Juniartha Semara Putra
Ada
beberapa tipe diabetes yang lain seperti defek genetik fungsi sel beta, defek
genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat
atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang dan sindroma genetik lain
yang berkaitan dengan DM.
Diabetes Tipe
I.
Pada diabetes tipe ini terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin
karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun.
Hipereglikemia-puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh
hati. Disamping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan
dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia
postprandial (sesudah makan).
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS (DM)
A. Konsep Dasar Penyakit
1.
Definisi/Pengertian
Diabetes
Melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kelainan kadar
glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner and Suddart, 2002 : 1220).
Diabetes Melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik
disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan
berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah disertai
lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (Arif
Mansjoer, 2001 : 580).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Diabetes
Melitus adalah peningkatan kadar glukosa dalam darah akibat kekurangan insulin
baik absolut maupun relatif yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronik
pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah.
2.
Epidemiologi/Insiden kasus (Suyono, 2001)
§ Diabetes Melitus Tipe 1 (DM Tipe 1)
Kekerapan DM Tipe 1 di negara
barat + 10% dari DM Tipe 2. Di negara tropik jauh lebih sedikit lagi.
Gambaran kliniknya biasanya timbul pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada
masa akil balik. Tetapi ada juga yang timbul pada masa dewasa.
§
Diabates Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2)
DM Tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan (lebih dari 90%). Timbul
makin sering setelah umur 30 dengan catatan pada dekade ketujuh kekerapan
diabetes mencapai 3 sampai 4 kali lebih tinggi daripada rata-rata orang dewasa.
§
Diabetes Melitus Tipe Lain
§
Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes Melitus Gestasional adalah diabetes yang timbul selama
kehamilan. Jenis ini sangat penting diketahui karena dampaknya pada janin
kurang baik bila tidak ditangani dengan benar.
3. Penyebab/Faktor Predisposisi (Arif
Mansjoer, 2001 : 580)
Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau Diabetes Melitus
Tergantung Insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel beta pulau Langerhans
akibat proses autoimun. Sedangkan Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus
(NIDDM) atau Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin (DMTTI) disebabkan oleh
kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah
turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan
perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu mengimbangi resistensi insulin
ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Ketidakmapuan ini
terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa bersama
bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel beta pankreas
mengalami desensitisasi terhadap glukosa.
4.
Komplikasi diabetes melitus
a.
Akut :
Ø
Koma hipoglikemia
Ø
Ketoasidosis
Ø
Koma hiperosmolar nonketotik
b.
Kronik :
Ø
Makroangiopati , mengenai pembuluh darah besar ;
pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.
Ø
Mikroangiopati, mengenai pembuluh darah kecil ;
retinopati diabetik, nefropati diabetik.
Ø
Neuropati diabetik
Ø Rentan infeksi seperti : TB paru,
ginggivitis, dan ISK.
Ø
Kaki diabetik.
5.
Patofisiologi
terjadinya penyakit
6.
PENJELASAN
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi,
ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar,
akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urine (Glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan diekskresikan ke dalam
urine, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis
osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan, pasien akan
mengalami peningkatan dalam berkemih (Poliuria)
dan rasa haus (polidipsia).
Defisiensi
insulin juga mengganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan
penurunan berat badan. Pasien
dapat mengalami peningkatan selera makan (Polifagia)
akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan
kelemahan.
Dalam
keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang
disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari asam-asam amino
serta substansi lain), namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini akan
terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut turun menimbulkan hiperglikemia.
Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan
produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan keton
merupakan asam yang mengganggu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya
berlebihan. Ketoasidosis diabetik yang diakibatkannya dapat menyebabkan
tanda-tanda dan gejala seperti hiperventilasi, napas bau aseton dan bila tidak
ditangani akan mengakibatkan perubahan kesadaran, koma bahkan kematian.
Diabetes Tipe II. Pada diabetes tipe II
terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu retensi
insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel.
Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu
rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel. Retensi insulin pada
diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian
insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh
jaringan.
untuk
mengatasi retensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus
terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi
glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan
dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit
meningkat. Namun demikian jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan
kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes
tipe II.
7.
Klasifikasi
Klasifikasi Diabetes yang utama adalah :
(Brunner and Suddarth)
a. Tipe I : Diabetes Melitus tergantung
insulin (Insulin dependent diabetes
mellitus atau IDDM). Ciri-ciri klinis dari DM Tipe I ini yaitu awitan
terjadi pada segala usia, tetapi biasanya pada usia muda (<30 tahun),
biasanya bertubuh kurus pada saat didiagnosis dengan penurunan berat badan yang
baru saja terjadi, etiologi mencakup faktor genetik, imunologi atau lingkungan
misalnya virus, sering memiliki antibodi terhadap insulin meskipun belum pernah
mendapatkan terapi insulin, cenderung mengalami ketosis jika tidak memiliki
insulin, komplikasi akut hiperglikemi : ketoasidosis diabetik.
b. Tipe II : Diabetes Melitus tidak
tergantung insulin (Non Insulin dependent
diabetes mellitus atau NIDDM). Ciri-ciri klinis dari DM tipe II ini yaitu
awitan terjadi pada segala usia, biasanya diatas 30 tahun, biasanya bertubuh
gemuk pada saat didiagnosis, etiologi mencakup faktor obesitas, herediter atau
lingkungan, penurunan produksi insulin endogen atau peningkatan resistensi
insulin, ketosis jarang terjadi, kecuali bila dalam keadaan stres atau
menderita infeksi, komplikasi akut : sindrom hiperosmoler nonketotik).
