Juniartha Semara Putra
Pengkajian diambil
tgl : 6 Agustus 2001 Jam
: 09.20 wib
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DHF (DENGUE HEMORHAGIC FEVER)
PENGERTIAN
DHF adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus
dengue, terutama menyerang pada anak-anak dengan ciri-ciri : demam tinggi
mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan syok (DSS)
dan kematian. Penyakit ini ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti, yang membawa
virus dengue (anthropad borne viruses) atau disebut arbo virus. DHF dapat
menyerang semua umur tetapi terbanyak pada anak-anak.
Epidemiologi :
Terdapat pada daerah
tropis,terutama negara Asean dan Pasifik barat disebabkan oleh virus dengue dan
ditularkan oleh nyamuk Aedes,diIndonesia dikenal 2 jenis nyamuk Aedes yaitu:
Aedes Agypti dan Aedes albopictus. Insiden secara keseluruhan tidak ada perbedaan
jenis kelamin penderita DHF tetapi kematian lebih banyak pada anak
perempuan,usia antara 1- 4 tahun dan 5 – 10 tahun.
TANDA DAN GEJALA
1.
Demam : demam tinggi timbul mendadak, terus menerus,
berlangsung dua sampai tujuh hari turun secara cepat.
2.
Perdarahan : perdarahan disini terjadi akibat
berkurangnya trombosit (trombositopeni) serta gangguan fungsi dari trombosit
sendiri akibat metamorfosis trombosit. Perdarahan dapat terjadi di semua organ
yang berupa:
·
Uji torniquet positif
·
Ptekie, purpura, echymosis dan perdarahan
konjungtiva
·
Epistaksis dan perdarahan gusi
·
Hematemesis, melena
·
Hematuri
3.
Hepatomegali :
·
Biasanya dijumpai pada awal penyakit
·
Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya
penyakit
·
Nyeri tekan pada daerah ulu hati
·
Tanpa diikuti dengan ikterus
·
Pembesaran ini diduga berkaitan dengan strain
serotipe virus dengue
4.
Syok : Yang dikenal dengan DSS , disebabkan oleh karena
: Perdarahan dan kebocoran plasma
didaerah intravaskuler melalui kapiler yang rusak. Sedangkan tanda-tanda syok
adalah:
·
Kulit dingin, lembab terutama pada ujung hidung,
jari dan kaki
·
Gelisah dan Sianosis disekitar mulut
·
Nadi cepat, lemah , kecil sampai tidak
teraba
·
Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun
sampai 80 mmHg atau kurang dari 80 mmHg)
·
Tekanan nadi menurun (sampai 20mmHg atau kurang)
5.
Trombositopeni: Jumlah trombosit dibawah 150.000 /mm3
yang biasanya terjadi pada hari ke tiga sampai ke tujuh.
6.
Hemokonsentrasi : Meningkatnya nilai hematokrit
merupakan indikator kemungkinan terjadinya syok.
7.
Gejala-gejala lain :
·
Anoreksi , mual muntah, sakit perut, diare atau
konstipasi serta kejang.
·
Penurunan kesadaran
Derajat DHF Menurut WHO dibagi menjadi 4 Derajat :
Derajat 1 :
Demam disertai gejala tidak khas
dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji Tourniquet positif.
Derajat 2 :
Derajat 1 disertai perdarahan
spontan di kulit dan atau perdarahan lain.
Derajat 3 :
Ditemukannya kegagalan sirkulasi,
yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun (<20 mmHg) atau hipotensi
disertai kulit yang dingin, lembab, dan penderita menjadi gelisah
Derajat 4 :
Renjatan berat dengan nadi yang
tidak diraba dan tekanan darah yang tidak dapat diukur
Catatan :
Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi, hemodinamika dan biokimiawi DBD
belum diketahui secara pasti, karena kesukaran mendapatkan model binatang
percobaan yang dapat dipergunakan untuk menimbulkan gejala klinis seperti pada
manusia.
Tahap Tumbuh Kembang :
Menurut Soetjiningsih :
-
Masa pra sekolah usia 1 – 6 tahun.
-
Masa sekolah usia 6 – 18 / 20 tahun
- Masa pra remaja : 6 – 10 tahun
Menurut Donna L. Wong :
-
Masa anak-anak awal : 1 – 12 Tahun
- Toddler : 1 – 3 tahun
-
Pra sekolah : 3 – 6 tahun
Masa anak-anak tengah : 6 – 12 Tahun (masa sekolah)
Tahap pertumbuhan cepat, masa pra-adolesen dan masa adolesen
Pertumbuhan fisik/jasmani sangat
pesat, dimana anak akan menjadi cepat besar,BB naik dengan pesat,PB bertambah
dengan cepat,keadaan anak makannya banyak serta aktivitas bertambah, mengikuti
satu irama pertumbuhan tertentu dan berlangsung secara bergantian, pertumbuhan
otak mulai melambat,sangat lambat pada usia 5 tahun.
Rumus untuk menafsir pertumbuhan
dan perkembangan pada bayi dan anak – anak menurut Weech :
Perhitungan Berat badan :
v Umur
1 – 6 tahun = Umur (tahun) X 2 - 8 : 2
v Umur
6 – 12 tahun = Umur (tahun) X 7 –
5 : 2
Perhitungan
Panjang badan :
v Umur 1 tahun :
75 cm
v Umur 2 – 12 tahun = Umur (tahun) X 6 - 77
Tahap
perkembangan
v Perkembangan Psikoseksual menurut (Sigmund
Freud) :
Fase
anal (1 – 3 tahun ): Daerah anal aktifitas,pengeluaran tinja menjadi sumber
kepuasan libido yang penting. Menunjukan keakuannya .sikap narsistik (cinta
terhadap diri sendiri) dan egoistik.Tugas utama anak : Latihan kebersihan,
perkembangan bicara dan bahasa meniru dan mengulang kata sederhana,hubungan
interrpersonal anak sangat terbatas,bermain sendiri,belum bisa bermain dengan
anak lain.
Fase
oedipal/falik (3 – 5 tahun) : melakukan rangan autoerotic,bermain dengan
anak berjenis kelamin berbeda,anak pasca oedipal berkelompok dengan sejenis.Pada
fase ini anak sering mengalami oedipus komplek bagi anak lelaki dan elektra
komplek bagi anak perempuan.
Fase
Laten (5 – 12 tahun) : Anak memasuki masa pubertas,memasuki periode
integrasi,fase tenang,dorongan libido mereda sementara,erotik zona
berkurang,anak tertarik dengan peer group (kelompok sebaya).
v Tahap perkembangan Psikososial (Erikson)
Tahap ke 2 : Autonomi VS Shame and doubt, ; Toddler
year/usia 1 – 3 tahun Perkembangan ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari
dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh untuk mandiri,jika ortu terlalu
melindungi,menuntut harapan terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan
ragu-ragu.
Tahap
ke 3 : Initiative VS
Guilt,prescholl/usia prasekolah 4 – 6 ahun;Pada tahap ini anak diperboleh kan
memiliki insiatif dalam belajar mencari pengalaman baru secara aktif,bila
dilarang/diomeli serta dicela anak akan merasa bersalah dan menjadi anak peragu
dalam melakukan ketrampilan motorik dan bahasanya;
Tahap
ke 4 : Industry VS Interiority,school age/usia sekolah 6 – 12 tahun Pada
tahap ke-4 ini berfokus pada hasil akhir suatu pencapaian
(prestasi=Achievemont),memperoleh kesenangan dari penyelesaian tugasnya
/pekerjaannya dan menerima penghargaan untuk usaha atau kepandaiannya,hasil ini
adalah pengertian dari persaingan/kompetisi dan kerajinannya
v Stimulasi dan perkembangan anak :
·
Anak umur
12 – 18 Bulan :
·
Perkembangan anak : Berjalan sendiri tidak
jatuh (GK),Mengambil benda kecil dengan jari dan telunjuk (GH),mengungkapkan
keinginan scr sederhana (BBK),minum sendiri dari gelas tidak tumpah (BM).
