Juniartha Semara Putra
mengintrospeksi
tentang latar belakang dirinya. Perawat juga harus memiliki pengetahuan yang
merupakan perbandingan antar kelompok. Keterampilan budaya termasuk pengkajian
social maupun budaya yang mempengaruhi pengobatan dan perawatan klien.
Pertemuan sebagai mediapembelajaran. Keinginan sebagai motivasi dan komitmen
pelayanan.
Prasangka
Budaya
Kontrol Lingkungan
Ruang
Karena terdapat
rentang yang luas tentang keyakinan dan praktik kesehatan yang berlatar
belakang etnik, budaya, sosial dan agama dari individu, keluarga atau
komunitas. Klien dapat mengantisipasi saat mengalami suatu penyakit dengan
pendekatan modern ataupun pendekatan tradisional, dapat juga menggunakan kedua
pendekatan tersebut.
Praktik Tradisional
luar biasa dan
dapat dipakai dengan tali mengelilingi pinggang atau dibawa di dalam saku baju
atau tas. Orang yang mengenakan jimat atau tulisman harus diperbolehkan untuk
melakukannya di lembaga perawatan tempat ia dirawat.
dibandingkan dengan
tenaga perawatan kesehatan professional. Orang vmenganggap dukun sebagai
seseorang yang mampu memahami masalah dalam konteks kultural, berbicara dengan
bahasa yang sama, dan memiliki pandangan yang sama tentang dunia.
Seseorang
yang menderita depresi memiliki kemungkinan lebih tinggi menderita penyakit
kronis seperti diabetes, penyakit jantung atau asma. Penyebab depresi itu
sendiri kompleks, terkait dengan lingkungan interaksi seseorang maupun
kepribadiaannya sendiri. Beberapa faktor penyebab umum adalah:
Masyarakat Jawa memakan pisang emas bersamaan dengan kutu kepala
(Jawa: tuma) tiga kali sehari untuk pengobatan penyakit kuning.
Dengan membatasi
gerak dan istirahat. Seorang pasien yang mengalami nyeri diharuskan untuk tidak
banyak bergerak karena jika banyak bergerak dapat memperparah dan menyebabkan
nyeri berlangsung lama. Menurut pandangan umat Islam, seseorang yang menderita
nyeri untuk mengurangi tau meredakannya dengan posisi istirahat atau tidur yang
benar yaitu badan lurus dan dimiringkan ke sebelah kanan. Hal ini menurut sunah
rasul. Dengan posisi tersebut diharapkan dapat meredakan nyeri karena peredaran
darah yang lancer akibat jantung yang tidak tertindih badan sehingga dapat
bekerja maksimal.
Sebagaimana
halnya dengan generalisasi, selalu ada hal-hal yang tidak dapat dimasukkan
secara tepat ke dalam skema besar tersebut. Kepercayaan yang tersebar luas
bahwa pengalaman-pengalaman emosional yang kuat seperti iri, takut, sedih,
malu, dapat mengakibatkan penyakit, tidaklah tepat untuk diletakkan di dalam
salah satu dari dua kategori besar tersebut. Mungkin dapat dikatakan bahwa
tergantung situasi dan kondisi, kepercayaan-kepercayaan tersebut boleh
dikatakan cocok untuk dikelompokkan ke dalam salah satu kategori. Misalnya,
susto, penyakit yang disebabkan oleh ketakutan, tersebar luas di Amerika Latin
dan merupakan angan-angan. Seseorang mungkin menjadi takut karena bertemu
dengan hantu, roh, setan, atau karena hal-hal yang sepele, seperti jatuh di air
sehingga takut akan mati tenggelam. Apabila agen-nya berniat jahat, etiologinya
sudah tentu bersifat personalistik. Namun, kejadian-kejadian tersebut sering
merupakan suatu kebetulan atau kecelakaan belaka bukan karena tindakan yang
disengaja. Dalam ketakutan akan kematian karena tenggelam, tidak terdapat
agen-agen apa pun.
Para ahli
antropologi menaruh perhatian pada ciri-ciri psikologis shaman. Shaman adalah
seorang yang tidak stabil dan sering mengalami delusi, dan mungkin ia adalah
seorang wadam atau homoseksual.namun apabila ketidakstabilan jiwanya secara
budaya diarahkan pada bentuk-bentuk konstruktif, maka individu tersebut
dibedakan dari orang-orang lain yang mungkin menunjukkan tingkahlaku serupa,
namun digolongkan sebagai abnormal oleh para warga masyarakatnya dan merupakan
subyek dari upacara-upacara penyembuhan. Dalam pengobatan, shaman biasanya
berada dalam keadaan kesurupan (tidak sadar), dimana mereka berhubungan dengan
roh pembinanya untuk mendiagnosis penyakit. para penganut paham kebudayaan
relativisme yang ekstrim menggunakan contoh shamanisme sebagai hambatan utama
dalam arguentasi mereka bahwa apa yang disebut penyakit jiwa adalah sesuatu
yang bersifat kebudayaan.
Memberikan
pelayanan kesehatan selama medikasi di rumah sakit dan menjaga kondisi
kesehatan pasien agar tidak menurun bahkan meningkatkan kondisi kesehatannya.
