Juniartha Semara Putra
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DENGUE HAEMORAGIC
FEVER (DHF) DI RUANG RAWAT INAP
a. Definisi
Dengue
haemoragic fever adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya
manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat
menyebabkan kematian (Arief Mansjoer
&Suprohaita; 2000; 419).
Demam berdarah dengue adalah penyakit yang terutama terdapat pada anak
dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, dan biasanya memburuk pada dua
hari pertama (Soeparman; 1987; 16).
b. Pathofisiologi
Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8
hari. Virus hanya dapat hidup dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing
dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada
daya tahan tubuh manusia.sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi
sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan
peningkatan permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang
intravaskular ke ekstravaskular, (2) agregasi trombosit menurun, apabila
kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai
akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan (3)
kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor
pembekuan.
Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1)
peningkatan peermiabilitas kapiler; (2) kelainan hemostasis, yang disebabkan
oleh vaskulopati; trombositopenia; dan kuagulopati (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419).
![]() |
|||
Demam
berdarah dengue (Arief Mansjoer
&Suprohaita; 2000; 420)
c. Etiologi
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu
nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis
dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang kurang berperan
berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur
hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap
serotipe jenis yang lainnya (Arief
Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420).
d. Manifestasi infeksi virus dengue
![]() |
(Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 420)
e. Pengkajian
1.
Identitas
-
Umur: DHF merupakan penyakit tropik yang sering
menyebabkan kematian pada anak dan remaja.
-
Jenis kelamin: secara keseluruhan tidak terdapat
perbedaan pada penderita DHF. Tetapi kematian lebih sering ditemukan pada anak
perempuan daripada anak laki-laki.
-
Tempat tinggal: penyakit ini semula hanya ditemukan di
beberapa kota besar saja, kemudian menyebar kehampir seluruh kota besar di
Indonesia, bahkan sampai di pedesaan dengan jumlah penduduk yang padat dan
dalam waktu relatif singkat.
2.
Keluhan utama
Penderita mengeluh badannya panas (peningkatan suhu
tubuh).
3.
Riwayat perawatan sekarang
Sering terdapat riwayat sakit kapala, nyeri otot dan
pegal pada seluruh badan, panas. Sakit pada saat menelan, lemah, nyeri ulu
hati, mual, muntah dan penurunan nafsu makan.
4.
Riwayat penyakit dahulu
Tidak ada hubungannya antara penyakit yang pernah
diderita dahulu dengan penyakit DHF yang dialami sekarang, tetapi kalau dahulu
pernah menderita DHF, penyakit itu bisa terulang.
5.
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang
lain (yang tinggal didalam satu rumah atau beda rumah dengan jarak rumah yang
berdekatan) sangat menentukan karena ditularkan melalui gigitan nyamuk.
6.
Riwayat kesehatan lingkungan
DHF ditularkan oleh 2 jenis nyamuk, yaitu 2 nyamuk
aedes:
-
Aedes aigepty:
Merupakan nyamuk yang hidup di daerah tropis terutama hidup dan
berkembang biak di dalam rumah, yaitu pada tempat penampungan air bersih,
dengan jarak terbang nyamuk + 100 mtr.
-
Aedes albapictus
7.
Riwayat tumbuh kembang
8.
Pengkajian persistem
9.
Sistem Cardiovaskuler
Peningkatan permiabilitas kaliper, tachycardia, penurunan tekanan darah
10.
Sistem Respirasi
Perdarahan pada hidung (epistaksis), tachypnea, effusi pleura (crackless)
11.
Sistem Gastrointestinal
Perdarahan pada gusi, pembesaran pada hati (hepatomegali) disertai dengan
nyeri tekan tanpa diserta dengan ikterus, muntah darah (hematemesis), berak
darah (melena), anoreksia, mual, muntah
12.
Sistem neurologi
Nyeri pada bagian kepala, bola mata dan persendian
serta persendian.
13.
