Juniartha Semara Putra
DAFTAR
PUSTAKA
ASKEP EPILEPSI
1. Definisi
Epilepsi
adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri
timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik
neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik.
2. Etiologi
a.
Idiopatik
: sebagian besar epilepsi pada anak adalah bersifat idiopatik
b.
Faktor
herediter : ada beberapa penyakit herediter yang disertai bangkitan kejang seperti sklerosis tuberosa, neurofibromatosis,
angiomatosis ensefalotrigeminal, hipoparatiroidisme, dll
c.
Kelainan
kongenital otak : atropi porensefali, agenesis korpus kalosum
d.
Gangguan
metabolik : hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia
e.
Infeksi
: radang yang disebabkan oleh bakteri atau virus pada otak dan selaputnya, toksoplasmosis.
f.
Trauma
: kontusio cerebri, hematoma subaraknoid, hematoma subdural.
g.
Neoplasma
otak dan selaputnya
h.
Kelainan
pembuluh darah : malformasi, penyakit kolagen
i.
Keracunan
: timbal ( Pb ) kamper ( Kapur barus ), fenotiasin
j.
Lain
– lain : gangguan keseimbangan hormon, degenerasi serebral,dll
3. Klasifikasi
dan manifestasi Klinis
a.
Grandmal
Grandmal adalah jenis epilepsi
yang sering ditemukan pada anak. Karateristiknya : umumnya ditandai dengan
hilangnya kesadaran selama beberapa menit.
Gejala Klinik: Menjerit,
hilang kesadaran, jatuh, gerakan tonis dan klonis, inkontenen.
b.
Petit mal
Biasanya terjadi pada anak dan
remaja. Berkurang apabila anak sudah menginjak dewasa.
Karakteristiknya: gangguan
disertai sedikit atau tanpa gerakan tonis terjadi tanpa isyarat, menghilang
setelah beberapa jam setelah bangkit.
Gejala klinis: Mendadak, wajah
diam disertai mata memandang lurus ke depan, semua kegiatan motorik berhenti
kecuali kedip-kedip mata, kemungkinan hilang tonus otot, kesadaran kembali.
c.
Psikomotor
Psikomotor muncul pada semua
umur.
Karakteristiknya: mendadak hilang kesadaran, disertai kekacauan
perasaan dan pikiran dan sebagian aktivitas motor yang dikoordinasi lebih lama
dari petitmal.
Gejala klinisnya: berperilaku
seperti setengah sadar, nampak seperti yang keracunan, dapat berbuat hal-hal
anti sosial seperti: sombong berbuat keganasan, mengutuk diri sendiri bisa
terjadi, nyeri dada, gangguan respiratory, gangguan gastrointestinal,
inkontinen urine.
d.
Focal Jackson
Focal Jacson terjadi pada
semua pasien penyakit struktur otak.
Karakteristik: tergantung pada
lokasi fokus, bisa progresif atau tidak.
Gejala klinisnya: Pada umumnya
dimulai pada tangan, kaki dan muka, diakhiri dengan seizure grandmal.
e.
Myoklonic
Myoklonic didahului dengan
grandmal beberapa bulan atau tahun.
Karakteristik: bisa sangat
sedikit bisa mendadak gerakan cepat dan kuat.
Gejala klinis: Kontrkasi
kelompok otot tidak sadar yang mendadak biasanya ektermitas badan tidak hilang
kesadaran.
f.
Akinetis
Akinetis adalah serangan
kejang mendadak, tonus postural menghilang sebentar dan penderitanya merasa
lemas sebelum menyadari atau pulih setelah tubuh atau lutut menyentuh tanah.
Karakteristiknya: kehilangan
seluruh tonus yang aneh.
Gejala Klinis: orang jatuh
dalam keadaan lemah, tidak sadar dalam beberapa menit.
4. Patofisiologi.
Pengetahuan tentang neroanatomi dan nerofisiologi sangat penting untuk
mengerti dasar gangguan pada epilepsi. Otak merupakan pusat penerima pesan
(impuls sensorik) dan sekaligus merupakan pusat pengirim pesan (impuls motorik).
Permukaan otak dapat dibagi atas berbagai macam wawasan yang mempunyai tugas
khusus seperti wawasan motorik, sensorik, kata-kata, pengecap, pendengaran,
penglihatan, penghidu, pengertian dan wawasan penghubung. Antara wawasan
sensorik, penglihatan, penghidu, pendengaran dan pengecapan terdapat hubungan
satu dengan yang lain. Kawasan kawasan tersebut terdapat pada kedua belahan
otak namun salah satu belahan akan lebih unggul dalam struktur dan fungsi
(dominasi). Pada umumnya belahan otak kiri yang dominan tetapi pada orang kidal
yang dominan belahan otak kanan. Konsep modern tentang impuls mengatakan bahwa
impuls itu adalah aktifitas listrik saraf yang dibangkitkan oleh sebuah neuron.
Konsep ini dicetuskan pertama kali oleh Jackson, yang kemudian dibuktikan oleh
Hans Berger (1929) yang berhasil merekam aktifitas listrik saraf dengan alat
yang dinamakan elektroensefalograf. Banyak penyelidikan yang telah dilakukan
untuk menerangkan tentang masalah kelistrikan epilepsi antara lain oleh Herbert
Jasper (Kanada), Lennox dan Gibbs (Amerika) antara tahun 1935 – 1945.Dari penyelidikan tersebut
terungkap bahwa bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik
saran di otak yang dinamakan fokus epileptogen,yang biasanya diketahui
lokasinya tetapi tak selalu diketahui sifatnya.Epilepsi yang tak diketahui
sifat pencetusnya dinamakan epilepsi idiopatik, sedangkan yang dikenal sifat
pencetusnya dinamakan epilepsi simtomatik. Setiap jenis epilepsi dapat di
ketahui fokus epileptogennya, umpama epilepsi grand malidiopatik fokus terletak
di daerah talamus (nuclei intralaminares atau inti
sentrensefalik), epilepsi petit mal di substansia retikularis, epilepsi parsial
di salah satu tempat di permukaan otak.Pada hakekatnya tugas neron ialah
menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik sarafi. Otak ialah rangkaian
berjuta-juta neron yang berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps.Dalam
sinaps terdapat zat yang dinamakan nerotransmiter.Acetylcholine dan
norepinerprine ialah nerotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA
(gama amino butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas
listrik sarafi dalam sinaps.Pada epilepsi yang simtomatik fokus epileptogennya
dapat berupa jaringan parut bekas trauma kepala, trauma lahir,pembedahan,
infeksi selaput dan jaringan otak dan dapat pula neoplasma jinak dan ganas.
Pada fokus tersebut tertimbun acetylcholine cukup banyak.DarI fokus ini aktivitas listrik akan menyebar
melalui dendrit dan sinaps ke neron-neron di sekitarnya dan demikian seterusnya
sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih
(depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat umpamanya kejang yang
mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar ke bagiantubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa
disertai hilangnya kesadaran.Dari belahan hemisfer yang mengalami
depolarisasi,aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis dan inti
pada talamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak
yang lain dan dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum yang
disertai penurunan kesadaran.Pada epilepsi idiopatik dengan fokus epileptogen
pada talamus (grand mal) atau substansia retikularis (petit mal) oleh suatu
mekanisme yang belum diketahui, fokus-fokus tersebut dapat mengalami lepas
muatan listrik berlebih. Bila lepas muatan listrik ini tak diteruskan ke
korteks serebri tidak terjadi kejang, hanya kehilangan kesadaran seperti pada
petit mat.Sedangkan bila aktivitas listrik ini dapat mencapai seluruh permukaan
otak terlihat kejang umum dengan gangguan kesadaran Pada orang tertentu dengan
faktor keturunan didapatkan gangguan metabolisme asam glutamat yang dalam tubuh
diubah menjadi GABA, sehingga GABA tak terbentuk atau terbentuk dalam jumlah
sedikit sekali. Orang ini cendrung untuk mendapat serangan epilepsi
5. Komplikasi
a. Status epileptikus
b.
Sudden death (kematian)
c.
Gangguan perilaku dan emosional
d.
Gangguan fungsi/kerusakan otak
6. Pemeriksaan Penunjang.
a. EEG.: ini merupakan pemeriksaan penunjang
yang informatif yang dapat memastikan
diagnosis epilepsi.Berikut beberapa gambaran hasil pemeriksaan EEG pada penderita epilepsi :
b. CT-Scan.
: pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi adanya infark, hematoma, tumor, hidrosepalus,dll
b. Foto rontgen kepala. : bertujuan untuk
mendeteksi adanya fraktur tulang tengkorak , dll
c. Pemeriksaan Laboratorium dilakukan sesuai
indikasi untuk memastikan adanya kelainan sistemik seperti
hipoglikemia,hiponatremia, uremia , dll.
7.
Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan pada
epilepsi adalah mencegah timbulnya sawan
tanpa menggagu kapasitas fisik dan intelektual pasien. Pengobatan epilepsi
meliputi pengobatan medikamentosa dan pengobatan psikososial
a. Pengobatan medikamentosa
Pada pengobatan epilepsi dipergunakan patokan
berikut :
1. Pilihlah obat sesuai dengan jenis
epilepsinya.
2. Selalu dimulai dengan satu macam obat
dengan dosis yang berangsur-angsur
dinaikkan sampai serangan
teratasi atau tercapai dosis toksis. Bila dengan dosis
berangsur-angsur dinaikkan.
3.
Setelah kejang teratasi obat harus diberikan sampai 2 – 3 tahun bebas serangan.
4.
Penghentian obat epilepsi harus secara perlahan-lahan.
5.
Kalau fasilitas memungkinkan kadar obat dalam darah harus ditentukan.
Pilihan
obat sesuai dengan jenis epilepsinya :
1. Grand mal :
Phenobarbital, dlantin, mysolin, tegretol, mephenytoin (mesantoin),
mephobarbital, bromide,
Na-valproat.
2. Petit mal : Ethosuximide, Na-valproat, clonazepam, trimethadione,
paramethadione, acetazolamide.
3. Lob. Temporalis :
Tegretol, diantin, primidon, phenobarbital, mephobarbital,
phenacemid.
4. Minor motor :
Clonazepam, diazepam, mysoline, Na-valproat, ketogenik diet.
5. Fokal : Dilantin,
mysoline, luminal.
6. Spasme infantil : ACTH,
mogadon, kotikosteroid
b. Aspek Psiko Sosial
Pengobatan epilepsi berlangsung lama dan terus menerus sehingga tak
jarang orang tua lalai dan bosan kemudian menghentikan pengobatan mengakibatkan
anak mendapat serangan kembali. Disamping itu efek samping obat baik yang
berhubungan dengan dosis maupun pemakaian yang lama sering menghawatirkan orang
tua. Pada pemakaian luminal misalnya tak jarang terlihat anak hiperaktip dan
nakal.Enam puluh persen dari semua kasus epilepsi bermanifestasi pada masa
kanak-kanak, sehingga anak selain mendapat serangan epilepsi juga menderita
gangguan pertumbuhan dan mental. Kadang-kadang orang tua memberikan perlindungan
berlebihan pada anak, dilarang bermain dengan kawannya karena takut mendapat
kecelakaan atau cemohan. Hal ini menyebabkan anak terpencil dari lingkungannya.
Untuk dapat berhasilnya pengobatan epilepsi perlu kerjasama yang baik dari
orang tua dan masyarakat.
8. Pengkajian Keperawatan
a. Data Subyektif :
Ø Pasien mengeluh punya riwayat kejang –
kejang baik hanya sebagian atau seluruh tubuh yang bersifat kambuh – kambuhan
Ø Sakitnya kambuh bila banyak fikiran, bila
kepanasan
Ø Saat kejang mulut keluar buih berwarna
keputihan
Ø Keluarga mengatakan bahwa salah satu
anggotanya tersebut bahkan sampai tidak sadarkan diri bila penyakitnya kambuh
Ø Badan lemas, sakit dan terasa kesemutan setelah serangan
Ø Sakit kepala setelah serangan
Ø Kepala pusing
Ø Bosan minum obat, merasa diri tidak berharga
b.
Data Obyektif
Ø Sebagian atau seluruh badan klien tampak kaku saat
serangan
Ø Dari mulut tampak keluar buih yang berwarna
keputihan
Ø Klien tampak sadar / tidak sadar
Ø Klien tampak lemas
Ø Klien berbicara tidak jelas
Ø Klien tampak berkeringat
Ø Terjadi peningkatan Nadi dan frekensi
nafas
Ø Aktivitas
klien tampak terhenti mendadak
9.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan yang mungkin muncul pada pasien epilepsi adalah :
1.
Kerusakan
mobilitas fisik b.d paralisis akibat
hipoksia, iskemia jaringan otak akibat kejang yang lama dan berulang d.d. hemiparesis
spastik dan rigid
2.
Defisit
perawatan diri b.d. imobilisasi fisik akibat paralisis d.d. segala aktivitas
sehari-harinya dibantu.
3.
Kerusakan
integritas jaringan b.d. iskemia jaringan akibat imobilisasi fisik, tekanan,
gesekan dan kelembaban berlebih pada area di bawah tulang dan gangguan perfusi
jaringan kulit d.d. adanya ulkus dekubitus.
4.
Manajemen
rejimen terapiutik tidak efektif b.d kelemahan, ketidakberdayaan, defisit
pengetahuan d/d
5.
Risti
infeksi b.d. ulkus dekubitus dan nekrosis jaringan.
10. Rencana Perawatan
1. Dx 1
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam diharapkan mobilitas fisik tidak terganggu dengan kriteria
hasil : tidak terdapat hemiparesis spastik dan rigid
Intervensi dan rasional
·
Bantu
pasien untuk melakukan rentang gerak
Rasional : mempertahankan mobilitas dan fungsi
sendi
·
Ubah
posisi pasien secara teratur
Rasional : untuk menghindari kerusakan karena
tekanan
·
Berikan
perawatan kulit, masase dengan pelembab
Rasional : meningkatkan sirkulaasi dan elastisitas
kulit
·
Kolaborasi
dengan ahli fisioterapi secara aktif
Rasional : program khusus dapat dikembangkan untuk
menemukan kebutuhan yang terjadi
2. Dx 2
Tujuan : setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan perawatan diri
terpenuhi dengan kriteria hasil klien dapat melakukan perawatan diri sesuai
kemampuannya, mendapatkan bantuan minimal
Intervensi dan rasional
- Kaji
kemampuan dalam melakukan kebutuhan sehari – hari
Rasional : membantu
dalam merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual
- Berikan
bantuan sesuai kebutuhan
Rasional : untuk memenuhi kebutuhan yanag
tidak bisa dilakukan pasien
- Berikan
umpan balik positif untuk usaha yang dilakukan
Rasional : meningkatkan perasaan makna
diri, meningkatkan kemandirian
- Kolaborasi
dengan ahli fisioterapi
Rasional : memberikan bantuan yang mantap
untuk mengembangkan rencana terapi
3. Dx 3
Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan selama
3 x 24 jam diharapkan terjadi peningkatan
integritas kulit dengan kriteria hasil penyembuhan luka terjadi tepat waktu
Intervensi dan Rasional
- Kaji
ukuran, kedalaman luka, perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi disekitar
luka
Membeikan informasi dasar tentang
kebutuhan penampilan kulit
- Berikan
perawatan luka yang tepat dan tindakan kontrol infeksi
Rasional : menyiapkan perbaikan jaringan dan
menurunkan risiko infeksi
- Masase
kulit, pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan
Rasional : menurunkan tekanan pada area yang
peka dan mencegah perluasan luka
- Ubah
posisi sesering mungkin
Rasional ; Meningkatkan sirkulasi dan
perfusi kulit
- Kolaborasi
pemberian antibiotik
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi
4. Dx 4
Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan selama
30 mnt diharapkan penatalaksanaan th/ efektif, dengan kriteri hasil : pasien /
klg mengatakan tahu tentang perlunya pengobatan ,tempat, serta mau
melakukannya. Pasien dapat mengidentifikasi faktor – faktor pencetus serangan
dan mampu menghindarinya.
Intervensi
dan rasional
- Kaji
faktor penyebabnya
Rasional : Untuk
bisa menetukan jenis bantuan yang perlu diberikan
- Beri H.E
tentang faktor- faktor pedisposisi / presipitasi serangan pada epilepsi,
perlunya pengobatan yang teraur pada epilepsi
Rasional : agar
pasien tahu tentang faktor – faktor yang dapat memicu timbulnya serangan pada
penyakit epilepsi
- Bersama –
sama pasien dan klg menggali faktor yang menjadi pencetus serangannya
Rasional : agar
pasien tahu tentang faktor – faktor yang dapat memicu timbulnya serangan pada
dirinya sendiri
- Menyarankan pada pasien sedapat mungkin
menghindari faktor – faktor pencetus serangannya itu.
Rasional : agar
dapat meminimalkan frekwensi serangan
DAFTAR
PUSTAKA
Arif Masjoer ,Kapita
Selekta kedokteran edisi III, 2000, Media Aescuapius, Jakarta
Brunner dan Sudarth. ”Keperawatan Medikal Bedah” Edisi 8, Vol 3. Jakarta.
E.Sukardi,
Neuroanatomi medica,FK UI,1984, Jakarta
LYNDA JUALL Carpenito,Buku Saku Diagnosa
Keperawatan, 2001,edisi 8 EGC, Jakarta
Marllyn E. Doenges.1999. “Rencana Asuhan keperawatan” . Jakarta.
No comments:
Post a Comment