WHO AM I?

I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA POLTEKKES KEMENKES DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

Saturday, September 15, 2012

ASKEP EPILEPSI

Juniartha Semara Putra
ASKEP EPILEPSI


1.  Definisi
Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik.

2.  Etiologi
a.         Idiopatik : sebagian besar epilepsi pada anak adalah bersifat idiopatik
b.        Faktor herediter : ada beberapa penyakit herediter yang disertai bangkitan kejang  seperti sklerosis tuberosa, neurofibromatosis, angiomatosis ensefalotrigeminal, hipoparatiroidisme, dll
c.         Kelainan kongenital otak : atropi porensefali, agenesis korpus kalosum
d.        Gangguan metabolik : hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia
e.         Infeksi : radang yang disebabkan oleh bakteri atau virus pada otak dan selaputnya,  toksoplasmosis.
f.         Trauma : kontusio cerebri, hematoma subaraknoid, hematoma subdural.
g.        Neoplasma otak dan selaputnya
h.        Kelainan pembuluh darah : malformasi, penyakit kolagen
i.          Keracunan : timbal ( Pb ) kamper ( Kapur barus ), fenotiasin
j.          Lain – lain : gangguan keseimbangan hormon, degenerasi serebral,dll

3. Klasifikasi dan manifestasi Klinis

a.      Grandmal
Grandmal adalah jenis epilepsi yang sering ditemukan pada anak. Karateristiknya : umumnya ditandai dengan hilangnya kesadaran selama beberapa menit.
Gejala Klinik: Menjerit, hilang kesadaran, jatuh, gerakan tonis dan klonis, inkontenen.
b.      Petit mal
Biasanya terjadi pada anak dan remaja. Berkurang apabila anak sudah menginjak dewasa.
Karakteristiknya: gangguan disertai sedikit atau tanpa gerakan tonis terjadi tanpa isyarat, menghilang setelah beberapa jam setelah bangkit.
Gejala klinis: Mendadak, wajah diam disertai mata memandang lurus ke depan, semua kegiatan motorik berhenti kecuali kedip-kedip mata, kemungkinan hilang tonus otot, kesadaran kembali.

c.       Psikomotor
Psikomotor muncul pada semua umur.
Karakteristiknya:  mendadak hilang kesadaran, disertai kekacauan perasaan dan pikiran dan sebagian aktivitas motor yang dikoordinasi lebih lama dari petitmal.
Gejala klinisnya: berperilaku seperti setengah sadar, nampak seperti yang keracunan, dapat berbuat hal-hal anti sosial seperti: sombong berbuat keganasan, mengutuk diri sendiri bisa terjadi, nyeri dada, gangguan respiratory, gangguan gastrointestinal, inkontinen urine.
d.      Focal Jackson
Focal Jacson terjadi pada semua pasien penyakit struktur otak.
Karakteristik: tergantung pada lokasi fokus, bisa progresif atau tidak.
Gejala klinisnya: Pada umumnya dimulai pada tangan, kaki dan muka, diakhiri dengan seizure grandmal.
e.       Myoklonic
Myoklonic didahului dengan grandmal beberapa bulan atau tahun.
Karakteristik: bisa sangat sedikit bisa mendadak gerakan cepat dan kuat.
Gejala klinis: Kontrkasi kelompok otot tidak sadar yang mendadak biasanya ektermitas badan tidak hilang kesadaran.
f.       Akinetis
Akinetis adalah serangan kejang mendadak, tonus postural menghilang sebentar dan penderitanya merasa lemas sebelum menyadari atau pulih setelah tubuh atau lutut menyentuh tanah.
Karakteristiknya: kehilangan seluruh tonus yang aneh.
Gejala Klinis: orang jatuh dalam keadaan lemah, tidak sadar dalam beberapa menit.          