8.
Gejala klinis
Gejala
klasik diabetes adalah rasa haus yang berlebihan sering kencing terutama malam
hari, banyak makan serta berat badan yang turun dengan cepat. Di samping itu
kadang-kadang ada keluhan lemah, kesemutan pada jari tangan dan kaki, cepat
lapar, gatal-gatal, penglihatan jadi kabur, gairah seks menurun, luka sukar
sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi di atas 4 kg. Kadang-kadang ada
pasien yang sama sekali tidak merasakan adanya keluhan, mereka mengetahui
adanya diabetes karena pada saat periksa kesehatan ditemukan kadar glukosa
darahnya tinggi.
|
|
DM Tipe 1
|
DM Tipe 2
|
|
Nama lama
Umur (th)Keadaan klinik saat diagnosis Kadar insulin Berat badan Pengobatan |
DM Juvenil
Biasa <40 Berat Tak ada insulin Biasanya kurus Insulin, diet, olahraga |
DM dewasa
Biasa >40 Ringan Insulin cukup/tinggi Biasanya gemuk/normal Diet, olahraga, tablet, insulin |
Tabel Perbedaan antara DM Tipe 1 dengan DM Tipe 2
9.
Diagnosis
Diagnosis DM umumnya akan dipikirkan dengan adanya gejala khas DM berupa
poliuria, polidipsia, polifagia, lemas, dan berat badan turun. Gejala lain yang mungkin dikemukakan oleh pasien
adalah kesemutan, gatal, mata kabur dan impotensia pada pasien pria, serta
pruritus dan vulvae pada pasien wanita. Jika keluhan dan gejala khas,
ditemukannya pemeriksaan glukosa darah sewaktu yang >200 mg/dl sudah cukup
untuk menegakkan diagnosis DM. Umumnya hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu
yang baru satu kali saja abnormal belum cukup untuk diagnosis klinis DM.
Kalau hasil pemeriksaan glukosa darah
meragukan, pemeriksaan TTGO diperlukan untuk konfirmasi diagnosis DM. Untuk
diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa darah 2
jam setelah beban glukosa. Sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa pernah 2
kali abnormal untuk konfirmasi diagnosis DM, baik pada 2 pemeriksaan yang
berbeda ataupun adanya 2 hasil abnormal pada saat pemeriksaan yang sama. (Suyono,
1996 : 593).
Cara pemeriksaan TTGO : (Arif Mansjoer, 2001 : 581)
§
Tiga hari sebelum pemeriksaan, pasien makan
seperti biasa
§ Kegiatan jasmani sementara cukup, tidak
terlalu banyak
§
Pasien puasa semalam, selama 10-12 jam
§
Glukosa darah puasa diperiksa
§ Diberikan glukosa 75 gram, dilarutkan
dalam air 250 ml, dan diminum selama / dalam waktu 5 menit
§ Diperiksa glukosa darah 1 (satu) jam dan 2
(dua) jam sesudah beban glukosa
§ Selama pemeriksaan, pasien yang diperiksa
tetap istirahat dan tidak merokok
WHO merekomendasikan
pengambilan sampel 2 jam sesudah konsumsi glukosa yaitu : (Brunner and Suddarth,
2002 : 1225)
§ Glukosa plasma sewaktu/random >
200mg/dl (11,1 mmol/L)
§ Glukosa plasma puasa/nuchter >140 mg/dl
(7,8 mmol/L)
§ Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2
jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 g karbohidrat (2 jam postprandial/pp) >
200 mg/dl (11,1 mmol/L).
10.
Therapi/tindakan pengobatan
A. Penyuluhan
Edukasi
DM adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan keterampilan bagi
penderita DM dengan tujuan merubah prilaku pasien untuk meningkatkan pemahaman
tentang penyakitnya.
B. Perencanaan
makanan (Diet)
Penatalaksanaan nutrisi pada diabetes
diarahkan untuk mencapai tujuan berikut :
1.
Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya
vitamin dan mineral).
2. Mencapai dan mempertahankan berat badan
yang sesuai.
3.
Memenuhi kebutuhan energi.
4.
Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya
dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang
aman dan praktis.
5. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar
ini meningkat.
C. Farmakologis,
berupa:
1.
Obat Hipoglikemik Oral
a.
Sulfonilurea, obat golongan sulfonilurea bekerja dengan
cara :
ü
Menstimulasi pengelepasan insulin yang
tersimpan.
ü
Menurunkan ambang sekresi insulin.
ü
Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat
rangsangan glukosa.
Obat golongan ini biasanya
diberikan pada pasien dengan berat badan normal dan masih bisa dipakai pada
pasien yang beratnya sedikit lebih.
Klorpropamid kurang dianjurkan pada
kaedaan insufisiesi renal dan orang tua karena risiko hipoglikemia yang
berkepanjangan, demikian juga glibenklamid. Untuk orang tua dianjurkan preparat
dengan waktu kerja pendek (tolbutamid, glikuidon). Glikuidon juga diberikan
pada pasien DM dengan gangguan fungsi ginjal atau hati ringan.
b. Biguanid
Biguanid menurunkan kadar glukosa
darah tapi tidak sampai dibawah normal. Preparat yang ada dan aman adalah
metformin. Obat ini dianjurkan untuk pasien gemuk (Indek Masa Tubuh/IMT >30)
sebagai obat tunggal. Pada pasien dengan berat lebih (IMT 27-30), dapat
dikombinasi dengan obat golongan sulfonilurea.
c. Inhibitor α glukosidase
Obat ini bekerja secara
kompetitif menghambat kerja enzim α glukosidase didalam saluran cerna, sehingga
menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia pascaprandial.
2.
Insulin
Insulin
diperlukan pada keadaan :
ü
Penurunan berat badan yang cepat
ü
Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
ü
Ketoasidosis diabetik
ü
Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
ü
Hiperglikemia dengan asidosis laktat
ü Gagal dengan kombinasi obat hipoglikemik
oral (OHO) dosis hampir maksimal
ü Stres berat (Infeksi sitemik, operasi
besar, IMA, stroke)
ü Kehamilan dengan DM/diabetes melitus
gestasional yang tidak terkendali
ü Gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat
ü Kontraindikasi atau alergi tarhadap OHO
Jenis dan lama
kerja Insulin
Berdasarkan
lama kerja, insulin terbagi menjadi empat jenis, yakni :
Ø
Insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
Ø
Insulin kerja pendek (short acting insulin)
Ø
Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin)
Ø
Insulin kerja panjang (long acting insulin)
Ø
Insulin campuran tetap (premixed insulin)
Efek samping
terapi insulin
v
Efek samping utama dari terapi insulin adalah
terjadinya hipoglikemia.
v
Efek samping yang lain berupa reaksi imun
terhadap insulin yang dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin.
Cara penyuntikan
insulin
o
Insulin
umumnya diberikan dengan suntikan dibawah kulit (subkutan). Dengan arah alat suntik tegak lurus terhadap permukaan
kulit.
o
Pada
keadaan khusus diberikan intramuskular atau intravena secara bolus atau drip.
o
Terdapat
sediaan insulin campuran (Mixed Insulin) antara insulin kerja pendek dan kerja
menengah, dengan perbandingan dosis yang tertentu. Apabila tidak terdapat
sediaan insulin campuran tersebut atau diperlukan perbandingan dosis yang lain,
dapat dilakukan pencampuran sendiri antara kedua jenis insulin tersebut.
o
Lokasi
penyuntikan, cara penyuntikan maupun cara penyinpanan insulin harus dilakukan
dengan benar, demikian pula mengenai rotasi tempat suntik.
o
Apabila
diperlikan, sejauh sterilitas penyimpanan terjamin, semprit insulin dan
jarumnya dapat dipakai lebih dari satu kali oleh diabetisi yang sama.
D. Manfaat Olahraga bagi Diabetisi :
§
Mengendalikan kadar glukosa darah
§ Menurunkan kelebihan berat badan (mencegah
kegemukan)
§
Membantu mengurangi stres
§
Memperkuat otot dan jantung
§ Meningkatkan kadar kolesterol ‘baik’ (HDL)
§
Membantu menurunkan tekanan darah
E.
Perawatan dirumah, sebagai seorang diabetesi sering
mengalami gangguan sirkulasi pada kaki sehingga mudah terkena infeksi bakteri
dan jamur sehingga perlu perawatan kaki. Perawatan tersebut meliputi :
ü
Hentikan kebiasaan merokok
ü
Periksa jari kaki dan celahnya setiap hari,
apakah terdapat kalus, bula, luka lecet ; gunakan cermin untuk melihat telapak
kaki dan celah jari kaki.
ü
Bersihkan dan cuci kaki setiap hari, lalu
keringkan dengan baik terutama dicelah jari kaki.
ü
Pakailah krim khusus untuk kulit yang kering,
tetapi hindari pemakaian pada celah jari kaki.
ü Jangan menggunakan bahan kimia untuk
menghilangkan kalus.
ü Hindari penggunaan air panas atau bantal
pemanas.
ü Potonglah kuku secara hati-hati dan jangan
terlalu dalam.
ü Pakailah kaos kaki yang pas bila kaki
terasa dingin ; ganti kaos kaki setiap hari.
ü Jangan berjalan tanpa alas kaki.
ü Pakailah sepatu dari kulit yang cocok
untuk kaki.
ü Periksa bagian dalam sepatu setiap hari
sebelum memakainya ; periksa adanya benda asing.
ü Hindari trauma yang berulang.
ü Periksa dini rutin ke dokter dan periksa
kaki anda setiap kali kontrol walaupun ulkus/gangren telah sembuh.
No comments:
Post a Comment