Juniartha Semara Putra
ASKEP DECOMPENSASI
CORDIS
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Penyakit Decompensasi Cordis adalah suatu keadaan
dimana jantung tidak mampu memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan
sirkulasi tubuh untuk keperluan metabolisme jaringan, penyakit ini merupakan
salah satu penyakit jantung yang banyak terjadi di masyarakat dan waktu ini
terus digalakkan pencegahannya. Penyakit ini dapat menyerang pada usia muda
maupun pada usia lansia.
Penyakit Decompensasi Cordis terjadi kerena adanya kebiasaan yang
kurang baik di masyarakat misalnya merokok, minum-minuman keras, kurang olah
raga, mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kolesterol.
Kita harus menyadari akan perlunya perawatan penyakit Decompensasi
Cordis karena kecenderungan untuk kambuh sangat besar. Di samping itu pada
pasien Decompensasi Cordis bila tidak mendapatkan perawatan yang cepat dan
tepat maka akan membahayakan jiwa pasien.
Sebagai perawat hendaknya terus meningkatkan ilmu agar di dalam merawat
pasien Decompensasi Cordis dapat memberikan pelayanan pada masyarakat khususnya
keluarga sesuai dengan profesi keperawatan sehingga terwujud peningkatan
kesehatan masyarakat seoptimal mungkin.
I.2 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari asuhan
keperawatan ini adalah sebagai berikut :
- Tujuan Umum
Setelah memberikan asuhan keperawatan pada pasien
Decompensasi Cordis maka mahasiswa keperawatan diharapkan mampu
mendokumentasikan asuhan keperawatan yang diberikan secara sistematis.
- Tujuan Khusus
Setelah memberikan asuhan keperawatan pada pasien
Decompensasi Cordis diharapkan mampu untuk :
- Menyusun konsep dasar keperawatan pada pasien Decompensasi Cordis.
- Memberikan asuhan keperawatan pada pasien Decompensasi Cordis melalui proses keperawatan.
- Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan secara sistematis.
I.3 BATASAN MASALAH
Banyak masalah yang dapat muncul pada pasien dengan
Decompensasi Cordis, namun pada kesempatan ini Kami hanya membatasi
permasalahan yang muncul pada kasus tang Kami kaji. Adapun permasalahan yang
timbul tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Gangguan pemenuhan istirahat tidur berhubungan dengan
sesak.
2.
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan
intake makanan yang tidak adekuat.
BAB II
LANDASAN TEORI
II.1
DEFINISI
Decompensasi Cordis adalah suatu keadaan dimana
jantung tidak dapat menunaikan tugasnya untuk mensuplay darah ke seluruh tubuh
dalam memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan meskipun tekanan pengisian
jantung sudah adekuat.
II.2
PATOFISIOLOGI
Decompensasi Cordis kiri terjadi karena gangguan
pemompaan darah oleh ventrikel kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan
akibat tekanan pada akhir diastolik dalam ventrikel kiri meningkat. Hal ini
menjadi beban atrium kiri dalam kerjanya mengisi ventrikel kiri saat diastolik,
akibatnya terjadi kenaikan rata-rata dalam atrium kiri. Tekanan atrium kiri
yang meninggi menyebabkan hambatan pada aliran masuknya darah dari vena-vena
pulmonal. Bila terus bertambah akan merangsang ventrikel kanan untuk
berkompensasi dengan melakukan hipertrofi dan dilatasi sampai batas kemampuan,
bila beban tetap tinggi dimana suatu saat tak teratasi lagi terjadilah gagal
jantung kanan sehingga pada akhirnya terjadilah gagal jantung kiri dan kanan.
Decompensasi Cordis kanan terjadi karena hambatan
pada daya pompa ventrikel kanan sehingga isi sekuncupnya menurun tnpa didahului
adanya gagal jantung kiri. Akibat tekanan dan volume akhir diastolik ventrikel
kanan akan meningkat dan menjadi beban bagi atrium dalam mengisi ventrikel
kanan saat diastolik yang berakibat naiknya tekanan atrium kanan dan dapat menyebabkan
hambatan pada aliran masuk darah dari vena kava superior adan inferior ke
jantung pada akhirnya menyebabkan bendungan pada vena – vena tersebut ( vena jugularrs dan vena porta ) bial
berlanjut terus maka terjadi bendungan sitemik yang lebih berat dengan
timbulnya udem tumit dan tungkai bawah serta asites.