4. Patofisiologi.
Pengetahuan tentang neroanatomi dan nerofisiologi sangat penting untuk mengerti dasar gangguan pada epilepsi. Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus merupakan pusat pengirim pesan (impuls motorik). Permukaan otak dapat dibagi atas berbagai macam wawasan yang mempunyai tugas khusus seperti wawasan motorik, sensorik, kata-kata, pengecap, pendengaran, penglihatan, penghidu, pengertian dan wawasan penghubung. Antara wawasan sensorik, penglihatan, penghidu, pendengaran dan pengecapan terdapat hubungan satu dengan yang lain. Kawasan kawasan tersebut terdapat pada kedua belahan otak namun salah satu belahan akan lebih unggul dalam struktur dan fungsi (dominasi). Pada umumnya belahan otak kiri yang dominan tetapi pada orang kidal yang dominan belahan otak kanan. Konsep modern tentang impuls mengatakan bahwa impuls itu adalah aktifitas listrik saraf yang dibangkitkan oleh sebuah neuron. Konsep ini dicetuskan pertama kali oleh Jackson, yang kemudian dibuktikan oleh Hans Berger (1929) yang berhasil merekam aktifitas listrik saraf dengan alat yang dinamakan elektroensefalograf. Banyak penyelidikan yang telah dilakukan untuk menerangkan tentang masalah kelistrikan epilepsi antara lain oleh Herbert Jasper (Kanada), Lennox dan Gibbs (Amerika) antara tahun 1935 – 1945.Dari penyelidikan tersebut terungkap bahwa bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik saran di otak yang dinamakan fokus epileptogen,yang biasanya diketahui lokasinya tetapi tak selalu diketahui sifatnya.Epilepsi yang tak diketahui sifat pencetusnya dinamakan epilepsi idiopatik, sedangkan yang dikenal sifat pencetusnya dinamakan epilepsi simtomatik. Setiap jenis epilepsi dapat di ketahui fokus epileptogennya, umpama epilepsi grand malidiopatik fokus terletak di daerah talamus (nuclei intralaminares atau inti sentrensefalik), epilepsi petit mal di substansia retikularis, epilepsi parsial di salah satu tempat di permukaan otak.Pada hakekatnya tugas neron ialah menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik sarafi. Otak ialah rangkaian berjuta-juta neron yang berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps.Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan nerotransmiter.Acetylcholine dan norepinerprine ialah nerotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA (gama amino butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik sarafi dalam sinaps.Pada epilepsi yang simtomatik fokus epileptogennya dapat berupa jaringan parut bekas trauma kepala, trauma lahir,pembedahan, infeksi selaput dan jaringan otak dan dapat pula neoplasma jinak dan ganas. Pada fokus tersebut tertimbun acetylcholine cukup banyak.DarI fokus ini aktivitas listrik akan menyebar melalui dendrit dan sinaps ke neron-neron di sekitarnya dan demikian seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat umpamanya kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar ke bagiantubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran.Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi,aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum yang disertai penurunan kesadaran.Pada epilepsi idiopatik dengan fokus epileptogen pada talamus (grand mal) atau substansia retikularis (petit mal) oleh suatu mekanisme yang belum diketahui, fokus-fokus tersebut dapat mengalami lepas muatan listrik berlebih. Bila lepas muatan listrik ini tak diteruskan ke korteks serebri tidak terjadi kejang, hanya kehilangan kesadaran seperti pada petit mat.Sedangkan bila aktivitas listrik ini dapat mencapai seluruh permukaan otak terlihat kejang umum dengan gangguan kesadaran Pada orang tertentu dengan faktor keturunan didapatkan gangguan metabolisme asam glutamat yang dalam tubuh diubah menjadi GABA, sehingga GABA tak terbentuk atau terbentuk dalam jumlah sedikit sekali. Orang ini cendrung untuk mendapat serangan epilepsi

5. Komplikasi
            a. Status epileptikus
            b. Sudden death (kematian)
            c. Gangguan perilaku dan emosional
            d. Gangguan fungsi/kerusakan otak

6. Pemeriksaan Penunjang.
a.       EEG.: ini merupakan pemeriksaan penunjang yang informatif yang dapat                                memastikan diagnosis epilepsi.Berikut beberapa gambaran hasil pemeriksaan EEG pada   penderita epilepsi :
b. CT-Scan. : pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi adanya infark, hematoma, tumor, hidrosepalus,dll
b.      Foto rontgen kepala. : bertujuan untuk mendeteksi adanya fraktur tulang tengkorak , dll
c.       Pemeriksaan Laboratorium dilakukan sesuai indikasi untuk memastikan adanya kelainan sistemik seperti hipoglikemia,hiponatremia, uremia , dll.

7.    Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan pada epilepsi adalah  mencegah timbulnya sawan tanpa menggagu kapasitas fisik dan intelektual pasien. Pengobatan epilepsi meliputi pengobatan medikamentosa dan pengobatan psikososial

a. Pengobatan medikamentosa
            Pada pengobatan epilepsi dipergunakan patokan berikut :
 1. Pilihlah obat sesuai dengan jenis epilepsinya.
 2. Selalu dimulai dengan satu macam obat dengan dosis yang berangsur-angsur  
               dinaikkan sampai serangan teratasi atau tercapai dosis toksis. Bila dengan dosis
   optimal serangan belum teratasi maka dapat dimulai dengan dosis yang juga
    berangsur-angsur dinaikkan.
3. Setelah kejang teratasi obat harus diberikan sampai 2 – 3 tahun bebas serangan.
4. Penghentian obat epilepsi harus secara perlahan-lahan.
5. Kalau fasilitas memungkinkan kadar obat dalam darah harus ditentukan.


              Pilihan obat sesuai dengan jenis epilepsinya :

1. Grand mal : Phenobarbital, dlantin, mysolin, tegretol, mephenytoin (mesantoin), 
                mephobarbital, bromide, Na-valproat.
2. Petit mal : Ethosuximide, Na-valproat, clonazepam, trimethadione, paramethadione, acetazolamide.
3. Lob. Temporalis : Tegretol, diantin, primidon, phenobarbital, mephobarbital,  
    phenacemid.
4. Minor motor : Clonazepam, diazepam, mysoline, Na-valproat, ketogenik diet.
5. Fokal : Dilantin, mysoline, luminal.
6. Spasme infantil : ACTH, mogadon, kotikosteroid

       b. Aspek Psiko Sosial

        Pengobatan epilepsi berlangsung lama dan terus menerus sehingga tak jarang orang tua lalai dan bosan kemudian menghentikan pengobatan mengakibatkan anak mendapat serangan kembali. Disamping itu efek samping obat baik yang berhubungan dengan dosis maupun pemakaian yang lama sering menghawatirkan orang tua. Pada pemakaian luminal misalnya tak jarang terlihat anak hiperaktip dan nakal.Enam puluh persen dari semua kasus epilepsi bermanifestasi pada masa kanak-kanak, sehingga anak selain mendapat serangan epilepsi juga menderita gangguan pertumbuhan dan mental. Kadang-kadang orang tua memberikan perlindungan berlebihan pada anak, dilarang bermain dengan kawannya karena takut mendapat kecelakaan atau cemohan. Hal ini menyebabkan anak terpencil dari lingkungannya. Untuk dapat berhasilnya pengobatan epilepsi perlu kerjasama yang baik dari orang tua dan masyarakat.

8. Pengkajian Keperawatan
a. Data Subyektif :
Ø  Pasien mengeluh punya riwayat kejang – kejang baik hanya sebagian atau seluruh tubuh yang bersifat kambuh – kambuhan
Ø  Sakitnya kambuh bila banyak fikiran, bila kepanasan
Ø  Saat kejang mulut keluar buih berwarna keputihan
Ø  Keluarga mengatakan bahwa salah satu anggotanya tersebut bahkan sampai tidak sadarkan diri bila penyakitnya kambuh
Ø  Badan lemas, sakit  dan terasa kesemutan setelah serangan
Ø  Sakit kepala  setelah serangan
Ø  Kepala pusing
Ø  Bosan minum obat, merasa  diri tidak berharga
b.  Data Obyektif
Ø   Sebagian atau seluruh badan klien tampak kaku saat serangan
Ø   Dari mulut tampak keluar buih yang berwarna keputihan
Ø  Klien tampak sadar / tidak sadar
Ø  Klien tampak lemas
Ø  Klien berbicara tidak jelas
Ø  Klien tampak berkeringat
Ø  Terjadi peningkatan Nadi dan frekensi nafas
Ø  Aktivitas  klien tampak terhenti mendadak

9.    Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien epilepsi adalah :
1.        Kerusakan mobilitas fisik  b.d paralisis akibat hipoksia, iskemia jaringan otak akibat kejang yang lama dan berulang d.d. hemiparesis spastik dan rigid
2.        Defisit perawatan diri b.d. imobilisasi fisik akibat paralisis d.d. segala aktivitas sehari-harinya dibantu.
3.        Kerusakan integritas jaringan b.d. iskemia jaringan akibat imobilisasi fisik, tekanan, gesekan dan kelembaban berlebih pada area di bawah tulang dan gangguan perfusi jaringan kulit d.d. adanya ulkus dekubitus.
4.        Manajemen rejimen terapiutik tidak efektif b.d kelemahan, ketidakberdayaan, defisit pengetahuan d/d
5.        Risti infeksi b.d. ulkus dekubitus dan nekrosis jaringan.

10.    Rencana Perawatan

1. Dx 1

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan mobilitas fisik tidak terganggu dengan kriteria hasil : tidak terdapat hemiparesis spastik dan rigid
Intervensi dan rasional
·         Bantu pasien untuk melakukan rentang gerak
Rasional : mempertahankan mobilitas dan fungsi sendi
·         Ubah posisi pasien secara teratur
Rasional : untuk menghindari kerusakan karena tekanan
·         Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab
Rasional : meningkatkan sirkulaasi dan elastisitas kulit


·         Kolaborasi dengan ahli fisioterapi secara aktif
Rasional : program khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang terjadi
2. Dx 2
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan perawatan diri terpenuhi dengan kriteria hasil klien dapat melakukan perawatan diri sesuai kemampuannya, mendapatkan bantuan minimal
Intervensi dan rasional
  • Kaji kemampuan dalam melakukan kebutuhan sehari – hari
Rasional : membantu dalam merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual
  • Berikan bantuan sesuai kebutuhan
Rasional : untuk memenuhi kebutuhan yanag tidak bisa dilakukan pasien
  • Berikan umpan balik positif untuk usaha yang dilakukan
Rasional : meningkatkan perasaan makna diri, meningkatkan kemandirian
  • Kolaborasi dengan ahli fisioterapi
Rasional : memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi

     3. Dx 3
    Tujuan :  Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan  terjadi peningkatan integritas kulit dengan kriteria hasil penyembuhan luka terjadi tepat waktu
Intervensi dan Rasional
  • Kaji ukuran, kedalaman luka, perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi disekitar luka
Membeikan informasi dasar tentang kebutuhan penampilan kulit
  • Berikan perawatan luka yang tepat dan tindakan kontrol infeksi
Rasional : menyiapkan perbaikan jaringan dan menurunkan risiko infeksi
  • Masase kulit, pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan
Rasional : menurunkan tekanan pada area yang peka dan mencegah perluasan luka
  • Ubah posisi sesering mungkin
Rasional ; Meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit
  • Kolaborasi pemberian antibiotik
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi





     4.  Dx 4
   Tujuan :  Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 30 mnt diharapkan penatalaksanaan th/ efektif, dengan kriteri hasil : pasien / klg mengatakan tahu tentang perlunya pengobatan ,tempat, serta mau melakukannya. Pasien dapat mengidentifikasi faktor – faktor pencetus serangan dan mampu menghindarinya.
     Intervensi dan rasional
  • Kaji faktor penyebabnya
Rasional : Untuk bisa menetukan jenis bantuan yang perlu diberikan
  • Beri H.E tentang faktor- faktor pedisposisi / presipitasi serangan pada epilepsi, perlunya pengobatan yang teraur pada epilepsi
Rasional : agar pasien tahu tentang faktor – faktor yang dapat memicu timbulnya serangan pada penyakit epilepsi
  • Bersama – sama pasien dan klg menggali faktor yang menjadi pencetus serangannya
Rasional : agar pasien tahu tentang faktor – faktor yang dapat memicu timbulnya serangan pada dirinya sendiri
  •  Menyarankan pada pasien sedapat mungkin menghindari faktor – faktor pencetus serangannya itu.
Rasional : agar dapat meminimalkan frekwensi serangan
DAFTAR PUSTAKA



Arif Masjoer ,Kapita Selekta kedokteran edisi III, 2000, Media Aescuapius, Jakarta
Brunner dan Sudarth. ”Keperawatan Medikal Bedah” Edisi 8, Vol 3. Jakarta.
E.Sukardi, Neuroanatomi medica,FK UI,1984, Jakarta
LYNDA JUALL Carpenito,Buku Saku Diagnosa Keperawatan, 2001,edisi 8 EGC, Jakarta
Marllyn E. Doenges.1999. “Rencana Asuhan keperawatan” . Jakarta.




































































No comments: