Juniartha Semara Putra
ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN CA TESTIS
BAB I
KONSEP DASAR PENYAKIT
CA. TESTIS
1. PENGERTIAN
Testis secara anatomis merupakan alat reproduksi
pria yang mempunyai berat kira – kira 12 gram pada orng dewasa dan berukuran
5x3 cm. Testis dilapisi olehdua lapisan yang berasal dari processus vaginalis
peritonei yaitu tunica vaginalis parietalis dan visceralis. Kedua lapisan ini
membentuk rongga kosong. Lebih kedalam terdapat lapisan jaringan ikat tebal
yaitu tunica albuginea dan lebih kedalam lagi tunica vasculosa. Epididimis terletak pada bagian
posterolateral testis dan merupakan penghubung antara tubuli seminiferus
contorti dan vas deferens. Pada tubuli seminiferi terdapat sel – sel penunjang
(sel sertoli ) dan sel – sel germinativum yang mengalami spermatogenesis pada waktu
akil baliq. Pada stroma terdapat sel – sel interstitium ( sel Leydig ) yaitu sel bulat
atau diagonal dengan sitoplasma banyak , berwarna merah inti besar mengandung
khromatin kasar dan anak inti jelas. Didalam sitoplasma sel ini terdapat
lipofuscin, titik lemak dan kristaloid Reinke.
Tumor adalah kumpulan sel abnormal yang terbentuk
oleh sel – sel yang tumbuh terus menerus secara tidak terbatas , tidak
berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. Tumor
dibedakan menjadi dua yaitu tumor yang jinak ( benigna ) dan tumor yang ganas (
maligna ). Ca testis merupakan tumor ganas pada testis. ( Kumpulan kuliah Patologi Anatimik
FK UI )
2. KLASIFIKASI DAN EPIDEMIOLOGI
Tumor testis hampir seluruhnya ganas dan termasuk
tumor ganas yang derajat keganasannya tinggi. Kebanyakan penderita berumur
antara 24 34 tahun dengan frekwensi tumor testis kira – kira 2 % daripada
seluruh tumor ganas pada pria atau kira – kira 10 % daripada tumor ganas
tractus urogenitalis .Bentuk tumor bermacam – macam dan mengenai klasifikasinya
berdasarkan klasifikasi Friedman , Moore dan Dixon dikemukakan bahwa 95,5%
tumor testis berasal dari sel epitel germinativum dan dibagi atas 5 golongan
yaitu :
a. Seminoma
b. Embryonal carcinoma
c. Teratoma
d. Teratocarcinoma
e. Choriocarcinoma
Sedangkan berdasarkan ” The Testicular Tumor Panel and
Registry of the Pathological Society of Great Britain and Ireland ” th 1964 membagi tumor
testis sebagai berikut :
1)
Seminoma
2)
Teratoma berdasarkan keganasannya dibagi lagi menjadi :
a)
Teratoma differentiated
b)
Malignant Teratoma intermediate
c)
Malignant Teratoma anaplastic
d)
Malignant Teratoma tropoblastic
3. FAKTOR RESIKO
Salah satu faktor resiko yang teridentifikasi
dapat meningkatkan resiko terkena kanker testis adalah cryptochrismus yaitu
berupa kelainan testis yang tidak turun kedalam scrotum tetapi tertinggal dalam
tempat yang dilalui testis selama proses descensus yang normal. Cryptocrhismus
biasanya disebabkan karena kelainan herediter, perkembangan sex yang tidak
sempurna dan sebagian besar karena kelainan mekanik seperti funiculus
spermaticus yang pendek, canalis inguinalis yang sempit, pembentukan
gubernaculumtestis yang tidak sempurnadan perlengkatan –perlengkatan akibat
fibrosis. Faktor lain yang sering dilaporkan adalah karena riwayat pernah
mengalami trauma testicular. Penderita HIV mempunyai kemungkinan pertumbuhan
tumor seperti limphoma dan sarcoma yang berefek pada testis. Penderita dengan
Klinefelter’s síndrome mempunyai resiko
lebih besar terkena germ cell tumor testis.
4. GEJALA KLINIS
Tumor testis seringkali tidak menampakkan suatu
gejala dan tanda yang signifikan kecuali adanya massa yang disertai dengan
nyeri. Pada banyak kasus timbulnya massa pada testis seringkali keliru
didiagnosakan sebagai infeksi pada area disekitar testis ( epididimitis ). Pada
tumor testis yang baru terdeteksi pada tahap lanjut sering menampakkan gejala –
gejala seperti nyeri punggung, massa pada daerah abdominal disertai dengan
kesulitan pernafasan .
5. PERJALANAN PENYAKIT
Mula-mula tumor berupa benjolan / tonjolan pada testis
yang kadang – kadang terasa nyeri. Tumor dapat menyebabkan timbulnya cairan
jernih dalam tunica vaginalis yang menimbulkan hidrocelle. Pada stadium lebih
lanjut timbul gejala –gejala yang disebabkan oleh anak sebar / metastase
misalnya pembesaran kelenjar getah bening regional, anak sebar dalam paru –
paru , hati dan lain – lain.
Seminoma mempunyai presdiposisi pada testis yang
tidak turun kedalam scrotum, bersifat paling jinak dan walaupun telah terbentuk
anak sebar pada waktu ditemukan , dengan orchidektomi lokal disertai dengan
penyinaran pada rongga abdomen dan regio genitalis menghasilkan angka kematian
kurang dari 10 % dalam waktu dua (2) tahun . Anak sebar seminoma biasanya hanya
sampai pada kelenjar getah bening regional dan kelenjar – kelenjar sepanjang
aorta. Penderita seminoma yang berumur lebih muda ternyata mempunyai prognosis
lebih baik dari penderita yang lebih tua.
Selain
seminoma , tumor – tumor testis cenderung untuk cepat beranak sebar kealat –
alat dalam seperti : paru-paru, hati, sumsum tulang, ginjal dan otak. Apabila
pada waktu pembedahan ternyata sudah terdapat anak sebar maka kemungkinan hidup
selama dua tahun sangat kecil. Tumor –tumor ini kurang peka terhadap penyinaran
sehingga dengan pembedahan radikal dan penyinaran , 50% penderita mengalami
kematian dalam waktu 2 tahun.
Pada beberapa kasus terutama choriocarsinoma
terdapat peninggian produksi FSH sehingga hormon ini dapat diketukan dalam air
kemih. Peningkatan ini kemungkinan disebabkan oleh karena testis rusak sehingga
hambatan terhadap hipofisis tidak ada.
6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk
menegakkan diagnosis ca testis adalah :
v Scrotal Ultra sound digunakan untuk mengetahui lokasi pasti dari
tumor, karakteristik dari benjolan apakah merupakan kiste atau solid ( padat )
, merupakan bentuk tunggal atau kumpulan beberapa tumor.
v CT Scan digunakan untuk mengetahui adanya
metastase terutama lokasi dari metastasenya.
v Pemeriksaan darah juga dikerjakan untuk
mengidentifikasi dan memastikan spesifikasi , tanda serta ukuran tumor . AFP
Alpha 1 feto protein , Beta – HCG , dan LDH merupakan pemeriksaan darah untuk
mengidentifikasi tipe tumor testis.
7.
PENATALAKSANAAN
Menurut TNM Classification of Malignant Tumors
seperti dipublikasikan dalam AJCC Cancer Staging Manual kanker testis dibagi menjadi tiga ( 3 )
tingkatan yaitu :
- Stage 1 :
tumor masih terlokalisir dalam testis .
- Stage 2 :
tumor tersebar dalam testis dan sudah mengalami metastase kedalam rongga
retroperitoneal dan atau paraaortic kelenjar limfe ( kelenjar limfe
dibawah diafragma ).
- Stage 3 :
tumor tumbuh dan tersebar dalam testis dan mengalami metastase lebih dari
rongga retroperitoneal dan atau paraaortic kelenjar limfe.
Penatalaksanaan tumor testis pada dasarnya terdiri
dari tiga tipe yaitu pembedahan , radioterapi dan kemoterapi.
- Pembedahan
Pembedahan tumor testis yang biasa dikerjakan
adalah orchidectomy . Pada beberapa kasus pengangkatan tumor testis dengan
meninggalkan testis yang secara fungsional masih berfungsi hampir tidak pernah
dilakukan , karena 95% dari tumor testis merupakan tumor ganas. Pengangkatan
tumor dilakukan dengan pengangkatan testis secara total .
- Radioterapi
Radiasi biasanya dipergunakan untuk mengatasi tumor
testis yang merupakan tumor seminoma derajat 2 , tetapi juga dilakukan pada
kasus dengan seminoma tingkat 1 untuk meminimalisasi pertumbuhan dan mencegah
penyebaran tumor.
Radiasi tidak pernah diberikan / dilakukan pada
non seminoma tumor karena memerlukan dosis yang lebih besar dan kemoterapi
lebih efektif untuk kanker nonseminoma
- Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pengobatan standar untuk nonseminoma kanker ketika
kanker sudah menyebar kebeberapa bagian tubuh ( stage 2 dan stage 3 ). Protokol
standar kemoterapi yang diberikan ada tiga terdiri dari Bleomycin – Etoposide – Cisplatin
( BEP ) . Pengobatan kemoterapi ini dikembangkan oleh Dr. Lawrence Einhorn pada
Universitas Indiana.
BAB II
KONSEP DASAR ASUHAN
KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN CA TESTIS
1.PENGKAJIAN
|
NO
|
DATA SUBYEKTIF
|
DATA OBYEKTIF
|
RUMUSAN MASALAH
|
|
1
2
3
4
5
|
Penderita
mengeluh nyeri pada scrotum dan testis
Penderita
mengeluhkan penurunan kemampuan ereksi / keinginan melakukan hubungan seksual
menurun
-Penderita
mengeluhkan belum memiliki keturunan
-Penderita
mengatakan merasa minder untuk bergaul dengan tetangga karena belum memiliki
keturunan
Penderita
mengeluh merasa lemas dan merasakan kelelahan
|
Nyeri tekan
pada testis +
-
Keturunan tidak
ada
Postur tubuh
kurus, tonus otot lemah
Hasil
pemeriksaan fisik :
Adanya benjolan
pada testis, hasil pemeriksaan lab, hasil pemeriksaan CT scan adanya
metastase kanker
|
Nyeri akut
Disfungsi
seksual
Harga diri
rendah
Intoleransi
aktivitas
PK : Kanker (
metastase ke organ vital )
|
Dari hasil
pengkajian data diatas dapat dirumuskan masalah keperawatan sesuai dengan
prioritas masalah yaitu :
1.
PK ;
Kanker ( metastase ke organ vital )
2.
Nyeri
akut
3.
Harga
diri rendah
4.
Disfungsi
seksual
5.
Intoleransi
aktivitas
2. Diagnosa
Keperawatan
Dari rumusan masalah yang timbul
pada penderita dengan kanker testis dapat diangkat diagnosa keperawatan sebagai
berikut :
- PK : Kanker ( Metastase
keorgan vital ) .
- Nyeri akut berhubungan dengan
penekanan testis oleh tumor ditandai dengan nyeri tekan pada testis
- Harga diri rendah situasional
berhubungan dengan kerusakan fungsional ( gangguan reproduksi ) ditandai
dengan penderita mengeluhkan belum memiliki keturunan dan merasa minder
bergaul dengan tetangga.
- Disfungsi seksual berhubungan dengan
perubahan fungsi / struktur tubuh ditandai dengan penurunan kemampuan
erektil
- Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan secara menyeluruh
3. Rencana
Perawatan
|
No
|
Diagnosa
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
PK :
Kanker ( metastase ke organ vital
)
|
-Metastase
kanker dapat dicegah / bila sudah terjadi metastase dapat di lokalisir
-Penatalaksanaan
secara efektif efek samping yang muncul dalam pemberian terapi radiasi /
kemoterapi
|
-Kolaborasi
dengan dokter untuk pemeriksaan penunjang seperti CT Scan
- Kolaborasi
dengan dokter untuk pemberian terapi radiasi / kemoterapi
- Observasi
keadaan umum dan vital sign penderita sebelum, selama dan sesudah pemberian
terapi radiasi dan kemoterapi
|
-pengawasan
menyebarnya sel kanker / timbulnya metastase dan lokasi penyebaran
-Radiasi dan
kemoterapi merupakan terapi yang paling efektif untuk kanker stadium II dan
III
-Kemoterapi dan
radiasi memiliki beberapa efek samping yang perlu penanganan yang tepat.
