Juniartha Semara Putra
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)
A.
KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Pengertian Luka Bakar
Luka
bakar adalah luka yang dapat timbul akibat kulit terpajan ke suhu tinggi, syok
listrik, atau bahan kimia (Corwin, 2001).
Luka
oleh karena kontak dengan agen bersuhu tinggi, seperti api, air panas, listrik,
bahan kimia radiasi, suhu sangat rendah ( Mansyoor, dkk, 2000).
Luka
bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh kontak
dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi
(Yefta Moenadjat, 2003).
Cedera
kulit oleh karena perpindahan energi dari sumber panas ke kulit (Effendi, 1999;
Smeltzer & Bare, 2002).
2. Etiologi Luka Bakar
a. Air panas
b. Api
c. Listrik, petir, radiasi
d. Bahan kimia (sifat asam dan basa kuat)
e. Ledakan kompor, udara panas
f. Ledakan ban. Bom
g. Sinar matahari
h. Suhu yang sangat rendah (frost bite)
3. Patofisiologi Luka Bakar
Luka
bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga air,
natrium, klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan
terjadinya edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipovolemia dan
hemokonsentrasi. Kehilangan cairan tubuh pada klien luka bakar dapat disebabkan
oleh beberapa faktor antara lain: peningkatan mineralokortikoid (retensi air,
natrium, klorida, ekskresi kalium), peningkatan permeabilitas pembuluh darah,
perbedaan tekanan osmotik intra dan ekstra sel.
Perpindahan
cairan dari intravaskuler ke ekstravaskuler melalui kebocoran kapiler yang
mengakibatkan kehilangan Na, air dan protein plasma serta edema jaringan
diikuti dengan; penurunan curah jantung, hemokonsentrasi sel darah merah,
penurunan perfusi pada organ mayor, edema menyeluruh.
Dengan
menurunnya volume intravaskuler, maka aliran plasma ke ginjal dan GFR akan
menurun yang mengakibatkan penurunan haluaran urine.
Sepertiga
dari klien-klien luka bakar akan mengalami masalah pulmoner yang berhubungan
dengan luka bakar. Meskipun tidak terjadi cedera pulmoner, hipoksia (starvasi
oksigen) dapat dijumpai. Pada luka bakar yang berat, konsumsi oksigen oleh
jaringan tubuh klien akan meningkat dua kali lipat sebagai akibat dari keadaan
hipermetabolisme dan repon lokal.
Cedera inhalasi merupakan penyebab utama
kematian pada korban-korban kebakaran. Karbonmonoksida mungkin merupakan gas
yang paling sering menyebabkan cedera inhalasi karena gas ini merupakan produk
sampingan pembakaran bahan-bahan organik. Efek patofisiologiknya adalah
hipoksia jaringan yang terjadi ketika karbonmonoksida berikatan dengan
hemoglobin untuk membentuk karboksihemoglobin.
Respon
umum yang biasa terjadi pada klien luka bakar >20% adalah penurunan
aktivitas gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek repson
hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya perlukaan
luas.
Pertahanan
imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar. Semua tingkat respon imun
akan dipengaruhi nsecara merugikan. Kehilangan integritas kulit diperparah lagi
dengan pelepasan faktor-faktor inflamasi yang abnormal, perubahan kadar
imunoglobulin serta komplemen serum, gangguan fungsi neutrofil, dan penurunan
jumlah limfosit (limfositopenia). Imunosupresi membuat klien luka bakar
berisiko tinggi untuk mengalami sepsis.
Hilangnya
kulit juga menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhunya. Karena itu klien-klien
luka bakar dapat memperlihatkan suhu tubuh yang rendah dalam beberapa jam
pertama pasca luka bakar, tetapi kemudian setelah keadaan hipermetabolisme
menyetel kembali suhu inti tubuh, klien luka bakar akan mengalami hipertermi
selama sebagian besar periode pasca luka bakar kendati tidak terdapat infeksi.
4. Klasifikasi Luka Bakar
a. Berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan
1) Luka bakar derajat I:
a) Kerusakan terbakar pada lapisan epidermis
(superficial).
b) Kulit kering, hiperemik berupa eritema.
c)
Tidak
dijumpai bulae.
d) Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik
teriritasi.
e) Penyembuhan terjadi secara spontan dalam
waktu 5-10 hari.
f) Contohnya adalah luka bakar akibat
sengantan matahari.
2) Luka bakar derajat II
a) Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian
dermis, berupa reaksi inflamasi disertai proses eksudasi.
b) Dijumpai bullae.
c) Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik
teriritasi.
d) Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering
terletak lebih tinggi diatas kulit normal.
Luka
bakar derajat II dibedakan menjadi:
a) Derajat II dangkal (superficial).
1). Kerusakan mengenai bagian superfisial dari
dermis.
2). Organ-organ kulit seperti folikel rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.
3). Penyembuhan terjadi secara spontan dalam
waktu 10-14 hari, tanpa operasi penambalan kulit (skin graft).
Gambar 4. Luka bakar derajat II superficial
b) Derajat II dalam (deep).
1). Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian
dermis.
2). Organ-organ kulit seperti folikel rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.
3). Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung
biji epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari
satu bulan. Bahkan perlu dengan operasi penambalan kulit (skin graft).
3) Luka bakar derajat III
a) Kerusakan meliputi seluruh tebal dermis
dan lapisan yang lebih dalam.
b) Organ-organ kulit seperti folikel rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan.
c) Tidak dijumpai bulae.
d) Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan
pucat, karena kering letaknya lebih rendah dibanding kulit sekitar.
e) Terjadi koagulasi protein pada epidermis
dan dermis yang dikenal sebagai eskar.
f) Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang
sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.
g) Penyembuhan terjadi lama karena
tidak ada proses epitelisasi spontan dari dasar luka.
b. Berdasarkan berat ringannya luka bakar
Berat
ringannya luka bakar ditentukan berdasarkan luas permukaan tubuh yang terkena (Total Body Surface Area atau TBSA) yang
dihitung berdasarkan persentase, misalnya dengan cara Rule of Nine dari Wallace dan derajat kedalaman luka bakar.
Disamping faktor tersebut ternyata masih terdapat faktor-faktor lain yang
berperan menentukan berat ringannya luka bakar seperti usia, ada/tidaknya cedera
inhalasi, dan sebagainya.
Banyak
cara menghitung luas luka bakar, tetapi yang banyak dipakai adalah cara Rule of Nine dari Wallace, adalah
sebagai berikut (untuk dewasa):
TABEL 1
LUAS LUKA BAKAR BERDASARKAN RULE OF NINE
|
NO
|
AREA
|
%
|
|
1
|
Head and neck
|
9
|
|
2
|
Anterior trunk
|
18
|
|
3
|
Posterior trunk
|
18
|
|
4
|
Genitalia
|
1
|
|
5
|
Right arm
|
9
|
|
6
|
Left arm
|
9
|
|
7
|
Right thigh
|
9
|
|
8
|
Left thigh
|
9
|
|
9
|
Right leg
|
9
|
|
10
|
Left leg
|
9
|
|
|
Total
|
100
|
|
Perhitungan luas luka bakar untuk anak ≤ 15 tahun
ditetapkan berdasarkan modifikasi dari Rule
of Nine sebagai berikut:
Tabel 2.
LUAS
LUKA BAKAR BERDASARKAN RULE OF NINE
UNTUK USIA ≤ 15 TAHUN
|
NO
|
DAERAH PERMUKAAN TUBUH
|
0-1 TH
|
5 TH
|
15 TH
|
|
1
|
Kepala,
muka dan leher
|
18 %
|
14 %
|
10 %
|
|
2
|
Badan
sebelah depan
|
18 %
|
18 %
|
18 %
|
|
3
|
Badan
sebelah belakang
|
18 %
|
18 %
|
18 %
|
|
4
|
Alat gerak
atas kanan
|
9 %
|
9 %
|
9 %
|
|
5
|
Alat gerak
atas kiri
|
9 %
|
9 %
|
9 %
|
|
6
|
Alat gerak
bawah kanan
|
14 %
|
16 %
|
18 %
|
|
7
|
Alat gerak
bawah kiri
|
14 %
|
16 %
|
18 %
|
|
Jumlah total
|
100 %
|
100 %
|
100 %
|
|
Gambar 9.
Estimation of burn size using the Rule of Nine
Antara umur 1-5 tahun, tiap tahun tiap tungkai bertambah
0,4 % dan antara umru 5-15 tahun, tiap tahun tiap tungkai bertambah 0,2 %. Satu
telapak tangan penderita mempunyai luas 1 % dari luas tubuhnya.
Disamping dengan cara Rule
of Nine, ada cara yang kadang dipakai untuk menghitung luas permukaan tubuh
yang terkena luka bakar sesuai dengan golongan usia. Cara ini menggunakan Lund and Browder Chart.
TABEL 3
LUAS LUKA BAKAR BERDASARKAN LUND AND BROWDER CHART
|
NO
|
AREA
|
AGE-YEARS
|
||||
|
0-1
|
1-4
|
4-9
|
10-15
|
ADULT
|
||
|
1
|
Head
|
19
|
17
|
13
|
10
|
7
|
|
2
|
Neck
|
2
|
2
|
2
|
2
|
2
|
|
3
|
Anterior trunk
|
13
|
17
|
13
|
13
|
13
|
|
4
|
Posterior trunk
|
13
|
13
|
13
|
13
|
13
|
|
5
|
Right buttock
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
|
6
|
Left buttock
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
|
7
|
Genitalia
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
8
|
Right upper arm
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
|
9
|
Left upper urm
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
|
10
|
Right lower arm
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
|
11
|
Left lower arm
|
3
|
3
|
3
|
3
|
3
|
|
12
|
Right hand
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
|
13
|
Left hand
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
2 ½
|
|
14
|
Right thigh
|
5 ½
|
6 ½
|
8 ½
|
8 ½
|
9 ½
|
|
15
|
Left thigh
|
5 ½
|
6 ½
|
8 ½
|
8 ½
|
9 ½
|
|
16
|
Right leg
|
5
|
5
|
5 ½
|
6
|
7
|
|
17
|
Left leg
|
5
|
5
|
5 ½
|
6
|
7
|
|
18
|
Right foot
|
3 ½
|
3 ½
|
3 ½
|
3 ½
|
3 ½
|
|
19
|
Left foot
|
3 ½
|
3 ½
|
3 ½
|
3 ½
|
3 ½
|
Gambar 10.
Estimation of burn size using Lund
and Browder Chart
Berdasarkan
berat / ringan luka bakar, diperoleh beberapa kategori penderita (Yefta
Moenadjat, 2003):
1) Luka bakar berat / kritis (major burn)
a) Derajat II-III > 20% pada klien berusia
di bawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun.
b) Derajat II-III > 25% pada kelompok usia
selain disebutkan pada butir pertama.
c) Luka bakar pada muka, telinga, tangan,
kaki dan perineum.
d) Adanya trauma pada jalan napas
(cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka bakar.
e) Luka bakar listrik tegangan tinggi.
f) Disertai trauma lainnya (misal fraktur iga
/ lain-lain).
g) Klien-klien dengan risiko tinggi.
2) Luka bakar sedang (moderate burn)
a) Luka bakar dengan luas 15-25% pada dewasa,
dengan luka bakar derajat III < 10%.
b) Luka bakar dengan luas 10-20% pada anak
usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun, dengan luka bakar derajat III
< 10%.
c) Luka bakar dengan derajat III < 10%
pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka, tangan, kaki dan perineum.
3) Luka bakar ringan (mild burn)
a) Luka bakar dengan luas < 15% pada
dewasa.
b) Luka bakar dengan luas < 10% pada anak
dan usia lanjut.
c) Luka bakar dengan luas < 2% pada segala
usia; tidak mengenai muka, tangan, kaki dan perineum.
5. Pembagian Zona Kerusakan Jaringan
a. Zona koagulasi
Daerah
yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat pengaruh panas.
b. Zona statis
Daerah
yang berada lansgsung di luar zona koagulasi. Di daerah ini terjadi kerusakan
endotel pembuluh darah disertai kerusakan trobosit dan leukosit, sehingga
terjadi gangguan perfusi (no flow
phenomena), diikuti perubahan permeabilitas kapiler dan respon inflamasi
lokal. Proses ini berlangsung selama 12-24 jam pasca cedera, dan mungkin
berakhir dengan nekrosis jaringan.
c. Zona hiperemi
Daerah
di luar zona statis, ikut mengalami reaksi berupa vasodilatasi tanpa banyak
melibatkan reaksi seluler.
6. Fase Luka Bakar
Dalam
perjalanan penyakitnya dibedakan 3 fase pada luka bakar yaitu:
a. Fase darurat/resusitasi
Fase
ini berlangsung dari awitan cedera hingga selesainya resusitasi cairan. Pada
fase ini problema yang ada berkisar pada gangguan saluran nafas karena adanya
cedera inhalasi dan gangguan sirkulasi. Pada fase ini terjadi gangguan
keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit, akibat cedera termis yang
bersifat sistemik.
b. Fase akut atau intermediat
Fase
akut atau intermediat berlangsung sesudah fase darurat/resusitasi dan dimulai
48 hingga 72 jam setelah terjadi luka bakar. Selama fase ini, perhatian
ditujukan pada pengkajian dan pemeliharaan yang berkesinambungan terhadap
status respirasi dan sirkulasi, keseimbangan cairan dan elektrolit, serta
fungsi gastrointestinal. Perawatan luka bakar dan pengendalian nyeri merupakan
prioritas pada tahap ini. Pada tahap ini sudah dipertimbangkan intervensi
pembedahan (debridement, skin grafting)
c. Fase rehabilitasi
Fase
ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah
pada fase ini adalah timbulnya penyulit dari luka bakar berupa parut
hipertrofik, kontraktur dan deformitas lain yang terjadi karapuhan jaringan
atau organ-organ strukturil (misal, bouttonierre
deformity).
7. Indikasi Rawat Inap Klien Luka Bakar
Kebutuhan
klien untuk dirawat di rumah sakit ditentukan berdasarkan pada keparahan cedera
luka bakar yang dideritanya. Berikut ini adalah kondisi dimana klien harus
dirawat di rumah sakit (Christantie Effendi, S.Kp., 1999):
a. Luka bakar derajat II > 15% pada dewasa
dan > 10% pada anak.
b. Luka bakar derajat II pada muka, leher,
tangan, kaki dan perineum.
c. Luka bakar derajat III > 2% pada dewasa
dan setiap derajat III pada anak.
d. Luka bakar disertai trauma visera, tulang
dan jalan napas.
e. Luka bakar karena sengatan listrik
tegangan tinggi.
8. Penatalaksanaan Luka Bakar
Penatalaksanaan
klien luka bakar sesuai dengan kondisi dan tempat klien dirawat melibatkan
berbagai lingkungan perawatan dan disiplin ilmu antara lain mencakup penanganan
awal (di tempat kejadian), penanganan pertama di unit gawat darurat, penanganan
klien luka bakar di ruang perawatan intensif dan penanganan klien luka bakar di
bangsal perawatan atau unit luka bakar (Christantie Effendi, S.Kp., 1999).
a. Penanganan awal di tempat kejadian
Tindakan
yang harus dilakukan terhadap korban luka bakar:
1) Jauhkan korban dari sumber panas. Jika
penyebabnya api, jangan biarkan korban berlari, anjurkan korban untuk
berguling-guling atau bungkus tubuh korban dengan kain basah dan pindahkan
segera korban ke ruangan yang cukup berventilasi jika kejadian luka bakar
berada di ruangan tertutup.
2) Buka pakaian dan perhiasan logam yang
dikenakan korban.
3) Kaji kelancaran jalan napas korban, beri
bantuan pernapasan (life support) dan oksigen jika diperlukan.
4) Beri pendinginan dengan merendam korban dalam
air bersih yang bersuhu 20 oC (suhu air yang terlalu rendah akan
menyebabkan hipotermia) selama 15-20 menit segera setelah terjadinya luka bakar
(jika tidak ada masalah pada jalan napas korban).
5) Jika penyebab luka bakar adalah zat kimia,
siram korban dengan air sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan zat kimia dari
tubuh korban.
6) Kaji kesadaran, keadaan umum, luas dan
kedalaman luka bakar dan cedera lain yang menyertai luka bakar.
7) Segera bawa penderita ke rumah sakit untuk
penanganan lebih lanjut (tutup tubuh korban dengan kain/kasa yang bersih selama
perjalanan ke rumah sakit).
b. Penanganan pertama luka bakar di unit
gawat darurat
1) Penilaian keadaan umum klien. Perhatikan A:
Airway (jalan napas); B: Breathing (pernapasan); C: Circulation (sirkulasi).
2) Penilaian luas dan kedalaman luka bakar.
3) Kaji adanya kesulitan menelan atau bicara
(kemungkinan klien mengalami trauma inhalasi).
4) Kaji adanya edema saluran pernapasan
(mungkin klien perlu dilakukan intubasi atau trakheostomi).
5) Kaji adanya faktor-faktor lain yang
memperberat luka bakar seperti adanya fraktur, riwayat penyakit sebelumnya
(seperti diabetes, hipertensi, gagal ginjal, dll) dan penyebab luka bakar
karena tegangan listrik (sulit diketahui secara akurat tingkat kedalamannya).
6) Pasang infus (IV line). Jika luka bakar
> 20% derajat II/III biasanya dipasang CVP (kolaborasi dengan dokter).
7) Pasang kateter urine.
8) Pasang nasogastrik tube (NGT) jika
diperlukan.
9) Beri terapi cairan intra vena (kolaborasi
dengan dokter). Biasanya diberikan sesuai formula Parkland yaitu 4 ml/kg BB/ %
luka bakar pada 24 jam pertama. Pada 8 jam I diberikan ½ dari kebutuhan cairan
dan pada 16 jam II diberikan sisanya (disesuaikan dengan produksi urine tiap
jam)
10) Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan .
pada klien yang mengalami trauma inhalasi/gangguan sistem pernapasan dapat
dilakukan nebulisasi dengan obat bronkodilator.
11) Periksa lab darah.
12) Berikan suntikan ATS/Toxoid.
13) Perawatan luka.
14) Pemberian obat-obatan (kkolaborasi dengan
dokter); analgetik, antibiotik dll.
15) Mobilisasi secara dini (range of motion).
16) Pengaturan posisi.
c. Penanganan klien luka bakar di unit
perawatan intensif
Pada
kondisi klien yang makin memburuk, perlu adanya penanganan secara intensif di
unit perawatan intensif terutama klien yang membutuhkan alat bantu pernapasan
(ventilator). Hal yang harus diperhatikan selama klien dirawat di unit ini
meliputi:
1) Pantau keadaan klien dan setting
ventilator.
2) Observasi tanda-tanda vital; tekanan
darah, nadi dan pernapasan setiap jam dan suhu setiap 4 jam.
3) Pantau nilai CVP.
4) Amati GCS.
5) Pantau status hemodinamik.
6) Pantau haluaran urine (0,5-1 cc/kg BB/jam)
7) Auskultasi suara paru tiap pertukaran
jaga.
8) Cek AGD setiap hari atau bila diperlukan.
9) Pantau saturasi oksigen.
10) Pengisapan lendir (suction) minimal setiap
2 jam dan jika perlu.
11) Perawatan mulut setiap 2 jam (beri boraq
gliserin).
12) Perawatan mata dengan memberi salep atau
tetes setiap 2 jam.
13) Ganti posisi klien setiap 3 jam.
14) Fisioterapi dada.
15) Perawatan daerah invasif seperti daerah
pemasangan CVP, kateter, tube setiap hari.
16) Ganti tube dan NGT setiap minggu.
17) Observasi letak tube (ETT) setiap shift.
18) Observasi terhadap aspirasi cairan
lambung.
19) Periksa lab darah: elektrtolit,
ureum/creatinin, AGD, protein (albumin), gula darah (kolaborasi dengan dokter).
20) Perawatan luka bakar sesuai protokol rumah
sakit.
21) Pemberian medikasi sesuai dengan petunjuk
dokter.
d. Penanganan klien luka bakar di unit
perawatan luka bakar
Klien
luka bakar memerlukan waktu perawatan yang lama karena proses penyembuhan luka
yang lama terlebih pada klien dengan luka bakar yang luas dan dalam.
Tindakan
perawatan yang utama dalam merawat klien di unit luka bakar yaitu perawatan luka, pengaturan
posisi, pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat, pencegahan komplikasi dan
rehabilitasi.
Perawatan
luka bakar ada dua yaitu perawatan terbuka dan perawatan tertutup. Perawatan
terbuka yaitu perawatan tanpa menggunakan balutan setelah diberi obat topikal. Perawatan tertutup dengan
menggunakan balutan gaas steril setelah diberikan obat topikal atau tulle yang
mengandung chlorhexidine 0,05%, gaas lembab (moist) dengan NaCl 0,9% dan gaas kering. Penggunaan obat topikal
disesuaikan dengan kedalaman luka bakar. Luka bakar grade II superficial
menggunakan chlorampenicol zalf mata, sedangkan luka bakar grade II dalam dan
grade III menggunakan SSD.
Hal-hal
yang perlu diketahui dalam perawatan luka bakar:
-
Anatomi
dan fisiologi kulit.
-
Pathofisiologi
luka bakar.
-
Prinsip-prinsip
penyembuhan luka.
-
Prinsip-prinsip
pengontrolan infeksi (Universal precaution: teknik cuci tangan bersih,
penggunaan handschoen, masker, topi, baju steril; teknik bersih dan aseptik).
-
Faktor-faktor
penyebab infeksi.
-
Cara
mengatasi nyeri.
Selain
hal-hal di atas, perlu juga diperhatikan teknik memandikan pasien luka bakar.
B.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)
Asuhan
keperawatan pada klien luka bakar disesuaikan dengan fase luka bakar.
1.
Perawatan
Luka Bakar Selama Fase Darurat/Resusitasi
a. Pengkajian
1) Kaji luas, kedalaman luka bakar.
2) Vital sign.
3) Asupan dan keluaran cairan, residu urine
saat pertama kali dipasang cateter.
4) Berat jenis urine, warna urine, pH, kadar
glukosa, aseton, protein serta nilai hemoglobbin.
5) Berat badan, riwayat berat pra-luka bakar,
alergi, imunisasi tetanus, masalah medik serta bedah pada masa lalu, penyakit
sekarang dan penggunaan obat.
6) Tingkat kesadaran, status fisiologik,
tingkat nyeri serta kecemasan dan perilaku klien.
Diagnosa
keperawatan
1) Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan
dengan keracunan karbon monoksida, inhalasi asap dan obstruksi saluran napas
atas.
2) Bersihan jalan napas tidak efektif yang
berhubungan dengan edema dan efek dari inhalasi asap.
3) Kurang volume cairan yang berhubungan
dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan akibat evaporasi
dari daerah luka bakar.
4) Hipotermia yang berhubungan dengan
gangguan mikrosirkulasi kulit dan luka yang terbuka.
5) Nyeri yang berhubungan dengan cedera
jaringan serta saraf dan dampak emosional dari luka bakar.
b. Perencanaan
|
Tujuan
|
Rencana Intervensi
|
Rasional
|
|
Diagnosa keperawatan: Kerusakan pertukaran gas yang berhubungan dengan keracunan karbon
monoksida, inhalasi asap dan obstruksi saluran napas atas.
|
||
|
Pemeliharaan oksigenasi jaringan yang adekuat.
KE:
-
Tidak
ada dispnea.
-
Frekuensi
respirasi antara 12 dan 20 x/mt.
-
Paru
bersih pada auskultasi.
-
Sat
O2 > 96%.
-
AGD
(N)
|
1.
Beri
O2 yang lembab.
2.
Kaji
napas, tanda-tanda hipoksia.
3.
Amati
hal-hal berikut: eritema pada mukosa bibir dan pipi; lubang hidung yang
gosong; luka bakar pada muka, leher, dada; bertambahnya keparauan suara;
adanya sputum hangus.
4.
Pantau
hasil AGD.
5.
Pantau
tingkat kesadaran klien.
|
1. Suplementasi O2 dan memberi kelembaban
pada jaringan yang cedera.
2. Bukti peningkatan/ penurunan pernapasan.
3. Tanda cedera inhalasi dan risiko
disfungsi pernapasan.
4. Mengkaji perlunya ventilasi mekanis.
5. Deteksi dini penurunan status respirasi.
|
|
Diagnosa keperawatan: Bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan edema dan
efek dari inhalasi asap.
|
||
|
Pemeliharaan saluran napas yang paten dan
bersihan saluran napas adekuat.
KE:
-
Jalan
napas paten.
-
Sekresi
respirasi minimal, tidak berwarna dan encer.
-
Frekuensi
respirasi, pola dan bunyi napas normal.
|
1.
Pertahankan
kepatenan jalan napas.
2.
Beri
O2 lembab.
3.
Dorong
klien agar mau membalikkan tubuh, batuk dan napas dalam.
|
1.
Krusial
untuk fungsi respirasi.
2.
Ekspektorasi.
3.
Meningkatkan
pembuangan sekresi.
|
|
Diagnosa keperawatan: Kurang volume cairan yang berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
kapiler dan kehilangan cairan akibat evaporasi dari daerah luka bakar.
|
||
|
Pemulihan keseimbangan cairan dan elektrolit
yang optimal dan perfusi organ-organ vital.
KE:
-
Kadar
elektrolit (N).
-
Haluaran
urine 0,5-1,0 ml/kg/jam.
-
TD>
90/60 mmHg.
-
N<
120 x/mt.
-
Sensori
jernih.
-
Urine
jernih, BJ Normal.
|
2.
Amati
tanda vital, haluaran urine.
3.
Beri
cairan intravena dengan tepat.
4.
Naikkan
bagian kepala dan tinggikan ekstremitas yang terbakar.
|
1.
Resusitasi
berlebihan dapat menyebabkan kelebihan beban cairan.
2.
Mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit.
3.
Meningkatkan
aliran balik vena.
|
|
Diagnosa keperawatan: Hipotermia yang berhubungan dengan gangguan mikrosirkulasi kulit dan
luka yang terbuka.
|
||
|
Pemeliharaan suhu tubuh yang adekuat.
KE:
-
S:
361 – 383 oC.
-
Tidak
ada menggigil / gemetar.
|
1.
Beri
lingkungan yang hangat.
2.
Bekerja
dengan cepat kalau lukanya terpajan udara dingin.
3.
Kaji
suhu inti tubuh dengan sering.
|
1.
Mengurangi
kehilangan panas lewat evaporasi.
2.
Pajanan
minimal mengurangi kehilangan panas lewat luka.
3.
Deteksi
dini terjadinya hipotermia.
|
|
Diagnosa keperawatan: Nyeri yang berhubungan dengan cedera jaringan serta saraf dan dampak
emosional dari luka bakar.
|
||
|
Pengendalian rasa nyeri.
KE:
-
Menyatakan
tingkat nyeri menurun.
-
Tidak
ada petunjuk nonverbal tentang nyeri.
|
1.
Kaji
tingkat nyeri (skala 1-10)
2.
Beri
analgetik.
3.
Beri
dukungan emosional.
|
1.
Mengevaluasi
evektivitasnya tindakan mengurangi nyeri.
2.
Menurunkan
nyeri.
3.
Mengurangi
ketakutan dan ansietas akibat luka bakar.
|
2.
Perawatan
Luka Bakar Selama Fase Akut
a. Pengkajian
1) Kaji perubahan hemodinamika.
2) Proses kesembuhan luka.
3) Rasa nyeri.
4) Respon psikososial.
5) Deteksi dini komplikasi.
6) Status respirasi dan cairan.
7) Perdarahan yang berlebihan dari pembuluh
darah di dekat daerah yang menjalani eksplorasi bedah dan debridement.
b. Diagnosa keperawatan
1) Kelebihan volume cairan yang berhubungan
dengan pemulihan kembali integritas kapiler dan perpindahan cairan dari ruang
interstisial ke dalam intravaskuler.
2) Risiko terhadap infeksi yang berhubungan
dengan hilangnya barier kulit dan terganggunya respon imun.
3) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan
tubuh yang berhubungan dengan hipermetabolisme dan kebutuhan bagi kesembuhan
luka.
4) Kerusakan integritas kulit yang
berhubungan dengan luka bakar terbuka.
5) Nyeri yang berhubungan dengan saraf yang
terbuka, kesembuhan luka dan penanganan luka bakar.
6) Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan
dengan edema luka bakar, rasa nyeri dan kontraktur persendian.
7) Koping tidak efektif yang berhubungan
dengan perasaan takut serta ansietas, berduka dan ketergantungan pada petugas
kesehatan.
8) Perubahan proses keluarga yang berhubungan
dengan luka bakar.
9) Kurang pengetahuan tentang proses
penanganan luka bakar.
10) PK : insufisiensi ginjal
11) PK : Perdarahan GI
12) PK : Ilius paralitik
13) PK : Sepsis
c. Perencanaan
|
Tujuan
|
Rencana Intervensi
|
Rasional
|
|
Diagnosa keperawatan: Kelebihan volume cairan yang
berhubungan dengan pemulihan kembali integritas kapiler dan perpindahan
cairan dari ruang interstisial ke dalam intravaskuler.
|
||
|
Pemeliharaan keseimbangan cairan yang optimal.
KE:
-
Asupan,
haluaran cairan dan berat badan memiliki korelasi dengan pola yang
diharapkan.
-
Tanda
vital normal.
|
1.
Pantau
tanda vital, asupan dan haluaran cairan, berat badan.
2.
Beri
cairan intravena adekuat.
3.
Beri
preparat diuretik atau dopamin seperti yang diprogramkan.
|
1.
Mencerminkan
status cairan.
2.
Mencegah
bolus cairan yang tidak disengaja.
3.
Menurunkan
volume intravaskuler.
|
|
Diagnosa keperawatan: Risiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan hilangnya barier kulit
dan terganggunya respon imun.
|
||
|
Tidak ada infeksi lokal / sistemik.
KE:
-
Tidak
ada gejala dan tanda infeksi.
-
Hasil
kultur normal.
|
1.
Gunakan
tindakan asepsis dalam semua aspek perawatan klien.
2.
Lakukan
skrining terhadap para pengunjung.
3.
Singkirkan
tanaman dan bunga dari kamar klien.
4.
Inspeksi
luka.
5.
Pantau
hitung leukosit, hasil kultur, dan tes sensitivitas.
6.
Beri
antibiotik sesuai indikasi.
7.
Ganti
linen dan personal hygiene.
|
1.
Meminimalkan
risiko kontaminasi silang.
2.
Menghindari
agens penyebab infeksi.
3.
Sumber
potensial bagi pertumbuhan bakteri.
4.
Mengetahui
adanya infeksi lokal.
5.
Mengetahui
tingkat infeksi, merencanakan antibiotik yang tepat.
6.
Mengurangi
jumlah bakteri.
7.
Mengurangi
potensi kolonisasi bakteri pada luka bakar.
|
|
Diagnosa keperawatan: Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
hipermetabolisme dan kebutuhan bagi kesembuhan luka.
|
||
|
Pencapaian status nutrisi anabolik.
KE:
-
Peningkatan
BB tiap hari.
-
Tidak
memperlihatkan tanda-tanda defisiensi protein, vitamin dan mineral.
-
Memenuhi
seluruh kebutuhan nutrisi lewat asupan oral.
-
Kadar
protein serum normal.
|
1.
Beri
diet TKTP.
2.
Pantau
BB dan jumlah asupan kalori tiap hari.
3.
Beri
suplemen vitamin dan mineral.
4.
Beri
nutrisi enteral dan parenteral.
5.
Laporkan
distensi abdomen, volume residu yang besar atau diare kepada dokter.
|
1.
Membantu
kesembuhan luka dan peningkatan kebutuhan metabolisme.
2.
Menentukan
apakah kebutuhan makan telah terpenuhi.
3.
Memenuhi
kebutuhan nutrisi.
4.
Menjamin
terpenuhinya nutrisi.
5.
Tanda
yang menunjukkan intoleransi terhadap jalur atau tipe pemberian nutrisi.
|
|
Diagnosa keperawatan: Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan luka bakar terbuka.
|
||
|
Integritas kulit tampak membaik.
KE:
-
Kulit
tampak utuh, bebas infeksi, trauma.
-
Reepitelisasi
luka baik.
-
Reepitelisasi
donor baik.
-
Kulit
terlumasi dan licin.
|
1.
Bersihkan
luka, tubuh dan rambut tiap hari.
2.
Rawat
luka.
3.
Cegah
penekanan, infeksi dan mobilisasi pada autograft.
4.
Beri
dukungan nutrisi yang memadai.
5.
Kaji
luka dan lokasi graft.
|
1.
Mengurangi
potensi kolonisasi bakteri.
2.
mempercepat
kesembuhan luka.
3.
Mempercepat
perlekatan graft dan kesembuhan.
4.
Mendukung
pembentukan granulasi.
5.
Intervensi
dini untuk mengatasi kesembuhan luka.
|
|
Diagnosa keperawatan: Nyeri yang berhubungan dengan saraf yang terbuka, kesembuhan luka dan
penanganan luka bakar.
|
||
|
Pengurangan atau pengendalian nyeri.
KE:
-
Menyatakan
rasa nyeri minimal.
-
Tidak
memberikan petunjuk fisiologik atau nionverbal bahwa rasa nyerinya sedang
atau berat.
-
Menggunakan
teknik pengendali nyeri.
-
Dapat
tidur tanpa terganggu nyeri.
|
1.
Kaji
tingkat nyeri.
2.
Beri
analgetik.
3.
Ajarkan
teknik distraksi, imajinasi dan relaksasi.
4.
Beri
antiansietas.
5.
Lumasi
luka (berbahan dasar silika).
|
1.
Mengkaji
respon terhadap intervensi.
2.
Mengurangi
nyeri.
3.
Mengurangi
sensasi nyeri.
4.
Meningkatkan
kenyamanan klien.
5.
Mengurangi
perasaan kencang pada kulit.
|
|
Diagnosa keperawatan: Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan edema luka bakar,
rasa nyeri dan kontraktur persendian.
|
||
|
Pencapaian mobilitas fisik yang optimal.
KE:
-
Turut
berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari.
|
1.
Atur
posisi klien.
2.
Lakukan
latihan rentang gerak.
3.
Bantu
klien untuk ambulasi dini.
4.
Fisioterapi.
5.
Dorong
perawatan mandiri sesuai kemampuan klien.
|
1.
Mengurangi
risiko kontraktur.
2.
Meminimalkan
atropi otot.
3.
Peningkatan
pemakaian otot-otot.
4.
Mempertahankan
posisi sendi yang benar.
5.
Mempercepat
kemandirian.
|
|
Diagnosa keperawatan: Koping tidak efektif yang berhubungan dengan perasaan takut serta
ansietas, berduka dan ketergantungan pada petugas kesehatan.
|
||
|
Penggunaan strategi koping yang tepat untuk
menghadapi berbagai masalah pasca luka bakar.
KE:
-
Mengutarakan
dengan kata-kata reaksi terhadap luka bakar.
-
Mengidentifikasi
strategi koping yang digunakan.
-
Menerima
ketergantungan pada pemberi perawatan selama sakit akut.
-
Mengatasi
kesedihan atau kehilangan.
-
Turut
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
-
Memiliki
perilaku yang penuh harapan terhadap masa depan.
|
1.
Kaji
kemampuan dan strategi koping yang digunakan.
2.
Tunjukkan
penerimaan, beri dukungan dan umpan balik yang positif.
3.
Bantu
klien untuk menetapkan tujuan jangka pendek.
4.
Gunakan
pendekatan multidisiplin.
5.
Atasi perilaku agresif atau maladaptif.
|
1.
Informasi
dasar untuk merencanakan perawatan.
2.
Mendorong
timbulnya harga diri.
3.
Membawa
pola keberhasilan pada klien.
4.
Menghasilkan
cara pendekatan yang konsisten.
|
|
Diagnosa keperawatan: Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan luka bakar.
|
||
|
Pencapaian proses klien/keluarga yang tepat.
KE:
-
Paien
mengutarakan dengan kata-kata perasaannya yang berkenaan dengan perubahan
dalam interaksi keluarga.
-
Keluarga
dapat memberikan dukungan emosional.
-
Keluarga
menyatakan bahwa kebutuhan mereka terpenuhi.
|
1.
Kaji
persepsi klien dan keluarga terhadap dampak luka bakar.
2.
Beri
dukungan yang realistik.
3.
Jelaskan
pola strategi koping yang lazim.
|
1.
Informasi
dasar untuk perencanaan perawatan.
2.
Memudahkan
klien untuk mengutarakan keprihatinannya dengan kata-kata.
3.
Mengurangi
ansietas.
|
|
Diagnosa keperawatan: Kurang pengetahuan tentang proses penanganan luka bakar.
|
||
|
Klien dan keluarga mengungkapkan pemahaman
penanganan luka bakar.
KE:
-
Menyatakan
dasar pemikiran untuk berbagai aspek penanganan yang berbeda.
-
Klien
dan keluarganya turut berpartisipasi dalam menyusun rencana penatalaksanaan.
|
1.
Kaji
kesiapan klien dan keluarganya untuk belajar.
2.
Kaji
pengalaman klien dan keluarga.
3.
Jelaskan
pentingnya partisipasi klien dalam perawatan.
4.
Jelaskan
lama waktu untuk sembuh.
|
1.
Mengetahui
tingkat pengetahuan klien dan keluarga.
2.
Data
dasar untuk penjelasan dan indikasi yang menunjukkan harapan klien serta
keluarganya.
3.
Memberi
arah yang spesifik pada klien.
4.
Kejujuran
meningkatkan harapan yang realistis.
|
|
Diagnos keperawatan : PK : insufisiensi ginjal
|
||
|
Memantau dan meminimalkan komplikasi
insufisiensi ginjal.
|
1.
Pantau
tanda dan gejala dari insufisiensi ginjal.
|
1.
Hipovolemia
dan hipotensi mengaktifasi sistem renin angiotensin mengakibatkan tahanan
vaskuler ginjal meningkat.
|
|
|
2.
Catat
cairan masuk dan keluar
|
2.
Berhubungan
dengan kelebihan masukan cairan.
|
|
|
3.
Pantau
tanda-tanda dan gejala asidosis metabolik
|
3.
Asidosis
diakibatkan oleh ketidakmampuan ginjal mengeksresikan ion hidrogen posfat,
sulfat dan keton
|
|
Diagnosa keperawatan :PK : Perdarahan GI
|
||
|
Memantau dan menangani komplikasi perdarahan GI
|
1.
Pantau
tanda dan gejala perdarahan gastrointestina
|
1.
Deteksi
dini dapat membantu dalam menentukan intervensi
|
|
|
2.
Pantau
hemoglobin, hematokrit, jumlah sel darah merah, trombosit, SGOT, SGPT, BUN
|
2.
Nilai
laboratorium ini menggambarkan keefektifan pengobatan
|
|
|
3.
Pantau
tanda-tanda vital secara teratur
|
3.
Pemantauan
yang teliti dapat mendeteksi perubahan dini dari volume darah
|
|
Diagnosa keperawatan : PK : Ileus paralitik
|
||
|
Mengatasi dan meminimalkan komplikasi illeus
paralitik
|
1.
Pantau
tanda-tanda dari illeus paralitik
2.
Pantau
fungsi usus
|
1.
Membantu
dalam menentukan intervensi
2.
Pembedahan
dan anastesi menurunkan intervensi dari usus dan menurunkan peristaltik usus
serta kemungkinan menyebabkan ileus paralitik
|
|
Diagnosa keperawatan : PK : Sepsis
|
||
|
Memantau dan menangani komplikasi septikemia
|
1.
Pantau
tanda dan gejala septikemia
2.
Pantau
perubahan dalam mental, kelemahan, malaisea, hipotermia, anoreksia
|
1.
Membantu
dalam menentukan intervensi
2.
Membantu
dalam menentukan intervensi
|
3.
Perawatan
Luka Bakar Selama Fase Rehabilitasi
a. Pengkajian
1) Tingkat pendidikan klien, pekerjaan,
kegiatan rekreasi, latar belakang budaya, agama dan interaksi keluarga.
2) Konsep diri, status mental, respon
emosional terhadap luka bakar.
3) Pemeriksaan jasmani: rentang gerak sendi,
kemampuan fungsional dalam aktivitas sehari-hari, tanda-tanda ruftur kulit,
neuropati, toleransi terhadap aktivitas.
4) Partisipasi klien dalam perawatan dan
kemampuannya untuk memperlihatkan perawatan mandiri.
5) Komplikasi dan perlunya penanganan yang
spesifik.
b. Diagnosa keperawatan
1) Intoleransi aktivitas yang berhubungan
dengan raasa nyeri ketika melakukan latihan, mobilitas sendi yang terbatas,
pelisutan otot dan ketahanan tubuh (endurance) yang terbatas.
2) Gangguan citra tubuh yang berhubungan
dengan perubahan pada penampakan fisik dan konsep diri.
3) Kurang pengetahuan tentang perawatan di
rumah sesudah klien pulang dari rumah sakit dan kebutuhan tindak lanjut.
c. Perencanaan
|
Tujuan
|
Rencana Intervensi
|
Rasional
|
|
Diagnosa keperawatan: Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan raasa nyeri ketika
melakukan latihan, mobilitas sendi yang terbatas, pelisutan otot dan
ketahanan tubuh (endurance) yang terbatas.
|
||
|
Memperlihatkan toleransi terhadap aktivitas yang
diperlukan untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari yang diinginkan.
KE:
-
Memperoleh
cukup tidur setiap hari.
-
Memperlihatkan
peningkatan toleransi dan ketahanan fisik yang bertahap dalam pelaksanaan
aktivitas fisik.
-
Dapat
berkonsentrasi ketika bercakap-cakap.
-
Memiliki
energi untuk mempertahankan aktivitas sehari-hari yang diinginkan.
|
1.
Redakan
rasa nyeri, cegah gejala menggigil atau panas dan tingkatkan integritas fisik
pada semua sistem tubuh.
2.
Latihan
fisioterapi.
3.
Pantau
perasaan panas, letih, dan toleransi nyeri.
4.
Jadwalkan
aktivitas klien.
|
1.
Membantu
klien untuk menyimpan tenaga untuk keperluan aktivitas terapiutik.
2.
Mencegah
atropi otot.
3.
Digunakan
untuk menentukan tingkat aktivitas yang diperlukan.
4.
Memperbaiki
toleransi terhadap aktivitas fisik.
|
|
Diagnosa keperawatan: Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan pada penampakan
fisik dan konsep diri.
|
||
|
Beradaptasi dengan citra tubuh yang berubah.
KE:
-
Mengutarakan
deskripsi yang tepat tentang berbagai perubahan pada citra tubuh pasca luka
bakar.
-
Menerima
penampakan fisiknya.
-
Memnggunakan
protesa jika dikehendaki.
-
Bersosialisasi
dengan orang lain.
-
Mencari dan mencapai pengembalian kepada peranan.
|
1.
Sediakan
waktu untuk mendengarkan dan memberikan dukungan yang realistik.
2.
Nilai
reaksi psikososial klien secara konstan.
3.
Secara
aktif promosikan citra tubuh yang sehat dan konsep diri pada klien-klien luka
bakar yang berhasil diselamatkan.
4.
Kenali
keunikan klien.
|
1.
Membantu
klien menangani perasaanya.
2.
Menggali
adanya kecemasan dan memahami ketakutan klien.
3.
Klien
dapat menerima atau menghadapi persepsi orang lain tentang kecacatan.
4.
Membantu
klien untuk menghargai diri sendiri.
|
|
Diagnosa keperawatan: Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah sesudah klien pulang dari
rumah sakit dan kebutuhan tindak lanjut.
|
||
|
Memperlihatkan pengetahuan tentang perawatan
mandiri dan perawatan tindak lanjut yang diperlukan.
KE:
-
Menguraikan
prosedur pembedahan dan penanganan dengan akurat.
-
Mengutarakan
rencana perawatan tindak lanjut.
-
Memperlihatkan
kemampuan untuk melaksanakan perawatan luka dan latihan rentang gerak.
-
Mengidentifikasi
sumber untuk dihubungi jika timbul masalah khusus.
|
1.
Ikutsertakan
keluarga dalam perencanaan dan pelaksanaan perawatan.
2.
Ajarkan
kepada klien dan keluarga cara perawatan luka, pelaksanaan latihan, pemakaian
pakaian tekan dan perawatan tindak lanjut.
|
1.
Keluarga
ikut berpartisiasi dalam perawatan.
2.
Pelajaran
untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan mendatang.
|
No comments:
Post a Comment