Juniartha Semara Putra
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT
PARKINSON
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT
PARKINSON
Pengertian
Penyakit
Parkinson adalah penyakit saraf progresif yang berdampak
terhadap respon mesenfalon dan pergerakan regulasi.
Etiologi
Penyakit
Parkinson sering dihubungkan dengan kelainan neurotransmitter di otak
dan faktor-faktor lainnya seperti :
- Defisiensi dopamine dalam substansia nigra di otak memberikan respon gejala penyakit Parkinson,
- Etiologi yang mendasarinya mungkin berhubungan dengan virus, genetik, toksisitas, atau penyebab lain yang tidak diketahui.
Gejala
Klinis
Penyakit
Parkinson memiliki gejala klinis sebagai berikut:
- Bradikinesia (pergerakan lambat), hilang secara spontan,
- Tremor yang menetap ,
- Tindakan dan pergerakan yang tidak terkontrol,
- Gangguan saraf otonom (sulit tidur, berkeringat, hipotensi ortostatik,
- Depresi, demensia,
- Wajah seperti topeng.
Pemeriksaan
Diagnostik
Observasi
gejala klinis dilakukan dengan mempelajari hasil foto untuk mengetahui
gangguan.
Komplikasi
Komplikasi
terbanyak dan tersering dari penyakit Parkinson yaitu demensia, aspirasi, dan
trauma karena jatuh.
Penatalaksanaan
Medis
Penatalaksanaan
medis dapat dilakukan dengan medikamentosa seperti:
- Antikolinergik untuk mengurangi transmisi kolinergik yang berlebihan ketika kekurangan dopamin.
- Levodopa, merupakan prekursor dopamine, dikombinasi dengan karbidopa, inhibitor dekarboksilat, untuk membantu pengurangan L-dopa di dalam darah dan memperbaiki otak.
- Bromokiptin, agonis dopamine yang mengaktifkan respons dopamine di dalam otak.
- Amantidin yang dapat meningkatkan pecahan dopamine di dalam otak.
- Menggunakan monoamine oksidase inhibitor seperti deprenil untuk menunda serangan ketidakmampuan dan kebutuhan terapi levodopa.
Penatalaksanaan
Keperawatan
Pengkajian
- Kaji saraf kranial, fungsi serebral (koordinasi) dan fungsi motorik.
- Observasi gaya berjalan dan saat melakukan aktivitas.
- Kaji riwayat gejala dan efeknya terhadap fungsi tubuh.
- Kaji kejelasan dan kecepatan bicara.
- Kaji tanda depresi.
Diagnosis
dan Intervensi Keperawatan
1. Gangguan
mobilitas fisik yang berhubungan dengan bradikinesia, regiditas otot dan tremor
ditandai dengan DS: klien mengatakan sulit melakukan kegiatan, DO: tremor saat
beraktivitas.
Intervensi:
Tujuan : meningkatkan mobilitas.
· Bantu klien melakukan olah raga setiap hari
seperti berjalan, bersepeda, berenang, atau berkebun.
· Anjurkan klien untuk merentangkan dan olah raga
postural sesuai petunjuk terapis.
· Mandikan klien dengan air hangat dan lakukan
pengurutan untuk membantu relaksasi otot.
· Instruksikan klien untuk istirahat secara
teratur agar menghindari kelemahan dan frustasi.
· Ajarkan untuk melakukan olah raga postural dan
teknik berjalan untuk mengurangi kekakuan saat berjalan dan kemungkinan belajar
terus.
· Instruksikan klien berjalan dengan posisi kaki
terbuka.
· Buat klien mengangkat tangan dengan kesadaran,
mengangkat kaki saat berjalan, menggunakan sepatu untuk berjalan, dan berjalan
dengan langkah memanjang.
· Beritahu klien berjalan mengikuti irama musik
untuk membantu memperbaiki sensorik.
Evaluasi : klien mengikuti sesi terapi
fisik, melakukan latihan wajah 10 menit 2 kali sehari.
2. Gangguan
pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
kesulitan: menggerakkan makanan, mengunyah, dan menelan, ditandai dengan DS:
klien mengatakan sulit makan, berat badan berkurang DO: kurus, berat badan
kurang dari 20% berat badan ideal, konjungtiva pucat, dan membran mukosa pucat.
Intervensi:
Tujuan : mengoptimalkan status nutrisi.
· Ajarkan klien untuk berpikir saat
menelan-menutup bibir dan gigi bersama-sama, mengangkat lidah dengan makanan di
atasnya, kemudian menggerakkan lidah ke belakang dan menelan sambil mengangkat
kepala ke belakang.
· Instruksikan klien untuk mengunyah dan menelan,
menggunakan kedua dinding mulut.
· Beritahu klien untuk mengontrol akumulasi
saliva secara sadar dengan memegang kepala dan menelan secara periodik.
· Berikan rasa aman pada klien, makan dengan
stabil dan menggunakan peralatan.
· Anjurkan makan dalam porsi kecil dan tambahkan
makanan selingan (snack).
· Monitor berat badan.
Evaluasi : klien dapat makan 3 kali dalam
porsi kecil dan dua kali snack, tidak ada penurunan berat badan.
3. Gangguan
komunikasi verbal yang berhubungan dengan penurunan kemampuan bicara dan
kekakuan otot wajah ditandai dengan : DS: klien/keluarga mengatakan adanya
kesulitan dalam berbicara DO: kata-kata sulit dipahami, pelo, wajah kaku.
Intervensi:
Tujuan: memaksimalkan kemampuan berkomunikasi.
· Jaga komplikasi pengobatan.
· Rujuk ke terapi wicara.
· Ajarkan klien latihan wajah dan menggunakan
metoda bernafas untuk memperbaiki kata-kata, volume, dan intonasi.
o Nafas dalam sebelum berbicara untuk
meningkatkan volume suara dan jumlah kata dalam kalimat setiap bernafas.
o Latih berbicara dalam kalimat pendek, membaca
keras di depan kaca atau ke dalam perekam suara (tape recorder) untuk memonitor
kemajuan.
Evaluasi : tidak adanya kesulitan dalam
berbicara, kata-kata dapat dipahami.
No comments:
Post a Comment