Decompensasi Cordis Congestif terjadi bila gangguan
jantung kiri dan kanan terjadi bersamaan dengan ditandai adanya bendunganb paru
dan bendungan sistemik pada saat yang sama.
II.3
ETIOLOGI
Dekompensasi
Cordis ada 3 macam maka etiologinya terbagi atas :
1.
Decompensasi Cordis Kiri
a.
Kelainan pada kardinal
1.
Hipertensi arterial
2.
Artero sklerosis dari arteri koronaria
3.
Aorta insufisiensi
4.
Mitral stenosis
b.
Kelainan eksternal kardinal
1.
Penyakit beri – beri
2.
Anemia yang berat
3.
Penyakit pa ncarditis
4.
Basedow
2.
Decompensasi Cordis Kanan
a.
Penyakit paru yang kronik
1.
Empisema paru
2.
TBC Paru
3.
Kiste paru
4.
Asma bronchiale
b.
Perikarditis kontrictive sbg akigat dari radang selaput
jantung sebelah luar
c.
Penyakit jantung bawaan
1.ASD ( Atrial Septal Devec )
2. VSD ( V entrikel Septal Devec )
3.
Decompensasi Cordis Congestif
Disebabkan
oleh Decompensasi Cordis kanan dan kiri yang terjadi secara bersama-sama yang
ditandai : a) bendungan paru ; dan b) bendungan sistemik pada waktu bersamaan.
Sedangkan faktor pencetus dari Decompensasi Cordis adalah terjadinya infark
jantung yang berulang, hipertensi yang tidak terkontrol, kehamilan atau
persalinan, stress fisik dan emosional, takikardi, infeksi, anemia, kelainan tiroid,
penyakit paget’s, defisiensi nutrisi ( beri-beri ), penyakit pulmonal,
hipervolemi. Dalam menangani adanya penyakit ini sangat penting untuk mencari
kemungkinan adanya suatu faktor pencetus yang menumpang.
II.4 GEJALA
1.
Decompensasi Cordis Kiri
a.
Badan lemah, cepat merasa lelah, palpitasi, sesak,
batuk, anoreksia, keluar keringat dingin.
b.
Tanda-tanda objektif :
-
Dyspneu d’effort : sesak saat aktivitas.
-
Ortopneu : sesak saat istirahat.
-
Pulsus alternans : denyut nadi tak teratur.
-
Ronchi basah kasar di basal paru.
2.
Decompensasi Cordis Kanan
a.
Udema tumit dan tungkai bawah
b.
Asites
c.
Bendungan pada vena jugularis
d.
Hepatomegali
e.
Tanda lain :
-
Disritmia
-
Penurunan bunyi nafas
-
Hipersonor pada perkusi
-
Peningkatan diameter dada anterior posterior
-
Imobilitas diafragma rendah.
3.
Decompensasi Cordis Congestif
Gejalanya
merupakan gabungan Dekompensasi Cordis kiri dan kanan
II.5
PENENTUAN DIAGNOSA
1.
Anamnesa
Cara untuk
mendapatkan data-data klinis penyakit Decompensasi Cordis baik secara auto atau
hetero anamnese.
a.
Riwayat penyakit dahulu
b.
Riwayat penyakit sekarang
c.
Riwayat penyakit keluarga.
2.
Pemeriksaan Fisik
a.
Inspeksi
Pada
stadium ringan sesak muncul saat aktivitas berat dan hilang dengan istirahat.
Stadium dua masih mampu melakukan pekerjaan ringan ( sehari-hari ) bila lebih
akan timbul sesak. Stadium tiga kerja ringan timbul sesak. Stadium empat
istirahat timbul sesak, bahkan dapat terjadi sianosis pada bibir dan kuku,
udema kedua tungkai, ikterus.
b.
Palpasi
Dilakukan
palpasi nadi, pada keadaan yang lebih berat dari penyakit ini tekanan denyut
nadi dapat menghilang. Menandakan adanya pengurangan stroke volume. Kadang
tekanan diastolik arteri meningkat akibat vasokontriksi.
c.
Auskultasi
Ronchi
basah di daerah basal paru. Adanya pulsus alternans dimana nadi berdenyut
secara berganti-ganti : denyut besar – kecil – besar dst secara berirama,
terdengar tiga bunyi jantung : sebuah saat sistole dan dua buah saat diastole.
Pada kondisi yang berat irama gallop akan terdengar di seluruh prekordium. Pada
kondisi sedang gallop akan paling baik terdengar : a). Daerah apex dan
sekitarnya ; b). Ruang interkoste 4 – 5.
3.
Pemeriksaan Laboratorium
a.
Decompensasi Cordis Kiri
Analisa
gas darah arteri menunjukkan adanya hiposemia.
b.
Decompensasi Cordis Kanan
Kelainan
fungsi hati ( peningkatan transaminase, peningkatan bilirubin, pemanjangan
waktu protrombin ). Sering ditemukan hiponatremia dengan kandungan natrium urin
yang rendah, suatu peningkatan nitrogen urea darah dan mencerminkan penurunan
perfusi ginjal.
4.
Pemeriksaan Rontgen
Pada
Decompensasi Cordis Kiri Foto rontgen menunjukkan kelainan yaitu : Billi
membesar ( lekukan pada permukaan mediastinum paru dimana bronkus dan pembuluh
darah serta saraf membesar di paru terlihat bayangan lebih banyak dari
biasanya, terlihat jantung yang membesar ). Foto thorax memperlihstksn pembuluh
lobus atas yang mencolok ( reversi dari aliran ) garis keriey, pola “ kupu-kupu
“ klasik dari edema alveolar atau efusi pleura.
5.
ECG
Pada
pemeriksaan ECG Decompensasi Cordis kanan dan kiri tak mempunyai kelainan yang
khas tapi didapatkan hipertrofi atrium fibrilasi, atrium dalam kombinasi dengan gelombang
fibrilasi yang besar pada lead precordial anterior (UI ) menunjukkan adanya
penyakit katup mitral dengan pembesaran atrium kiri.
II.6
PENATALAKSANAAN
1.
Istirahat
Istirahat
disini meliputi istirahat jasmani dan rohani yang fungsinya untuk meringankan
kerja jantung sehingga denyut jantung akan menurun.
2.
Diet
a.
Makanan yang mudah dicerna
b.
Makanan rendah garam
c.
Pada stadium empat cairan dibatasi
d.
Kopi dan teh dibatasi
3.
Pemberian Obat – obatan
Misalnya :
a.
Digitalis : untuk memprkuat kontraksi jantung
b.
Diuretik : mengadakan supresi
c.
Aminophylin : diberikan bila disrtai hipotensi
d.
Morphin : untuk mengurangi sesak nafas pada asma
kardial dan udem paru.
II.7
KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin
muncul :
1.
Ronchi pulmuner basal
2.
Udema kardial
3.
Hidrothorak
4.
Asites
5.
Hepatomegali kongestif
6.
Kakheksia jantung.
BAB III
STUDI KASUS
III.1
PENGKAJIAN
Tanggal : 6
Oktober 2004
A. Data
Pribadi Klien
1.
Nama
: Tn. Nuruddin
2.
Umur : 50 thn
3.
Jenis kelamin
: Laki-laki
4.
Pendidikan
: SMU
5.
Agama
: Islam
6.
Alamat
: Jln. Kusuma Bangsa No. 02 Kanigoro, Blitar.
7.
Pekerjaan
: Wiraswasta
B. Diagnosa
dan Informasi Medik
1.
Diagnosa Medik :
Decompensasi Cordis Congestif
2.
Riwayat penyakit yang pernah diderita :
Hipertensi
C. Data
Keperawatan
1.
Riwayat penyakit sekarang
Klien
mengatakan sekitar 6 bulan yang lalu merasakan sesak, biasanya sesak muncul
bila klien terlalu lelah dan berkurang setelah klien minum obat dari puskesmas,
dan terakhir sesak muncul tiba-tiba yang sangat berat kemudian oleh pihak
keluarga klien langsung dibawa ke RS.
2.
Riwayat penyakit keluarga
Dalam
keluarga tidak ada yang menderita penyakit ini atau menderita penyakit
keturunan yang lain.
3.
Anamnese diperoleh dari :
Klien dan
keluarganya.
D. Keluhan
Yang Dirasakan Klien
1.
Gangguan istirahat tidur
Istirahat
klien terganggu karena sesak yang muncul di saat klien istirahat.
2.
Sakit pinggang
Klien
merasakan nyeri pinggang waktu berbaring atau tidur terlentang.
3.
Nafsu makan
Selama
sakit nafsu makan klien mengalami penurunan karena mulut terasa pahit.
4.
Macam dietnya
Diet klien
adalah lunak, rendah garam, cukup kalori, dan mengurangi bumbu-bumbu yang
merangsang.
E. Pemeriksaan Fisik
1.
Keadaan umum : lemah
a.
Berat badan
: - Sebelum sakit 68 kg.
- Selama sakit
58 kg.
b.
Tinggi badan :
165 cm.
2.
Tanda-tanda vital
a.
Tekanan darah : 130/90 mmHg
b.
Nadi
: 100 x / menit
c.
Suhu
: 36,3 C
d.
Pernapasan :
24 x / menit
3.
Kesadaran :
Compos Mentis ( GCS : 456 )
4.
Kepala
a.
Rambut
Rambut dan
kulit kepala bersih, tidak rontok.
b.
Tempurung kepala
Bulat
c.
Mata
Konjungtifa
tidak pucat, sklera tidak ikterus.
d.
Hidung
Tak ada
kelainan bentuk, tidak ada polip, tidak keluar ingus, fungsi normal.
e.
Telinga
Fungsi
normal, tidak ada kelainan bentuk, tidak ada penumpukan serumen ( bersih ).
f.
Gigi dan mulut
Gigi ada
yang tanggal, caries ( + ), mulut bersih, bibir tidak sianosis.
5.
Leher
Tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada benjolan atau pembesaran pembuluh
darah vena jugularis.
6.
Dada
a.
Bentuk dada simetris.
b.
Dada tidak ada kelainan.
c.
Auskultasi pada dada, whizing ( - ).
d.
Irama jantung teratur dan cepat.
e.
Gerakan dada waktu bernafas agak cepat.
7.
Perut
a.
Bentuk perut simetris.
b.
Palpasi pada perut, kembung ( - ), tegang ( + ).
c.
Auskultasi pada perut, bising usus ( + ).
8.
Punggung
a.
Tidak ada luka, lecet ataupun memar.
b.
Punggung tidak ada kelainan.
9.
Anggota gerak
Atas : a.
Ujungkuku tidak sianosis
b.
Anggota gerak tak terasa dingin.
c. Dapat digerakkan sesuai dengan ROM.
Bawah : a. Ujung kuku tidak
sianosis.
b. Anggota gerak tak
terasa dingin.
c.
Dapat digerakkan sesuai dengan ROM.
10. Kulit
a.
Turgor kulit :
baik.
b.
Turgor otot :
baik.
F. Pola
Kebiasaan Sehari-hari Di Rumah
1.
Pola istirahat tidur
Klien dapat
memenuhi kebutuhan tidurnya pada :
Siang
hari : 2 jam ( 12.00 – 14.00 WIB )
Malam hari :
4 jam ( 24.00 – 04.00 WIB )
2.
Pola latihan / olah raga / aktivitas
Di rumah
klien bebas melakukan aktivitas gerak badan, misalnya jalan-jalan pagi sambil
menghirup udara segar.
3.
Pola nutrisi
Klien
mengalami penurunan nafsu makan karena mulutnya terasa pahit dan klien tidak
suka dengan diet yang dianjurkan.
4.
Personal Hygiene
Klien mandi
2x sehari pagi dan sore, dan menggosok gigi 2 x sehari sewaktu mandi. Ganti
pakaian 2 x sehari setelah mandi.
G. Data
Psikososial
1.
Pola komunikasi
a.
Penilaian non verbal
Klien ramah,
muka tampak lesu.
b.
Penilaian verbal
Klien
mengatakan dengan baik dan lancar setiap kali pertanyaan diajukan dan jawaban
sesuai dengan pertanyaan.
2.
Penanggulangan terhadap masalah
Setiap kali
ada masalah tentang sakitnya, klien mengkomunikasikan kepada keluarganya.
3.
Orang yang dapat membantu rasa nyaman
Orang yang
membantu rasa nyaman klien adalah anak dan istrinya.
4.
Kebudayaan / kebiasaan
Klien patuh
terhadap aturan-aturan yang ditetapkan oleh dokter dan klien tidak mempunyai
kebiasaan merokok.
5.
Rekreasi
Kebutuhan
rekreasi terpenuhi dengan jalan-jalan pagi ke sawah.
6.
Permasalahan hubungan dengan lingkungan sosial
Di rumah klien tidak ada masalah dengan
lingkungan sosial. Dengan tetangga pasien ramah dan rukun.
H. Data
Spiritual
1.
Ketaatan beribadah
Selama sakit
klien tetap taan beribadah.
2.
Keyakinan terhadap sembuh
Klien yakin
akan sembuh penyakitnya dengan berobat ke RS dan menyerahkan semuanya kepada
Tuhan.
No comments:
Post a Comment