Juniartha Semara Putra
Rogers
R. Adapati
R. Maladapatif
. Genetik, neurotransmiter masih perlu penelitian lebih lanjut.
Ada
beberapa prinsip rencana asuhan keperawatan dengan klien gangguan hubungan
sosial, antara lain :
ASKEP GANGGUAN HUBUNGAN SOSIAL
Manusia
adalah mahkluk, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan , bina hubungan
interpersonal yang positif.
I.
Pengertian
Dibawah ini ada
beberapa pengertian menurut tokoh tokoh antara lain ;
Stuart and Sudden
(1998)
Hubungan interpersonal
yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling merasakan kedekatan,
sementara identitas pribadi masih tetap
dipertahankan.
Karakteristik
hubungan yang sehat : terbuka, menerima orang lain sebagaisebagai orang yang
mempunyai nilai sendiridan adanya rasa empati.
Gangguan hubungan
social
Pengertian:
Keadaan dimana
seorang individu berpartisipasi dalam
kuantitas yang berlebihan atau tidak cukup atau ketidakefektifan kualitas
pertukaran sosial (Townsend,1998)
II.
RENTANGAN RESPONDEN SOSIAL
Sosial
Kesepian
Manipulasi
Otonomi Menarik
diri Impulsif
Kebersamaan Ketergantungan Narkisisme
Saling
ketergantungan
(Stuart and Sundeen,hal 441)
PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN
RESPONDEN SOSIAL MALADAPTIF
|
Perilaku
|
Karakteristik
|
|
Manipulasi
|
Orang
lain diperlakukan seperti obyek hubungan terpusat pada masalah pengendalian
individu, berorientasi pada diri sediri atau pada tujuan, bukan berorintasi
pada orang lain.
|
|
Narkisisme
|
Harga
diri yang rapuh, secara terus menerus berusaha
|
|
Inplusif
|
Mendapatkan
penghargaan, pujian, sikap egosentris, pencemburu, marah jika orang lain
tidak mendukung. Tak mampu
merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman , penilaian
yang buruk tidak dapat diandalkan
|
Perilaku menarik diri :
Adalah usaha
menghidari interaksi dengan orang lain
dimana individu merasa bahwa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai
kesempatan membagi rasa, fikiran, prestasi / kegagalan, ia mempunai kesulitan
berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap
memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tak sanggup membagi pengalaman dengan
orang lain.
III.
KARAKTERISTIK PERILAKU MENARIK DIRI
. Gangguan
pola makan : tidak ada nafsu makan / minum berlebihan
. Berat badan menurun /meningkat dratis
.
Kemunduran kesehatan fisik
. Tidur
berlebihan
. Tingal
ditempat tidur dalam waktu yang lama
. Banyak
tidur siang
. Kurang
bergairah
. Tak
mempedulikan lingkungan
.
Aktivitas menurun
. Mondar – mandir / sikap mematung, melakukan gerakan secra
berulang (jalan mondar mandir)
. Menurunnya kegiatan seksual
TUGAS PERKEMBANGAN BRHUBUNGAN DENGAN
PERTUMBUHAN INTERPERSONAL
|
Tahap
perkembangan
|
Tugas
|
|
Masa bayi
|
Menetapkan landasan percaya
|
|
Masa bermain
|
Mengembangkan otonomi dan awal
perilaku mandiri
|
|
Masa pra sekolah
|
Belajar menunjukkan inisiatif dan rasa tanggung jawab dan hati
nurani
|
|
Masa sekolah
|
Belajar berkompetisi, bekerja
sama dan berkompromi
|
|
Masa pra remaja
|
Menjadi intim dengan teman
sejenis kelamin
|
|
Masa remaja
|
Menjadi intim dengan lawan jenis
kelamin dan tidak tergantung pada orsng tua
|
|
Masa dewasa muda
|
Menjadi saling tergantung dengan
orang tua, teman, menikah dan mempunyai anak
|
|
Masa tengah baya
|
Belajar menerima
|
|
Masa dewasa
|
Berduka karena kehilangan dan
mengembangkan perasaan keterikatan dengan budaya.
|
IV.