|
|
No
|
Diagnosa
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
2
3
4
|
Nyeri akut
berhubungan dengan penekanan testis oleh tumor ditandai dengan nyeri tekan
pada testis
Harga diri
rendah situasional berhubungan dg kerusakan fungsional ( gangguan reproduksi )
ditandai dg penderita mengeluhkan belum memiliki keturunan dan merasa minder
bergaul dengan tetangga
Disfungsi
seksual berhubungan dengan perubahan fungsi / struktur tubuh ditandai dengan
penurunan kemampuan erektil
|
Nyeri dapat
terkontrol , berkurang atau bahkan
hilang dengan kriteria :
- penderita
mengatakan nyeri berkurang / hilang
- nyeri tekan –
Tumbuh dan
berkembangnya persepsi diri yang positive dalam berespon terhadap situasi
yang sedang terjadi
Perubahan
fungsi seksual yang diperlihatkan dapat diterima dan dihargai oleh pasangan
|
§ Kaji derajat dukungan yang ada untuk
pasien
§ Diskusikan persepsi pasien tentang diri
dan hubungannya dengan perubahan dan bagaimana pasien melihat dirinya dalam
peran dan fungsi yang biasa
§ Perhatikan perilaku menarik diri,
berbicara negatif tentang diri sendiri, dan penyangkalan
§ Diskusikan tersedianya berbagai sumber
contoh konseling dan terapi kejuruan
v KIE
terhadap penderita dan pasangannya tentang penyakit, perjalanan
penyakit dan kemungkinan yang dapat terjadi berhubungan dengan masalah
seksual penderita
v KIE agar penderita dan pasangannya siap
dan dapat menerima perubahan – perubahan fungsi seksual yang dapat terjadi
v Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
terapi hormonal
|
§ Support / dukungan dari keluarga,
kerabat sangat penting untuk meningkatkan harga diri pasien.
§ Pentingnya mengetahui sejauh mana
gambaran diri penderita untuk
menentukan terapi / konseling yang akan diberikan
§ Untuk mengetahui sejauh mana
perkembangan psikologis penderita
§ Penderita dapat menentukan jenis terapi
/ konseling yang tepat untuk kesembuhannya.
-
Pasien
dan pasangannya memperoleh pngetahuan yang cukup tentang penyakit dan resiko
yang dapat muncul kemudian
-
Kesiapan
mental penderita dan pasangannya untuk menerima resiko yang dapat timbul
-
Untuk
mengatasi disfungsi seksual yang berkaitan dengan masalah hormonal
|
|
5
|
Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh
|
Ketersediaan
energi yang cukup secara fisiologis dan atau psikologis dalam pemenuhan
aktivitas sehari-hari .
|
a. Evaluasi
respon pasien terhadap aktivitas
b.Berikan lingkungan tenang dan
batasi pengunjung selama fase akut ssi indikasi
c. Bantu
aktivitas perawatan diri yang diperlukan
d.
Berikan nutrisi yang adekuat
|
- menetapkan kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan
intervensi
- menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat
- meminimalkan kelelahan dan membantu
keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
- menyediakan kalori yang cukup bagi
tubuh untuk melaksanakan metabolisme
|
- Evaluasi Keperawatan
Penentuan
evaluasi dilihat dari tercapai atau tidaknya rencana tujuan yang telah kita
tentukan dalam pembuatan renpra, dalam hal ini evaluasi yang diharapkan dari
perencanaan diatas adalah:
1. Metastase kanker dapat teratasi
2. Nyeri berkurang dan atau hilang
3. Tumbuh dan berkembangnya persepsi diri
yang positif
4. Terjalinnya hubungan yang dinamis dengan
pasangan dalam mengatasi perubahan fungsi seksual
5. Tersedianya energi yang cukup secara
fisilogis dan psikologis dalam pemenuhan aktivitas sehari – hari.
No comments:
Post a Comment