Juniartha Semara Putra
LAPORAN
PENDAHULUAN DEPRESI
I
MASALAH UTAMA
Gangguan alam perasaan: depresi.
I
PROSES TERJADINYA MASALAH
Depresi adalah suatu jenis
alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah,
murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia,
konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit
menurun.
Depresi disebabkan oleh
banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi,
faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor
neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan
sebagainya.
Depresi biasanya dicetuskan
oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan, persalinan
dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga
diri dan akibat kerja keras.
Depresi merupakan reaksi
yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor
pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor
pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan
tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat
dimengerti oleh orang lain.
I
A. POHON MASALAH
|
Resiko mencederai diri
|
Akibat
|
Gangguan alam perasaan: depresi
|
Core problem
|
Koping maladaptive
|
Penyebab
B
MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
1
Gangguan alam
perasaan: depresi
a
Data subyektif:
Tidak
mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan
somatik. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada
tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri.
a
Data obyektif:
Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang
melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat
dengan langkah yang diseret.Kadang‑kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak
malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering menangis.Proses
berpikir terlambat, seolah‑olah pikirannya kosong, konsentrasi terganggu,
tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada
pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk
akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi.Kadang‑kadang
pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung
(irritable) dan tidak suka diganggu.
1
Koping maladaptif
a
DS : menyatakan putus asa dan tak
berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.
b
DO : nampak sedih, mudah marah,
gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.
IV
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1
Resiko mencederai
diri berhubungan dengan depresi.
2
Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping maladaptif.
IV
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
a
Tujuan umum: Klien
tidak mencederai diri.
b
Tujuan khusus
1
Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
1.1
Perkenalkan diri dengan klien
1.2 Lakukan interaksi dengan
pasien sesering mungkin dengan sikap empati
1.3
Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih
banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya:
memberikan sentuhan, anggukan.
1.4
Perhatikan pembicaraan
pasien serta beri respons sesuai dengan keinginannya
1.5 Bicara dengan nada suara yang
rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti
1.6 Terima pasien apa adanya
tanpa membandingkan dengan orang lain.
1
Klien dapat menggunakan koping adaptif
2.1.Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan
mengatakan bahwa perawat memahami apa yang
dirasakan pasien.
2.2.Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi
perasaan sedih/menyakitkan
2.3.Diskusikan dengan pasien
manfaat dari koping yang biasa digunakan
2.4.Bersama pasien mencari
berbagai alternatif koping.
2.5.Beri dorongan kepada pasien
untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima
2.6.Beri dorongan kepada pasien
untuk mencoba koping yang telah dipilih
2.7. Anjurkan
pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.
1
Klien terlindung dari
perilaku mencederai diri
Tindakan:
3.1. Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri
sendiri.
3.2.Jauhkan dan simpan alat‑alat yang dapat digunakan olch pasien
untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan terkunci.
3.3.Jauhkan bahan alat yang
membahayakan pasien.
3.4.Awasi dan tempatkan pasien di
ruang yang mudah dipantau oleh peramat/petugas.
4. Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
4.1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
4.2. Kaji dan kerahkan sumber‑sumber internal
individu.
4.3. Bantu mengidentifikasi sumber‑sumber
harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal‑hal untuk diselesaikan).
5. Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:
5.1. Kaji dan
manfaatkan sumber‑sumber ekstemal individu (orang‑orang terdekat, tim pelayanan
kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).
5.2. Kaji sistem
pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan,
kepercayaan agama).
5.3. Lakukan rujukan
sesuai indikasi (misal : konseling
pemuka agama).
6
Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan:
6.1. Diskusikan tentang obat (nama, dosis,
frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
6.2. Bantu menggunakan
obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
6.3. Anjurkan
membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.
6.4. Beri
reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.
No comments:
Post a Comment