BAB III
ABSTRAK
Keperawatan
transkultural didefinisikan oleh Leininger (2002) sebagai penelitian
perbandingan budaya untuk memahami persamaan (budaya universal) dan perbedaan
(budaya tertentu) di antara kelompok manusia. Tujuan keperawatan transkultural
adalah bentuk pelayanan yang sama secara budaya atau pelayanan yang sesuai pada
nilai kehidupan individu dan arti yang sebenarnya. kemampuan perawat
menghilangkan perbedaan dalam pelayanan, bekerja sama dengan budaya yang
berbeda, serta membuat klien dan keluarganya mencapai pelayan yang penuh arti
dan suportif. Konsep dalam transkultural keperawatan terdiri dari subkultur,
enkultural, keanekaragaman, akulturasi, dan asimilasi yang dipengaruhi oleh
beberapa toleransi terhadap prasangka, ras, stereotipe, diskriminasi, dan
culture shock. Faktor kultular dan proses Keperawatan terdiri dari pengkajian
komunitas, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Pengkajian komunitas dimana perawat harus memberikan perawatan yang sensitif
dan kompeten secara kultular di komunitas. Pengelompokkan data yang relevan dan
mengembangkan diagnosa keperawatan aktual dan potensial yang berhubungan dengan
kebutuhan kultular dan etnik klien. Perawat sekali lagi mempertimbangkan
variable kultular yang berkaitan klien yang melibatkan keluarga besar dalam
proses perawatan. Perawat mengetahui perawatan seperti apa yang dianggap klien
sesuai dengan mereka dan melibatkan keluarga tentang harapan mereka. Mengevaluasi
hasil asuhan keperawatan dengan menentukan sejauh mana tujuan dan hasil yang
diharapkan dari perawatan telah terpenuhi. Transkultural keperawatan ini
diaplikasikan dalam berbagai masalah kesehatan pada masyarakat diantaranya,
pada masalah penyakit kronik, ganguan nyeri dan ganguan mental.
Kata
Kunci : Transkultural keperawatan, Prinsip Transkultural,
Instrumen, Aplikasi.
|
||||
|
||||
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap manusia memiliki kebudayaannya masing-masing yang
saling berbeda. Kebudayaan ini sangat berpengaruh dalam tindakan keperawatan
yang dibahas dalam transkultural keperwatan. Keperawatan transkultural
didefinisikan oleh Leininger (2002) sebagai penelitian perbandingan budaya
untuk memahami persamaan (budaya universal) dan perbedaan (budaya tertentu) di
antara kelompok manusia.
Perawat dalam memberikan tindakan keperawatan diharapkan
menggunakan transkultural keperawatan untuk mengatasi perbedaan budaya antara
klien maupun menyesuaikan pola aktivitas sehari-hari klien yang dipengaruhi
budayanya dengan tindakan keperawatan.
B. Tujuan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Menjelaskan
konsep transkultural keperawatan
2.
Menjelaskan
unsur-unsur yang berkaitan dengan transkultural.
3.
Mengetahui
dan memahami aplikasi transkultural dalam masalah penyakit kronik, nyeri dan
mental.
|
BAB II
ISI
A. Perspektif Transkultural dalam Keperawatan
1.
Keperawatan Transkultural dan globalisasi
dalam pelayanan kesehatan
Office of Minority Health (OMH) (n.d) menggambarkan budaya sebagai
ide-ide, komunikasi, tindakan, kebiasaan, kepercayaan, nilai-nilai, adat
istiadat dari kelompok ras, etnik, agama, atau sosial. Budaya meliputi
segala aspek kehidupan di dalam manusia. Budaya menunjukkan cara pandang
seseorang dalam mengambil keputusan.
Keperawatan transkultural didefinisikan oleh Leininger (2002)
sebagai penelitian perbandingan budaya untuk memahami persamaan (budaya
universal) dan perbedaan (budaya tertentu) di antara kelompok manusia. Tujuan
keperawatan transkultural adalah bentuk pelayanan yang sama secara budaya atau
pelayanan yang sesuai pada nilai kehidupan individu dan arti yang sebenarnya.
Mengetahui nilai-nilai pelayanan budaya klien, arti, kepercayaan, dan
praktiknya sebagai hubungan antara perawat dan pelayanan kesehatan mewajibkan
perawat untuk menerima aturan pelajar atau teman sekerja dengan klien dan
keluarganya dalam bentuk karakteristik arti dan keuntungan dalam pelayanan
(Leininger, 2002).
Pelayanan kompeten secara budaya adalah kemampuan perawat
menghilangkan perbedaan dalam pelayanan, bekerja sama dengan budaya yang
berbeda, serta membuat klien dan keluarganya mencapai pelayan yang penuh arti
dan suportif. Contohnya, perawat
yang mengetahui tentang kebudayaan kliennya, maka perawat memerlukan dukungan
dalam menyesuaikan keadaan klien. Klien juga membutuhkan informasi,
perundingan, dan permintaan.
Kompetensi budaya
adalah proses perkembangan kesadaran budaya, pengetahuan, keterampilan,
pertemuan, dan keinginan. Perawat harus bisa
|
Konflik budaya
juga dapat muncul dalam proses keperawatan. Konflik budaya yang muncul dapat
berupa etnosentrisme, pemikiran bahwa cara hidup yang dianut lebih baik
dibandingkan dengan budaya lain. Hal ini menyebabkan adanya pilihan untuk
mengabaikan budaya dan menggunakkan nili-nili dan gaya hidup mereka sebagai
petunjuk dalam berhubungan dengan klien dan menafsirkan tingkah laku mereka.
Globalisasi
menyebabkan tuntutan asuhan keperawatan semakin besar. Perpindahan penduduk dan
pergeseran tuntutan keperawatan dapat terjadi. Perawat yang tidak mampu
menyesuaikan asuhan keperawatan terhadap kondisi yang ada akan menyebabkan
penurunan kualitas pada pelayanan keperawatan. Oleh karena itu, hal ini
menyebabkan dibutuhkannnya peningkatan
terhadap profesi keperawatan. Peningkatan pengetahuan, koordinasi antar profesi
atau tenaga kerja kesehatan lain sangat diperlukan. Perawat harus lebih aktif
dalam menghadapi globalisasi terutama dalam pelayanan kesehatan.
2.
Konsep dan Prinsip dalam Asuhan
Keperawatan Transkultural
Jika pemahaman
mengenai latar belakang etnik, budaya, dan agama yang berbeda antar klien baik,
maka akan dapat meningkatkan pemberian asuhan keeperawatan secara efektif. Kozier
(2004) menjelaskan beberapa konsep yang berhubungan dengan asuhan keperawatan
transkultural ini. Diantaranya:
1. Subkultur
Sebuah subkultur biasanya terdiri dari orang-orang yang
mempunyai suatu identitas yang berbeda. Namun masih dihubungkan
dengan suatu kelompok yang lebih besar.
|
2. Enkultural
Enkultural digunakan untuk mendeskripsikan orang yang
menggabungkan (persilangan) dua budaya, gaya hidup, dan nilai-nilai (Giger
& Davidhizar, 1999).
3. Keanekaragaman
Keanekaragaman menunjuk pada fakta atau status yang
menjadikan perbedaan. Diantaranya, ras, jenis kelamin, orientasi seksual, etnik
kebudayaan, status ekonomi-sosial, tingkat pendidikan, dan lain-lain.
4. Akulturasi
Proses akulturasi terjadi saat seseorang beradaptasi
dengan ciri budaya lain. Anggota dari sebuah kelompok budaya yang tidak dominan
seringnya terpaksa belajar kebudayaan baru untuk bertahan. Hal ini juga dapat
didefinisikan sebagai perubahan pola kebudayaan terhadap masyarakat dominannya
(Spector, 2000).
5. Asimilasi
Asimilasi merupakan proses seorang individu berkembang
identitas kebudayaannya. Asimilasi berarti menjadi seperti anggota dari
kebudayaan yang dominan. Beberapa aspeknya, seperti tingkah laku,
kewarganegaraan, ciri perkawinan, dan sebagainya. Di sini, seseorang atau
kelompok kehilangan beberapa kebudayaan aslinya untuk kemudian membentuk
kebudayaan baru bersama dengan yang lain. Hal ini ditujukan untuk membentuk
interaksi yang baik.
Ada beberapa faktor
kebudayaan yang menjadi pertimbangan toleransi, diantaranya:
1. Ras
Ras merupakan klasifikasi orang-orang yang dibagi
berdasarkan karakteristik biologis, tanda keturunan (genetik) dan corak. Orang
dengan ras yang sama, umumnya mempunyai banyak persamaan karakter. Namun,
penting untuk diketahui bahwa tidak semua orang dengan ras yang sama memiliki
kebudayaan yang sama pula.
2.
|
Prasangka
merupakan sebuah kepercayaan negatif atau kecenderungan yang menyamaratakan
pada satu kelompok dan hal tersebut akan menuntut pada dakwaan. Hal ini terjadi
karena orang yang berprasangka tidak mengetahui penuh budaya orang yang
diprasangkai atau orang tersebut membuat penyamarataan pandangan berdasarkan
pengalamannya dengan seorang individu dari kelompok tersebut terhadap semua
anggota kelompok itu.
3. Stereotipe
Stereotipe
adalah menyamakan seluruh anggota dari sebuah kebudayaan atau kelompok etnik
bahwa mereka semua mirip/ sama. Stereotipe
mungkin berdasarkan penyamaan yang ditemukan pada penelitian atau mungkin tidak
berhubungan dengan kenyataan. Di sini, perawat harus tahu bahwa tidak semua
orang dari kelompok tertentu memiliki kepercayaan kesehatan yang sama, praktik
dan nilai yang sama pula.
4. Diskriminasi
Diskriminasi merupakan pembedaan perlakuan individu atau
kelompok berdasarkan kategori, seperti ras, etnik, jenis kelamin, dan kelas
sosial. Terjadi jika seseorang bertindak merugikan atau menyangkal hak pokok
individu lain atau lebih.
5. Culture
Shock
Culture
shock adalah suatu guncangan atau ketidaknyamanan yang terjadi sebagai respons
atas pergantian/ perpindahan dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Ini terjadi jika seseorang pindah dari satu lokasi
geografi ke lokasi lain atau berimigrasi ke negara baru.
Salah satu cara
untuk menganalisis keyakinan adalah dengan menggunakan heritage consistensy. Heritage consistensy dikembangkan oleh Estes
dan Zitzaw (1980). Teori ini menggambarkan tingkat gaya hidup yang mencerminkan
konteks kultural (Potter & Perry, 2009). Hal ini memungkinkan kita mengkaji
keyakinan tentang kesehatan dengan menentukan ikatannya dengan keyakinan
tradisionalnya.
A.
|
Budaya menggambarkan sifat nonfisik, seperti keyakinan, sikap
atau adat-istiadat suatu masyarakat yang diturunkan dari generasi ke generasi
selanjutnya. Budaya merupakan kumpulan keyakinan, kebiasaan, praktik, kesukaan,
norma, adat-istiadat, ketidaksukaan dan ritual yang dipelajari dari keluarga
selama sosialiasasi bertahun-tahun (Potter & Perry, 2009). Di dalam budaya
tidak hanya terbatas pada komunikasi lisan, tetapi juga yang lain. Contoh, cara
membuat kontak mata, menyentuh tubuh, dan memegang tangan.
