Juniartha Semara Putra
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN
STROKE
(CVA)
A. KONSEP
DASAR PENYAKIT
- DEFINISI STROKE (CEDERA SEREBROSPINAL)
Stroke atau cedera serebrospinal (CVA),
adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplay darah ke
bagian otak. Sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskular selama
beberapa tahun.
Stroke merupakan sindrom klinis dengan gejala
gangguan fungsi otak secara fokal dan atau global yang berlangsung 24 jam atau
lebih yang dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan yang menetap lebih dari
24 jam tanpa penyebab lain kecuali gangguan pembuluh darah otak (WHO, 1983)
Stroke diklasifikasikan berdasarkan keadaan
patologisnya dibagi menjadi stroke iskemia dan stroke haemoragic. Stroke
iskemia terjadi karena obstruksi total/sebagian pembuluh darah otak, disebabkan
karena thrombosis, emboli, dan hypoperfusi global. Stroke haemoragic terjadi
karena perdarahan subarachnoid, pecahnya pembuluh darah otak tertentu.
Berdasarkan perjalanan penyakitnya, stroke
dibagi menjadi TIA (timbul tiba-tiba dan menghilang beberapa menit/jam),
stroke in evolution (proses progresif beberapa jam sampai hari), dan stroke
complete (permanen sejak awal serangan dan sedikit adanya perbaikan)
- EPIDEMIOLOGI STROKE
Stroke adalah penyebab utama kecacatan pada
orang dewasa. Empat juga orang Amerika mengalami defisit neurologik akibat
stroke, dua per tiga dari defisit ini bersifat sedang sampai parah (National
Stroke Association,2001). Kemungkinan meninggal akibat stroke inisial adalah
30% sampai 35%, dan kemungkinan kecacatan mayor pada yang selamat adalah 35%
sampai 40% (Wolf et al., 2000). Sekitar sepertiga dari semua pasien yang
selamat dari stroke akan mengalami stroke berikutnya dalam 5 tahun, 5% sampai
14% dari mereka akan mengalami stroke ulangan dalam tahun pertama.
Sampai tahun 2001, laporan tentang insiden
stroke hanya mencakup stroke simtomatik, walaupun stroke “silent” diperkirakan
5 sampai 20 kali lebih sering terjadi, menurut para peneliti di University of
California di Los Angeles (Leary Saver, 2001). Berprevalensi stroke silent,
maka para peneliti tersebut memperkirakan bahwa insiden per tahun stroke silent
adalah lebih dari 11 juta orang.
- ETIOLOGI
Menurut
Smeltzer (2001) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari
empat kejadian yaitu:
empat kejadian yaitu:
a. Trombosis serebral
Arteriosklerosis
serebral dan perlambatan sirkulasi serebral adalah penyebab utama trombosis
serebral, yang merupakan penyebab paling umum dari stroke. Tanda-tanda
trombosis serebral bervariasi. Sakit kepala adalah awitan yang tidak umum.
Beberapa pasien dapat mengalami pusing, perubahan kognitif, atau kejang, dan
beberapa mengalami awitan yang tidak dapat dibedakan dari haemorrhagi
intracerebral atau embolisme serebral. Secara umum, trombosis serebral tidak
terjadi dengan tiba-tiba, dan kehilangan bicara sementara, hemiplegia, atau
parestesia pada setengah tubuh dapat mendahului awitan paralisis berat pada
beberapa jam atau hari.
b. Embolisme serebral
Embolus
biasanya menyumbat arteri serebral tengah atau cabang - cabangnya, yang merusak
sirkulasi serebral. Awitan hemiparesis atau hemiplegia tiba-tiba dengan afasia
atau tanpa afasia atau kehilangan kesadaran pada pasien dengan penyakit jantung
atau pulmonal adalah karakteristik dari embolisme serebral.
c. Iskemia serebral
Iskemia
serebral (insufisiensi suplai darah ke otak) terutama karena konstriksi ateroma
pada arteri yang menyuplai darah ke otak.
d. Haemorrhagi serebral
1) Haemorrhagi
ekstradural (haemorrhagi epidural) adalah kedaruratan
bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. Keadaan ini biasanya
mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri tengah arteri
meninges lain, dan pasien harus diatasi dalam beberapa jam cedera
untuk mempertahankan hidup.
bedah neuro yang memerlukan perawatan segera. Keadaan ini biasanya
mengikuti fraktur tengkorak dengan robekan arteri tengah arteri
meninges lain, dan pasien harus diatasi dalam beberapa jam cedera
untuk mempertahankan hidup.
2) Haemorrhagi
subdural pada dasarnya sama dengan haemorrhagi epidural,
kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek.
Karenanya periode pembentukan hematoma lebih lama dan
menyebabkan tekanan pada otak. Beberapa pasien mungkin
mengalami haemorrhagi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda atau
gejala.
kecuali bahwa hematoma subdural biasanya jembatan vena robek.
Karenanya periode pembentukan hematoma lebih lama dan
menyebabkan tekanan pada otak. Beberapa pasien mungkin
mengalami haemorrhagi subdural kronik tanpa menunjukkan tanda atau
gejala.
3) Haemorrhagi
subarakhnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau
hipertensi, tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisme
pada area sirkulus Willisi dan malformasi arteri vena kongenital pada
otak.
hipertensi, tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran aneurisme
pada area sirkulus Willisi dan malformasi arteri vena kongenital pada
otak.
4) Haemorrhagi
intracerebral adalah perdarahan di substansi dalam otak paling umum pada pasien
dengan hipertensi dan aterosklerosis serebral, karena perubahan degeneratif
karena penyakit ini biasanya menyebabkan rupture pembuluh darah. Biasanya
awitan tiba-tiba, dengan sakit kepala berat. Bila haemorrhagi membesar, makin
jelas deficit neurologik yang terjadi dalam bentuk penurunan kesadaran dan
abnormalitas pada tanda vital.
Penyebab
– penyebab peningkatan Tekanan Intrakranial antara lain :
1. Tumor primer atau metastasis
2. Hemoragia otak
3. Hematoma subdural
4. Abses otak
5. Hidrosefalus akut
6. Nekrosis otak yang diinduksi oleh radiasi
- FAKTOR RESIKO PADA STROKE
a.
Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko
stroke yang potensial. Hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun
menyempitnya pembuluh darah otak. Apabila pembuluh darah otak pecah maka timbullah
perdarahan otak dan apabila pembuluh darah otak menyempit maka aliran darah ke
otak akan terganggu dan sel – sel otak akan mengalami kematian.
b.
Diabetes
Mellitus
Diabetes Mellitus mampu menebalkan
dinding pembuluh darah otak yang berukuran besar. Menebalnya dinding pembuluh
darah otak akan
menyempitkan diameter pembuluh darah tadi dan penyempitan tersebut
kemudian akan mengganggu kelancaran aliran ke otak, yang pada akhirnya akan menyebabkan infark sel – sel otak.
menyempitkan diameter pembuluh darah tadi dan penyempitan tersebut
kemudian akan mengganggu kelancaran aliran ke otak, yang pada akhirnya akan menyebabkan infark sel – sel otak.
c.
Penyakit
Jantung
Berbagai penyakit jantung berpotensi
untuk menimbulkan stroke. Faktor risiko ini akan menimbulkan hambatan/sumbatan
aliran darah ke otak karena
jantung melepas gumpalan darah atau sel – sel/jaringan yang telah mati ke
dalam aliran darah.
jantung melepas gumpalan darah atau sel – sel/jaringan yang telah mati ke
dalam aliran darah.
d.
Gangguan
Aliran Darah Otak Sepintas
Pada umumnya bentuk – bentuk gejalanya
adalah sebagai berikut :
Hemiparesis, disartri, kelumpuhan otot – otot mulut atau pipi (perot), kebutaan mendadak, hemiparestesi dan afasia.
Hemiparesis, disartri, kelumpuhan otot – otot mulut atau pipi (perot), kebutaan mendadak, hemiparestesi dan afasia.
e.
Hiperkolesterolemi
Meningginya angka kolesterol dalam
darah, terutama low density lipoprotein
(LDL), merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya arteriosklerosis
(menebalnya dinding pembuluh darah yang kemudian diikuti penurunan
elastisitas pembuluh darah). Peningkatan kad ar LDL dan penurunan kadar
HDL (High Density Lipoprotein) merupakan faktor risiko untuk terjadinya
penyakit jantung koroner.
(LDL), merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya arteriosklerosis
(menebalnya dinding pembuluh darah yang kemudian diikuti penurunan
elastisitas pembuluh darah). Peningkatan kad ar LDL dan penurunan kadar
HDL (High Density Lipoprotein) merupakan faktor risiko untuk terjadinya
penyakit jantung koroner.
f.
Infeksi
Penyakit infeksi yang mampu berperan
sebagai faktor risiko stroke adalah
tuberkulosis, malaria, lues, leptospirosis, dan in feksi cacing.
tuberkulosis, malaria, lues, leptospirosis, dan in feksi cacing.
g.
Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko
terjadinya penyakit jantung.
h.
Merokok
Merokok merupakan faktor risiko utama
untuk terjadinya infark jantung.
i.
Kelainan
pembuluh darah otak
Pembuluh darah otak yang tidak normal
suatu saat akan pecah dan
menimbulkan perdarahan.
menimbulkan perdarahan.
j. Peningkatan
hematokrit ( resiko infark serebral)
k. Kontrasepasi
oral( khususnya dengan disertai hipertensi, merokok, dan kadar estrogen tinggi)
l. Penyalahgunaan
obat ( kokain)
m. Konsumsi
alkohol
n. Lain
– lain
Lanjut usia, penyakit paru – paru
menahun, penyakit darah, asam urat yang
berlebihan, kombinasi berbagai faktor risiko secara teori.
berlebihan, kombinasi berbagai faktor risiko secara teori.
5.
PATOFISIOLOGI
Infark
serebral adalah berkurangnya suplai darah ke area tertentu di
otak. Luasnya infark tergantung pada factor-faktor seperti lokasi dan besarnya
pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai
oleh pembuluh darah yang tersumbat. Suplai darah ke otak dapat berubah (makin
lambat atau cepat) pada gangguan local (thrombus, emboli, perdarahan, dan
spasme vascular) atau karena gangguan umum (hipoksia karena gangguan paru dan
jantung. Aterosklerosis sering sebagai factor penyebab infark pada otak.
Thrombus dapat berasal dari plak aterosklerotik, atau darah dapat beku pada
area yang stenosis, tempat aliran darah mengalami perlambatan atau terjadi
turbulensi.
Thrombus dapat pecah
dari dinding pembuluh darah terbawa sebagai emboli dalam aliran darah. Thrombus
dapat mengakibatkan iskemi jaringan otak yang disuplai oleh pembuluh darah yang
bersangkutan dan edema dan kongesti di sekitar area. Area edema ini menyebabkan
disfungsi yang lebih besar daripada area infark itu sendiri. Edema dapat
berkurang dalam beberapa jam atau kadang-kadang sesudah beberapa hari. Dengan
berkurangnya edema klien mulai menunjukkan perbaikan. Oleh karena thrombosis
biasanya tidak fatal, jika tidak terjadi perdarahan masif. Oklusi pada pembuluh
darah serebral oleh embolus menyebabkan edema dan nekrosis diikuti thrombosis.
Jika terjadi septic infeksi akan meluas pada dinding pembuluh darah maka akan
terjadi abses atau ensefalitis, atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh
darah yang tersumbat menyebabkan dilatasi aneurisme pembuluh darah. Hal ini
menyebabkan perdarahan serebral, jika aneurisme pecah atau rupture.
Perdarahan otak
disebabkan oleh rupture arteriosklerotik dan hipertensi pembuluh darah. Perdarahan
intraserebral yang sangat luas akan lebih sering menyebabkan kematian
dibandingkan keseluruhan penyakit serebrovaskuler, karena perdarahan yang luas
terjadi destruksi massa otak, peningkatan tekanan intracranial, dan yang lebih
berat dapat menyebabkan herniasi otak pada falks serebri atau lewat foramen
magnum.
Kematian dapat
disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan perdarahan ke batang
otak. Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga kasus
perdarahan otak di nucleus kaudatus, thalamus dan pons.
Jika sirkulasi
serebral terhambat, dapat berkembang anoksia serebral. Perubahan yang
disebabkan oleh anoksia serebral dapat reversible untuk waktu 4-6 menit.
Perubahan ireversibel jika anoksia lebih dari 10 menit. Anoksia serebral dapat
terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi salah satunya henti jantung.
Selain kerusakan
parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relative banyak akan mengakibatkan
peningkatan tekanan intracranial dan penurunan tekanan perfusi otak serta gangguan
drainase otak. Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar dan kaskade iskemik
akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan saraf di area yang terkena darah
dan sekitarnya tertekan lagi.
Jumlah darah yang
keluar menentukan prognosis. Jika volume darah lebih dari 60 cc maka risiko
kematian sebesar 93% pada perdarahan dalam dan 71% pada perdarahan lobar.
Sedangkan jika terjadi perdarahan serebelar dengan volume antara 30-36 cc
diperkirakan kemungkinan kematian sebesar 75%, namun volume darah 5 c dan
terdapat di pons sudah berakibat fatal. (Muttaqin, Arif, 2008)
- KLASIFIKASI
1.
Stroke
Menurut Satyanegara (1998), gangguan
peredaran darah otak atau stroke dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
a. Non Haemorrhagi/Iskemik/Infark
1) Transient Ischemic Attack
(TIA)/Serangan Iskemi Sepintas
TIA merupakan tampilan peristiwa berupa episode-episode serangan
sesaat dari suatu disfungsi serebral fokal akibat gangguan vaskuler,
dengan lama serangan sekitar 2 -15 menit sampai paling lama 24 jam.
TIA merupakan tampilan peristiwa berupa episode-episode serangan
sesaat dari suatu disfungsi serebral fokal akibat gangguan vaskuler,
dengan lama serangan sekitar 2 -15 menit sampai paling lama 24 jam.
2) Defisit Neurologis Iskemik
Sepintas/Reversible Ischemic Neurologi Defisit(RIND) Gejala dan tanda gangguan
neurologis yang berlangsung lebih lama dari 24 jam dan kemudian pulih kembali
(dalam jangka waktu kurang dari tiga minggu).
3) In Evolutional atau Progressing Stroke
merupakan Gejala gangguan neurologis yang progresif dalam waktu enam jam atau
lebih.
4) Stroke Komplit (Completed Stroke /
Permanent Stroke ) merupakan Gejala gangguan neurologis dengan lesi -lesi yang
stabil selama periode waktu 18-24 jam, tanpa adanya progesifitas lanjut.
b. Stroke Haemorrhagi
Perdarahan intrakranial dibedakan
berdasarkan tempat perda rahannya, yakni di rongga subararakhnoid atau di dalam
parenkhim otak (intraserebral). Ada juga perdarahan yang terjadi bersamaan pada
kedua tempat di atas seperti: perdarahan subarakhnoid yang bocor ke dalam otak
atau sebaliknya. Selanjutnya gangguan-gangguan arteri yang menimbulkan
perdarahan otak spontan dibedakan lagi berdasarkan ukuran dan lokasi regional
otak.
- MANIFESTASI KLINIS
Stroke menyebabakan berbagai deficit
neurologic, bergantung pada lokasi lesi (Pembuluh darah mana yang tersumbat),
ukuran area yang perfusinya tidak adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral
(skunder atau aksesori). Fungsi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya.
Kehilangan motorik. Stroke
adalah penyakit motor neuron atas dan mengakibatkan kehilangan control volunter
terhadap gerakan motorik. Karena neuron atas melintas, gangguan kontrol motor
volunter pada salah satu sisi tubuh dapat menunjukan kerusakan pada neuron
motor atas pada sisi yang berlawanan dari otak. Disfungsi motor paling umum
adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak
yang berlawanan. Hemiparesis, atau kelemahan salah satu sisi tubuh, adalah
tanda yang lain.
Di awal tahapan stroke, gambaran klinis yang
muncul biasanya adalah paralisis dan hilang atau menurunnya refleks tendon
dalam. Apabila refleks tendon dalam ini muncul kembali (biasanya dalam 48 jam),
peningkatan tonus disertai dengan spastisitas (peningkatan tonus otot abnormal)
pada ekstremitas yang terken dapat dilihat.
Kehilangan Komunikasi. Fungsi otak lain yang
dipengaruhi oleh stroke adalah bahasa dan komunikasi. Stroke adalah penyebab
afasia paling umum. Disfungsi bahasa dan komunikasi dapat dimanifestasikan oleh
hal berikut :
·
Disatria (kesulitan
berbicara), ditunjukan dengan bicara yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh
paralisis otot yang bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara.
·
Disfasia atau afsia (bicara
defektif atau kehilangan bicara), yang terutama ekspresif atau reseptif.
·
Apraksia (ketidakmampuan
untuk melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya), seperti terlihat ketika
mengambil sisir dan berusaha untuk menyisir rambutnya.
Afasia dan penatalaksanaan keperawatanya
didiskusikan secara detail setelah proses keperawatan ; pasien stroke.
Gangguan persepsi. Persepsi adalah
ketidakmampuan untuk menginterpretasikan sensasi. Stroke dapat mengakibatkan
disfungsi persepsi visual, gangguan dalam hubungan visual-spasial dan
kehilangan sensori.
Disfungsi persepsi visual karena gangguan
jaras sensori primer diantara mata dan korteks visual. Homonimus hemianopsia
(kehilangan setengah lapang pandang) dapat terjadi karena stroke dan mungkin
sementara atau permanen. Sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi tubuh yang
paralisis.kepala pasien cenderung berpaling dari sisi tubuh yang sakit dan
cenderung mengabaikan bahwa tempat dan ruang pada sisi tersebut; ini disebut
amorfosintesis. Pada keadaan ini, pasien tidak mampu melihat makanan pada setengah nampan, dan hanya setengah
ruangan yang terlihat. Penting untuk perawat secara konstan mengingatkan pasien
tentang sisi lain tubuhnya, mempertahankan kesejajaran ekstremitas dan, bila
mungkin, menempatkan ekstremitas dimana pasien mampu melihatnya.
Untuk mengkaji hemianopsia, pasien diminta untuk melihat wajah pemeriksa. Jari
pemeriksa ditempatkan kira-kira 30cm dari telinga pasien dari sisi tubuh yang
tidak sakit dan digerakan kea rah dalam ke arah lapang pandangnya. Pasien
diminta menunjukan ketika pertama kali mendeteksi satu atau kedua sisi
menunjukan pangabaian visual dan hemianopsia.
Penurunan lapang pandang ini harus diingat
selama semua prosedur rehabilitasi. Personel harus mendekati pasien pada sisi
dimana persepsi visual utuh. Semua rangsang visual ( jam, kalender, televisi)
harus ditempatkan pada sisi ini. Pasien dapat diajarkan untuk memalingkan
kepalanya dalam arah lapang pandang defektif untuk mengkompensasi kehilangan
ini. Perawat ahrus membuat kontak mata dengan pasien dan menarik perhatiannya
pada posisi yang sakit dengan mendorong pasien untukmenggerakan kepala. Perawat
juga harus berdiri pada posisi yang mendorong pasien bergerak atau berpaling
dalam upaya untuk melihat siapa yang ada diruangan. Peningkatan pencahayaan
alamiah atau buatan dalam ruangan dan memberikan kaca mata penting dalam
meningkatkan hubungan penglihatan.
Gangguan hubungan visual-spasial (mendapatkan
hubungan dua atau lebih objek dalam area spasial) sering terlihat pada pasien
dengan hemiplegia kiri. Pasien mungkin tidak dapat memakai tanpa bantuan karena
ketidakmampuan untuk mencocokan pakaian ke bagian tubuh. Untuk membantu pasien
ini, perawat dapat mengambil langkah untuk mengatur lingkungan dan
menyingkirkan perabot karena pasien dengan masalah persepsi mudah terdistraksi.
Akan bermanfaat menganjurkan pasien memperlambat dan memberikan pengingat
lembut tentang dimana objek ditempatkan.
Kehilangan sensori karena stroke dapat berupa
kerusakan sentuhan ringan atau mungkin lebih berat, dengan kehilangan
propriopsesi (kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh) serta
kesulitan dalam menginterpretasikan stimuli visual, taktil, dan auditorius.
Kerusakan Fungsi Kognitif dan efek
Psikologik. Bila kerusakan telah terjadi pada lobus frontal, mempelajari
kapasitas, memori, atau fungsi intelektual kortikal yang lebih tinggi mungkin
rusak. Disfungsi ini dapat ditunjukan dalam lapang pandang perhatian terbatas,
kesulitan dalam pemahaman, lupa, dan kurang motivasi yang menyebabkan pasien
ini menghadapi masalah frustasi dalam program rehabilitasi mereka. Depresi umum
terjadi dan mungkin diperberat oleh respons alamiah pasien terhadap penyakit
katastrofik ini. Masalah psikologik lain juga umum terjadi dan dimanifestasikan
oleh labilitas emosional, bermusuhan, frustasi, dendam, dan kurang kerja sama.
Disfungsi kandung kemih . setelah stroke
pasien mungkin mengalami inkontinensia urinarius sementara karena konfusi,
ketidakmampuan mengkomuniksikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk mrnggunakan
urinal/bedpan karena kerusakan control motorik dan postural. Kadang-kadang
setelah stroke kandung kemih menjadi atonik, dengan kerusakan sensasi dalam
respon terhadap pengisian kandung kemih. Kadang-kadang control sfingter
urinarius eksternal hilang atau berkurang. Selam periode ini, dilakukan
kateterisasi intermiten dengan teknik steril. Ketika tonus otot meningkat dan
refleks tendon kembali, tonus kandung kemih meningkat dan kapasitas kandung
kemih dapat terjadi. Karena indera kesadaran pasien kabur, inkontinensia
urinarius menetap atau retensi urinarius mungkin stmtomatik karena kerusakan
otak bilateral. Inkontinensia ani dan urine yang berlanjut menunjukan kerusakan
neurologic yang luas.
- KOMPLIKASI
Komplikasi
stroke meliputi hipoksia serebral, penurunan aliran serebral darah serebral,
dan luasnya area cedera.
Hipoksia
serebral diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah
adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang
dikirimkan ke jaringan Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin
serta hematokrit pada tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan
oksigenasi jaringan.
Aliran
darah serebral bergantung pada tekanan darah, curah
jantung, dan integritas pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan
intravena) harus menjamin penurunan viskositas darah dan memperbaiki aliran
darah serebral. Hipertensi atau hipotensi ekstrem perlu dihindari untuk
mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi meluasnya area
cedera.
Embolisme
serebral dapat terjadi setelah infark miokard atau
fibrilasi atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme
akan menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya menurunkan aliran darah ke
otak dan selanjutnya menurunkan aliran darah serebral. Disritmia dapat
mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentian thrombus local.
Selain itu, disritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.
- PEMERIKSAAN
PENUNJANG
a. CT Scan
Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark.
b. Angiografi
serebral membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan
atau obstruksi arteri.
c. Pungsi
Lumbal
o
Menunjukan adanya tekanan normal.
o
Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah
menunjukan adanya perdarahan.
d. MRI :
Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.
e. Ultrasonografi
Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena.
f. Sinar X
Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal.
10. TERAPI MEDIS
1. Neuroproteksi
Pada storke iskemik akut, dalam
batas-batas waktu tertentu sebagian besar cedera jaringan neuro dapat dipulihkan.
Mempertahankan fungsi jaringan adalah tujuan dari apa yang disebut sebagai
strategi neuroprotektif. Hipoternia
adalah terapi neuroprotektif yang sudah lama digunakan pada kasus trauma otak
dan terus diteliti pada stroke. Cara kerja metode ini adalah menurunkan
aktivitas metaboisme dan tentu saja kebutuhan oksignen sel-sel neuron. Dengan
demikian neuron terlindung dari kerusakan lebih lanjut akibat hipoksia
berkepanjangan eksitotoksisitas yang dapat terjadi akibat jenjang glutamate
yang biasanya timbul setelah cedera sel neuron. The Cleveland Clinic telah
meneliti pemakaian selimut dingin dan mandi air es dalam 8 jam awitan gejala
dan mempertahankan hipotermia ke suhu 89,6 oF selama 12 sampai 72
jam sementara pasien mendapat bantuan untuk mempertahankan kehidupan. Selama
rehabilitasi, pasien ayng diberi terapi hipotermik cenderung mengalami lebih
sedikit kecacatan (skala Rankin) dan daerah infark yang lebih kecil dari pada
kelompok control (Abou-Chebl et al.,2001).
Pendekatan lain untuk
mempertahankan jaringan adalah pamakaian obat neuroprotektif. Banyak riset
stroke yang meneliti obat yang dapat menurunkan metabolism neuron, mencegah
pelepasan zat-zat toksik dari neuron yang rusak, atau memperkecil respons
hipereksitatorik yang merusak dari neuron-neuron di penumbra iskemik yang
mengelilingi daerah infark pada stroke. Meningkatkan pengetahuan tentang
patofisiologi cedera sel otak iskemik telah mendorong para peneliti untuk
berfokus pada pengembangan antagonis kalsium, antagonis glutamate, antioksidan,
dan berbagai jenis obat neuroprotektif lainnya. Tantangan dalam mengusahakan
neuroproteksi pascacedera adalah menemukan obat yang selektif untuk neuron
iskemik, yaitu memiliki indeks terapeutik (dosis letal ÷ dosis terapeutik) yang
baik (Salazar, Fulmor, Srinivas, 2000). Berbagai agen telah diuji, termasuk
nitroksida (Leker, et al, 2000).suatu obat neuroprotektif yang menjanjikan,
cerebrolisin (CERE) memiliki efek pada metabolism kalsium neuron dan juga
memperlihatkan efek neurotrofik (Ladurner, 2001). Saat ini terdapat beragam
obat dan senyawa obat mencegah dan mengobati secara akut stoke yang berada
dalam berbagai tahap pengembangan. Karena sifat cedera sel otak iskemik yang
multidimensi dan sekuensial, maka kecil kemungkinannya ada satu obat yang akan
dapat melindungi secara total otak selama stroke; kemungkinan besar, diperlukan
kombinasi beberapa obat agar potensi pemulihan dapat diupayakan secara penuh.
2. Antikoagulasi
The European Stroke Initiative (2000)
merekomendasikan bahwa antikoagulan oral (INR 2,0 sampai 3,0) diindikasikan
pada stroke yang disebabkan oleh fibrilasi atrium. Diperlukan antikoagulasi
dengan derajat yang lebih tinggi (INR 3,0 sampai 4,0) untuk pasien stroke yang
memiliki katup prostetik mekanis. Bagi pasien yang bukan merupakan kandidat
untuk terapi warfarin (Coumadin), maka dapat digunakan aspirin tersendiri atau
dalam kombinasi dengan dipiridamol sebagai terapi antitrombotik awal untuk
profilaksis stroke.
3. Trombolisis
Intravena
Satu-satunya yang telah disetujui oleh
the US Food and Drugs Administration (FDA) untuk terapi stroke iskemik akut
adalah activator plasminogen jaringan (TPA) bentuk rekombinan. Selelah
disetujui pada bulan Juni 1996, TPA dapat digunakan untuk menghindari cedera
otak, dan angka kematian nasional yang telah disesuaikan dengan usia untuk
stroke berkurang 1,1 % sejak tahun 1995 (Peters at al., 1998). Keberhasilan ini
mendorong diintensifkannya upaya-upaya untuk menyuluh masyarakat dan petugas
kesehatan bahwa stroke adalah suatu kedaruratan dan bahwa gejala stroke akut
harus diterapi sama segeranya seperti luka tembak di kepala. Dengan demikian
terapi dengan TPA intravena tetap menjadi stndar keperawatan untuk stroke akut
dalam tiga jam pertama setelah awitan gejala (National Institute of Health
[NIH], 1995). Namun hanya 1 % sampai 2 % pasien yang saat ini mendapat terapi,
biasanya karena mereka datang terlambat ke unit gawat darurat di luar batas
waktu tiga jam. Risiko terbesar menggunakan terapi trombolitik adalah
perdarahana intraserebrum. Dengan demikian terapi harus diguakan hanya bagi
pasien yang telah disaring secara cermat dan yang tidak memenuhi satupun dari
criteria eksklusif berikut :
v Gambaran
perdarahan intrakranium berupa massa yang membesar pada CT
v Angiogram
yang negative untuk adanya bekuan
v Peningkatan
waktu protrombin/INR, yang mengisyaratkan kecenderungan perdarahan
v Adanya
pembuluh dan luka yang belum sembuh dari trauma atau pembedahan yang baru saja
terjadi
v Tekanan
darah diastolic yang sangat tinggi; hilangnya autoregulasi adalah suatu resiko
besar
Selain
itu, pasien dengan riwayat baru-baru ini pernah menggunakan kokain atau
amfetamin sering disingkirkan karena risiko perdarahan dari pembuluh otak
dibawah tekanan tinggi.
4. Trombolisis
Intraarteri
Pemakaian trombolisis intraarteri untuk
pasien dengan stroke iskemik akut sedang dalam penilaian, walaupun saat ini
belum disetujui oleh FDA (Furlan et al., 1999). Pasien ayng berisiko besar
mengalami perdarahan akibat terapi ini adalah mereka yang skor National
Institute of Health Stroke Scale) (NIHSS)-nya tinggi, memerlukan waktu lebih
lama untuk rekanalisasi pembuluh, kadar glukosa darah yang lebih tinggi, dan
hitung trombosit yang rendah (Kidwell et al., 2001).
5. Terapi
Perfusi
Serupa dengan upaya untuk memulihkan
sirkulasi otak pada kasus vasospasme saat pemulihan dari perdarahan
subaraknoid, pernah diusahakan induksi hipertensi sebagai usaha untuk
meningkatkan tekanan darah arteri rata-rata sehingga perfusi otak dapat
meningkat (Hillis et al., 2001).
6. Pengendalian
Edema dan Terapi Medis Umum
Edema otak terjadi pada sebagian besar
kasus infark serebrum iskemik, terutama pada keterlibatan pembuluh-pembuluh
besar di daerah arteria serebri media. Terapi konservatif dengan membuat pasien
sedikit dehidrasi, dengan natrium serum normal atau sedikit meningkat.
- PENATALAKSANAAN STROKE
Pencegahan Primer Stroke
Pendekatan pada pencegahan adalah mencegah
dan mengobati faktor-faktor resiko yang dapat dimodifikasi. Hipertensi adalah
faktor resiko paling prevalen, dan telah dibuktikan bahwa penurunan tekanan
darah memiliki dampak yang sangat besar pada resiko stroke. Akhir-akhir ini
perhatian ditujukan kepada pentingnya hipertensi sistolik saja (isolated
systolic hypertension, ISH), yang sekarang dianggap sebagai faktor resiko utama
untuk stroke (Domanski et al., 1999). Diuktikan bahwa terapi aktif terhadap ISH
secara bermakna menurunkan resiko stroke, terutama pada pasien berusia lanjut.
Pada sebuah uji klinis acak, pengidap ISH yang mendapat penyekat saluran
kalsium nitrendipin (Cardif, Nitrepin) memperlihatkan penurunan 42% dalam
stroke fatal dan nonfatal selama periode rata-rata 2 tahun (JNC VI,
1997;Staessen et al.,1997).
The European Stroke Initiative (ESI, 2000)
telah mempublikasikan rekomendasi untuk penatalaksanaan stroke yang
mencerminkan praktik yang sekarang dijalankan. Rekomendasi pencegahan primer
yang paling terinci dan banyak diteliti adalah bahwa antikoagulasi oral harus
digunakan sebagai profilaksis primer terhadap semua pasien dengan fibrilasi
atrium yang beresiko tinggi mengalami stroke pengidap hipertensi, usia lebih
dari 75 tahun, embolisme sistemik, atau berkurangnya fungsi ventrikel kiri. ESI
merekomendasikan INR sasaran sebesar 2,5 untuk antikoagulasi. INR sasaran lebih
rendah (2,0) untuk pasien berusia lebih dari 75 tahun yang beresiko tinggi
mengalami perdarahan otak. Karena fibrilasi atrium meningkatkan resiko
mengalami stroke hamper lima kali lipat, maka antikoagulasi padapopulasi ini
sangatlah penting. Pendekatan pencegahan primer penting yang kedua adalah
mempertimbangkan endarterektomi karotis (CEA) pada pasien simtomatik dengan
bising karotis, terutama dengan stenosis 60% - 90%.
Penatalaksanaan diabetes yang baik merupakan
faktor penting lain dalam pencegahan stroke primer. Meningkatnya kadar gula
darah secara berkepanjangan berkaitan erat dengan disfungsi endotel yang pada
gilirannya memicu terbentuknya aterosklerosis (Laight et al., 1999). Selain
itu, terdapat suatu komponen kelainan metabolisme pada diabetes mellitus yang
baru diketahui yang disebut sebagai keadaan protrombik, pada keadaan protrombik
ini terjadi peningkatan kadar inhibitor activator plasminogen 1 (plasminogen
activator inhibitor-1; PAI-1) (Bastard et al., 2000). Kecenderungan membentuk
bekuan abnormal semakin dipercepat oleh resistensi insulin sehingga
kecendrungan mengalami koagulasi intravascular semakin meningkat (Laakso,
1999).
Terdapat dua pendekatan utama pada pencegahan
stroke : (1) strategi kesehatan masyarakat atau populasi dan (2) strategi
resiko tinggi. Strategi populasi didasarkan pada peraturan dan program
pendidikan yang bertujuan mengurangi prilaku beresiko pada seluruh populasi.
Strategi resiko tinggi mengarahkan upaya untuk orang-orang yang memiliki resiko
stroke di atas rata-rata. Agar hemat biaya, pendekatan resiko tinggi harus
didasarkan pada resiko basal (absolut) seseorang mengalami suatu kejadian dan
bukan didasarkan pada usia atau pertimbangan resiko relative yang berkaitan
dengan satu faktor resiko. Pada semua kelompok usia dan di semua kategori
resiko, perempuan memiliki resiko absolute yang lebih rendah daripada
laki-laki.
Pencegahan Sekunder Stroke
Pencegahan sekunder mengacu pada strategi
untuk mencegah kekambuhan stroke. Pendekatan utama adalah mengendalikan
hipertensi, CEA dan memakai obat antigregat antitrombosit. Berbagai penilitian
seperti the European Stroke Prevention Study of antiplatelet antiaggregant
drugs (Diener, 1996) dan banyak meta-analisis terhadap obat inhibitor
glikoprotein IIb / IIIa jelas memperlihatkan efektivitas obat antiagregasi
trombosit dalam mencegah kambuhnya stroke (Albers et al., 2001). Aggrenox
adalah satu-satunya kombinasi aspirin dan dipiridamol yang telah dibuktikan
efektif untuk mencegah stroke sekunder.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Aktifitas/istirahat
Gejala: merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas karena
kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia). Merasa mudah lelah,
susah untuk beristirahat (nyeri atau kejang otot).
Tanda: gangguan tonus otot (flaksid, spatis); paralitik
(hemiplegia), dan terjadi kelemahan umum. Gangguan penglihatan, gangguan
tingkat kesadaran.
2. Sirkulasi
Gejala:
adanya penyakit jantung: endokarditis bakterial, GJK
Tanda:
hipertensi arterial, disritmia, perubahan EKG
3. Integritas
ego
Gejala: perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa
Tanda: emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah,
sedih, dan gembira. Kesulitan untuk mengekspresikan diri.
4. Eliminasi
Gejala:
perubahan pola berkemih, seperti inkontinensia urine, anuria, distensi abdomen,
bising usus
5. Makanan/cairan
Gejala:
Nafsu makan hilang, mual muntah selama fase akut (peningkatan TIK), kehilangan
sensasi pada lidah, pipi, dan tenggorokan, disfagia, adanya riwayat DM,
peningkatan lemak dalam darah
Tanda:
kesulitan menelan (gangguan pada reflex palatum dan faringeal), obesitas
6. Neurosensori
Gejala:
pusing (sebelum serangan CSV/ selama TIA), sakit kepala, penglihatan menurun,
kehilangan daya lihat sebagian, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda:
status mental/kesadaran: biasanya terjadi koma pada tahap awal hemoragik.
Gangguan fungsi kognitif, ekstremitas: kelemahan atau paralisis, afasia:
gangguan atau kehilangan fungsi bahasa mungkin afasia motorik (kesulitan untuk
mengungkapkan kata). Reseptif (afasia sensorik) yaitu kesulitan untuk memahami
kata kata secara bermakna, atau afasia global yaitu gabungan dari kedua hal di
atas. Kehilangan kemampuan untuk mengenali atau menghayati masuknya rangsang
visual, pendengaran, taktil (agnosia), seperti gangguan kesadaran terhadap
citra tubuh, kewaspadaan, kelainan terhadap bagian tubuh yang terkena, gangguan
persepsi. Kehilangan kemampuan
menggunakan motorik saat pasien in gin menggerakkannya (apraksia). Ukuran atau
reaksi pupil tidak sama, dilatasi atau miosis pupil ipsilateral (perdarahan
atau herniasi). Kekakuan muka biasanya karena perdarahan, kejang biasanya
karena adanya pencetus perdarahan.
7. Nyeri/kenyamanan
Gejala: sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda
(karena arteri karotis terkena)
Tanda: tingkah laku yang tidak stabil, gelisah,
ketegangan pada otot atau fasial.
8. Pernafasan
Gejala:
merokok atau faktor resiko
Tanda:
ketidakmampuan menelan atau batuk atau hambatan jalan nafas. Timbulnya
pernafasan sulit dan atau tak teratur, suara nafas terdengar/ronkhi (aspirasi
sekresi)
9. Keamanan
Tanda:
motorik atau sensorik: masalah dengan penglihatan, kesulitan dalam menelan,
tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri
10. Interaksi
social
Tanda:
masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi
Pemeriksaan
Fisik
Tanda - tanda vital yang meliputi tekanan darah, nadi,
suhu dan pernafasan
Pemeriksaan
Neurologi
1. Fungsi
serebral
Terdiri dari status mental, fungsi intelektual, daya
pikir, status emosional, persepsi, kemampuan motorik, dan bahasa.
2. Pengukuran
GCS
A. Eyes
( membuka mata )
·
Spontan : 4
·
Terhadap rangsangan suara : 3
·
Terhadap rangsangan nyeri : 2
·
Tidak ada respon : 1
B. Motorik
·
Sesuai perintah : 6
·
Karena nyeri local : 5
·
Menarik daerah nyeri : 4
·
Fleksi abnormal : 3
·
Ekstensi abnormal : 2
·
Tidak ada respon : 1
C. Verbal
·
Orientasi waktu : 5
·
Bicara kacau (kalimat) : 4
·
Kata – kata tidak tepat : 3
·
Tidak bermakna (bergumam) : 2
·
Tidak berespon : 1
3. Saraf
cranial
Besar pupil tidak
sama, ptosis kelopak mata
Nervus
: Defisit dari Nervus
a. N.
I. : Olfactory
b. N.
II. : Optic
c. N.
III. : Oculomotor
d. N. IV : Moto
trochlear ( gerakan kebawah / kedalam mata )
e. N.V : Trigeminal
( Gerakan rahang, muka )
f. N.VI : Abducens (
Lateral Mata )
g. N.VII : Facial
h. N.VIII : Acoustic ( cochlea, vestibular )
i. N.
IX : Glosofaringeal
j. N.X : Vogus (
motor, palatum, faring, laring )
k. N.XI : Asesori
Spinal : mastoid, trapezius
l. N.XII : Hypoglosal ( Motor – lidah )
4. Pemeriksaan
motorik
Meliputi pengkajian motorik kasar, tes keseimbangan, dan
pengkajian motorik halus.
5. Pemeriksaan
sensorik
Meliputi sensasi taktil, sensasi suhu dan nyeri, vibrasi
dan propriosepsi, dan merasakan posisi.
6. Status
refleks
a. Refleks
bisep
Peregangan
tendon bisep pada saat siku dalam keadaan fleksi. Orang yang menguji menyokong
lengan bawah satu tangan sambil menempatkan ibu jari dengan menggunakan palu
refleks.
b. Refleks
trisep
Lengan
pasien fleksi pada siku dan pronasi dan di posisikan di depan dada. Palpasi
2,5-5 cm di atas siku. Refleks ini menyebabkan kontraksi otot trisep dan
ekstensi siku.
c. Refleks
brachioradialis
Tangan
klien diletakkan di atas paha dalam keadaan pronasi. Pukulkan refleks hammer di atas tenson pergelangan tangan, amati fleksi,
supinasi dari tangan klien.
d. Refleks
abdomen
Klien tetap dalam posisi supine tanpa mengenakan baju.
Sentuhkan ujung tajam refleks hammer ke kulit bagian abdomen mulai dari arah
lateral ke bagian umbilical, dan amati kontraksi otot abdomen.
e. Refleks
patella
Refleks patella di timbulkan dengan cara mengetok tendon
patella tepat di bawah partela. K dalam keadaan duduk atau tidur terlentang.
Jika K terlentang, pengkaji menyokong kaki untuk memudahkan relaksasi otot. Konstraksi
guadrisep dan ekstensi lutut adalah respon normal.
f. Refleks
Achilles/ankle
Pegang
telapak kaki klien dengan tangan non dominan pemeriksa. Pukul tendon Achilles
dengan bagian tumpul refleks hammer dan amati kontraksi otot kuadrisep.
g. Refleks
plantar
Klien
dalam posisi supine dan kedua tungkai bawah sedikit eksternal rotasi, stimulasi
telapak kakki klien dengan ujung tajam refleks hammer. Sentuhan dimulai dari tumit kea rah luar telapak kaki
klien. Amati gerakan telapak
kaki (normal jika gerak plantar fleksi jari-jari kaki)
h. Refleks
babinsky
Indikasi
adanya penyakit SSP. Bila bagian lateral seseorang dengan penyakit SSP digores,
maka akan terjadi kontraksi kaki dan menarik bersama-sama. Pada pasien yang
mengalami penyakit SSP, maka pada system motorik jari-jari kaki menyebar dan
menjauh. Pada bayi refleks ini normal.
i. Refleks
kernig
Klien berbaring difleksikan pahanya pada persendian
panggul sampai membuat sudut 900
j. Refleks
laseque
Klien berbaring difleksikan pahanya pada persendian
panggul sampai membuat sudut 60-700
k. Refleks
brudzinski
Klien
berbaring kemudian tangan pemeriksa ditempatkan di bawah kepala pasien yang
sedang berbaring, tekukkan kepala sejauh mungkin sampai dagu mencapai dada.
Tangan yang satu lagi sebaiknya ditempatkan di dada klien untuk mencegahnya
diangkatnya badan. Bila tanda brudzinski positif, maka tindakan ini
mengakibatkan fleksi kedua tungkai.
l. Refleks
brudzinski II
Klien
berbaring satu tungkai difleksikan pada persendian penggul, sedangkan tungkai
yang satu lagi berada dalam keadaan ekstensi lurus. Bila tungkai yang satu ikut
terfleksi, maka tanda brudzinski II positif.
B. Diagnosa
Keperawatan
1. Perubahan
perfusi jaringan serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah: gangguan
oklusif, hemoragi, vasospasme serebral, edema serebral
2. Gangguan
mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan neuromuskuler: kelemahan,
parestesia, paralisis spastis
3. Kerusakan
komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral, kerusakan
neuromuskuler, kehilangan tonus otot/control otot fasial/oral; kelemahan/kelelahan
umum
4. Perubahan
persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi sensori, transmisi,
intergari dan stress psikologis
5. Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang
berhubungan dengan penurunan refleks batuk dan menelan.
6. Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan kelemahan
otot mengunyah dan menelan
7. Kurang
perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuscular, penurunan kekuatan
dan ketahanan, kehilangan koordinasi otot
8. Gangguan
konsep diri berhubungan dengan perubahan biofisik, psikososial, perceptual
kognitif
9. Kurang
pengetahuan mengenai kondisi dan pengobatan berhubungan dengan kurang
pemajanan, keterbatasan kognitif, kesalahan interpretasi informasi, kurang
mengingat
C. INTERVENSI
1. Diagnosa
1 : Perubahan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah: gangguan oklusif, hemoragi,
vasospasme serebral, edema serebral
kriteria
hasil :
a. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya mebaik, fungsi
kognitif, motorik dan sensorik
b. Mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil dan tak adanya
tanda-tanda peningkatan TIK
c. Menunjukkan tidak adanya kekambuhan
defisit
Intervensi dan rasional :
a. Tentukan
faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan/penyebab khusus selama
koma/penurunan perfusi serebral dan potensial terjadinya peningkatan TIK
Rasional:
Mempengaruhi
penetapan intrevensi. Kerusakan/kemunduran tanda/gejala neurologis memerlukan
tindakan pembedahan dan atau pasien harus dipindahkan ke ICU untuk melakukan
pemantauan terhadap peningkatan TIK.
b. Pantau/cata
status neurologis sesering mungkin dan bandingkan dengan keadaan normalnya
Rasional:
Mengetahui kecenderungan tingkat kesadaran dan potensial
peningkatan TIK dan mengetahui lokasi luas dan kemajuan kerusakan SSP. Dapat
menunjukkan TIA yang merupakan tanda terjadi thrombosis CVS baru.
c. Pantau
dan catat tanda-tanda vital:
1) Adanya
hipertensi/hipotensi
Rasional:
Variasi
tekanan darah mungkin terjadi karena tekanan/trauma serebral pada daerah
vasomotor otak. Hipotensi dapat terjadi karena syok, peningkatan TIK dapat
terjadi karena edema, adanya formasi bekuan darah, dan tersumbatnya arteri
subklavia dapat dinyatakan dengan adanya perbedaan tekanan antara kedua lengan
2) Frekuensi dan irama jantung, auskultasi adanya murmur
Rasional:
Perubahan terutama adanya bradikardi dapat terjadi
sebagai akibat adanya kerusakan otak. Disritmia/murmur mencerinkan adanya
penyakit jantung yang mungkin menjadi pencetus stroke.
3) Catat
pola dan irama dari pernafasan
Rasional:
Ketidakteraturan pernafasan dapat memberikan gambaran
lokasi kerusakan serebral/peningkatan TIK.
d. Evaluasi pupil, catat ukuran, bentuk, kesamaan, dan
reaksinya terhadap cahaya
Rasional:
Reaksi pupil diatur oleh saraf cranial okulomotorius
(III) dan berguna dalam menentukan apakah batang otak tersebut masih baik.
Ukuran dan kesamaan pupil ditentukan oleh keseimbangan antara saraf simpatis
dengan parasimpatis. Respon terhadap refleks cahaya merupakan fungsi dari saraf
optikus dan okulomotorius.
e. Catat
perubahan dalam penglihatan
Rasional:
Ganguan
penglihatan yang spesifik mencerminkan daerah otak yang terkena.
f. Kaji
fungsi-fungsi yang lebih tinggi seperti fungsi bicara jika pasien sadar
Rasional:
Perubahan
dalam kognitif dan bicara merupakan indicator dari lokasi/derajat gangguan
serebral.
g. Letakkan posisi kepala agak ditinggikan dan dalam posisi
anatomis
Rasional:
Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase
dan meningkatkan sirkulasi/perfusi serebral.
h. Pertahankan
keadaan tirah baring ciptakan lingkungan yang tenang
Rasional:
Aktivitas yang kontinu dapat meningkatkan TIK.
i. Cegah terjadinya mengejan saat defekasi, dan pernafasan
yang memaksa
Rasional:
Maneuver valsalva dapat meningkatkan TIK dan memperbesar
resiko perdarahan.
j. Kaji rigiditas nukal, kedutan, kegelisahan yang
meningkat, peka rangsang dan serangan kejang
Rasional:
Merupakan
indikasi adanya iritasi meningeal.
Kolaborasi:
k. Beri
oksigen sesuai indikasi
Rasional:
Menurunkan
hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi serebral dan tekanan
meningkat/terbentuknya edema.
l. Berikan
obat sesuai indikasi
1) Antikoagulasi, seperti natrium warfarin, heparin,
antitrombosit, dipiridamol
Rasional:
Dapat digunakan untuk memperbaiki aliran darah serebral
dan selanjutnya dapat mencegah pembekuan saat embolus/thrombus menjadi
masalahnya.
2) Antifibrolitik, seperti asam aminokaproid (Amicar)
Rasional:
Penggunaan hati-hati dalam perdarahan untuk mencegah
lisis bekuan yang terbentuk.
3) Antihipertensi
Rasional:
Mengurangi
terjadinya perluasan kerusakan jaringan.
4) Vasodilatasi
perifer, seperti siklandelat (cyclospasmol), papaverin (pavabid/vasospan),
isoksupresin (vasodilan)
Rasional:
Memperbaiki
sirkulasi kolateral atau menurunkan vasospasme.
5) Steroid,
deksametason (decadrone)
Rasional:
Penggunaannya controversial dalam mengendalikan edema
serebral.
6) Fenitoin (dilantin), fenobarbital
Rasional:
Digunakan
untuk mengontrol kejang/ aktifitas sedative.
7) Pelunak feses
Rasional:
Mencegah proses mengejan saat defekasi.
m. Persiapkan untuk pembedahan, endarterektomi, bypass
mikrovaskuler
Rasional:
Mungkin
bermanfaat untuk mengatasi situasi.
n. Pantau
pemerikasaan laboratorium sesuai indikasi
Rasional:
Memberikan informasi tentang keefektifan
pengobatan/terapeutik.
2. Diagnosa
2 : Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan keterlibatan neuromuskuler: kelemahan, parestesia, paralisis
spastis
kriteria hasil :
a. Mempertahankan posisi optimal dan fungsi yang dibuktikan
oleh tidak adanya kontraktur
b. Mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian
tubuh yang terkena atau kompensasi
c. Mendemonstrasikan teknik/perilaku yang memungkinkan
melakukan aktifitas
d. Mempertahankan integritas kulit
Intervensi dan rasional
a. Kaji
kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan awal dan dengan cara yang teratur
Rasional:
Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dan dapat
memberikan informasi mengenai pemulihan.
b. Ubah posisi setiap 2 jam (terlentang/miring), jika
kemungkinan bisa lebih sering diposisikan pada bagian yang terganggu
Rasional:
Menurunkan resiko
terjadinya trauma/iskemi jaringan.
c. Lakukan
latihan rentang gerak pasif dan aktif pada semua ekstremitas
Rasional:
Meminimalkan atrofi
otot, menaikkan sirkulasi, membantu mencegah kontraktur.
d. Sokong ekstremitas dalam posisi fungsionalnya,
pertahankan posisi kepala netral
Rasional:
Mencegah kontraktur
dan memfasilitasi kegunaannya jika berfungsi kembali.
e. Tempatkan bantal dibawah aksial untuk melakukan abduksi
pada tangan
Rasional:
Mencgah abduksi
bahu dan fleksi siku
f. Tinggikan
tangan dan kepala
Rasional:
Menaikkan aliran balik vena dan membantu
mencegah terbentuknya edema
g. Bantu
untuk mengembangkan keseimbangan duduk
Rasional:
Membantu dalam melatih kembali jaras
saraf, meningkatkan respon proprioseptik dan motorik.
h. Observasi
daerah yang terkena termasuk warna, edema, atau tanda-tanda lain
Rasional:
Jaringan yang edema lebih mudah
mengalami trauma dan penyembuhannya lambat.
i. Anjurkan
pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstremitas
yang tidak sakit untuk menyokong/menggerakkan tubuh yang mengalami kelemahan
Rasional:
Dapat berespon dengan baik jika daerah
yang sakit tidak menjadi lebih terganggu dan memerlukan dorongan serta latihan
aktif.
Kolaborasi:
j. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif,
latihan resistif, dan ambulasi pasien
Rasional:
Program yang khusus
dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti/ menjaga kekurangan
tersebut dalam keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan.
k. Bantulah
dengan stimulasi elektrik
Rasional:
Dapat membantu memulihkan kekuatan otot dan
meningkatkan control otot volunteer.
l. Berikan
obat relaksan otot, antispasmodic sesuai indikasi, seperti baklofen, dantrolen
Rasional:
Menghilangkan spastisitas pada ekstremitas
yang terganggu.
3. Diagnosa 3 : Kerusakan komunikasi verbal
berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral, kerusakan neuromuskuler,
kehilangan tonus otot/control otot fasial/oral; kelemahan/kelelahan umum
Kriteria hasil :
a.
Mengindikasikan pemahaman
tentang masalah komunikasi
b.
Membuat metode komunikasi
dimana kebutuhan dapat diekspresikan
c.
Menggunakan sumber-sumber
dengan tepat
Intervensi dan rasional
a. Kaji
tipe/derajat disfungsi
Rasional:
Menentukan
daerah dan derajat kerusakan serebral yang terjadi dan kesulitan pasien dalam
beberapa atau seluruh tahap komunikasi. Pasien mungkin mempunyai kesulitan
memahami kata yang diucapkan (afasia sensorik/kerusakan pada area wernick);
mengucapkan kata-kata dengan benar (afasia ekspresif/area broca) atau mengalami
kerusakan pada kedua area tersebut.
b. Minta pasien untuk menulis nama/kalimat yang pendek
Rasional:
Menilai kemampuan menulis (agrafia) dan kekurangan dalam
membaca yang benar yang juga merupakan bagian dari afasia sensorik dan motorik.
c. Berikan
metode komunikasi alternative
Rasional:
Memberikan
komunikasi tentang kebutuhan berdasarkan keadaan/deficit yang mendasarinya.
d. Bicaralah
dengan nada normal dan hindari percakapan yang cepat
Rasional:
Pasien
tidak perlu merusak pendengaran, dan meninggikan suara dapat menimbulkan marah
pasien. Memfokuskan respons dapat mengakibatkan frustasi.
Kolaborasi
e. Konsultasikan
dengan/rujuk kepada ahli terapi wicara
Rasional:
Pengkajian
secara individual kemampuan bicara dan sensori, motorik dan kognitif berfungsi
untuk mengidentifikasi kekurangn/kebutuhan terapi.
4. Diagnosa 4 : Perubahan persepsi sensori
berhubungan dengan perubahan resepsi sensori, transmisi, intergari dan stress
psikologis
Kriteria hasil :
a. Memulai/mempertahankan
tingkat kesadaran dan fungsi perceptual
b. Mengakui
perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residual
c. Mendemonstrasikan perilaku untuk mengkompensasi
terhadap/deficit hasil
Intervensi dan rasional :
a. Evaluasi
adanya gangguan penglihatan. Catat adanya penurunan lapang pandang, perubahan
ketajaman persepsi, adanya diplopia
Rasional:
Munculnya
gangguan penglihatan akan berdampak negative terhadap kemampuan pasien untuk
menerima lingkungan dan mempelajari kembali keterampilan motorik dan
meningkatkan risiko terjadinya cedera.
b. Kaji
kesadaran sensorik, seperti membedakan panas/dingin, tajam/tumpul, posisi
bagian tubuh/otot, rasa persendian
Rasional:
Penurunan
kesadaran sensorik dan kerusakan perasaan kinetic berpengaruh buruk terhadap
keseimbangan/posisi tubuh dan kesesuaian dari gerakan yang mengganggu ambulasi.
c. Berikan
stimulasi terhadap sentuhan
Rsional:
Membantu
melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan persepsi dan interpretasi
stimulasi.
d. Lindungi
pasien dari suhu yang berlebihan, kaji adanya lingkungan yang membahayakan
Rasional:
Meningkatkan keamanan pasien dan menurunkan resiko
trauma.
e. Hilangkan kebisingan/simulasi eksternal yang berlebihan
sesuai kebutuhan
Rasional:
Menurunkan ansietas dan respon emosi yang berlebihan.
5. Diagnosa 5 : Resiko terjadinya ketidakefektifan
bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan menurunnya refleks batuk dan
menelan, imobilisasi
1) Tujuan :
Jalan nafas tetap
efektif.
2) Kriteria
hasil :
- Klien
tidak sesak nafas
- Tidak terdapat
ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan
- Tidak retraksi otot bantu pernafasan
- Pernafasan
teratur, RR 16-20 x per menit
Intervensi dan rasional :
- Berikan penjelasan kepada klien
dan keluarga tentang sebab dan akibat ketidakefektifan jalan nafas
Rasional :
Klien dan keluarga mau
berpartisipasi dalam mencegah terjadinya ketidakefektifan bersihan jalan nafas
- Rubah posisi tiap 2 jam sekali
Rasional :
Perubahan posisi dapat melepaskan sekret dari saluran
pernafasan
- Berikan intake yang adekuat
(2000 cc per hari)
Rasional :
Air yang cukup
dapat mengencerkan sekret
- Observasi pola dan frekuensi
nafas
Rasional :
Untuk mengetahui ada
tidaknya ketidakefektifan jalan nafas
- Auskultasi suara nafas
Rasional
:
Untuk mengetahui adanya
kelainan suara nafas
- Lakukan fisioterapi nafas
sesuai dengan keadaan umum klien
Rasional :
Agar dapat melepaskan
sekret dan mengembangkan paru-paru
6. Diagnosa 6 : Resiko gangguan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan otot mengunyah dan menelan
Tujuan
Tidak terjadi gangguan
nutrisi
Kriteria hasil
- Berat
badan dapat dipertahankan / ditingkatkan
- Hb
dan albumin dalam batas normal
Intervensi dan rasional
:
a. Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah, menelan dan
reflek batuk
Rasional :
Untuk menetapkan jenis
makanan yang akan diberikan pada klien
b. Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, selama
dan sesudah makan
Rasional :
Untuk klien lebih mudah
untuk menelan karena gaya gravitasi
c. Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara
manual dengan menekan ringan diatas bibir/dibawah dagu jika dibutuhkan
Rasional :
Membantu dalam melatih
kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler
d. Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak
terganggu
Rasional :
Memberikan stimulasi
sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan
meningkatkan masukan
e. Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang
tenang
Rasional :
)Klien dapat
berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar
f. Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair,
makan lunak ketika klien dapat menelan air
Rasional :
Makan lunak/cairan
kental mudah untuk mengendalikannya didalam mulut, menurunkan terjadinya
aspirasi
g. Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan
Rasional :
Menguatkan otot fasial
dan dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya tersedak
h. Anjurkan klien untuk berpartisipasidalam program
latihan/kegiatan
Rasional :
Dapat meningkatkan
pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan
i. Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan ciran
melalui iv atau makanan melalui selang
Rasional :
Mungkin diperlukan
untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk
memasukkan segala sesuatu melalui mulut
7. Diagnosa 7 : Kurang
perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuscular, penurunan kekuatan
dan ketahanan, kehilangan koordinasi otot
Kriteria hasil :
a. Mendemonstrasikan
teknik/perubahan gaya hidup yang memenuhi kebutuhan perawatan diri
b. Melakukan
aktifitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri
c. Mengidentifikasi
sumber pribadi/komunitas memberikan bantuan sesuai kebutuhan
Intervensi dan rasional :
a. Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan untuk melakukan
kebutuhan sehari-hari
Rasional:
Membantu
dalam mengantisipasi pemenuhan kebutuhan secara individual.
b. Hindari
melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri, tetapi
berikan bantuan sesuai kebutuhan
Rasional:
Pasien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat
tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat dalam mencegah
frustasi.
c. Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang
kebutuhannya untuk menghindari dan atau kemampuan untuk menggunakan urinal,
bedpan. Bawa pasien ke kamar mandi dengan teratur
untuk berkemih
Rasional:
Mungkin
mengalami gangguan saraf kandung kemih, tidak dapat mengatakan kebutuhannya
pada fase pemulihan akut.
Kolaborasi
d. Berikan obat suppositoria dan pelunak feses
Rasional:
Mungkin dibutuhkan pada awal untuk membantu
menciptakan/merangsang fungsi defekasi secara langsung.
e. Konsultasi
dengan ahli fisioterapi/ahli terapi okupasi
Rasional:
Memberikan
bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi
kebutuhan alat penyokong khusus.
8. Diagnosa 8 : Gangguan konsep diri
berhubungan dengan perubahan biofisik, psikososial, perceptual kognitif
Kriteria hasil :
a. Bicara/berkomunikasi
dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang telah terjadi
b. Mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi
c. Mengenali dan menggabungkan perubahan dalam konsep diri
dalam cara yang akurat tanpa menimbulkan harga diri negatif
Intervensi dan rasional :
a. Kaji
luasnya gangguan persepsi dan hubungkan dengan derajat ketidakmampuannya
Rasional:
Penentuan
factor-faktor secara individu membantu dalam mengembangkan perencanaan
asuhan/pilihan intervensi.
b. Anjurkan
pasien untuk mengekspresikan perasaannya
Rasional:
Mendemonstrasikan
penerimaan/membantu pasien untuk mengenal dan mulai memahami perasaan ini.
c. Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan
dengan baik
Rasional:
Membnatu peningkatan rasa percaya diri dan control
pasien.
d. Berikan dukungan terhadap perilaku atas partisipasi
pasien dalam mengikuti kegiatan rehabilitasi
Rasional:
Mengisyaratkan kemungkinan adaptasi untuk mengubah dan
memahami tentang peran diri sendiri dalam kehidupan.
e. Pantau
gangguan tidur
Rasional:
Indikasi
serangan depresi yang mungkin memerlukan intervensi dan evaluasi lanjut.
Kolaborasi
f. Rujuk
pada evaluasi neuropsikologis dan atau konseling sesuai kebutuhan
Rasional:
Dapat memudahkan adaptasi terhadap perubahan peran yang
perlu untuk perasaan menjadi orang produktif.
9. Diagnosa 9 : Kurang pengetahuan mengenai
kondisi dan pengobatan berhubungan dengan kurang pemajanan, keterbatasan
kognitif, kesalahan interpretasi informasi, kurang mengingat
Kriteria hasil :
a. Berpartisipasi
dalam proses belajar
b. Mengungkapkan
pemahaman tentang kondisi/prognosis dan aturan terapeutik
c. Memulai
perubahan gaya hidup yang diperlukan
Intervensi dan rasional :
a. Evaluasi
tipe/derajat gangguan persepsi sensori
Rasional:
Deficit
mempengaruhi metode pengajaran dan isi/kompleksitas instruksi.
b. Tinjau
ulang keterbatasan saat ini dan diskusikan rencana melakukan kembali aktifitas
Rasional:
Meningkatkan pemahaman, memberikan harapan pada masa
datang dan menimbulkan harapan dari keterbatasan hidup secara normal.
c. Diskusikan rencana untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
Rasional:
Berbagai tingkat bantuan mungkin diperlukan berdasarkan
kebutuhan individual.
d. Sarankan pasien menurunkan/membatasi stimulasi lingkungan
terutama selama kegiatan berpikir
Rasional:
Stimulasi
yang beragam dapat memperbesar gangguan proses berpikir.
e. Identifikasi
factor resiko secara individual
Rasional:
Meningkatkan kesehatan secara umum dan mungkin menurunkan
risiko kambuh.
f. Identifikasi tanda/gejala yang memerlukan control secara medis
Rasional:
Evaluasi dan intervensi dengan cepat menurunkan risiko
terjadinya komplikasi.
D. Implementasi
Dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang
telah dibuat.
E. Evaluasi
1.
Perfusi jaringan serebral
terpenuhi
2.
Mobilitas fisik terpenuhi
3.
Peningkatan pemahaman
tentang masalah komunikasi dan meminimalisasi gangguan komunikasi yang ada
4.
Mempertahankan persepsi
sensori dari keterbatasan
5.
Pemenuhan kebutuhan
nutrisi terpenuhi
6.
Dapat bernafas dengan
efektif
7.
Aktifitas perawatan diri
terpenuhi
8.
Memahami perubahan dalam
konsep diri tanpa menimbulkan harga diri negatif
9.
Mempunyai
pemahaman tentang kondisi/prognosis dan aturan terapeutik
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito,
L.J., 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta.
Harsono,
Buku Ajar : Neurologi Klinis,Yogyakarta, Gajah Mada university press, 1996.
Long C,
Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2, Bandung, Yayasan Ikatan Alumni
Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996.
Marilynn E, Doengoes . 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi
3. Jakarta : EGC
Pusat
pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan, Asuhan Keperawatan Klien
Dengan Gangguan Sistem Persarafan , Jakarta, Depkes, 1996.
Puspa, Bayu. 2012. http://suka2-bayu.blogspot.com/2012/01/askep-stroke.html. diposkan Senin, 23 Januari 2012
Smeltzer C. Suzanne, Brunner &
Suddarth.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
No comments:
Post a Comment