Stimulasi dini : Melatih anak naik
turun tangga (GK),bermain dng anak melempar dan menangkap bola besar kemudian
kecil(GH),melatih anak menunjuk dan menyebut nama-nama bagian tubuh
(BBK),memberi kesempatan anak melepas pakaian sendiri.
·
Anak umur
18 – 24 Bulan :
Perkembangan anak : Berjalan
mundur 5 langkah (GK),mencoret-coret dng alat tulis (GH),menunjuk bagian tubuh
dan menyebut namanya (BBK),meniru melakukan pekerjaan rumah tangga (BM).
Stimulasi dini : Melatih anak berdiri
dengan satu kaki(GK),mengajari anak menggambar bulatan,garis segi tiga dan
gambar wajah(GH),melatih anak mengikuti perintah sederhana (BBK),melatih anak
mau ditinggalkan ibunya sementara waktu (BM).
·
Anak umur
2 – 3 tahun :
Perkembangan anak : berdiri dengan
satu kaki tanpa berpegangan sedikitnya 2 hitungan (GK),meniru membuat garis
lurus(GH),menyatakan keinginan sedikitnya dengan 2 kata (BBK),melepas pakaian
sendiri(BM).
Stimulasi dini : Melatih anak
melompat dng satu kaki (GK),mengajak anak bermain menyusun dan menumpuk
balok(GH),melatih anak mengenal bentuk
dan warna (BBK),melatih anak mencuci tangan dan kaki serta mengeringkan
sendiri(BM).
·
Anak umur
3-4 tahun :
Perkembangan anak : berjalan
jinjit(GK),Menggunting dan membuat buku cerita dng gambar(GK),mengenal bentuk
dan warna(BBK),mengenal sopan santun,berterima kasih dan mencium tangan (BM).
·
Anak umur
4-5 tahun :
Perkembangan anak : Melompat
dengan satu kaki(GK),dpt mengancing baju(GH),bercerita sederhana(BBK),mencuci
tangan sendiri(BM).
Stimulasi dini : Biarkan anak
melakukan permainan ketangkasan dan kelincahan(GK),bantu belajar
menggambar(GH),mengerti satu dan separuh dng cara membagi kue/kertas(BBK),latih
untuk mandiri,mis.bermain ketetangga(BM).
·
Anak umur
5 – 6 tahun :
Perkembangan anak : menangkap bola
kasti pada jarak satu meter(GK),membuat gambar segi empat(GH),mengenal angka
dan huruf
Serta berhitung(BBK),berpakaian sendiri tanpa dibantu(BM).
Stimulasi dini : melakukan
permainan,mis.kasti (GK),membuat sesuatu
dari lilin/tanah liat(GH),melatih untuk mengenal waktu,hari,minggu dan bulan
(BBK),bercakap-cakap bergaul dengan teman sebaya.
PENGKAJIAN
I. Identitas
Umur, sering terjadi pada anak-anak umur 1 –
4 tahun dan 5 – 10 tahun, tidak terrdapat
perbedaan jenis kelamin tetapi
kematian lebih sering terjadi pada anak
perempuan, lingkungan tempat tinggal pasien merupakan endemic DHF dan sering
terjadi pada musin hujan
II.Riwayat Keperawatan
1. Keluhan
utama : demam tinggi dan mendadak, perdarahan (bintik-bintik merah pada ekstremitas atas, dada dan mimisan/perdarahan
gusi), kadang-kadang disertai dengan penurunan kesadaran serta kejang.
2. Riwayat
Penyakit Sekarang
Badan panas tinggi secara
mendadak dalam waktu 2 – 7 hari, terdapat bintik merah pada ektremitas,dada,selaput
mukosa mulut kering,mimisan,gusi ber darah,berak darah, pembesaran hepar,
kadang disertai kejang dan penurunanan kesadaran
3. Riwayat
penyakit dahulu
Pernah menderita DHF untuk
pertama kali pada usia lebih dari 1 tahun merupakan faktor utama patogenesis
penyakit ini,malnutrisi.
4. Riwayat
kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga yang
terserang DHF
5. Riwayat
kesehatan lingkungan
Apakah lingkungan tempat tinggal
sedang terserang wabah DHF.
III.Pemeriksaan fisik
- Keadaan umum dan tanda-tanda vital : Adanya penurunan kesadaran, kejang dan kelemahan; suhu tinggi; nadi cepat,lemah,kecil sampai tidak teraba;tekanan darah menurun (sistolok menurunb sampai 80 mmHg atau kurang.
- Body system :
Pernapasan (B1 : Breathing)
Anamnesa : Pada derajat 1 dan 2 awal
jarang terdapat gangguan pada sistem pernapasan kecuali bila pada derajat 3 dan
4 sering disertai keluhan sesak napas sehingga memerlukan pemasangan O2.
Pemeriksaan fisik : Pada derajat 1 dan 2
kadang terdapat batuk dan pharingitis karena demam yang tinggi,suara napas
tambahan (ronchi; wheezing), pada derajat 3 dan 4 napas dangkal dan cepat
disertai penurunan kesadaran.
Cardiovaskuler (B2 : Bleeding)
Anamnesa :
Pada
derajat 1dan 2 keluhan memdadak demam
tinggi 2 – 7 hari badan
lemah,pusing,mual – muntah,derajat 3 dan 4 orang tua/keluarga melaporkan pasien
mengalami penurunan kesadaran gelisah dan kejang.
Pemeriksaan fisik :
Derajat 1 Uji torniquet
positif,merupakan satu-satunya manifestasi
perdarahan.
Derajat 2 ptekie,purpura,echymosis dan
perdarahan konjungtiva Derajat 3 kulit dingin pada daerah akral,nadi
cepat,hipotensi,sakit kepala ,menurunnya
volome plasma,meningginya permeabilitas dinding pembuluh
darah,trombositopenia dan diatesis hemoragic.
Derajat 4 nadi tidak teraba dan tekanan
darah tidak dapat diukur.
Persarafan (B3: Brain)
Anamnesa :Pasien gelisah, cengeng dan rewel karena demam tinggi derajat
1dan 2 serta penurunan tingkat kesadaran
pada derajat 3 dan 4.
Pemeriksaan fisik :
Pada derajat 2 konjungtiva
mengalami perdarahan, sedang penurun-anTingkat kesadaran (composmentis,
ke-apatis, ke-somnolent,kesopor kekoma )atau gelisah,GCS menurun,pupil miosis
atau midriasis,reflek fisiologis atau patologis sering terjadi pada derajat 3
dan 4.
2.4.Perkemihan – Eliminasi Uri (B4: Bladder)
Anamnesa : Derajat 3 dan 4 kencing sedikit bahkan tidak ada kencing.
Pemeriksaan fisik :
Produksi urin
menurun(oliguria sampai anuria),warna berubah pakat dan berwana coklat tua pada
derajat 3 dan 4.
2.5.Pencernaan
– Eliminasi Alvi (B5: Bowel)
Anamnesa : pada derajat 1
dan 2 mual dan muntah/tidak ada nafsu
makan,haus,sakit menelan,derajat 3 terdapat nyeri tekan pada ulu hati.
Pemeriksaan fisik :
Derajat 1 dan 2 Mukosa mulut
kering,hiperemia tenggorokan, derajat 3 dan 4 terdapat pembesaran hati dan
Nyeri tekan,sakitmenelan, pembesaran limfe,nyeri tekan epigastrik, hematemisis
dan melena.
2.6.Tulang – otot – integumen
(B6: Bone)
Anamnesa : pasien mengeluh
otot,persendian dan
punggung,kepanas-an,wajah tampak merah
pada derajat 1 dan 2,derajat 3 dan 4 terdapat kekakuan otot/kelemahan
otot dan tulang akibat kejang atau tirah
baring lama.
Pemeriksaan fisik :
Nyeri pada sendi, otot,punggung dan
kepala;kulit terasa panas, wajah
tampak merah dapat disertai tanda kesakitan,pegal seluruh tubuh derajat
1 dan 2 sedangkan derajat 3 dan 4 pasien mengalami parese atau kekakuan bahkan
kelumpuhan.
.IV. Data Penunjang
·
Hematokrit
Normal :PCV/Hm= 3 X Hb
·
Trombositopenia menurun atau kurang dari
100.000/mm3
·
Masa perdarahan dan protombin memanjang
·
Lekopeni kadang-kadang lekositosis ringan
Prioritas masalah
Keperawatan :
1.
Mencegah terjadinya hipopolemik syok
2.
Intik nutrisi yang adekuat.
3.
Mencegah komplikasi, perdarahan dan infeksi.
4.
Imformasi tentang proses penyakit
5.
Cemas
Penatalaksanaan
Pengobatan
DHF hanya bersifat simtomatis dan suportif, yaitu :
1. Pemberian cairan yang cukup, diberikan untuk
mengurangi rasa haus dan dehidrasi
akibat demam tinggi, anoreksia, dan muntah,pasien perlu diberikan minum
sebanyak mungkin (1 – 2 liter dalam 24 jam) berupa air teh dengan gula,sirup
atau susu dapat pula diberi oralit.
2.
Antipiretik, seperti golongan acetaminofen (paracetamol),jangan berikan
sembarang golongan salisilat karena dapat menyebabkan perdarahan.
3. Surface cooling
4. Antikonvulsan,
bila pasien kejang dapat diberikan :
Ø Diazepam
(Valium)
Ø Fenobarbital
(luminal)
Diagnosa Keperawatan
:
|
NO
|
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
|
HASIL
YANG
DIHARAPKAN
|
RENCANA
TINDAKAN
|
RASIONAL
|
|
1.
|
Peningkatan suhu tubuh (hiperter-mia) sehubungan
dengan proses pe-nyakit (viremia).
|
-Suhu tubuh
normal (36- 37 oC).
-Pasien bebas dari demam.
|
1.Mengkaji
saat timbulnya demam
2.Mengobservasi
tanda-tanda vi-tal: suhu, nadi, tensi, pernapasan seti-ap 3 jam atau lebih
sering.
3.Memberikan
penjelasan tentang penyebab demam atau pening-katan suhu tubuh.
4.Memberikan
penjelasan pada pasi-en/keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk
mengatasi demam & menganjurkan pasien /keluarga untuk kooperatif.
5.Menjelaskan
pentingnya tirah ba-ring bagi pasien & akibatnya jika hal tersebut tidak
dilakukan.
6.Menganjurkan
pasien untuk ba-nyak minum ± 2,5 l/24 jam &
jelaskan manfaatnya bagi pasi-en.
7.Memberikan kompres dingin (pada daerah axila
& lipat paha).
8.Menganjurkan
untuk tidak mema-kai selimut &
pakaian yang tebal.
9. Mencatat asupan & keluaran.
10.
Memberikan terapi cairan in-travena & obat-obatan sesuai dengan program
dokter (masalah kolaborasi).
|
Untuk mengidentifikasi pola de-mam pasien.
Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien.
Penjelasan tentang kondisi yang dialami
pasiendapat membantu pa-sien/keluarga mengurangi kecema-san yang timbul.
Keterlibatan keluarga sangat be-rarti dalam proses
penyembuhan pasien di rumah sakit.
Penjelasan yang diberikan pada pasien/keluarga
akan memotivasi pasien untuk kooperatif.
Peningkatan suhu tubuh mengaki-batkan penguapan
tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
Kompres dingin akan membantu menurunkan suhu
tubuh.
Pakaian yang tipis akan membantu mengurangi
penguapan tubuh.
Untuk mengetahui adanya ketidak-seimbangan cairan
tubuh.
Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan
suhu tinggi. Pemberian cairan
merupakan we-wenang dokter sehingga perawat perlu berkolaborasi dalam hal
ini.
|
|
2.
|
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi; kurang dari
kebutuhan se-hubungan dengan mual, muntah, anoreksia & sakit saat
menelan.
|
Kebutuhan nutrisi pasien ter-penuhi; pasien mampu
meng-habiskan makanan sesuai de-ngan porsi yang diberikan/di-butuhkan.
|
1. Mengkaji
keluhan mual, sakit me-nelan & muntah yang dialami oleh pasien.
2.Mengkaji
cara/bagaimana makanan dihidangkan.
3.Memberikan
makanan yang mudah ditelan seperti: bubur, tim & dihi-dangkan saat masih
hangat.
4.Memberikan
makanan dalam porsi kecil & frekuensi sering.
5.
Menjelaskan manfaat makanan/ nutrisi bagi pasien terutama saat pasien sakit.
6.
Memberikan umpan balik positif saat pasien mau berusaha mengha-biskan
makanannya.
7.Mencatat
jumlah/porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien se-tiap hari.
8. Memberikan nutrisi
parenteral (kolaborasi dengan dokter).
9. Memberikan obat-obat
antasida (anti emetik) sesuai program dokter.
10. Mengukur berat badan
pasien se-tiap hari (bila mungkin).
|
Untuk menetapkan cara mengatasi-nya.
Cara menghidangkan makanan d-pat mempengaruhi
nafsu makan pasien.
Membantu mengurangi kelelahan pasien &
meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
Untuk menghindari mual & muntah.
Meningkatkan pengetahuan pasien tentang nutrisi
sehingga motivasi untuk makan meningkat.
Memotivasi & meningkatkan se-mangat pasien.
Untuk mengetahui pemenuhan nutrisi pasien.
Nutrisi parenteral sangat bermanfa-at/dibutuhkan
pasien terutama jika intake per oral sangat kurang. Je-nis & jumlah pemberian nutrisi
parenteral merupakan wewenang dokter.
Obat antasida (anti emetik) mem-bantu pasien
mengurangi rasa mual & muntah.
Dengan pemberian obat tersebut diharapkan intake nutrisi pasien
meningkat.
Untuk mengetahui status gizi pa-sien.
|
|
3.
|
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit,
diet, perawatan & obat-obatan pasien sehubungan de-ngan kurangnya
informasi.
|
Pengetahuan pasien/keluarga tentang proses
penyakit, diet, perawatan & obat-obatan bagi penderita DHF meningkat
serta pasien/keluarga mampu mence-ritakannya kembali.
|
1. Mengkaji
tingkat pengetahuan pa-sien/keluarga tentang penyakit DHF.
2.Mengkaji
latar belakang pendidikan pasien/keluarga.
3.
Menjelaskan tentang proses penya-kit, diet, perawatan & obat-obatan pada
pasien dengan bahasa & ka-ta-kata yang mudah dimengerti/ dipahami.
4.
Menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan & manfaat nya bagi pasien.
5.Memberikan
kesempatan pada pa-ien/keluarga untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui
sehu-ungan dengan penyakit yang di-alami pasien.
6.
Menggunakan leaflet atau gambar dalam memberikan penjelasan (jika
ada/memungkinkan).
|
Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga,
perawat perlu me-ngetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan tentang
penyakit yang diketahui pasien serta kebe-naran in-formasi yang telah
dida-patkan sebelumnya.
Agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai
dengan tingkat pendidikan mereka sehingga penje-lasan dapat dipahami &
tujuan yang direncanakan tercapai.
Agar informasi dapat diterima de-ngan mudah &
tepat sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman.
Dengan mengetahui prosedur atau tindakan yang akan
dialami, pasien akan lebih kooperatif & kecema-annya menurun.
Mengurangi kecemasan & memo-tivasi pasien
untuk kooperatif se-lama masa perawatan atau penyem-buhan.
Gambar-gambar atau media cetak seperti leaflet
dapat membantu me-ngingat penjelasan yang telah dibe-rikan karena dapat
dilihat atau di baca berulang kali.
|
|
4.
|
Potensial terjadinya perdarahan lebih lanjut
sehubungan dengan trombositopenia.
|
-Tidak
terjadi tanda-tanda perda-rahan lebih lanjut (secara kli-nis).
-Jumlah trombosit meningkat.
|
1. Memonitor
tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis.
2.Memberikan
penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada pasien.
3. Memonitor
jumlah trombosit se-tiap hari.
4.Menganjurkan
pasien untuk banyak istirahat.
5.Memberikanpenjelasan
pada pasien /keluarga untuk segera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan
lebih lanjut seperti: hematemesis, melena, epistaksis.
6.
Menjelaskan obat-obat yang dibe-rikan & manfaatnya serta akibat-nya bagi
pasien.
7.Mengantisipasi/mencegah
terjadi-nya perlukaan atau perdarahan:
-
menggunakan sikat gigi lunak.
-
memelihara kebersihan mulut.
-
menghindari tindakan invasif melalui rektum seperti: pemberian obat
suppositoria, enema, rektal termometer.
-
menggunakan pencukur lis-trik (jika pasien butuh bercu-kur).
-
memberikan tekanan 5-10 me-
nit setiap kali selesai mengambil darah.
|
Penurunan jumlah trombosit meru-pakan tanda-tanda
adanya keboco-ran pembuluh darah yang pada ta-hap tertentu dapat menimbulkan
tanda-tanda klinis berupa perdara-han (nyata) seperti epistaksis, peti-kiae,
dll.
Agar pasien/keluarga mengetahui hal-hal yang
mungkin terjadi pada pasien & dapat membantu mengan-tisipasi terjadinya
perdarahan ka-rena trombositopenia.
Dengan jumlah trombosit yang di pantau setiap
hari, dapat di ketahui tingkat kebocoran pembuluh darah & kemungkinan
perdarahan yang dapat dialami pasien.
Aktivitas pasien yang tidak terkon-trol dapat
menyebabkan terjadinya perdarahan.
Keterlibatan keluarga dengan se-gera melaporkan
terjadinya perda-rahan (nyata) akan membantu pa-sien mendapatkan penanganan
se-dini mungkin.
Dengan mengetahui obat-obatan yang diminum &
manfaatnya, ma-ka pasien akan termotivasi untuk mau minum obat sesuai dosis
atau jumlah yang diberikan.
|
|
5.
|
Gangguan aktifitas sehari-hari sehu-bungan dengan
kondisi tubuh yang lemah.
|
-Kebutuhan
aktifitas sehari-hari terpenuhi.
-Pasien
mampu mandiri sete-lah bebas demam.
|
1. Mengkaji
keluhan pasien.
2. Mengkaji
hal-hal yang mampu/ tidak mampu dilakukan oleh pa-sien sehubungan dengan
kelemah-an fisiknya.
3. Membantu
pasien memenuhi kebutuhan aktifitasnya sehari-hari sesuai dengan tingkat
ke-terbatasan pasien seperti mandi, makan, eliminasi.
4. Membantu
pasien untukk mandiri sesuai dengan perkembangan ke-majuan fisiknya.
5. Memberi
penjelasan tentang hal-hal yang dapat membantu & me-ningkatkan kekuatan
fisik pasien.
6.
Meletakkan barang-barang di tem-pat yang mudah terjangkau oleh pasien.
7.
Menyiapkan bel di dekat pasien.
|
Untuk mengidentifikasi masa-lah-masalah pasien.
Untuk mengetahui tingkat keter-gantungan pasien
dalam memenuhi kebutuhannya.
Pemberian bantuan sangat di perlu-kan oleh pasien
pada saat kondisi-nya lemah & perawat mempunyai tanggung jawab dalam
pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mem-buat pasien mengalami
keter-gantungan pada perawat.
Dengan melatih kemandirian pasien maka pasien
tidak me-ngalami ketergantungan pada perawat.
Dengan penjelasan yang diberikan kepada pasien,
maka pasien termo-tivasi untuk kooperatif selama pe-rawatan terutama terhadap
tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan fisiknya seperti pasien mau
meng-habiskan porsi makan-nya.
Akan membantu pasien untuk me-menuhi kebutuhannya
sendiri tanpa orang lain.
Agar pasien dapat segera meminta bantuan perawat
saat membutuh-kannya.
|
|
6.
|
Gangguan rasa nyaman: nyeri sehu-bungan dengan
mekanisme patolo-gis (proses penyakit).
|
-Rasa nyaman
pasien terpenuhi.
-Nyeri berkurang atau hilang.
|
1. Mengkaji
tingkat nyeri yang di ala-mi pasien dengan memberi ren-tang nyeri (0-10),
biarkan pasien menentukan tingkat nyeri yang di alaminya, tetapkan tipe nyeri
yang dialami pasien, respons pasien terhadap nyeri yang dialami.
2. Mengkaji
faktor-faktor yang mem-pengaruhi reaksi pasien terhadap nyeri (budaya,
pendidikan, dll).
3. Memberikan posisi yang nyaman, usahakan situasi
ruangan yang tenang.
4.
Memberikan suasana gembira bagi pasien, alihkan perhatian pasien dari rasa
nyeri (libatkan keluarga).
Menganjurkan pasien untuk mem-baca buku, mendengar musik, nonton TV
(mengalihkan perhatian).
5.
Memberikan kesempatan pada pa-sien untuk berkomunikasi dengan
teman-temannya/orang terdekat.
6. Memberikan obat-obat
analgetik (kolaborasi dokter).
|
Untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami
pasien.
Reaksi pasien terhadap nyeri dapat dipengaruhi
oleh berba-gai faktor, dengan mengetahui faktor-faktor tersebut maka perawat
dapat mela-kukan intervensi yang sesuai de-ngan masalah klien. Respon in-dividu ter-hadap nyeri sangat
ber-beda atau bervariasi, sehingga pe-rawat perlu mengkaji lebih lanjut
menghindari kesalahan persepsi terhadap kondisi yang dialami pa-sien. Misalnya pasien yang berteri-ak karena
nyeri belum tentu me-ngalami nyeri yang lebih hebat dari pasien lain yang
menutup mata, menggigit bibir atau berpegangan erat.
Untuk mengurangi rasa nyeri.
Dengan melakukan aktifitas lain, pasien dapat
sedikit melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami.
Tetap berhubungan dengan orang-orang
terdekat/teman membuat pa-sien gembira/bahagia & dapat me-ngalihkan
perhatiannya terhadap nyeri.
Obat-obatan analgetik dapat mene-kan/mengurangi
nyeri pasien. Per-lu adanya kolaborasi
dengan dokter karena pemberian obat merupakan wewenang dokter.
|
|
7.
|
Potensial terjadi syok hipovolemik sehubungan
dengan perdarahan hebat.
|
-Tidak
terjadi syok hipovolemik.
-Tanda-tanda
vital dalam ba-tas normal.
-Keadaan umum baik.
|
1. Monitor keadaan umum pasien.
2. Observasi
tanda-tanda vital tiap 2-3 jam.
3. Monitor
tanda-tanda perdarahan
4. Jelaskan
pada pasien/keluarga tentang tanda-tanda perdarahan yang mungkin dialami
pasien.
5.Anjurkan
pasien/keluarga untuk se-gera melapor jika ada tanda-tanda perdarahan.
6. Pasang
infus, beri terapi cairan in-travena jika terjadi perdarahan (kolaborasi
dengan dokter).
7. Segera
puasakan jika terjadi perda-rahan saluran pencernaan.
8. Cek Hb,
Ht, trombosit (sito).
9.
Perhatikan keluhan pasien seperti mata berkunang-kunang, pusing, lemah,
ekstremitas dingin, sesak nafas.
10. Berikan
tranfusi sesuai dengan program dokter.
11. Monitor masukan &
keluaran, catat & ukur perdarahan yang terjadi, produksi urin.
12. Berikan obat-obatan untuk
me-ngatasi perdarahan sesuai dengan program dokter.
13. Bila terjadi tanda-tanda syok hipovolemik,
baringkan pasien terlentang atau posisi datar.
14. Berikan terapi oksigen sesuai dengan
kebutuhan.
15. Segera
lapor dokter jika tam-pak tanda-tanda syok hipovolemik & observasi ketat
pasien serta perce-pat tetesan infus sambil menunggu program dokter
selanjutnya.
|
Untuk memantau kondisi pasien selama masa
perawatan teruta-ma saat terjadi perdarahan.
Dengan memonitor keadaan umum pasien, perawat
dapat segera me-ngetahui jika terjadi tanda-tanda pre syok/syok sehingga
dapat se-gera di tangani.
Tanda vital dalam batas normal menandakan keadaan
umum pasien baik, perawat perlu terus mengob-servasi tanda-tanda vital selama
pasien mengalami perdarahan un-tuk memastikan tidak terjadi pre syok/syok.
Perdarahan yang cepat diketahui dapat segera
diatasi, sehingga pasi-en tidak sampai ke tahap syok hi-povolemik akibat
perdarahan he-bat.
Dengan memberi penjelasan & me-libatkan
keluarga diharapkan tan-da-tanda perdarahan dapat diketa-hui lebih cepat
& pasien/ keluarga menjadi kooperatif se-lama pasien di rawat.
Keterlibatan keluarga untuk segera melaporkan jika
terjadi perdarahan terhadap pasien sangat membantu tim perawatan untuk segera
mela-kukan tindakan yang tepat.
Pemberian cairan intravena sangat diperlukan untuk
mengatasi kehi-langan cairan tubuh yang hebat yai-tu untuk mengatasi syok
hipovo-lemik. Pemberian infus
dilakukan dengan kolaborasi dokter.
Puasa membantu mengistirahatkan saluran pencernaan
untuk semen-tara selama perdarahan berasal dari saluran cerna.
Untuk mengetahui tingkat kebo-coran pembuluh darah
yang di alami pasien & untuk acuan me-lakukan tindakan lebih lanjut
terhadap perdarahan tersebut.
Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh perdarahan
tersebut pada pasien sehingga tim kesehatan le-bih waspada.
Untuk menggantikan volume darah serta komponen
darah yang hilang.
Pengukuran & pencatatan sangat penting untuk
mengetahui jumlah perdarahan yang dialami pasien. Untuk mengetahui keseimbangan cairan
tubuh. Produksi urin yang lebih pekat
& lebih sedikit dari normal (sangat sedikit) menunjukkan pasien
kekurangan cairan & mengalami syok.
Hati-hati terha-dap perdarahan di dalam.
Untuk membantu menghentikan perdarahan.
Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk.
Pemberian O2
akan membantu ok-sigenasi jaringan, karena dengan terjadinya
perdarahan hebat maka suplai oksigen ke jaringan terganggu.
Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera
mungkin.
|
DAFTAR PUSTAKA
Effendy, Christanti.
1995. Perawatan Pasien DHF.
EGC. Jakarta.
Mansjoer,
Arif, et al. 1999. Kapita
Selekta Kedokteran. Media
Aesculapius; FKUI. Jakarta
Nancy and
Beckle. 1987. NCP for Pediatric Patient ; p.
230-233. The C.V. Mosby Company, St.
Laouis, Washington, Toronto.
Nelson . 2000. Ilmu Kesehatan Anak,volome I ,Edisi 15.EGC. Jakarta
RS Sint.
Carolus. Asuhan Keperawatan pada
klien dengan DHF.
Rampengan,T.H dan Laurentz,I.R. 1997. Penyakit
infeksi tropik pada anak; EGC.Jakarta
Soedarmo, SP.
1995. Demam Berdarah Dengue. Medika No. 10 Tahun XXI, Oktober 1995.
Soetjiningsih.1998
Tumbuh Kembang Anak,EGC. Jakarta
. .
. . .
2000. Diktat kuliah
PSIK.FK.UNAIR,TA: 2000/2001. Surabaya.
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK S DENGAN DHF DIRUANG MENULAR
ANAK RSUD.Dr.SOETOMO, SURABAYA
Nama Mahasiswa : Subhan Ruang : Anak Menular
NIM : 010030170B No. Reg.: 10071939
I. IDENTITAS KLIEN
Nama : An. S
Jenis kelamin :
Perempuan
Tgl.
Lahir : 02 Mei
1997
Umur : 5 Tahun
Anak
ke : III
(tiga)
Nama
Ayah : Alh.Tn. A.H
Nama
Ibu : Ny. S
Pendidikan ayah : SLTA
Pendidikan Ibu :
SLTA
Pekerjaan :
Swasta
Agama : Islam
Suku/Bangsa :
Banjar/Indonesia
Alamat : Jl. Gundi
II,No.33 Surabaya
Diagnosa Medis : DHF
Grade III
Tgl.
MRS : 6
Agustus 2001, Jam 03.00 Wib
Sumber
Informasi : Ibu klien dan status rekam
medik
II.
RIWAYAT KEPERAWATAN
1.
Keluhan
utama : Panas tinggi secara mendadak disertai mimisan
2.
Riwayat
penyakit sekarang : Panas tinggi disertai mimisan
2x,jumlah sedikit,nyeri kepala dan perut sejak 2 hari yang lalu,mual-muntah
menurut ibu klien 2 x ±
100 cc warna kemerahan,makan minum sulit Cengeng dan rewel.
3.
Riwayat
penyakit dahulu : 3 hari sebelum MRS klien panas
dan dibawa kedokter praktek turun sebentar kemudian panas lagi. Klien tidak ada
riwayat penyakit panas,kejang,jantung/HT,paru atau DM, Hanya sakit batuk pilek
biasa .
4.
Riwayat
penyakit keluarga : Kakak tertua sewaktu berumur 5
tahun pernah terkena DHF.Beberapa minggu yang lalu kakak nomor dua menderita
sakit typhus abdominalis dan dirawat dirumah sakit, ke-luarga tidak ada yang
menderita penyakit jantung/HT,paru atau DM.
5.
Kesehatan
lingkungan : Menurut ibu klien kondisi lingkungan bersih
kebersihan kamar mandi,bak mandi dikuras minimal 1 x/seminggu-,-tinggal
diperkampungan yang cukup padat,ibu/keluarga tidak mengetahui apakah disekitar
lingkungan ada yang menderita penyakit demam berdarah.
6.
Riwayat
kehamilan :
v Pre-natal :
Tidak ada kelainan /penyakit pada ibu
saat hamil,usia kehamilan 9
bulan
v Natal :
Bayi lahir spontan dirumah sakit ditolong
oleh dokter, langsung menangis,tidak ada kebiruan BB= 2500 gram panjang ibu klien
lupa.
v Post-natal :
pertumbuhan dan perkembangan dalam batas
nor- mal,ASI diberikan sampai usia 6 bulan setelah itu diberikan susu buatan
dan makanan tambahan bubur nestle. Imunisasi lengkap tidak ada alergi terhadap
makanan ,klien agak sulit makan.
7.
Tumbuh
kembang Klien : membalik badan usia 4 bulan,duduk
usia 6 bulan,berdiri usia 10 bulan berjalan usia 1 tahun,mengoceh usia 6
bulan,berbicara usia 1,5 tahun. Saat ini BB= 16 kg, TB= 102 cm,LK=51 cm,LD= 72
cm, LLA= 16 cm, Usia 5 tahun.
8.
Psikososial
: Klien cengeng dan rewel tidak mau berpisah dengan ibu,keras hati semua
kemauan harus dituruti bila tidak akan me-nangis,setiap dilakukan prosedur
tindakan klien berontak bahkan merenggut/melepas sonde dan infus yg dipasang.
III.
PENGKAJIAN PERSISTEM
- Sistem
pernapasan : RR= 40 x/mnt;ada retraksi
otot bantu napas,gerakan dada simetris,suara napas vesikuler,terdapat
perdarahan hidung 2x tidak banyak,batuk,ronkhi -/+,wheezing -/-
- Sistem
kardiovaskuler : TD= 90/60 mmHg,nadi= 108
x/mnt,S1 dan S2 tunggal, murmur tidak terdengar, akral hangat,test RL + ,
> 20 % pada ekstrimitas atas kanan,edema tidak ada.
- Sistem
persarafan : kesadaran compos mentis,
Klien gelisah dan cengeng serta rewel, GCS= 456 total = 15.
- Sistem
perkemihan – eliminasi uri : BAK= 1 x
saat pengkajian ±
300 cc, warna coklat tua dan pekat.
- Sistem
pencernaan-Eliminasi alvi : Nafsu makan
tidak ada,menolak setiap kali disuruh/disuapi makan, mengeluh sakit
menelan, mukosa mulut kering, nyeri tekan pada ulu hati/perut bagian atas
mual dan muntah 1 x sedikit ±
30 cc hepatomegali 2 – 3 cm,bising usus 17 x/mnt,Umbilikus menonjol,BAB=
1x agak encer warna coklat tua,bau menusuk.
- Sistem
tulang-otot-integumen : Klien merintih badannya
sakit,badan panas,wajah kemerahan,pergerakan baik dapat menggerakan
ekstrimitas atas dan bawah sendiri tanpa bantuan,masih lemah.
- Sistem reproduksi
: saat ini klien berada pada fase oedipal/falik dimana klien dekat dengan
ibu dan kakak tertuanya,tidak mau mengalah dengan adiknya,vagina labia
mayora menutupi labia minora, infeksi pada saluran kemih menunggu hasil
laboratorium,klinis belum nampak.
IV.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium,tgl.
6 – 8 – 2001 Tgl.
7 – 8 - 2001
Hb :
14,8 g/dl
15,8 g/dl
Leukosit :
4,7 x 109/L
4,1 x 109/L
Trombosit :
108 x 109/L
155 x 109/L
Hematokrit :
0,44 %
Urine : sedimen :
Elektrolit :
Kalium= 3,85 meq/L Leucosit
: + 0 -1
Natrium= 132 meq/L epitel
: + 1 -2
Calsium= 110 meq/L
Eo/Baso/Batang/leg/lim
-/ -
/ 1 /
41 / 58
Radiologi,
tgl. 6 – 8 – 2001
Co :
Ukuran dan bentuk normal
Pulmo: Tak tampak infiltra,tak tampak kelainan
kedua sinus phrenicocostalis tajam.
V. Terapi/pengobatan :
V. Terapi/pengobatan :
Tgl.
6 – 8 – 2001 :
RLD5 48
cc/jam
Minum manis cukup
Vitamin BC/C
3 x 1 bungkus/hari
Antasida syrup 3 x 1 cth
Diit TKTP 1300 Kcal + 35 gram protein
Nasi 3 x
1/hari
Susu 3 x 200 cc
ANALISA DATA
|
KELOMPOK DATA
|
KEMUNGKINAN
PENYEBAB
|
MASALAH
|
|
Tgl. 6 – 8 - 2001
S: Klien mengatakan sakit perut bagian atas,juga saat
menelan
O: anak cengeng-berkeringat,gelisah nyeri tekan pada
epigastrium,TD=90/60 mmHg,Nadi= 108 x/mnt
|
Proses penyakitnya
¯
Infeksi dengue
¯
Nyeri
|
Nyeri
|
|
Tgl. 6 – 8 - 2001
S: Ibu mengeluh badan anak panas & tidak mau turun
O: Panas tinggi, ba-dan
teraba panas, wajah merah, Suhu= 39,20c
|
Proses penyakit
¯
Infeksi dengue
¯
Demam
|
Hiperthermia
|
|
Tgl. 6 – 8 - 2001
S: Ibu mengatakan anaknya berkeringat dingin.
O:Panas sejak 3 hari sebelum MRS kemu-dian mendadak tinggi disertai mimis-an dan muntah, warna
muntah kemerah-an,akral hangat,-Trombosit= 108 x 109/L,Hematokrit=
0,44 %
|
Proses penyakit
¯
Infeksi dengue
¯
Trombositopeni & vaskulitis
¯
Permiabilitas pembuluh
darah meningkat ® Perdarahan
|
Resiko tejadi syok hipovolemik
|
|
Tgl. 6 - 8 - 2001
S: Ibu mengatakan klien tidak mau makan dan minum bila
sedang sakit.
O:Klien rewel &
cengeng, nafsu makan menurun, menolak
setiap kali disu-ruh/disuap makan,-mengeluh sakit me-nelan,mukosa mulut
kering,Mual-muntah saat peng-kajian 1 x ± 30 cc
|
Nafsu ,akan menurun
¯
Nyeri menelan,Mual-muntah
¯
Asupan nutrisi inadekuat
|
Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan
|
|
Tgl. 8 – 8 - 2001
S: Ibu mengatakan
anaknya terlihat se-sak & napasnya cepat
O: Pernapasan cuping hidung,retraksi intercostalis
servikal-ronkhi -/+ kering ha-lus,RR= 64 x/mnt
|
Infeksi dengue
¯
Vaskulitis + Reaksi imunologik
¯
Permeabilitas vaskuler meningkat
¯
Kebocoran plasma
¯
Efusi serosa
Cairan menumpuk dirongga pleural pa-ru,terjadi
penurunan ekspansi paru
¯
sesak
|
Ketidak efektifan pola napas.
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko
terjadi syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan hebat/ekstravasasi.
2. Hipertermia
berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
3. Gangguan
rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan mekanisme patologis (proses penya-kit)
4. Gangguan
pemenuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual,muntah,anoreksia & sakit saat
menelan.
5. Ketidak
efektifan pola pernapasan berhubungan dengan penurunan ekspansi paru.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
|
NO & TGL
|
DIAGNOSA
|
TUJUAN & KRITERIA HASIL
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
1
6/8/01
|
Resiko terjadi syok hipovole-mik
berhubung-an dengan per-darahan hebat/ ekstravasasi.
|
Tidak terjadi syok hipovolemik.
Kriteria
hasil :
- Tanda-tanda vital dalam batas normal.
- Keadaan umum ba-ik.
|
1.
Monitor keadaan
umum,tanda-tanda vital & perdarahan tiap 2 – 3 jam.
2.
Jelaskan pada
keluarga ttg tanda-tanda perdarahan yg mungkin dialami klien,serta anjurkan
u/ segera melapor-kannya.
3.
Monitor
trombosit dan penurunan yg di sertai tanda kli-nis setiap hari.
4.
Mengantisipasi
tanda terjadinya perdarahan.
5.
Menganjurkan
klien u/banyak istirahat/Bedrest.
|
1. Memantau kondisi,perubahan TTV,serta
perdarahan sedini mungkin shg dpt sege-ra diatasi & klien tdk jatuh pada
keadaan presyok/syok.
2. Keterlibatan klg & klien sgt membantu
pe-nangan sedini mungkin serta diharapkan klien & klg lebih kooperatif.
3. Dengan trombosit yg terpantau setiap hari
dpt diketahui tingkat kebocoran pembu-luh darah & dpt menjadi acuan dalam
melakukan tindakan.
4. Mencegah tjdnya perdarahan lebih lanjut.
5. Aktivitas klien yg tdk terkontrol dpt
me-nyebabkan tjdnya perdarahan.
|
|
2
6/8/01
|
Hipertermia
ber-hubungandengan proses penyakit (viremia)
|
Hipertermia
menu-run/tidak terjadi lagi.
Kriteria
hasil :
-Suhu tubuh normal (360c –
370c).
-Pasien bebas de-mam kurang dari 7 hari
|
1.
Anjurkan klg u/
memberikan klien kompres dingin pd ketiak, kepala/dahi & lipat paha.
2.
Mengobservasi
TTV tiap 3 jam lebih sering.
3.
Menjelaskan ttg
penyebab peni-ngkatan suhu tubuh pada
klg.
4.
Anjurkan klien
u/ banyak minum terutama yg manis-manis ± 1 – 2 liter/24 jam.
5.
Berikan terapi
cairan & pengobatan sesuai program
|
1. Kompres dingin diharapkan membantu menurunkan suhu
tubuh
2. TTV merupakan acuan u/ mengetahui KU klien .
3. Keterlibatan klg sgt berarti dlm proses ke sembuhan
klien
4. Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat shg perlu diimbangi dengan asupan cairan yg ba-nyak
5. Pemberian terapi cairan sgt penting bagi klien dng
peningkatan suhu tubuhn yg tinggi
|
|
3
6/8/01
|
Gangguan rasa nya-man : Nyeri berhu-bungan dengan
me-kanisme patologis (proses penyakit).
|
Nyeri
berkurang dlm waktu 4 x 24 jam.
Kriteria
hasil :
-
Klien tdk lagi
me-ngeluh kesakitan.
-
Klien rileks
& te-nang, tidur 8 – 10 jam.
|
1.
Berikan terapi
pengobatan sesuai program.
2.
Kaji tingkat
nyeri yg dialami klien dengan skala 0 – 10,intensitas,respon klien dan
lamanya serta lokasi nyeri
3.
Berikan suasana
gembira, alihkan perhatian klien deng-an melihat buku/majalah anak-anak.
4.
Berikan
kesempatan pd. Klien u/ berkomunikasi dng org terdekat
|
1.
Obat analgesik dpt menghentikan nyeri dng segera.
2.
U/ mengetahui seberapa berat keluhan klien & efek terapi yg di
berikan sebe-lumnya.
3.
Dng memberikan aktivitas lain klien dpt melupakan sakit/nyeri yg
dialaminya.
4.
Dpt berhubungan dng org yg terdekat bisa membuat klien merasa aman,
gembira & bahagia shg dpt melupakan sakit/ nyeri yg dialaminya.
|
|
4
6/8/01
|
Gangguan peme-nuhan kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan de-ngan mual, mun-tah,anoreksia
& sakit saat mene-lan.
|
Nutrisi
terpenuhi dlm 4 X 24 jam
Kriteria
hasil :
-Nafsu makan kx. meningkat, diit di
habiskan.
-Kx.tdk
lemah.
|
1. Pasang sonde u/ memberikan nutrisi parenteral.
2. Bujuk klien agar mau makan & minum.
3. Kaji keluhan mual,muntah, sakit saat menelan.
4. Berikan makanan yg mudah ditelan seperti bubur,tim
dan susu.
5. Memberikan makan porsi kecil dan sering.
|
1. Nutrisi parenteral sgt bermanfaat/dibu- tuhkan klien
ter utama jika intake per-oralnya sgt kurang.
2. Akan sgt membantu bila klien mau ma-kan/minum tanpa
menggunakan sonde.
3. U/menetapkan cara mengatasi kebutuhan nutrisi.
4. Membantu mengurangi kelelahan klien & membantu
meningkatkan asupan maka-nan.
5. U/menghindari mual & muntah.
|
|
5
8/8/01
|
Ketidak efektifan pola pernapasan berhubungan de-ngan penurunan
ekspansi paru.
|
Pola
napas efek-tif dalam 2 X 24 jam.
Kriteria
hasil :
- Kx.memperlihat- kan frekuensi
perna-pasan yg efektip & mengalami pertuka-ran gas pada paru.
- Diketahuinya fak-tor penyebab
keti-dakefektifan pola napas.
|
1.
Berikan O2
2 – 4 liter/mnt.
2.
Obsevasi
terhadap pernapasan cuping hidung, retraksi atau sianosis.
3.
Tetap bersama
klien & latih u/ bernapas perlahan-lahan berna pas lebih efektif.
4.
Lakukan
pemeriksaan GDA & lainnya.
5.
Berikan terapi
sesuai program.
|
1. Oksigen yg diberikan sebagai maintenan-ce sebelum
penyebab sesak napas diketa-hui scr pasti.
2. U/mengetahui sedini mungkin adanya sesak napas shg
dpt dilakukan tin-dak secepat mungkin
3. Memberikan rasa aman kepada klg & klien serta
mengajarkan klien untuk ber-napas scr efektif.
4. U/mengetahui penyebab sesak napas shg dpt dilakukan
tindakan yg tepat.
5. Terapi pengobatan diperlukan/diindi-kasikan bila
terjadi bronko spasme.
|
TINDAKAN KEPERAWATAN DAN EVALUASI
|
DIAGNOSA
|
TGL/JAM
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
|
1
|
7/8/01
07. 15
07.45
08.55
09.05
09.15
|
v Mengobsevasi
TTV : suhu= 38,50c, TD=
90/70 mmHg,Nadi = 100 x/mnt,-RR= 44 x/mnt
v Meraba
ekstrimitas klien sambil mejelas-kan tanda-tanda per-darahan & tindak yg
harus dilakukan pd ibu klien.
v Mengambil
specimen da-rahu/pemeriksaan:
DL, trombosit,hema-tokrit elektrolit. Mene-kan luka bekas tusu
-kan ±
5 – 10 mnt.
v Menganjurkan
ibu kli-en u/menjaga keber- sihan mulut klien
dng menggunakan sikat gi-gi lunak
v Menganjurkan
klien u/ istirahat/bedrest ma-kan,minum,BAB/BAK dibantu.
|
S: Ibu mengatakan kondisi anaknya masih lemah.
O: Mimisan tdk lagi,Trombosit = 155.000,Nadi= 102 x/mnt;
TD= 100/70 mmHg,RR =44 x/mnt, akral hangat.
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan
ren-cana intervesi 1,3, 4
|
|
2
|
7/8/01
07.30
07.35
07.55
08.00
10.05
|
v Memberikan
kompres dingin pada dahi,axilla & lipat paha.
v Memberikan
paraceta-mol 160 mg (puyer)
v Menganjurkan ibu klien u/ banyak min-um terutama yg
manis manis.
v Memberikan
penjelas an pd ibu klien penye-bab
panas yg tdk sege ra turun
v Mengoff
infus karena sudah dipasang sonde.
|
S: Ibu klien menga takan tubuh anak nya panas sudah turun.
O: Suhu= 37,20c, mukosa mulut ke-ring,klien
kehaus-an.
A: Masalah belum teratasi seluruhnya
P: Terukan renca-na intervensi 1,2,4 5
|
|
3
|
7/8/01
08.20
08.25
09.20
|
v Memberikan
penjelas-an pada ibu ttg penye-bab
nyeri
v Memberikan
antasida 1 cth
v Mengalihkan
perhati-an klien dng melihat gambar buku cerita dan mengajak bicara.
|
S: Klien masih merintih kesakitan & tdk bisa tidur.
O: Klien gelisah,cengeng,nyeri tekan epigastrium.
A: Masalah belum teratasi
P Teruskan rencana intervensi 1,2,3,4.
|
|
4
|
08.10
08.45
08.50
09.10
13.45
|
v Membantu
memasang sonde lambung
v Memberikan
bubur 100 cc
v Membujuk
klien agar mau makan & minum
v Menimbang
BB= 16 Kg
v Meng-observasi
TTV : Suhu=37,20c,TD=100/70
mmHg,Nadi= 102 x/mnt, perdarahan ti-dak ada,akral,hangat, muntah 1 x sedikit
|
S: Ibu klien mengatakan bila sakit klien memang sulit
makan
O: Diit diberikan tiap 2 jam,makan peroral belum mau
BB=6 kg,muntah 1x sedikit
A: Masalah belum teratasi selu-ruhnya
P: Teruskan rencana intervensi 1,2,4
|
|
1
|
8/8/01
07.10
08.05
09.35
|
v Mengobservasi
TTV :
Suhu : 390c, TD=
110/70 mmHg,Nadi= 124 x/mnt, RR= 44 x/mnt,perdarahan ti-dak ada,akral hangat.
v Mengambil
specimen urine u/ periksaan UL & kultur
v Menjelaskan
prosedur pemeriksaan radiologi thorak foto
|
S: -
O: Perdarah tdk ada,akral hangat, TD= 110/70 mm-Hg,Nadi=
132 x/ mnt,RR=64 x/mnt pernapasan cu-ping hidung,retraksi intercostalis
servical
A: Masalah teratasi sebagian timbul masalah pola napas.
P: Teruskan renca na intervensi
|
|
2
|
8/8/01
07.20
07.30
08.00
|
v Memberikan
kompres dingin.
v Mengingat
ibu mem-berikan klien minum yg manis bila tdk mau air putih
v Memberikan
puyer pa-racetamol 160 mg.
|
S: Ibu mengatakan badan anaknya ma sih panas
O:Suhu= 380c,mukosa mulut ke-ring, badan panas
A: Masalah belum teratasi seluruhnya
|
|
3
|
8/8/01
08.15
08.45
08.20
|
v Mengalihkan
perhati-an klien terhadap nyeri dng mengajak melihat gambar di buku cerita.
v Mengkaji
tingkat nyeri klien dng skala 4, mun cul kadang ± 2 – 3 me nit diperut bagian
atas /epigastrium.
v Menganjurkan
ibu sela lu berada dekat dng klien
|
S: Klien masih merintih kesakitan & memegang perut
bagian atas.
O: Klien masih cengeng,gelisah,-nyeri tekan epigastrium.
A: Masalah belum teratasi selu-ruhnya.
P: Teruskan rencana interrvensi 1,2,3
|
|
4
|
8/8/01
07.40
07.55
08.30
09.18
|
v Memberikan
susu per-sonde 100 cc.
v Menanyakan
apakah klien masih mual mun tah & sakit menelan.
v Menanyakan
apakah klien masih tdk mau makan & minum ? masih tdk mau.
v Membujuk
klien u/ makan & minum yg manis serta mendo-rong ibu u/ terus men-cobanya.
|
S: Ibu klien mengatakan klien be lum mau makan tapi diit
personde dihabiskan/diberikan.
O: Diit diberikan tiap 2 jam, habis masih menolak bila
diberikan makan/minumperoral,mukosa mu-lut kering,mual ada,muntah tdk ada.
A: Masalah teratasi sebagian
P: Tetap teruskan rencana inter-vensi 1,2,3,4.
|
|
5
|
8/8/01
09.55
10.10
10.20
13.30
|
v Memberikan
O2 2 liter/mnt
v Menganjurkan
klien u/bernapas scr perla-han-lahan
v Terus
mengobservasi adanya pernapasan cu-ping hidung,retraksi dada & sianosis
v Mengobservasi
TTV : Suhu= 380c,TD= 110/ 70 mmHg,Nadi=132 x/mnt,akral
hangat,-perdarahan tdk ada.
|
S: Ibu mengatakan anaknya masih terlihat sesak.
O:RR= 64 x/mnt,Nadi= 132 x/mnt pernapasan cuping
hidung,retraksi intercostalis servikal.
A: Masalah belum teratasi
P: Teruskan rencana intervensi 1 s/d 5
|
|
1
|
9/9/01
07.15
09.20
08.15
|
v Mengobservasi
TTV :
Suhu : 370c, TD=
110/70 mmHg,Nadi= 124 x/mnt, RR= 56 x/mnt,perdarahan tidak ada,akral hangat.
v Mengambil
specimen darah u/ periksaan DL, widal &
gaal kultur
v Menjelaskan
penyebab terjadinya sesak napas pada klien.
|
S: -
O: Perdarahan tdk ada,muntah tdk ada, akral
hangat,keringat dingin, TD= 110/70 mmHg,Nadi= 128 x/ mnt,RR= 48 x/mnt.
A: Masalah teratasi
P: Tetap teruskan rencana inter-vensi,klien tetap perlu
observasi ketat.
|
|
2
|
9/9/01
07.30
08.00
08.40
|
v Mengingat
ibu mem-berikan klien minum yg manis bila tdk mau air putih
v Menganti
pakaian,alas tempat tidur klien yg
basah o/ keringat.
v Mengingatkan
ibu ag-ar tetap memperhati-kan peningkatan suhu tubuh anaknya
|
S: Ibu mengatakan suhu tubuh anak normal.
O: Suhu=36,80c,badan hangat,keri ngatan,demam
hari ke 8.
A: Masalah belum teratasi semua
P: Tetap teruskan rencana inter-vensi
|
|
3
|
9/9/01
08.25
09.30
10.20
11.15
|
v Mengalihkan
perhati-an klien terhadap nyeri dng mengajak melihat gambar di buku cerita.
v Mengkaji
tingkat nyeri klien dng skala 4, mun cul kadang ± 2 – 3 me nit diperut bagian
atas /epigastrium.
v Menganjurkan
ibu sela lu berada dekat dng kli en bila pergi hendak-nya dititipkan.
v Memberikan
sirop an-tasida 1 cth
|
S: Klien tdk mengeluh kesakitan
O: Klien diam,cengeng kurang, nyeri tekan epigastrium tdk
ada
A: Masalah teratasi
P: Rencana intervensi tdk lanjut-kan tetapi tetap awasi
& per-hatikan keluhan klien
|
|
4
|
9/9/01
11.30
11.45
12.10
12.40
|
v Memberikan
susu per-sonde 100 cc.
v Menanyakan
apakah klien masih mual mun tah & sakit menelan.
v Menanyakan
apakah klien masih tdk
mau makan & minum ? masih tdk mau.
v Membujuk klien u/ makan & minum yg manis
|
S; Ibu mengatakan anak masih belum mau makan minum,lewat
sonde diberikan.
O: Diit sonde habis,makan/minim peroral masih tdk
mau/menolak,-mual-muntah tdk ada.
A: Masalah teratasi sebagian
P: Tetap teruskan rencana inter-vensi
|
|
5
|
9/9/01
08.10
09.35
12.55
13.20
|
v Memberikan
O2 2 liter/mnt
v Menganjurkan
klien u/bernapas scr perla-han-lahan
v Terus
mengobservasi adanya pernapasan cu-ping hidung,retraksi dada & sianosis
v Mengobservasi
TTV : Suhu= 380c,TD= 110/ 70 mmHg,Nadi=132 x/mnt,RR= 54 x/mnt
akral hangat,perdarah-an tdk ada
|
S: Ibu mengatakan anaknya masih terlihat sesak.
O:RR= 54 x/mnt,Nadi= 132 x/mnt pernapasan cuping
hidung,retraksi intercostalis servikal.
A: Masalah belum teratasi
P: Teruskan rencana intervensi 1 s/d 5
|
|
2
|
10/8/01
07.20
07.55
08.00
08.15
|
v Mengingat
ibu mem-berikan klien minum yg manis bila tdk mau air putih.
v Mengobservasi
TTV : suhu: 370c,TD= 100/ 70 mmHg,Nadi= 120 x/mnt,RR=48 x/mnt.
Akral hangat,perdara han tdk ada
v Menganti
pakaian,alas tempat tidur klien yg
basah o/ keringat.
v Mengingatkan
ibu ag-ar tetap memperhati-kan peningkatan suhu tubuh anaknya
|
S: Ibu mengatakan suhu tubuh anak normal.
O: Suhu=36,40c,badan hangat,keri ngatan,demam
hari ke 9.
A: Masalah teratasi
P: Tetap teruskan rencana inter-vensi 4 & 5 walaupun
masalah su-dah teratasi.
|
|
4
|
10/8/01
08.20
08.45
09.50
10.45
|
v Memberikan
susu per-sonde 200 cc.
v Menanyakan
apakah klien masih mual mun tah & sakit menelan.
v Menanyakan
apakah klien masih tdk
mau makan & minum ? mau sedikit.
v Membujuk
klien u/ makan & minum yg manis
|
S; Ibu mengatakan anak masih belum mau makan minum,lewat
sonde diberikan.
O: Diit sonde habis,makan/minim peroral masih tdk
mau/menolak,-mual-muntah tdk ada.
A: Masalah teratasi sebagian
P: Tetap teruskan rencana inter-vensi
|
|
5
|
10/8/01
09.00
09.10
11.30
13.20
|
v Memberikan
O2 2 liter/mnt K/P
v Menganjurkan
klien u/bernapas scr perla-han-lahan
v Terus
mengobservasi adanya pernapasan cu-ping hidung,retraksi dada & sianosis
v Mengobservasi
TTV : Suhu= 36,40c,TD= 110/ 70 mmHg, Nadi= 132 x/mnt,RR= 54 x/mnt
akral hangat,per darahan tdk ada
|
S: Ibu mengatakan anaknya masih terlihat sesak.
O:RR= 44 x/mnt,Nadi= 120 x/mnt pernapasan cuping hidung
tdk tam pak,retraksi intercostalis servikal.
A: Masalah belum teratasi
P: Teruskan rencana intervensi 1 s/d 5
|
EVALUASI AKHIR
Diagnosa keperawatan No.1,2 dan 3 teratasi walau masih perlu
observasi karena ada komplikasi Bronkho pneumoni dan efusi pleural,klien masih
dirawat
No comments:
Post a Comment