B. Etnisitas
Etnisitas adalah rasa identitas diri yang berkaitan
dengan kelompok kultur sosial umum dan warisan budaya (Potter & Perry,
2009). Karakteristik dari suatu etnik mencakup bahasa dan dialek, status
perpindahan, suku bangsa, dan kepercayaan serta praktek religius. Sehingga,
etnisitas sangat kompleks, sukar dipahami dan didefinisikan dengan kurang
jelas.
C. Religi
Religi
adalah keyakinan dalam suatu kekuatan sifat ketuhanan atau di luar kekuatan
manusia yang harus dipatuhi dan diibadatkan sebagai pencipta dan pengatur alam
semesta ((Abramsom, 1980) dalam Fundamental Keperawatan). Nilai religi berfungsi untuk mengklarifikasi etnisitas
lebih jauh.
Klien berasal dari
budaya yang berbeda. Di dalamnya mencakup latar belakang etnis, keagamaan, dan
budaya. Konsistensi warisan budaya ini membantu cara pemahaman terhadap klien
bagaimana mereka menginterpretasikan kesehatan atau penyakit dengan cara modern
atau tradisional.
Selain heritage consistensy, ada 6 fenomena
kultural yang diidentifikasi oleh Giger & Davidhizar (1995). Keenam
fenomena ini terdiri dari:
1.
|
Mengacu pada kemampuan dari anggota kelompok kultural
tertentu untuk merencanakan aktivitas yang mengontrol sifat dan faktor
keturunan langsung (Giger & Davidhizar, 1995). Di dalamnya mencakup
keyakinan tradisional tentang kesehatan dan penyakit, pengobatan tradisional
dan penggunaan penyembuh tradisional. Sehingga, fenomena ini berperan penting
dalam cara klien berespons terhadap pengalaman yang berhubungan dengan
kesehatan.
2.
Variasi Biologis
Seseorang dari satu kelompok kultural pasti mempunyai
variasi biologis berbeda dengan kelompok kultural lainnya. Beberapa
contoh signifikan yang dapat dijadikan pertimbangan, yaitu:
-
Struktur dan bentuk tubuh
-
Warna kulit
-
Variasi enzimatik dan genetik
-
Kerentanan terhadap penyakit
-
Variasi nutrisi
3.
Organisasi Sosial
Lingkungan sosial tempat seseorang dibesarkan dan
bertempat tinggal berperan penting dalam perkembangan dan identitas kultural
mereka. Proses sosialisasi ini menjadi suatu bagian warisan yang diturunkan dan
mengacu pada unit keluarga dan organisasi kelompok sosial yang dapat
diidentifikasi oleh klien.
4.
Komunikasi
Perbedaan bahasa antara perawat dengan klien menjadi hal
terpenting dalam memberikan asuhan keperawatan. Perbedaan ini akan berpengaruh
pada setiap aspek dan tahapan asuhan keperawatan. Ketidakberhasilan
berkomunikasi secara efektif akan membuat penundaan dalam diagnosis dan
tindakan terhadap klien. Bahkan bisa lebih dari itu. Perawat tidak seharusnya
menganggap klien dapat memahami apa yang sudah diucapkannya. Istilah-istilah
medis harus dijelaskan dengan jelas dan terang terutama klien yang mempunyai
keterbatasan ketrampilan dalam bahasa perawat.
5.
|
Ruang personal di sini mencakup perilaku individu dan
sikap yang ditujukan pada ruang di sekitar mereka. Teritorialitas merupakan
suatu sikap yang ditujukan pada area seseorang yang diklaim dan dipertahankan
atau reaksi emosional ketika orang-orang lain memasuki area tersebut. Keduanya
ini dipengaruhi oleh budaya. Perawat harus berusaha menghargai teritorial
klien. Ruang personal ini banyak berhubungan dengan aktivitas keperawatan dan
perawat harus sensitif terhadap respons klien berkenaan dengan ruang personal
ini. Misalnya, saat memberikan asuhan keperawatan yang mengharuskan perawat
menyentuh tubuh klien.
6.
Orientasi Waktu
Orientasi waktu berbeda antara kelompok satu dengan yang
lain. Perawat yang mempunyai sikap yang berhubungan dengan waktu mungkin
menemukan kesulitan untuk memahami dan merencanakan asuhan keperawatan terhadap
klien yang mempunyai orientasi waktu yang berbeda. Perbadaan orientasi waktu
dapat menjadi hal penting dalam perawatan kesehatan, seperti perencanaan jangka
panjang dan penjelasan tentang jadwal medikasi. Misalnya, penjelasan pentingnya
keteraturan minum obat pada penderita tekanan darah tinggi.
Dari banyak
penjelasan di atas, asuhan keperawatan transkultural memang sangatlah kompleks.
Sebelum kita membuat perencanaan dan tindakan perawatan, kita perlu mengetahui
konsep, prinsip, fenomena, dan faktor-faktor lain yang dapat dijadikan
pertimbangan yang berhubungan dengan budaya ini. Diharapkan, setelah kita
mengetahuinya, kelak asuhan keperawatan yang kita berikan terhadap klien akan
efektif dan berlangsung dengan lancar.
3.
Pengkajian dan Instrumennya dalam Asuhan
keperawatan Budaya
Penting bagi perawat untuk memahami bahwa klien mempunyai
wawasan pandangan dan interprestasi mengenai penyakit dan kesehatan yang
berbeda, berdasarkan keyakinan sosial-budaya dan agama klien sehingga terjalin
hubungan baik. Hubungan ini akan meningkatkan pemberian asuhan keperawatan yang
aman dan efektif secara budaya.
|
Hubungan dan komunikasi transkultular terjadi ketika
setiap individu berusaha untuk memahami sudut pandang orang lain melalui
budayanya. Setelah mencapai kultular, perawat harus mempertimbangkan
faktor-faktor budaya klien sepanjang proses keperawatan.
Heritage
Consistency adalah melihat akulturasi sebagai suatu kontinum. Dengan menggunakan teori ini, dikaji tingkat diamana
masyarakat menjadi bagian dari kultur dominan dan tradisional.
-
Budaya,
menggambarkan sifat non-fisik, seperti nilai, keyakinan, sikap atau adat
istiadat yang disepakati oleh kelompok masyarakat dan diwariskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya.
-
Etnisitas,
rasa identitas diri yang berkaitan dengan kelompok sosial dan warisan budaya.
-
Religi,
keyakinan dalam suatu kekuatan sifat ketuhanan atau diluar kekuatan manusia
yang harus dipatuhi dan diibadatkan sebagai pencipta dan pengatur alam semesta
(Abramsom, 1980).
Keyakinan
Tradisional Tentang Kesehatan Penyakit
Keyakinan kesehatan tradisional tentang
penyebab dari suatu penyakit dapat sangat berbeda dengan model epidemiologi
orang barat sehingga penting untuk memahami epidemiologi tradisional, atau
penyebab penyakit di dalam sistem keyakinan. Dalam model epidemiologi orang barat, penyebab suatu
penyakit mungkin stress dan maladaptasi, virus, bakteri atau karsinogen. Pada
model epidemiologi tradisional, terdapat perbedaan yang sangat menonjol tentang
agens penyebab, termasuk kekosongan jiwa, mantra, mata setan dan guna-guna yang
dapat disebabkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membuat orang
lain sakit. Orang yang percaya dengan kekuatan ini harus dihindari, termasuk
iri, benci atau cemburu.
|
Pengobatan
rakyat terus ada, sejalan dengan tekanan yang harus meningkat dari pengobatan
modern yang telah diturunkan dari sekolah kedokteran dan generasi sebelumnya.
Praktik rakyat dahulu hanya memiliki bagian yang telah diabaikan oleh sistem
keyakinan perawatan kesehatan modern.
Berikut ini adalah keragaman dari pengobatan rakyat
tradisional (Yoder, 1972).
1. Pengobatan
Rakyat Alamiah
Pengobatan
rakyat alamiah adalah salah satu penggunaan lingkungan alamiah dan menggunakan
herbal, tumbuhan, mineral dan substansi hewan untuk mencegah dan mengatasi
penyakit. Umumnya pengobatan
ini ditemukan pada ramuan tradisional tradisional dan obat-obatan rumah tangga.
Aspek umum dari penggunaan herbal adalah pengetahan bahwa segala yang terdapat
di alam merupakan sumber terapi. Secara umum, tradisi pengobatan rakyat yang
menggambarkan tahun dimana herbal itu dipetik; cara herbal itu dikeringkan; dan
metode; jumlah; dan frekuensi penggunaan.
2. Pengobatan
Rakyat Magisoreligius
Salah satu contoh dari pengobatan ini adalah bentuk
penyembuhan keagamaan tidak resmi. Dalam praktik ini lues, jimat, air suci dan
manipulasi fisik digunakan dalam upaya penyembuhan penyakit.
Penggunaan
Benda Pelindung
Jimat adalah benda dengan kekuatan magis. Jimat dikenal
dengan perlindungan yang dikenal oleh semua masyarakat di seluruh dunia dan
berkaitan dengan perlindungan terhadap masalah (Budge, 1978). Seseorang juga
ada yang menggunakan talisman atau benda keagamaan lainnya yang telah
disucikan. Tulisman diyakini memiliki kekuatan yang
|
Penggunaan
Makanan
Banyak orang percaya bahwa sistem tubuh terjaga
keseimbangannya dengan memakan tipe makanan tertentu, sehingga terdapat banyak
makanan dan kombinasi makanan yang dianggap tabu. Seperti contoh, dipercaya
bahwa beberapa bahan makanan dapat dimakan untuk mencegah penyakit. Orang dari
banyak latar belakang etnik memakan bawang putih atau memakainya ditubuh mereka
atau menggantungkannya di rumah untuk tujuan ini.
Praktik
Religius
Pendekatan tradisional lain terhadap pencegahan penyakit
berpusat pada sekitar agama termasuk praktik nseperti membakar lilin, ritual
penebusan dan sembahyang. Banyak orang percaya bahwa penyakit dapat dicegah
dengan mengikuti secara ketat aturan, moral dan praktik serta memandang
penyakit sebagai hukuman terhadap pelecehan religius.
Ramuan
Tradisional
Ketika seseorang menggunakan obat-obatan yang berasal
dari warisan budaya etnokultular mereka,maka penggunaan obat-obatan ini disebut
pengobatan alternatif. Sifat farmasitis dari vegetasi tumbuhan, akar0akaran,
batang, bunga, biji dan herbal telah banyak diteliti, dicoba, dibuatkan katalog
dan digunakan di banyak Negara.
Penyembuh
(Dukun)
Dalam komunitas tertentu, orang tertentu dikenal
mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. Dukun dianggap mendapat anugerah dari
Tuhan. Banyak contoh seseorang dengan warisan budaya konsisten terlebih dahulu
berkinsultasi dengan dukun sebelum ia berhubungan dengan pemberi perawatan
kesehatan modern. Terdapat banyak perbedaan antara dokter Barat dengan dukun
tradisional (Kaptchuk & Croucher, 1987) Hubungan antara seseorang dengan
dukun sering lebih dekat
|
Faktor Kultular dan Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Komunitas
Perawat harus memberikan perawatan yang
sensitif dan kompeten secara kultular di komunitas.
2. Diagnosa
Keperawatan
Mengelompokkan data yang relevan dan
mengembangkan diagnose keperawatan aktual dan potensial yang berhubungan dengan
kebutuhan kultular dan etnik klien.
3. Perencanaan
Perawat sekali lagi mempertimbangkan
variable kultular yang berkaitan klien yang melibatkan keluarga besar dalam
proses perawatan.
4. Implementasi
Perawat mengetahui perawatan seperti apa
yang dianggap klien sesuai dengan mereka dan melibatkan keluarga tentang
harapan mereka.
5. Evaluasi
Mengevaluasi
hasil asuhan keperawatan dengan menentukan sejauh mana tujuan dan hasil yang
diharapkan dari perawatan telah terpenuhi.
B. Aplikasi transkultural pada beberapa masalah
kesehatan
- Aplikasi transkultural pada masalah penyakit
kronik
Penyakit
kronik adalah penyakit yang timbul bukan secara tiba-tiba, melainkan akumulasi
dari sesuatu penyakit hingga akhirnya menyebabkan penyakit itu sendiri. (Kalbe
medical portal) Penyakit kronik ditandai banyak penyebab. Contoh penyakit
kronis adalah diabetes, penyakit jantung, asma, hipertensi dan masih banyak
lainnya. Ada hubungan antara penyakit kronis dengan depresi. Depresi adalah
kondisi kronis yang mempengaruhi pikiran seseorang, perasaan dan perilaku
sehingga sulit untuk mengatasi peristiwa kehidupan sehari-hari. (Andres Otero-Forero, Queensland
Transcultural Mental Health Centre).
|
|
• Faktor herediter
|
• Trauma
|
|
• Isolasi atau kesepian
|
• Pengangguran
|
|
• konflik Keluarga
|
• Kesulitan penyelesaian
|
|
• Stres
|
• Nyeri
|
Berbagai
jenis depresi memerlukan cara yang berbeda dalam jenis pengobatannya. Untuk
depresi ringan, dapat dianjurkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.
Dalam kasus depresi parah, dianjurkan untuk mengkonsumsi obat dan psikoterapi.
Salah satu pendekatan yang muncul menjadi lebih umum untuk segala bentuk
depresi adalah manajemen diri. Manajemen diri mengacu pada strategi orang
menggunakan untuk berurusan dengan kondisi mereka. Dimana seseorang melibatkan
tindakan, sikap atau tujuan dalam mengambil atau membuat keputusan untuk
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan.
Pengobatan terhadap penyakit kronik
yang telah dilakukan di masyarakat saat ini amat beragam. Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem pengobatan tradisional juga
merupakan sub unsur kebudayaan masyarakat sederhana yang telah dijadikan
sebagai salah satu cara pengobatan. Pengobatan inilah yang juga menjadi aplikasi dari transkultural dalam
mengobati suatu penyakit kronik. Pengobatan tradisional ini dilakukan
berdasarkan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut:
1.
Masyarakat
negeri Pangean lebih memilih menggunakan ramuan dukun untuk menyembuhkan
penyakit TBC, yaitu daun waru yang
diremas dan airnya dimasak sebanyak setengah gelas.
2.
Masyarakat
di Papua percaya bahwa penyakit malaria dapat disembuhkan dengan cara minta
ampun kepada penguasa hutan lalu memetik daun untuk dibuat ramuan untuk
diminum dan dioleskan ke seluruh tubuh.
3.
|
Pengobatan tradisional yang sering
dipakai berupa pemanfaatan bahan-bahan herbal. Herba sambiloto menjadi sebuah
contoh yang khasiatnya dipercaya oleh masyarakat dapat mengobati
penyakit-penyakit kronik, seperti hepatitis, radang paru (pneumonia), radang
saluran nafas (bronchitis), radang ginjal (pielonefritis), radang telinga
tengah (OMA), radang usus buntu, kencing nanah (gonore), kencing manis
(diabetes melitus). Daun lidah budaya dan tanaman pare juga dijadikan sebagai
pengobatan herbal. Tumbuhan tersebut berkhasiat menyebuhkan diabetes melitus.
Tidak hanya di Indonesia, di luar
negeri pun masih ada negara yang meyakini bahwa pengobatan medis bukan
satu-satunya cara mengobati penyakit kronik. Misalnya, di Afrika, penduduk
Afrika masih memiliki keyakinan tradisional tentang kesehatan dan penyakit.
Mereka menganggap bahwa obat-obatan tradisional sudah cukup untuk mengganti
produk yag akan dibeli, bahkan mereka menggunakan dukun sebagai penyembuh
tradisional. Hal seperti ini juga terjadi di Amerika, Eropa, dan Asia.
2.
Aplikasi transkultural pada gangguan nyeri
Nyeri adalah pengalaman
sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan
yang actual atau potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari
bantuan perawatan kesehatan. Selanjutnya, definisi nyeri menurut keperawatan
adalah apapun yang menyakitkan tubuh yang dikatakan individu yang mengalaminya,
yang ada kapanpun individu mengatakannya. Peraturan utama dalam merawat pasien
nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah nyata, meskipun penyebabnya belum
diketahui. Keberadaan nyeri adalah berdasarkan hanya pada laporan pasien bahwa
nyeri itu ada.
Aplikasi
transkultural pada gangguan nyeri baik yang dilakukan oleh pasien berdasarkan
apa yang dipercaya olehnya atau yang dilakukan oleh perawat setelah melakukan
pengkajian tentang latar belakang budaya pasien adalah sebagai berikut:
1.
|
2.
Mengkonsumsi
obat-obatan tradisional. Beberapa orang mempercayai bahwa ada beberapa obat
tradisional yang dapat meredakan nyeri bahkan lebih manjur dari obat yang
diberikan oleh dokter. Misalnya, obat urut dan tulang ‘Dapol Siburuk’ dari
burung siburuk yang digunakan oleh masyarakat Batak.
3.
Dengan
dipijat atau semacamnya. Kebanyakan orang mempercayai dengan dipijat atau
semacamnya dapat meredakan nyeri dengan waktu yang singkat. Namun, harus
diperhatikan bahwa apabila salah memijat akan menyebabkan bertambah nyeri atau
hal-hal lain yang merugikan penderita. Dalam budaya Jawa ada yang disebut dukun
pijat yang sering didatangi orang banyak apabila mengalami keluhan nyeri
misalnya kaki terkilir.
Dalam menerapkan
transkultural pada gangguan nyeri harus tetap mempertahankan baik buruknya bagi
si pasien. Semua aplikasi transkultural sebaiknya dikonsultasikan kepada pihak
medis agar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan.
3.
Aplikasi transkultural pada gangguan
kesehatan mental
Berbagai
tingkahlaku luar biasa yang dianggap oleh psikiater barat sebagai penyakit jiwa
ditemukan secara luas pada berbagai masyarakat non-barat. Adanya variasi yang
luas dari kelompok sindroma dan nama-nama untuk menyebutkannya dalam berbagai
masyarakat dunia, Barat maupun non-Barat, telah mendorong para ilmuwan mengenai
tingkahlaku untuk menyatakan bahwa penyakit jiwa adalah suatu ‘mitos’, suatu
fenomena sosiologis, suatu hasil dari angota-anggota masyarakat yang ‘beres’
yang merasa bahwa mereka membutuhkan sarana untuk menjelaskan, memberi sanksi
dan mengendalikan tingkahlaku sesama mereka yang menyimpang atau yang
berbahaya, tingkahlaku yang kadang-kadang hanya berbeda dengan tingkahlaku
mereka sendiri. Penyakit jiwa tidak hanya merupakan ‘mitos’, juga bukan
semata-semata suatu masalah sosial belaka. Memang benar-benar ada gangguan
dalam pikiran, erasaan dan tingkahlaku yang membutuhkan pengaturan pengobatan.(Edgerton
1969 : 70). Nampaknya, sejumlah besar penyakit jiwa non-barat lebih
dijelaskan secara personalistik daripada naturalistik.
|
Kepercayaan-kepercayaan
yang sudah dijelaskan di atas menimbulkan pemikiran-pemikiran untuk melakukan
berbagai pengobatan jika sudah terkena agen. Kebanyakan pengobatan yang
dilakukan yaitu mendatangi dukun-dukun atau tabib-tabib yang sudah dipercaya
penuh. Terlebih lagi untuk pengobatan gangguan mental, hampir seluruh masyarakat
desa mendatangi dukun-dukun karena mereka percaya bahwa masalah gangguan
jiwa/mental disebabkan oleh gangguan ruh jahat. Dukun-dukun biasanya melakukan
pengobatan dengan cara mengambil dedaunan yang dianggap sakral, lalu
menyapukannya ke seluruh tubuh pasien. Ada juga yang melakukan pengobatan
dengan cara menyuruh pihak keluarga pasien untuk membawa sesajen seperti,
berbagai macam bunga atau binatang ternak.
|
Dalam banyak masyarakat non-Barat, orang
yang menunjukkan tingkahlaku abnormal tetapi tidak bersifat galak maka sering
diberi kebebasan gerak dalam masyarakat mereka, kebutuhan mereka dipenuhi oleh
anggota keluarga mereka. Namun, jika mereka mengganggu, mereka akan dibawa ke
sutu temapt di semak-semak untuk ikuci di kamrnya. Sebuah pintu khusus (2 x 2
kaki) dibuat dalam rumah, cukup untuk meyodorkan makanan saja bagi mereka dan
sebuah pintu keluar untuk keluar masuk komunitinya.
Usaha-usaha untuk membandingkan tipe-tipe
gangguan jiwa secara lintas-budaya umumnya tidak berhasil, sebagian disebabkan
oleh kesulitan-kesulitan pada tahapan penelitian untuk membongkar apa yang
diperkirakan sebagai gejala primer dari gejala sekunder. Misalnya, gejala-gejala
primer yaitu yang menjadi dasar bagi depresi. Muncul lebih dulu dan merupakan
inti dari gangguan. Gejala-gejala sekunder dilihat sebagai reaksi individu
terhadap penyakitya ; gejala-gejala tersebut berkembang karena ia berusaha
untuk menyesuaikan diri dengan tingkahlakunya yang berubah (Murphy,
Wittkower, dan Chance 1970 : 476).
|
C. Kasus Transkultural terhadap Diabetes
1. Tinjauan
Kasus
Nilai
Gula Darah Normal
Kebanyakan manusia bervariasi sekitar 82-110 mg/dl pada
keadaan sebelum makan. Setelah makan akan naik sekitar 140 mg/dl. The American
Diabetes Association merekomendasikan kadar glukosa pasca-makan <180 mg/dl
dan pra-makan pada kadar 90-130 mg/ dl. Pada laki-laki dewasa sehat denagn
berat 75 kg dan volume 5 liter darah, glukosa levelnya 110 mg/dl.
Pada penderita diabetes, kadar glukosa saat puasa >126
mg/ dl dan saat normal >200 mg/ dl.
a. Masalah yang ditemukan pada kasus tersebut, diantaranya :
v Laki-laki usia 50 tahun,
v Pingsan saat rapat di kantornya,
v Kadar gula darahnya mencapai 450mg/dl,
v Dua tahun didiagnosis menderita Diabetes Mellitus tipe II,
v Kegemukan, dan
v Kesulitan mengatur makanannya karena kebiasaan budaya Jawanya makan makanan
yang manis.
b. Analisis
kasus
Ditinjau dari keadaan fisik :
-
Kegemukan
-
Kadar
gula darah di atas normal
Ditinjau dari pola hidup :
-
Kurang
aktivitas fisik
-
Banyak
mengkonsumsi makanan mengandung gula
c. Peran
perawat
o
Memberi
interferensi berupa konsultasi, penyuluhan komunitas dan pasien,bantuan dalam
menjaga pola makan dan melakukan implementasi independent dari dokter berupa
pemberian obat dan aturan pemakaian.
o
|
d. Peran dari segi transkultural
o
Memberi
pendidikan kesehatan komunitas menyangkut deskripsi DM, diet dan bahayanya
o
Mengkaji
jenis makanan yang biasa dikonsumsi komunitas tersebut
o
Menghimbau
pola makan yang sesuai untuk diet DM dan juga dapat diterima pada budaya
pasien→dapat berupa mengganti gula yang ditolerir oleh penderita DM atau
mengurangi konsumsi gula yang biasa digunakan.
|
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan :
1. Keperawatan transkultural didefinisikan oleh Leininger (2002)
sebagai penelitian perbandingan budaya untuk memahami persamaan (budaya
universal) dan perbedaan (budaya tertentu) di antara kelompok manusia.
2. Tujuan keperawatan transkultural adalah bentuk pelayanan yang sama
secara budaya atau pelayanan yang sesuai pada nilai kehidupan individu dan arti
yang sebenarnya.
3. Konsep dan prinsip dalam asuhan
keperawatan transkultural didasari
pada ilatar belakang etnik, budaya,
dan agama yang berbeda dengan kliennya yag dijadikan sebagai pertimbangan dalam
meningkatkan pemberian asuhan keperawatan secara efektif.
4. Pengkajian dan instrumennya dalam asuhan
keperawatan budaya memepelajari budaya klien beserta hubungan dan komunikasi
transkultular untuk mempertimbangkan faktor-faktor budaya klien sepanjang
proses keperawatan.
5. Aplikasi Transkultural dalam masalah penyakit kronik, ganguan nyeri
dan ganguan mental dalam masyarakat adalah pengobatan tradisional yang
diajarkan secara turun temurun yang dipercaya oleh masing-masing penganut dan
tidak ada juga yang menggunakan tanaman sebagai obat herbal.
6. Kasus diabetes dapat ditinjau dari transkultural keperawatan bahwa
budaya seseorang terkhususnya dalam makanan memepengaruhi resiko terkena
diabetes dan menjadi faktor pertimbangan dalam memberikan asuhan keperawatan
agar berjalan efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Afifah,
Efy. Ringkasan Materi : Unit 2 Keragaman
budaya dan perspektif transkultural dalam keperawatan. Diambil dari http:// repository...
Forero, Andres Otero. (2008). Pendekatan
Transcultural Menghormati Pikiran & Tubuh. http://www...
Foster, G.M. &
Anderson, B.G (2006). Antropologi
Kesehatan. Terjemahan Priyanti PS & Meutia F.H.S.Jakarta:UI Press.
Harrison. (1999). Prinsip-Prinsip
Ilmu Penyakit Dalam. Volume I. Terjemahan. Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Gejala dan Ciri Diabetes. Diambil dari http://www...
Giger, J. N. & Davidhizar. (1995). Transcultural Nursing: Assessment and
Intervention. St. Louis:
Mosby.
Informasi Diabetes. Diambil dari http://www...
Kadar Gula Darah Normal. Diambil dari http://www...
Kebiasaan Penyebab Diabetes. Diambil dari http://www...
Kozier, B., Erb,
G., Berman, A. J., & Snyder. (2004). Fundamentals of Nursing: Concepts, Process,
and Practice. 7th Ed. New Jersey :
Pearson Education, Inc.
Potter, P.A. &
Perry, A.G. (2009). Fundamental
Keperawatan. Edisi 7. Buku I hal.175-199. Terjemahan Penerbit
Salemba Medika.
RN, Redinger. (2007). The
Pathophysiology of Obesity and Its Clinical Manifestations. Gastroenterology
& Hepatology.11 (3): 856-863.
Suparjo.
Definisi Nyeri. Diambil dari
http://www...
|
No comments:
Post a Comment