Sistem integumen
Demam, ruam makulopapular, bintik merah seluruh
tubuh/ perdarahan dibawah kulit (petikie)
f. Diagnosis
Dasar diagnosis Demam Berdarah Dengue WHO tahun 1997:
Klinis:
-
Demam tinggi dengan mendadak dan terus menerus selama
2-7 hari.
-
Menifestasi perdarahan petikie, melena, hematemesis
(test rumple leed).
-
Pembesaran hepar.
-
Syock yang ditandai dengan nadi lemah, cepat, tekanan
darah menurun, akral dingin dan sianosis, dan gelisah.
Laboratorium:
-
Trombositopenia (< 100.000/ uL) dan terjadi
hemokonsentrasi lebih dari 20%.
Derajat (WHO 1997):
-
I : Demam dengan
test rumple leed positif.
-
II : Derajat I
disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahan lain.
-
III :
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien menjadi
gelisah.
-
IV :
Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.
g. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium:
Trombositpenia, leukopenia, peningkatan hemokonsentrasi, dengue blot(+),
Pt dan PTT memanjang.
h. Diagnosa Keperawatan & Intervensi
1.
Resiko terjadinya cidera (perdarahan) berhubungan
dengan fungsi trombosit abnormal, trmbositopenia
Tujuan:
Tidak terjadi perdarahan selama dalam masa perawatan
dengan kriteria: tidak ada perdarahan spontan (gusi, hidung, hematemesis dan
melena), trombosit dalam batas normal
(150.000/uL).
Intervensi:
a.
Jelaskan pada klien dan keluarga tentang bahaya yang
dapat timbul akibat dari adanya perdarahan.
b.
Anjurkan kepada keluarga dan klien agar segera melapor
jika terjadi perdarahan (seperti di gusi, hidung, berak darah, atau muntah darah).
c.
Anjurkan pada klien untuk tetap tirah baring.
d.
Kolaborasi dalam pemberian transfusi (trombosit
concentrate).
e.
Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium secara
berkala (darah lengkap).
f.
Observasi tanda-tanda perdarahan serta tanda vital
(tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan).
2.
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan viremia
Tujuan:
Suhu tubuh normal kembali setelah mendapatkan
tindakan perawatan dengan kriteria: Suhu tubuh normal (36OC-37,5OC),
nadi dalam batas normal (80-100 x/mnt).
Intervensi:
1.
Jelaskan pada klien tentang cara yang dapat dilakukan
untuk menurunkan panas.
2.
Anjurkan keluarga agar mengenakan pakaian tipis dan
mudah menyerap keringat pada klien.
3.
Anjurkan pada klien untuk minum lebih banyak.
4.
Berikan kompres (hangat atau dingin).
5.
Kolaborasi dalam pemberian obat antipiretik.
6.
Observasi keluhan klien, KU dan tanda vital (suhu dan
nadi serta tekanan darah).
3.
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual, muntah
Tujuan:
Kebutuhan tubuh akan nutrisi terpenuhi dengan kriteria:
tidak terjadi penutnan berat badan, makanan yang disajikan mampu dihabiskan
klien, mual dan muntah berkurang.
Intervensi:
a.
Jelaskan pada klien dan keluarga tentang penting
nutrisi/ makanan bagi proses penyembuhan.
b.
Sajikan makanan dalam keadaan hangat.
c.
Anjurkan pada klien untuk makan sedikit-sedikit tetapi
sering.
d.
Anjurkan pada klien untuk menarik nafas dalam jika
mual.
e.
Kolaborasi dalam pemberian diet lunak dan rendah serat.
f.
Observasi porsi makan klien, berat badan dan keluhan
klien.
DAFTAR PUSTAKA
Engram, Barbara; 1994; Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah
Volume 2; alih bahasa: Suharyati Samba;
Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif & Suprohaita; 2000; Kapita Slekta Kedokteran Jilid II;
Jakarta: Media Aesculapius.
Soeparman; 1987; Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua;
Jakarta: balai Penerbit FKUI.


No comments:
Post a Comment