, yang menurut Kane dan Ouslander sering disebut dengan istilah 14 I, yaitu immobility (kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh), incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar), intellectual impairment (gangguan intelektual/dementia), infection (infeksi), impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin integrity (gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit), impaction (sulit buang air besar), isolation (depresi), inanition (kurang gizi), impecunity (tidak punya uang), iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan), insomnia (gangguan tidur), immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun), impotence (impotensi).
            Merawat lansia tidak hanya terbatas pada perawatan kesehatan fisik saja namun juga pada faktor psikologis dan sosiologis. Perlu diingat bahwa kualitas hidup lansia terus menurun seiring dengan semakin bertambahnya usia. Penurunan kapasitas mental, perubahan peran sosial, dementia (kepikunan), juga depresi yang sering diderita oleh lansia ikut memperburuk kondisi mereka. Depresi merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai pada lansia. Depresi merupakan  perubahan status sosial, bertambahnya penyakit dan berkurangnya kemandirian sosial serta perubahan-perubahan akibat proses menua menjadi salah satu pemicu munculnya depresi pada lansia. Namun demikian, sering sekali gejala depresi menyertai penderita dengan penyakit-penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui ataupun terpikirkan sebelumnya, karena gejala-gejala depresi yang muncul seringkali dianggap sebagai suatu bagian dari proses menua yang normal ataupun tidak khas. Gejala-gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak bahagia, sering menangis, merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan gerakan tubuh lamban, cepat lelah dan menurunnya aktivitas, tidak ada selera makan, berat badan berkurang, daya ingat berkurang, sulit untuk memusatkan pikiran dan perhatian, kurangnya minat, hilangnya kesenangan yang biasanya dinikmati, menyusahkan orang lain, merasa rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, merasa bersalah dan tidak berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan mau bunuh diri, dan gejala-gejala fisik lainnya. Akan tetapi pada lansia sering timbul depresi terselubung, yaitu yang menonjol hanya gangguan fisik saja seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan pencernaan dan lain-lain, sedangkan gangguan jiwa tidak jelas.
            Pertanyaan selanjutnya adalah "Bagaimana cara untuk merawat lansia agar mereka dapat melalui kehidupannya dengan lebih baik?" Terdapat dua pilihan bagaimana untuk merawat lansia. Lansia dapat dirawat di rumah sendiri oleh keluarganya atau dapat juga dirawat di tempat yang kita kenal sebagai rumah jompo.
             Nilai kekeluargaan yang sangat dipegang erat oleh sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin menjadi salah satu alasan mengapa rumah jompo bukan menjadi suatu pilihan dalam perawatan lansia. Mengirim keluarga yang sudah berumur dan memerlukan perawatan ekstra ke rumah jompo dianggap sebagai perbuatan yang tidak terpuji. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan ekstra lansia tersebut mereka mempekerjakan seorang perawat untuk merawat orangtuanya di rumah. Melalui cara ini memang terdapat keuntungan maupun kerugiannya. Lansia dapat tetap tinggal di rumah sehingga ia mendapatkan rasa nyaman dan aman. Namun juga banyak hal yang harus diperhatikan secara seksama. Perlu diingat bahwa lansia memerlukan berbagai hal lain untuk dapat mempertahankan kualitas hidupnya seperti latihan-latihan yang dapat melatih kekuatan tubuhnya agar tidak terus menurun, ataupun bagaimana untuk mempertahankan fiingsi kognitifnya. Tak lupa bahwa lansia juga membutuhkan sosialisasi. Hal ini menuntut perhatian khusus dari keluarga yang menjaga lansia tersebut. Jangan sampai lansia merasa sendirian yang akan berdampak pada depresi walaupun berada di rumahnya sendiri.
            Adapun beberapa dampak terjadinya depresi lansia ialah:
1.      Kerentanan Genetik
Secara umum, semakin lambat onset terjadinya gangguan depresi maka semakin sedikit peran faktor genetik sebagai faktor risiko. Hopkinson (1964) menemukan bahwa prevalensi gangguan depresi diantara saudara kandung individu yang mengalami sepresi mulai umur diatas 50 tahun adalah kurang dari separuh daripada prevalensi depresi onset dini.
2.      Jenis kelamin dan status social
Pada penelitian potong lintang wanita, janda meninggal dan janda cerai menunjukkan
risiko tertinggi (kivela et al,1988)
3.      Perubahan Neurotransmiter
Proses penuaan yang normal berhubungan dengan penurunan konsentrasi serotonin, dopamin,noradrenalin dan metabolitnya dalam otak (Veith & Raskind, 1988), yang mana diperkirakan menjadi predisposisi terjadinya depresi. Namun demikian daur ulang dan ketersediaan neurotransmiter ini juga berubah seiring umur, sehingga gambarannya tidak bisa disimpulkan secara langsung. Penurunan dalam plasma 3-metoksi-a-hidropenilglikol (MHPG) (yang dipercaya meningkatkan ambilan kembali noradrenalin) kemungkinan berhubungan dengan terjadinya depresi onset lanjut (Karege et al 1989) dan 5-hidroksitriptamin (5-HT) sebuah metabolit asam 5-hidroksiindoleasetik (5-HIAA) secara konsisten menunjukkan peningkatan seiring usia ((Karlsson,1993) mengakibatkan hiperaktivitas pada jalur serotonin. Sedangkan penurunan kadar 5-HIAA pada cairan serebrospinal kemungkinan berhubungan lebih erat dengan gejala depresi terutama kecemasan dan tindakan bunuh diri daripada umur saat onset terjadinya depresi (Sparks, 1989). Perubahan akibat proses penuaan dalam fungsi dopaminergik misalnya reduksi kadar asam homovanilik (HVA) pada cairan serebrospinal dan adanya peningkatan aktivitas monoamin oksidase B (MAO-B) platelet, plasma dan otak dipercaya dapat menjadi predisposisi terjadinya depresi (Veith & Raskind,1988) walaupun temuan lain mengindikasikan bahwa aktivitas MAO platelet lebih berhubungan dengan beratnya depresi dan gejala anhedonia daripada umur saat onset depresi terjadi (Schneider, 1992). Pada sebuah penelitian pada lansia wanita dengan depresi, pada kelompok yang depresinya terjadi sebelum umur 55 tahun memiliki aktivitas MAO platelet yang lebih rendah daripada kelompok onset lanjut (Alexopoulos et al 1984). Juga terdapat temuan adanya penurunan pada platelet 5-HT uptake sites pada pasien lansia dengan depresi (Scneider 1992). Yang terakhir, Neuropeptida dapat bekerja serupa dengan neurotransmiter modulator namun belum ada temuan yang meyakinkan dalam hubungannya dengan penuaan (Leake & Ferrier, 1993). Tabel berikut meresume data tersebut. Tampak jelas bahwa hanya beberapa (tidak semua) perubahan neurotransmiter akibat penuaan serupa dengan terjadinya depresi.
4.       Perubahan Neuroendokrin
Pada semua tingkat umur, depresi berhubungan dengan hiperaktivitas dan disregulasi hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis. Proses penuaan berhubungan dengan peningkatan kadar kortisol dan kortisol non lanjut. Tidak bisa dibedakan antara depresi dengan demensia dan kondisi akibat kelainan fisik serta obat. Penelitian lain tentang coticotropin-releasing hormone (CRH) menunjukkan bahwa kadar mRNA CRH pada nukleus paraventrikuler lansia dengan depresi lebih tinggi daripada pasien Alzheimer dan jauh lebih tinggi supresi. Schneider (1992) berspekulasi bahwa proses penuaan normal berhubungan peningkatan aktivitas HPA axis, kemungkinan berhubungan dengan degenerasi neuronal pada hipokampus, yang dipicu oleh peningkatan sekresi glukokortikoid akibat depresi ataupun kejadian hidup yang mengakibatkan distres (the forward cascade). Krishnan (1991) melaporkan penurunan T1 spin-lattice relaxation times pada hipokampus, melalui pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI), pada kelompok depresi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Efek ini juga terjadi pada lelompok lansia dan diduga adanya kerusakan jaringan. Respon TSH (thyroid stimulating hormonr, thyrotropin)pada pemberian thyroid-releasing hormone kurang berhubungan dengan umur namun tidak spesifik untuk depresi. Tes supresi deksametason (Carrol et al, 1981) menunjukkan tidak adanya bukti etiologis terjadinya depresi onset daripada kontrol normal (Raadsheer et al, 1995). Hal ini menyatakan bahwa hiperaktivasi neuron CRH paraventrikular dapat berkontribusi terjadinya depresi pada usia lanjut.
5.      Perubahan Struktur Otak
Perubahan volumetrik. Hubungan antara perubahan atropik denga depresi onset lanjut diindikasikan dari penonjolan cerebral sulci dan peningkatan ukuran ventrikular. Beberapa penelitian melaporkan reduksi volume fokal pada lobus frontal (Coffey et al, 1993) dan nukleus kaudatus (Krishnan et al, 1992). Tidak jelas apakah perubahan ini merupakan predisposi terjadinya depresi ataukah depresi menyebabkan atropi. Kemungkinan mekanismenya meliputi hiperkortikolisme, malnutrisi atau pengurangan berat badan. Terapi elektrokonvulsif (ECT) juga berhubungan dengan atropi serebral (Coffey et al,1991). Lesi white matter (substansia nigra) dan lainnya Hiperintensitas pada white matter, diperiksa melalui MRI, sangat sering terjadi pada depresi onset lanjut, begitupula perubahan subkortikal basal ganglia dan Caudatum (Baldwin,1993).
6.      Hipotesis Depresi Vaskular
Hal ini didasarkan pada beberapa premis (Alexopoulos et al 1997). Pertama, pasien dengan gangguan vaskular memiliki angka depresi yang tinggi. Kedua, penyakit yang menyerang pembuluh darah, misalnya stroke, hipertensi dan diabetes berhubungan dengan white matter hyperintensities (WMH). Ketiga, gangguan neurologis yang mengenai subkortek berhubungan dengan angka depresi yang tinggi. Keempat, depresi onset lambat berhubungan dengan dengan angka gangguan vaskular yang lebih tinggi daripada depresi onset dini (Baldwin & Tomenson, 1995). Pada vascular depression , kerusakan pada end-arteries yang melayani jalur subkortikal striato-palido-thalamo-kortikal mengganggu sirkuit neurotransmiter yang terlibat pada regulasi mood dan kemungkinan menjadi predisposisi terjadinya depresi. Namun demikian signifikansi WMH ini masih kontroversial. Walaupun lebih sering terjadi pada lansia dengan depresi, WMH be um sepenuhnya dipercaya berhubungan langsung dengan penuaan ataupun depresi(Baldwin, 1993) dan bisa juga terjadi pada kondisi non vaskular lain seperti hidrosefalus, multiple sclerosis, Alzheimer dan pada penuaan normal. Sebuah penelitian depresi pada lansia (Lyness et al, 1998) gagal menunjukkan hubungan antara faktor risiko gangguan serebrovaskular dengan tingkat parahnya depresi atau simtomatologi. Pada penelitian lain (Kumar et al, 1997a), pemeriksaan volume otak berhubungan dengan gangguan kondisi medik umum daripada gangguan kardivaskular spesifik atau faktor risiko kardiovaskular. Sehingga belum dapat disimpulkan bahwa perubahan otak yang terlihat diakibatkan gangguan end artery. Walaupun demikian, terdapat temuan yang mengindikasi WMH dan kelainan subkortikal pada depresi onset lanjut dengan: sub tipe depresi dengan gejala psikotik (O’Brien et al, 1997), dan depresi minor (Kumar et al, 1997b) dan hasil yang buruk dengan terapi antidepresan (Simpson et al, 1998). Hipotesis vaskular, walaupun belum terbukti namun memberikan konsep etiologi penting sebagai dasar penelitian-penelitian berbasis neuroimaging modern. Hal ini juga memberi implikasi penting untuk terapi depresi. Hal ini meliputi penggunaan obat-obatan yang bekerja mencegah risiko oklusi end-artery misalnya aspirin juga strategi rehabilitatif yang dirancang untuk menterapi brain-based apathy dan kurangnya motivasi.
7.      Depresi dan Demensia
Kerusakan neuronal lebih luas pada locus coeruleus pada pasien demensia yang depresi dibandingkan dengan yang tanpa depresi (Forst et al, 1992). Pasien depresi tanpa demensia namun mengalami hendaya kognitif berkurang aliran ke girus prefrontal medial anterior kiri dan aliran meningkat ke vermis serebelar (Bench et al, 1992), menunjang dasar biologi apa yang disebut depressive pseudementia, yang sering muncul pada lansia yang depresi.
8.       Kepribadian
Penelitian mendapatkan hasil bahwa kepribadian cemas menghindar, kepribadian dependent dan kesulitan membangun hubungan dekat kemungkinan menjadi faktor risiko depresi onset lanjut (Murphy, 1982). Bergmann (1978) mengadaptasi teori perlekatan pada etiologi depresi onset lanjut. Ia menyatakan bahwa satisfactory attachment behaviour pada awal kehidupan lebih berefek pada koping adaptasi daripada kecemasan non adaptif, dan kehilangan pasangan hidup.
9.      Kesehatan fisik dan Disabilitas
Baik penelitian berlatar belakang rumah sakit (Murphy, 1982) dan komunitas (Prince et al, 1998) menggambarkan hubungan yang erat antara onset depresi dan penyakit fisik. Impairment fisik dapat memicu gangguan depresi, yang mana meningkatkan derajad disabilitas berhubungan dengan impairment fisik (Prince et al, 1998). Terdapat beberapa mekanisme yang menunjukkan gangguan fisik mengarah pada depresi. Demensia, stroke dan parkinson berhubungan dengan depresi. Kondisi medik lainnya semisal gangguan pendengaran dan pengelihatan, yang mana berhubungan dengan depresi, menyiratkan bahwa penderitaan yang dialami sama pentingnya dengan bagian tubuh yang terganggu (Murphy, 1982). Prince et al (1998) menunjukkan bahwa disabilitas dan beberapa handicap spesifik merupakan faktor risiko depresi pada lansia yang tinggal di rumah. Prevalensi tertinggi depresi pada lansia ditemukan di panti jompo, pusat perawatan medis lansia dan lansia yang menerima pelayanan homecare. Ini menunjukkan adanya hubungan dengan banyaknya disabilitas yang di temukan pada kelompok ini. Namun demikian, konsep handicap memberikan perspektif lain. Karena hal ini juga sangat tergantung dengan pelayanan dan perhatian yang di berikan walaupun kondisi handicap yang sama terjadi. Maka dari itu pengetahuan ini berguna dalam kita melakukan pencegahan depresi. Terakhir, terdapat beberapa gangguan fisik, obat dan faktor iatrogenik yang berhubungan dengan onset depresi.

BAB III
KASUS DAN PEMECAHAN


            Lansia yang mengalami depresi mempunyai risiko bunuh diri. Hal ini disebabkan karena beberapa persoalan hidup yang mendera lanjut usia sepanjang hayatnya, seperti:
a.        Kemiskinan
b.      Kegagalan yang beruntun,
c.       Stress yang berkepanjangan,
d.      Ataupun konflik dengan keluarga atau anak,
e.       Tidak memiliki keturunan yang bisa merawatnya dan lain sebagainya.

Contoh Kasus :
            Seorang nenek yang tinggal di sebuah desa, mempunyai 5 orang anak. Empat  anaknya sekarang sudah menikah dan tinggal di kota. Sedangkan anak yang terakhir tinggal bersama orang tuanya di desa. Sehari-hari nenek ini bekerja di sebuah tempat pembuatan tepung. Sampai suatu ketika, nenek ini mengalami kecelakaan saat di bonceng oleh cucunya ke tempat kerja dan pinggangnya patah. Sejak saat itu, sang nenek tidak bisa beraktivitas seperti biasa, dan harus berada di tempat tidur untuk memulihkan kondisinya. Segala keperluan sang nenek telah diberikan oleh anaknya, mulai dari makan, minum, buang air, dan mandi. Namun ia tidak bisa terus menemani ibuna karena sibuk bekerja. Setelah kondisinya mulai membaik, sang nenek ingin bekerja kembali namun tidak diizinkan oleh anaknya. Segala aktivitas sang nenek dibatasi oleh anaknya dan si nenek tidak diizinkan keluar rumah. Hal itu membuat si nenek sering murung dan kondisinya malah kembali memburuk.

Pemecahan
            Keadaan sang nenek merupakan tanda-tanda ia mengalami depresi. Depresi ini disebabkan karena lansia(si nenek) yang dulunya terus beraktivitas ( bekerja ), kini hanya duduk dan dipaksa untuk tidak beraktivitas sehingga mereka stress dan depresi
Mereka juga kurang dalam mendapatkan perhatian dan dukungan dari keluarga. Hal ini disebabkan oleh kesibukan dari anak-anaknya, tempat tinggal yang jauh sehingga anak jarang mengunjungi orang tuanya.
            Sebagian besar lansia yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yang memiliki beberapa dari gejala depresi dimana mereka mengungkapkan tentang kondisi yang dialaminya.
Selain itu sebagian besar lansia yang sudah tidak bekerja ternyata lebih banyak yang memiliki gejala depresi karena sudah tidak dapat memperoleh penghasilan sendiri sehingga harus menggantungkan kehidupannya dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari pada anak-anaknya maupun cucu-cucunya. Depresi pada lansia seringkali lambat terdeteksi karena gambaran klinisnya tidak khas. Depresi pada lansia lebih banyak tampil dalam keluhan somatis, seperti kelelahan kronis, gangguan tidur, penurunan berat badan, dan sebagainya. Depresi pada lansia juga dapat tampil dalam bentuk perilaku agitatif, ansietas atau penurunan fungsi kognitif. Sejumlah faktor pencetus depresi pada lansia, antara lain :
a.        Faktor biologik,
Faktor biologik misalnya faktor genetik, perubahan struktural otak, faktor risiko vaskular, kelemahan fisik.
b.       Psikologik,
Faktor psikologik pencetus depresi pada lansia, yaitu tipe kepribadian, relasi interpersonal.
c.        Stres kronis,
d.       Penggunaan obat.
Peristiwa kehidupan seperti berduka, kehilangan orang dicintai, kesulitan ekonomi dan perubahan situasi, stres kronis dan penggunaan obat-obatan tertentu.
Menurut Suryo, faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam terapi depresi pada lansia yaitu perubahan faal oleh proses menua, status medik atau komorbiditas penyakit fisik, status fungsional, interaksi antar obat, efektivitas dan efek samping obat serta dukungan sosial. “Penatalaksanaan depresi pada lansia mencakup terapi biologik dan psikososial,” katanya. Terapi biologik antara lain dengan pemberian obat antidepresan, terapi kejang listrik (ECT), terapi sulih hormon dan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Sementara terapi psikosial bertujuan mengatasi masalah psikoedukatif, yaitu mengatasi kepribadian maladaptif, distorsi pola berpikir, mekanisme koping yang tidak efektif, hambatan relasi interpersonal. Terapi ini juga dilakukan untuk mengatasi masalah sosiokultural, seperti keterbatasan dukungan dari keluarga , kendala terkait faktor kultural, perubahan peran social. Dengan memahami hal tersebut diatas maka diharapkan kita sebagai keluarga yang peduli dengan lansia yang mengalami depresi,  harus belajar mendengarkan segala keluh kesah mereka, memahami realitas apa yang sesungguhnya dialami, sehingga mereka bisa keluar dari kondisi yang membuatnya depresi. Depresi timbul akibat adanya dorongan negatif dari super-ego yang diresepsi dan lambat laun akan tertimbun dialam bawah sadar. Sehingga depresi adalah sebentuk penderitaan emosional. Kekecewaan ataupun ketidakpuasan secara emosional yang direpresi tidak secara otomatis akan hilang, melainkan sewaktu-waktu akan muncul ((return of the repressed).  Oleh karena itu sebagai toksin (racun) penyebab depresi yang ada pada diri lanjut usia perlu digali dan dikeluarkan, salah satu medianya dengan percakapan. Psikoterapi malah sering didefenisikan dengan penyembuhan melalui percakapan. Selain itu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi depresi lansia adalah dengan memberikan latihan fisik terutama olah-raga. Setidaknya ada dua alasan penting mengapa olah raga perlu untuk penderita depresi. pertama, olah raga meningkatkan kesadaran sistem syaraf sentral. Denyut nadi meningkat dan anda menjadi sadar. Anda membangkitkan semua sistem anda. hal ini berlawanan dengan penurunan kesadaran syaraf sentral akibat adanya depresi. kedua, olah raga bisa memacu sistem syaraf sentral. endorphin adalah molekul organik yang seperti halnya norepinephrine dan serotonin, berfungsi sebagai kurir kimiawi. Kadang endorphin dianggap sebagai candu (opium) alami yang berfungsi untuk meningkatkan proses biologis untuk mengatasi depresi. Depresi berhubungan dengan tingkat kesadaran yang rendah. Kesadaran mengacu pada proses psikologis yang meliputi hal-hal seperti misalnya kemampuan untuk memusatkan perhatian seseorang dan kemampuan untuk bekerja secara efektif. Makanan berat secara otomatis akan memicu tindakan bagian syaraf parasimpatik yakni cabang dari sistem syaraf otonom yang menurunkan kesadaran. Darah dialirkan ke proses pencernaan untuk membantu seseorang mencerna makanan yang dimakan. Sewaktu darah meninggalkan otak dan tangan serta kaki, tubuh akan merasa lemas dan mengantuk, karena itu makan makan berat cenderung memicu depresi. Karena itu dianjurkan untuk makan makan ringan, ketika lapar diantara jam-jam makan, akan tetapi sebaiknya menghindari makanan yang mengandung kadar gula yang tingi. Sementara kudapan yang rendah kalori dan berprotein tinggi akan membuat seseorang tetap segar, memuaskan rasa lapar, dan tidak mengganggu kesadaran optimal seseorang.



BAB IV
KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang kami lakukan di Karangasem
1.      Depresi pada lansia sering disebabkan karena lansia yang dulunya terus beraktivitas ( bekerja ), kini hanya duduk dan dipaksa untuk tidak beraktivitas sehingga mereka stress dan depresi
2.      Mereka juga kurang dalam mendapatkan perhatian dan dukungan dari keluarga. Hal ini disebabkan oleh kesibukan dari anak-anaknya, tempat tinggal yang jauh sehingga anak jarang untuk mengunjungi, anaknya telah lebih dulu meninggal, adanya konflik antara orang tua dengan anaknya dan anak tidak mau direpotkan dengan urusan orang tuanya serta orang tua sudah jarang di libatkan dalam penyelesaian masalah yang ada dalam keluarga. Dari penyebab itu lansia merasa sudah tidak dibutuhkan lagi, tidak berguna, tidak dihargai di dalam keluarganya dan merasa menjadi beban bagi keluarganya. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh lansia di atas dapat menjadikan mereka mengalami depresi.
3.      Sebagian besar lansia yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yang memiliki beberapa dari gejala depresi dimana mereka mengungkapkan tentang kondisi yang dialaminya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www2.kompas.com/ver1/Metropolitan/0610/29/051339.htm
Budiyanto. F.X. (1990).  Psikologi populer menghadapi depresi & elasi (Edisi ke-3). Jakarta: Arcan.
Erwin. K.Sp.Kj. (2008). Agar depresi tidak menghampiri.  Diakses tanggal 24 Oktober 2008 dari http://www.pro-vclinic.web.id/articles/agar-depresi-tidak-menghampiri.html.
Hadi.P. (2004).  Depresi & Solusinya.  Yogyakata: Tugu.
Idris.F.  (2007).  Masyarakat Indonesia mengidap depresi. Diakses tanggal 24 Oktober 2008 dari http://www.bluefame.com/lofiversion/index.php/t38903.html
Maryam,et all. (2008).  Mengenal usia lanjut dan perawatannya. Jakarta: Salemba Medika.
Nugroho,W. (1995). Perawatan Lanjut Usia. Jakarta: EGC.
Rasmun, Skp, M.Kep. (2004).  Stres, Koping dan Adaptasi teori dan pohon masalah keperawatan. Jakarta: CV.Sagung Seto


No comments: