Juniartha Semara Putra
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN OPEN REDUCTION EXTERNAL FIXATION ( OREF )
- KONSEP
DASAR
1. Pengertian
OREF
adalah reduksi terbuka dengan fiksasi internal di mana prinsipnya tulang
ditransfiksasikan di atas dan di bawah fraktur , sekrup atau kawat ditransfiksi
di bagian proksimal dan distal kemudian dihubungkan satu sama lain dengan suatu
batang lain
Fiksasi eksternal digunakan untuk
mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak . Alat ini memberikan
dukungan yang stabil untuk fraktur kominutif ( hancur atau remuk ) . Pin yang
telah terpasang dijaga agar tetap terjaga posisinya , kemudian dikaitkan pada
kerangkanya. Fiksasi ini memberikan rasa nyaman
bagi pasien yang mengalami kerusakan fragmen tulang.
Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada
gambar berikut ini :
2. Indikasi
a. Fraktur terbuka grade II dan III
b.
Fraktur terbuka yang disertai hilangnya jaringan atau tulang yang parah.
c.
Fraktur yang sangat kominutif ( remuk )
dan tidak stabil.
d.
Fraktur yang disertai dengan kerusakan pembuluh darah dan saraf.
e.
Fraktur pelvis yang tidak bisa diatasi dengan cara lain.
f. Fraktur yang terinfeksi di
mana fiksasi internal mungkin tidak cocok. Misal : infeksi pseudoartrosis ( sendi palsu ).
g. Non union yang memerlukan kompresi dan
perpanjangan.
h. Kadang – kadang pada fraktur tungkai bawah
diabetes melitus.
3. Keuntungan dan Komplikasi Eksternal Fiksasi
Keuntungan
eksternal fiksasi adalah
:
Fiksator ini memberikan
kenyamanan bagi pasien , mobilisasi awal da latihan awal untuk sendi di
sekitarnya sehingga komplikasi karena disuse dan imobilisasi dapat diminimalkan
Sedangkan komplikasinya adalah
:.
a. Infeksi di tempat pen ( osteomyelitis ).
b.
Kekakuan pembuluh darah dan saraf.
c.
Kerusakan periostium yang parah sehingga terjadi delayed union atau non union .
d. Emboli lemak.
e. Overdistraksi fragmen.
4. Hal – hal yang Harus Diperhatikan pada Klien
dengan Pemasangan Eksternal
Fiksasi
a. Persiapan psikologis
Penting sekali mempersiapkan pasien secara
psikologis sebelum dipasang fiksator eksternal Alat ini sangat mengerikan dan
terlihat asing bagi pasien. Harus diyakinkan bahwa ketidaknyamanan karena alat
ini sangat ringan dan bahwa mobilisasi awal dapat diantisipasi untuk menambah
penerimaan alat ini, begitu juga keterlibatan pasien pada perawatan terhadap
perawatan fiksator ini.
b. Pemantauan terhadap kulit, darah, atau pembuluh saraf.
Setelah pemasangan fiksator eksternal , bagian
tajam dari fiksator atau pin harus ditutupi untuk mencegah adanya cedera akibat
alat ini. Tiap tempat pemasangan pin dikaji mengenai adanya kemerahan ,
keluarnya cairan, nyeri tekan, nyeri dan longgarnya pin.Perawat harus waspada
terhadap potensial masalah karena tekanan terhadap alat ini terhadap kulit,
saraf, atau pembuluh darah.
c. Pencegahan infeksi
Perawatan pin untuk mencegah infeksi lubang
pin harus dilakukan secara rutin. Tidak boleh ada kerak pada tempat penusukan
pin, fiksator harus dijaga kebersihannya. Bila pin atau klem mengalami
pelonggaran , dokter harus diberitahu. Klem pada fiksator eksternal tidak boleh
diubah posisi dan ukurannya.
d. Latihan isometrik
Latihan isometrik dan aktif dianjurkan dalam batas kerusakan jaringan bisa
menahan. Bila bengkak sudah hilang, pasien dapat dimobilisasi sampai batas
cedera di tempat lain. Pembatasan pembebanan berat badan diberikan untuk
meminimalkan pelonggaran puin ketika terjadi tekanan antara interface pin dan
tulang.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a.
Pre
operasi
|
Data subyektif
|
Data Obyektif
|
Masalah
|
|
a. Mengeluh takut menjalani operasi
b. Mengeluh takut dipasang alat-alat
yang banyak pada tubuh
c. Menyatakan kekhawatiran kaki/tangan
tidak berfungsi lagi.
|
a. Klien tampak gelisah, murung
b. Peningkatan denyut nadi
|
Kecemasan
|
|
a. Mengeluh sakit dan sulit bergerak pada
tubuh yang cedera
|
a. Tampak meringis dan memegangi tubuh
yang cedera
|
Nyeri
|
b.
Post
Operasi
|
Data subyektif
|
Data obyektif
|
Masalah
|
|
|
-
Ada luka post operasi,terpasang
alat fiksasi eksterna ( pin, kerangka portable )
|
1). Resti
infeksi
|
|
-
Mengeluh malu dengan keadaan tubuh
penuh alat
|
|
2) Gangguan citra diri
|
|
-
Mengeluh tidak bisa bergerak bebas
|
-
Klien tampak kesulitan dalam bergerak.
|
3) Hambatan mobilitas fisik
|
|
- Klien mengatakan tidak tahu cara perawatan alat yang dipasang
|
-
Klien selalu menanyakan kapan alat bisa dibuka.
|
4) Defisit pengetahuan
5) Resiko penatalaksanaan regimen
terapeutik inefektif
|
|
|
- Terpasang pin logam dan
fiksator dengan ujung tajam
|
6) Resiko cedera
|
2.
Diagnosa Keperawatan
a. Pre operasi
1) Kecemasan b/d ancaman integritas biologis sekunder akibat
operasi d/d mengeluh takut operasi, takut dipasang alat, khawatir tangan dan
kaki tidak berfungsi, tampak gelisah dan murung , tachicardi.
2) Nyeri b/d trauma jaringan dan refleks spasme otot
sekunder akibat fraktur ditandai dengan mengeluh sakit, sulit bergerak, tampak
meringis dan memegangi tubuh yang cedera.
b. Post operasi
1) Resti infeksi b/d tempat masuknya
organisme sekunder akibat adanya jalur invasif (pin ).
2) Gangguan citra tubuh b/d perubahan
dalam penampilan sekunder akibat pemasangan eksternal fiksasi.
3) Hambatan mobilitas fisik b/d alat
eksternal fiksasi.
4) Defisit pengetahuan b/d kurangnya
informasi.
5) Resiko penatalaksanaan regimen
terapeutik inefektif b/d ketidaktahuan tentang perawatan eksternal fiksasi.
6) Resiko cedera b/d terpasang alat
berujung tajam.
3.
Perencanaan
a.
Prioritas Diagnosa Keperawatan
Pre operasi :
1) Nyeri b/d trauma jaringan dan refleks spasme otot
sekunder akibat fraktur ditandai dengan mengeluh sakit, sulit bergerak, tampak
meringis dan memegangi tubuh yang cedera
2) Kecemasan b/d ancaman integritas biologis sekunder akibat
operasi d/d mengeluh takut operasi, takut dipasang alat, khawatir tangan dan
kaki tidak berfungsi, tampak gelisah dan murung , tachicardi.
Post operasi :
1) Resti infeksi b/d tempat masuknya organisme
sekunder akibat adanya jalur invasif (pin
).
2) Resiko
cedera b/d terpasang alat berujung tajam
3) Hambatan mobilitas fisik b/d alat eksternal
fiksasi
4) Gangguan
citra tubuh b/d perubahan dalam penampilan sekunder akibat pemasangan eksternal fiksasi
5) Resiko penatalaksanaan regimen terapeutik
inefektif b/d ketidaktahuan tentang
perawatan eksternal fiksasi
.
Diagnosa ” Defisit pengetahuan b/d kurangnya informasi ” tidak diangkat
karena dengan diatasinya diagnosa ke-5
, mak diagnosa ini juga dapat diatasi.
b. Rencana Keperawatan
Pre operasi
1) Diagnosa 1
Rencana tujuan :
Setelah diberikan askep selama 1x24 jam diharapkan keluhan nyeri
berkurang.
|
Rencana tindakan
|
Rasionalisasi
|
|
a. Kaji tingkat
nyeri dan intensitas.
b. Ajarkan teknik distraksi selama nyeri
akut
c. Observasi vital sign
d. Kolaboratif pemberian obat analgesik
dan kaji efektivitasnya.
|
a.
Mengetahui tingkat nyeri
b. Mengurangi nyeri tanpa
tindakan invasif
c. Tingkat nyeri dapat diketahui dari
vital sign.
d. Mengatasi nyeri pasien dan menyusun
rencana selanjutnya bila nyeri tidak bisa diatasi dengan analgesik.
|
2) Diagnosa 2
Rencana tujuan :
Setelah diberikan tindakan perawatan selama 2 x 30 menit diharapkan
kecemasan klien berkurang
|
Rencana tindakan
|
Rasionalisasi
|
|
a. Kaji tingkat
ansietas
b. Beri kenyamanan dan ketentraman hati,
perlihatkan rasa empati.
c. Bila ansietas berkurang , beri
penjelasan tentang operasi , pemasangan eksternal fiksasi, serta persiapan
yang harus dilakukan.
|
a. Sebagai acuan membuat strategi
tindakan.
b. Agar pasien lebih tenang menghadapi
operasi.
c. Bila keadaan klien lebih tenang maka
klien akan lebih mudah menerima penjelasan yang diberikan.
|
Post operasi
1) Diagnosa
1
Rencana tujuan :
Setelah diberikan askep selama 1 minggu diharapkan tidak terjadi infeksi
|
Rencana tindakan
|
Rasionalisasi
|
|
a. Jaga kebersihan di daerah pemasangan
eksternal fiksasi.
b. Lakukan perawatan luka secara aseptik di daerah pin.
c. Observasi vital sign dan tanda-tanda
infeksi sistemik maupun lokal ( demam, nyeri, kemerahan, keluar cairan,
pelonggaran pin )
d. Kolaboratif pemberian antibiotika.
|
a. Mencegah
kolonisasi kuman.
b. Mencegah infeksi kuman melalui pin
c. Menemukan tanda-tanda infeksi secara
dini.
d. Untuk
mencegah atau
mengobati infeksi.
|
2) Diagnosa
2
Rencana tujuan : Setelah diberikan askep selama 3 x 24 jam diharapkan
tidak terjadi cedera /trauma akibat
alat yang dipasang.
|
Rencana tindakan
|
Rasionalisasi
|
|
|
3) Diagnosa
3
Rencana tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selam 3 x 24 jam diharapkan klien
mampu memperlihatkan kemampuan mobilitas.
|
Rencana Tindakan
|
Rasionalisasi
|
b. Bila bengkak pada daerah
pemasangan eksternal fiksasi sudah berkurang, latih pasien untuk latihan
isometrik di daerah tersebut.
|
a. Mencegah terjadinya atrofi disuse .
b. Membantu meningkatkan kekuatan
c. Mempercepat kemampuan klien untuk
mandiri serta meningkatkan rasa percaya diri klien.
|
4) Diagnosa
4
Rencana tujuan :
Setelah diberikan askep selama 3 x 24 jam diharapkan klien mempunyai
gambaran diri yang positif .
|
Rencana Tindakan
|
Rasionalisasi
|
-
berbagi
perasaan dan ketakutan dengan klien
-
mengidentifikasi
aspek positif klien dan cara mengungkapkannya
-
menerima
perubahan fisik dan emosional klien.
|
c. Merngurangi kecemasan,
meningkatkan rasa percaya diri dan adaptasi terhadap keadaan sekarang,serta
memperoleh citra diri yang positif.
|
5) Diagnosa
5 :
Rencana tujuan :
Setelah diberikan askep selama 3 x 30 menit diharapkan klien dapat
menunjukkan prilaku yang mendukung
penatalaksanaan program terapi.
|
Rencana tindakan
|
Rasionalisasi
|
|
|
4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan dari
asuhan keperawatan pasien dengan OREF adalah :
a. Pre
operasi
1)
Klien
melaporkan penurunan tingkat nyeri, ekspresi wajah rileks.
2)
Klien
menunjukkan penurunan tingkat kecemasan dan siap menjalani operasi.
b. Post operasi
1)
Tidak
ada tanda – tanda infeksi sistemik maupun lokal ( vital sign normal, tidak ada
kemerahan atau cairan / pus keluar dari pin, nyeri minimal ).
2)
Tidak
ada cedera karena alat.
3) Memperlihatkan peningkatan kemampuan
mobilitas
- Mempergunakan
alat bantu yang aman.
- Berlatih
untuk meningkatkan kekuatan
- Mengubah
posisi sesering mungkin.
- Melakukan
latihan sesuai kisaran gerak sendi ( ROM ) pada daerah yang tidak dipasang alat.
3)
Klien
menunjukkan rasa percaya diri dan mau menerima perubahan penampilan sekarang
4)
Klien
mematuhi regimen terapeutik yang harus dilakukan dan mampu melakukan perawatan
di rumah secara berkesinambungan..
DAFTAR PUSTAKA
- Smeltzer, G. Bare, Keperawatan Medikal – Bedah Brunner
& Suddarth, Edisi 8,
EGC,Jakarta, 2002.
Muttaqin, Arif, Ns, S.Kep, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Muskuloskeletal, EGC,
Jakarta, 2008.
Carpenito – Moyet, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Edisi 10, EGC< Jakarta, 2007.
Susilo, Ignatius Eko,Ns, S.Kep., Bahan Kuliah : Asuhan Keperawatan Klien Dengan Trauma
Sistem Muskuloskeletal,Akademi Keperawatan Panti Rapih, Yogyakarta,2004
No comments:
Post a Comment