Juniartha Semara Putra
PERAWAT

HARAPAN UNTUK SEMBUH KEBUTUHAN
* Posisi lateral tidak sadar
* Tempat tidur diberi talang gelisah
* Beri posisi tidur miring cegah aspirasi dari saliva
* Tinggikan kaki bila duduk cegah edema
* IV / NGT kalori tinggi dan vitamin



* Perawatan kulit inkontinensia
ASUHAN
KEPERAWATAN PASIEN MENJELANG AJAL
“KEMATIAN MERUPAKAN BAGIAN YANG ALAMI DARI KEHIDUPAN”
Kehilangan dan kematian adalah peristiwa dari
pengalaman manusia yang bersifat universal dan unik secara individual. Manusia
dapat mengantisipasi kematian. Hal ini dapat menyebabkan banyak reaksi termasuk
ansietas, perencanaan, menyangkal, mencintai, kesepian, pencapaian, dan kurang
pencapaian. Kematian dapat merupakan suatu pengalaman yang luar biasa sehingga
dapat mempengaruhi seseorang menjelang ajal dan keluarga, teman serta pemberi
asuhan mereka. Perawat membantu klien untuk memahami dan menerima kehilangan
dalam konteks kultur mereka sehingga kehidupan klien dapat berlanjut.
Kehilangan dan kematian
adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan asuhan keperawatan.
Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang mengalami
kehilangan dan dukacita. Penting bagi perawat memahami kehilangan dan dukacita.
TUJUAN :
Membantu pasien
meninggal dengan tenang, terhormat, bebas dari rasa cemas
dan nyeri
SAKRATUL MAUT
·
Bagian dari hidup
·
Proses dari kelahiran sampai meninggal
BEBERAPA REAKSI TERHADAP PENYAKIT TERMINAL
·
Beberapa
pasien mungkin masih punya waktu untuk kematian psikologis,
mereka mungkin akan menyerah pada keadaan
·
Beberapa
orang mencari cara untuk mengurangi nyeri dan gangguan
emosional dari penyakit yang lama serta menunggu
kematian dengan
tenang
·
Sebagian lagi menjadi takut atau marah dan
menunjukkan suasana hati
yang bergeser dari menolak sampai depresi
·
Sebagian
yang lain mencoba mencapainya, mencoba mengungkapkan
perasaannya dan pikirannya tentang masa depan yang
tidak pasti
·
Yang
lain putus asa dan cemas atau periode mencari, pertanyaan yang
masih kabur
PERAWAT HARUS MENERIMA PERILAKU
PASIEN DENGAN
PENGERTIAN DAN
INTERPRETASIKAN KEBUTUHAN YANG
SEBENARNYA
KEHILANGAN, BERDUKA, dan KEMATIAN
KEHILANGAN
Kehilangan tidakselalu oleh kematian tetapi semua kehilangan disertai putus hubungan
Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya
ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.
TIPE KEHILANGAN :
- Kehilangan cinta seseorang / orang yang dicintai
- Kehilangan
diri sendiri ( bodi, kepribadian yang dimiliki seseorang, gambaran mental,
dll)
- Kehilangan
obyek ( mobil, rumah, dll)
Kehilangan Obyek Eksternal
Mencakup segala
kepemilikan yang telah menjadi usang, berpindah tempat, dicuri atau rusak
karena bencana alam. Bagi anak-anak kehilangan boneka, selimut, dll. Sedangkan
orang dewasa mungkin kehilangan perhiasan, motor, hap, dll. Kedalaman berduka
yang dirasakan seseorang tergantung pada nilai dan kegunaan yang dimiliki benda tersebut.
Kehilangan Lingkungan yang
telah dikenal
Kehilangan yang berkaitan
dengan perpisahan, yang mencakup meninggalkan lingkungan tersebut atau kepindahan
permanen. Misalnya pindah ke kota baru, mendapatkan pekerjaan baru, atau
perawatan di rumah sakit. Kehilangan melalui perpisahan dengan lingkungan yang
telah dikenal dapat melalui situasi :
- Maturasional ( seorang lansia pindah ke panti werda, rumah perawatan)
•
Situasional ( mengalami cedera / penyakit, kehilangan rumah
karena bencana alam )
Perawatan
mengakibatkan seseorang merasa di isolasi dari kejadian rutin. Peraturan rumah
sakit membuat suatu lingkungan yang impersonal dan demoralisasi. Kesepian
akibat lingkungan yang tidak dikenal mengancam harga diri dan membuat berduka
menjadi lebih sulit.
Kehilangan orang terdekat
Orang terdekat mencakup
orang tua, pasangan, anak-anak, saudara kandung, guru, pendeta, teman,
tetangga, dan rekan kerja, bahkan mungkin hewan peliharaan, dan mungkin juga
artis atau atlet idolanya. Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan, pindah,
melarikan diri, promosi di tempat kerja, dan kematian.
Kehilangan Aspek Diri :
Dapat mencakup bagian
tubuh, fungsi fisiologis, atau psikologis. Kehilangan bagian tubuh seperti
anggota gerak, mata, rambut, gigi, atau payudara. Kehilangan fisiologis
mencakup kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, mobilitas, kekuatan, atau
fungsi sensoris. Kehilangan fungsi psikologis termasuk kehilangan ingatan, rasa
humor, harga diri, percaya diri, kekuatan respeks, atau cinta. Kehilangan ini
dapat terjadi akibat penyakit, cedera, atau perubahan perkembangan atau
situasi. Kehilangan ini dapat menurunkan kesejahteraan individu. Orang tersebut
tidak hanya mengalami kedukaan akibat kehilangan tetapi juga dapat mengalami
perubahan permanen dalam citra tubuh dan harga diri.
Kehilangan Hidup :
Perhatian utama sering
bukan pada kematian tetapi mengenai nyeri dan kehilangan kontrol. Sebagian
besar orang takut akan kematian dan gelisah mengenai kematian. Setiap orang
berespons berbeda terhadap kematian :
•
Orang yang menderita penyakit kronis lama dapat
mengalami kematian sebagai peredaan
•
Sebagian
menganggap kematian jalan menuju bersatu di surga dg orang yang dicintai
•
Sedangkan
orang lain takut perpisahan, dilalaikan, kesepian, atau cedera. Ketakutan akan kematian sering menyebabkan
individu menjadi ketergantungan.
Dalam menghadapi kehilangan,
individu dipengaruhi oleh :
- Bagaimana
persepsi individu terhadap kehilangan
- Tahap
perkembangan
- Kekuatan/koping
mekanisme
- Support system
RESPONS FISIK YANG
BERHUBUNGAN DENGAN KEHILANGAN :
- Sakit kepala
- Nafsu
makan menurun atau meningkat
- Perubahan kebiasaan BAB dan BAK
- Perubahan
pola tidur dan mimpi
- Sesak nafas
dan mulut kering
- Tercekik
pada tenggorokan dan / dada
- Kelemahan otot
- Tidak enak badan
- Marah dan permusuhan
- Kesalahan
dan menyalahkan diri sendiri
PERAWAT
1.
Menganjurkan pasien bicara tentang perasaan dan
kehilangannya : ijinkan
Expresi feeling (menangis, marah )
2.
Dengarkan pasien
3. Memberi bantuan dan informasi yang
diperluksn
4. Menenangkan pasien bahwa berduka
adalah proses normal
5. Menghormati agama, kultur. dan
sosial pasien
BERDUKA, BERKABUNG dan
KEHILANGAN KARENA KEMATIAN
Istilah
berduka, berkabung dan kehilangan karena kematian sering digunakan tumpang
tindih. Kehilangan karena kematian adalah suatu keadaan pikiran, perasaan
dan aktivitas yang mengikuti kehilangan. Keadaan ini mencakup berduka dan
berkabung. Berduka merupakan reaksi
bio- psiko- sosial terhadap persepsi dari kehilangan. Berduka adalah proses mengalami reaksi psikologis, sosial dan
fisik terhadap kehilangan yang dipersepsikan. Respons tersebut yang
diekspresikan terhadap kehilangan dimanifestasikan adanya perasaan sedih,
gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, keputusasaan, kesepian
ketidakberdayaan, rasa bersalah, marah, dan lain-lain. Berkabung adalah proses yang mengikuti suatu kehilangan dan
mencakup berupaya untuk melewati berduka/dukacita. Proses berduka/dukacita dan
berkabung bersifat mendalam, internal, menyedihkan , dan berkepanjangan.
A. Teori Engel (1964)
Proses berduka mempunyai 3
fase yang dapat diterapkan pada seseorang yang berduka dan menjelang kematian,
yaitu :
- Fase pertama, individu menyangkal realitas kehidupan dan
mungkin menarik diri, duduk tidak bergerak, atau menerawang tanpa tujuan.
Reaksi fisik dapat seperti pingsan, berkeringat, mual, diare, frekuensi
jantung cepat, gelisah, insomnia, dan keletihan.
- Fase kedua, individu mulai merasa kehilangan tiba-tiba
dan mungkin mengalami keputusasaan. Secara mendadak menjadi marah, rasa
bersalah, frustrasi, depresi, dan kehampaan. Menangis adalah khas individu
menerima kehilangan.
- Fase ketiga, Marah dan deoresi tidak lagi terjadi.
Kehilangan telah jelas bagi individu yang mulai mengenali hidup. Dengan
mengalami fase ini seseorang telah berkembang kesadaran dirinya [fungsi
emosi dan intelektual menjadi lebih tinggi].
B. Teori Kubler Ross (1969)
Tahapan menjelang ajal ( Dr. E. Kubler Ross )
1. DENIAL
( Mengingkari /menyangkal )Z
Perasaan tidak
percaya, syok, biasanya ditandai dengan menangis, gelisah, lemah, letih, dan
pucat. Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal. Ia mungkin
tidak menerima informasi ini sebagai kebenaran, dan bahkan mungkin mengingkarinya.
“ Saya? Tidak,
tak mungkin”
“ Hal ini tidak
terjadi pada saya
“ Saya terlalu muda untuk mati”
Perawat :
Cobalah untuk tidak mempertegas atau mengingkari
kenyataan bahwa pasien menjelang kematian
Contoh :
“Hasil lab ini tidak
benar, saya tidak menderita ca”
“ Pasti sulit bagi anda untuk
memahami hasil pemeriksaan tersebut”
2. ANGER
( marah )
Individu melawan
kehilangan dan dapat bertindak pada seseorang dan segala sesuatu di lingkungan
sekitarnya. Perasaan marah dapat diproyeksikan pada orang atau benda yang ditandai
dengan muka merah, suara keras, tangan mengepal, nadi cepat, gelisah, dan
perilaku agresif.
Terjadi ketika
pasien tidak lagi dapat mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal. Pasien
mungkin menyalahkan orang disekelilingnya termasuk perawat
“ Mengapa saya?”
: Semua ini
adalah kesalahanmu. Saya seharusnya
tidak datang ke RS ini”
Perawat:
Pahami penyebab marah pasien. Berikan pengertian
dan dukungan. Dengarkan.
Cobalah memenuhi dengan cepat kebutuhan dan
tututannya yang masuk akal.
Contoh :
“Makanan ini tidak enak, tidak cocok untuk
dimakan”
“ Coba saya cari dulu, apakah ada makanan lain yang dapat meningkatkan
selera anda “
3. BARGAINING
( Tawar-menawar )
Terdapat
penundaan realitas kehilangan. Individu mampu mengungkapkan rasa marah atau
kehilangan, ia akan mengekspresikan rasa bersalah, takut dan rasa berdosa. Pada
tahapan ini pasien seringkali mencari pendapat orang lain. Kemarahan biasanya
mereda dan pasien menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang sedang terjadi
pada dirinya. Pasien mencoba menawar waktu untuk hidup. Ia seringkali akan
berjanji kepada Tuhan.
“ Jika Engkau
mengijinkan saya hidup 2 bulan lagi, saya berjanji akan menjadi orang baik “
“ Saya tahu, saya akan mati dan saya siap untuk
mati tetapi tidak sekarang “
Perawat :
Sebanyak mungkin permohonan pasien dapat dipenuhi.
Dengarkan penuh perhatian.
Contoh :
“ Jika Tuhan dapat
menundanya, saya akan ke gereja setiap minggu “
“ Apa anda ingin dikunjungi rohaniawan
“
4. DEPRESSION
( Depresi )
Terjadi ketika
ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan
tersebut. Individu menunjukkan sikap menarik diri, tidak mau bicara, dan putus
asa. Perilaku yang muncul seperti
menolak makan, susah tidur, dan dorongan libido menurun, serta merasa terlalu
kesepian. Pasien datang
dengan kesadaran penuh bahwa ia akan segera mati.
“ Ya, benar aku
“
“ Saya selalu
berjanji pada suami saya bahwa kita akan ke Eropa dan sekarang kita tidak akan
pernah pergi lagi “
Ini biasanya
merupakan satu waktu yang sedih. Pasien cenderung tidak banyak bicara dan
mungkin sering menangis.
Perawat :
Perawat duduk
dengan tenang di samping pasien. Hindari kata klise yang memperberat depresi
pasien. Bersikaplah mengasihi dan mendukung. Biarkan pasien tahu bahwa ia boleh
depresi.
Contoh :
“ Semua yang terjadi benar-benar tidak masuk akal
“
“ Saya mengerti anda sangat tertekan “
5. ACCEPTANCE
(Menerima )
Reaksi fisiologis menurun dan
interaksi sosial berlanjut. Fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan
kehilangan, pikiran yang berpusat pada obyek kehilangan mulai berkurang. K-R mendefinisikan ”penerimaan” lebih
sebagai menghadapi situasi ketimbang menyerah untuk pasrah atau putus asa. Pada
tahap ini ditandai oleh sikap menerima kematian. Pasien berusaha menyelesaikan urusan-urusan /tugasnya yang
belum selesai dan mungkin tak ingin bicara lagi. K-R menyatakan : mencapai tahap ini tidak selalu berarti maut
sudah dekat. Tahap ini bukanlah tahap pasrah berarti kekalahan.
“ Biarlah maut cepat-cepat mengambil aku, karena
aku sudah siap”
Perawat :
Jangan menganggap bahwa hanya karena pasien telah
menerima kenyataannya, bukan berarti ia tidak merasa takut atau tidakmemerlukan
dukungan emosional. Dengarkan dengan penuh perhatian, dukung dan rawatlah.
Contoh :
“ Saya sangat kesepian “
“ Saya disini menemani anda. Apa anda ingin membicarakan sesuatu “
C. Fase Berduka menurut Rando [1993]
Respons berduka dibagi menjadi 3 katagori, yaitu :
·
Penghindaran, dimana terjadi syok, menyangkal dan
ketidakpercayaan.
·
Konfrontasi, terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika
klien secara berulang melawan kehilangan dan kedukaan mereka yang dirakan
paling dalam dan dirasakan paling akut.
·
Akomodasi, secara bertahap terjadi penurunan kedukaan akut.
Klien belajar menjalani hidup dengan kehilangan mereka.
PERAN PERAWAT adalah
Mengamati
perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku, dan memberikan
dukungan yang empatik.
MATI / MENINGGAL
Berhentinya fungsi vital yang permanen, akhir
penghidupan manusia
KEMATIAN BISA DATANG :
·
Tiba-tiba
·
Tanpa peringatan
·
Mengikuti periode panyakit yang panjang
·
Menyerang usia muda
·
Tetapi selalu menunggu usia tua
PERAWAT
·
Perawatan menjelang ajal
·
Perawatan posmorten
MEMPERSIAPKAN KEMATIAN :
1. Setiap pasien bereaksi dengan cara yang
unik
2.

Kepada siapa pasien ingin
mengungkapkan perasaannya
keputusan yang sangat pribadi
3. Perawat harus bersedia mendengarkan,
tetapi jangan memperbesar masalah
PERAN PERAWAT :
1.
Respons harus konsisten
2.
Harus terbuka dan bersikap menerima perasaan pasien dapat berubah-ubah
3. Eksplorasikan
perasaan dengan jujur
4.
Berikan
asuhan keperawatan khususnya perawatan mulut dan masukan cairan
5.
Empati
dalam melaksanakan tugas dengan cara tenang dan efisien
6.
Jika
pasien dalam kondisi kritis persiapkansesuai dengan agamanya
INGAT
Peristiwa menjelang ajal adalah urusan yang
bersifat pribadi, perjalanan yang harus
diselesaikan seorang diri.
PRIVASI dan PENDAMPINGAN HARUS DIBERIKAN PENUH
PENGKAJIAN
Kadangkala pasien dapat menyembunyikan
perasaannya yang sebenarnya tidak mau
atau sebenarnya tidak mau menghadapi kenyataan. Pasien mungkin mengakui tidak
takut dan berusaha kelihatan berani.
PERAWAT HARUS SABAR, MENGAMATI DENGAN CERMAT
DAN MENDENGARKAN UNTUK
MENGETAHUI PERASAAN-
PERASAAN MEREKA YANG
SESUNGGUHNYA
ASSESSMENT
1. Lost of muscle tone
·
Relaxation of facial muscle (eg. the jaw may sag)
·
Difficulty speaking
·
Difficulty swallowing and gradual of the gag
reflex
·
Decreased activity of the GI Tract, with
subsequent nausea, accumulation
of flatus, abdominal distention and retention
of faeces, especially if narcotics or transquilizer are being administered
·
Possible urinary and rectal incontinence due
decrease sphincter control
·
Diminished body movement
2. Slowing of the circulation
·
Diminished sensation
·
Mottling and cyanosis of the extremitas
·
Cold skin, first in the feet and later in the
hands, ear, nose (the client, however, may feel warm because of elevated
temperature)
3. Changes in vital signs
·
Decelerated and weaker pulse
·
Decreased blood pressure
·
Rapid, shallow, irregular or abnormally slow
respiration, noisy breathing, refered to as the death rattle, due to collecting
of mucus in the throat, mouth breathing, which leads dry oral mucous membranes
4. Sensory impairment
·
Blurred vision
·
Impaired sense of taste and smell
PERUBAHAN FISIK SAAT KEMATIAN MENDEKAT
1. Pasien
kurang responsive
2. Fungsi
tubuh melambat
3. Pasien
kehilangan control otot volunteer dan involunter
4. Gerakan dan penginderaan menghilang secara
berangsur-angsur (dari kaki – ujung kaki, pasien tampak menggembung)
5.
Pasien berkemih dan defekasi tidak sengaja ( pengosongan kandung kemih dan
anus sfingter relaksasi
6. Rahang cenderung jatuh, otot-otot rahang
dan muka mengendor dan wajah tampak damai
7. Pernafasan tidak teratur (irregular) dan
dangkal serta mungkin berbunyi keras (ngorok/ death rattle), nafas CHEYNE-STOKES
8. Sirkulasi melambat : suhu biasanyan tinggi
tapi pasien terasa dingan dan lembab (ekstremitas dingin, ujung hidung dingin
dan kuping )
9. Kulit
tampak kebiru-biruan terutama tangan dan kaki, lemah dan pucat
10. Denyut nadi mulai tidak teratur dan cepat
serta melemah secara progresif
11. Mata membelalak dan tidak berespons
terhadap cahaya,setengah terbuka,dilatasi pupil
12. Tekanan darah menurun, peredaran darah
perifer terhenti
13. Rasa
nyeri hilang
14. Kesulitan
menelan
15. Nausea dan pelan-pelan menolak makanan dan
minuman
16. Tidur bertambah lama dalam satu periode
17.
Pasien mungkin tidak sadar atau tetap sadar sesuai tingkat kekuatan ingatan
18. Pendengaran adalah indera terakhir yang
hilang
PERAWATAN SAMA DENGAN PASIEN YANG PUNYA
FISIK DAN EMOSI
TANDA-TANDA KEMATIAN :
1. Nafas
-, nadi -, selama beberapa menit
2. Bola mata membesar dan tidak berubah-ubah
3. 

Ketiadaan segala refleks dan ketiadaan kegiatan otak EEG flat dalam waktu 24 jam
TANDA-TANDA SETELAH KEMATIAN ;
1.
Pupil dilatasi permanent
2.
Panas tubuh hilang bertahap
3.
Pasien urinasi, defekasi/flatus
4.

Darah mengumpul pada area di
bawah diskolorasi ungu pada
daerah tersebut
5.
Tubuh kaku (6 – 8 jam) disebut rigor mortis
Perubahan tubuh
setelah meninggal disebut MORIBUND
NURSING DIAGNOSIS
1.
Hopelesness related
to abandonment, prolonged activity restriction creating,
Isolation, long
term stress and loss of spiritual belief
Characteristic
Mayor :
·
Passivity,decreased verbalization
·
Decreased affect
·
Verbal cues indicating despondency ( “ I can’t
,” sighing)
Minor :
·
Lack of initiative
·
Decreased respons to stimuli
·
Turning away from speaker
·
Closing eyes
·
Shruging in respons to speaker
·
Decreased appetite
·
Altered sleep pattern
·
Lack of involvement in or passively allowing
2. Powerlessness related to healthcare
invironment, chronic or terminal illness,
Interpersonal interaction,
treatment regimen, life style characterized by helplessness
Characteristic
Severe :
·
Verbal expressions of having no control or
influence over the situation
or outcome
self-care
·
Depression over physical deterioration that
occurs despite patient
compliance
with regimens
·
Apathy
Moderate :
·
Non participation in care or decision making
when opportunities are
provided
·
Expressions of
dissatisfaction and frustration over inability to perform
previous task
and/or activitis
·
Does not monitor progrerss
·
Expression of doubt regarding role performance
·
Reluctance to express true feeling, fearing
alienation from caregivers
·
Inability to seek information regarding care
·
Dependence of others inirritability, resentment,
anger and guitt
·
Does not defend self-care practices when
challenged
Low
·
Passivety
·
Expressions of ancertainty abaut fluctuating
energi laavels
Diagnosa Keperawatan :
1. Keputusasaan
berhubungan dengan kondisi fisiologis yang memburuk
3. Ketidakberdayaan
berhubungan dengan penyakit terminal dan ketidak
mampuan hidup.
PERENCANAAN
KEBUTUHAN FISIK PASIEN
MENJELANG AJAL
1. Jalan nafas tidak efektif
* Posisi fowler
* Suction
* O2
k/p
2. Menurunnya perawatan diri : mandi/ kebersihan
* Mandi
* Ganti alat tenun
* Anjurkan ganti pakaian
* Perawatan mata dengan NaCl
* Perawatan mulut
3. Gangguan mobilitas fisik
* Bantu pasien tidur selang seling
teratur
4. Nutrisi
*
Antiemetik
5. Kekurangan cairan
* Anjurkan minum
* Kaji refleks menelan
6. Perubahan eliminasi BAK/BAB ( konstipasi, inkontinensia)
* Diet serat sesuai toleransi
* Laksansia bila diperlukan
* Ganti alat tenun
* Kateterisasi / indwelling catheter
7. Perubahan persepsi / sensori : visual
* Ruangan yang terang
* Bicara
dengan jelas, jangan berbisik
* Hati-hati memilih pokok pembicaraan
KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL
- Membina hubungan saling percaya
- Komunikasi / mendengarkan apa yang dikatakan pasien
- Sentuhan tangan
DUKUNGAN SPIRITUAL
- Agama
- Kebudayaan
MEMBERI INFORMASI YANG
AKURAT PADA PASIEN DAN KELUARGA
MEMBANTU PASIEN MENGATASI KETAKUTAN
DARI :
- Ketidaktahuan
- Kehilangan keluarga dan teman-temannya
- Penderitaan dan nyeri
- Kehilangan control dan ketergantungan
PERAWAT MENGANJURKAN KELUARGA
UNTUK :
- Mengajak bercakap-cakap
- Membelai / sentuhan
- Putarkan
lagu / musik kesukaannya atau siaran TV
- Membagi perasaan kehilangan dengan pasien
PERAWATAN LINGKUNGAN
Di rumah sakit,
klien menjelang ajal sering ditempatkan pada ruangan tersendiri. Klien
menjelang ajal dapat mengalami kesepian yang mendalam. Untuk mencegah kesepian
dan penyimpangan sensori, perawat mengintervensi untuk meningkatkan kualitas
lingkungan.