FAKTOR – FAKTOR PENCETUS GANGGUAN HUBUNGAN SOSIAL.
1.
Faktor perkembangan
. Gangguan dalam pencapaian tingkat
perkembangan
. Sistem kelarga yang terganggu
. Norma keluarga kurang
mendukung hubungan keluarga dengan pihak lain diluar keluarga.
2.
Faktor biologik
3.
Faktor sosio cultural
. Isolasi akibat dari norma yang tidak mendukng
. Harapan yang tidak realistic terhadap
hubungan
V.
STRESSOR PENCETUS
1.
Stressor sosio cultural
. Menurunya satabilitas unit keluarga
. Berpisah dari orang yang berarti dalam
kehidupannya
2.
Stresor psikologik
·
Ansietas berat yang berkepenjangan dengan
keterbatasan untuk mengatasi.
VI.
SUMBER KOPING
·
Keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam
keluarga dan teman.
·
Hubungan dengan hewan peliharaan
·
Gunakan kreatifitas utuk mengekspresikan stress
interpersonalseerti kesenian,musik,tulisan.
VII.
MEKANISME KOPING
1.
Koping yang
berhubungan dengan gangguan kepribadian anti social
. Poyeksi
.
Pemisahan
.
Merendahkan orang lain
2.
Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian
“border line”
. Pemisahan
. Reaksi
formasi
. Proyeksi
. Isolasi
.
Idealisasi orang lain
.
Merendahkan orang lain
LANGKAH-LANGKAH
PROSES KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Fraktor predisposisi
a.
Faktor tumbuh kembang
Pada masa tumbuh kembang
individu mempunyai tugas perkembsangan yang
harus dipenuhi, setiap tahap
perkembangan mempunyai spesifikasi tersendiri
Bila tugas dalam perkembangan
tidak terpenuyhi akan menghambat tahap
Perkembangan selanjutnya dan
dapat terjadi gangguan hubungan social.
b. Faktor komunikasi dalam
keluarga
Gangguan komunikasi dalam
keluarga merupakan faktor pendukung terjadi
nya gangguan hubungan sosial,
termasuk komunikasi yang tidak jelas (
double blind komunikation),
ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga dan
pola asuh keluarga yang tidak
menganjurkan anggota keluarga untuk
berhubungan di luar lingkungan
keluarga.
c. Isolasi sosial atau
mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan factor
pendukung untuk
terjadinaya ada gangguan hubungan sosial. Hal ini
disebabkan oleh
noma-norma yang dianut keluarga yang salah, dimana tiap
anggota keluarga yang
tidak produktif diasingkan dari hubungan sosialnya
misalnya : usia lanjut, penyakit kronis,
penyandang cacat dan lain-lain.
2. Faktor predisposisi
a. Struktur sosial budaya
Stres yang ditimbulkan
oleh factor sosial budaya antara lain keluarga yang
labil, berpisah dengan orang yang
terdekat/berarti, perceraian dan lain-lain.
b. Faktor hormonal
Gangguan dari fungsi kelenjar
bawah otak (gland pituitary ) menyebabkan
turunya hormon FSH dan LH. Kondisi ini
terdapat pada pasien skizofrenia.
c. Hipotesa virus
Virus HIV dapat menyebabkan prilaku spikotik.
d. Model biological lingkungan sosisal
Tubuh akan menggambarkan ambang toleransi
seseorang terhadap stress pada
saat terjadinya
interaksi dengan interaksi sosial.
e. Stressor psikologik
Adanya kecemasan berat dengan
terbatasnya kemampuan menyelasaikan
kecemasan tersebut.
3. Prilaku
a. Tingkah laku yang berhubungan
dengan curiga
1.
Tidak mampu mempercayai orang lain.
2.
Bermusuhan.
3.
Mengisolasi diri dalam hubungan sosial
4.
Paranoia
b. Tingkah laku
yang berhubungan dengan dependen
1.
Ekpresi perasaan tidak langsung dengan tujuan.
2.
Kurang asertif
3.
mengisolasi diri dalam hubungan sosial
4.
Harga diri rendah
5.
Sangat tergantung dengan orang lain.
c. Tingkah laku
yang berhubungan dengan kepribadian anti sosial.
1.
Hubungan interpersonal yang dangkal
2.
Rendahnya motifasi untuk berubah
3.
Berusaha untuk tampil menarik.
d. Tingkah laku
yang berhubungan dengan borderline.
1.
Hubungan dengan orang lain sangat stabil
2.
Percobaan bunuhdiri yang manipulatif
3.
Susunan hati yang negatif (depresif)
4.
Prestasi yang rendah
5.
Abivalensi dalam hubungan dengan orang lain
6.
Tidak tahan dengan sendirian
e. Tingkah laku
yang berhubungan dengan menarik diri
1.
Kurang spontan
2.
Apatis, ekpresi wajah kurang berseri
3.
Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan dirinya
4.
Tidak mau komonikasi verbal
5.
Mengisolasi diri
6.
Kurang sadar dengan lingkungan sekitar
7.
Kebutuhan fisiologis terganggu
8.
Aktivitas menurun
9.
Kurang energi, harga diri rendah, postur tubuh berubah.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Masalah keperawatan yang berubungan
dengan hubungan sosial. Diagnosa menurut
NANDA :
1.
Resiko terjadi perubahan persepsi sensori berhubungan
dengan menarik diri
2.
Koping keluarga inefektif
3.
Koping indifidu inefektif
4.
Kesepian berhubungan dengan menarik diri
5.
Perubahan proses berfikir
6.
Isolasi sosial berhubungan dengan kemampuan hubungan
sosial inadekuat
7.
Ganggiuan persepsi (harga diri rendah) berhubungan
dengan persepsi keluarga nonrealistik dalam berhubungan.
8.
Menarik diri berhubungan dengan waham curiga.
9.
Kebersihan diri kurang berhubungan dengan kurang energi
10. Gangguan
hubungan sosial berhubungan dengan kurangnya perhatian terhadap lingkungan.
11. Menurunya aktivitas motorik berhubungan kurangnya
perhatian terhadap lingkungan.
12. Potensial
defisit cairan berhubungan dengan tidak mau merawat diri.
13. Gangguan
komonikasi verbal
14. Gangguan
interaksi sosial berhubungan dengan menarik diri
C. PERENCANAAN
1.
Bina hubungan saling percaya
2.
Bantu klien menguraikan kelebihan dan kekurangan
interpersonal.
3.
Bantu klien membina kembali hubungan interpersonal yang
positf / adaptif dan memberikan kepuasan timbal balik :
·
Beri penguatan dan kritikan yang positif
·
Jangan perhatikan klien saat
manipulatif/ekploratif,konfrontasi
·
Bertindak sebagai model peran, latih prilaku
·
Dengarkan semua kata-kata klien dan jangan
menyela saat klien bertanya.
·
Berikan penghargaan saat klien dapat berprilaku
yang positif
·
Hindari ketergantungan klien
·
Kembangkan hubungan terapeutik dengan klien
“bukan anda”, tetapi perilaku anda yang tidak dapat diterima.
4.
Perhatikan kebutuhan ADL klien
5.
Libatkan dalam kegiatan ruangan.
6.
Ciptakan lingkungan terapeutik
7.
Terapi somatic
8.
Libatkan keluarga/system pendukung untuk membantu
mengatasi masalah klien.
D. PELAKSANAAN
Pelaksanaan sesuai dengan rencana
keperawatan yang ada dan dilakukan di lapangan
E. EVALUASI
Klien mengadakan hubungan interpersonal
yang efektif, dapat bekerjasama dengan perawat dan keluarga, klien dapat
menggunakan sumber koping yang adekuat.
No comments:
Post a Comment