Juniartha Semara Putra

DISTRIBUSI PERSENTASE LANSIA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MENURUT MEMERLUKAN BANTUAN ORANG LAIN DALAM BERKEGIATAN, BALI, SUPAS 2005
Dari hasil penelitian yang kami lakukan di Karangasem
” Depresi Pada Lansia ”
OLEH:
KONTINGEN
KARANGASEM :
1.
Putri
Diantari (P07120011012)
2.
Ni
Kadek Pratiwi Narayani (P07120011013)
3.
I Pt
Juniartha Semara Putra (P07120011014)
4.
I Putu
Arnawa (P07120011026)
5.
Desak
Nyoman Mita Dewi (P07120011042)
6.
Komang
Herdiani Sattvika (P07120011049)
7.
I Ketut
Adiastra (P07120011050)
8.
Luh
Putu Wijayanti (P07120011019)
9.
Ni Made
Linda Elmiati (P07120011071)
10.
Ni Luh
Sri Marliasti S. (P07120011083)
11.
Komang
Sri Lestari (P07120011102)
12.
Ni Putu
Desy Ratna S. (P07120011104)
POLTEKKES
KEMENKES DENPASAR
JURUSAN
KEPERAWATAN
2012
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Depresi dan lanjut usia sebagai
tahap akhir siklus perkembangan manusia. Masa dimana semua orang berharap akan
menjalani hidup dengan tenang, damai, serta menikmati masa pensiun bersama anak
dan cucu tercinta dengan penuh kasih sayang. Pada kenyataanya tidak semua
lanjut usia mendapatkan hal yang sama untuk mengecap kondisi hidup idaman ini.
Berbagai persoalan hidup yang mendera lanjut usia sepanjang hayatnya, seperti:
kemiskinan, kegagalan yang beruntun, stress yang berkepanjangan, ataupun
konflik dengan keluarga atau anak, atau kondisi lain seperti tidak memiliki
keturunan yang bisa merawatnya dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi hidup
seperti ini dapat memicu terjadinya depresi. Perawatan dari keluarga yang
sering menelantarkan atau membatasi segala tindakan mereka sehingga membuat
mereka tertekan dan tidak adanya media bagi lanjut usia untuk mencurahkan
segala perasaan dan kegundahannya merupakan kondisi yang akan mempertahankan
depresinya, karena dia akannterus menekan segala bentuk perasaan negatifnya
kealam bawah sadar.
Cita-cita seseorang untuk dapat
hidup bersama dan mendapatkan perawatan dari keluarga terutama anak/cucu pada
saat lanjut usia bukanlah sebuah jaminan, sebab ada beberapa faktor, sehingga
lanjut usia tidak mendapatkan perawatan dari keluarga, seperti: tidak memiliki
keturunan, punya keturunan tapi telah lebih duluan meninggal, anak tidak mau
direpotkan untuk mengurus orang tua, anak terlalu sibuk dan sebagainya. Maka
panti merupakan salah satu alternatif kepada lanjut usia untuk mendapatkan
perawatan dan pelayanan secara memadai, akan tetapi hal ini tidak seratus
persen akan diterima oleh lanjut usia secara lapang, hidup di panti bukan
merupakan pilihan terbaik, bahkan sebaliknya menjadi pilihan pahit yang kadang
menyedihkan. Dalam konteks ke-Indonesian pada umumnya lanjut usia seringkali
menghayati penempatan mereka di panti sebagai bentuk pengasingan dan pemisahan
dari perasaan kehangatan yang terdapat dalam keluarga, apalagi lansia yang
masih punya anak dengan kondisi hidup berkecukupan. Nilai-nilai seperti anak
harus berbakti pada kedua orang tua yang masih kuat mengakar pada masyarakat,
menjadi beban tersendiri bagi lanjut usia untuk melepaskan ketergantungan
(baca: hidup bersama anak) dari anak-anaknya. perasaan-perasaan negatif akan
muncul dalam benak lansia, perasaan kecewa, tidak dihargai, sedih, dendam,
marah dan sebagainya. sikap bersabar dan mencoba menerima kondisi hidup apa
adanya merupakan obat penawar yang cukup efektif untuk jangka pendek, akan
tetapi sikap sabar tidak dengan sendirinya atau secara otomatis akan
menghilangkan perasaan-perasaan tersebut, sikap sabar tidak lain merupakan
mekanisme pertahanan ego yang dinamakan Represi. pada saat-saat tertentu
perasaan-perasaan tersebut akan muncul dan menimbulkan depresi.
Pada orang yang lanjut usia
prevalensi terjadinya depresi sangat tinggi berkisar antara 30 –40%. Kejadian
depresi pada lanjut usia di Indonesia pada wanita diperkirakan 10-25% dan
laki-laki 5-12%. Menurut hasil SP 1990, jumlah lansia di Bali mencapai lebih
dari 230.000 orang atau 8,3 persen dari total penduduk Bali. Tahun 2000
meningkat menjadi lebih dari 275.000 orang (7,2% dari jumlah penduduk) dan
tahun 2005 bertambah lagi menjadi hampir 312.000 orang (9,2% dari jumlah
penduduk). Kemudian, tahun 2015 jumlahnya diperkirakan meningkat hampir dua
kali lipat dibandingkan tahun 1990 sehingga menjadi lebih dari 432.000 orang
(11,4 persen). Umumnya lansia mengalami penurunan kondisi fisik psikologis maupun
social yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Hal ini berpotensi
menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus
kepada lansia.
DISTRIBUSI PERSENTASE LANSIA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MENURUT MEMERLUKAN BANTUAN ORANG LAIN DALAM BERKEGIATAN, BALI, SUPAS 2005
|
KABUPATEN
|
Tidak
Memerlukan Bantuan
|
Memerlukan
Bantuan Dalam
|
JUMLAH
|
||||
|
Berpakaian
|
BAK/
BAB
|
Makan/Minum
|
Menyiapkan
Makanan
|
Mandi
|
|||
|
JEMBRANA
|
69,8
|
3,0
|
2,7
|
4,0
|
16,9
|
3,5
|
100,0
|
|
TABANAN
|
79,0
|
2,3
|
2,3
|
3,0
|
10,8
|
2,6
|
100,0
|
|
BADUNG
|
82,2
|
2,3
|
2,3
|
2,4
|
7,5
|
3,3
|
100,0
|
|
GIANYAR
|
69,2
|
4,5
|
4,8
|
5,1
|
10,6
|
5,7
|
100,0
|
|
KLUNGKUNG
|
75,2
|
1,9
|
2,3
|
3,3
|
14,3
|
3,0
|
100,0
|
|
BANGLI
|
73,5
|
3,9
|
2,9
|
4,0
|
12,2
|
3,5
|
100,0
|
|
KARANGASEM
|
87,9
|
1,2
|
1,2
|
2,0
|
5,6
|
2,1
|
100,0
|
|
BULELENG
|
76,5
|
3,2
|
3,0
|
3,4
|
10,5
|
3,2
|
100,0
|
|
DENPASAR
|
86,2
|
1,7
|
1,1
|
3,5
|
6,4
|
1,1
|
100,0
|
|
BALI
|
77,6
|
2,8
|
2,7
|
3,4
|
10,2
|
3,2
|
100,0
|
DISTRIBUSI
PERSENTASE LANSIA MENURUT KONDISI KESEHATAN PER KABUPATEN/KOTA,
BALI,
SUPAS 2005
|
KABUPATEN
|
Laki
- Laki
|
Jumlah
|
Perempuan
|
Jumlah
|
||||||
|
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
%
|
Orang
|
Baik
|
Cukup
|
Kurang
|
%
|
Orang
|
|
|
JEMBRANA
|
39,6
|
44,0
|
16,3
|
100,0
|
9.199
|
35,8
|
53,5
|
10,7
|
100,0
|
12.050
|
|
TABANAN
|
38,4
|
50,7
|
11,0
|
100,0
|
26.044
|
24,5
|
67,4
|
8,0
|
100,0
|
26.451
|
|
BADUNG
|
60,2
|
27,4
|
12,4
|
100,0
|
14.133
|
59,8
|
36,7
|
3,4
|
100,0
|
13.947
|
|
GIANYAR
|
46,9
|
28,5
|
24,5
|
100,0
|
20.400
|
30,6
|
48,2
|
21,2
|
100,0
|
21.991
|
|
KLUNGKUNG
|
42,4
|
43,0
|
14,6
|
100,0
|
7.957
|
33,5
|
49,2
|
17,2
|
100,0
|
9.783
|
|
BANGLI
|
47,8
|
34,5
|
17,6
|
100,0
|
11.156
|
34,7
|
46,6
|
18,7
|
100,0
|
10.567
|
|
KARANGASEM
|
45,1
|
41,4
|
22,7
|
100,0
|
18.786
|
51,0
|
35,6
|
13,4
|
100,0
|
17.572
|
|
BULELENG
|
33,2
|
47,8
|
18,9
|
100,0
|
32.026
|
35,0
|
37,1
|
27,9
|
100,0
|
32.601
|
|
DENPASAR
|
63,2
|
23,3
|
13,4
|
100,0
|
12.191
|
47,5
|
39,1
|
12,8
|
100,0
|
14.580
|
|
BALI
|
44,3
|
39,6
|
16,1
|
100,0
|
151.89
|
37,7
|
46,3
|
16,0
|
100,0
|
159.542
|
BAB II
ISI
ISI
2.1 Konsep transculture
Bila ditinjau dari makna kata ,
transkultural berasal dari kata trans dan culture, Trans berarti aluar
perpindahan , jalan lintas atau penghubung.Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia; trans berarti melintang , melintas , menembus , melalui.
Cultur berarti budaya . Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia kultur berarti :
- Kebudayaan , cara pemeliharaan ,
pembudidayaan.
- Kepercayaan , nilai –
nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok dan diteruskan
pada generasi berikutnya , sedangkan cultural berarti : Sesuatu yang berkaitan
dengan kebudayaan.
- Budaya sendiri berarti : akal budi , hasil
dan adat istiadat.
Kazier Barabara ( 1983
) dalam bukuya yang berjudul Fundamentals of Nursing Concept and Procedures
mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah tindakan perawatan yang merupakan
konfigurasi dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan ilmu
humanistic , philosopi perawatan, praktik klinis keperawatan , komunikasi dan
ilmu sosial . Konsep ini ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia
yang menjadi target pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio – psycho –
social – spiritual . Oleh karenanya , tindakan perawatan harus didasarkan pada
tindakan yang komperhensif sekaligus holistik.
Budaya merupakan salah
satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata sebagai manusia yang
bersifat sosial. Budaya yang berupa norma , adat istiadat menjadi acuan
perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain . Pola kehidupan yang
berlangsung lama dalam suatu tempat , selalu diulangi , membuat manusia terikat
dalam proses yang dijalaninya . Keberlangsungaan terus – menerus dan lama
merupakan proses internalisasi dari suatu nilai – nilai yang mempengaruhi
pembentukan karakter , pola pikir , pola interaksi perilaku yang kesemuanya itu
akan mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan ( cultural
nursing approach ).
Ketika seseorang sudah mencapai usia
tua dimana fungsi-fungsi tubuhnya tidak dapat lagi berfungsi dengan baik maka
lansia membutuhkan banyak bantuan dalam menjalani aktivitas-aktivitas
kehidupannya. Belum lagi berbagai penyakit degeneratif yang menyertai keadaan
lansia membuat mereka memerlukan perhatian ekstra dari orang-orang
disekelilingnya.
Masalah
kesehatan yang sering terjadi pada lansia berbeda dari orang dewasa, yang
menurut Kane dan Ouslander sering disebut dengan istilah 14 I, yaitu immobility
(kurang bergerak), instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah
jatuh), incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar),
intellectual impairment (gangguan intelektual/dementia), infection (infeksi),
impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence,
skin integrity (gangguan pancaindera, komunikasi, penyembuhan, dan kulit),
impaction (sulit buang air besar), isolation (depresi), inanition (kurang
gizi), impecunity (tidak punya uang), iatrogenesis (menderita penyakit akibat
obat-obatan), insomnia (gangguan tidur), immune deficiency (daya tahan tubuh
yang menurun), impotence (impotensi).
Merawat
lansia tidak hanya terbatas pada perawatan kesehatan fisik saja namun juga pada
faktor psikologis dan sosiologis. Perlu diingat bahwa kualitas hidup lansia
terus menurun seiring dengan semakin bertambahnya usia. Penurunan kapasitas
mental, perubahan peran sosial, dementia (kepikunan), juga depresi yang sering
diderita oleh lansia ikut memperburuk kondisi mereka. Depresi merupakan masalah
kesehatan yang sering dijumpai pada lansia. Depresi
merupakan perubahan status sosial,
bertambahnya penyakit dan berkurangnya kemandirian sosial serta
perubahan-perubahan akibat proses menua menjadi salah satu pemicu munculnya
depresi pada lansia. Namun demikian, sering sekali gejala depresi menyertai
penderita dengan penyakit-penyakit gangguan fisik, yang tidak dapat diketahui
ataupun terpikirkan sebelumnya, karena gejala-gejala depresi yang muncul
seringkali dianggap sebagai suatu bagian dari proses menua yang normal ataupun
tidak khas. Gejala-gejala depresi dapat berupa perasaan sedih, tidak bahagia,
sering menangis, merasa kesepian, tidur terganggu, pikiran dan gerakan tubuh
lamban, cepat lelah dan menurunnya aktivitas, tidak ada selera makan, berat
badan berkurang, daya ingat berkurang, sulit untuk memusatkan pikiran dan
perhatian, kurangnya minat, hilangnya kesenangan yang biasanya dinikmati, menyusahkan
orang lain, merasa rendah diri, harga diri dan kepercayaan diri berkurang,
merasa bersalah dan tidak berguna, tidak ingin hidup lagi bahkan mau bunuh
diri, dan gejala-gejala fisik lainnya. Akan tetapi pada lansia sering timbul
depresi terselubung, yaitu yang menonjol hanya gangguan fisik saja seperti
sakit kepala, jantung berdebar-debar, nyeri pinggang, gangguan pencernaan dan
lain-lain, sedangkan gangguan jiwa tidak jelas.
Pertanyaan
selanjutnya adalah "Bagaimana cara untuk merawat lansia agar mereka dapat
melalui kehidupannya dengan lebih baik?" Terdapat dua pilihan bagaimana
untuk merawat lansia. Lansia dapat dirawat di rumah sendiri oleh keluarganya
atau dapat juga dirawat di tempat yang kita kenal sebagai rumah jompo.
Nilai kekeluargaan yang sangat dipegang erat
oleh sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin menjadi salah satu alasan
mengapa rumah jompo bukan menjadi suatu pilihan dalam perawatan lansia.
Mengirim keluarga yang sudah berumur dan memerlukan perawatan ekstra ke rumah
jompo dianggap sebagai perbuatan yang tidak terpuji. Sehingga untuk memenuhi
kebutuhan ekstra lansia tersebut mereka mempekerjakan seorang perawat untuk
merawat orangtuanya di rumah. Melalui cara ini memang terdapat keuntungan
maupun kerugiannya. Lansia dapat tetap tinggal di rumah sehingga ia mendapatkan
rasa nyaman dan aman. Namun juga banyak hal yang harus diperhatikan secara
seksama. Perlu diingat bahwa lansia memerlukan berbagai hal lain untuk dapat
mempertahankan kualitas hidupnya seperti latihan-latihan yang dapat melatih
kekuatan tubuhnya agar tidak terus menurun, ataupun bagaimana untuk
mempertahankan fiingsi kognitifnya. Tak lupa bahwa lansia juga membutuhkan
sosialisasi. Hal ini menuntut perhatian khusus dari keluarga yang menjaga
lansia tersebut. Jangan sampai lansia merasa sendirian yang akan berdampak pada
depresi walaupun berada di rumahnya sendiri.
Adapun beberapa dampak terjadinya
depresi lansia ialah:
1. Kerentanan
Genetik
Secara umum, semakin lambat onset
terjadinya gangguan depresi maka semakin sedikit peran faktor genetik sebagai
faktor risiko. Hopkinson (1964) menemukan bahwa prevalensi gangguan depresi
diantara saudara kandung individu yang mengalami sepresi mulai umur diatas 50
tahun adalah kurang dari separuh daripada prevalensi depresi onset dini.
2. Jenis
kelamin dan status social
Pada penelitian potong lintang wanita,
janda meninggal dan janda cerai menunjukkan
risiko tertinggi (kivela et al,1988)
3. Perubahan
Neurotransmiter
Proses penuaan yang normal berhubungan
dengan penurunan konsentrasi serotonin, dopamin,noradrenalin dan metabolitnya
dalam otak (Veith & Raskind, 1988), yang mana diperkirakan menjadi
predisposisi terjadinya depresi. Namun demikian daur ulang dan ketersediaan
neurotransmiter ini juga berubah seiring umur, sehingga gambarannya tidak bisa
disimpulkan secara langsung. Penurunan dalam plasma
3-metoksi-a-hidropenilglikol (MHPG) (yang dipercaya meningkatkan ambilan
kembali noradrenalin) kemungkinan berhubungan dengan terjadinya depresi onset
lanjut (Karege et al 1989) dan 5-hidroksitriptamin (5-HT) sebuah metabolit asam
5-hidroksiindoleasetik (5-HIAA) secara konsisten menunjukkan peningkatan
seiring usia ((Karlsson,1993) mengakibatkan hiperaktivitas pada jalur
serotonin. Sedangkan penurunan kadar 5-HIAA pada cairan serebrospinal kemungkinan
berhubungan lebih erat dengan gejala depresi terutama kecemasan dan tindakan
bunuh diri daripada umur saat onset terjadinya depresi (Sparks, 1989).
Perubahan akibat proses penuaan dalam fungsi dopaminergik misalnya reduksi
kadar asam homovanilik (HVA) pada cairan serebrospinal dan adanya peningkatan
aktivitas monoamin oksidase B (MAO-B) platelet, plasma dan otak dipercaya dapat
menjadi predisposisi terjadinya depresi (Veith & Raskind,1988) walaupun
temuan lain mengindikasikan bahwa aktivitas MAO platelet lebih berhubungan
dengan beratnya depresi dan gejala anhedonia daripada umur saat onset depresi
terjadi (Schneider, 1992). Pada sebuah penelitian pada lansia wanita dengan
depresi, pada kelompok yang depresinya terjadi sebelum umur 55 tahun memiliki aktivitas
MAO platelet yang lebih rendah daripada kelompok onset lanjut (Alexopoulos et
al 1984). Juga terdapat temuan adanya penurunan pada platelet 5-HT uptake sites
pada pasien lansia dengan depresi (Scneider 1992). Yang terakhir, Neuropeptida
dapat bekerja serupa dengan neurotransmiter modulator namun belum ada temuan
yang meyakinkan dalam hubungannya dengan penuaan (Leake & Ferrier, 1993).
Tabel berikut meresume data tersebut. Tampak jelas bahwa hanya beberapa (tidak
semua) perubahan neurotransmiter akibat penuaan serupa dengan terjadinya
depresi.
4. Perubahan Neuroendokrin
Pada semua tingkat umur, depresi
berhubungan dengan hiperaktivitas dan disregulasi
hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis. Proses penuaan berhubungan dengan
peningkatan kadar kortisol dan kortisol non lanjut. Tidak bisa dibedakan antara
depresi dengan demensia dan kondisi akibat kelainan fisik serta obat.
Penelitian lain tentang coticotropin-releasing hormone (CRH) menunjukkan bahwa
kadar mRNA CRH pada nukleus paraventrikuler lansia dengan depresi lebih tinggi
daripada pasien Alzheimer dan jauh lebih tinggi supresi. Schneider (1992)
berspekulasi bahwa proses penuaan normal berhubungan peningkatan aktivitas HPA
axis, kemungkinan berhubungan dengan degenerasi neuronal pada hipokampus, yang
dipicu oleh peningkatan sekresi glukokortikoid akibat depresi ataupun kejadian
hidup yang mengakibatkan distres (the forward cascade). Krishnan (1991)
melaporkan penurunan T1 spin-lattice relaxation times pada hipokampus, melalui
pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI), pada kelompok depresi
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Efek ini juga terjadi pada lelompok
lansia dan diduga adanya kerusakan jaringan. Respon TSH (thyroid stimulating
hormonr, thyrotropin)pada pemberian thyroid-releasing hormone kurang
berhubungan dengan umur namun tidak spesifik untuk depresi. Tes supresi
deksametason (Carrol et al, 1981) menunjukkan tidak adanya bukti etiologis
terjadinya depresi onset daripada kontrol normal (Raadsheer et al, 1995). Hal
ini menyatakan bahwa hiperaktivasi neuron CRH paraventrikular dapat
berkontribusi terjadinya depresi pada usia lanjut.
5. Perubahan
Struktur Otak
Perubahan volumetrik. Hubungan antara
perubahan atropik denga depresi onset lanjut diindikasikan dari penonjolan
cerebral sulci dan peningkatan ukuran ventrikular. Beberapa penelitian
melaporkan reduksi volume fokal pada lobus frontal (Coffey et al, 1993) dan
nukleus kaudatus (Krishnan et al, 1992). Tidak jelas apakah perubahan ini
merupakan predisposi terjadinya depresi ataukah depresi menyebabkan atropi.
Kemungkinan mekanismenya meliputi hiperkortikolisme, malnutrisi atau
pengurangan berat badan. Terapi elektrokonvulsif (ECT) juga berhubungan dengan
atropi serebral (Coffey et al,1991). Lesi white matter (substansia nigra) dan
lainnya Hiperintensitas pada white matter, diperiksa melalui MRI, sangat sering
terjadi pada depresi onset lanjut, begitupula perubahan subkortikal basal
ganglia dan Caudatum (Baldwin,1993).
6. Hipotesis
Depresi Vaskular
Hal ini didasarkan pada beberapa premis (Alexopoulos
et al 1997). Pertama, pasien dengan gangguan vaskular memiliki angka depresi
yang tinggi. Kedua, penyakit yang menyerang pembuluh darah, misalnya stroke,
hipertensi dan diabetes berhubungan dengan white matter hyperintensities (WMH).
Ketiga, gangguan neurologis yang mengenai subkortek berhubungan dengan angka
depresi yang tinggi. Keempat, depresi onset lambat berhubungan dengan dengan
angka gangguan vaskular yang lebih tinggi daripada depresi onset dini (Baldwin
& Tomenson, 1995). Pada vascular depression , kerusakan pada end-arteries
yang melayani jalur subkortikal striato-palido-thalamo-kortikal mengganggu
sirkuit neurotransmiter yang terlibat pada regulasi mood dan kemungkinan
menjadi predisposisi terjadinya depresi. Namun demikian signifikansi WMH ini
masih kontroversial. Walaupun lebih sering terjadi pada lansia dengan depresi,
WMH be um sepenuhnya dipercaya berhubungan langsung dengan penuaan ataupun
depresi(Baldwin, 1993) dan bisa juga terjadi pada kondisi non vaskular lain
seperti hidrosefalus, multiple sclerosis, Alzheimer dan pada penuaan normal.
Sebuah penelitian depresi pada lansia (Lyness et al, 1998) gagal menunjukkan
hubungan antara faktor risiko gangguan serebrovaskular dengan tingkat parahnya
depresi atau simtomatologi. Pada penelitian lain (Kumar et al, 1997a),
pemeriksaan volume otak berhubungan dengan gangguan kondisi medik umum daripada
gangguan kardivaskular spesifik atau faktor risiko kardiovaskular. Sehingga
belum dapat disimpulkan bahwa perubahan otak yang terlihat diakibatkan gangguan
end artery. Walaupun demikian, terdapat temuan yang mengindikasi WMH dan
kelainan subkortikal pada depresi onset lanjut dengan: sub tipe depresi dengan
gejala psikotik (O’Brien et al, 1997), dan depresi minor (Kumar et al, 1997b)
dan hasil yang buruk dengan terapi antidepresan (Simpson et al, 1998).
Hipotesis vaskular, walaupun belum terbukti namun memberikan konsep etiologi
penting sebagai dasar penelitian-penelitian berbasis neuroimaging modern. Hal
ini juga memberi implikasi penting untuk terapi depresi. Hal ini meliputi
penggunaan obat-obatan yang bekerja mencegah risiko oklusi end-artery misalnya
aspirin juga strategi rehabilitatif yang dirancang untuk menterapi brain-based
apathy dan kurangnya motivasi.
7. Depresi
dan Demensia
Kerusakan neuronal lebih luas pada locus
coeruleus pada pasien demensia yang depresi dibandingkan dengan yang tanpa
depresi (Forst et al, 1992). Pasien depresi tanpa demensia namun mengalami
hendaya kognitif berkurang aliran ke girus prefrontal medial anterior kiri dan
aliran meningkat ke vermis serebelar (Bench et al, 1992), menunjang dasar
biologi apa yang disebut depressive pseudementia, yang sering muncul pada
lansia yang depresi.
8. Kepribadian
Penelitian mendapatkan hasil bahwa kepribadian cemas menghindar, kepribadian dependent dan kesulitan membangun hubungan dekat kemungkinan menjadi faktor risiko depresi onset lanjut (Murphy, 1982). Bergmann (1978) mengadaptasi teori perlekatan pada etiologi depresi onset lanjut. Ia menyatakan bahwa satisfactory attachment behaviour pada awal kehidupan lebih berefek pada koping adaptasi daripada kecemasan non adaptif, dan kehilangan pasangan hidup.
Penelitian mendapatkan hasil bahwa kepribadian cemas menghindar, kepribadian dependent dan kesulitan membangun hubungan dekat kemungkinan menjadi faktor risiko depresi onset lanjut (Murphy, 1982). Bergmann (1978) mengadaptasi teori perlekatan pada etiologi depresi onset lanjut. Ia menyatakan bahwa satisfactory attachment behaviour pada awal kehidupan lebih berefek pada koping adaptasi daripada kecemasan non adaptif, dan kehilangan pasangan hidup.
9. Kesehatan
fisik dan Disabilitas
Baik penelitian berlatar belakang rumah
sakit (Murphy, 1982) dan komunitas (Prince et al, 1998) menggambarkan hubungan
yang erat antara onset depresi dan penyakit fisik. Impairment fisik dapat
memicu gangguan depresi, yang mana meningkatkan derajad disabilitas berhubungan
dengan impairment fisik (Prince et al, 1998). Terdapat beberapa mekanisme yang
menunjukkan gangguan fisik mengarah pada depresi. Demensia, stroke dan
parkinson berhubungan dengan depresi. Kondisi medik lainnya semisal gangguan
pendengaran dan pengelihatan, yang mana berhubungan dengan depresi, menyiratkan
bahwa penderitaan yang dialami sama pentingnya dengan bagian tubuh yang
terganggu (Murphy, 1982). Prince et al (1998) menunjukkan bahwa disabilitas dan
beberapa handicap spesifik merupakan faktor risiko depresi pada lansia yang
tinggal di rumah. Prevalensi tertinggi depresi pada lansia ditemukan di panti
jompo, pusat perawatan medis lansia dan lansia yang menerima pelayanan
homecare. Ini menunjukkan adanya hubungan dengan banyaknya disabilitas yang di
temukan pada kelompok ini. Namun demikian, konsep handicap memberikan
perspektif lain. Karena hal ini juga sangat tergantung dengan pelayanan dan
perhatian yang di berikan walaupun kondisi handicap yang sama terjadi. Maka
dari itu pengetahuan ini berguna dalam kita melakukan pencegahan depresi.
Terakhir, terdapat beberapa gangguan fisik, obat dan faktor iatrogenik yang berhubungan
dengan onset depresi.
BAB III
KASUS DAN PEMECAHAN
Lansia yang mengalami depresi
mempunyai risiko bunuh diri. Hal ini disebabkan karena beberapa persoalan hidup
yang mendera lanjut usia sepanjang hayatnya, seperti:
a. Kemiskinan
b. Kegagalan
yang beruntun,
c. Stress
yang berkepanjangan,
d. Ataupun
konflik dengan keluarga atau anak,
e. Tidak
memiliki keturunan yang bisa merawatnya dan lain sebagainya.
Contoh Kasus :
Seorang
nenek yang tinggal di sebuah desa, mempunyai 5 orang anak. Empat anaknya sekarang sudah menikah dan tinggal di
kota. Sedangkan anak yang terakhir tinggal bersama orang tuanya di desa.
Sehari-hari nenek ini bekerja di sebuah tempat pembuatan tepung. Sampai suatu
ketika, nenek ini mengalami kecelakaan saat di bonceng oleh cucunya ke tempat
kerja dan pinggangnya patah. Sejak saat itu, sang nenek tidak bisa beraktivitas
seperti biasa, dan harus berada di tempat tidur untuk memulihkan kondisinya.
Segala keperluan sang nenek telah diberikan oleh anaknya, mulai dari makan,
minum, buang air, dan mandi. Namun ia tidak bisa terus menemani ibuna karena
sibuk bekerja. Setelah kondisinya mulai membaik, sang nenek ingin bekerja
kembali namun tidak diizinkan oleh anaknya. Segala aktivitas sang nenek
dibatasi oleh anaknya dan si nenek tidak diizinkan keluar rumah. Hal itu
membuat si nenek sering murung dan kondisinya malah kembali memburuk.
Pemecahan
Keadaan sang nenek merupakan tanda-tanda ia mengalami depresi. Depresi ini disebabkan karena lansia(si nenek) yang dulunya terus beraktivitas ( bekerja ), kini hanya duduk dan dipaksa untuk tidak beraktivitas sehingga mereka stress dan depresi
Mereka juga kurang dalam mendapatkan perhatian dan dukungan dari keluarga. Hal ini disebabkan oleh kesibukan dari anak-anaknya, tempat tinggal yang jauh sehingga anak jarang mengunjungi orang tuanya.
Keadaan sang nenek merupakan tanda-tanda ia mengalami depresi. Depresi ini disebabkan karena lansia(si nenek) yang dulunya terus beraktivitas ( bekerja ), kini hanya duduk dan dipaksa untuk tidak beraktivitas sehingga mereka stress dan depresi
Mereka juga kurang dalam mendapatkan perhatian dan dukungan dari keluarga. Hal ini disebabkan oleh kesibukan dari anak-anaknya, tempat tinggal yang jauh sehingga anak jarang mengunjungi orang tuanya.
Sebagian
besar lansia yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yang memiliki
beberapa dari gejala depresi dimana mereka mengungkapkan tentang kondisi yang dialaminya.
Selain itu sebagian besar lansia yang sudah tidak bekerja ternyata lebih banyak yang memiliki gejala depresi karena sudah tidak dapat memperoleh penghasilan sendiri sehingga harus menggantungkan kehidupannya dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari pada anak-anaknya maupun cucu-cucunya. Depresi pada lansia seringkali lambat terdeteksi karena gambaran klinisnya tidak khas. Depresi pada lansia lebih banyak tampil dalam keluhan somatis, seperti kelelahan kronis, gangguan tidur, penurunan berat badan, dan sebagainya. Depresi pada lansia juga dapat tampil dalam bentuk perilaku agitatif, ansietas atau penurunan fungsi kognitif. Sejumlah faktor pencetus depresi pada lansia, antara lain :
Selain itu sebagian besar lansia yang sudah tidak bekerja ternyata lebih banyak yang memiliki gejala depresi karena sudah tidak dapat memperoleh penghasilan sendiri sehingga harus menggantungkan kehidupannya dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari pada anak-anaknya maupun cucu-cucunya. Depresi pada lansia seringkali lambat terdeteksi karena gambaran klinisnya tidak khas. Depresi pada lansia lebih banyak tampil dalam keluhan somatis, seperti kelelahan kronis, gangguan tidur, penurunan berat badan, dan sebagainya. Depresi pada lansia juga dapat tampil dalam bentuk perilaku agitatif, ansietas atau penurunan fungsi kognitif. Sejumlah faktor pencetus depresi pada lansia, antara lain :
a. Faktor biologik,
Faktor biologik misalnya faktor genetik,
perubahan struktural otak, faktor risiko vaskular, kelemahan fisik.
b. Psikologik,
Faktor psikologik pencetus depresi pada
lansia, yaitu tipe kepribadian, relasi interpersonal.
c. Stres kronis,
d. Penggunaan obat.
Peristiwa kehidupan seperti berduka,
kehilangan orang dicintai, kesulitan ekonomi dan perubahan situasi, stres
kronis dan penggunaan obat-obatan tertentu.
Menurut Suryo, faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam terapi depresi pada lansia yaitu perubahan faal oleh proses menua, status medik atau komorbiditas penyakit fisik, status fungsional, interaksi antar obat, efektivitas dan efek samping obat serta dukungan sosial. “Penatalaksanaan depresi pada lansia mencakup terapi biologik dan psikososial,” katanya. Terapi biologik antara lain dengan pemberian obat antidepresan, terapi kejang listrik (ECT), terapi sulih hormon dan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Sementara terapi psikosial bertujuan mengatasi masalah psikoedukatif, yaitu mengatasi kepribadian maladaptif, distorsi pola berpikir, mekanisme koping yang tidak efektif, hambatan relasi interpersonal. Terapi ini juga dilakukan untuk mengatasi masalah sosiokultural, seperti keterbatasan dukungan dari keluarga , kendala terkait faktor kultural, perubahan peran social. Dengan memahami hal tersebut diatas maka diharapkan kita sebagai keluarga yang peduli dengan lansia yang mengalami depresi, harus belajar mendengarkan segala keluh kesah mereka, memahami realitas apa yang sesungguhnya dialami, sehingga mereka bisa keluar dari kondisi yang membuatnya depresi. Depresi timbul akibat adanya dorongan negatif dari super-ego yang diresepsi dan lambat laun akan tertimbun dialam bawah sadar. Sehingga depresi adalah sebentuk penderitaan emosional. Kekecewaan ataupun ketidakpuasan secara emosional yang direpresi tidak secara otomatis akan hilang, melainkan sewaktu-waktu akan muncul ((return of the repressed). Oleh karena itu sebagai toksin (racun) penyebab depresi yang ada pada diri lanjut usia perlu digali dan dikeluarkan, salah satu medianya dengan percakapan. Psikoterapi malah sering didefenisikan dengan penyembuhan melalui percakapan. Selain itu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi depresi lansia adalah dengan memberikan latihan fisik terutama olah-raga. Setidaknya ada dua alasan penting mengapa olah raga perlu untuk penderita depresi. pertama, olah raga meningkatkan kesadaran sistem syaraf sentral. Denyut nadi meningkat dan anda menjadi sadar. Anda membangkitkan semua sistem anda. hal ini berlawanan dengan penurunan kesadaran syaraf sentral akibat adanya depresi. kedua, olah raga bisa memacu sistem syaraf sentral. endorphin adalah molekul organik yang seperti halnya norepinephrine dan serotonin, berfungsi sebagai kurir kimiawi. Kadang endorphin dianggap sebagai candu (opium) alami yang berfungsi untuk meningkatkan proses biologis untuk mengatasi depresi. Depresi berhubungan dengan tingkat kesadaran yang rendah. Kesadaran mengacu pada proses psikologis yang meliputi hal-hal seperti misalnya kemampuan untuk memusatkan perhatian seseorang dan kemampuan untuk bekerja secara efektif. Makanan berat secara otomatis akan memicu tindakan bagian syaraf parasimpatik yakni cabang dari sistem syaraf otonom yang menurunkan kesadaran. Darah dialirkan ke proses pencernaan untuk membantu seseorang mencerna makanan yang dimakan. Sewaktu darah meninggalkan otak dan tangan serta kaki, tubuh akan merasa lemas dan mengantuk, karena itu makan makan berat cenderung memicu depresi. Karena itu dianjurkan untuk makan makan ringan, ketika lapar diantara jam-jam makan, akan tetapi sebaiknya menghindari makanan yang mengandung kadar gula yang tingi. Sementara kudapan yang rendah kalori dan berprotein tinggi akan membuat seseorang tetap segar, memuaskan rasa lapar, dan tidak mengganggu kesadaran optimal seseorang.
Menurut Suryo, faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam terapi depresi pada lansia yaitu perubahan faal oleh proses menua, status medik atau komorbiditas penyakit fisik, status fungsional, interaksi antar obat, efektivitas dan efek samping obat serta dukungan sosial. “Penatalaksanaan depresi pada lansia mencakup terapi biologik dan psikososial,” katanya. Terapi biologik antara lain dengan pemberian obat antidepresan, terapi kejang listrik (ECT), terapi sulih hormon dan Transcranial Magnetic Stimulation (TMS). Sementara terapi psikosial bertujuan mengatasi masalah psikoedukatif, yaitu mengatasi kepribadian maladaptif, distorsi pola berpikir, mekanisme koping yang tidak efektif, hambatan relasi interpersonal. Terapi ini juga dilakukan untuk mengatasi masalah sosiokultural, seperti keterbatasan dukungan dari keluarga , kendala terkait faktor kultural, perubahan peran social. Dengan memahami hal tersebut diatas maka diharapkan kita sebagai keluarga yang peduli dengan lansia yang mengalami depresi, harus belajar mendengarkan segala keluh kesah mereka, memahami realitas apa yang sesungguhnya dialami, sehingga mereka bisa keluar dari kondisi yang membuatnya depresi. Depresi timbul akibat adanya dorongan negatif dari super-ego yang diresepsi dan lambat laun akan tertimbun dialam bawah sadar. Sehingga depresi adalah sebentuk penderitaan emosional. Kekecewaan ataupun ketidakpuasan secara emosional yang direpresi tidak secara otomatis akan hilang, melainkan sewaktu-waktu akan muncul ((return of the repressed). Oleh karena itu sebagai toksin (racun) penyebab depresi yang ada pada diri lanjut usia perlu digali dan dikeluarkan, salah satu medianya dengan percakapan. Psikoterapi malah sering didefenisikan dengan penyembuhan melalui percakapan. Selain itu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi depresi lansia adalah dengan memberikan latihan fisik terutama olah-raga. Setidaknya ada dua alasan penting mengapa olah raga perlu untuk penderita depresi. pertama, olah raga meningkatkan kesadaran sistem syaraf sentral. Denyut nadi meningkat dan anda menjadi sadar. Anda membangkitkan semua sistem anda. hal ini berlawanan dengan penurunan kesadaran syaraf sentral akibat adanya depresi. kedua, olah raga bisa memacu sistem syaraf sentral. endorphin adalah molekul organik yang seperti halnya norepinephrine dan serotonin, berfungsi sebagai kurir kimiawi. Kadang endorphin dianggap sebagai candu (opium) alami yang berfungsi untuk meningkatkan proses biologis untuk mengatasi depresi. Depresi berhubungan dengan tingkat kesadaran yang rendah. Kesadaran mengacu pada proses psikologis yang meliputi hal-hal seperti misalnya kemampuan untuk memusatkan perhatian seseorang dan kemampuan untuk bekerja secara efektif. Makanan berat secara otomatis akan memicu tindakan bagian syaraf parasimpatik yakni cabang dari sistem syaraf otonom yang menurunkan kesadaran. Darah dialirkan ke proses pencernaan untuk membantu seseorang mencerna makanan yang dimakan. Sewaktu darah meninggalkan otak dan tangan serta kaki, tubuh akan merasa lemas dan mengantuk, karena itu makan makan berat cenderung memicu depresi. Karena itu dianjurkan untuk makan makan ringan, ketika lapar diantara jam-jam makan, akan tetapi sebaiknya menghindari makanan yang mengandung kadar gula yang tingi. Sementara kudapan yang rendah kalori dan berprotein tinggi akan membuat seseorang tetap segar, memuaskan rasa lapar, dan tidak mengganggu kesadaran optimal seseorang.
BAB
IV
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang kami lakukan di Karangasem
1. Depresi
pada lansia sering disebabkan karena lansia yang dulunya terus beraktivitas (
bekerja ), kini hanya duduk dan dipaksa untuk tidak beraktivitas sehingga
mereka stress dan depresi
2. Mereka
juga kurang dalam mendapatkan perhatian dan dukungan dari keluarga. Hal ini
disebabkan oleh kesibukan dari anak-anaknya, tempat tinggal yang jauh sehingga
anak jarang untuk mengunjungi, anaknya telah lebih dulu meninggal, adanya
konflik antara orang tua dengan anaknya dan anak tidak mau direpotkan dengan
urusan orang tuanya serta orang tua sudah jarang di libatkan dalam penyelesaian
masalah yang ada dalam keluarga. Dari penyebab itu lansia merasa sudah tidak
dibutuhkan lagi, tidak berguna, tidak dihargai di dalam keluarganya dan merasa
menjadi beban bagi keluarganya. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh lansia
di atas dapat menjadikan mereka mengalami depresi.
3. Sebagian
besar lansia yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak yang memiliki
beberapa dari gejala depresi dimana mereka mengungkapkan tentang kondisi yang
dialaminya.
DAFTAR PUSTAKA
http://www2.kompas.com/ver1/Metropolitan/0610/29/051339.htm
Budiyanto. F.X. (1990). Psikologi populer menghadapi
depresi & elasi (Edisi ke-3). Jakarta: Arcan.
Erwin. K.Sp.Kj. (2008). Agar depresi tidak
menghampiri. Diakses tanggal 24 Oktober 2008 dari http://www.pro-vclinic.web.id/articles/agar-depresi-tidak-menghampiri.html.
Hadi.P. (2004). Depresi & Solusinya.
Yogyakata: Tugu.
Idris.F. (2007). Masyarakat Indonesia mengidap
depresi. Diakses tanggal 24 Oktober 2008 dari http://www.bluefame.com/lofiversion/index.php/t38903.html
Maryam,et all. (2008). Mengenal usia lanjut dan
perawatannya. Jakarta: Salemba Medika.
Nugroho,W. (1995). Perawatan Lanjut Usia. Jakarta: EGC.
Rasmun, Skp, M.Kep. (2004). Stres, Koping dan Adaptasi
teori dan pohon masalah keperawatan. Jakarta: CV.Sagung Seto
.jpg)
No comments:
Post a Comment