Memberikan
stimulasi lingkungan yang bermakna dengan menenangkan klien. Ruangan harus
diberikan pencahayaan yang baik dan diatur menarik dan harus memberikan
pandangan yang menstimulasi.
MEMBUAT PASIEN TETAP MERASA NYAMAN
Bagi klien
menjelang ajal termasuk pengenalan dan peredaan disstres psikobiologis. Perawat
memberikan berbagai tindakan penenangan bagi klien. Kontrol nyeri terutama
penting karena nyeri mengganggu tidur, nafsu makan, mobilitas, dan fungsi
psikologis.
Higiene
personal adalah bagian rutin untuk mempertahankan kenyamanan klien dengan
penyakit terminal.Klien dan keluarga bergantung kepada perawat untuk pemenuhan
kebutuhan dasarnya.
PERAWATAN POSTMORTEN / MERAWAT JENAZAH
- Perlakukan tubuh sama dengan orang masih hidup
- Persiapkan jenazah secara keagamaan
- Tutup mata pasien
- Tempatkan
pasien tidur berbaring pada tempat tidur dan beri bantal di bawah kepala
PERAWATAN JENAZAH
A.
PENGERTIAN
Perawatan
tubuh setelah kematian, disebut juga
perawatan postmortem.
B.
TUJUAN
Tubuh atau
jenazah terawat dengan baik.
C.
PERALATAN
1. Celemek / Skort
2. Kain segitiga atau verban
3. Bengkok
4. Pinset anatomis
5. Sarung tangan sekali pakai 1 pasang
6. Baskom berisi air, waslap, sabun, dan
handuk (alat-alat memandikan)
7. Kapas
8. Kain kafan atau kain bersih / laken
9. Tempat pakaian kotor
10. Kartu pengenal
D.
PROSEDUR
- Menjelaskan
kepada keluarga prosedur yang akan dilaksanakan
- Meenyiapkan
lingkungan
- Bawa
alat – alat ke dekat jenazah
- Perawat
mencuci tangan, memakai sarung tangan dan memakai celemek
- Singkirkan
semua peralatan, tube dan
alat-alat lain yang dipakai pasien serta gigi palsu dan perhiasan pasien.
Serahkan kepada keluarga dengan membuat bukti penyerahan nya
- Membuka
pakaian jenazah
- Memandikan
jenazah ( sama dengan pasien yang masih hidup) dan pakaikan pakaian sesuai
dengan kepercayaan pasien
- Semua
lubang di badan ditutup dengan kapas lembab dengan menggunakan pinset
- Pasang
kembali gigi palsu di muluty pasien dan mata buatan (kalau ada)
- Rahang
dirapatkan dengan mengikat menggunakan kain segitiga atau verban dan dagu
diganjal dengan handuk atau bantal kecil
- Tutup
mata dengan memegang bulu mata . Letakkan bola kapas basah di setiap
kelopak mata, jika mata tidak menutuo.
- Atur
posisi tangan pasien sesuai dengan kepercayaannya.
- Tutup
jenazah dengan kain kafan
- Isi
kartu pengenal dan ikatkan , satu ikatkan pada ibu jari kaki kanan , satu di baju dan satu di laci kamar jenazah
- Bawa
jenazah ke kamar jenazah setelah 2 jam.
16.Bersihkan alat – alat
17.Buka sarung tangan dan cuci tangan
18. Dokumentasikan segala sesuatu yang
berhubungan dengan jenazah, misal : Nama, Jam kematian, alamat, penyerahan
perhiasan pasien, dan lain -lain
No comments:
Post a Comment