WHO AM I?

I PUTU JUNIARTHA SEMARA PUTRA POLTEKKES KEMENKES DENPASAR JURUSAN KEPERAWATAN

Saturday, August 25, 2012

ASUHAN KEPERAWATAN HEMOROID

Juniartha Semara Putra

ASUHAN KEPERAWATAN HEMOROID



Hemoroid dalah varises dari pleksus hemoroidalis yang menimbulkan  keluhan    keluhan dan gejala – gejala.
Varises
atau perikosa : mekarnya pembuluh darah atau pena ( pleksus
hemoroidalis ) sering terjadi pada  usia 25 tahun sekitar 15 %.

Etiologi

Penyebab pelebaran pleksus hemoroidalis di bagi menjadi dua :
1)  Karena bendungan sirkulasi portal akibat kelaian organik
kelainan organik yang menyebabkan gangguan adalah :
a. Hepar sirosis hepatis
Fibrosis
jaringan hepar akan meningkatkan resistensi aliran vena ke hepar
sehingga terjadi hepartensi portal. Maka akan terbentuk kolateral antara
lain ke esopagus dan pleksus hemoroidalis .
b. Bendungan vena porta, misalnya karena trombosis
c. Tomur  intra abdomen, terutama didaerah velvis,
yang menekan vena sehingga aliranya terganggu. Misalnya uterus grapida ,
uterus tomur ovarium, tumor rektal dan lain lain.

2) Idiopatik,tidak jelas adanya kelaianan  organik, hanya ada faktor -        faktor penyebab timbulnya  hemoroid
Faktor faktor yang mungkin berperan :
a. Keturunan atau heriditer
Dalam hal ini yang menurun dalah kelemahan dinding pembuluh darah, dan bukan hemoroidnya
b. Anatomi
Vena di daerah masentrorium tudak mempunyai katup. Sehingga     
darah mudah kembali menyebabkan bertambahnya tekanan di pleksus
hemoroidalis.
c. Hal - hal yang memungkinkan tekanan intra abdomen meningkat antara lain :
*
Orang yang pekerjaan nya banyak berdiri atau duduk dimana gaya     
grapitasi akan mempengaruhi timbulnya hemoroid.Misalnya seorang ahli
bedah .
* Gangguan devekasi miksi
* Pekerjaan yang mengangkat benda -  benda berat
* Tonus spingter ani yang kaku atau lemah



Pada seseorang wanita hamil terdapat 3 faktor yang mempengaruhi timbulnya hemoroid yitu :
1. adanya tomur intra abdpomen
2. kelemahan pembuluh darah sewaktu hamil akibat pengaruh  perubahan hormonal
3. Menedan ,sewaktu partus .





Pada
permulaan terjadi varises hemoroidalis, belum timbul keluhan keluhan .
Akan timbul bila ada penyulit seperti perdarahan , trombus dan infeksi

Pada dasarnya  hemoroid di bagi menjadi dua  klasipikasi, yaitu :
1. hemoroid interna
Merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media
2. hemoroid eksterna
merupakan varises vena hemoroidalis inferior.


1.
HEMOROID INTERNA          Gejala - gejala dari hemoroid interna adalah
pendarahan tanpa rasa sakit karena tidak adanya serabut serabut rasa
sakit di daerah ini.

Hemoriud interna  terbagi menjadi 4 derajat :
- Derajat I
Timbul pendarahan varises, prolapsi /  tonjolan mokosa tidak melalui anus dan hanya  daatdi temukan dengan proktoskopi.
- Derajat II
Terdapat
trombus di dalam varises sehingga varises selalu keluar pada saat
depikasi, tapi seterlah depikasi selesai, tonjolan tersebut dapat masuk
dengan  sendirinya.
- derajat III
Keadaan dimana varises yang keluar tidak dapat masuk lagi dengan    sendirinya tetapi harus di dorong
- Derajat IV
Suatu
saat ada timbul keaadan akut dimana varises yang keluar pada saat
defikasi tidak dapat di masukan lagi. Biasanya pada derajat ini timbul
trombus yang di ikuti infeksidan kadang kadang timbul perlingkaran anus,
sering di sebut dengan Hemoral Inkaresata karena seakan - akan ada yang
menyempit hemoriod yang keluar itu, padahal pendapat ini salah karena
muskulus spingter ani eksternus mempunyai tonus yang tidak berbeda
banyak pada saat membuka dan menutup. Tapi bila benar terjadi.
Inkaserata maka setelah beberapa saat akan timbul nekrosis tapi tidak
demikiaan halnya. Lebih tepat bila di sebut dengan perolaps hemoroid .

2. HEMOROID EKSTERNA.
Hemoroid
eksrterna jarang sekali berdiri sendiri, biasanya perluasan hemoroid
interna. Tapi hemoroid eksterna dapat di klasifikasikan menjadi 2 yaitu :
a.  Akut
Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan
sebenarnya adalah hematom, walaupun disebut sebagai trombus eksterna
akut.
Tanda dan gejala yang sering timbul adalah:
- Sering rasa sakit dan nyeri
- Rasa gatal pada daerah hemorid
Kedua tanda dan gejala tersebut disebabkan karena ujung – ujung saraf pada kulit merupakan reseptor rasa sakit .
b.  Kronik
Hemoroid eksterna kronik atau “Skin Tag” terdiri atas satu lipatan
atau lebih dari kulit anus yang berupa jaringan penyambung dan sedikit
pembuluh darah.

KOMPLIKASI
- Terjadinya perdarahan
Pada derajat satu darah kelur menetes dan memancar.
- Terjadi trombosis
Karena hemoroid keluar sehinga lama - lama darah akan membeku dan terjadi trombosis.
- Peradangan
Kalau
terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat terjadi infeksi dan
meradang karena disana banyak kotoran yang ada kuman –  kumannya.




PEMERIKSAAN PENUNJANG
- laboratorium :  > Eritrosit
>  Lekosit
>  led
>  Hb

- Diagnostik    :  > Proktoskopy
> Anoskop


PENATA LAKSANAN MEDIS
1 )  Operasi herniadektomy
2 )  Non operatif
- Untuk derajat I dan II
• Diet tinggi serat untuk melancarkan BAB.
• Obat – obat suposituria untuk membantu pengeluaran BAB  dan untuk melunakan feces
• Anti biotik bila terjadi infeksi.
• Ijeksi skloretika ( Dilakukan antara mokosa dan  varises dengan harapan timbul fibrosis dan hemoroid lalu mengecil ).
• “ RubberBand Ligation “ yaitu mengikat hemoroid dengan karet elastis kira – kira I minggu, diharapkan terjadi nekrosis
- Untuk derajat III dan IV
Dapat dilakuakan
• Pembedahan
• Dapat dilakukan pengikatan atau ligation
• Dapat dilakukan rendam duduk
• Dengan jalan suntikan”Sklerotika” ujntuk mengontrol pendarahan dan kolaps (keluar) hemoroid interna yang kecil sampai  sedang.

Bila
seorang datang dengan derajat IV tidak boleh langsung di lakukan
oprasi, harus di usahakan menjadi derajat III dulu. Dengan cara duduk
berendam dengan cairan PK 1/10.000 selama 15 menit, kemudian di kompres
dengan larutan garam hipertonik sehingga edema keluar dan kotoran
keluar. Biasanya setelah dua minggu akan menjadi derajat III.

Pada
wanita hamil, karena akan sembuh setelah kehamilan berakhir, maka tidak
perlu di adakan oprasi karena akan membahayakan janin dan varisesnya
pun juga akan hilang. Bila ada perdarahan lakukan pengikatan sementara,
setelah partus baru di adakan tindakan defenitif.



ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PASIEN HEMOROID

1 . Identitas pasien
2 . Keluhan utama
Pasien datang dengan keluhan perdarahan terus menerus saat BAB. Ada
benjolan                      pada anus atau nyeri pada saat defikasi.
3 . Riwayat penyakit
- Riwayat penyakit sekarang
Pasien
di temukan pada beberapa minggu hanya ada benjolan yang keluar dan
beberapa hari setelah BAB ada darah yang keluar menetes
- Riwayat penyakit dahulu
Apakah
pernah menderita penyakit hemoroid sebelumnya, sembuh / terulang
kembali. Pada pasien dengan hemoroid bila tidak di lakukan pembedahan
akan kembali RPD, bisa juga di hubungkan dengan penyakit lain seperti
sirosis hepatis.
- Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluaga yang menderita penyakit tersebut
- Riwayat sosial .
Perlu ditanya penyakit yang bersangkutan.


PEMERIKSAAN FISIK
Pasien di baringkan dengan posisi menungging dengan kedua kaki di tekuk dan menempel pada tempat tidur.
1. Insfeksi
> Pada insfeksi lihat apakah ada benjolan sekitar anus
> Apakah ada benjolan tersebut terlihat pada saat prolapsi.
> Bagaiman warnaya , apakah kebiruaan, kemerahan, kehitaman .
> Apakah benjolan tersebut terletak di luar ( Internal / Eksternal ).
2. Palapasi
Dapat
dilakuakan dengan menggunakan  sarung tangan + vaselin dengan melakuakn
rektal tucher, dengan  memasukan satu jari kedalam anus. Apakah ada
benjolan tersebut lembek, lihat apakah ada perdarahan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
PRE OPERATIF

1.
Resiko kekurangan nutrisi (defisiensi zat ) berhubungan dengan 
pecahnya vena plexus hemmoroidalis ditandai dengan perdarahan yang terus
- menerus waktu BAB.
TUJUAN  :
Terpenuhinyan kebutuhan nutrisi ditandai dengan tidak terdapat anemis,
perdarahan terhenti dan BB tidak turun.

INTERVENSI
- Observasi tanda-tanda anemis
Rasionalisasi :  Tanda – tanda anemis diduga adanya kekurangan zat besi (Hb      turun)
- Diet rendah sisa atau serat selama terjadinya perdarahan
Rasionalisasi :  Dapat mengurangi perangsangan pada daerah anus sehingga      tidak terjadi perdarahan.
- Berikan penjelasan tentang pentingnya diet kesembuhan penyakitnya.
Rasionalisasi : Pendidikan tentang diet, membantu keikut sertaan pasien    dalam meningkatkan keadaan penyakitnya.
- Beri kompers es pada daerah terjadinya perdarahan
Rasionalisasi
:  Pasien dengan pecahnya vena plexus hemoriodalis perlu obat yang
dapat membantu pencegahan terhadap perdarahan yang mememrlukan penilaian
terhadap respon secara periodik
- Beri obat atau terapi sesuai dengan pesanan dokter
Rasionalisasi
:  Pasien dengan pecahnya vena flexus hemmoroidalis perlu obat yang
dapat membantu pencegahan terhadap perdarahan yang memerlukan penilayan
terhadap respon obat tersebut secara periodik

2. Gangguan rasa
nyaman berhubungan dengan adanya massa anal atau anus, yang ditandai
benjolan didaerah anus, terasa  nyeri dan gatal pada daerah anus

TUJUAN :  Terpenuhinya rasa nyaman dengan kriteria nyeri berkurang rasa gatal    berkurang massa mengecil.

INTERVENSI :
- Berikan randam duduk
Rasionalisasi :  Menurunkan ketidak nyamanan lokal, menurunkan edema dan meningkatkan penyembuhan.
- Berikan pelicin pada saat mau BAB
Rasionalisasi : Membantu dalam melancarkan defikasi sehingga tidak perlu mengedan.
- Beri diet randah sisa
Rasionalisasi :  Mengurangi rangsangan anus dan melemahkan feses.
- Anjurkan pasien agar jangan bannyak berdiri atau duduk ( harus dalam keadaan seimbang)
Rasionalisasi :  Gaya gravitasi akan mempengaruhi timbulnya hemoroid dan    duduk dapat meningkatkan tekanan intra abdomen.
- Observasi keluhan pasien
Rasionalisasi
: Membantu mengevaluasi derajat ketidak nyamanan dan ketidak efektifan
tindakan atau menyatakan terjadinya komplikasi
- Berikan penjelasan tentang timbulnya rasa nyeri dan jelaskan dengan singkat
Rasionalisasi : Pendidikan tentang hal tersebut membantu dalam keikut sertaan pasien untuk mencegah / mengurangi rasa nyeri.
- Beri pasien suppositoria
Rasionalisasi : Dapat melunakan feces dan dapat mengurangi pasien agar tidak mengejan saat defikasi

3. Personal hygene pada anus kurang berhubungan dengan massa yang keluar pada daerah eksternal

TUJUAN : Terjaga kebersihan anus dengan kriteria tidak terjadi infeksi tidak            terjadi gatal - gatal

INTERVENSI :
-
Berikan  sit bath dengan larutan permagan 1 / 1000 % pada pagi dan sore
hari. Lakukan digital ( masukan prolaps dalam tempat semula setelah di
bersihkan )
Rasionalisasi : Meningkatkan kebersihan dan memudahkan terjadinya penyembuhan prolaps .
- Obserpasi keluhan dan adanya tanda- tanda perdarahan anus
Rasionalisasi :  Peradangan pada anus menandakan adanya suatu infeksi pada anus
- Beri penjelasan cara membersihkan anus dan menjaga kebersihanya
Rasionalisasi : Pengetahuan tentang cara membersihkan anus  membantu    keikut sertaan pasien dalam mempercepat kesembuhanya.

POST OPERATIF

1.
Gangguan rasa nyaman (Nyeri) pada luka operasi berhubungan dengan
adanya jahitan pada luka operasi dan terpasangnya cerobong angin.

TUJUAN  : Terpenuhinya rasa nyaman dengan kriteria tidak terdapat rasa nyeri,    dan pasien dapat melakukan aktivitasd ringan.

INTERVENSI :
- Beri posisi tidur yang menyenangkan pasien.
Rasionalisasi : Dapat menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa      kontrol.
- ganti balutan setiap pagi sesuai tehnik aseptik
Rasionalisasi : Melindungi pasien dari kontaminasi silang selama
penggantian    balutan. Balutan basah bertindak sebagai penyerap
kontaminasi    eksternal dan menimbulkan rasa tidak nyaman.


- latihan jalan sedini mungkin
Rasionalisasi : Dapat menurunkan masalah yang terjadi karena imobilisasi
- Observasi daerah rektal apakah ada perdarahan
Rasionalisasi : Perdarahan pada jaringan, imflamasi lokal atau terjadinya    infeksi dapat meningkatkan rasa nyeri.
- Cerobong anus dilepaskan sesuai advice dokter (pesanan)
Rasionalisasi : Meningkatkan fungsi fisiologis anus dan memberikan
rasa nyaman pada daerah anus pasien karena tidak ada sumbatan
-
Berikan penjelasan tentang tujuan pemasangan cerobong anus (guna
cerobong anus untuk mengalirkan sisa-sisa perdarahan yang terjadi
didalam agar bisa keluar).
Rasionalisasi :  Pengetahuan tentang
manfaat cerobong anus dapat membuat    pasien paham guna cerobong anus
untuk kesembuhan lukanya.

2. Resikol terjadinya infeksi pada luka  berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat

TUJUAN : Tidak terjadinya dengan kriteria tidak terdapat tanda-tanda radang      luka mengering

INTERVENSI :
- Observasi tanda vital tiap 4 jam
Rasionalisasi
: Respon autonomik meliputi TD, respirasi, nadi yang    berhubungan
denagan keluhan / penghilang nyeri . Abnormalitas tanda vital perlu di
observasi secara lanjut.
- Obserpasi balutan setiap 2  –  4 jam, periksa terhadap perdarahan dan bau.
Rasionalisasi : Deteksi dini terjadinya proses infeksi dan / pengawasan penyembuhan luka oprasi yang ada sebelumnya.
- Ganti balutan dengan teknik aseptik
Rasionalisasi :  Mencegah meluas dan membatasi penyebaran luas infeksi atau kontaminasi silang
- Bersihkan area perianal setelah setiap depfikasi
Rasionalisasi :    Untuk mengurangi / mencegah kontaminasi daerah luka.
- Berikan diet rendah serat/ sisa dan minum yang cukup
Rasionalisasi : Dapat mengurangi ransangan pada anus dan mencegah mengedan pada waktu defikasi.

3. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan dirumah.

TUJUAN :Pasien dapat menyatakan atau mengerti tentang perawatan dirumah.

INTERVENSI :
- Diskusikan pentingnya penatalaksanaan diet rendah sisa.
Rasionalisasi:
Pengetahuan tentang diet berguna untuk melibatkan pasien    dalam
merencanakan diet dirumah yang sesuai dengan yang dianjurkan oleh ahli
gizi.
- Demontrasikan perawatan area anal dan minta pasien menguilanginya
Rasionalisasi:
Pemahaman akan meningkatkan kerja sama pasien dalam program terapi,
meningkatkan penyembuhan dan proses perbaikan terhadap penyakitnya.
- Berikan rendam duduk sesuai pesanan
Rasiopnalisasi: Meningkatkan kebersihan dan kenyaman pada daerah anus (luka atau polaps).
- Bersihakan area anus dengan baik dan keringkan seluruhnya setelah defekasi.
Rasionalisasi:
  Melindungi area anus terhadap kontaminasi kuman-kuman yang berasal
dari sisa defekasi agar tidak terjadi infeksi.
- Berikan balutan
Rasionalisasi :  Melindungi daerah luka dari kontaminasi luar.
- Diskusikan gejala infeksi luka untuk dilaporkan kedokter.
Rasionalisasi :  Pengenalan dini dari gejala infeksi dan intervensi segera dapat mencegah progresi situasi serius.
- Diskusikan mempertahankan difekasi lunak dengan menggunakan pelunak feces dan makanan laksatif alami.
Rasionalisai :  Mencegah mengejan saat difekasi dan melunakkan feces.
- Jelaskan pentingnya menghindari mengangkat benda berat dan mengejan.
Rasionalisasi : Menurunkan tekanan intra abdominal yang tidak perlu dan tegangan otot.



ENGERTIAN
Hemorrhoid adalah pembengkakan atau distensi vena di daerah
anorektal. Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali kalau sudah
menimbulkan nyeri dan perdarahan. Literatur lain menyebutkan bahwa
hemorrhoid adalah varices vena eksternal dan / atau internal dari kanal
anus yang disebabkan oleh adanya tekanan pada vena-vena anorektal.
Ò  Hemorrhoid adalah pelebaran vena didalam pleksus hemoridalis yang tidak merupakan keadaan patologik
Ò  Apabila menyebabkan keluhan atau penyulit perlu diberikan tindakan
ETIOLOGI
    1.     1. Kehamilan
    2. Konstipasi (karena diit rendah serat atau rering menahan buang air besar)
    3. Mengangkat benda berat
    4. Berdiri atau duduk yang lama.
PATHOFISIOLOGI
Distensi vena awalnya merupakan struktur yang normal pada daerah
anus, karena vena-vena ini berfungsi sebagai katup yang dapat membantu
menahan beban, namun bila distensi terjadi terus menerus akan timbul
gangguan.
Salah satu faktor predisposisi yang dapat menimbulkan distensi vena
adalah peningkatan tekanan intra abdominal. Kondisi ini menyebabkan
peningkatan tekanan vena porta dan tekanan vena sistemik, yang kemudian
akan ditransmisi ke daerah anorektal. Elevasi tekanan yang
berulang-ulang akan mendorong vena terpisah dari otot disekitarnya
sehingga vena mengalami prolaps. Keadaan yang dapat menyebabkan
terjadinya elevasi yang berulang antara lain adalah obstipasi /
konstipasi, kehamilan dan hipertensi portal. Hemorrhoid dapat menjadi
prolaps, berkembang menjadi trombus atau terjadi  perdarahan.
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran
balik dari vena hemoroidalis. Penyakit hati kronik yang disertai
hipertensi portal sering mengakibatkan hemoroid karena vena hemoroidalis superior mengalirkan darah ke dalam sistem portal. Selain itu sistem
portal tidak mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik
Klasifikasi hemorrhoid:
A. Hemorrhoid interna
Tidak dapat dilihat melalui inspeksi perianal, terletak di atas spincter ani.
àadalah pleksus vena hemoroidalis superior di atas garis mukokutan dan ditutupi oleh mukosa
àMerupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah
àTerdapat pada 3 posisi primer yaitu kanan depan, kanan belakang dan kiri lateral
Derajat hemorrhoid interna
HEMOROID INTERNA
Derajat Berdarah Menonjol Reposisi
I + - -
II + + Spontan
III + + Manual
IV + Tetap Tidak dapat
B. Hemorrhoid externa
Terletak di bawah spincter ani, sehingga dengan jelas dapat dilihat melalui inspeksi pada anus.
àMerupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior
terdapat di sebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan di bawah
epitel anus
Hemorrhoid ekterna yang mengalami trombosis
Ò  Merupakan trombosis vena hemorhoidalis eksterna
Ò  Terjadi karena tekanan tinggi di vena tersebut akibat mengangkat barang berat, batuk, bersin, mengedan atau partus
Ò  Ditandai dengan adanya benjolan di bawah kulit kanalis analis yang nyeri sekali, tegang, berwarna kebiru – biruan, berukuran beberapa
milimeter sampai 1 – 2 cm. dapat unilobular atau bebrapa benjolan.
Ruptur dapat erjadi pada dinding vena
Ò  Pada awal sangat nyeri kemudian berkurang dalam waktu 2 – 3 hari.
Ruptur spontan dapat diikuti dengan perdarahan. Resolusi spontan  dapat
terjadi tanpa terapi setelah 2 – 4 hari
Faktor predisposisi
Ò  Mengedan saat defekasi
Ò  Konstipasi menahun
Ò  Kehamilan
Ò  Obesitas
Ò  Beberapa faktor etiologi telah diajukan, termasuk konstipasi atau
diare, sering mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, pembesaran
prostat, fibroma uteri, dan tumor rectum.
TANDA DAN GEJALA
Ò  Perdarahan; merupakan tanda pertama hemorrhoid interna akibat
trauma oleh feces yang keras. Warna darah merah segar dan tak bercampur
dengan feces, segaris atau menetes. Akibat perdarahan yang berulang
dapat menyebabkan anemia.
Ò  Penonjolan/prolaps akibat pembesaran hemorroid secara perlahan,
pada awalnya terjadi pada waktu defekasi dan disusul reduksi spontan
setelah defekasi. Pada stadium lanjut prolaps perlu didorong agar
kembali masuk ke anus.
Ò  Pada tahap lanjut prolaps menetap dan tidak dapat didorong lagi
ciri – ciri prolaps menetap:
à keluar mukus dan terdapat feces pada bagian dalam
à terdapat iritasi kulit perianal yg menimbulkan gatal atau pruritus
anus, disebabkan oleh karena kelembaban yang terus menerus dan
rangsangan mukus
Ò  Nyeri timbul apabila terdapat trombosis yang luas dengan udema dan radang
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Ò  Colok dubur
Ò  Anuskopi/rectoscopy
Ò  Proktosigmoidoscopi, untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau keganasan
Ò  Pemeriksaan feces terhadap adanya darah samar
DIAGNOSA BANDING
Ò  Karsinoma kolorektum
Ò  Divertikulum
Ò  Polip usus
Ò  Colitis ulcerative
PENATALAKSANAAN
Ò  Tujuannya untuk menghilangkan keluhan
Ò  Hemorhoid derajat I dan II dapat ditolong dengan tindakan lokal
sederhana disertai nasehat tentang makan (sebaiknya makanan berserat
tinggi)
Ò  Suppositoria dan salep anus untuk efek anestetik dan astrigen
Ò  Hemorrhoid interna yang mengalami prolaps dapat dimasukkan kembali secara perlahan dan disusul dengan istirahat baring dan kompres lokal
untuk mengurangi pembengkakan
Ò  Rendam duduk dengan cairan hangat dapat meringankan nyeri
Ò  Bila penyakit radang usus yang mendasari terapi medik harus diberikan
Ò  Skleroterapi : penyuntikan diberikan submukosa di dalam jaringan
alveolar yang longgar dengan tujuan menimbulkan peradangan
sterilàfibrotik & parut
Ò  Ligasi dengan gelang karet untuk hemorrhoid besar atau prolaps
Ò  Bedah beku/cryo surgery: hemorrhoid dibekukan dengan pendinginan suhu rendah
Ò  Hemorodektomi: untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan
hemoroid derajat III dan IV atau penderita dengan perdarahan berulang
dan anemia atau hemorrhoid derajat IV yang mengalami trombosis dan
kesakitan hebat
IV.  PENGKAJIAN FOKUS
A. Subyektif
1.Batasan karakteristik
1)     Pola makan dan minum
a.  Kebiasaan
b. Keadaan saat ini
2)   Riwayat kehamilan
Kehamilan dengan frekwensi yang sering akan menyebabkan hemorrhoid berkembang cepat
3)    Riwayat penyakit hati
Pada hypertensi portal, potensi berkembangnya hemorrhoid lebih besar.
4)   Gejala / keluhan yang berhubungan
a.  Perasaaan nyeri dan panas pada daerah anus
b. Perdarahan dapat bersama feces atau perdarahan spontan (menetes)
c.  Prolaps (tanyakan pasien sudah berapa lama keluhan ini,
faktor-faktor yang menyebabkannya dan upaya yang dapat menguranginya
serta upaya atau obat-obatan yang sudah digunakan)
d. Gatal dan pengeluaran sekret melalui anus
B.Obyektif
1. Batasan karakteristik
1)   Pemeriksaaan daerah anus
a.  Tampak prolaps hemorrhoid, atau pada hemorrhoid eksterna dapat
dilihat dengan jelas. Rasakan konsistensinya, amati warna dan apakah ada tanda trombus juga amati apakah ada lesi.
b. Pemeriksaan rabaan rektum (rectal toucher)
2)    Amati tanda-tanda kemungkinan anemia :
3)    Warna kulit
4)    Warna konjungtiva
5)    Waktu pengisian kembali kapiler
6)    Pemeriksaan Hb
    1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
    2. Konstipasi berhubungan dengan menahan bab akibat nyeri selama eliminasi
Ò  Berikan dan anjurkan minum kurang lebih 2 liter perhari
Ò  Berikan dan anjurkan makanan tinggi serat
Ò  Berikan laxative sesuai program dokter
Ò  Anjurkan pasien untuk segera BAB bila timbul keinginan untuk BAB
    1. Nyeri anal berhubungan dengan trombus vena hemoroidalis
a. Tujuan: nyeri berkurang sampai dengan hilang dengan kriteria
1)     Wajah pasien tampak tenang
2)    Tanda-tanda vital normal
3)    Pasien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
4)    Pasien dapat istirahat tidur
b. Intervensi:
1)     Berikan posisi yang nyaman
2)    Berikan bantalan dibawah bokong saat duduk
3)    Berikan kompres dingin
4)    Observasi tanda-tanda vital
5)    Ajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri seperti membaca,
menonton, menarik nafas panjang, menggosok punggung, dan lain-lain.
6)    Pada nyeri awal berikan kompres dingin pada daerah anus 3 – 4 jam dilanjutkan dengan rendam duduk hangat 3 – 4 x/hari
7)    Pertahankan rendam duduk (sit bath) dengan larutan hangat, dengan larutan PK 2 x/hari. Sit bath 3 sampai 4 kali sehari
8)    Berikan diit tinggi serat dan hidrasi yang cukup
9)    Libatkan keluarga dalam memberikan rasa nyaman bagi pasien
10)  Jelaskan pada pasien tentang rasa nyeri yang dialaminya dan tentang tindakan dilakukan
11)   Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik, pelunak feces
c.  Evaluasi
Nyeri berkurang sampai dengan hilang sesuai kriteria yang diharapkan.
    1. Resiko tinggi terjadi anemia berhubungan dengan perdarahan vena hemorrhoidalis
a. Tujuan : pasien akan terhindar dari anemia dengan kriteria:
1)       Konjungtiva merah muda
2)      Hb dalam batas normal
3)      Kapilary refill < 3 detik
b. Intervensi
1)       Monitor tingkat perdarahan pasien
2)      Observasi tanda-tanda vital
3)      Berikan diit tinggi kalori tinggi protein dan tinggi serat
4)      Ajarkan pasien teknik relaksasi pernafasan pada saat buang air besar
5)      Monitor tanda-tanda anemia: tampak lelah, tidak bersemangat, kulit pucat
6)      Bila anemia berat kolaborasi pemberian cairan dan transfusi
c. Evaluasi
Anemia tidak terjadi sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
    1. Cemas berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan tentang tindakan operasi
a. Tujuan: cemas berkurang sampai dengan hilang dengan kriteria :
1)     Pasien terlihat tenang
2)    Pasien dapat mengulang kembali informasi yang diberikan
b. Intervensi :
1)     Kaji tingkat kecemasan yang dialami pasien
2)    Beri waktu buat pasien untuk mengungkapkan secara verbal kecemasannya
3)    Jelaskan pada pasien tentang tujuan dari tindakan operasi yang dialami
4)    Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan
5)    Dampingi pasien untuk pasrah dan berdoa kepada Tuhan
c. Evaluasi :
Kecemasan pasien berkurang sampai dengan hilang sesuai dengan kriteria yang diharapkan.
    1. Retensi urine berhubungan dengan reflek spasme post operasi dan keakutan akan nyeri
Ò  Berikan metode agar pasien mau BAK seperti berikan banyak minum,
mendengarkan air mengalir, mengalirkan air pada meatus urinarius
Ò  Monitor urine output
    1. Resiko ketidakefektifan managemen regimen terapeutik
Ò  Monitor terhadap indikator sistemik dari perdarahan berlebih
seperti tachycardia, hypotensi, kelelahan, rasa haus, atau adanya darah
pada kassa
Ò  Berikan tekanan pada area jika terjadi perdarahan dan laporkan segera pada dokter
Ò  Hindarkan pemberian kompres lembab hangat
(Keterangan: beberapa gambar diambil dari intern

No comments: